You are My Destiny [part 2]

Saat yang dinamakan cinta menghampirimu kau akan dibuat gila oleh semua itu. Pertemuan pertama bisa saja kita anggap sebagai kebetulan. namun, bagaiamana dengan pertemuan – pertemuan berikutnya. apa kau masih yakin bahwa hal itu hanyalah sebuah kebetulan. tuhan telah menggariskan jalan hidup kita. semua telah tersurat rapih dalan agenda ilahiNya. kau milikku, bisakah kau menjaga perasaanku. jangan dekati namja lain. sebagai mahkluk egois aku akan mempertahankanmu tetap bersamaku. Melihat, merasakan, mendengarkan bagaimana rasanya ketika cinta datang menyapa.- Cho Kyuhyun.

Title : You are my destiny

Cast  : Cho kyuhyun [ Super Junior ]

Park Hye Mi [ as your imagination ]

Kim Jong Won

Member of  Super Junior

****You are My Destiny****

poster2

KYUHYUN POV~

Ya tuhan, kemana gadis ini. Bukankah ia bilang tidak tahu jalan seharusnya ia tetap disini dan tidak menghilang kemana-mana. Aku akui sekarang ini aku benar-benar khawatir dengan keadaannya. Akumelangkahkan kakiku tanpa arah, aku harap ia masih berada di sekitar sini. Aku melewati café ice cream yang lumayan ramai, apakah ia berada di dalam sana. Aku melihat kearah salah satu kaca besar di café tersebut. Dan aku melihat siluet dirinya, ya, gadis yang sedang aku cari. Gadis yang membuatku khawatir setengah mati. Gadis yang membuat kerja system otakku berantakkan. Kini aku melihatnya. Aku menghela nafas berat seolah baru saja terhindar dari bencana besar. Jankamman.. bukankah itu yesung hyung,ada hubungan apa antara dirinya dan hyungku yang satu itu. Mengapa ada rasa sesak yang aku rasakan saat melihat mereka berdua seperti itu. Bukankah aku tak punya riwayat terkena asma. Ada apa dengan diriku. Ada keinginnan untuk menarik gadis itu keluar dan menghentikan perbincanggan antaranya dengan Yesung hyung, namun apa hakku melakukan itu semua. Aku bahkan baru beberapa jam bertemu dengannya. Ayolah kendalikan dirimu, kyuhyun-ah. Aishh, perasaan ini benarbenar menggangguku.

*****

“Sepertinya kalian sangat akrab!” ini bukan seedar pertanyaan, lebiah tepatnya ini adalah sebuah pernyataan.

“Neo..” gadis itu telonajak kaget saat menyadari aku sudah berada tepat didepan meja mereka. “Wae” tanyanya ketus, mungkin ia masih marah terhadapa sikapku tadi.

“Apa kau tidak tau, Hea min tamanmu itu sibuk mencari keberadaanmu. Sedangkan kau sedang asik-asikan disini. Dan kau hyung bagaimana bisa kau mengenalnya?” tanyaku

“Apa pedulimu? Kau kan yang meninggalkanku disini. Apa kau lupa,hah?”

“Kalian berdua sudah saling kenal?” Tanya yesung hyung, lalu memandangi kami, aku dan Hye mi secara bergantian.  Aku memandangi yesung hyung dengan tajam. Aku kira itu cukup membuat nyalinya menciut.

“Ayo ikut denganku!” aku menarik tangan Hye mi lebih tepatnya memaksanya untuk ikut denganku.

“Mwoya? Lepaskan.” Ia berusaha melepaskan cengkraman tanganku yang kurasa akan sia-sia tenaganya itu tidak cukup kuat untuk melawanku. Tanpa mempedulikan rontaannya aku menariknya keluar dari café itu.

“Masuk!” ucapku saat kami sudah berada tepat didepan mobilku.

“Ada apa denganmu? Kau mau membawaku kemana lagi kali ini,hah?” tanyanya.

“Kau bilang setidaknya aku harus mengantar kau kembali ke kampus!” tegasku, tanpa melawan lagi ia masuk ke dalam mobilku.

Aku memacu mobilku, hanya kesunyian yang mewarnai sepanjang perjalanabn kami mungkin ia masih marah dengan semua perlakuanku padanya. Sesekali aku meliriknya, ia hanya melepas pandang keluar kaca mobil. Entah apa yang sedang ia pandangi,sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ada seseorang yang meandanginya dan mengagumi kecantikannya. Ya, itu aku. Kecantikan gadis ini benar-benar menyilaukan. Sukses membuat jantungku berdetak seribu kali lebih kencang. Gadis ini, ah aku tidak bisa menggambarkan sosok yang sedang kupandangi ini. Aku selalu merasa tenang saat aku memandanginya. Merasakan sesak saat melihat ia bersama dengan pria lain. Setiap sentuhannya serasa seperti tegangan listrik mematikan. Aku benar-benar dibuat gila dengan harum yang menyeruak dari tubuhnya. Dia terlihat berbeda dengan gadis lainnya yang pernah ku temui. Bahkan kurasa bidadaripun akan kembali ke khayangan dalam keadaan menangis saat melihat kecantikan gadis ini. Ah, kau pasti sudah gila Cho kyuhyun. Fokuskan dirimu kau sedang menyetir, kau tidak  maukan mencelakakan gadis ini.

Hye Mi’s POV

Dengan seenaknya kau datanng dan pergi, dan memakasakan kehendakmu terhadapku. Memangnya, kau ini siapaku tuan

Sebenarnya apa yang dinginkannya, hah? Meninggalkanku sendirian disana lalu menarikku dengan paksa untuk ikut dengannya. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepada Yesung oppa. Ia mengacaukan segalanya. Kesunyian yang menghiasi perjalanan kami, ia tidak memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata sepeti tadi. Aku melepas pandang keluar kaca mobil, fikiranku melayang. Mengapa aku merasa nyaman dengan Yesung oppa, berbanding terbalik saat aku bersama dengan namja yang kini sedang berada di sampingku. Aku tidak biasanya akrab dengan orang asing. Ini aneh sekali, mengapa aku kecewa saat namja menyebalkan ini datang dan menarikku keluar dari café, merusak moodku saja. Yesung oppa,, nama itu yang kini sedang berputar-putar di fikiranku. Membayangkannya, tanpa sadar membuatku… ah, tidak! Aku melepas senyum saat mengingatnya. Ah, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku merasa tenang saat bersamanya, tersenyum lepas saat bersamanya dan kini kurasa aku merindukannya. Aishh, pabo kau bahkan baru bertemu dengannya beberapa menit yang lalu Hye Mi.. buang jauh-jauh fikiran itu.

“Ayo turun!” sura namja itu membuyarkan lamunanku, ya, siapa lagi kalau bukan namja menyebalkan yang bertindak seenaknya padaku. Aku membuka sealtbelt-ku lalu melangkah pergi meninggalkannya. Aku menghentikan langkahku sejenak, dan menoleh kearah namja menyebalkan itu. “Gamshahamnida.. kau sudah mau mengantarku ke kampus” aku membungkukkan badan lalu kembali melanjutkan langkahku. Bahkan wajahnya sangat datar saata ku mengucapkan terima kasih tadi. Cihh,, aku tidak mauberurusan dengannya lagi.

*****

Aku berjalan menuju meja makan keluargaku. Sudah waktunya makan malam, cacing diperutku sudah berdemo.

“Appa..” pekikku saat melihat sosok yang sangat aku rindukkan sedang duduk di kursi meja makan. Kapan Appa pulang dari New York mengapa aku tidak menyadarinya. Aku berlari menghambur kepelukkannya.

“Apa kabar putriku?” Tanya appa padaku.

“Baik-baik saja appa.”

“Apa kau senang dengan sekolah barumu?” aku hanya menggangguk, aku memang sangat menyukai sekolahku yang sekarang. apalagi jika tidak ada namja menyebalkan itu aku akakn sangat menyukai sekolah itu.

“Duduklah.. ada yang appa ingin bicarakan.” Ucap appa saaat eomma dan Hyun jun adikku sudah berada di meja makan.

“Waeyo appa?” Tanya adikku, tanpa melepaskan pandangannya dari PSP kesayangannya itu.

“Hye Mi-ya..” Appa terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu.

“Waeyo appa? Ada apa?” Tanyaku dengan raut wajah bingung.

“Kaukan sudah besar. Sudah seharusnya kau mempunyai pendamping hidup yang akan menemani hari-harimu. Appa dan eomma tidak mungkin menjagamu selamanya.” Ucap eomma seolah mewakili apa yang akan diucapkan Appaku. Aku jadi bertambah bingung dengan semua ini, sebenarnya ada apa. Mengapa mereka mengatakan hal ini.

“Aku tidak mengerti maksud kalian.” Tanyaku, meminta penjelasan lebih detail lagi.

“Hye Mi-ya.. appa sudah mencarikan calon suami untukmu. Dia adalah anak dari teman bisnis Appa.” Tegas Appa, sukses membuatu membulatkan mata.

“Jadi kalian mau menjodohkan aku dengan namja yang sama sekali aku tidak kenal, begitu?” aku meras nada bicaraku mulai meninggi. “Shireo.. aku tidak mau Appa.. aku tidak mau.” Aku bangkit dari kursiku dengan air mata yang mulai menghiasi pipiku aku berlari kembali kekamarku.

“Nuna..” ucap Hyun Jun adikku, perkataan appa tadi sukses membuat padangannya beralih dari PSP-nya tersebut.

*****

Apa-apaan siapa bilang aku mau dijodohkan. Aku meringkuk di tempat tidur, memeluk lututku dan menenggelamkan wajahku diantara kedua lututku itu. Eomma & appa benar-benar jahat, mengapa mereka memutuskan semua ini sepihak. Aku yang akan menentukkan hidupku sendiri. Lagi pula kau masih 19 tahun, apakah itu tidak terlalu muda untuk menikah.

“Nuna buka pintunya..” lamunanku buyar saat Hyun jun mengetuk pintu kamarku.

“Jun-ah pergilah.. aku ingin sendiri jangan ganggu aku..” ucapku dengan suara bergetar.

“Nuna apa kau menangis?” tanyanya.

“Aniyo..” jawabku berusaha agar nada bicaraku dtar.

“Nuna..” rajuknya agar aku mau membukakan pintu untuknya. Ya, ku akui ia memang adik yang sangat perhatian denganku. Ia yang selalu menghiburku saa aku sedang sedih, tapi kali ini aku benar-benar ingin sendiri.

“Jun-ah pergilah.. jebal”

*****

“Kau habis menangis, ya? Matamu bengkak Hye Mi-ya..” Tanya Hea min saat kami berada di kampus.

“Aniyo. Gwenchanna..” balasku datar

“Jangan berbohong padaku Hye mi-ya.. kau itu pembohong terburuk.” Ya, dia memang benar. Aku tidak pandai berbohong. “Ceritakan padaku! Barangkali aku bisa membantumu.” Tawarnya.

Aku menceritakkan semua padanya, aku menangis sekeras-kerasnya. Hea min mengajakku ke sebuah balkon yang menurutnya paling aman untuk menangis. Ya, kurasa juga begitu, tidak banyak mahasiswa yang berseliweran disisni. Bahkan hampir terhitung tidak ada.

Kyuhyun’s POV

Apakah mereka fikir aku tidak bisa mendapatkan jodohku sendiri, sehingga mereka melakukan ini berulang-ulang

“Mwo? Kau dijodohkan kyuhyun-ah?” teriak Sungmin hyung saat aku menceritakan rencana perjodohan yang direncanakan ayahku.

“Kau ini berisik sekali.” Heechul hyung mengambil ancang-ancang untuk melempar boneka ikan milik donghae hyung kearah sungmin hyung.

“Yak, Hyung apa-apaan aku ini. Kambalikan bonekaku.” Teriak donghae tak terima jika boneka kesayangannya menjadisasaran empuk oleh Heechul hyung. Sungmin hyung yang merasa terselamatkan hanya cengar-cengir dan bersembunyi dibalik tubuh Shindong hyung.

“Apa kau sudah bertemu dengan yeoja itu?” Tanya leeteuk hyung. Aku hanya menggeleng.

“Orang tuaku bilang ia juga kuliah disini.” Ucapku pelan, namun sukses membuat para hyungku menatapku dengan intens.

“Siapa namanya?” Tanya siwon hyung penasaran. Aku hanya mengedikkan bahuku.

“Yahh…” semua hyungku mendesah berat. Ada apa dengan mereka. Mengapa mereka kecewa saat aku tidak tau siapa nama gadis yang akan dijodohkan denganku.

“Wae??” tanyaku

“Aniyo.. aku hanya ikut-ikutan yang lain.” Jawab donghae hyung. Rasanya aku benar-benar ingin menelannya hidup-hidup. Satu per satu hyungku meninggalkan ruangan tempat kami berkumpul. Ya, aku memang sengaja membuat ruangan ini. Ruangan kedap suara tempat kami bebas berteriak-teriak, menangis atau melakukan apapun yang kamiingin lakukan. Asal kalian tau, universitas ini kini telah resmi menjadi milik ayahku. Ah, lebih tepatnya sebulan yang lalu, ayahku membeli universitas ini.

*****

Hye Mi’s POV

Terkadang orang tua bisa saja melakukan kesalahankan?

Semua ini untuk kebaikanku, apanya yang baik? Menikah dengan orang yang sama sekali tidak kau kenal. Untuk kebahagiaanku, demi kebahagiaanku aku harus menikah dengan namja yang sama sekali aku tidak cintai? Apa itu yang mereka sebut kebahagiaan? Cihh, benar-benar memuakkan.

“Hye mi-ya, tolong mengertilah! Appa melakukan ini semua karena appa menyayangimu.” Appa mencoba memberiku pemahaman tentang semua ini. Namun kurasa percuma aku tidak akan mau mengerti kemauan mereka. Ini hidupku, aku yang akan menjalani semuanya. Seharusnya aku yang memutuskan apa yang akan aku lakukan. Bukan eomma tatau appa. Bukan juga siapapun.

“Klalau appa menyayangiku, kenapa appa tidak batalkan saja perjodohan ini?” tanyaku dengan tatapan kosong kea rah jendela kamar. Aku tidak mau menatap appa.

“Hye mi-ya, namja ini pria yang baik. Appa yakin kau akan menyukainya. Kau akan bahagia jika besamanya.”

“Appa, aku bahkan sama sekali tidak menyukainya. Appa jebal, jangan memaksa aku. Aku akan menuruti semua yang appa mau tapitidak untuk pernikahan appa. Aku yang akan memutuskan sendiri.” Tegasku, lalu merebahkan tubuhku dikasur yang entah mengapa terasa begitu sakit. Aku menarik selimut menutupi semua bagian tubuhku.

“Hye mi-ya. Besok ia dan keluarganya akan datang kemari. Appa  ” Suara appa terdengar melemah.

“Appa, aku mengantuk.” Balasku pelan, kurasa appa mengerti maksudku.

“Baiklah appa keluar dulu. Kau fikirkan lagi tentang tadi, orang tua selalau memberikan yang terbaik untuk anaknya, Hye mi-ya.” Ucap appa lalu pergi keluar dari kamarku. Aku mendengus kesal. Terkadang orang tua juga bisa salahkan? Ahkkk.. ini membuatku hampir gila. Ketukan di pintu kamarku membuyarkan semua lamunanku.

“Nuna…” seru seseorang yang kuyakini adalah Hyun Jun adikku.

“Wae??” tanyaku ketus. Aku sedang tidak berselera bicara saat ini, atau mungkin sampai appa & eomma membatalkan perjodohanku.

“Boleh aku masuk?”

“Masuklah”

Terdengar bunyi kenop pintu yang diputar, aku menatap hyun jun yang melonggokan kepalanya dari balik  pintu. Ia terlihat ragu untuk memasukki kamarku.

“Sudah kukatakan masuk Jun-ah. Kau terlihat seperti maling jika ka uterus berdiri disitu.” Aku mencoba meyakinkanya.

“Ne nuna..” ia mulai melangkah mendekati tempat tidurku dan dudk dipinggiran ranjang.

“Wae?”

“Aniyo..  nuna aku dengar namja yang akan dijodohkan denganmu itu satu kampus denganmu!”

“MWO??” aku terperanjak kaget.

“Aigo.. nuna kau mengagetkanku saja.” Ia terlihat mengelus-elus telinganya, mungkin takut kalau-kalau teriakkanku tadi berimbas besar padanya.

“Justru kau yang mengagetkanku, pabo..” aku memukul kepalanya pelan.

“Yakk, nuna appo..”

“Hmm.. apa namja itu menyetuju perjodohan ini?” tanyaku penasaran.

“Yang aku tau dia juga menolak perjodohan ini, sama kerasnya dengan kau!” jawabnya

“Jinjja.” Aku tidak bisa menyembunyikkan binary-binargembira yang kini telah membuncah. Ah, mungkin saja namja itu bis adiajak berkarja sama untuk menentang perjodohan ini.

“Yakk,, nuna ada apa denganmu? Oh ya,, kudengar namja itu sangat tampan.” Ucap hyun jun

“Memangnya aku peduli,,” aku mengedikkan bahu tidak peduli. Ah, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang. Aku hanya perlu mengajak namja itu bekerja sama agar pertunangan ini dibatalkan. Setidaknya, ada seseorang yang pro denganku.

*****

Kyuhyun’s POV

Sebuah peluang datang padaku, untuk apa aku menyianyiakannya?

Malam ini keluargaku akan makan malam di kediaman keluarga Park. Ya, keluarga yang putrinya akan dijodohkan denganku. Cihh, aku benar-benar muak. Tapi apa mereka tau kalau aku sudah mengatur siasat menolak perjodohan ini. Aku muak bertemu dengan para gadis manja, putri rekan bisnis ayahku. Bahkan indra penciumannku terasa hampir saja rusak karena wangi parfum mereka. Aku ingin sekali berteriak kepada ayah bahwa aku sudah menemukkan gadis yang aku suka. Namun rasanya itu tidak ada gunanya, karena kami kini sudah berada di kediaman tuan. Park .

“Kyuhyun-ah! Ppali, mengapa kau diam saja?” suara lengkingan dari nunaku, kurasa mampu membuat telingaku tuli mendadak.

“Ne..” aku mulai melangkahkan kaki keluar mobil dan berjalan menyusul ke dua orang tuaku yang sudah berjalan terlebih dahulu. Kediaman minimalis dengan konsep klasik sangat terasa disini. Memberikan rasa nyaman bagi siapa saja yang melihat rumah ini. Tepat disamping pintu masuk terdapat dua patung dewa-dewa yunani yang diletakkan dikiri dan kanan pintu. Entahlah akupun tidak tau nama patung itu, karena aku tidak tertarik sama sekali dengan Yunani kuno.

“Ah,, Tuan. Cho , apa kabar? Lama tidak bertemu” kami langsung disambut oleh seorang pria yan kurasa lebih muda beberapa tahun dari ayah, ia tidak sendirian disampingnya berdiri seorang wanita yang kurasa adalah istrinya.

“Haha.. Tuan. Park ! aku baik-baik saja!” Ayahku menepuk pundak rekan bisnisnya itu.

“Ah,, ayo masuk tidak baik bicara diluar seperti ini.” ucap istri dari Tuan. Park tadi.

“Ya, kau benar istriku. Mari masuk.” Ucap tuan. Park

Kami semua duduk dimeja makan yang kurasa muat untuk menampung 9 hyungku beserta para yeojachingunya. Meja makan ini terlalu lebar. Merka semua –orang tuku dan orang tua gadis yang akan dijodohkan denganku- sibuk mengobrol, dan kurasa ahjussi ini bukan saja rekan bisnis ayahku melainkan teman masa kecilnya dulu. Karena sedari tadi mereka terus-menerus membicarakan tentang masa lalu mereka. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingkku. Benar-benar elegan, rumah ini memang Nampak sederhana dari luar, namun ketika kau masuk kedalamnya kau akan dibuat tercengang oleh penataan dan interior yang terpajang disini.

“Nyonya Park, dimana putrimu? Sepertinya putraku sudah tidaksabar ingin bertemu dengannya!” ucapan eomma sukses membuatku mendelik tajam kearah eomma.

“Eomma kau ini apa-apaan?” tanyaku

“Lalu untuk apa kau mengedarkan matamu itu?” aku membuang pandangan dan mengacuhkan kata-kata eommaku.

“Ah iya, sebentar ya! Aku akan memanggil putriku.” Ucap nyonya Park lalu pergi menghampiri putrrinya. Aku mendengus kesal akan ucapan eomma tadi. Itu benar-benar memalukan. Tak berapa lama nyonya Park kembali dengan menggandeng seorang gadis.

“Eomma, lepaskan aku tidak mau!” terdengar rontaan dari mulut gadis itu. Ia menoleh kearah meja makan. Dan, seketika itu juga aku terlonjak kaget saat melihat wajah gadis itu. Wajah gadis yang kini selalu mengisi pikiranku, wajah gadis yang sangat ingin kujadikan teman hidupku, wajah yang dapat membuatku tenang dan merasa nyaman saat menatapnya, wajah yang membuatku terlonjak girang saat melihatnya, wajah yang selalu sukses mebuatku merindukkannya, wajah yang selalu terlihat mengagumkan walau apapun ekspresi yang terpancar. Kini gadis itu berdiri di depanku, memakai blous warna biru laut. Gadis itu terlihat begitu menyilaukan melebihi silaunya berlian sekalipun.

“Neo,, yakk, kau namja menyebalkan itu mengapa kau ada disana?” pekik gadis itu, sukses membuyarkan lamunanku. Ia menghampiriku dan menatapku intens, astaga gadis ini apakah ia tau kalau tatapan matanya itu selalu mampu membuat ssistem otakku rusak. Bahkan kurasa saat ini aku lupa bagaimana cara bernafas.

“Kalian sudah kenal?” Tanya ibuku.

“ne..” jawabku dengan nada datar berusaha menyembunyikan rasa senang yang hampir meledak karena mengetahui kalau gadis yang akan dijodohkan denganku adalah dirinya.

“Aniyo.. kami hanya pernah bertemu secara tidak sengaja! Kami tidak saling kenal Ahjumma.” Gadis ini membantah keras jawaban yangtadi aku berikan kepada ibuku.

“Ah, gwenchana.. Hye mi-ya. Ini putraku yang akan aku jodohkan denganmu!” ucap eomma riang

“Cho kyuhun imnida.” Aku membungkuk sopan dan memyebutkan namaku padanya.

“Mwoya?” ia tersontak kaget dengan ucapan ibuku. Ibuku hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Hye mi-ya.” Aku melihat nyonya Park mendelik kearah putrinya itu.

“AH,, mianhae.. mianatta.. Park Hye Mi imnida! Bangapseumnida kyuhyun-ssi” ia membungkuk, sama seperti yang aku akukan tadi. Nyonya Park menyuruh gadis ini duduk disebelahku. Ah, semoga saja jantungku tidak melompat keluar dari tempatnya. Awalnya gadis ini memang menolak namun saat ibunya mengatakan ia akan membuang semua koleksi dvd kdrama milik gadis ini. ia tanpa kata langsung menjatuhkan dirinya di kursi sebelahku. Nyonya Park memang mengatakan semua itu dengan pelan namun aku masih bisa mendengarnya. Ekspresi gadis ini benar-benar menggemaskan. Ah,, kau pasti sudah gila Kyuhyun. Riang tawa mewarnai makan malam kami, mungkin lebih tepatnya tawa mereka –orang tuaku & orang tuanya- sedangkan kami –aku & gadis ini- hanya tersenyum malas menanggapi celotehan mereka.

“Hai,, kyuhyun-ssi!” gadis ini memanggilku pelan. Ia hanya memanggil namaku. ‘kyuhyun-ssi’ namun aku merasa kata itu sangat terdengar indah. Aku sangat suka saat namaku meluncur keluardari bibir mungilnya.

“Wae??” jawabku

“Apa kau mau berkerjasama denganku?”

“Untuk apa?”

“Menggagalkan perjodohan ini? kudengar kau juga tidak ssetujukan dengan perjodohan ini?”

Moodku jatuh 180° saat ia mengatakan semua itu. Aku bahkan sudah lupa akan rencanaku membatalkan perjodohan ini. Saat mengetahui bahwa gadis ini yang akan dijodohkan denganku, aku berniat membatalkan rencanaku menghancurkan perjodohan ini. sekarang ia menawarkanku hal ini. Apa ia benar-benar membenciku sehingga tidak ingin melanjutkan perjodohan ini.

“Naega wae?” aku nyaris teriak namun gadis ini membekap mulutkku dengan tangannya. Padangan kami saling bertemu. Jarak antara wajahku dengan wajahnya hanya terbentang beberapa senti saja. Dari jarak sedekat ini membuatku leluasa menelusuri stiap lekuk wajahnya. Memperhatikan mata coklatnya, hidungnya , dan bibirnya. Ahkk,, kyuhyun-ah kendalikan dirimu. Wajah gadis ini benar-benar mahakarya sempurna. Kami saling berpandang dalam waktu seperkian detik dan saling membuang pandangan saat terdengar suara dehaman yang cukup keras. Suara itu berasal dari mulut ayahku.

“EHKEMMM.. sepertinya kita sudah harus menentukkan tanggal pernikahannya, tuan. Park!” ucap ayah tanpa mengalihkan pandangannya menatap kami berdua –aku dan Hye mi-. semua mata memandangi kami dengan pandangan mengintimidasi.

“Ah,, ne. sepertinya aku harus mulai membiasakan memanggilmu besan.” Sahut ayah Hye mi. aishh, apa-apaan mereka ini. Hye mi sukses mendelikkan mata coklatnya kearah ayahnya. Namun ayahnya hanya tersenyum, dan menampakan wajah tak berdosa.

“Bagaimana Kyuhyun-ah, apa aboji salah memilihkanmu seleramu?” ucap ayah dengan nada mengejek. Aisshh, aku akui saat ini aku benar-benar bersyukur saat mengetahui gadis inilah yang dijodohkan denganku.

“Ah,, ne..” sahutku gelagapan. Aisshh, cho kyuhyun pabo. Hye Mi menatapku seolah ingin menelanku hidup-hidup karena menyetujui perjodohan ini. aku hanya mengedikkan bahu tak peduli. Aku sangat ingin memlikimu Hye mi-ya. Sekarang saat sebuah kesempatan besar untuk memilikimu dating. Apakah aku harus menolaknya, tentu saja aku tidak akan melakukannya Hye mi-ya. Mungkin kau tidak mencintaiku saat ini, namun aku berani menjamin kau akan mencintaiku tanpa paksaan nanti. Aku akan membantumu untuk bisa mencintaiku Hye mi-ya.

Hye Mi’s POV

Mengapa aku tidak bisa mengendalikan hidupku sendiri?

Namja gila, mengapa ia setuju dengan perjodohan konyol ini. cihh, aku akan mengutuk siapa saja yang menemukkan cara menikahkan anak mereka dengan cara seperti ini. benar-benar memuakkan. Aku menatapnya tajam, namun dengan santainya ia hanya mengedikkan bahu tak peduli. Cihh, kau pasti akan menyesal kyuhyun-ssi kau fikir aku mencintaimu atau akan mencintaimu. Kau salah besar, karena kurasa aku sudah trlanjur membenci bahkan mengutuk namja sepertimu.Ahkk,, neo juggesseo Cho Kyuhyun-ssi.

*****

Aku merapatkan selimutuku, saat angin musim dingin mulai menerpa tubuhku. Cuaca hari ini benar-benar suram, sesuram hatiku saat ini. aku, seorang Park Hye mi harus menikah diusiaku yang baru 19 tahun. Bahkan lebih parahnya, dengan namja yang sama sekali tidak aku sukai. Kutegaskan sekali lagi, AKU TIDAK MENYUKAI NAMJA ITU. Ya, apa kau tau bagaiman rasanya? Seakan seluruh nywamu dicabut secara paksa sangat menyakitkan. Teramat menyakitkan. Saat hidupmu dikendalikan orang lain. Bahkan kau tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Semalam mereka semua memutuskan tanggal pernikahanku dengan kyuhyun. Aku hanya mendengus kesal mendengarnya. Pernikahan itu akan diadakan kurang dari sebulan. Benar-benar membuatku gila. Aku bangun dan menyibak selimutku, lalu pergi kearah kamarmandi. Aku berniat pergi ketaman kota. Setidaknya aku harus merefleksikan otakku, karena terlalu stress dengan semua ini. setelah menyegarkan badanku, aku membuka lemari dan pilihanku jatuh pada kemeja yang sizenya lebih besar dariukuran tubuhku serta sebuah celana  jeans hitam. Aku mengalungkan shall disekitar leherku. Udara diluar bisa saja mebuatku mati kedinginan. Stelah yakin ddengan penampilanku aku meraih mantel coklatku yang berada di atas ranjang lalu langsung melesat keluar kamar.

Taman saat ini terasa begitu sepi, lagipula siapa yang  mau dating ketaman disaat tumbuhan sudah tak berdaun lagi. Aku meyesap coklat panas ditanganku. Rasa hangat coklat ini menjalari tubuhku. Memberikkan kehangatan disaat cuaca teasa seperti dikutub.

“Kau sendirian aggashi?’ sebuah suara sukses membuatku terlonjak kaget. Suara itu berasal dari seorang namja yang mentraktirku makan ice cream tempo lalu.

“Yesung oppa..” aku menyambutnya dengan senyum merekah diwajahku. Entahlah, saat aku berada di dekatnya aku selalu merasa ingin memamerkan senyumku ini. senyum yang menurutku sangat manis.

“Boleh aku duduk disini?’ tanyanya sambil menunjuk kearah tempat kosong bangku taman yang sedang kau duduki.

“Silakan saja.” Jawabku dan langsung disambut oleh senyum manis diwajahnya.

“Kau sendirian?” Tanya Yesung oppa.

“Aniyo.” Jawabku singkat. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari seseorang yang mungkin saja menemaniku disini. aku terkekeh pelan, namun kurasa masih terdengar olehnya.

“Mengapa kau malah tertawa? Ada yang lucu?” tanyanya bingung

“ Aku tidak sendirian karena kau ada disini, oppa!” ujarku. Ia nyengir lebar saat aku mengatakan itu.

“Apa yang kau kau lakukan disini?” tanyanya lagi.

“Aku hanya bosan dirumah. Eomma sedang pergi menghadiri pertandingan sepak bola adikku. Sedangkan Appa bekerja. Maka dari itu aku kesepian dirumah, aku pergi ketaman ini ternyata sama saja. Disinipun sepi.” Tuturku. Yesung oppa memandangiku dengansenum yang mengembang diwajahnya.

“Wae?” tanyaku. Aku merasa aneh jika ditatapan oleh seorang namja.

“Kau kau baru saja curhat denganku Nona muda? Haha..” ledeknya. Aishh, tidak biasanya aku mencurahkan isis hatiku kepada sembarang orang. Aku benar-benar malu.

“Ah.. lupakan.” Aku menatap lurus kedepan. Mengacuhkannya yang sibuk tertawa sendiri.

“Apa kau marah?” ia memegang bahuku dan memutarnya agar tatapanku beraklih menatap wajahnya.

“Menurutmu?” balasku ketus

“Arra, mianhae.. aku janji akan mendengarkan curhatanmu. Bagaimana?” Ia mengangkat sebelah alisnya

“ Siapa yang ingin curhat denganmu lagi, oppa?” aku menjulurkan lidahku mengejeknya.

“Aku yakin kau pasti akan lebih sering melakukan ini nanti Hye mi-ya.”

‘Kau terlalu percaya diri, oppa!” ia hanya mengedikkan bahunya.

*****

Segala tetek bengek pernikahan membuatku gila. Aku harus memasuki toko ini itu untuk mencari semuanya. Eomma dan Cho ahjumma, mereka yang selalu mengantarku membeli semuanya. Namun tidak untuk Gaun pernikahan dan cincin,mereka menyuruh Kyuhyun menemaniku. Dengan langkah gontai aku memasuki butik ini lagi. Ya, butik yang pernah aku kutuk karena harga sebuah kemeja sederhana namun harganya jauh dari kesan sederhana. Cho ahjumma yang menyarankan tempat ini. dan yang membuatku naik darah adalah saat mengetahui bahwa pemilik sebenarnya dari butik adalah namja yang berjalan bersamaku saat ini. ia hanya menyerahkan kuasa butik ini pada seorang yeoja yang seumuran denganku karena ia menggangap yeoja itu sebagai adik kesayangannya. Dan terbukti kepercayaan yang ia berikan tidak disia-siakan oleh yeoja gadis itu. Butik ini menjadi salah satu yang patut diperhitungkan kesuksesannya di korea bahkan dunia.

“Oppa,,” pekik seorang gadis, ia menghampiri kami.

“Ah, kau pasti. Hye Mi eonni kan? Jeoneun Kae in imnida ” tanyanya padaku

“Hmm.. sepertinya kita seumuran panggil aku dengan nama saja.” Kataku lalu memamerkan senyum di bibirku.

“Algesseumnida.. ayo ikut denganku Hye mi-ssi. Oppa kau tunggu di sini saja.” Perintahnya. Kyuhyun hanya mengguk pelan sebelum gadis ini menarikku untuk ikut dengannya. Mataku terbelalak saat melihat deretan gaun pengantin wanita berjejer rapih.

“Hmm.. Kae in-ssi apa kau yang merancang semua gaun ini?” tanyaku penasaran

“Ne, wae hye mi-ssi? Apa kau tidak menyukainya?” Tanyanya ragu-ragu

“Aniyo, gaun-gaun ini sangat cantik! Aku merasa tidak pantas mengenakan mahakarya indahmu ini.” ungkapku

“Aigo, Hye mi-ssi kau jangan berlebihan seperti itu. Silakan kau pilih gaun mana yang kau sukai.” Ucapnya riang

“Kae in-ssi aku bingung! Bisakah kau membantuku?”

“Kenapa kau tidak menanyakan pendapat namjja yang ada disana?” ia menunjuk kearah kyuhyun , sial. “Aku tau kalau oppa itu mempunyai selera fashion yang tinggi. Aku yakin ia bisa membantumu Hye mi-ssi. Hwaiting !” ia nyengir lebar, lalu meninggalkanku dengan ditemani dua orang pegawai wanita disini. Cihh, menyebalkan tadi ia sendiri yang menarikku kesini sekarang dia yang meninggalkanku juga di sini. Kelakuannya benar-benar mirip dengan Kyuhyun.

“Nona, gaun mana yang akan anda coba?” Tanya seorang pelayan kepadaku. Pandanganku seketika itu juga beralih lagi ke barisan gaun-gaun cantik itu. Aku memilah-milah gaun mana yang cocok dengan seleraku. Kuakui selera fashionku tidak terlalu bagus atau mungkin bisa dikatagorikan buruk. Pilihanku jatuh pada sebuah gaun berwarna yang terlihat sederhana sekaligus mewah dalam waktu yang sama. Gaun ini tidak penuh dengan renda-renda dan segala acsesoris yang menurutku melelahkan mata saaat memandangnya. Gaun ini hanya diberi hiasan beberapa berlian imitasi dibagian depannya, lengan pendek yang mengembung serta beberapa sulaman bunga indah pada bagian bawahnya.

“Aku pilih yang ini saja.” Kataku, lalu menyerahkan gaunitu pada pelayan tadi.

“Mari nona..” pelayan itu menuntunku memasuki ruang ganti dan membantuku mengenakan gaun ini. butuh beberapa menit sampai gaun ini terlihat membalut tubuhku dengan sempurna. Aku memantulkan bayangan diriku dicermin besar yang ada di sana. Aku hampir tak percaya bahwa gadis yang di cermin itu adalah bayangan diriku. Gadis didalam cermin ini benar-benar memukau. Gaun yang ia kenakan erlihat begitu pas untuknya. Benarkah bayangan itu adalah aku. “Nona, biarkan calon suamimu itu melihat kecantikan anda saat memakai gaun ini.” ucap pelayan satunya lagi padaku. Secara otomatis membuyarkan lamunanku , aku hanya tersenyum lalu menuruti kata pelayan tadi. Ia membuka tirai didepan kami, dan mataku langsung tertuju pada namja itu. Kini ia telah memakai setelan lengkap pakaian pengantin pria. Aku terpaku melihatnya ia terlihat sangat cocok dengan setelan kemeja itu. Kemeja berwarna putih dengan sedikit torehan warna hitam pada bagian kerahnya yang dibalut dengan jas berwarna senada membuat ia terlihat mempesona. Aisshh , park hye mi apa yang kau fikirkan. Aku segera mengenyahkan fikiran itu dan menatap wajah kyuhyun, namun sepertinya ia sedang memandangiku dengan tatapan yang… biasa saja. Hufh, namja itu apa ia benar-benar tidak mempunyai ekspresi untuk wajahnya. Menyebalkan.

Kyuhyun’s POV

Apa kau tau Mi-ya? Kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu.

Aku terpaku melihat pemandangan didepanku. Seorang gadis cantik dengan balutan gaun sedang berdiri didepanku. Aku mulai yakin bahwa kecantikkan bidadari manapun takkan mampu mengalahkan kecantikkannya. Sinar bintang paling terangpun akan redup jika disandingkan denga dirinya. Rasa ngilu mulai menjalari persendiaanku, otakku berhenti berfikir, semua system sarafku berantakan hanya karena melihat gadis ini. gadis yang tak lama lagi akan menemaniku dan mengisi hari-hariku. Aku berdiri terpaku melihatnya, saat kusadari ia memandangiku aku mulai mengatur emosiku. Aku memasang wajah straight-ku lagi-lagi untuk menyembunyikan rasa gugupku saat ia menatapku dengan mata coklatnya itu. ‘kau cantik sekali Mi-ya’ aku ingin sekali melontarkan kata-kata itu, namun rasa gugup dan gengsiku yang teramat tinggi menglahkan itu semua.

“Kau sudah menemukan gaun yangkau suka?” tanyaku santai.

“Hmmm.. aku sudah menemukkannya.” Balasnya malas

“Kalau begitu sekarang kita pulang! Cepat ganti pakaianmu itu.” aku pergi setelah mengatakannya. Aku berjalan menuju kamar ganti untuk mengganti pakaianku juga. Ah, aku sebenarnya sangat penasaran dengan ekspresi wajahnya saaat melihatku mengenakan setelan ini. namun dirinya , mengacaukan semua kerja otakku hanya dalam hitungan seperkian detik. Ya, aku tidak tau begaimana ekspresinya apa ia terlihat mengagumiku atau malah sebaliknya? Aku berjalan menuju tempat Hye Mi tadi setelah melepas setelan kemeja pernikahan itu lalu menggantinya dengan kemeja santai yang aku kenakan tadi saat dating ke butik ini. aku melihatnya keluar dari kamar ganti dengan muka cemberut.

“Kau kenapa?” tanyaku padanya

“Eh, aku? Tidak.. aku tidak apa-apa.” Jawabnya

“Oppa, Hye mi!” teriakkan kecil mengisi telinga kami. Suara itu berasal dari yeoja yang sudah kuanggap adikku sendiri.

“Kae in-ssi, wae?’ Tanya Hye mi-ya

“Apa kalian sudah mau pulang?” tanyanya

“Ani, kami harus mencari cincin pernikahan terlebih dahulu. Wae?” balas Hye mi

“Ah geurae.. apa kalian sudah memilih pakaian kalian masing-masing? Mianhae aku tidak bisa membantu kalian tadi. Aku harus menemui clientku tadi. Kalian tidak marahkan?”

“Ne, kami sudah memilih pakaian kami! Karyamu benar-benar menggagumkan Kae in-ssi.” ucap Hye mi sembari mengangkat kedua ibu jarinya.

“Gwenchana kae in-ah oppa mengerti kau ini seorang yang sibuk.” Ucapku

“Ah, oppa kau bisa saja.” Kae in tersipu malu karena ucapanku tadi. “kalian sudah memberikanpakaian itu kepada pegawaiku?” lanjutnya lagi

“Ne..” ucapku dan Hye mi hampir bersamaan.

“Kae in-ah kami pamit dulu.. annyeong” kataku, lalu menggenggam tangan Hye mi menariknya keluar dari butik.

“Ne, hati-hati dijalan.”

Astaga, aku membahayakan jantungku sendiri. Aku tidak tau efek besar yang terjadi saat menggenggam tangan itu. Rasanya seperti tersengat aliran listrik,sangat dashyat. Setiba didepan mobil aku dengan reflex membukakan pintu mobil untuknya. Ia menatapku, lalu mengangkat sebelah alisnya. Ommo, Mi-ya jangan memandangku, setiap pandanganmu dengan mudahnya menghancurkan system otakku.

“Aku hanya mencoba baik kepada calon istriku. Ini semua perintah eomma!” tegasku, namun rasa gugup karena tatapannya tadi masih menjalari tubuhku. Ia mendengus kesal, lalu masuk ke dalam mobil dan mengenakan seatbelt-nya.

Hye Mi’s POV

Untuk apa ia mengantarku, kalau ia sama sekali tidak peduli dengan semua ini. merepotkan saja!

Cihh, siapa juga yang ingin dibukakan pintu? Hanya berlaku baik karena perintah eommanya. Benar-benar menyebalkan. Jadi jika eommanya tidak memerintahkannya ia tidak kan berbuat baik padaku? Kau keterlaluan Cho kyuhyun-ssi. aku mendengus kesal. Lalu masuk ke mobil dan melingkarkan sealtbelt di tubuhku. Eomma mengatakan kalau toko perhiasaan tempat aku akan membeli cincin tidak terlalu jauh dari butik ini. aku hanya melepas pandangan kosong keluar jendela mobil, sama sekali tidak berniat untuk membuka perbincangan apapun dengan namja yang kini berada disampingku. Kurasa ia juga tidak akan menaggapiku. Kyuhyun juga sama denganku ia hanya menatap lurus kearah jalan raya danfpkus menyetir. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kami. Sepanjang perjalanan hanya sepi dan rasa canggung yang menemani.

[ At Jewerelly shop ]

“Chagiya.. bagaimana kalau yang ini saja?” ucap seorang yeoja bermanja-manja dengan kekasihnya. Tanpa sengaja aku melihat pemandangan ini. benar-benar menggelikkan.

“Haha,, yang mana saja asala kau suka. Kau terlihat cantik walau memakai apapun, chagi..” balas namja yang menjadi keksih yeoja tadi. Iyaksss,, kata-kata menjijikan.

“jangan katakana kalau kau mengginginkan kita berlaku seperti pasangan itu Mi-ya!” suara kyuhyun mengagetkanku. Aku mendelik mendengar pertanyaan atau mungkin lebih tepat disebut pernyataan. Aku menatapnya tajam, namun ia mengacuhkanku begitu saja lalu berjalan meninggalkanku. Pandanganku beralih pada deretan cincin-cincin cantik yang terpajang di toko itu. aku menyusul kyuhyun yang sudah berjalan mendahuluiku.

“Kyuhyun-ah, bagaimana dengan cincin ini?” tanyaku padanya.

“Aku tidak suka. Cari yang lain!” balasnya ketus. Aku ingin sekali memukul namja menyebalkan ini.

“Kalau yang ini? cincin ini terkesan mewah!”

“Aku tidak suka. Begitu merusak pandangan. Cari yang lebih sederhana.” Jawabnya. Kata ‘tidak’ selalu terlontar dari mulutnya saat aku menunjukkan cincin yang aku pilih. Sudah berapa banyak cincin yang aku usulkan dan dia selalu menolaknya. Apa sebegitu burukkah seleraku?

“Yang ini?” aku menunjukkan cincin emas putih sederhana -yang hanya dihias oleh taburan berlian kecil sebagai mata cincin- padanya

“Tidakini terlalu sederhana. Cari lagi.” Balasnya –untuk kesekian kalinya- ketus. Aku menghela nafas berat. Aku sudah muak dengan semua ini. aku mengembalikan cincin itu lalu berjalan keluar toko tanpa berkata apapun pada kyuhun. Namun langkahku terhenti, saat aku merasakan sebuah tangan mencengkram lenganku kuat. Aku sedikit meringis karena merasakan cengkraman ini terlalu menyakitkan.

“Kau mau kemana?” Tanya kyuhyun dingin. Aku menatapnya dengan tatapan ingin membunuhnya saat ini juga.

“Aku mau pulang.” Jawabku singkat

“kita bahkan belum menemukkan cincinnya!”

“Sudahlah, lupakan. Aku sudah lelah, setiap kali aku mengajukkan cincin pilihanku kau selalu menolak dan saat aku memintamu untuk memilihkan cincin kau mengacuhkanku. Lalu untuk apa kau mau menemaiku? Ah, aku tau. Ini karena perintah Cho ahjumma kan?” tuturku, namun tetap tidak merubah ekspresi datar diwajahnya. Aku berusaha melepaskan gengamannaya, namun sia-sia genggamannya kini malah makin menguat.

“Tolong ambilkan yang ini.” pintanya pada seorang pegawai toko itu.

“Baik tuan Cho.” Jawab pegawai itu lalu mengambilkan cincin yang diminta Kyuhyun. Cincin dengan ukiaran cantik di pinggir cincin dan sebongkah berlian kecil yang menjadi mata cincinnya.

“Kau suka?” tanyanya sukses membuatku membulatkan mata, kaget dengan sikapnya.

“Kami pilih yang ini! “ ucapnya. Tanpa menunggu persetujuanku. Ya, walaupun kuakui cincin tadi sangat indah. Tidak terlalu glamour, dan juga tidak teralu sederhana. Akupun suka dengan cincin itu. Jadi tidak ada alasanku untuk menolaknya.

“Ayo kita pulang,” genggamannya mulai melemah dan kini tidak menggenggam lenganku lagi melainkan tanganku. Memberikan sensasi hangat pada tanganku yang hampir membeku kedinginan.

*****

Dua hari lagi hari pernikahanku. Aku mendesah pasrah akan hidupku yang dikendalikan oleh kedua orang tuaku. Aku memilih untuk duduk sendiri ditaman kampus. Saat ini tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Pikiranku melayang entah kemana. Sampai suara seorang namja menyadarkanku.

“ Mengapa kau melamun?” aku menoleh kebelakang dan mendapati yesung oppa sedang berdiri dan tersenyum padaku. Ia berjalan mengitari bangku taman lalu duduk disebelahku.

“ Bukankah dua hari lagi kau akan menikah? Mengapa kau terlihat muram seperti ini?” tanyanya lembut, lalu mengusap pelan kepalaku.

“Cihh, bukankah sudah aku katakana bahwa ini semua perjodohan kolot dari orang tua kami. Mana mungkin aku bahagia menikah dengan oaring yang aku tidak cintai?” aku mengerucutkan bibir. Kesal atas pertanyaan yang dilontarkannya padaku. Padahal sudah jelas-jelas bhwa ia tau kalau aku sama sekali idak menyukai namja menyebalkan bernama Cho kyuhyun. Lalu mengapa ia masih menanyakan mengapa aku terlihat murung. Menyebalkan. Ya, selama kurang dari sebulan ini aku sangat akrab dengannya. dan tebakkannya benar bahwa aku akan sering curhat dengannya. terbukti, aku selalu menceritakkan segala keluh kesahku padanya. Dan ia mendengarkanku dengan senang hati. Entah mengapa aku nyaman jika bercerita dengannya. aku merasa bebanku berkurang saat telah menceritakan semua kesedihannku padanya. Ia selalu menanggapiku denngan senyum dan sifat lembutnya. Munkin itu semua yang membuatku nyaman berada bersamanya. Aku menceritakkan semua perasaananku padanya terkeculi perasaan ini. perasaan yang muncul setahap demi setahap setiap harinya. Perasaan yang bahkan aku tidak bisa mengendalikannya. Akupun tak mengerti arti perasaan ini. perasaan nyaman saat berada dekatnya,perasaan senang saat melihat wajahnya, ingin selalu dekat dengannya. dan setumpuk perasan lain yang kini bersemayam di otakku tentang namja ini.

Mungkinkah.. kalau aku menyukainya! Andwae Hye mi, andwae kau sebentar lagi akan menikah dengan namja bernama Cho kyuhyun dan kau tidak boleh menyukainya itu akan menyiksa dirimu saja karena sampai kapanpun kau tidak mungkin merealisasikan cintaimu pada namja lain selain Cho Kyuhyun. Kau harus ingat itu Hye mi, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.

“Hye-ya…” panggil yesung oppa, jankamman tadi dia memanggilku apa? Hye-ya? Ia menatapku intens.

“Hye-ya??” aku menaikkan sebelah aliskku

“Hmm,, Hye-ya. Wae , kau tidak menyukainya?”

“Aniyo,,”

“Aku memiliki alas an mengapa aku memanggilmu dengan sebutan itu.” Ia memalingkan wajahnya dan memandang lurus kearah kerumunan mahasiswa yang sedang hilir mudik entah apa yang mereka kerjakan. Aku menatapnya penuh tanda Tanya.

“Kau tau kan arti kata itu?” lanjutnya. Arti kata Hye-ya, aku terdiam sejenak. Hye artinya adalah bijaksana. Apa maksudnya? Ia memandangku kembali, lalu tersenyum dan kurasa saat ini aku mulai gila karena senyumannya itu. Aisshh, hyemi pabo.

“Aku ingin kau bertindak bijaksana dalam hidupmu. Jangan kau meragukkan kata hatimu, karena jawaban paling tulus berasal dari sana.” Ia kembali tersenyum, lalu mengaca-acak rambutku pelan.

“Lepaskan tanganmu darinya, hyung!” suara datar itu menyergap , membuat yesung oppa dengan reflex menjauhkan tangannya dariku. Aku tau betul siapa pemilik suara datar namun mapu membuat bulu roma setiap orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Aku menatapnya jengkel. Untuk apa ia mencampuri urusanku? Siapa dia? Ah, iya Hye mi neo jeongmal pabo yeoja. Dia pasti akan menjawab ‘aku ini calon suamimu’ cihh. Lupakan tentang dirinya aku tidak mau sedekitpun peduli dengan namja sinting itu. Fikiranku kembali ke kata-kata yesung oppa tadi. Apa maksudnya, aku harus bertindak bijaksana? Aku benar-benar tidak mengerti.

Kyuhyun’s POV

Jangan kau biarkan seorangpun menyentuhmu Mi-ya! Aku tidak suka kau itu milikku

Aku mencari sosok itu. Sosok yang sebulan terakhir ini sealu menghantui fikiranku, membuatku cemas akan keadaannya, membuatku selalu ingin melihatnya setiap hari. Aku sudah menanyakan hampir semua teman Hye mi gadisku itu termasuk Hea min. namun tak satupun dari mereka yang tau keberadaan gadisku itu. Kemana dia, aku mulai frustasi. Apa mungkin ia sakit dan tidak masuk kuliah hari ini. arghh, segerombol fikiran negative dating menerjangku. Aku melangkahkan kakiku asal tanpa tujuan. Langkahku terhenti saat melihat gadis itu sedang duduk berdua dengan orang yang amat kukenal. Aku mekihat raut wajah gembira tersirat jelas diwajah Hye mi. berbeda sekali raut wajahnya saat ia sedang bersamaku. Awalnya aku tidak begitu peduli dengan kegiatan mereka yang hanya cekikikan disana. Karena niat awalku hanya melihat Hye mi dan memastikan bahwa ia baik-baik saja, lalu pergi dan berlaku dingin lagi saat bersamanya. Entah mengapa, aku sama skali tidak bisa berlaku baik padanya. Saat berada didekatnya. Ekaspresi yang bisa aku keluarkan hanyalah datar tanpa ekspresi , ketus , pemarah. Aku berniat melangkakan kakiku pergi meninggalkan mereka, namun niat itu urung terlaksana. Aku melihat Yesung hyung mengacak-acak rambut gadisku. Tanpa diperintah kakiku dengan cepat berjalan kearah mereka berdua,kedua  tangan terkepal disamping paha.

“Lepaskan tanganmu darinya, hyung!” ucapku sedater mungkin, menekan emosiku ynag sudah mulai mendidih.

“Kyuhyun-ah! Mianhae.. aku tidak bermaksud,,,” sebelum hyungku itu melanjutkan kata-katanya. Aku segera menarik paksa Hye mi untuk ikut denganku.

“YAKK,,”ia berontak saat aku menggenggam tangannya.

“Aku ini calon suamimu Mi-ya!” ucapku melembutkan nada bicaraku. Saat ini aku telah berhasil menariknya bersamaku dan meninggalkan yesunghyung sendirian di taman.

“Mwoya?? Mi-ya? Berhenti memanggilku sepeti itu Kyuhyun-ssi! aku tidak suka! Begitu menggelikan.” Bentaknya tak terima dengan panggilanku terhadapnya. Apa kau tau mengapa aku meanggilmu seperti itu Mi-ya? Ayahmu benar-benar tepat memberikanmu nama itu. Mi berarti cantik. Aku ingin selalu mengatakan kau begitu cantik namun lagi-lagi rasa gengsiku mengalahkannya dan mengendalikanku. Maka dari itu aku memanggilmu Mi-ya, secara tidak langsung aku selalu mengatakan bahwa kau cantik. Kau adalah makhluk terindah yang pernah aku temui.

“Cihhh, menggelikan? Kau harus membiasakan dirimu dengan panggilan itu Mi-ya! Atau kau mau aku memanggilmu nyonya Cho? Eotte?” ucapku meledeknya. Ia menatapku tajam seolah tatapan itu memngatakan ‘berhenti memanggilku seperti itu atau kau akan mati’ namun dengan santainya aku mengabaikan tatapan itu. Ia terlihat lebih cantik saat sedang marah seperti itu. Aku hanya terkekeh pelan. Ia terlihat luc sekali saat sdang marah, ia menggembunkan pipi chubbynya lalu niupkan udara kea rah poni rambutnya sehingga membuat poni itu terseok-seok oleh hembusan anginnya tadi.

“Sudahlah aku tak mau berdebat denganmu.” Ia kali ini mengacuhkanku. Aku hanya memandangi kepergiannya tanpa menghentikan langkahnya sedikitpun. Aku tidak mau ia bertambah marah denganku. Sebenarnya, aku tidak mau terus bertengkar saat bertemu dengannya. benar-benar melelahkan. Namun, kurasa itu jalan satu-satunya agar ia memperhatikkanku. Ia selalu menganggapku sebagai angin lewat di kehidupanya. Benar-benar memuakkan.

******

Hari ini aku suadh resmi menjadikannya miliki seutuhnya. Acara pernikahan kami hanya dihadiri oleh rekan bisnis ayahku dan ayahnya. Hanya beberapa hyungku dan Hea min teman Hye mi yang aku kenal disisni selebihnya adalah rekan-rekan ayah. Ya, aku memang sengaja tidak memberitahu pernikkahan ini pada public. Aku tidak amu kalau Mi-ya harus kelelahan kaibat ulah wartawan yang ingin mencari tau tentang pernikahan ini. aku putra dari keluarfa makmur seantero jagat raya, tentu membuat para wartawan pencari berita itu ingin mengetahui kehidupan pribadiku. Dan aku tidak mau membuat heboh di kampus nanti. Maka dari itu hanya hyung-hyungku yang amat aku kenal saja teman yang aku undang ke pernikahanku ini. selepas mengucapkan janji suci dialtar gereja tadi pagi kini kami bersiap pergi ke pulau jeju dengan mobil pribadiku. Ayah menyuruhku mengajak Hye mi kesana. Hanya berdua dengan Hye mi. ah, pasti mereka berharap saat aku pulang. Kami tidak lagi berdua, melainkan bertiga. Cihh, aku berani bertaruh kalau gadis itu akan membunuhkku jika aku mencoba menyentuhnya sedikit saja. Aku menunggu Hye mi didalam mobil. Kenapa ia lama sekali? Aku melangkahkan kakai keluar dari mobil. Seketika mataku menatap kearah gerombolan hyungku, untuk apa mereka kemari.

“Aku yang mengajak mereka! Aku tidak mau kau nanti membahayakanku disana tuan Cho.” Tegas hye mi denganpenuh penekanan disetiap katanya. Cihh, benarkan dugaanku. Dia tidakakan member celah sedikitpun untukku. Namun, sepertinya kau salah mengajak orang Nyonya Cho. Kau lihat saja nanti. Anpa diperintah si monyet pelit dan shindong hyung masuk ke dalam mobilku. Dan duduk dikursi penumpang.

“Hye mi-ya! Kemari..” ajak Eunhyuk hyung pada hye mi sambil menepuk-nepuk bagian kursi penumpang diantara dirinya dan shindong hyung. Apa-apaan monyet satu itu.

“Yakk, hyung apa yang kalian lakukan dimobilku, hah? Keluar ! ikutlah pada mobil  yang lain.” Bentakku tidak terima.

“Mobil yang lain sudah penuh Kyu-ya! Apa kau tega melihat hyungmu iu bersempit-sempit ria didalam sana!” balas shindong hyung dengan suara memelas.

“Aniyo oppa, kalian boleh menumpang dissini. Jangan pedulikan ucapannya! ‘ kali ini gadisku ikut angkat bicara. Ia tersenyum kearah kedua hyungku itu.

“Aigo, hye mi-ya kau begitu manis.” Ucap shindong hyung

“Ne, aku turut prihatin kau mendapatkan suami seperti dongsaengku itu.” Mata eunhyuk hyung melirik kearahku. Aku membalas tatapan seolah berkata ‘ kau akan mati lee hyuk jae’ . ia hnya cengar-cengir tidak karuan lalu menarik hye mi agar duduk diantara mereka –Eunhyuk & shindong- . hye mi hanya terkekeh pelan melihat ekspresi kesal yang sekarang kentara menghiasi wajahku. Lalu ia msuk dan duduk diantara hyungku itu.

“Yakk, mi-ya kau itu istriku sekarang. kau harus duduk didepan menemaniku.” Ucapku tak terima diperlakukan seprti ini. ia hanya menjulurkan lidahya kearahku lall asik tertawa ria dengan kedua hyungku itu. Aku terpaksa mengalah, aku dududk dikursi mengemudi lalu mengendarai mobil dengan kecepatan diats rata-rata bahkan kini mobilku dengan mobil para hyunhku yang sudah berjalan terlebih dahulu dalam posisi sejajar.

“Yakk, kyu-ya kau mau membuat kami semua mati, hah?” teriak monyet sialan itu

“Hyunnie turunkan kecepatan mobilmu.” Lanjut shindong hyung melanjutkan kata-kata eunhyuk hyung. Baiklah kau akan menuruti kalian. aku dengan tiba-tiba menginjak rem mobil secara mendadak. Untunglah keadaan jalanan hari ini cukup lenggang sehingga aku bisa bermain-main. Dengan reflex kedua hyungku itu berteriak-teriak kapadaku dan si monyet satu itu memukul kepalaku dengan gulungan Koran ditangannya. Darimana ia mendapatkan Koran itu. Aku merasakan sakit pada kepalaku efek dari pukulannya tadi. Aku menoleh dan mendapati gadisku sedang menutup matanya sepertinya ia ketakutan dengan yang aku lakukan tadi. Namun seketika aura pembunuh terkuar dari ku. Aku melihat tangan hyungku itu memeluk hye mi, sepertinya mereka menjaga agar hye mi tidak terkena benturan sedikitpun. Namun tetap sakja, dia itu istriku. Aku sebagai suaminya saja belum pernah memeluknya sedangkan kedua hyungku memeluknya dengan rasa tak bersalah.

“YAKK, LEPASKAN TANGAN KALIAN BERDUA DARI ISTRIKU!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dan teriakanku tadi ampuh melepaskan keduatangan hyungku pada detik berikutnya. Hye mi mulai memberanikan membuka kedua matanya. Dan bahunya bergetar sejurus kemudian cairan bening mengalir membasahi pipi gadisku itu. Dia menangis?

“Hye mi-ya kau menangis?” Tanya shindong hyung panic.

“Kalian baik-baik saja?” kini semua hyungku mengerubungiku mobilku mungkin mereka fikir ada yang salah dengan mobilyang aku kendarai ini. padahal penyebabnya adalah kedua manusia menyebalkan itu. Aku membuka pintu mobil dan keluar menghampiri pintu penumpang lalu mengusir kedua hyungku itu.

“Minggir kalian,,” uacapku kasar. Aku tak peduli saat ini fokusku hanya mengarah kepada gadis yang sedang menangis ini. kedua hyungku langsung menyingkir dengan wajah ketakutan lalu memohon pada hyungku yang lain agar diperbolehkan menumpang didalam mobil mereka.

“Kyu, gwenchanna?” Tanya leeteuk hyung. Hyung tertuaku.

“Gwechanna, kalian pergi saja duluan.” Jawabku. Leeteuk hyung menunjuk kerah Hye mi yang sedang menangis. Aku mengganguk seolah berkata ‘biar aku yang mengatasi semuanya, hyung.’ Leeteuk hyung tersenyum lalu pergi meninggalkan kami- aku dan hye mi-. lalu mengajak para hyungku untuk pergi terlebih dahulu. Mereka semua sudah hafal jalan kearah villaku. Jadi aku tidak perlu khawatir dengan mereka semua.

“Mi-ya,” aku mengguncangkan pelan bahunya. Ia masih sesenggukkan menangis.

“Waegurae? Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya..” belum selesai aku berbicara tiba-iba ia memelukku dan menangis didadaku.

“Aku takut kyuhyun-ssi, aku takut.” Ucapnya tersamarkan karena ia mengatakan sambil menangis namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. aku membalas pelukkannya. Dan mengusap punggungnya.

“Tenang saja. Mianhae.. aku sungguh tidak bermaksud membuatmu menangis.” Ia masih menangis. Apakah ia begitu takut saat aku merem mobilku secara mendadakan. Mianhae aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak tahu kalau kauakan ketakutan seperti ini. perlahan tangisnya mereda. Ia mendonggakkan kepalanya lallu menatapku. Aku balas menatapnya lembut tidak seeperti biasa yanga kau lakukan padanya. Kini jarak antar wajah kami benar-benar minim. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memajukkan wajahku lalu mengeksploitasi bibirnya. Saat ini ia tidak mencintaiku aku tidak mau memaksakannya. Aku akan menunggunya sampai ia mencintaiku. Ia melepaskan pelukkannya lalu mengambil jarak memisahkan dirinya dan diriku. Ia mulai mengontrol emosinya. Ia terlihat gelagapan saat melepaskan pelukkanya. Aku menatap wajanya yang penuh dengan air mata. Tanganku dengan reflex mengambil tisu, lalu menyeka jejak-jejak air mata diwajahnya. Tubuhnya seketika menegang saat aku melakukan itu. Namun aku manhan kepalanya agar tida bergerak saat aku melakukan ini. ia melempar pandangn keluar jendela saat aku selesai membersihkan wajahnya. Kini ia duduk disampingku. Di kursi penumpang yang terletak di samping kursi kemudi. Aku mulai mengetahui satu dari sekian banyak kepribadiannya. Aku jadi tidak sabar ingin mengetahui segala tenangnya. Mobil kami akhirnya sampai disebuah villa mewah yang terletak tak jauh dari pantai. Aku melihat mobil para hyungku sudah terparkir manis digarasi villa ini.

“Mi-ya kita sudah sampai.” Ucapku selembut mungkin.

“Ah, ne.” ia membuka pintu mobil lalu keluar. Ia langsung disambut oleh Hea min. aku menjalankan mobilku kearah garasi lalu memarkirnya disana.

Hye Mi’s POV

Mengapa aku merasa nyaman saat memeluknya. Saat memeluknya aku serasa memeluk ayah. Begitu hangat dan nyaman.

“Ommo, Hye mi-ya! Neo gwenchanna? Aku sangat khawatir tadi. Aku ingin melihatmu namun teukkkie oppa melarangku. Dia bilang kau baik-baik saja tapi aku tetap merasa cemas kau tahu?” aku hanya tersenyum melihatnya begitu mengkhawatirkanku. Aku memang tak salah bersahabat dengannay. Walaupun terkadang ia menyebalkan namun kasih saying yang ia berikan telah menutup semua kekesalanku padanya. Aku tersenyum kearahnya.

“Naega gwenchanna,, kau seperti eommaku saja.”

“Yakk, kau tau aku hampir mati cemas hanya karena memikirkanmu. Kau itu lebih tua beberapa bulan dariku. Namun kau begitu cerobah mejaga keselamatan dirimu. Itulah yang membuatku sealau cemas padamu.”

“Ne, arraseoyo. Gomawa atas perhatianmu.” Aku menepuk bahunya pelan.

“Hmm, kyuhyun menyerahkan pembagian kamar padaku. 1 kamar hanya boleh diisi oleh 3 orang.” Seru Leeteuk oppa lalu membagikan kamar mana yang akan kami tempati selama berada disini.

“Dan kau Hye Mi kau satu kamar dengan kyuhyun. Kamarnya disana, ah kyuhyun kau antarkan Hye mi masuk ke kamar. Kalian berada disatu kamar. “ ucap teukkie oppa, lalau memerintahkan kyuhyun mengantarku kekamar.

“Oppa, aku tidak mau sekamar dengannya!” aku menatap sinis kearah kyuhyun yang sedang duduk disoffa dengan santainya.

“Lalu, kau mau tidur dimana? Semua kamar sudah penuh!” tegas teukkie oppa. Aku melirik kerah hea min dan para yeojachingu oppadeul. Namun, aku hanya mendapatkan gelengan dari mereka semua seolah berkata ‘kami tidak bisa melakaukan apa-apa!’. Aku mendengus kesal. Tujuanku mengajak merka semmua agaraku tidak bersama kyuhyun. Mengapa jadi seperti ini? ah, aku sepertinya salah mengajak orang. Aku menatap memelas kearah eonni-eonniku.

“Ah, aku lelah sekali! Aku ingin istirahat.” Ucap Hea min mengachkanku.

“Ne, aku juga mengantuk!” sambung Shin Eun Ji ia adalah yeoja siwon oppa. Lalu satu persatu mereka pun masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Kyuhyun menghampiriku dan membantuku membawa koperku yang sebenarnya tidak berat menurutku. Aku mengikuti langkahnya dengan enggan. Ia membuka pintu kamar dan mataku terpana saat mlihat kamar ini. warna krem yang kentara endominasi kamar ini. dan seprai biru laut yang lembut sangat menyejukkan mataku. Warna biru laut adalah warna favoriteku. Aku selalu merasa tenang saat melihat warna itu. Aku berjalan kearah balkaon kamar dan mataku seketika terbelalak. Balkkon kamar ini menghadap laut dengan sempurna. Desiran ombak pun mulai menggema di telingaku. Aku membuka jendela besar yang menjadi pembatas antara kamar ini dengan dunia luar. Aku menghirup udara sebanyak mungkin lalu meregangkan badanku yang terasa sangat pegal.

“Aku ingin mandi. Kau jangan pergi kemana-mana aku tidak mau mati cemas karenamu. Jika kau ingin keluar ajaklah salah satu hyungku. Jangan kau pergi bersama Hea min.” ucap kyuhyun mewanti-wanti agar aku tidak menghilang tiba-tiba

“Wae? Ada apa kalau aku mengajak Hea min?”

“Kau dan ia belum pernah kesini jadi bisa dipastikan jika kalian pergi bersama kalian tidak akan kembali ke villa ini lagi. Dan aku tidak mau si ikan cengeg itu menangis meraung-raung karena kehilangan yeojanya.” Aku mengerucutkan bibir mendengarnya

“Ne arra.” Aku mengacuhkannya dan kembali menatap laut biru didepan mataku. Ah, aku sangat menyukai lokasi tempatku berada ini. aku sudah lama tidak berkunjung ke Jeju dan sekarang indah pulau ini tetap tidak berubah.

******

Aku dan kyuhyun turun ke lantai bawah saat. Kami sudah menyegarkan diri masing-masing. Aku yang memintanya menungguku. Villa ini begitu luas dan memusingkan. Aku tidak mau tersesat didalamnya.

“Wah, akhirnya pasangan pengantin kita datang juga.” Ucap sungmin oppa. Aku mendecak kesal.

“Ah, begitu membosankan.” Seru shindong oppa

“Ne, Lee ahjumma belum selesai memasak makanan untuk kita. Apa yang akan kita lakukan sekarang.” sambar Eunhyuk oppa

“Ah, sembari menunggu Lee ahjumma memasak. Kita bermain games sebentar.” Ucap shindong oppa. Tapi kali ini aku merasa ada sesuatu yang janggal.

“Ne, kau benar hyung! Bagaimana kalau kita mengadakan games untuk pasangan kekasih saja?” sahut sungmin oppa. Benar pasti ada hal terselubung dibalik semua ini.

“Aku setuju dan aku akan menilai sebagai jurinya.” Ryewook oppa angkat bicara kali ini. eunhyuk oppa melirik kea rah kami –Aku, kyuhyun,Ji hyun eonni ,siwon oppa, jung Ra eonni dan Leeteuk oppa-

“MWOYA???” ucapku berbarengan dengan kyuhyun. Seolah tak terima dengan tatapan eunhyuk oppa tadi.

“Ayolah! Hanya games kecil, sampai Lee ahjumma selesai memasak.” Ucap eunhyuk hyung memelas.

“Kami setuju.” Seru Siwon oppa & Ji hyun eonni. Disusul dengan persetujuan yang keluar dari pasangan jung ra  eonni dan teukkie oppa.

“Andwae aku tetap tidak mau ikut.” Ucap kyuhyun

“Kau yakin?” balas shindong oppa lalu mengangkat tangan sebelah kirinya yang sedari tadi tersembunyi dibalik tubuhnya. Mata kyuhyun membelalak tak kala melihat PSP kesayangannya sudah tergenggam manis ditangan shindong oppa.

“Ah, arra.. aku ikut!” ucapnya pasrah

“MWOYA?” kini giliranku yang membelalak kaget.

“Jebal mi-ya.” Pinta Kyuhyun padaku

“Hye mi-ya kau tega melihat suamimu memelas seperti itu?” tannya Hea min, lalu terkekeh pelan. Sial.

“Shireo, kau kan kaya Kyuhyun-ssi ! Kau bahkan bisa saja membeli pabrik PSP itu. Biarkan saja.”

“Andwae.. aku hampir memenangkan gamesku. Aku tidak mau mengulangnya dari awal lagi. Jebal “ pintanya lagi. Kini semua tatapan mengarah kepadaku. Mereka menatapku seolah aku adalah seorang istri yang jahat karena tidak mau membantu suaminya. Arrgghh, aku merasa terpojokan saat ini.

“Geurae, aku ikut!” sorak tepuk tangan memenuhi ruangan ini saat aku mengucapkan jawaban laknat itu. Mereka benar-benar mengerjaiku.

Kyuhyun’s POV

Dalam jarak sedekat ini. aku rasa otakku sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Benar sudah dugaanku. Kau sudah salah mengajak teman Nyonya Cho. Sekarang para hyungku mulai mengerjai kami –aku & hyemi-. Kalau saja PSPku itu tidak berada ditangan mereka aku tidak akan mau mengikuti games laknat ini. lihat saja pakar dari ide ini. Eunhyuk si monyet yadong dengan ditemani teman seperjuangannya shindong hyung.

“anggap saja hari ini adalah hari pepero days. Kalian pasti sudah taukan permainanya. Para namja harus menggigit biscuit ini sampai habis sedang kan para yeoja berada di seberang memegang ujung biscuit ini dengan mulut mereka. Ingat yeoja tidak boleh ikut menggigit kalau tidak siraman air dari ember diatas kalian akan membuat kalian basah kuyup. Mengerti.” Tutur shindong hyung. Aku mulai mendapat firasat buruk kali ini.

“Hana, dul, set,” setelah enuhyuk hyung mengakhiri hitunganya aku mulai menggigit biscuit yang panjangnya hampir setengah meter itu. Darimana mereka memdapatkan biscuit ini. aku menggigitnya perlahan agar biscuit itu tidak terlepas dan jatuh kelantai. Awalnya semua berjalan lancar aku menggigit biscuit itu sedikit demi sedikit sampai menhilangkan bentangan jarak antara diriku dan hye mi. kini aku suda berada tepat didepannya. Bahkan hidung kami sudah saling bersentuhan. Hanya tinggal satu gigitan lagi permainan kami akan berakhir. Dan itu berartibibirku akan menempel pada bibirnya saat mengakhiri ini semua. Aku sangsinbahwa aku bisa mengendalikan emosiku, untuk tidak merubah setuhan itu menjadi sebuah ciuman kasar penuh paksaan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Mencoba bernafas dengan baik, dadaku mulai terasa sesak. Jarak diantara kami sangatlah minim bahkanaku dapat merasakan hembusan nafasnya menderu dan menerpa wajahku. Aku belu m merubah posisiku tetap diam tanpa bergerak maju sedikitpun.

‘BYURRR’

Sebuah dorongan keras sukses membuat jarak yang antara aku dan Hye mi lenyap. Mebuatku terdorong kedepan dan menindih Hye mi dengan otomatis air yang berada didalam ember yang berada di atas Hye mi tumpah membasahi kami berdua. keadaan yang aku hindari sedari tadi akhirnnya terjadi sudah. Kini bbirku telah menempel dengan bibirnya. Kami diam untuk beberapa detik lalu tersadar saat mendengar suara Lee ahjumma yang berniat memanggil kami semua untuk makan malam.

“Makan malam sudah siap.. ah, astaga tuan muda.” Ia menaikkan volume bicaranya saat melihat aku dan Hye mi dalam posisi yang tidak mengenakkan. Hye mi yang mulai menemukan kesadarannya mendorong tubuhku menjauh. Ia terlihat gugup , dan menggigit bibir bawahnya. Aku melihat kearah hyungku mereka semua diam seribu bahasa. Seakan tersihir oleh kejadiaan tadi.

“Kyuhyun-ssi. apa yang kau lakukan, hah?” teriak Hye mi samba menggosok-gosok bibirnya. Teriakkannya cukup kerasa dan mamapu membuat para hyungku dan yeoja mereka tersadar dan sedetik kemudian bersorak ramai. Sorakkan kemenangan karena berhasil mengerjaiku. Sial.

“Rencana kita berhasil, shindong-ah.” Pekik eunhyuk hyung. Lalu melakukan High-five bersama para hyungku. Sial mereka semua benar-benar mengerjaiku. Aku mengalihkan pandangan kearah Hye mi, jelas terlihat rasa marah bercampur malu terlukis diwajah manisnya.

“Lee ahjumma, tolong antarkan aku ke kamar.” Tukasnya mengacuhkan pandanganku. Aishh, pasti sekarang ia marah padaku.

“Ne, nona..” balas Lee Ahjumma lalu berjalan menghampiri Hye mi. ia melihat sekilas kearahku. Lalu membantu Hye mi berdiri dan memapahnya menuju kamar.

Hye Mi’s POV

Aku tidak tau perasaan apa ini? namun mengapa ada rasa kecewa saat bibirku dan bibirnya terpisah.

Aku benar-benar malu. Kini aku sedang berjalan menuju kamar dengan dibantu Lee Ahjumma. Selepas kejadiabn tadi aku mulai merasakan keseimbangan diriku hilang. Aku benar-benar syok. Aku tak pernah berfikir bahwa hal itu akan terjadi. Bibirku dan bibirnya. Aishh,, benar-benar menjijikan. Ini semua akibat ulah Heechul oppa yang mendorong punggung Kyuhyun. Argghh… aku benar-benar ingin membuangnnya kesungai Han sekarang juga. Sekerjap rasa kecewa menerpaku, rasa kecewa karena bibirnya tak lagi menyentuh bibirku. Aisshhh,, apa yang kau fikirkan Hye mi-ya. Dalam jarak sedekat itu aku mulai merasa bahwa ia terlihat sangat tampan. Yiakkss,,, henikan fikiran bodohmu itu Hye mi-ya. Namun benar, ia memang sangat tampan bahkan kini aku merindukkannya. Yak,, hye mi-ya kau benar-benar harus periksa ke pskiater. Sekarang didalam dirimu sedang berontak mengenai namja itu. Aigo.. aku benar-benar sudah gila. Aku meminta Lee ahjumma mengantarkan makan malamku kekamar aku belum punya muka untuk bertemu para eonnideul dan oppadeu dibawah sana selepas kejadian memalukan tadi. Aku menyelesaikan makan malamku dengan malas Lee ahjumma menemaniku didalam kamar, menungguku seesai makan lalu pergi keluar kamar dengan membawa piring kotorku. Sebenarnya aku sama sekali tidak mau merepotkannya. Namun apa yang bisa aku lakukan aku benar-benar malu. Suara kenop pintu mengagetkanku terlebih saat melihat orang yang kkini berjalan masuk kekamarku lalu dengan santainya merebahkan tubuhnya diatas kasurku.

“Yakk,,” ucapku tak terima dengan kelakuannya.

“Waeyo? Akku ini suamimu! Apa yang kau takutkan?” balasnya lalu memejamkan matanya.

“Yakk,, cho kyuhyun-ssi menyingkir dari kasurku.” Aku mendorong tubuhnya namun ia tetap tak bergeming. “YAKK…” nada bicaraku mulai meninggi.

“Aku tidak akan menyentuhmu. Tenang saja! Tubuhmu itu teerlalu mungil dan sama sekali tidak menarik.” Ucapnya masih ddengan mata terpejam. Aku membulatkan mata memdengarnya pernyataannya. Dengan kesal aku melayangkan sebuah bantal kearah wajahnya yang menyebalkan itu.

“Yakkk,,,, apa-apaan kau.” Ia bangkit dan memposisikan dirinya dalam keadaan duduk dengan mata yang menatapku tajam.

“AKU TIDAK MAU TIDUR SATU KASUR DENGANMU CHO KYUHYUN-SSI! ucapku penuh penekanan

“Lalu kau mau aku tidur dimana, hah?” tanyanya. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling kamar. Dan hasilnya nihil aku tidak menemukan satu bendapun yang bisa dijadikan alas tidur namja ini. di kamar ini sama sekali tidak ada sofa atau sebangsanya. Aku menhela nafas berat.

“Aku tidak mau tidur dilantai yang dingin seperti es kutub itu. Nona cho.” Ucapnya seolah menebak fikiranku.

“Jangan panggil aku nona Cho. Menggelikan.”

“Itu memang namamu sekarang Cho Hye Mi.” ia membalik badanya dan membelakangiku. Aku mendengus menatap punggung namja memyebalkan ini. aku lelah berdebat dengan namja ini. dengan kesal kuhempaskan sebuah bantal kelantai lalu menarik selimut yang kini membalut tubuh kyuhyun. Aku mebaringkan tubuhku diatas lantai dan benar saja lantai ini bahkan hampir sama dengan es kutub. Aku merasakan nyeri mulai mejalari persendiaanku. Selang seperkian detik kyuhyun mulai menginjakkan kakinya kelantai lalu berdiri. Ia berjalan kearahku.

“Waeyo??” tannyaku ketus

“Kau ini benar-benar keras kepala ya? Kau bisa mati kedinginan Hye mi-ya.”

“Untuk apa kau peduli?”

“Neo .. aisshhh, jinjja! Naik ke kasur sekarang juga!” ucapnya dengan nada mematikan. Aku hanya mendengus kesal lalu mengacuhkannya.

“Cho Hye mi” serunya lagi.

“Shireo,, aku akan naik kesana jika kau tidak berada ditempat itu juga!”

“Aisshhh,, kau ini.” ia mengacak-acak rambutnya gusar.

“Cepat naik atau aku akan melakukan hal yang kau tak inginkan.” Tegasnya. Awalnya aku mengacuhkan semua itu namun tubuhnya mulai mendekati tubuhku. Aku merapatkan selimut yang kukenakan. Astaga apa yang ingin ia lakukan.

“Arra…arra..” ucapku putus asa. Lalu bangkit dan naik kekasur sebelum ancamannya tadi terrealisasikan. Ia hanya terekeh pelan. Ia mengikutiku lalu membaringkan tubuhnya lagi keatas kasur. Aku meletakkan sebuah guling diantara kami.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Aku hanya berjaga-jaga.”

“Terserah padamu.” Ia tak mempedulikanku. Dan tidur dengan membelakangiku. Aku mulai meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Dan semua akan baik-baik saja. Perjalanan dari seoul ke jeju cukup menyita tenagaku. Akupun terlelap karena kelelahan.

******

Kyuhyun’s POV

Wajahnya adalah mahakarya paling indah milik tuhan yang pernah aku temui.

Aku terbangun saat merasakan suara deburan ombak menyerbu indra pendengaranku.aku mengerjapkan mata saat sinar matahari mulai menerpa wajahku dan wajahnya. Gadisku, dia sangat terlihat manis saaat sedang tertidur. Wajahnya sangat polos. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging dari bibirku. Namun ekspresiku langsung berubah saat sadar kalau tangan Hye mi kini berda di pinggangku mugkin bisa dibilang ia tertidur dalam posisi memelukku. Tangannya begitu hangat dan menenagkanku. Astaga, anak ini aku berani jamin selepas ia membuka matanya detik itu juga ia akan tersontak kaget melihat posisi kami saat ini. aku mengacuhkan hal itu. Kini tatapanku hanya focus pada wajah gadis didepanku.gadis yang harus menikah muda di usianya yang baru 19 tahun. Terlebih ia menikah dengan orang yang sama sekali ia tidak cintai yaitu aku. Membuatnya terlihat begitu menyedihkan. Mataku mulai menelusuri setiap lekuk wajahnya. Aku merapikan poni yang menghalangi wajahnya agar aku dapat dengan leluasa melihat wajahnya. Aku melakukannya dengan sangat pelan berjaga agar ia tidak terbangun aku masih ingin melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini lebih lama lagi. Wajahnya begitu bersinar diterpa sinar matahari.  Ia terlihat begitu kelelahan mungkin perjalanan dari Seoul ke Jeju sangat menyita tenaganya. Ia mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya.

“Eughhh..” lengkuhnya saat menyadari sinar matahari menerpa wajahnya. Aku berpura-pura terpejam kembali. Ia  mengucek-ucek matanya yang masih setengah terbuka membiasakan indra penglihatannya terhadap rangsangan cahaya matahari.

“Yakkkk…” teriaknya sesaat setelah menyadari posisi kami saat ini. ia tersontak bangkit dan membentangkan jarak antara kami. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada bicara yang berpotensi merusak indra pendengaran.

“Apa maksudmu?” tanyaku berpura-pura tidak tau apa

“Kenapa kau memelukku?” tanyanya dengan nada mengntimidasi. Kedua tangannya ia silangkan didepan dada.

“Yakk,, yang memeluk itu kau bukan aku, pabo.”

“Kau pasti berbohong! Mana mungkin aku tidur dalam posisi memelukmu. Aku tidak akan tertipu kyuhyun-ssi. sekarang cepat jawab aku apa yang sebenarnya kau lakukan?”

“Aku kan sudah mengatakan aku tidak berbuat apa-apa terhadapmu, Nyonya Cho!”

“Yakk, berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Sungguh mengelikan.”

“Sudahlah aku lelah berdebat denganmu!” aku melongos pergi kekamar mandi dan meninggalkannya sendiri. Aisshhh, apa dia tidak sadar kalau dia yang memelukku bukan aku yang memeluknya. Lagipula aku bukan tipe namja yang akan ‘tidur’ dengan wanita yang tidak mencintaiku begitu saja. Biarpun sifatku terkadang, ah ani bahkan sering tidak mempunyai perasaan namun aku sangat menghargai wanita terlebih lagi ia wanita yang aku cintai. Aku tidak ingin melukai perasaannya. Dia adalah pusat tata suryaku, sumber dari oksigen yang kuhirup aku tidak ingin membuatnya meninggalkanku.

“YAKKKK,, KYUHYUN-SSI AWAS KAU. KALAU SAMPAI TERJADI SESUATU DENGANKU AKIBAT ULAHMU. AKU AKAN MEMBUNUHMU SAAT ITU JUGA KAU MENGERTI!” teriaknya saat aku berjalan menuju kamar mandi. Aku hanya mengibaskan tanganku tak peduli. Lalau tubuhku menghilang dibalik pintu kamar mandi.

 

Hye mi’s POV

Aisshh, namja itu. Sekarang ia berhasi membuatku berdebat dengan diriku sendiri.

“YAKKKK,, KYUHYUN-SSI AWAS KAU. KALAU SAMPAI TERJADI SESUATU DENGANKU AKIBAT ULAHMU. AKU AKAN MEMBUNUHMU SAAT ITU JUGA KAU MENGERTI!” teriakku saat ia berjalan menuju kamar mandi. Ia hanya mengibaskan tangannya tak peduli. Aku menatap punggung namja itu sampai ia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Aisshhh, aku benar-benar tak habis fikir bagaimana bisa aku tidur dengan memeluk namja peranakan setan itu. Aigo, yak aku tau bahwa aku yang memeluknya tapi aku tak mau mengakui itu semua. Kalian tau kan alasannya. Gengsiku terlalu besar untuk mengatakan hal itu pada namja menyebalkan bernama Cho kyuhyun. Mau ditaruh mana wajahku ini. omo, aku benar-benar gila. Namun kuakui punggungnya terasa hangat dan nyaman. Aisshh, Park hye mi sadarkan dirimu ia adalah namja yang kau benci setengah mati. Karena namja itulah kau kini harus menerima perjodohan konyol dengannya. dan menikah disaat kau masih berumur 19 tahun. Ah, saat memeluknya tidurku sangat lelap bahkan aku sama sekali tidak terjaga. Hye mi-ya tetap saja ia adalah namja menyebalkan hal itu tidak akan merubah sifatnya. Yak, cho kyuhyun-ssi kau satu-satunya namja yang membuat setengah dari diriku kini memberontak dan membuatku berdebat dengan diriku sendiri. Aissshh, aku bisa gila. Tanganku kini berada di dadaku. Omo, jantungku mengapa kalian berdetak begitu cepat. Jantungkutidak pernah berdegup secepat ini. bahkan saat aku bersama dengan Yesung oppa. Hmmm,, baiklah mungin kalian semua belum mengetahui perasaanku terhadapnya. Ah, ani bukan kepada namja menyebalkan peranakan setan itu. Tapi terhadap Yesung oppa. Hmm,, bisa dibilang aku menyukainya. Aku sudah menceritakan semua perasaanku terhadap Yesung oppa kepada Hea min dan ia berkata kalau aku menyukai Yesung oppa. Namja itu tatapannya sangat lembut , senyum yang selalu tersungging di wajahnya selalu membuatku nyaman, perhatian yang ia berikan kepadaku sangatlah besar. Namja itu juga sangat tampan dan manis,setidaknya menurutku. Aku suka wajahnya yang kyeopta. Ya, kau tau kalau aku sudah mempunyai suami. Tidak perlu diingatkan, bayangan namja menyebalkan itu selalu mengahantui fikiranku. Karena namja itupula aku tak mengatakan apapun tentang perasaan ini kepada Yesung oppa. Aku sadar sekarang statusku bukan lagi single tapi statusku sekarang adalah Istri ‘seseorang’. Dan yang membuatku kesal sampai ubun-ubun adalah mengetahui bahwa ‘seseorang’ itu adalah Cho kyuhyun namja menyebalkan yang kukutuk habis-habisan karena sifat angkuh dan tidak sopan yang ia milikki. Arrgghh, aku hanya bisa merutuki nasib yang tersurat dalam hidupku. Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Tanpa tujuan yang jelas aku melangkahkan kaki keluar kamar. Tekanan darahku bisa saja naik secara drastic jika terus saja berdekatan dengan namja bernama cho kyuhyun itu.

“Hye-ya..” terdengar sayup-sayup suara seseorang memanggilku. Sepertinya aku familiar dengan suara ini. kutolehkan kepalaku kebelakang dan mendapati yesung oppa sedang berjalan menghampiriku.

“Ne, oppa!” sapaku ketika dirinya tepat berada di depanku.

“Eoddigamnika?” Tanya Yesung oppa padaku

“Ah, aniyo aku hanya ingin mencari udara segar!”

“Mau aku temani?”

“Hmm.. baiklah!” putusku. Lalu berjalan berdampingan dengannya keluar villa ini.

*****

~To Be Continue~

6 thoughts on “You are My Destiny [part 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s