Surat Untuk Mantan

Jejak masa lalu, kau yang pertama menyentuh hatiku

Lagu yang aku saranin denger saat baca ini adalah Do men cry – Davichi & Driving me crazy – Hyorin SISTAR ^-~ Aku terinspirasi nulis saat dengerin lagu itu hihi ^-~ Baca juga translate lagunya ya soalnya itu lagu korea._.v

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara -@Gramedia.

Musim dingin yang serasa menusuk tulang dan merobek kulit telah berakhir. Kini giliran musim semi yang penuh kehangatan dan keindahaan menyapa. Langkah kaki membawaku ke suatu tempat. Tempat dimana dulu kita bersama. Dengan jutaan goresan cerita. Dengan ribuan gelak tawa. Aku termangu sendiri di tempat ini. Menikmati hembusan angin yang serasa membelai wajahku. Gemericik air kolam membawa ingatanku pada dirimu. Memori itu kembali berputar layaknya film yang tak bisa kuhentikan. Memori itu kembali mengalun liar dalam benakku. Aku memejamkan mata, menghayati tinta fiksi nyata bertuliskan nama ‘kita’.

Disini –dulu- kau dan aku bersama. Merajut kasih, menyalurkan sayang. Jantungku berdebar keras ketika mengingatmu. Masih seperti dulu. Reaksi tubuhku masih seperti dulu. Aku belum bisa menghapus bayang dirimu dalam hidupmu. Aku ingin melakukannya, namun Tuhan tidak berpihak padaku, sayang. Apa yang harus kulakukan? Paru-paruku terasa sesak. Oksigen serasa tak mau bersahabat denganku kali ini. Aku terduduk seorang diri, menikmati hangatnya embun musim semi sendiri. Dulu, kita bersama menikmatinya. Aku masih mengingatnya, saat kau tersenyum mengalahkan hangatnya matahari musim semi. Aku masih mengingatnya, saat kau menatapku lembut untuk mengusir gundahku. Aku masih mengingatnya, saat kau membelai rambut ini dengan kedua telapak tanganmu. Aku masih mengingatnya, semangkuk es krim strawberry yang selalu kau gunakan untuk merayuku saat ku dibuat jengah oleh ulah nakalmu. Aku masih mengingatnya, apa kau juga mengingatnya? Terlalu banyak kenangan yang kau tuliskan di lembaran buku hidupku. Kita, kau dan aku, bersama –dulu-. Kini, hanya tersisa diriku seorang yang masih terkunci dalam kenangan. Membuatku hampir mati frustasi karenanya. Terkadang aku berfikir, apa kau juga merasakan apa yang kurasakan? Apa lelaki juga menangis saat mereka putus cinta? Apa kau merasa hampir gila karena merindukanku? Sama seperti yang tengah kurasakan.

Segerombolan pertanyaan tentang dirimu serasa menamparku keras. Apa kau ingat janji yang sudah kau katakan padaku dulu? Disini, di depan gemericik air yang serasa memainkan melodi alam nan indah. Kau mengatakan padaku, bahwa hanya aku yang dapat mengisi relung hatimu. Bahwa hanya aku yang kau inginkan. Kau mengatakan dengan jelas padaku bahwa kau tak akan meninggalkanku. Ingatkah kau pada janjimu itu, sayang?

Detik demi detik, kunikmati kenangan yang tengah mengalir jelas di benakku. Manis dan pedih. Membuatku ingin tertawa sekaligus ingin menangis. Ini menyiksaku! Mengapa kau begitu mudah melupakanku sedangkan aku harus berjuang mati-matian untuk melupakanmu? Ini tidak adil. Mengapa kau bisa bahagia tanpaku sedangkan aku tidak? Bahkan dalam setiap doaku, aku masih menyebut namamu disana. Apa aku begitu bodoh?

Hati ini kembali tertohok mengingat kenyataan kau bukan milikku lagi. Kau kini bersamanya. Bersama gadis lain yang –mungkin- lebih baik dariku. Kini kau adalah miliknya, bukan lagi milikku. Ingin rasanya untuk berlari, meninggalkan semua jejak kenangan yang telah kau tumpahkan dengan jelas di catatan hidupku. Kau yang pertama menyentuh hatiku. Dan kau juga yang pertama menorehkan luka menganga di hatiku. Seandainya waktu bisa kuputar ulang, aku tak ingin melepaskanmu. Aku tak akan menyebutkan kata ‘perpisahan’ dengan bibirku. Seandainya, ya hanya seandainya.

Kini semua sudah terjadi. Emosi terlanjur menjadi raja dalam pikiranku saat itu. Aku begitu kalut, saat tak kunjung mendapat kabar darimu. Hatiku terlanjur menangis saat ribuan kemungkinan negatif menyerang otakku. Kemungkinan bahwa kau sengaja menghilang dariku. Kemungkinan bahwa kau sengaja meninggalkanku. Kemungkinan bahwa kau sudah bosan menanggapi prilaku kekanak-kanakanku. Aku memang belum bisa berfikir dewasa, kau benar. Aku masih belum bisa mengontrol emosiku sendiri. Aku menyesal mengatakan ‘selamat tinggal’ padamu sayangku.

Disini, di tempat ini. Aku duduk menengadah ke langit biru. Memohon dengan jerit hati yang tertahan. Mengharapkan kau kembali, menyapaku lagi. Jelas semua hanya khayalan. Kau tak mungkin berada disini, dan menyapaku dengan senyum hangatmu lagi. Goresan luka masih belum kering. Sesak hati masih belum usai. Kini bulir bening tengah mendesak di kedua sudut mataku. Memberontak untuk ditahan dan mengalir bebas menghiasi pipiku. Apa aku terlihat tak tahu diri? Mengharapkan orang yang –dulu- sudah kuusir dengan bibirku sendiri. Apa aku terlihat begitu menjijikan? Mengharapkan kau kembali padaku, saat kau tengah tertawa bersama orang lain.

Aku menangis –lagi-. Aku menangis setiap kali memikirkanmu. Hatiku menahan sesak setiap kali mengenangmu. Walaupun dengan otak sadarku, aku telah berulang kali mengatakan bahwa aku tak boleh menangisi dirimu lagi. Aku masih saja menangis.

Maafkan aku yang tak bisa melupakanmu. Maafkan aku yang masih mengharapkanmu. Maafkan aku yang sering membuatmu kesal karena tingkahku yang berlebihan. Aku menyayangimu –sangat-. Disurat ini, aku ingin kau tahu. Aku akan belajar untuk berfikir dewasa. Aku akan belajar untuk mengontrol emosiku. Aku akan belajar untuk meninggalkan sifat kekanak-kanakanku. Dan saat aku sudah menjadi orang yang lebih baik, mari kita bertemu. Mari kita saling bercerita tentang perjalanan kita selama ini. Dari kepedihan, aku belajar banyak hal. Cinta bukanlah sebuah paksaan. Cinta adalah sebuah rasa nyaman. Sehebat apapun aku meminta padamu untuk kembali padaku, jangan pernah kembali padaku. Kita tak akan merasakan cinta disana. Karena itu hanyalah sebuah paksaan. Dan itu hanya akan membuat kita saling canggung dan tak nyaman. Cinta bukanlah sebuah logika yang bisa ditebak. Kukira, aku bisa melupakan cintaku padamu bagaikan semudah membalikkan telapak tangan. Namun nyatanya? Aku hanya bisa menjerit pilu ketika otakku berusaha mengenyahkan bayangmu dalam hati dan pikiranku. Cinta adalah keikhlasan bukan sebuah keegoisan semata. Aku akan mencoba mengenangmu sebagai sebuah senyuman. Aku tak bisa memaksakanmu untuk kembali bersamaku. Cinta tak harus selalu bertemu, tak harus selalu bersama, tak harus selalu memiliki. Kuharap kau membaca surat ini, kaulah yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Kaulah cinta pertama yang kumiliki. Terima kasih atas kenangan manis yang telah kau lukiskan dengan kuas emas di kanvas kaku hidupku. Berbahagialah, walau bukanlah aku yang menjadi alasan kau bahagia.

Orang yang pernah ada di dalam cerita masa lalumu,

Mega Silfiani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s