On rainy day [2/2]

TITLE : ON RAINY DAY
MAIN CAST : CHOI HEA MIN
LEE DONG HAE
CHO KYUHYUN
PARK HYE MI
LEE MIN JI

On rainy day, when the world turns dark and the rain quietly falls. Even today, without a doubt. I can’t get out of it. I can’t get out from the thoughts of you. I know that it’s all just foolishness. Now, I know that it’s not true. I am just disappointed in myself for not being able to get a hold of you because of that pride. on rainya days you come and find me. you follow slowly and little by little. welcome to my life. thank you so much for waited me. now, i know who is my destiny.

HEA MIN POV~

Nafasku tercekak, mulutku membisu,mataku terasa panas menyaksikan kejadian dihadapanku. Namjachingu-ku yang kupercayai ternyata telah mengkhianatiku. Ia sedang berciuman mesra dengan seorang yeoja cantik. Dan yang lebih mengerikan bagiku adalah, saat tahu bahwa yeoja itu adalah HyeMi temanku sendiri. Lidahku kelu. Lututku terasa lemas. Mengapa kejadian menyedihkan terus menerus menghampiriku. Aku membiarkan air mataku meleleh. Tak ada satupun kata yan terucap dari bibirku. Aku hanya berdiri mematung mendengarkan percakapan mereka yang lebih menohok hatiku.

“Neomu bogoshipo,, kau tahu, aku hampir frustasi tidak melihatmu dua tahun ini.”

“Cihh, simpan saja bualanmu itu,Kyu-ya. Hal itu tidak akan mempan untukku.” Hatiku sakit. Jadi mereka sudah saling kenal sebelum HyeMi pergi ke New York. Jadi, mereka benar-benar merencanakan balas dendam ini sejak lama. Mengapa HyeMi membohongiku, mengapa ia tega berpura-pura baik denganku. Lalu, perlahan ia menusukku dari belakang dengan samurai yang bahkan tak dapat tergambarkan bagaimana sakit yang kurasakan.

“Cihh, kau tahu? Aku sudah banyak belajar membual untuk menarik hati Hea Min. dan semua itu membuatku mual.” Ucap kyuhyun dan sukses menohok hatiku. Jadi ia juga terpaksa bersikap manis dihadapanku.

“Keke,, tak kusangka tuan Cho rela melakukan itu.”

“Memangnya kau fikir untuk apa aku berjuang sejauh itu,hah? Semua itu aku lakukan untuk meraup keuntungan semata. Semua itu aku lakukan agar aku lebih mudah melancarkan aksi balas dendam kita. Dan aku mendekatinya, juga untuk meyakinkan masa depan kita.”

“Apa maksudmu?”

“Semenjak aku ber’pacaran’ dengannya. entertaimentku laku diburu public dan hingga kini.tentu saja, kau tahu sendiri bahwa ayahnya adalah salah satu orang berpengaruh dinegeri ini. Sudah kau lihat sendirikan kemajuan pesat pada perusahaanku ini.” HyeMi hanya mengangguk, lalu dengan cepat Kyuhyun melanjutkan ciuman yang tadi sempat tertunda. Ya tuhan, apa yang sedang kau rencanakan pada hidupku ini. mengapa kesedihan terus menerus mengalir menghampiri hidupku. Aku tak pernah berfikir kalau mereka, orang yang aku percayai dalam hidupku menghianatiku. Aku merasa menjadi orang bodoh yang berhasil mereka bodohi dengan mudahnya.

“Kyu-ya..” panggil HyeMi dengan suara serak.

“Hmmm,, kenapa kau suka sekali menghentikan ciuman kita,huh??” ucap kyuhyun kesal. Lalu menatap HyeMi lembut. HyeMi terkekeh pelan melihat kyuhyun mengerucutkan bibirnya.

“Aniya, kapan kau akan meninggalkan Hea Min?”

“Secepatnya.. rencananya nanti sore aku akan mengakhiri hubunganku dengannya.”

“Hmm,, sekarang dia tinggal dengan siapa?”

“Tidak penting.”

“Kyu-ya.. bagaimanapun aku masih sahabatnya.”

“aku tau itu. Sudahlah lupakan tentang dirinya. Lupakan bahwa kau pernah mengenalnya. Aku tak mau kau terus mengenang masa lalumu, hye-ya..”

“Hajiman..”

“Wae? Kau mengkhawatirkannya?”. HyeMi hanya mengangguk lesu.

“ Aku hanya merasa bahwa yang kita lakukan… hmmm,,” dengan cepat Kyuhyun menutup mulut gadis itu dengan lumatan kasar dari bibirnya.

“Sudah, aku tak mau lagi membicarakan mereka. Kita lupakan segalanya.”

Hatiku benar-benar sesak. Satu-satunya orang yang kupercayai unuk menjagaku telah mengkhianatiku. Satu-satunya orang yang kupercaya bisa kujadikan sandaran kini lenyap sudah. Tak ada lagi tempatku berteduh, tak ada lagi yang bisa kujadikan tempat bersandar. Kini hidupku sudah hancur benar-benar hancur.  Aku merasa keseimbangan tubuhku mulai goyah. Pandanganku mulai kabur seiringan dengan air mata yang bersarang dimataku. Sakit, sangat sakit. Hatiku, benar-benar perih. Apakah benar yang mereka bicarakan tentang keluargaku? Apakah benar bahwa ayahkulah penyebab ayah HyeMi meninggal? Apakah benar semua yang mereka bicarakan. Kakiku perlahan mundur. Kepalaku terasa berdenyut-denyut. Satu langkah, dua langkah, ‘pranggg’ aku tak sengaja memecahkan guci besar yang berada dibelakangku. Otomatis mereka –HyeMi&Kyuhyun- menoleh kearahku. Tercetak jelas air muka mereka. Kaget,itulah raut yang terpampang jelas.

“Ahhh.. Mian,Mianhae oppa.. aku tak bermaksud menganggu kalian.” ucapku getir.

“Hae Min-ah.. sejak kapan kau disana?” tanay HyeMi padaku. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku sedari tadi.

“TIdak penting! Kau sudah pulang rupanya dari New York.”

“Hea Min-ah,,”

“Wae? Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah tau apa yang kalian lakukan dibelakangku. Terima kasih karena pernah menjadi temanku.” Aku berusaha menahan air mata yang terus mendesak keluar.

“Dan kau, Kyuhyun oppa. Ah, ani apakah kau masih pantas kupanggil oppa? Setelah semua yang kau lakukan? Terima kasih karena sempat menjadi namja-chinguku. Dan terakhir terima kasih benyak karena kalian berdua telah menyakitiku sedalam ini. semoga kalian bahagia.” Ucapku pedih dengan langkah terseok-seok aku keluar dari tempat laknat ini. entah kemana lagi aku harus pergi. Aku benar-benar bingung. Aku melangkahkan kakiku tanpa arah, memasrahkan semua hidupku. Awan kota seoul hari ini benar-benar gelap dan menakutkan. Suara petir mulai menghampiri telingaku. Seolah mewakili hatiku yang benar-benar terpuruk.

AUTHOR POV~

“Hea Min-ah mianhae,,” ucap HyeMi terisak. Baru saja ia akan mengejar Hea Min namun tangan kekar Kyuhyun menghalanginya.

“Mau apa kau,huh?” ucap Kyuhyun sakratis. “Biarkan dia merasakan apa yang kau pernah rasakan dulu. Biarkan dia menanggung semua dosa atas kesalahan orang tuanya sendiri. Apa kau mau menghancurkan rencana kita,huh?”

“Hajiman,, Kyu-ya aku tidak tega! Aku tau bagaimana merasa hidup sendiri di dunia ini. dan kau tahu, itu sangat menyakitkan!”

“Buang semua rasa belas kasihanmu itu. Ia tak pantas dikasihani. Berhentilah menangis. Aku tak ingin melihatmu menyia-yiakan air mata hanya untuk seorang gadis dari anak yang telah membunuh orang tuamu.”

“Kyu-ya,,” ucap HyeMi pedih. Sungguh di lubuk hatinya paling dalam ia tidak tega melakukan ini semua. Namun, lagi-lagi nafsu dan amarah yang menguasai setiap jengkal fikirannya.

“Uljima,, hapus air matamu. Sekarang kita ke apartemenku. Sore ini juga kita akan berangkat ke paris dan memulai hidup baru disana. Aku mohon jangan sia-siakan air matamu,Hye-ya.” Ucap Kyuhyun penuh penekanan disetiap kata. HyeMi hanya mengganguk lalu tersenyum tipis. Apa yang harus ia rasakan. Apakah ia harus merasa bahagia karena telah berhasil membunuh orang yang telah membunuh kedua orang tuanya. Atau ia harus merasa sedih karena sudah mengkhianati temannya sendiri. Sungguh, ia tak patut untuk berbahagia diatas penderitaan orang lain. Hanya orang yang tak berprikemanusiaan yang bisa melakukannya.

****On Rainy Day****

Dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya, Hea Min berjalan dibawah langit kota seoul yang mendung. Entah kemana lagi ia harus bersandar. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya? Perasaanya benar-benar hancur. Haruskah ia mengalami semua kenyataan pahit ini. haruskah tuhan memberikannya ujian seberat ini. ia merasa tak sanggup mengahadapinya. Ia tak sanggup melanjutkan hidupnya lagi. Semua orang yang ia sayangi telah menghilang dari kehidupannya.

“Hai,, nona! Kau sendirian? Oh, untuk apa kau membawa koper? Apa kau mencari hotel? Mari kita kehotel bersama!” uca seorang laki-laki kepada Hea min. tidak, orang itu bukan orang baik-baik. Ia adalah berandalan yang berniat menggoda hea min, Hea Min tak memperdulikannya. Ia terus saja berjalan sampai tangan laki-laki brengsek itu memeluknya dari samping. Sontak gadis itu membelalakan mata. Ia berusaha mendorong laki-laki brengsek itu menjauh dari tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” ronta Hea Min.

“Ani, kau harus menemaniku dulu malam ini. bagaimana nona cantik?”

“Cihh,, aku tak sudi. Lepaskan aku.” Ucap Hea Min, lalu meludahi wajah laki-laki brengsek itu.

“Neo? Oh, kau ingin bermain kasar rupanya!? Baik aku akan turuti.” Tanpa aba-aba tangan laki-laki itu manampar pipi Hea Min meninggalkan bekas merah yang sangat kentara disana.

“Ahhkk,, “ rintih hea min sembari memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan tadi. Laki-laki tersebut menarik paksa Hea Min untuk bangkit lalu mencium gadis itu kasar. sekuat tenaga Hea Min meronta dan memukul dada laki-laki brengsek tersebut. Namun naas, usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Laki-laki tersebut terus melumat bibir hea min ganas. Ia mengigit bibir bawah dan atas Hea Min dengan keras. Hingga rasa asin mulai terasa oleh Hea Min. rasa asin yang diakibatkan oleh darah yang keluar dari bibirnya akibat perlakuan laki-laki tersebut. Gadis itu terus berontak namun semakin ia berontak laki-laki tersebut semakin menjadi-jadi. Kini tangan laki-laki tersebut tak tinggal diam. Tangannya mulai meraba punggung Hea Min. Air mata lagi-lagi mengalir dari mata gadis ini. ‘Tuhan, kumohon jangan membuatku menjadi kotor akibat perbuatan laki-laki ini.’ batin Hea Min. memang nasib sial sedang mengahampirinya. Tempat dimana ia berada sekarang sangatlah sepi dan mungkin sama sekali tidak akan ada orang yang melalu jalan ini. dengan sisa kekuatan yang ada gadis ini terus meronta dan memukul laki-laki didepannya. Hea Min melakukan apa saja agar laki-laki brengsek tersebut menghentikan apa yang ia sedang lakukan terhadap gadis ini. tangan laki-laki brengsek tersebut semakin liar. Ia mulai mencari kancing kemeja yang sedang digunakan Hea Min. namun,niatnya terhenti karena tangan gadis tersebut menghalanginya. Dengan paksa, akhirnya ia merobek kemeja gadis ini. dengan sekali hentak kancing yang tertata rapi di kemeja Hea Min terlepas dan menimbulkan suara gemericik pelan saat kancing-kancing itu membentur aspal jalan. ‘tuhan, kumohon jangan biarkan aku terhina oleh namja brengsek ini’ batin Hea Min. tiba-tiba seseorang memukul laki-laki brengsek itu hingga ia tersungkur ke aspal jalan. “Sialan kau,,” desis laki-laki brengsek itu, sambil menyapu darah yang keluar dari bibirnya. Ia bangkit dan memukul balik orang yang tadi memukulnya. Perkelahianpun tak dapat dihindari lagi. Kedua namja ini terlibat baku hantam yang cukup alot hingga akhirnya laki-laki brengsek itu menyerah dan memilih melarikan diri.

DONGHAE POV~

Selesai berkelahi dengan namja brengsek itu aku mengahampiri gadis yang sepertinya merupakan gadis yang ingin diperkosa oleh namja brengsek tadi. Aku mendekatinya perlahan, bahunya bergetar. Tangisnya pecah. Hujan turun bersamaan dengan tangisan menyakitkan dari gadi ini. aku membuka jaket yang kukenakan dan menyampirkannya pada gadis itu. Ia mendongak menatapku. Matanya merah dan sembab.

“AHKKKKKK,,, PERGI KAU BRENGSEK!” teriak gadis itu histeris.

“Tenang agasshi aku bukan orang yang tadi hampir memperkosamu,,”

“Pergi,,” teriaknya lagi.

“Dengarkan aku dulu, agasshi. Aku..”

“Pergi kalian semua brengsek, pergi,” gadis itu terus histeris dan menangis terisak. Kini tubuhku dan tubuhnya tengah diguyur hujan. Aku tak tau apa yang harus lakukan.air mata yang ia keluaran dari kedua matanya mulai bebaur dengan air hujan yang yang membasahi wajahnya. Aku tak mungkin membiarkan gadis itu sendirian. Sekilas aku melihat koper berada tak jauh dari tempatku sekarang. mungkinkah gadis ini tersesat. Ia terus menangis tanpa henti. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Panic, satu kata yang sekarang bisa mewakili keadaanku.

“Agasshi, kumohon..”

“Pergi,”

“aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian disini, kau tahu itu?”

“Pergi, kalian semua sama saja. Brengsek. Jangan berbuat baik padaku, aku muak. Pergi. Mengapa semua orang yang kusayangi meninggalkanku? Mengapa semua orang yang kupercayai dihidupku menkhianatiku? Mengapa aku harus menjalani hidup ini sendiri? Mengapa tuhan tak mengambil nyawaku saja? Aku tak mau hidup didunia yang kejam ini. mengapa semua kejadian buruk menimpaku? Mengapa?”. Seiring berakhirnya kalimat yang ia ucapkan. Gadis ini tak sadarkan diri.

AUTHOR POV~

Hujan, lagi lagi menjadi saksi atas kehidupan gadis ini. hujan,dimana mengalir semua kepedihan mendalam yang dialami gadis ini. hujan bagaikan mengiringi kisah hidupnya yang malang. Donghae menggendong tubuh Hea Min untuk masuk kedalam mobilnya. Ia bukanlah orang yang akan tega meninggalkan seorang wanita dijalan sendirian saat hujan sedang turun dengan ganasnya. Sungguh tak akan ada kata yang sanggup menggambarkan perasaan gadis itu. Bahkan jika seluruh kata-kata yang ditemukan didunia ini digabungkan, tak akan ada satupun kata yang bisa mewakili perasaan gadis itu saat ini. saat semua kebahagiaan beranjak pergi meninggalkannya. Saat semua tawa lenyap dari raut wajahnya. Saat semua derita datang terus menerus mengahampirinya. Saat semua rasa kecewa mulai menghinggapi dirinya. Saat dunia terasa begitu kejam baginya. Saat tak ada lagi yang bisa menemaninya di dunia ini. tak ada lagi tempat ia bersandar. Semua telah lenyap. Lenyap sudah.

***On Rainy Day***

Hidup? Satu kata yang kini membuatku ingin memuntahkan semua isi perutku. Untuk apa aku hidup di dunia ini jika hanya untuk disakiti dan dikhianati? Semua kata ‘bahagia’ telah menghilang dalam kamus hidupku. Semua kata’cinta’ telah lenyap dari fikiranku. Setiap jengkal hidupku kini hanya menuliskan kata ‘Kesedihan’. Kesedihan yang seakan tak henti-hentinya menemaniku. Aku muak denga semuanya. Jika,aku diijinkan meminta satu hal saat ini. aku menginginkan ‘kematian’ mungkin hal tersebut lebih baik daripada aku harus hidup menderita di dunia yang penuh dengan kemunafikan ini. kesedihan yang terus mengalir bagaikan air hujan yang terus mengguyur kota seoul. –Choi Hea Min

Roda kehidupan senantiasa berputar. Manusia pasti akan mengalami yang dinamakan ‘kebahagian’ dan ‘kesedihan’. Tidak ada yang bisa menerka kapan kita akan bahagia, gembira, bersenang-senang, tertawa riang. Tak ada pula yang dapat menerka kapan kita akan terpuruk, terjatuh, terhempas dan terkulai lemah tak berdaya. Semua adalah takdir sang pencipta. Tak ada yang akan bisa menentang-Nya. Semua takdir manusia, semua jalan hidup manusia telah tersirat dalam naskah ciptaan-Nya. Tuhan, tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambanya. Kau harus yakin akan hal itu. Tuhan pastilah tau apa yang terbaik bagi makhlukNya. Kehidupan adalah panggung sandiwara. Diamana semua manusia menjadi lakon-lakon tertentu. Dimana terdapat lakon baik dan lakon jahat. Semua didunia ini pasti memiliki kebalikan. Dimana ada ‘kelahiran’ disana pasti telah menanti sebuah ‘kematian’. Dimana ada ‘kesedihan’ pastilah ada akhir yang disebut ‘Kebahagian’. Semuanya telah menjadi hukum alam yang tak dapat lagi dilawan.-Lee Dong Hae

***On rainy Day***

HEA MIN POV~

Aku merasakan harum bunga lili menyerang indra pembauku. Harum yang sangat hangat. Harum yang sangat menenangkan. “Eugghhh… “ lenguhku merasa sinar matahari menerpa wajahku. Aku mulai membuka mataku perlahan. Mencoba membiasakan mataku meneriama cahya matahari. Mataku mengedar kesekeliling. Tembok-tembok halus dengan cat warna crem mewarnai pandanganku. Ada dimana aku sekarang. aku mencoba berfikir apa yang terjadi padaku. Namun, kepalaku terasa berdenyut memikirkannya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di telingaku. Aku menarik selimut sampai menutupi tubuhku dan mencengkramnya erat. Aku dimana? Dan siapa yang akan datang? Hatiku berdebar tak karuan. Entah mengapa aku merasakan sakit pada tubuhku. Padahal, kuyakini kasur tempatku tidur sekarang ini sangatlah lembut dan nyaman.

“Kau sudah bangun?” ucap seorang laki-laki yang aku tidak kenali wajahnya. Wajahnya begitu asing bagiku. Namun, kurasa aku pernah melihatnya dalam keadaan yang sama. Otakku tak mampu memikirkan apa-apa.

“Nuguseyo?” tanyaku pada namja ini. ia berjalan mendekatiku dan duduk ditepi ranjang temapt aku berbaring sekarang.

“Makanlah dulu bubur ini! aku yang membuatnya sendiri. Aku harap aku suka.” Ia memberiku semangkuk bubur hangat. Aku menatapnya penuh tanda Tanya. Benar-benar semua ini bagaikan sebuah ‘Dejavu’ bagiku. Aku merasa sudah pernah bertemu dengan namja ini. dan semua kata-kata yang namja ini ucapkan seolah hanya bagian dari sebuah film yang sedang diputar ulang.

“Jeoneun Lee Dong Hae ibnida.” Ucapnya sambil memamerkan senyum yang menurutku cukup manis. Aku merasa pernah meliahtnya. Meliaht senyumnya. Melihat bagaimana binar matanya. Aku merasa pernah melihat semua tentang dirinya. Namun dimana, kapan? Sungguh pertanyaan tersebut tak dapat aku fahami dengan sempurna. Aku merasa pernah melakukan adegan ini dengannya. aku yakin itu. Namun, lagi-lagi otak sadarku menolak kenyataan itu. Menolak kenyataan bahwa namja ini pernah muncul dihidupku.

“Ah, Hea Min ibnida! Jankam,, kau ini siapa? Dan aku dimana sekarang?”

“ aku orang yang mengendongmu, karena kau pingsan dijalan saat hujan lebat kemarin. Kau ada dirumahku!”. Aku menyeringitkan dahi. Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri. Aku yakin bahwa ini adalah kali pertama aku bertemu dengan namja ini. namun, mengapa , mengapa semua ini lagi-lagi bagaikan dejavu bagiku. Aku memaksakan otakku untuk berfikir apa yang tengah terjadi pada diriku. Sekelibat memori pahit itu berputar kembali. Menghantui fikiranku saat ini. Memori saat kedua orang tuaku meninggal dengan naas, memori saat Kyuhyun menghianatiku, memori saat kesucianku hampir terrenggut oleh laki-laki brengsek yang aku tak ingat lagi wajahnya. Hatiku sakit, perih . “AHKKKK,,” jeritku seketika,saat aku mengingat kejadian bahwa aku hampir saja diperkosa. Apa namja ini yang melakukannya. Sungguh,aku tak ingat dengan wajah laki-laki brengsek itu.

DONGHAE POV~

Gadis ini, sepertinya aku pernah melihatnya. Lebih tepatnya, gadis ini adalah gadis yang selalu mampir kedalam mimpiku akhir-akhir ini. bagaimana bisa aku memimpikan gadis yang bahkan baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Bagaiaman bisa otakku menggambarkan wajahnya dengan jelas dimimpiku. Wajahnya, ah kurasa kata sempurna pun tak akan cukup menggambarkan kecantikan wajahnya. Wajahnya dengan iris mata coklat yang jernih begitu memukau. Rambut ikal panjang bergelombang tergerai rapih. Darahku berdesir hebat. Seolah mengalahkan desiran pasir di gurun sahara. Jantungku tak bisa menormalkan dentuman yang tercipta saat aku melihat wajah gadis ini. Namun, raut wajahnya jelas menampakan kelelahan yang luar biasa. Kesedihan dan kepedihan yang amat mendalam. Seolah, ia enggan untuk menerima kehidupan didunia yang kelam ini. tak ada senyum yang menghiasi wajah manisnya. Hanya ada ketakutan yang tersirat dari wajahnya.  Apa mimpiku bertemu denganya adalah suatu pertanda dari tuhan. Pertanda bahwa gadis ini datang untukku. Pertanda bahwa gadis ini adalah jodohku. Pertanda bahwa aku harus menjaga dan mencintainya semampuku. Tak sadar aku terus menatap wajahnya. Walaupun terlihat suram dan menyedihkan namun aku tau akan datang senyuman yang menghiasi wajahnya nanti. Dan aku ingin senyuman itu hanya untukku. Untukku seorang. Karena kini, mungkin aku telah jatuh kedalam pesonanya. Tiba-tiba gadis ini menjerit dan seketia tubuhku menegang. Apa yang terjadi pada gadisku?

AUTHOR POV~

Apa yang kau fikirkan jika tuhan sudah berkehendak? Semua yang ada didunia ini, tak akan ada satupun yang bisa menolaknya. Apa yang kau fikirkan saat tuhan mempertemukanmu dengan orang yang sama sekali kau belum pernah melihatnya. Namun, kau sudah memimpikannya berulang-ulang. Apa yang ada difikiranmu saat itu semua terjadi? Mungkinkah mimpi itu adalah pertanda bagimu. Mungkin saja, tak ada yang tak mungkin jika tuhan sudah mengkehendaki. Saat dua insan dipertemukan pertama kali oleh mimpi, mereka ditakdirkan untuk bersama saling menjaga, memberi dan mengasihi. Gadis itu tak menyadari kapan ia pernah melihat namja tersebut. Ia tak menyadari bahwa mimpi yang mempertemukan mereka pertama kali. Didalam mimpi tuhan mengkehendaki agar mereka berdua bertemu, saling mengenal hingga mereka akhirnya dipertemukan secara langsung. Namun, bayangan kelam itu masih menghantui Hea Min. ketakutan seketika menyergapnya. Dengan fikiran kalut ia berteriak sejadi-jadinya. “AHHKKKK,, PERGI,, TOLONG JANGAN DEKATI AKU!!!!” teriak Hea Min tak terkendali, matanya mulai memanas bayangan saat ia hampir saja kehilangan kesuciannya terbayang lagi dalam memorinya. Sungguh, jika amnesia melandanya saat ini. ia akan sangat bersyukur.

“Agasshi, waeyo?? Neo gwencaha?” Tanya donghae panic.

“Pergi kau brengsek!! Jangan dekati aku kumohon.”

“Agasshi aku tidak akan melukaimu. Kumohon aku tenang.”

“PERGIII,,,”.

“Agasshi,,”

“PERGIII,,”. Mendengar suara keributan dari kamar sepupunya. Lee Min Ji menyusul kearah datangnya suara tersebut. Sesampainya ia didepat pintu, dengan cepat tangannya memutar knop pintu hingga terbuka lebar.

“Donghae-ya,, waeyo?? Mengapa gadis itu berteriak histeris seperti itu?” Tanya Min Ji yang bingung melihat Hea Min berteriak histeris.

“Molaseo! Tiba-tiba ia seperti ini. Nuna, eotthoke?” jawab donghae.

“PERGIII, KU BILANG PERGI MENJAUH DARIKU.” Teriak Hea Min untuk kesekian kalinya.

“Donghae-ya, lebih baik kau keluar! Biar aku yang menanganinya.”

“Tapi nuna?”

“Wae, aku tidak percaya denganku?”

“Aniya, aku kelaur dulu. Tolong  jaga dia nuna! Aku sangat khawatir dengan keadaanya.”

“Ne, geokjongma,,”.   Lee Min Ji adalah seorang psikoterapi, beruntung saat itu ia ada disana. Kalau tidak mungkin dongahe akan panic tak tau apa yang harus ia lakukan. Donghae membiarkan, sepupunya itu menangani Hea Min. ia tau bahwa sepupunya itu bisa dipercaya. Donghae menuruni tangga dan duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan cemas. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa gadis itu. Ia takut jika kehilangan gadis itu. tidak, ia tak akan rela itu terjadi. Walau dirinya baru saja beberapa jam melihat wajah gadis itu dan berada didekatnya. Namun, ia yakin bahwa gadis itu terlahir untuknya. Begitupun sebaliknya.

@DONGHAE’S ROOM

Hea Min menumpahkan segala perasaannya yang ia pendam sendiri selama ini kepada Min Ji. Entah mengapa gadis itu merasa nyaman saat menceritakan itu semua seakan ia menemukan lagi sebuah sandaran yang telah hilang. Hea min menceritakan semua kisah menyedihkannya. Min ji memang salah satu psikiater muda yang hebat. Dalam hitungan menit saja ia sudah bisa menguasai perasaan sang pasien dan membuat si pasien mau menceritakan apa yang terjadi pada diri mereka.

“Hae min-ssi, aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. namun, percayalah donghae bukanlah namja yang brengsek. Ia bukanlah namja tempo lalu yang menganggumu. Percayalah padaku.” Ucap Min Ji namun hanya direspon oleh anggukan lemah Hea Min. setelah memberikan obat penenang untuk Hea Min. Min ji keluar dari kamar dan menemui Donghae yang sedang berkutat cemas disofa ruang tamu.

“Donghae-ya..”

“Oh, Nuna! Waegurae? Apa yang terjadi dengannya?”

“Ng, sepertinya ia mengalami trauma. Akhir-akhir ini ia selalu menerima kepahitan hidup. “

“Apa maksudmu?”

“Tadi, aku sudah berbincang-bincang dengannya. kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Lalu, namjachingunya mengkhianati dirinya.”

“Selingkuh maksudmu?”

“Mungkin, ia tak mau menceritakan soal itu. Dan terakhir ia hampir saja kotor karena ulah seorang namja berandalan yang menggangunya dijalan.”

“Apa kau tidak bertanya dimana dia tinggal?”

“Ne, aku sudah bertanya. Dan ia mengatakan bahwa rumahnya telah disita polisi. Semua itu akibat, tuduhan bahwa Appa-nya terlibat kasus korupsi.” Hati donghae serasa tertohok oleh kenyataan tersebut. Kepalanya berdenyut tak karuan. Tak ia sangka bahwa gadis manis itu harus menjalani hidup yang memilukan. Hatinya sakit, matanya terasa pedih. Ia merasa menyesal karena baru bertemu dengan gadis itu, setelah semua kenyataan pahit menghampiri gadis itu. Mengapa tuhan baru mempertemukan mereka sekarang? saat awan kelabu sudah menyelimuti gadis itu. Mengapa tuhan tak mempertemukan mereka lebih dulu, agar Donghae bisa melindungi gadis tersebut. Namun, apa mau dikata. Tuhan sudah menentukan takdir hidup mereka. Tak ada yang bisa mengubah itu semua.

“Donghae-ya!” panggil Min Ji. Donghae sama sekali tak sadar bahwa sedari tadi fikirannya melayang memikirkan kemalangan gadis yang berhasil memikat hatinya dalam beberapa detik saja.

“Ne,,” jawab Donghae linglung. Sungguh, hatinya tak bisa lepas dari kata lemas jika mengingat Hea Min.

“Kau tak mendengarkanku,huh?”

“Ani, mianhae.. bisakah kau mengulangnya lagi!?”

“Cihhh, aku akan memberikan obat untuk Hea Min. setidaknya dengan obat itu dia akan merasa tenang dan tak gelisah. Kau bisa mengambilnya di klinikku?”

“Aigo nuna, bisakah kau saja yang mengantarkannya kesini! Jebal, aku tak mungkin meninggalkannya sendiri. Jika terjadi apa-apa dengannya kau mau bertanggung jawab,huh?”

“Mwoya? Naega wae? Aishh,, ne gurae! Bagaimana jika ku kirim lewat paket pos saja. Aku sibuk hari ini.”

“Ne, gwenchana.”

“Ng, semua itu tidak gratis donghae-ya. Kau harus membayarnya seperti layaknya pasien biasa. Arra?”

“Yakk, nuna kau itu perhitungan sekali. Ne, arraseo!”.

“Tak ada kata perhitungan jika sudah terkait dengan benda yang satu itu, donghae-ya.”

“Itu bagimu.” Minji terkekeh pelan melihat tingkah sepupunya itu. Sepupunya sedang jatuh cinta rupanya. Ia tahu betul, tabiat sepupunya itu. Dongahe, bukanlah orang yang bisa mengkhawatirkan orang yang baru dikenalnya seperti itu. Perhatian Donghae terhadap Hea Min sangatlah terlihat jelas.

“Ng, apa kau menyukai gadis itu, Donghae-ya?”

“Mwo? Dari mana kau tahu?”

“Yakk, babo! Dari caramu menatapnya. Dari caramu memperhatikannya. Itu semua terlihat jelas bahwa kau menyukainya. Hanya orang bodoh yang tidak menyadarinya.”

“Berarti gadis itu bodoh, ia tidak menyadari bahwa aku menyukainya.” Min Ji tanpa aba-aba lagi langsung menghantam bahu Donghae dengan tasnya.

“Yakk, kau yang bodoh sudah kubilang bahwa ia mengalami trauma. Jadi perasaannya tak peka terhadap apa yang kau rasakan kepadanya. Neo Jeongmal baboya!”. Donghae hanya menunjukan cengirannya yang semakin membuat MinJi naik darah. Tanpa basa-basi lagi ia melenggang pergi keluar apartemen Donghae. Dengan perlahan donghae bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju kamarnya. Dengan hati-hati ia memutar knop pintu yang tak terkunci. Gadis itu sedang terlelap. Mungkin obat penenang yang diberikan MinJi sudah bekerja pada gadis ini. tanpa menimbulkan suara yang berpotensi membuat gadis itu terjaga donghae duduk di tepi ranjang dan matanya tak lepas dari wajah gadis itu. Wajah gadis yang selalu hadir dalam mimpinya sekarang sedang berada didepannya. Wajah gadis itu terlihat manis seperti anak kecil sekaligus terlihat dewasa dalam waktu yang bersamaan. Rahang yang tak terlalu runcing menambah pesona yang sudah terbilang melewati batas sempurna didiri gadis itu. Wajah gadis itu sangat tenang saat tertidur. Sangat menyilaukan. Kenyataan ini jelas terjadi lagi, darahnya memanas dan berdesir kuat. Jantungnya memberontak ingin keluar dari sarangnya. Donghae merasakan ngilu mulai menjalari persendiannya. Ia tak tahu bahwa efek yang ditimbulkan saat menatap gadis ini sangat besar. Lebih dari yang ia pernah bayangkan sebelumnya. Sangat besar. Seperti ada arus listrik ber-Volt Volt yang mengaliri setiap persendiaanmu. Tanpa sadar donghae tersenyum menatap gadis itu. ‘Gadis yang kurindukan’ gumamnya. Perlahan tapi pasti tangan dongahe terangkat dan merapikan anak rambut Hea Min yang berantakan, menyelipakannya dibelakang telinga gadis itu. Donghae mengusap pelan kening Hea Min, pelan sangat lembut berjaga-jaga agar gadis itu tidak terjaga dari tidurnya. Ia ingin berlama-lama memandangi wajah Hea Min, karena ia yakin selepas gadis itu terjaga. Jangankan menyentuhnya. Berada dekat gadis itupun tak akan dapat terealisasikan. Karena MinJi sempat berpesan agar ia tidak mendekati Hea Min untuk sementara. Sekarang ini, Hea Min bahkan mengalami trauma terhadap pria. Sungguh menyedihkan memang. Namun, itulah kenyataan yang harus ia terima. Memandangi wajah gadis yang ia cintai dari kejauhan. Sungguh hal itu sangat menyiksa dirinya.

“Hea Min-ssi, aku tak tau apa saja yang telah kau alami selama ini. namun aku tahu pasti semua itu sangat berat bagimu. Aku berjanji akan melukiskan senyummu lagi diwajah cantikmu ini. aku janji!” gumam donghae pada Hea Min. Mungkin karena lelah,matanya pun sudah mulai berontak untuk bekerja. ‘Baiklah sebaiknya aku istirahat’ pikir donghae. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi kening Hea Min lalu mengecup kening gadis itu lembut. Sangat lembut. Seakan gadis itu adalah guci mahal yang mudah pecah.

“Annyeongi. Semoga mimpimu indah!” setelah mengucapkan hal itu Dongahe berlalu keluar dari kamarnya. Dan berjalan kearah ruang tamu. Di apartemennya hanya terdapat satu kamar. Itulah mengapa ia berjalan kearah ruang tamu. Karena mau tak mau ia hanya bisa tidur di sofa sempit itu dengan ditemani sebuah selimut.

****On Rainy Day****

DONGHAE POV~

Aku sengaja bangun lebih pagi hari ini. tentu saja, karena ada hal yang harus aku lakukan. Aku harus menyiapkan sarapan untuk Hea Min. aku tak mau ia sakit atau apapun yang mengancam jiwanya. Aku masih ingin melihatnya tersenyum didunia ini. dengan langkah tetap aku berjalan kearah kamar. Dengan keyakinan bahwa hari masih pagi dan gadis itu belum terjaga dari tidurnya. Aku memutar knop pintu dengan tangan kananku. Sedangkan tangan kiriku berisikan nampan yang memuat semangkuk bubur abalone lezat. Namun sial, tebakanku meleset, gadis itu sudah terjaga dan kini sedang menatapku ketakutan.

“Mauu apa kau??” tanyanya tergugup.

“Ah ani, aku hanya membawakan makanan ini untukmu. Aku kira kau masih tidur. Makanya aku tak mengetuk pintu. Aku takut membangunkanmu. “

“Taruh disana saja! Dan cepat pergi!” Ucap Hea Min, sembari merapatkan selimut menutupi tubuhnya sebatas dagu.

“Ne,, kau harus makan. Dan ini ada obat yang MinJi nuna berikan padaku. Kau harus meminumnya sesudah makan.” Kataku seraya memamerkan senyum manisku. Setidaknya menurutku begitu. Aku menaruh nampan tersebut diatas meja kecil yang terletak tak jauh dari pintu. Lalu, bergegas keluar. Ternyata gadis itu belum menerima kehadiranku. Tak apa-apa aku masih bisa mengerti keadaannya. Cepat atau lambat semua itu kan berubah. Seiring berjalannya waktu. Aku yakin sakit dan pedih yang kau rasakan akan terhapus begitu saja. Jika tidak, aku kan setia membantumu melupakannya.

***On rainy Day***

AUTHOR POV~

Begitulah seterusnya. Hea Min masih saja takut berada didekat laki-laki. Dan selama itu pula, setiap malam Donghae memuaskan rindunya kepada Hea Min. setiap malam ia datang kekamar Hea Min saat gadis itu tengah terlelap tidur. Lalu memandangi wajah gadis itu tanpa rasa penat dan bosan sama sekali. Selalu saja senyuman yang tersungging saat donghae menatap Hea Min. satu-satunya gadis yang membuat nafasnya berantakan. Satu-satunya gadis yang berhasil membuat darahnya panas dingin. Satu-satunya gadis yang berhasil membuat detak jantungnya berdetak tak karuan. Satu-satunya gadis yang membuat ia rela menunggu dengan sabar hingga gadis itu menatapnya dan mulai mencintainya. Sampai suatu malam mengejutkan Donghae. Seperti biasa selepas memandangi wajah Hea Min ia tidur di sofa ruang tamu. Malam itu Hea Min, merasa haus mendera tenggorokanya. Dan sialnya, tak ada air digelas yang sedang terduduk dimeja samping ranjangnya. Mau tak mau ia turun kebawah dan pergi kedapur untuk mengambil air itu sendiri. Namun, pandangannya teralihkan kearah namja yang tengah tertidur di sofa. Wajah namja itu yang tak lain adalah Donghae terlihat begitu lelah dan ia terus menggeliat dalam tidurnya. Mungkin ia merasa kesempitan dan tak nyaman dengan alas tidurnya itu. Perlahan kaki HeaMin mendekati namja itu, bermaksud untuk menyelimuti tubuh donghae. Karena selimut yang pria itu terjatuh ke lantai. Hea min merasa tak tega melihatnya. Dengan langkah ragu-ragu ia mengambil selimut itu lalu menyelimuti tubuh Donghae. Saat ia akan berlalu, niatnya terurungkan melihat wajah namja yang berada didepannya. Harus ia akui bahwa, Ng namja itu cukup tampan. Dengan rambut yang sedikit berantakan lebih menambah pesonanya. Hea Min memperhatikan setiap detail wajah namja didepannya. Wajah oval namja ini sangat terlihat pas dengan tatanan rambutnya yang disibak keatas. Hal itu mengakibatkan kening halusnya terekspos jelas. Matanya yang tak terlalu sipit sangat serasi dengan hidungnya yang mancung. Serta bibirnya penuh membuat komposisi wajahnya semakin sempurna. Tanpa sadar tangan HeaMin bergerak perlahan mengikuti lekuk wajah donghae,dan saat tepat tangan itu berada dibibir Donghae. Namja itu menggeliat dan terjaga. Tentu saja, HeaMin kaget dan kikuk saat donghae menatapnya dengan alis bertaut.

“HaeMin-ssi apa yang kau lakukan disini?” Tanya donghae, sembari mengucek matanya yang masih setengah terbuka.

“Aniya, aku hanya merasa haus. Dan aku tadi tak sengaja melihat,,Ng selimutmu terjatuh! Aku hanya berniat menyelimutimu saja. Udara saat ini sedang tak bersahabat. Aku pergi ke dapur dulu.” Jawab Hea Min,lalu melenggang pergi meninggalkan donghae terburu-buru.

“Ng,Hea Min-ssi, Gomawo!” ucap donghae setengah berteriak. Karena terdapat jarak yang lumayan jauh dari tempatnya dengan Hea Min.

***On Rainy Day***

DONGHAE POV~

Aku mengeliat saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh permukaan wajahku. Betapa terkejutnya diriku saat mendapati Hea Min berada tepat didepanku. Denga posisi jari telunjuk berada dipermukaan bibirku. Memberikan sensasi, ng sedikit dingin karena mungkin factor cuaca yang ekstrim akhir-akhir ini. menjadikan kulitnya dingin dan terasa hampir membeku. Jarak antara wajah kami sungguh minim. Aku hampir saja melumat bibirnya jika ia tidak secepatnya mengambil jarak dariku.

“HaeMin-ssi apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku, sembari mengucek mataku yang masih setengah terbuka. Tidak ini semua hanya alibi. Mataku benar-benar sudah terbuka lebar karena kelakuan HeaMin yang tak kusangka itu. Ia sudah berada dekat denganku. Apa ia sudah tak merasa takut lagi denganku. Ng, tepatnya pada seorang laki-laki. Kurasa begitu.

“Aniya, aku hanya merasa haus. Dan aku tadi tak sengaja melihat,,Ng selimutmu terjatuh! Aku hanya berniat menyelimutimu saja. Udara saat ini sedang tak bersahabat. Aku pergi ke dapur dulu.” Jawab Hea Min,lalu melenggang pergi meninggalkanku  terburu-buru.

“Ng,Hea Min-ssi, Gomawo!” ucapku setengah berteriak. Karena terdapat jarak yang lumayan jauh dari tempatku dengan Hea Min. astaga, apa kalian lihat tadi wajahnya memerah. Walau tempat ini gelap, namun aku masih bisa melihat dengan jelas semburat merah itu. Apa kalian tahu wajahnya bertambah manis saat semburat merah itu menghiasi wajahnya. Aku hanya tersenyum senang melihat gadis itu yang kembali kekamar dengan terburu-buru. Apakah ia malu karena ketahuan menyentuh wajahku saat diriku terlelap. Sepertinya ia tidak tahu kalau diriku juga melakukan hal yang sama dengannya, saat ia sedang terlelap. Malah aku melakukannya setiap malam. Keke,, aku menyentuhkan telunjukku mengikuti alur saat HeaMin menyentuh wajahku. Sensasi dingin tangannya masih terasa diwajahku. Aku menyentuh bibirku, tempat terakhir ia menyentuh permukaan wajahku. Senyum seakan tak mau lekang dari wajahku. HeaMIn-ssi apa kau telah bisa menerima kehadiranku didekatmu? Ya tuhan, terima kasih. Aku sangat bersyukur atas ini semua. Aku memutuskan untuk kembali tidur. Mimpi indah mungkin saja akan menghampiriku setelah ini.

***On Rainy Day***

Sudah hampir sebulan Hea Min tinggal bersamaku. Dan selama itu pula aku merawatnya tanpa lelah. Walau ia terkadang masih merasa takut padaku. Namun, aku dengan sabar menanggapinya. Hingga kini, sudah terdapat kemajuan pada HeaMin ia sudah mulai berbicara padaku. Dan tak merasa canggung lagi saat ia berada didekatku. Namun, tentu saja. Untuk menyentuhnya saat ia terjaga belum bisa kulakukan. Aku kan membiarkan semua itu mengalir, aku akan menunggu sampai gadis itu menerimaku seutuhnya masuk kedalam kehidupannya. Aku akan menunggu, walau semua itu terasa lelah dan membosankan. Aku tak akan menyerah. Bukankah cinta harus memerlukan sebuah pengorbanan? Mungkin inilah pengorbanan yang harus aku lakukan demi meraih cintaku. Demi meraih gadisku Choi Hea min.

“Donghae-ssi,,” suara lembut itu menyadarkanku dari lamunanku.

“Ne, Hea Min-ssi,, waeyo?”

“Ah,ani! Aku hanya ingin pergi berbelanja ke supermarket.”

“Mwo? Kau yakin? Sendiri?”. Hea Min mengganguk sembari tersenyum tipis.

“Ne,, aku kira kau pasti sibuk mengerjakan semua itu. Aku tak mau terlalu merepotkanmu.” Ujarnya seraya melihat kearah berkas-berkas kertas yang berserakan dimeja tamu. Ya, aku sampai lupa mengerjakan itu semua.

“Ah, baiklah kalau itu maumu! Ini uangnya. Kau harus hati-hati dijalan.” Aku memberiakan uang secukupnya kepada Hea Min.

“Ne, aku pergi dulu.”

“Hea Min-ssi! jankamm..”

“Ne, waeyo?”

“Igo bawalah ponselku dulu. Telephon aku jika terjadi apa-apa. Bukankah ponselmu rusak tempo lalu,”

“Ne, gomawo. Ada lagi ?”

“Ah, ani. Kau harus hati-hati. Jangan mudah percaya pada orang lain. Jika sudah lekas kembali. Jangan matikan ponsel itu.” Hea Min terkekeh pelan. Ia tertawa? Ia tertawa karenaku? Benarkah ini? gadisku mulai tertawa lagi? Walau hanya sebuah kekehan pelan. Namun, aku sangat bahagia. Aku hanya menunjukan cengiran padanya. Lalu, menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal. Hea min berjalan perlahan, aku hanya menatap punggung gadis itu yang semakin, lama semakin menjauh dan akhirnya hilang dibalik pintu utama apartemenku.

***On rainy Day***

AUTHOR POV~

Gadis itu, Hea Min. ya dia. Gadis itu berjalan menuju supermarket yang terletak tak jauh dari apartemen milik donghae. Saat masuk supermarket ia langsung disibukan dengan kegiatan memilih-milih bahan makanan yang kan ia masak untuk donghae. Sebenarnya, sudah sejak lama ia ingin melakukan ini semua. Ia ingin membantu Dongahe setidaknya dalam hal mengurus rumah. Karena ia tau dengan pasti bahwa namja itu pasi sangat kelelahan. Ya, walaupun namja itu tidak pernah mengeluh selama ini.namun, trauma yang ada pada dirinya, terkadang sering muncul kembali. Setelah membayar belanjaan kekasir ia keluar supermarket dan berniat segera pulang. “aigo, kenapa hujan? Aku tidak membawa payung!” gerutu Hea Min saat melihat ternyata turun hujan yang cukup lebat. Tiba-tiba ponsel donghae yang dibawanya bordering dengan sigap ia meraih ponsel itu dan menyentuhkan telunjuknya kelayar ponsel yang berwarna hijau.

“Yeobseyo?!”

“Hea Min-ssi eoddiga? Apa kau telah selesai?” seru suara diseberang sana.

“Ah, donghae-ssi. ne, aku sudah selesai. Tapi, hujan turun. Aku tak membawa payung. Eottokhaji?”

“Tenang. Kau tunggu disana jangan pergi kemana-mana kau akan menjemputmu. Arrachi?”

“Ne,,” jawab hea min singkat. Setelah itu hea min menaruh kembali ponsel itu kedalam sakunya,karena donghae telah memutuskan sambungan. Cukup lama Hea Min menunggu. Hingga ia merasa bosan.

“Aishh, kemana donghae-ssi? lama sekali! Ah, lebih baik aku menunggu diseberang sana! Disana sepertinya lebih dekat dengan apartemennya. Jadi ia tidak usah menyebrang untuk mejemputku. Kufikir itu lebih baik.” Gumam Hea min. lalu dengan nekat menerobos derasnya hujan yang mengguyur kota seoul. Ia berjalan tanpa memperhatikan lampu lalu-lintas yang hampir menunjukan warna merah untuk para pejalan kaki. Tiba-tiba dari arah selatan melaju sebuah mobil dengan laju yang cukup cepat. Hea min, kaget kan semua itu. Kakinya terasa kram tak bisa digerakan saat mobil itu makin dekat dengannya. dan  tabrakan maut itu tak dapat lagi dihindari. “AHHHKKKKKKKKK,,” teriak gadis itu saat mobil tersebut menabrak dirinya hingga kepala gadis itu terbentur kerasnya aspal jalan. Hujan, lagi-lagi hujanlah yang menjadi saksi kehidupan gadis itu. Badannya terkulai lemah dengan darah mengalir berbaur dengan air hujan yang sedang menguyur kota hari ini. kepalanya terasa berdenyut-denyut. Inikah akhir dari hidupnya? Berakhir dengan cara inikah hidupnya selama ini. perlahan matanya mulai berat dan pandangannya berubah menjadi gelap.

***On rainy day***

DONGHAE POV~

Dengan tergesa-gesa aku meraih mantelku, lalu mengambil payung. Namun, sial aku lupa dimana aku menaruhnya.butuh waktu sekitar 15 menit hingga aku menemukan payung itu. Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju supermarket tempat Hea min berbelanja. Namun, perhatianku tersita saat melihat kerumunan orang banyak dijalan. Apa yang mereka lakukan? Karena penasaran aku menuju kerumunan itu. Dan dalam hitungan seperkian detik mataku terbelalak, melihat HeaMin terbaring dengan kepala bersimbah darah.

“HEA MIN-SSI! WAEGURAE? APA YANG TERJADI? TOLONG JAWAB AKU? APA YANG TERJADI DENGAN GADISKU,HUH?”teriakku sejadinya memarahi semua orang yang ada disana.

“Anda mengenalnya tuan?”

“CEPAT KATAKAN APA YANG TERJADI? CEPAT?”

“ng, tadi ia tertabrak mobil. Kejadian itu begitu cepat. Kami tidak bisa berbuat apa-apa!”

“Brengsek,,” aku mulai geram. “CEPAT  PANGGIL AMBULANCE!”

“Sudah, mereka sedang menuju kemari,, kumohon anda bersabar!”

“SABAR? GADISKU TERTABRAK SEPERTI INI. KAU BILANG AKU HARUS BERSABAR,HUH? CEPAT TELEPON LAGI AMBULANCE ITU.” Fikiranku benar-benar kalut saat ini. hea min ada dihadapanku dengan keadaan penuh darah. Jelas aku panic, aku tak mau kehilangannya secepat ini. tidak,aku tidak akan pernah mau kehilangannya. aku tahu, aku paham dengan sangat jelas. bahwa setiap ada ‘pertemuan’ pasti ada ‘perpisahan’. namun, haruskah perpisahan iu datang secepat ini. Tak beberapa lama ambulance itupun datang. Dengan gerakan cepat mereka mengangkat tubuh hae min kedalam ambulance. Dan membawanya kerumah sakit.

***On rainy Day***

HEA MIN POV~

Dimana aku kali ini. aku tak tau pasti,namun sepenglihatanku. Aku berada dihamparan padang rumput yang luas nan hijau. Suara merdu burung berkicau semakin membuat indah tempat ini. perlahan aku merasakan, sinar yang terlalu terang menghampiriku. Dengan cepat aku memicingkan mata menghalau cahaya tersebut. Setelah cahaya itu hilang aku mulai memberanikan diri membuka mata. Dan, aku melihat siluet kedua orang yang sangat kurindukan.

“Eomma , Appa? Benarkah itu kalian?”

“Iya, nak ini kami! Kami sangat merindukanmu!” jawab siluet manusia itu dan kini makin jelas tampang mereka. Benar, mereka adalah eomma dan appa, aku berlari lalu menghambur kedalam pelukan mereka. Hangat, aku sangat merindukan pelukan ini. “Eomma appa neomu bogoshipo! Bawa aku bersama kalian! aku ingin bersama kalian.”

“Tidak Hea Min-ah.. kau belum saatnya bersama kami. Kembalilah keduniamu. Dan jemput cinatmu.”

“Maksud eomma?”

“Ne, Hea Min-ah.. namja yang akan kau lihat pertama kali saat kau membuka mata nanti. Percayalah bahwa ia adalah orang yang tuhan kirimkan untuk menjagamu. Percayakan dirinya untuk menjagamu menggantikan kami. Maaf karena kesalahan kami, kau jadi menderita. Semua kenyataan tentang appa memang benar. Appa telah melakukan korupsi. Dan appa juga telah membunuh orang tua HyEMi namun semua itu tidak appa sengaja sungguh appa meminta maaf kepadamu.”

“Ani, appa! Aku sudah melupakannya! Aku sudah memaafkanmu! Bagaimanapun kau tetap ayahku. Sampai kapanpun aku tak akan bisa membenci orang tuaku sendiri. Ijinkan aku ikut bersama kalian! kumohon!”

“TIdak anakku! Cintamu sudah menunggu! Kebahagianmua kan datang! Jemputlah cinta dan kebahagianmu.”

“Ani eomma tidak ada yang menginginkanku didunia ini.”

“Kau salah, saat kau membuka mata kau akan menemukan orang yang mencintaimu berada disampingmu. Menantimu dengan sabar. Pergilah kepadanya. Percayakan dirinya untuk menggenggam hatimu.”

“Hajiman appa,,”

“Sudahlah nak, cepat kau kembali padanya. Appa dan eomma akan pergi jauh darimu. Appa dan eomma yakin namja itu akan bisa menjagamu lebih baik dari kami.”

“Andwae! Eomma appa jebal! Jangan pergi.” Ucapku lirih. Cahaya menyilaukan itu datang lagi. Menghalangi pandanganku. Secepat cahaya itu berakhir secepat itu pula eomma dan appa menghilang dari pandanganku.

“Eomma,, Apppa”.Teriakku sejadinya.

***On rainy day***

Sayup-sayup kudengar suara seorang namja memanggil namaku. Aku membuka mataku perlahan. Bau alcohol langsung menyapa hidungku. Dan namja ini berada disampingku dengan mata sayu. Sepertinya ia kelelahan. tangannya yang hangat menggenggam tanganku erat sangat erat.

“Donghae-ssi”

“Hae Min-ssi kau sudah sadar? Tunggu disini aku akan memanggilkan dokter untukmu.” Ucapnya lalu menghilang dibalik pintu ruang rawatku. Eomma,appa apakah namja ini yang kalian maksud. Namja yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Namja yang akan kupercayakan untuk menjagaku? Namja yang tuhan kirimkan untukku? Benarkah ia orangnya? Namja yang rela menungguku dengan sabar hingga diriku siuman. Benarkah dia orangnya? Namja yang akan menemani setiap hari di hidupku? Namja yang akan mengukir senyum indah bersamaku? Aku tersenyum mengingatnya. Inikah kebahagianku? Kabahagianku bersamanya? Inikah saatnya hujan berganti menjadi langit cerah yang berhias pelangi indah? diakah orangnya? Lee Dong hae

DONGHAE POV~

“Kau tau Heamin-ssi aku hampir gila menunggumu siuman?” ucapku menatapnya sendu.

“Memang berapa lama aku tidur?”

“lama sekali! Mungkin 2 minggu. Sampai-sampai aku berfikir untuk menciummu! “ ucapku santai

“MWO??” hea min membelalakan mata mendengar pernyataanku.

“Ne, kufikir mungkin saja cerita kita sama seperti kisah putri tidur! Kau pernah mendengarnya bukan?”

“Yakk, sungguh menjijikan! Awas kalau kau berani macam-macam denganku!”. Aku terkekeh pelan melihat tingkahnya yang mengancamku seperti anak kecil.

“Hea min-ssi..”

“Ne,,”. Aku harus berkata sekarang padanya, harus.

“Ng, igo! Aku mencinatimu hea min-ssi! maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Maukah kau menjadi orang yang menemaniku tidur? Maukah kau menjadi orang yang aakan selalu kurindukan? Maukah kau menjadi milikku seutuhnya? Would you marry me,?”. aku mengulurkan tanganku dan memberikanya sekotak cincin emas putih. ia terlihat membekap mulutnya dengankedua tangannya. Mungkin ia kaget dengan apa yang aku lakukan.

“Donghae-ssi kau serius?”

“Ne, apa aku terliaht seperti orang sedang bercanda,huh? Kau ambil cincin ini. jika kau menerimaku kembalikan cincin itu padaku. Agar aku bisa menyematkanya dijari manismu. Namun, jika kau menolakku buang cincin itu ke dalam tong sampah ini. itu berarti kau membuang cintaku. Dan aku akan setia menunggu sampai kau akhirnya menerimaku!”. Aku memjamkan mata menunggu jawaban hea min.

HAE MIN POV~

Donghae-ssi melamarku? Benarkah ini? aku merasa debaran jantungku tak menentu. Aliran darahku berdesir cepat. Ia memejamkan matanya menunggu jawabanku. Lucu sekali wajahnya. Ia seperti seorang anak kecil yang menunggu hukuman dari orang tuanya. Aku terkekeh geli melihatnya. Entah setan apa yang merasuk ketubuhku hingga diriku berani mengecup bibirnya.

CHU~

Donghae membuka matanya kaget. Ya, aku tau dia pasti akan kaget.

“Hea min-ssi! kau?” tanyanya terbata-bata. Aku hanya tersenyum menatapnya lalu mengganguk mantap!

“kau menerimaku? Kau bersedia menjadi istriku?”

“ne, aku bersedia! Sangat!”

“Gomawo,, ah jinjja! Aku benar-benar bahagia! Ng, kau tadi menciumku duluan?”

“MWO? Ani itu hanya sebuah kecupan!”

“Lalu mengapa kita tak melanjutkannya?” ia menggerlingkan matanya.

“maksudmu? Aku tidak,,hmmmmpp,dongghae-ssi!” ucapku terpotong akibat ulahnya menciumku tiba-tiba. Aku tak menolak semua itu. Karena aku tau ia adalah jodohku. Ia adalah orang yang dikirimkan tuhan untukku. Ia adalah jiwaku, tanpa dirinya aku tak mungkin bisa hidup. Itulah pemikiranku kini tentang dirinya. Tentang Lee Dong hae,namja yang berhasil meluluhkan benteng kehancuran dihidupku. Dan membangun benteng kebahagiaan untukku. Aku yakin itu. Aku menggalungkan tanganku pada lehernya. Tanganku dengan reflex menyusup kedalam rambutnya yang halus. Menekanya untuk memperdalam lumatannya pada bibirku.kurasakan bibirku telah basah oleh salivanya. Ia menggigit bibir atas dan bawahku pelan. Seakan tau maksudnya aku membuka mulutku dan tanpa menunggu waktu lama lidahnya telah membelit lidahku. Tangannya mengusap punggungku menimbulkan sensasi mengelitik disekitar tubuhku. Kini tangannya telah nakal dan masuk kedalam baju pasien yang kukenakan. Permukaan tangannya, kini menyentuh punggungku yang tak berpenghalang.

“Hmmppmmm,,”desahku tertahan karena mulutku disumpal kuat oleh ciumanya yang memabukkan.

“AHH,,” desahnya saat aku mengelus permukaan dadanya yang masih tertutup kemeja rapih. Desahanya semakin menaikan nafsu birahiku saat ini. tiba-tiba ia mendorongku hingga terbentang jarak diantara kami. Sontak aku bingung dengan apa yang ia lakukan.

“Mianhae,, hea min-ssi! aku tidak bermaksud menciummu tadi! Sebaiknya kita melakukan semua itu setelah kita resmi menikah. Aku tidak mau menodaimu,sekarang. mianhae..”. nafasku tercekak ia rela menahan nafsunya demi menjaga kesucianku. Sungguh beruntung aku mendapatkan dirimu donghae-ssi. aku hanya tersenyum kearahnya. Dia sangat menghormatiku. Dan kenyataan itu membuatku semakin yakin untuk mempercayakan hatiku padanya.

Kini hujan telah tiada. Hujan telah berganti menjadi awan cerah dengan hiasan pelangi yang indah. Begitu juga dengan diriku, kini kesedihan musnah sudah berganti dengan kebahagian yang tercipta karena kau berada disisiku Dongahe-ssi. terima kasih atas semua cinta yang kau berikan-Choi hea min.

~the end~

Akhirnya ancur ya?? huwaaaaa >,< maafff.. aku udah mentok nih.. haha, *author ga bertanggung jawab* dilarang like karena ni FF akhirnya ancur gila. tapi kalau tetap kekeh ya, aku sih teriama aja like-nya #gubrak. sorry for typo. aku ngetiknya negebut. dan tanpa di baca ulang lagi. 

ditunggu komennya. see ya~

2 thoughts on “On rainy day [2/2]

  1. Terjawab sudah! Pantesan Hea Min ada di rumahnya Mas Ikan, gitu tho ceritanya ^_^

    Seru saeng, temanya mungkin udah ada juga yang pernah angkat, tapi tentunya cerita kamu nie juga beda dan unik. Aq rasa kita bisa sama2 belajar dan merenungkan bahwa cinta ntu emang suka dateng gak diduga, kayak yang dialamin sama HeaMin. Dia yg dulu cinta banget ama Kyu, tiba2 dapet cinta sejati Hae…

    Good job ^_^

    • Gamsahamnida eonni ^^
      Yagitulah ceritanya ._. sebenernya aku ngerasa itu akhir yang hancur (/.\) aku bikin FF itu saat lagi US jadi ngebut –” *curcol
      Ne.. cinta itu gak bisa diduga ^^ bahkan dari benci aja bisa jadi cinta :3 dan setiap orang pasti mempunyai kebahagiaannya masing2😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s