You are my destiny

Sejauh apapun kau menghindar

Tak akan mengubah apapun

Seperti halnya bintang dan bulan yang berdampingan

Seperti layaknya Juliet yang ditakdirkan untuk seorang Romeo

Seperti itu pula kau dan aku

Kau terlahir kedunia ini untuk menjadi milikku

Itulah takdirmu,takdir kita

Tak akan ada yang dapat merubahnya sampai kapanpun

*****

Title : You are my destiny

Cast  : Cho kyuhyun [ Super Junior ]

Park Hye Mi [ as your imagination ]

Kim Jong Woon

Member of  Super Junior

Choi Hea Min

poster1

****You are My Destiny****

Kyuhyun’s  POV

Gadis itu benar-benar menguasai diriku

Aku Cho kyuhyun, Hmm.. bisa dibilang aku adalah mahasiswa terpopuler dikampus. Hampir ah ani semua mahasiswa di Universitas ‘International Seoul’ ini mengenalkku. Terutama para wanita disini ynag begitu mengilaiku. Terlebih lagi aku adalah putra dari keluarga Cho. Pemilik perusahaan elektronik terbesar se-Asia. Itu juga merupakan salah satu alasan aku begitu populer. Namun tidak dengan gadis ini. gadis yang datang secara tiba-tiba. Seluruh hidupku berubah semenjak kehadiraannya. Kehadiraan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Berawal dari ketidak sengajaan. Hingga suatu keberuntungan mengahampiriku. Kesempatan memilikinya. Walau dengan jalan yang teramat kukutuk sebelumnya. Namun kini aku bersyukur bisa menjadikannya milikku. Melihatnya setiap pagi, bagaikan oksigen menyegarkan bagiku. Dia, hanya dirinya yang berhasil mengubah prioritas hidupku. Setiap hembusan  nafasnya teramat penting bagi hidupku. Menatap mata coklatnya memberikanku kenyamanan. Hanya dengan berdekatan dengannya saja bisa membuat semua system otakku hancur bagai diterjang badai. Setiap jengkal fikiranku hanya menuliskan namanya. Ia gadis yang terlihat kuat dari luar namun didalam ia sangat rapuh. Itu yang membuatku ingin selalu melindunginya tak peduli walau nyawaku taruhannya. Dia lebih berharga dari apapun. Kecantikannya yang ia miliki benar-benar alami, tak ada goresan pisau bedah sama sekali. Dimataku ia sangat berbeda. Kecantikannya sangat menyilaukan, bahkan kuyakin bidadari akan menangis bunuh diri jika mengetahui kecantikannya tak ada satu centipun dari kecantikkan gadisku ini. aku bukan orang yang bisa dengan gamblang menyatakkan bahwa aku mencintai seseorang berkata ‘saranghae’ itu benar-benar bukan gayaku. Yang bisa kulakukan hanya berteriak-teriak kepadanya agar ia memerhatikanku, bersikap dingin untuk menutupi kegugupanku saat bertatap muka dengannya. tak ada sikap romantic yang bisa kulakukan. Mungkin sekarang ia tidak mencintaiku namun aku akan membuatnya mencintaiku tanpa paksaan dan dengan caraku sendiri.

******

“Yakk,Kyuhyun-ah ireona! Ini sudah siang! Palli” aku mendengar suara yang tidak asing lagi ditelingaku. Aishh, nunaku itu tidak bisakah ia membiarkanku tidur dengan tenang? Aku mengerjap saat merasakan sinar matahari mulai menerpa wajahku.

“Nuna, jebal biarkan aku tidur lagi.” Renggekku saat ia mulai menarik selimut yang sedang kukenakan.

“Aishh, anak ini benar-benar! Bukankah kau bilang hari ini kau akan sidang skripsi?” kini suara nunaku lebih meninggi. Astaga aku lupa kalau hari ini aku harus sidang skripsi.

“Aigo nuna,aku lupa! Memangnya sudah pukul berapa sekarang?”tanyaku panik

“Babo,ini sudah puku 09.00, Bukankah kau bilang skripsimu itu pukul 09.30?” nunaku tidak segan-segan melempar bantal yang sedari tadi ia pegang kearah wajahku. Aku dengan sigap menyibak selimutku dan berlari kearah kamar mandi hanya untuk menggosok gigi dan membasuh mukaku. Nunaku yang melihatku mondar-mandir kerepotan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bodoh adiknya ini.

“Yakk,nuna sampai kapan kau mau berdiri disana? Apa kau mau melihatku mengganti pakaian?” tanyaku tiba-tiba disela-sela kesibukaanku.

‘Brukk’ sebuah bantal lagi-lagi menerjang tepat diwajahku. “Yakk,nuna appo!” kataku sembari mengelus wajahku.

“Rasakan siapa suruh bicaramu itu ngawur. Ya sudah aku keluar dulu. Lihat ini.”ujarnya sebelum menghilang di balik pintu sambil menunjuk kearah jam dinding di kamarku. Ommo,semoga aku tidak telat. Jam dinding itu telah menunjukkan pukul 09.15 KST. Aku merapikan pakaianku dan langsung melesat keluar kamar.

“Kyuhyun-ah kau tidak sarapan dulu?” Tanya eomma-ku yang sedang duduk diruang tamu.

“Ani eomma! Aku sedang terburu-buru, annyeongi eomma!” kataku.

Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan diatas rata-rata. Persetan dengan surat tilang yang nanti aku dapatkan. Sidang skripsiku ini lebih penting diatas segalanya. Aku memarkir mobilku sembarangan. Dan berlari tanpa melihat jalan didepanku karena sibuk mengobrak-abrik dokumen yang berada ditanganku.

‘BRUKKK’

Aku menabrak seorang gadis didepanku. Gadis yang lumayan cantik menurutku. Rambutnya tergerai rapih dan wangi yang menguar dari tubuhnya sangat alami dan tidak menyakiti indra penciumanku. Tidak seperti gadis yang biasa aku temui. Dia,cukup menarik perhatianku. Aishh,kyuhyun hilangkan fikiran itu. Suara gadis itu memecah lamunananku.

“Yakk,tuan yang aku tidak ketahui namanya. Seharusnya kau meminta maaf,” ia berkata dengan nada meninggi. Aku menatapnya sejenak,mengapa ada rasa nyaman saat menatap gadis asing ini? Ayolah cho kyuhyun sadarkan dirimu. Aku ingin meminta maaf kepadanya karena memang aku yang salah namun,aishh lagi-lagi perasaan ini menggangguku. Aku merasa seperti orang bodoh saat ini.

“Naega wae? Kau juga salah aggashi!” tantangku tak kalah sewot. Aissh.kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku.

“Aku???” kali ini ia membulatkan matanya. “wae?” tanyanya kemudian

“Apa kau tidak sadar kalau kau berjalan dengan mata yang terus menoleh kekiri dan kekanan tanpa melihat jalan didepanmu,hah?”jawabku dengan nada mengejek.

“Jinjja?”tanyanya polos. Gadis ini benar-benar merusak system otakku. “Ah, ani tetap saja kau yang bersalah,tuan. Apa kau juga tidak sadar kalau kau berjalan dengan mata tertuju pada dokume-dokumen di tanganmu itu,hah?” lanjutnya menghakimiku.

“Ah,arra arra! Bagaimana kalau kita saling meminta maaf?” kataku mencoba mengendalikan situasi.

“Geurae,aku setuju. Kau dulu yang harus meminta maaf tuan!”

“Ne,naega wae?”

“Karena kau yang paling bersalah!”sahutnya.

“Geurae,aku minta maaf agasshi! Kau puas?” tanyaku dengan penuh penekanaan. “ sekarang giliranmu!”

“Ne, tuan asing aku minta maaf!” ia menundukkan sedikit badannya sama seperti yang aku lakukan tadi saat meminta maaf kepadanya.

“Yakk,agasshi mengapa kau memanggilku tuan asing? Apa kau tidak mengetahui siapa aku,hah?”

“Tidak,memangnya siapa yang peduli dengan itu?” tanyanya santai tapi mampu membuatku merasa bodoh telah bertanya seperti itu.

“Ah, ya sudahlah! Aku lelah berurusan denganmu.” Jawabku putus asa.

“Hye mi-ya!” aku mendengar seseorang meneriakkan nama yang tidak kukenal. Gadis yang berada di depanku dengan refleks menoleh kebelakang tempat suara itu berasal.

“Ne,Hea Min-ah !”  respon gadis dihadapanku ini, sembari melambaikan tangannya kearah temannya itu.

“Kyuhyun-ah” aku menoleh dan mendapati Eunhyuk sedang melambaikan tangan kearahku.

“Ne,,” aku menghampirinya dan meninggalkan gadis itu.

“Waeyo?”tanyaku tanpa basa-basi lagi.

“Siapa gadisi tu?” Tanyanya sembari menunjuk Hye Mi yang kini sedang berbincang dengan temannya

“Molasseo” jawabku cuek.

“Aigo,kyuhyun-ah kau takut aku merebut gadis itu ya? Makanya kau tidak memberitahuku siapa dia?” godanya lagi. Dan dengan senang hati aku memukul kepalanya dengan dokumen skripsi yang ada ditanganku. Astaga,skripsi aku melupakannya lagi gara-gara gadis itu. Aiss, jinjja!

“Yakk,kyuhyun-ah neo eodigga?” Tanya eunhyuk saat melihatku berlari setelah memukul kepelanya.

“Mian hyung,aku lupa hari ini aku ada sidang skripsi” jawabku tanpa menghentikan lariku. Astaga semoga dosen didalam sana berbaik hati dengaku kali ini.

“Yakk,Babo aku bahkan belum membalas pukulanmu kyuhyun-ah” teriak namja itu lagi. Aku tidak memperdulikan teriakannya. Ah,jankkam.. aku inikan putra keluarga Cho. Disinilah keuntunganku menjadi bagian dari keluarga supermakmur itu. Mereka tidak akan ada yang berani memerahiku, kecuali Song seonsaengnim. Aigo,aku harap ia tidak ada disana. Mengapa aku sial hari ini bisakah aku sial dihari lain saja. Namun bertemu dengan gadis bernama Hye Mi itu apakah adalah sebuah kesialan. Ya,kesialan yang tidak akan kusesali seumur hidup. Aissh, Cho Kyuhyun pabo hilangkan fikiran itu dari otakmu sekarang juga.

Hye Mi’s  POV

Mengapa dihari pertama saja, aku sudah bertemu namja seperti dirinya.

Hari ini hari pertama aku menginjakkan kaki di universitas. Hah,alangkah senangnya diriku. Sebenarnya aku ini sudah lama meninggalkan Korea, Ya, itu semua karena urusan bisnis ayahku. Yang mengharuskan kami sekeluarga pindah ke Jepang dan menetap disana selama 5 tahun. Udara di Korea yang sengat aku rindukan. Mataku mengedar kesekeliling, Universitas ini sangat luas. Tidak mengherankan memang, ini adalah salah satu universias terbaik di Korea Selatan.

‘BRUKK’

Seorang namja menabrakku, aku langsung tersungkur dan jatuh ke tanah.

“YAKK,KENAPA KAU MENABRAKKU?”tanyaku meninggikan nada bicaraku. Namun namja ini tak bergeming, ia malah menatapku dengan tatapannya yang kurasa sangat menakutkan.

“YAKK,APA KAU TULI HUH??” aku benar-bebar berteriak kali ini. Aishh, namja ini tetap saja menatapku dengan tatapan mengerikannya. Oh tuhan,selamatkanlah aku.

“Yakk,tuan yang aku tidak ketahui namanya. Seharusnya kau meminta maaf,” nada suaraku masih meninggi.

“Naega wae? Kau juga salah aggashi!” tantangnya tak kalah sewot. Aishh,sudah jelas ia yang menabrakku mengapa jadi ia yang marah.

“Aku???”aku tersontak kaget. “wae?” tanyaku kemudian.

“Apa kau tidak sadar kalau kau berjalan dengan mata yang terus menoleh kekiri dan kekanan tanpa melihat jalan didepanmu,hah?” jawab namja itu.

“Jinjja?” Aishh, pertanyaan bodoh apa yang aku lontarkan tadi. Hye mi paboya, “Ah, ani tetap saja kau yang bersalah,tuan. Apa kau juga tidak sadar kalau kau berjalan dengan mata tertuju pada dokume-dokumen di tanganu itu,hah?” lanjutku berusaha menutupi kebodohanku tadi.

“Ah,arra arra! Bagaimana kalau kita saling meminta maaf?”tawarnya. Tanpa fikir panjang aku meniyakan tawarannya tadi. Aku menyuruhnya meminta maaf lebih dulu, ia sempat menolak tapi sepertinya ia sudah leleh berurusan denganku.akhirnya ia mengalah dan meminta maaf padaku lebih dulu. Siapa dia? Memangnya aku peduli :p . tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi ditelingaku. Yeay,tebakanku benar. Ia temanku Hea Min, ia melambaikan tangan kearahku. Ia bukan teman baruku aku sudah berteman lama dengannya bahkan sebelum aku pergi meninggalkan Negara ini dan pergi ke Jepang. Aku balas melambaikan tangan ke arahnya,sesaat sebelum aku akan berpamitan dengan namja ini aku mendengar seseorang memanggil nama ‘Kyuhyun’. Ah, ternyata itu nama namja didepanku, karena ia langsung menoleh dan pergi kea rah orang yang memanggilnya tadi. Cihh, apa ia tidak diajarkan sopan santun? Pergi tanpa berpamitan atau apalah namanya. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkanku. Apa peduliku dengannya, aku berjalan menghampiri Hea min setelah namja itu pergi.

“Annyeong!” aku menyapa Hea min.

“Ne,annyeong! Hye mi-ya dari mana kau kenal dengan Kyuhyun oppa?kau bilang sama sekali tidak mengetahui berita apapun tentang Negara ini setelah kau di jepang? Mengapa kau bisa berbincang dengannya? Aigo, Hye mi-ya kau sungguh beruntung.” Sahutnya,diikuti denag sederet pertanyaan yang membuatku pusing.

“Ya, Hea min-ah apa maksudmu? Dan tadi kau memangilnya apa? Kyuhyun oppa?” tanyaku benar-benar bingung

“Ne, kyuhyun oppa! Apa kau tidak tau dia itu siapa?” tanyanya ada raut wajah kaget yang menghiasiwajahnya saat ini.

“Molla” jawabku santai.

“Aigo Hye mi-ya. Dia itu sudah sangat terkenal.apa ayahmu tidak membelikanmu televisi di jepang sana,huh?”

“Yakk,” aku memukul lengannya sebagai tanda tidak terima atas pernyataannya tadi. “Aku kan sudah bilang selama aku dijepang aku tidak mengetahui kabar apapun tentang Negara ini. Apa kau lupa kalau selama aku di jepang yang aku kerjakaan hanya sekolah dan pergi kursus sana-sini.” Jelasku

“Aniyo, aku tidak lupa dengan smuayang kau ceritakan padaku.” Jawabnya sambil menunjukan cenggirannya itu.

“Memangnya siapa dia? Apa dia senior kita?”

“Ne, dia memang senior kita! Dia itu siswa paling popular disini dan….” Ia menggantungkan pernyataannya kali ini.

“Dan??” tanyaku penasaran. Aigo, mengapa akupeduli dengan keidupannya.

“Ah, kau penasarannya?”godanya

“Ani” elakku

“mengaku saja Hye mi-ya.” Dia menggoyangkan lenganku

“Ani. Sudahlah aku lapar ayo ke cafeteria.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan

“Ayolah Hye mi-ya menaku saja. Aku janji tidak akan memberitahu siapapun” ia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda bahwa ia berjanji.

“Apa yang harus aku akui?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku melihat ia mengerucutkan bibirnya.

“Sudahlah aku benar-benar lapar kali ini.” Aku langsung berjalan meninggalkannya menuju cafeteria.

“Yakk,Hye mi-ya jankammannyo” teriaknya lalu berjalan mengekoriku.

Kami memesan makanan kami masing-masing. Lalu duduk di kursi yang berada di pojok cafeteria.

“Hye mi-ya! Apa yang kau bicarakan dengannya tadi.” Tanya Hea min semangat. Lagi-lagiia membuka pembicaraan tentang namja ini. Benar-benar menjangkelkan.

“Hea min-ah, Jebal bisakah kaubicara tentang hal lain? Atau aku akan pergi sekarang juga.” Tegasku lalu berdiri berniat pergi.

“Ah ne, Arra arra!” ia menahan tanganku. “duduk kembali, aku tdak akan membicarakannya lagi. Kau ini sama aja seperti dulu, cepat sekali marah.”tukasnya mengalah.

“ Oh ya, apa pekerjaan ayahmu sudah selesai sehingga kau pulang ke Seoul?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Eo” jawabku singkat.

“Aishh, jinjja! Sesingkat itu kau menjawabnya?”

“Laluaku mau menjawabnya bagaimana lagi Hea min-ah?”

“ Ah molla” jawabnya putus asa

“Hea min-ah” tegurku membuatny mengangkat kepalanya mengalihkan pandangan dari ice floatnya ke arahku

“Wae?” tanyanya

“Kau bisa menemanku berkeliling Seoul hari ini?” tanyaku antusias

“Naega wae? Ani aku sibuk hari ini!” tolaknya mentah-mentah

“ ayolah Hea min-ah” aku menggosok-gosokan tanganku sebagai tanda memohon kepadanya.

“ aku tidak bisa Hye mi-ya”

“Wae?” tanyaku sebal

“hmm.. aku ada janji dengan seseorang!” jelasnya

“Ah, biar aku tebak! Pasti kau ingin pergi dengan ikan cengeng itukan?” aku menuduhnya, Ah,ani aku tidak menuduhnya karena aku yakin jawabanku 100% benar adanya. Ia selalumenceritakan namja yang akhir-akhir ini menghiasi hari-harinya. Lee donghae, ya dialah namja yang membuat temanku ini tidak ada habisnya memuja namja itu. Aku memang belum pernah bertemu langsung denag namja ini. Namun berkat yeoja ini aku mengetahui semua tentang namja satu itu. Ya, ia selalu memberitahuku semua tentang namja itu. Cihh, rasanya telingaku mau pecah setiap kali ia menceritakan namja itu. Bagaimana tidak ia bisa menghabiskan waktu 2 jam haya untuk menceritakan namja itu.

“ Yakk, jangan mengejek namjaku!”

“ Memang itu kenyataannya kan?” aku menjulurkan lidah kearahnya

“Kaukan belum mengenalnya Yuki Michiko” tegasnya, dan memanggilku dengan nama Jepangku.

“Arra arra, tapi kau sudah menceritakan semua tentang namjamu itu kepadaku.”

“Aissh, aku menyesal mengapaaku melakukan itu.” Tukasnya sembari membuang muka

“Hahaha.. “ tawaku meledak malihat kelakuannya yang sepertia anak kecil.

“Yakk, apa yang lucu. Apa mengejekku itu lucu?” sahhutmnya tidak terima

“Ne, Mianhae Hea min-ah. Ngomong-ngomong aku penasaran dengan namja yang kau puja itu.” Aku mencoba menahan tawaku agar tidak meledak dan menyinggung perasaannya.

“Mau apa kau bertemu dengannya?”

“Aku mau merebutnya darimu!” aku memasang wajah seserius mungkin

“Yakk, apa-apaan kau ini?” nada bicaranya kurasa mulai meninggi

“ Apa wajahku terlihat seperti orang yang berbohong?” aku mulai merasa wajahnya mulai memucat

“Hye mi-ya” suaranya mulai bergetar.

“Kau kena! Hahaha..” tawaku sudah takbisa kutahan lagi.

“Ih.. kukira kau serius dengan ucapanmu itu.” Ia  memukul tanganku, lalu menghapus tetes air mata yang terlanjur jatuh tadi.

“Yakk, appo! Hahaha.. uljima hea min-ah” tepat setelah aku menyelesaikan kata-kataku tadi. Seorang namja menghampiri meja kami. Awalnya aku sangsin ia ingin menghampiri meja kami karena aku tidak mengenal namja ini. Ia berjalan perlahan, aku merasa ada yang aneh. Ia berhenti di belakang Hea min. Mungkinkah ia Donghae, benar perkiraanku. Ia langsung menutup mata Hea min dengan tangannya.

“Yakk,” berontak Hea min saat merasakan ada tangan yang menutupi pandangannya.

“Annyeong chagi!” namja itu lalu melepaskan tangannya dan mengecup lembut pipi Hea min

“Aishh, apa yang kau lakukan mengapa kau mencium ku?” bentak Hea min tidak terima. Cihh, pasti itu hanya sebuah gengsi. Selepas ini pasti ia akan bercerita denganku betapa bahagianya ia saat namja itu menciumnya.

“ Hehe,, Mianhae. Apa kau sudah makan?” Tanya namja ini perhatian. Aishh, apa harus mereka bermesraan didepanku. Benar-benar menyebalkan.

“ Sudah,chagi” jawabnya Hea min disertai senyum yang merekah diwajahnya. Nyakk,, aku hamper muntah melihat mereka berdua.

“ Ekhemm..” aku berdehem pelan namun sukses membuat namja ini mengubah posisi tangannya dari menggalungkannya di leher Hea min sekarang terhempas bebas.

“Akh,, Mianhae.. aku tidak melihat agasshi tadi.” Tukas namja ini gelagapan.

“ Aniyo, gwenchanna! Ibuku sering bilang kalau orang yang sedang berpacaraan mengangap dunia ini milik mereka berdua saja.” Dan kami mengontrak begitu? Cihh, pepatah macam apa itu. Aku tersenyum masam.

“Jeongmal mianhae agasshi. Kau mahasiswi baru ya? Sepertinya wajahmu asing?” namja ini mengalihkan pembicaraan rupanya.

“ Ne, aku memang mahasiswi baru disini. Kau pasti Donghae-ssi?” sebenarnya pertanyaanku ini tidak terlalu penting karena sudah jelas apa jawaban yang akan kudengar.

“ Kau, darimana tau namaku?” tanyanya lalu mengalihkan pandangan menatap yeojachingunya.

“Ahkk,, aku sampai lupa mengenalkan kalian berdua. Oppa ini Hye Mi temanku dari kecil. Dan Hye mi ini Dongae oppa.” Jelas Hea min

“ Oppa?” astaga tadi aku berbicara banmal dengannya

“Ne, waeroguyo?” Tanya Hea min bingung. Sepertinya mereka berdua tidak sadar kalau aku memanggil namja ini tanpa embel-embel oppa atau sejenisnya

“Aniyo.” Aku menggerakkan telapak tanganku disertaigelengan kepalaku. Hea hanya meng-ohkan jawabanku.

“Hea min-ah! Apakah nanti kita jadi pergi?” Tanya namja ini. Hea min menatapku seolah aku korban bencana alam. Aku menatapnya bingung lalu menggerakan bibirku mencoba bertanya tanpa mengeluarkan suara.

“Sepertinya aku tidak bisa oppa.” Jawab Hea min dan membuatku mengerti arti tatapannya tadi.

“Wae?” namja itu terkejut dengan pernyataan Hea min tadi.

“Hye mi memintaku menemaninya berjalan-jalan keliling Seoul hari ini. Ia baru saja kembali ke Negara ini.jadi ia ingin jalan-jalan.”tegas Hea min. Benar ia membuatku tak enak hati.

“Hae  min-ah! Apa maksudmu sudah aku bilang tidak apa-apa kalau kau tidak menemaniku. Aku bisa pergi dengan adikku Hyun jun.”

“Tapi Hye mi-ya” Hea min masih ragu dengan pernyataanku.

“Bagaimana kalau kita pergi bertiga.” Sahut namja itu, yang nyaris aku kira menghilang karena tidak bersuara sama sekali.

“Andwae!” tolakku denang cepat.

“Wae?” Tanya namja ini bingung

“Hmm.. aku tidak mau mengganggu kencan kalian!”

“Siapa bilang kau mengganggu,aku malah senang jika kau ikut” sambar Hea min pro dengan pernyataan namjchingunya tadi.

“Ani.. aku tetap tidak bisa.” Aku berpura-pura melirik ke arloji yang melingkar di pergelanggan tanganku. “Ommo, aku ada kelas saat ini. Aku pergi dulu ya! Annyeongi “ ucapku berbohong. Aku tidak mau jika meeka lebih memaksa kulagi untuk ikut mereka. Aku bisa jadi obat nymuk disana. Bagaimana tidak tadi saja mereka menganggapku seperti udara yang tidak terlihat. Menyebalkan sekali. Aku segera menghambur lari meninggalkan mereka berdua. aku membeli cappuccino hangat dan berjalan melewati lorong kampus. Cuaca saat ini begitu dingin,aku menggosok-gosokan tanganku pada gelas cappuccino tadi berhara bisa lebih menghangatkan diri.

“Aisshh, mengapa tali sepatuku lepas?” aku berjongkok membeulkan letak tali sepatuku. “Selesai.” Aku mengambil cappucinoku yang tadi kuletakan dilantai sampingku. Lalu bangkit berdiri, betapa kagetnya diriku saat seseorang tiba-tiba berada tepat didepanku.

“Ommo,,” pekikku saat kurasa aku tidak sengaja menumpahkan cairan pekaat cappuccinoku itu kekemeja seseorang. Ya tuhan semoga orang ini tidak marah.

“Yakk,,, apa yang kau lakukan hah?” teriak namja itu. Aigo, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku memberanikan diri menatap namja didepanku.

“NEO” ucapku dan namja itu berbarengan. Astaga aku takut sekali. Tatapannya, mengapa iya selalu menatapku seperti itu. Eomma, Appa, siapa saja tolong aku.

Kyuhyun’s  POV

Gadis ini lagi. Apa ia tidak tau wajahnya itu seperti candu bagiku. Sekali aku melihatnya, untuk seterusnya aku akan terus ingin melihat wajah itu.

Syukurlah skripsiku berjalan lancer. Seperti dugaanku, tidak ada yang beranimemarahiku kecuali Song seonsaengnim. Namun untungnya ia segera dipeganggi oleh dosen-dosen disana dan menenangkannya. Aku memang jenius, semua berjalan lancer tanpa ada kata yang tersendat sedikitpun. Saking gembiranya aku sampai tidak melihat ada seorang gadis didepanku. Dengan reflex kaget ia mewarnai kemeja kesayanganku dengan cairan pekat yang kurasa itu cappuccino aku bisa mengetahuinya dari aroma yang menyeruak dari cairan itu.

“NEO.” Ucapku berbarenganan dengan yeoja ini. Yeoja ini lagi, seketika system otakku rusak aku bahkan lupa bahwa aku akan memarahinya.

“Kau lagi,,” ucapku menutupi kegugupanku saat ini. Wajahnya terlihat mulai memucat dan tercetak jelas raut wajah ketakutan menghiasi wajah cantiknya. Apa aku ini seorang hantu sampai ia ketakutan separti itu,hah. Ya,evil memang julukanku. Tapi itu karena sikapku bukan wajahku. Apa dia tidak sadar bahwa wajahku ini sangat tampan.

“Akhh,, mianhae.. jeongmal mianhae aku tidak tau kalau kau ada didepanku. Aku benar-benar tidak sengaja.” Ia berbicara dengan wajah tertunduk. Apa ia sudah tau siapa aku sehingga kini kurasa ia lebih terlihat sopan dari sebelumnya.

“Aishh, kau ini benar-benar merepotkan!” Aku berjalan pergi tanpa menghiraukannya. Aku mersa sudah kacau kalau berada didepan gadis ini. Semua yang ada didirinya membuatku pusing. Jika ku lebih lama lagi didekatnya mungkin aku akan menjadi orang bodoh seketika itu juga.

Hye Mi’s  POV

Kelakuaan namja ini benar-benar membuatku pusing saat menerka-nerka apa yang ingin ia lakukan

Dia meninggalkanku begitu saja bahkan tidak memarahiku karena menumpahkan cappcino di kemejanya. Ini aneh sekali, apa ia sedang kerasukan seorang malaikat sehingga ia menjadi seperti ini. Atau tidak sengaj ia menabrak tembok dan membuatnya hilang ingatan. Ah, aku rasa opsion kedua tidak mungkin, jika benar ia amnesia pasti ia tidak menggingatku. Tapi tadi jelas-jelas ia mengenaliku. Sebenarnya ada apa dengan dirinya. Sudahlah, untuk apa aku pedulitoh ia bukan siapa-siapa untukku. Aku melanjutkan langkahku, baru 2 langkah namun kakiku harus berhenti bergerak dan jantung terasa ingin meloncat keluar dari tempatnya.

“Yakk, agasshi!” panggil namja itu. Aku memberanikan dri menoleh kebelakang, astaga untuk apa ia menghampiriku lagi. Aku harus menyelamatkan jantungku yang hampir meledak saking takutnya. Aku menundukan kepalaku lagi-lagi takut kalau-kalau ia akan menatapku dengan tatapannya itu. Membayangkannya saja sudah sukses membuatku bergidik ngeri. Aku mencondongkan sedikit badanku saat ia tepat berada di depanku.

“Wae?” tanyaku langsung ke intinya.

“Ikut aku.” Tanpa menunggu persetujuanku ia langsung menarik lenganku, membuatku tersontak kaget dan mau takmau mengikuti kemana ia pergi. Ia mau membawaku kemana, aku benar-benar takut. Ia berhenti tepat didepan mobil ferari berwarna putih.

“Masuk”tukasnya saat membuka pintu kursi penumpang.

“ aku mau dibawa kemana?” tanyaku gugup

“Jangan banyak bicara! Cepat masuk.” Ia mendorongku kasar ke dalam mobilnya. Dengan cepat ia menutup pintu mobil lalu setengah berlari ia mengitari mobil dan masuk lewat pintu kemudi. Tanpa waktu lama ia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Astaga namja ini memang berniat ingin membunuhku. Aku hanya mencengkram kuat seat belt yang melingkar di tubuhku.

“Turun,” serunya setelah membuka pintu penumpang. Ia berhenti di depan butik megah. Ah, aku tau maksudnya.pasti iaingin aku membelikan kemeja untuknya. Cihh, sudah kuduga ia tidak mungkin berubah baik hanya dalam waktu beberapa jam saja. Aku turun dari mobil dengan enggan. Aigo, megah sekali butik ini bisa kujamin harga yang ditawarkan disini juga sama megahnya dengan bangunan ini. Apa namja ini sengaja membuatku bangkrut,hah. Sungguh menyebalkan. Aku mengekori kamana ia pergi, sangat tidak lucu kalau aku sampai tersesat didalam butik seluas ini.

“Ambil,” ia melempar sebuah kemeja kearahku. Cihh,benar-benar tidak sopan. “cepat bayar,” ia beranjak pergi meninggalkanku. Namun langkahnya terhenti saat aku menahan lengannya.

“Wae?” tukasnya.

“Ah igo.. aku tidak tau dimana kasirnya!” jelasku perlahan

“Kau.. kau kan bisa mencarinya sendiri aku tunggu diluar.” Jawabnya ketus

“Jankamman.. aku takut tersesat!” kataku lesu. Ia menarik nafas berat. Tiba-tiba ia menarik lenganku untuk berjalan mengikutinya. Kami tiba didepan meja kasir, ternyata jalannya tidak serumit yang aku bayangkan.

“Sekarang bayar!” serunya

“Ah ne,”

“Total 587 ribu won nona,” seru kasir itu.

“Mwo??” aku tersontak kaget. Hanya sebuah kemeja polos berwarnai biru teduh berharga semahal itu.

“Benar nona,” jawab kasir itu sambil menyunggingkan senyum yang menurutku terasa pahit sekali dan terkesan mengejek.

“Wae?? Jangan katakana kau tidak mampu membayarnya.” Namja ini akhirnya bersuara.

“Ani.. bukan begitu.” Aku megambil dompetku. Astaga aku lupa membawa ATM atapun kartu kredit. Aku melihat uang tunai yang ada didompetku. Syukurlah masih ada 592 ribu won. Aku memyerahkan uang itu 590 ribu won ke kasir itu.

“Ini kembalinya. 3 ribu won. Terimakasih, selamat berkunjung kembali.” Tidak akan, sahutku dalam hati  Kasir itu membungkukkan badannya kearah kami. Akupun melakukan hal yang sama. Tapi namja ini dia dengan seenaknya merebut tas yang berisi kemeja itadi dan langsung menghambur keluar. Lihatlah betapa tidak sopannya namja ini. Aku setengah berlari menghampiri namja ini.

Kyuhyun’s POV

Keluguannya menjadi daya tarik tersendiri untukku

Aku menghambur kelaur butik dan meninggalkan yeoja itu. Aku menekan tombol kunci otomatis untuk membuka pintu mobilku. Aku berniat masuk ke dalam mobil, namun pekikan nyaring yeoja itu menghentikan langkahku.

“Jankamman..” pekiknya nyaring. Astaga apa ia habis menelan pengeras suara didalam butik tadi. Mengapa suaranya begitumyaring dan hamper memecah gendang telingaku.

“Wae??” Tanyaku tak peduli

“Hmmm..” ia terlihat ragu menyampaikan sesuatu padaku.

“Waeyo?” tanyaku lagi.

“Itu!” ia menunjuk kearah mobilku. Apa yang terjadi dengan yeoja ini aku rasa tidak ada yang salah dengan mobilku.

“Kurasa mobilku baik-baik saja agasshi.” Ucapku setelah terjadi kesunyiaan diantara kami.

“Bukan itu.” Ia menggelengkan kepalanya.

“Yakk, agasshi. Kalau bicara yang jelas.” Aku mulai putus asa tidak dapat menebak maksud dari perkataannya. Akupun memutuskan untuk tidak memperdulikannya lagi. Bukankah urusanku dengan dirinya sudah selesai. Aku masuk ke dalam mobil, namun ia masih saja menahanku agar tidak pergi. Ia mengetuk kaca mobilku.

“Ada apa lagi agasshi? Kurasa urusan antara kau dan aku sudah selesai.” Tanyaku padanya.

“Hmmm.. itu.” Kali ini ia menunjuk kursi penumpang disebelahku. Ada apa dengannya aku melihat kursi penumpang dan hanya mendapati tas belanja tempat kemeja tadi.

“Kau menginginkan tas itu agasshi atau kau mau aku mengganti uangmu yang sudahkau pakai untuk membeli kemeja itu. Kalau iya jangan harap aku mau menggantinya. Kau yang melakukan semua ini pada kemejaku.” Tuturku panjang lebar berusaha menebak jalan fikirannya.

“Bukan.. bukan itu maksudku. Bolehkah.. akumenumpamg dimobilmu? Setidaknya bawa aku kembali ke kampus kalau kau tidak mau mengantarku kembali ke rumah.” Ia berbicara dengan nada melemah.

“Tidak dua-duanya. Yak, agasshi kau fikir aku ini supirmu.” Tegasku padanya.

“Aniyo,,aku tidak bermaksudnya seperti itu.. Geunyang..” ia menggantungkan kalimatnya

“Wae??” tanyaku.

“Uangku habis untuk membayar kemejamu itu. Aku bahkan tidak membawa ATM atau sejenisnya.”

“Lalu apa hubungannya denganku.”

“Yakk, apa kau tidak sadar semua ini karena siapa?” Tanya gadis itu membulatkan matanya. Hah, jadi sekarang ia menyalahkanku, begitu.

“Shireo” jawabku ddengan nada sedikit membentak.

“Jebal..” ia menatapku penuh harap. Astaga, konsentrasiku bisa buyar hanya karena tatapannya itu.

“memangnya berapa sisa uang yang kau punya?” tanyaku.

“5 ribu won. Tidak mungkinkan aku naik taksi dengan uang segini?”

“Yakk, pabo. Kau bisa naik bus dengan uang itu.”

“Tapi, aku tidak tahu jalan kearah kampus. Kau yang membawaku kesini setidaknya kau harus bertanggung jawab mengantar kukembali.”

“Ya sudah ambil ini.” Aku menyerahan 2 lembar uang 10ribu won.

“Andwae. Gamsahamnida, tapi ayahku selalu mengajariku untuk tidak menerima uang Cuma-Cuma dari orang lain.” Bentaknnya padaku.

“Terserah apa maumu.” Aku mencoba tidak memperdulikannya. Dan memecu mobilku melesat di jalanan kota Seoul yang siang ini lumayan lenggang.

 

Hye Mi’ POV

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan namja jahat sepertinya

Cihh, benar-benar namja tidak berperasaan. Tega sekali ia padaku. Aku bahkan baru dua hari di kota seoul. Yang menurutku sudah banyak berubah tidak seperti 5 tahun yabg lalu saat aku masih tinggal disini. Aku tidak beranimelangkahkan kakiku. Aku benar-benar takut tersesat seperti waktu pertama kali aku tinggal di jepang, tapi untung saja ada orang baik yang bersedia menggantarku pulang ke rumah dengan selamat. Tidak seperti namja ini, yang dengan tegannya meninggalkanku sendirian. Aku mengetuk-ngetuk ujung sepatuku ke aspal menahan ketakutanku berada di tempat asing seperti ini sendirian. Ah,Hea min akuharap ia mau menjemputku. Aku menggeluarkan ponsel dari tasku lalu mencari nomornya di kontak ponselku. Aku menekan tombol hijau setelah menemukan nomornya. Aku memandangi sekelilingku,sembari menunggu orang di sebrang sana menjawab panggilanku.

“Maaf, telephone yang anda hubungi sedang sibuk atau berada diluar servis area. Silakan tinggalkan pesan.” Ucap operator telephone seluler itu. Astaga kemana yeoja ini saat aku membutuhkannya ia malah tidak ada.

“ Hea min-ah neo eoddiga? Dowajusseyo hea min-ah. Aku tersesat dan tidak tau jalan pulang. Sekarang aku berada di depan butik..” aku menoleh kearah butik itulalu membaca ukiran megah yang kuyakini adalah nama dari butik tersebut.

“Aku berada di butik Kae In seoul. Cepatlah datang kemari. Aku menunggumu.” Ucapku lalu menekan tombol merah di ponselku untuk memutuskan sambungan.

“ Apa kau tersesat agasshi?” suara seorang namja sukses membuatku terlonjak kaget.

“Ommona kau mengagetkanku tuan.” Ucapku sembari mengelus dadaku. Untung aku tidak punya masalah dengan jantungku ini. Kalau tidak mungkin aku sudah mati ditempat adi saking kagetnya. Namjaini malah menunjukan cengiranya. Menyebalkan sekali.

“Hehe.. mianhae aku tidak bermaksud menggagetkanmu tadi. Apa kau benar-benar tersesat?”

“A pa wajahku menunjukan bahwa aku sedang berbohong saat ini?”

“Aniyo.. kau jangan marah seperti itu agasshi. Aku hanya bertanya.”

“ isshh, ya sudah. Kau disisni sedang apa?”pertanyaan bodoh apa yang aku lontarkan bahkan aku belum mengenal namja ini. Tolong sembunyikan wajahku.

“Haha.. memangnya aku harus laporankan kegiatanku padamu aggasshi.” Tanyanya dengan tawa mengejeknnya.

“Ah.. sudahlah!” aku pasrah jika ia mentertawaiku. Kelakuanku tadi mamang terlampau bodoh. Aku memilih untuk berjongkok dan mengabaikannya. Cihh, geli sekali tawannya itu.

“ Jeoneun Jong won ibnida.. namun kau bisa memanggilku Yesung.” Namja ini mengulurkan tangannya berniat berkenalan dengaku. Namun aku mengavukan tangannya itu dan memilih menatap jalan raya didepanku.

“ Bangapseumnida yesung-ssi. Jeoneun Hye Mi ibnida.” Ucapku tanpa mengalihkan pandangaku.

“Yakk, Hye Mi-ssi! Apa kau tidak diajari sopan santun?” namja itu kalihatannya tidak terima dengan perlakuanku yang mengacuhkan jabatan tangannya.

“Ne..” aku tidak terima denganperkataannya tadi. “Ah arraseoyo..” aku langsung berdiri dan menyambar tanganny yang terhempas bebas di udara. “Bangapseumnida Yesung-ssi. Jeoneun Hye mi ibnida. Kau puas?” aku tersenyum mengejek kearahnya.

“Nah,,kalau beginikan lebih baik.” Ucapnya.

“Cihh,, “ aku mendengus kesal.

“ apa kau mau menemaniku makan ice cream?” tawarnya

“Ne??” aku tersontak mendengar tawarannya. Aku baru saja berkanalan dengannya berate dia masih orang asing bagiku. Dan sekarang aku harus menemani namja ini makan ice cream?

“Tenang saja aku bukan orang jahat.” Ujarnya mencoba membaca fikiranku. “Aku yang akan mentraktirmu. Anggap saja ini sebagai perayaan pertemenaan kita. Kajja.” Ia menarik tanganku tanpa menunggu persetujuanku dulu. Mengapa akhir-akhir ini aku sering sekali ditarik-tarik memangnya aku ini peliharaan yang bisa ditarik-tarik seenaknya. Benar-benar menyebalkan.aku mau tak mau mengikuti kemauannya. Kami masuk ke sebuah cafe ice cream yang tidak terlalu besar, namun sepertinya ice cream disini lezat. Lihat saja banyak sekali pengunjung café ini. Ah, aku rasa sudah tidak sabar merasakan ice cream itu menggila di mulutku. Kami duduk di kursi yang terletak di sebelah jendela besar. Ah, ternyata namja ini menyengangkan juga. Kurasa ia punya selera humor yang tinggi. Ia menceritakan kalau ia juga bersekolah di kampus yang sama denganku. Berarti aku dan namja ini akan bisa saling bertemu. Aisshh, apa yang kau fikirkan Hye mi. tak berapa lama kami menunggu pesanan ice cream kami pun dating, benar dugaanku rasa ice creamnya lezat sekali. Lembut ice cream ini kini menguasai lidahku.

“Mashita?” Tanya namja ini. Tanpa fikir panjang langsung aku tanggapi dengan anggukan dan seulas senyum lebar di wajahku.

“Kau ini! Makanmu persis seperti anak kecil.” Ia menggelengkan kepala melihatku. Ia memajuka sedikit badannya kearah ku. Dengan reflex aku memundurkan badanku menjauhinya.

“ Kesini, sebentar.” Ia mengambil tisu lalu menghapus jejak ice cream di bibirku.

“Ah, gomawo.. Yesung-ssi” astaga namja ini. Ia ampir membuatku kaget setengah mati.

“Yesung-ssi?” namja ini menggulangi panggilanku terhadapnya. Apa ia tidak terima denga panggilan itu.

“Ne?” aku bingung

“Haha.. pasti karena wajahku yang imut ini kan kau mengiraku seumuran denganmu?” Percaya diri sekali dia.

“Maksudnya?” tanyaku masih tidak mengerti, terkadang otakku bisa berjalan sangat lambat.

“Panggil aku oppa.” Ucapnya

“Ne?? oppa?” aku kaget, mengapa aku harus memanggilnya oppa. Jankamman.. wajah terlihat muda, mengira dia seumuran denganku, memanggilnya oppa. Ah, berate maksudnya ia lebih tua dariku, begitu. Ah, aku hampir tidak percaya.

“Perlu aku jelaskan?” tawar namja ini.

“Ah, ani.. aku sudah mengerti sekarang Yesung-ssi.” Aigo aku lupa memenggilnya oppa. Ia mendelikkan matamya kearahku.

“A, arrayo.. maksudku Yesung oppa.”

Ia tertawa melihat tingkahku, memangnya ada yang lucu. Tanpa sadar aku terbawa suasana olehnya akupun ikut tertawa, ya walaupun aku tidak tau apa yang aku tertawakan.

Kyuhyun’s POV

Tidak memerlukan waktu berhari-hari dalam hitungan jam saja bayangan gadis ini sudah menari-nari difikiranku

“Hei,,” sapa eunhyuk hyung sembari mengalungkan lengannya dipundakku. Aku dengan malas melepaskan kalungan lengannya itu.

“Wae?” tanyaku padanya.

“Aniyo,, kau darimana saja? Apa skirsimu berjalan lancer? Dan apa yang terjadi dengan kemejamu, aku rasa kau tadi tidak memakai kemeja ini?” tanyanya bertubi-tubi

“Kau ini cerewet sekali. Skripsiku berjalan lancar. Aku dari butik KAE IN SEOUL. Tadi ada seorang yang mengotori kemejaku dengan cappucinonya, maka dari itu aku berganti kemeja.” Tuturku mencoba menjawab semua pertanyaannya.

“Apa kau ke butik Kae in untuk membeli kemeja ini? Kau tidak meminta orang itu yang menggantinya? Tidak biasanya!” Ia tersenyum jahil padaku.

“Aku tidak sebaik itu.”

“Lalu?”

“Otakmu itu benar-benar di bawah standar ya?”

“Yakk, jangan mengejekku.”

“Aku menyuruh gadis itu yang membayarnya.” Jawabku santai.

“Ah, jadi yang menabrakmu itu seorang gadis? Apa gadis yang tadi pagi kau temui? Aku ragu dengan alasanmu tadi? Jangan-jangan..”

“Berhenti berfikiran  macam-macam Lee hyuk jae!”

“ Yakk, aku ini hyungmu. Kau harus sopan.”

“Kaufikir aku mau?”

“Ya..ya susah mempunyai dongsaeng sepertimu.”

“Kemana si ikan cengeng itu?”

“Donghae?”

“Ia siapa lagi kalu bukan dia? Biasanya kalian selalau pergi berdua seperti anak kembar?”

“Ah, dia sedang bersama yeojachingunya. Wae?”

“Ani.. aku baru ingat kalau ia sudah memepunyai yeoja. Pantas saja kau menempel padaku.”

“Hehe.. “ Ia menggaruk tengkuknya yang kurasa sama sekali tidak gatal.

“KYU..EUNHYUK..” sepertinya suara donghae hyung. Aku menoleh kebelakang dan mendapati ia sedang berjalan menghampiri kami bersama yeojachingunya.

“Wae hyung?” tanyaku setelah mereka berada tepat didepan kami.

“Sunbae.. apa kalian melihat seorang gadis memakai blous warna biru, kira-kira tingginya se.. hmm..” aku lihat ia menggira-ngira tinggi oaring yang ia cari tersebut.

“Segini..” lanjtunya setelah ia yakin dengan perkiraannya.

“Siapa namanya?” Tanya Eunhyuk hyung.

“Hye mi, Park Hye Mi.. apa kalian mengenalnya? Atau sempat… ah, gadis yang berbicara denganmu kyuhyun sunbae tadi pagi.. kau ingat?” tanyanya penuh harap. Gadis itu, tadikan aku meninggalkannya dibutik. Apa ia belum juga kembali. Benar-benar menyusahkan.

“Tapi, aku tidak tahu jalan kearah kampus.”

Kata-kata gadis itu tadi kembali menghiasi fikiranku. Apa benar ia tidak mengetahui jalan menuju kampus atau jalan menuju rumahnya. Gadis macam apa dia.

“Ah, gadis itu aku sempat melihatnya. Bukankah setelah mengobrol dengan Kyu ia bersamamu?” Tanya Eunhyuk hyung

“Dimana kau melihatnya sunbae.. memang dia bersamaku tapi ia pergi dan sekarang aku tidak tau ia dimana.”

“Aku melihatnya saat ia sedang mengobrol dengan Kyu..”

“Aku juga tau saat itu sunbae..” Hea min terlihat mulai gelisah.

“Memangnya apa hubunganmu dengannya?” tanyaku

“Ia temanku.”

“Lalu mengapa kau tidak menghubunginya?”

“Ponselku lowbatt” ia menunjukan ponselnya kearahku.

“Dia itukan sudah besar. Mengapa kau seperti ibu yang kehilangan anak berumur 5 tahun.” Ucapku tak peduli. Namun hatiku berontak sekerjap ras gelisah dan bersalah mulai menghantui fikiranku.

“Bukan begitu.. tapi ia baru saja pindah kesini dua hari yang lalu. Ia pasti bingung dengan jalanan kota seoul saat ini.” Balas Hea min yang semakin merasa gelisah. “ selama lima tahun terakhir ini ia tnggal di Jepang. Oppa otteokhaji?” Hea min menarik-narik kemeja donghae hyung. Kedua gadis ini sama-sama kekanak-kanakan. Jankamman.. ia tidak tau jalanan kota Seoul dan aku meninggalkannya sendiri, bagaimana jika ada oaring jahat yang menculiknya atau ia tersesat sehingga ia tidak bisa pulang. Arrgghh.. mengapa gadis ini kini memenuhi setiap jengkal di otakku.

“Mungkin ia sudah pulang kerumah. Coba kau ke rumahnya.” Aku berusaha menenangkan suasana sebenarnya juga untuk menenangkan diriku sendiri.

“Ne sunbae… kalau begitu aku pamit dulu. Oppa,ayo antar aku kerumahnya.”

“Ne.” jawab donghae singkat.

Apa ini semua salahku? Aku yang meninggalkannya disana sendiri. Kyuhyun-ah kau benar-benar jahat.

“Hyung, aku pergi dulu ya!” ucapku pada Eunhyuk hyung lalu langsung berlari menghampiri mobilku.

“Yakkk, kau mau kemana?” tanyanya

“Ani.. aku hanya ada urusan sebentar.”

“Kyuhyun-ah, aku ikut!” pintanya sembari berlari mengejarku.

“Shireo, aku hanya sebentar.” aku langsung melesat masuk kedalam mobil lalu mengendarainya kembali kebutik itu. Astaga, mengapa aku begitukhawatir dengannya? Tidak biasanya aku seperti ini. Ah, mungkin ini hanya rsebatas rasa bersalah karena meninggalkannya sendiri disana. Aku harap ia belum melangkahkan kaki kemana-mana. Tepat 15 menit aku sampai di depan butik, anmun aku tidak melihat wajah gadis itu. Kemana dia. Aku memutuskan untuk masuk kedalam butik, siapa tau ia ada didalam. Semoga saja.

“Oppa.. waegurae?” sapa Kae in pemilik butik ini. Ia sudahku anggap sebagai adikku sendiri.

“Kae in-ah, apa kau melihat gadis yang bersamaku tadi?”

“Aniyo.. waeyo oppa?”

“Aniyo.. gwenchanna.. kalkkaeyo..”

“Oppa.. jankamman.. aneh sekali ia.”

Ya tuhan, kemana gadis ini. Bukankah ia bilang tidak tahu jalan seharusnya ia tetap disini dan tidak menghilang kemana-mana. Aku akui sekarang ini aku benar-benar khawatir dengan keadaannya. Akumelangkahkan kakiku tanpa arah, aku harap ia masih berada di sekitar sini. Aku melewati café ice cream yang lumayan ramai, apakah ia berada di dalam sana. Aku melihat kearah salah satu kaca besar di café tersebut. Dan aku melihat siluet dirinya, ya, gadis yang sedang aku cari. Gadis yang membuatku khawatir setengah mati. Gadis yang membuat kerja system otakku berantakkan. Kini aku melihatnya. Aku menghela nafas berat seolah baru saja terhindar dari bencana besar. Jankamman.. bukankah itu yesung hyung,ada hubungan apa antara dirinya dan hyungku yang satu itu. Mengapa ada rasa sesak yang aku rasakan saat melihat mereka berdua seperti itu. Bukankah aku tak punya riwayat terkena asma. Ada apa dengan diriku. Ada keinginnan untuk menarik gadis itu keluar dan menghentikan perbincanggan antaranya dengan Yesung hyung, namun apa hakku melakukan itu semua. Aku bahkan baru beberapa jam bertemu dengannya. Ayolah kendalikan dirimu, kyuhyun-ah. Aishh, perasaan ini benarbenar menggangguku.

~To be continue~

Sorry for typo😉

Thank you so much for your time.. yang udah baca silakan komen (up to you) yang gak mau komen terserah.. dibaca aja aku udah terima kasih,,🙂 aku menghargai hak tiap pembaca.. komen gak komen itu hak kalian kok,,

special for Choi Hea Min my friend, thank you so much karena mau jadi korban FF ini.. hahaha.. Mianhae ^^v

Gamsahamnidaaaaa..

13 thoughts on “You are my destiny

  1. anyeong reader bru d sni bangapsumnida……..
    bru nemu nie blog dri sjff. critax kereenn…….
    ya dah q mw bc part slanjutnya skaligus ijin bwat ngobrak ngabrik nie blog gumawo………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s