DARK SHADOWS [CHAPTER 1]

Title         : DARK SHADOWS   [Chapter 1]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Lee Young Yoo (OC)
  • Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)
  • Find other cast by urself

Genre       : Sad romance, storylife.

Rate         : PG 15

Length     : Chapter (58. 455 characters with spaces)

NB           : Thanks to Widya eonni for your idea. This is for you, eonni. Hope you like this fiction. Sorry for all. Kseluruhan cerita murni milik author. Dilarang keras untuk membalik nama atau menyebar luaskan fiksi ini tanpa izin dari author. Mohon cantumkan alamat blog ini dan izin kepada saya selaku author aslinya, jika anda berkeinginan untuk re-post fiksi ini. Terima kasih sebelumnya. Enjoy reading guys.. Sorry for typo ~-~

cats

Tak ada kehidupan yang berjalan mulus. Seperti sudah menjadi hukum alam. Setiap ada gelak tawa pasti ada isak tangis. Setiap ada kebahagiaan pasti ada kesedihan. Tidak ada yang bisa menebak kapan kehidupannya bahagia dan kapan kehidupannya menjadi sangat menyedihkan. Roda kehidupan tak pernah lelah untuk berputar. Cinta, kilatan kepedihan masa lalu, pengkhianatan. Semua sudah aku rasakan. Apa kalian pikir aku masih mempunyai kekuatan untuk berdiri tegak disaat paru – paruku mulai memberontak untuk menghirup oksigen dengan baik? Apa kalian pikir aku masih bisa mempercayai orang lain setelah terlalu banyak menelan pahitnya dikhianati? Semua punya batasan. Dan kurasa, batas kesabaranku untuk menghadapi dunia ini sudah berakhir. Akankah sebuah gelas yang sudah retak dan pecah berkeping – keping bisa utuh seperti sedia kala lagi? –Youngyoo Lee-

~The Story Is Begin~

“Bagaimana laporan bulan ini? apakah ada peningkatan?” Tanya seorang pria paruh baya dengan suara beratnya. Yang ditanyai hanya menunduk kecewa.

“Maaf pak. Penjualan kita semakin menurun. Banyak konsumen yang memilih untuk membeli Produk elektronik pada Sagwa Corp. ketimbang perusahaan kita.” Jawab seorang perempuan muda dengan nada berhati-hati, takut kalau-kalau pria paruh baya didepannya akan mengamuk.

“Berikan aku laporannya.” Titah pria paruh baya itu. Perempuan muda didepannya terlihat menyerahkan satu map berwarna coklat pucat, didalamnya berisi grafik laporan penjualan. Tak lama tangan pria paruh baya itu terlihat mengepal.  Ia meremas kertas-kertas laporan itu lalu melemparnya kearah perempuan didepannya . Perempuan tersebut hanya bisa terbengong kaget dengan perlakuan tidak sopan dari pria paruh baya didepannya. Ia segera merapikan kertas-kertas itu dan memasukannya kembali kedalam map, seperti sebelumnya. “Keluar!” titah pria itu lagi. Perempuan muda itu terlihat mengangguk. Dengan langkah tergesa-gesa ia meninggalkan ruangan tersebut. Pria paruh baya itu terlihat memejamkan matanya ketika perempuan muda tadi sudah menghilang dibalik pintu ruangannya. Pria itu terlihat menghirup nafas dengan ritme yang berantakan. Lalu menghembuskannya dengan kasar. bayangan masa lalu itu datang lagi. Tak bisa dipungkiri, ia masih menyimpan segudang kebencian kepada orang yang kini tengah menjadi lawan bisnisnya. Ia berusaha mengenyahkan semua bayangan itu. Pikirannya kali ini sudah cukup buruk, akibat perusahaannya yang semakin mengalami kemunduran. Ia tidak perlu menambahkan beban pikiran lagi kan? Namun bayangan itu tetap berputar dalam memorinya. Menimbulkan kembali percikan api kebencian yang seolah tak pernah surut dari hatinya.

-Flashback-

18 years ago

“Orang yang aku cintai adalah Lee Young Jae. Bukan dirimu.” Ucap seorang gadis dengan nada pelan. Ditambah lagi suaranya yang terdengar parau. Seorang laki-laki muda terlihat memdelikkan matanya ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan sang gadis. Mata tersebut berkilat penuh amarah. Lebih menyeramkan ketimbang tatapan seekor serigala buas. Sang gadis lebih memilih tanah sebagai pandangannya kali ini. ia terlalu takut menatap namja didepannya. Nafas namja itu mulai berantakan. Aliran darahnya seakan berlomba untuk keluar dari lapisan kulitnya. Ia merasa akan ada bulir bening yang lolos dari matanya. Sebisa mungkin, namja itu menghalangi hal tersebut agar tidak terjadi. Sakit yang lebih pedih dari apapun kini tengah menerjang tubuhnya habis-habisan. Ia merasa sudah tak punya tenaga lagi untuk sekedar menopang dirinya agar mampu berdiri.

“Haruskah dia? Kau tahu kan jika dirinya adalah sahabatku? Bagaimana mungkin aku kalah dengannya?” Tanya namja itu miris. Sang gadis terlihat menggigit bibir bawahnya. Merasa ketakutan yang luar biasa menerpa batinnya. Ia takut jika dirinya menjadi penghancur persahabat orang yang ia sayangi.

“Aku minta maaf. Aku hanya berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. aku tidak mencintaimu, Kim Jong Wook. Aku mencintai Lee Young Jae. Aku mohon, hargai perasaanku.”

“Apa kau bilang? Menghargai perasaanmu? Lalu bagaimana denganku, hah?”

“Jika kau benar-benar mencintainya setulus hati, kau akan mebiarkan dirinya bahagia dengan laki-laki pilihannya, hyung.” Terdengar suara seorang namja yang sudah akrab ditelinga Jong Wook dan gadis yang kini mengobrol dengannya. mata sang gadis terbelalak ketika melihat sosok itu.

“Young Jae oppa..” ucap gadis itu tak percaya.

“Cinta tak harus memiliki hyung. Mengertilah.” Ucap youngjae. Dilihat olehnya tangan jongwook mengepal.

Jongwook tersenyum miring. Matanya menatap dua makhluk yang membuatnya patah hati kali ini. “Kau bisa mengatakan hal itu karena dia memilihmu. Kau tidak bisa mengerti posisiku, youngjae-ya. Pengkhianat kau!” ucap jongwook penuh penekanan disetiap katanya. Mata jongwook kembali berkilat, seolah ingin menelan kedua sosok dihadapannya hidup-hidup.

“Hyung.. kumohon jangan seperti ini. aku tidak mau hubungan kita rusak hanya karena masalah ini.”

“Kalau begitu, tinggalkan gadis ini. tinggalkan Shin hyerin.” ucap jongwook kemudian. Ia menatap gadis yang bernama hyerin itu dengan tatapan intens.

“Hyung-ah..” youngjae terlihat hendak mengajukan protesnya.

“Wae?” Tanya jongwook datar.

“Aku juga mencintainya hyung. Aku tak bisa melakukan apa yang kau pinta.” Tolak youngjae dengan raut wajah suram. Sesungguhnya ia tak mau persahabatannya dengan Jongwook hancur, namun ia juga tak ingin meninggalkan hyerin. Gadis itu sudah menjadi candu baginya. Ia merasa gadis itu adalah jenis narkoba yang membuatnya ketagihan untuk terus melihatnya. Terus mendambanya. Dan berusaha memilikinya.

“Sudah kuduga. Kau lebih memilih menghancurkan persahabatan kita ketimbang meninggalkan gadis ini.”

“Bukan begitu hyung. Kau seharusnya mengerti tentang ini.”

“Kau memintaku untuk mengerti? Lalu apa kau mengerti dengan perasaanku?” Tanya jongwook dengan nada menyindir.

“Jongwook oppa kumohon jangan bersikap seperti ini. kau boleh membenciku, tapi jangan membenci Youngjae oppa. Kumohon, jangan biarkan persahabatan kalian hancur karena diriku. Kumohon oppa. Mengertilah..” kini hyerin mulai mengeluarkan suaranya lagi.

“Diam kau gadis sialan!” caci jongwook diujung kekesalannya.

“Hyung, jaga ucapanmu itu!” bentak youngjae tak terima dengan perlakuan jongwook kepada wanita yang ia cintai itu. Hyerin yang mendapat cacian itu berusaha sekuat hati untuk tidak menangis. Namun ia gagal. Hyerin terlihat memerosotkan dirinya. Kini ia berlutut dihadapan jongwook. Youngjae yang melihat hal itu langsung menarik gadisnya untuk bangkit. Namun hyerin menolaknya. Hyerin masih berlutut dihadapan jongwook. Ia bertekad baru akan berdiri jika jongwook memaafkannya. Air mata lolos mengalir dari mata indahnya.

“Kumohon maafkan aku. Kumohon jangan membuatku menjadi orang paling jahat karena menghancurkan persahabatan kalian. kumohon.” Ucap gadis itu memelas. Jongwook terlihat mengalihkan pandangannya. ia tak mau jika harus menatap gadis dihadapannya. Ia masih mencintai hyerin. Ia yakin hatinya akan luluh jika hyerin melakukan hal seperti itu.

“Bangun.” Titah jongwook datar. Hyerin mendongakkan kepalanya. Berusaha menatap jongwook, mencari jawaban atas perkataan jongwook barusan. Hyerin menghapus jejak air matanya, lalu bangkit berdiri. “Aku belum memaafkanmu. Bahkan kurasa sampai kapanpun aku tak akan bisa memaafkan kalian.” jelas jongwook, hyerin dibuat terperangah karenanya. “Kalian berdua sama-sama brengs*k! baj*ngan! Aku tak akan pernah memaafkan kalian. kalian adalah pengkhianat.” Ucap jongwook dengan penuh rasa kesal. Youngjae dan hyerin hanya menatapnya kaget. Tak menyangka jika namja dihadapan mereka sangat keras kepala.

“Oppa.. kau..” ucap hyerin tak percaya. Mata jongwook berkilat. Hyerin menelan liur payah karenanya. Jongwook melangkahkan kakinya pergi meninggalkan hyerin dan youngjae. Tiba-tiba ia membalik badannya.

“Aku akan membalas perlakuan kalian. cepat atau lambat. Dan kau hyerin, akan kupastikan kau menyesal tidak memilihku.” Ucap jongwook mengancam. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi dari hadapan hyerin dan Youngjae.

-Flashback end-

“Ada apa kau menelponku tadi, tuan Kim Jong wook?” tanya seorang laki-laki yang mempunyai badan kekar dengan otot mengerikan disekujur badannya. Jongwook tersenyum tipis.

“Aku ingin memberikanmu pekerjaan.” Jawab jongwook tenang. Laki-laki berotot didepannya terlihat tersenyum.

“Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan bayarannya? Aku tidak menerima bayaran murah.” Ucap laki-laki berotot itu diikuti dengan senyum gembira yang lolos dari bibirnya.

“Aku tahu akan hal itu. Kau tidak usah khawatir. Kau hanya perlu melakukan pekerjaan ini dengan rapi dan bersih.”

“Baiklah. Apa pekerjaanku?” tanya laki-laki berotot itu nampak tak sabar. Jongwook terlihat mengulas senyum dibibirnya.

*****

“Kami akan terus mengusut penyebab kebakaran ini tuan lee.” Ucap seorang polisi yang berada dilokasi kejadian. “Dugaan sementara karena konsleting listrik.” Ucapnya lagi. Yang dipanggil tuan Lee hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia kini menatap miris kearah gedung produksi yang telah rata oleh tanah. Hanya tinggal puing-puing tak berarti disana.

“Baiklah. Terima kasih. Aku akan menunggu laporan selanjutnya dari dirimu.” Sahut tuan Lee.

“Kami permisi dulu. Sementara ini, kami akan memasang police line disekitaran daerah ini.” ucap pria dengan seragam polisi itu lagi. Yang menjadi lawan bicaranya hanya mengangguk pelan. Mungkin ia merasa syok yang teramat akibat kejadian yang baru saja menimpanya ini. Gedung milik perusahaan Sagwa Corp terbakar habis. Dengan sadisnya sang jago merah itu melahap semua benda yang ada ditempat itu. Untungnya tak ada korban akibat kebakaran ini. Seorang gadis muda terlihat berlari tergesa-gesa menghampiri pria paruh baya yang dipanggil tuan Lee tadi.

“Appa!” serunya ketika ia sudah berada tepat disamping pria paruh baya itu. Ia terlihat memeluk ayahnya erat. Sang ayah terlihat mendekap putri satu-satunya itu dengan erat. Seakan takut kehilangan putrinya sama seperti ia kehilangan gedungnya saat ini. “Appa, apa yang sebenarnya terjadi?” Gadis tadi mendongak melihat wajah ayahnya yang semakin menua. Sang ayah terlihat tersenyum tipis.

“Gedung kita terbakar habis young yoo-ya..” ucap sang ayah pelan. Gadis itu mengedarkan pandangannya kesekeliling. Benar-benar tak ada yang bisa diselamatkan kali ini.

“Lalu bagaimana dengan perusahaan appa?” Tanya gadis itu merasa khawatir tentang perusahaan ayahnya. Bagaimana tidak? Hampir separuh hidup ayahnya ia habiskan untuk membangun usahanya ini. namun kini? Bagaikan sebuah sihir hebat. Semuanya terancam hilang, musnah tak berbekas.

“Kau tidak usah khawatir. Ayah akan mencoba mencari investor baru untuk mendanai perusahaan kita. Lagipula kita akan mendapatkan dana asuransi. Ya, walaupun jumlahnya tak seberapa.”

“Appa!” panggil gadis itu lagi. Ayahnya kembali menatap putrinya itu, lalu berdehem pelan. “Aku berjanji, jika aku telah lulus SMA dengan nilai yang bagus. Aku akan kuliah dengan baik dan membantu ayah menjalankan bisnis ayah ini. aku janji!” ucapnya kemudian dengan suara lantang yang ia punya. Sang ayah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya itu.

“Baiklah appa akan menunggumu menepati janjimu itu.”

“Ne!” ucap gadis itu riang.

*****

“Apa perkembangan hari ini?” Tanya presdir Lee begitu sampai didepan sekertaris pribadinya.

“Buruk presdir.”

“Maksudmu?”

“Ada banyak pelanggan yang mengajukan komplen karena ponsel keluaran terbaru kita mengalami beberapa kerusakan fatal. Seperti layar ponsel itu sangat mudah tergores, padahal kita sudah merancanganya tahan terhadap goresan pisau sekalipun. Lalu mengenai fitur yang ada diponsel tersebut, semua fitur disana jauh dari apa yang telah kita iklankan di beberapa media komunikasi. Banyak dari mereka yang meminta agar uang mereka dikembalikan sepenuhnya. Juga meminta uang kompensasi atas kekecewaan mereka terhadap produk kita. Jika tidak, mereka akan melaporkan kita ke kantor polisi atas tuduhan penipuan.” Tutur sang sekertaris. Presdir Lee terlihat mengacak rambutnya frustasi. Masalah tentang kebakaran gedunganya saja belum terselesaikan. Lalu kini hadir masalah baru? Yatuhan, ia benar-benar tak bisa berpikir apapun lagi kini. Otaknya serasa terkena serangan strok mendadak, tak bisa berpikir rasanya.

“Katakan kepada mereka semua, kita akan mengembalikan uang mereka beserta uang kompensasi yang mereka ingin kan.” Ucap Presdir Lee.

“Maaf presdir, kas kita sudah menipis. Uang hasil penjualan telah kita gunakan untuk membeli bahan baku produksi, membayar gaji para karyawan dan beban- beban lainnya. Ini laporannya presdir.” Sanggah sekertaris tersebut sembari memberikan sebuah map berwarna merah hati kepada Presdir Lee. Presdir Lee membaca laporan pengeluaran kas yang ia terima tadi. Dengan mata membulat ia meneliti setiap nominal yang tertera disana.

“Masih banyak gaji karyawan serta beban- beban yang belum dibayar?” Tanya presdir Lee heran.

“Benar Presdir, Pihak asuransi hanya memberikan uang asuransi untuk pembangunan gedung kembali. Nominalnya pun tidak mencukupi. Belum lagi kita menumpang proses produksi di gedung lain. Kita juga harus membayar sewa gedung tersebut.” Lanjut sang sekertaris tadi.

“Undang semua anggota  direksi, kita akan mengadakan rapat dadakan untuk membahas masalah ini.” titah Presdir Lee.

“Baiklah presdir. Aku mengerti.” Jawab sang sekertaris, lalu disibukan dengan tugas yang baru saja ia dapatkan tadi.

*****

“Bagaimana? Apa kita sudah mendapatkan suntikan dana dari investor?” Tanya Presdir Lee dengan raut wajah cemas. Sang sekertaris didepannya terlihat menggelengkan kepalanya lemah.

“Semua investor membatalkan investasi mereka Presdir.” Ucap sekertaris itu pelan. Presdir Lee terlihat membulatkan mata mendengarnya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya heran.

“Mereka sudah menganggap nama Perusahaan kita buruk didepan masyarakat. Konsumen kita terus saja mendesak agar kita memberikan uang mereka. Banyak masyarakat yang sudah tak percaya lagi dengan produk kita. Apa yang harus kita lakukan?”

“Siapkan mobil untukku. Aku akan pergi menemui Para investor itu secara pribadi. Aku akan mencoba untuk meminta mereka agar tetap menginvestasikan uang mereka kepada kita.”

“Anda akan pergi sendiri kesana? Apakah tidak sebaik ada yang menemani anda Presdir?” Tanya sekertaris itu. Presdir Lee hanya tersenyum, lalu mengenggelengkan kepalanya. Sekertaris tersebut mengerti apa yang diperintahkan kepadanya. Saat hendak melangkahkan kakinya keluar ruangan. Suara Presdir Lee kembali terdengar memanggil sekertaris tersebut.

“Sekertaris Jang, tunggu sebentar.” Seru Presdir Lee, sang sekertaris itu menoleh dan menatap Presdir Lee –lagi-

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Presdir?” Tanya sang sekertaris sopan.

“Tolong hubungi istriku. Suruh ia datang ke kantor ku sekarang. aku akan mengajaknya menemui para investor itu.” Ucap presdir Lee kemudian. Sekertaris Jang hanya mengangguk paham, lalu melangkah meninggalkan ruangan Presdir Lee.

*****

“Yeobo-ya kau kelihatan lelah sekali. Kantung matamu semakin jelas terlihat. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Masih ada hari esok untuk menemui para investor itu.” Ucap nyonya Lee dengan nada khawatir yang sangat kentara. Kini mereka berdua –Presdir Lee dan Istrinya- sedang berada di ruangan Presdir Lee. Baru saja lima menit yang lalu sang istri menginjakkan kakinya di ruangan ini.

“Aku tidak bisa. Aku takut mereka akan menginvestasikan uang mereka kepada orang lain. Kita sedang butuh banyak dana saat ini.” Jelas Presdir Lee pelan. Jujur saja, dalam hatinya ia juga ingin sekali beristirahat. Ia terlalu lelah dengan masalah bertubi-tubi seperti ini. Lagipula, hal seperti ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama berlangsung. Hal ini sangat mengancam perusahaan yang ia telah bangun selama bertahun-tahun lamanya.

“Baiklah. Kau memang pekerja keras. Kita berangkat sekarang?” Tanya sang istri lembut. Presdir Lee hanya mengangguk seraya mengukir senyum tipis diwajahnya. Dengan langkah cepat mereka berdua meninggalkan ruangan itu dan keluar dari Kantor Lee Corp. Didepan mereka kini telah terdapat sebuah mobil audy berwarna silver. Dengan gerakan cepat keduanya telah memasuki mobil tersebut. Mereka pun pergi mengendarai kendaraan tersebut. Suasana jalanan kota seoul yang padat mulai mengisi pengelihatan mereka berdua.

*****

“Istriku bagaimana jika nantinya aku jatuh miskin? apa kau akan menyesal telah memilihku?” Tanya Presdir Lee pelan kepada istrinya di perjalanan menuju rumah salah satu investor mereka. Sang istri terlihat tersenyum menanggapinya.

“Jika aku memang hanya menginginkan harta. Aku akan menikahi orang lain yang lebih kaya dari dirimu. Masih banyak yang lebih kaya dari dirimu. Kau tahu kan?” ucap istrinya. Presdir Lee hanya menggangguk menanggapinya. Ia menatap istrinya. “Aku memilihmu karena aku memang mencintaimu. Bukan karena kau adalah orang kaya. Aku memilihmu karena kau adalah dirimu, kau adalah Lee Young Jae. Satu-satunya orang yang kucintai. Hanya dirimu yang kuinginkan. Percayalah..” ucap istrinya lagi. Dengan nada menyakinkan Presdir Lee. Presdir Lee terlihat tersenyum puas. Ia mengecup tangan istrinya. Dan lupa bahwaa ia dalam keadaan menyetir. “Yeobo-yaa didepan kita ada truk besar!!!” teriak sang istri ketika melihat truk dari arah berlawanan dengan kecepatan besar melaju kearah mereka. Dengan panik Presdir Lee membanting stir kearah kanan. Naasnya disebelah kanan dan kiri mobil mereka adalah jurang dengan ketinggian mengerikan. Saat itu juga mobil mereka terjatuh kejurang tersebut. Truk tadi segera melarikan diri secepat yang ia bisa. Tak mau jika harus berurusan dengan kantor polisi. Jalanan kali ini sangat sepi. Tak ada pemukiman disekitar lokasi kejadian. Presdir Lee dan istrinyapun tewas seketika. Dengan darah segar yang terus keluar melalui celah-celah luka mereka.

*****

“Eommaaaa… Appaaa… ireona jebal! Ireonaseyo..” isak tangis terus terdengar dari bibir gadis cantik bernama Lee Young Yoo ini. Dengan air mata yang mengalir deras di pipinya ia terus saja memeluk jasad kedua orang tuanya. Orang – orang disekitar terlihat menatap miris kearah youngyoo. Langkah polisi terus saja berseliweran. Seolah menjadi background bahwa baru saja terjadi kecelakaan ditempat ini.

“Youngyoo-ya.. ayo kita pulang. Biar polisi yang mengurus jasad kedua orang tuamu.” Ucap seorang wanita, yang tak lain adalah adik dari ibu youngyoo.

“Aku tidak mau ahjumma… aku tidak mau! Aku ingin menemani eomma dan appa. Aku tidak mau meninggalkan mereka ahjumma!” teriak youngyoo frustasi.

“Youngyoo-ya mereka sudah meninggal. Mereka sudah tenang dialam sana. Jangan membuat mereka khawatir karena kelakuanmu yang seperti ini.” Ucap wanita itu lagi.

“Youngyoo-ya yang diucapkan oleh istriku itu benar. Ayo kita pulang.” Kini muncul suara suami dari wanita tadi.

“Mereka belum meninggal! Mereka pasti akan sembuh. Kalian jangan berbicara yang tidak-tidak. Aku benci kalian!” teriak youngyoo kesal. Ia masih saja memeluk kedua jasad orang tuanya yang sudah bersimbah darah. Terdengar derap langkah menghampiri mereka bertiga. Seorang polisi kini tengah berdiri dihadapan mereka.

“Kalian keluarga dari korban?” tanyanya kemudian.

“Ne, kami adalah keluarganya. Aku adalah adik dari korban . Dan itu adalah anaknya. Dia kelihatan terpukul sekali dengan kejadian ini.” Ucap sang bibi sembari menolehkan kepalanya menatap youngyoo yang masih saja menangis.

“Hal ini wajar. Ia pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Kami akan terus mengusut kasus ini. Sangat disesali tidak ada saksi yang melihat kejadian ini. Namun kami akan melakukan pengusutan lebih lanjut. Semoga saja ada hal yang bisa kami jadikan petunjuk.” Ucap sang polisi, lalu bergegas pamit dan menjalankan tugasnya lagi.

“Youngyoo-yaa..” ucap sang bibi dan paman young yoo terdengar bersamaan. Youngyoo menatap tajam kearah mereka berdua.

“Jangan paksa aku untuk pulang!” ucap youngyoo kasar.

*****

Seminggu kemudian.

“Apa youngyoo masih belum mau makan?” tanya paman youngyoo pada istrinya. Sang istri hanya menggelengkan kepalanya.

“Dia itu sangat keras kepala. Aku hampir saja mati karena mengurus dirinya. Aku bisa stress jika seperti ini terus yeobo-ya… aku lelah harus mengurus bocah menyebalkan itu.” Ungkap sang istri.

“Bukankah besok ia harus menghadiri acara graduation disekolahnya?”

“Iya. Dan sepertinya ia tidak akan mau hadir. Untuk keluar kamar saja ia enggan. Apalagi untuk menghadiri acara itu. Hah, anak itu.” Ucap sang istri, lalu menghembuskan nafas berat. “Oh ya, bagaimana dengan surat warisan keluarga ini? Apakah kita juga dapat bagian?” tanya sang istri kemudian. Jelas terlihat raut wajah berseri-seri tercetak diwajahnya. Suaminya hanya menghembuskan nafas pelan.

“Sepertinya kakakmu itu lupa denganmu. Di surat warisan itu hanya tertulis Lee Young Yoo sebagai pewaris tunggal.” Ucap sang suami pelan. Istrinya terlihat membulatkan mata.

“Apaa?? Bagaimana bisa? Tidak ada nama kita sama sekali di surat warisan itu? Kalau begitu sia-sia saja usaha kita selama ini. dan untuk apa kita merawat bocah keras kepala itu.” Tanya sang istri heran. Suaminya hanya menggelengkan kepala tak mengerti.

“Kita hanya bisa memiliki harta itu sampai usia YoungYoo 20 tahun. Di surat itu tertera, semua harta akan dilimpahkan ketika youngyoo sudah berusia 20 tahun. Dan saat ini anak itu baru berusia 18 tahun. Kita masih menjadi wali atas anak itu.” Jelas sang suami.

“Benarkah?” Tanya sang istri penasaran. Sang suami hanya menjawab dengan deheman pelan. “Bagaimana jika dia menghilang sebelum usia 20 tahun?” ucapnya lagi. Sang suami terlihat mengerutkan keningnya bingung.

“Maksudmu apa? Aku tidak mengerti.” Ucap sang suami dengan tatapan bingung. Sang istri hanya menyunggingkan senyum miring miliknya.

“Bagaimana kalau kita menyingkirkan anak itu saja. Anak itu tidak berguna, bagaimana?” ucap sang istri pelan tapi pasti. Hal itu jelas membuat sang suami membulatkan matanya kaget. Merasa tidak percaya dengan jalan pikiran sang istri.

“Kau gila! Dia itu keponakanmu. Bagaimana bisa kita menyingkirkan anak itu?”

“Kau itu bodoh atau apa? Kau mau kita terus-terusan hidup susah seperti ini? Mereka semua sudah tidak ada. Ini saatnya bagi kita untuk mengalihkan harta mereka.”

“Tapi…”

“Sudahlah, kau ikuti saja apa yang aku katakan. Kita akan membuang anak itu kesuatu tempat. Dan aku sudah tau kemana aku akan membuang anak itu. Gadis cantik itu tidak akan sia-sia jika kita memanfaatkannya dengan baik.”

“Bagaimana jika pengacara keluarga ini menanyakannya?”

“Kita katakan saja bahwa ia pergi dari rumah karena frustasi sepeninggal kedua orang tuanya. Jangan terlalu memusingkan hal-hal yang tidak seharusnya kau pikirkan. Ikuti saja semua yang aku katakan. Aku sudah bosan menjadi orang miskin terus. Aku juga ingin merasakan bagaimana jika aku menjadi nyonya besar. Hahahaha…”

“Perusahaan suami kakakmu itu sudah hampir bangkrut.”

“Aku tahu akan hal itu. Kemarin lusa, ada seorang pria yang berbincang denganku tentang hal itu. Ia bilang, ia bersedia membeli perusahaan itu dengan harga mahal. Selepas kita membuang anak sialan itu dan mendapatkan uang atas penjualan perusahaan. Kita akan memulai hidup baru sebagai milyader. Membayangkannya membuatku sangat gembira.”

“Kau menyetujui penjualan perusahaan itu?”

“Iya. Aku sudah menandatangani semua berkas- berkas itu.”

“Bagaimana jika youngyoo tahu akan hal ini?”

“Kau tidak usah khawatir. Sebentar lagi kita akan membuang bocah itu jauh dari kita.”

“Kau ingin membuangnya kemana?”

“Nanti kau juga akan tahu. Tunggu saja.” Ucap sang istri, lalu pergi meninggalkan sang suami yang masih terheran dengan sikap sang istri. Ia merasa istrinya kali ini benar- benar dibutakan akan harta. Namun, ia juga tak memungkiri bahwa ia memiliki pemikiran yang sama dengan istrinya itu.

*****

“Youngyoo-ya.. ahjumma ingin berbicara denganmu. Boleh aku masuk?” ucap sang bibi meminta izin untuk masuk ke kamar youngyoo. Youngyoo terlihat menatap pintu kamarnya.

“Masuk saja.” Ucap youngyoo kemudian. Merasa sudah mendapatkan izin. Sang bibipun masuk kedalam kamar keponakannya itu. Ia melihat youngyoo sedang membaringkan badannya di tempat tidurnya.

“Ini sudah satu bulan setelah kepergian orang tuamu. Kau juga sudah dinyatakan lulus dari SMA. Ahjumma ingin mengirimmu ke Jepang untuk melanjutkan sekolahmu. Bagaimana? Kau mau kan?” ucap sang bibi dengan senyum merekah di  bibirnya. Youngyoo terlihat mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan sang bibi. “Aku tahu, kau ini sudah lama ingin sekolah di Jepang. benar bukan? Aku hanya ingin membantu mewujudkan keinginanmu itu.”

“Aku tidak bisa pergi dari sini. Banyak yang harus aku lakukan disini. Aku harus kembali mengurus perusahaan ayah.” Ucap youngyoo datar. Sang bibi terlihat gelagapan ketika youngyoo mulai menyinggung tentang perusahaan ayahnya.

“Kau tidak perlu khawatir tentang Perusahaan ayahmu. Ahjussi sudah mengurus semuanya.”

“Bagaimana bisa? Terakhir kali kudengar perusahaan ayah mengalami banyak kemunduran. Aku harus melihat kantor ayah sekarang.”

“Ah youngyoo-ya, kau tidak perlu melakukan hal itu. Perusahaan ayahmu baik-baik saja. Percayalah.. lebih baik sekarang kau membereskan pakaianmu. Karena besok akan ada seseorang yang diutus sekolah barumu untuk menjemput dirimu.” Ucap sang bibi lalu mengelus lembut rambut youngyoo.

“Mengapa begitu mendadak?” tanya youngyoo heran.

“Ah bukan begitu. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik bagimu. Aku tidak mau kau terlalu lama berdiam diri disini. Dan terus saja teringat dengan kenangan ayah dan ibumu. Lagipula setelah kau kembali dari jepang kau bisa mengurus perusahaan ayahmu itu.” Ucap sang bibi meyakinkan youngyoo. Youngyoo terlihat menatap sang bibi ragu. Namun ia tidak mungkin mencurigai keluarganya sendiri. Lagipula, yang merawat ia selama ini adalah bibinya. Bagaimana mungkin ia curiga?

“Baiklah. Aku mengerti.” Ucap youngyoo menurut. Sang bibi terlihat tersenyum puas.

“Aku pergi dulu. Ah iya, makan makananmu ini ya. Jangan sampai besok kau sakit.” Ucap sang bibi perhatian. Youngyoo hanya menganggukan kepalanya malas.

*****

“Ahjussi, kurasa ini bukanlah arah menuju bandara.. kemana kita sebenarnya?” tanya youngyoo ketika ia melihat arah laju mobil yang ia naiki tidak menuju ke bandara. Supir mobil tersebut mengerutkan kening. Bingung dengan pertanyaan gadis di belakangnya.

“Kita memang tidak akan pergi ke bandara nona.” Ucap sang supir, masih tetap menatap lurus kedepan.

“Bukankah kita akan ke Jepang?” tanya youngyoo lagi. Sang supir kali ini hanya menganggukan kepalanya. “Kita tidak menggunakan pesawat untuk pergi kesana?” tanya youngyoo heran.

“Tentu saja tidak. Kita akan menaiki kapal laut untuk pergi ke Jepang.” Jawab supir tersebut. Youngyoo merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.

“Ahjussi, apa benar kau adalah orang yang diutus Universitas Japan national untuk menjemputku?” tanya youngyoo penasaran. Sang supir kembali mengerutkan keningnya. Ini sama sekali bukan tugasnya.

“Maaf nona. Aku tidak bisa memberitahumu. Aku hanya disuruh untuk menjemputmu.  Sebaiknya kau tidak usah terlalu banyak bertanya. Semua pertanyaanmu akan terjawab sesampainya kita ke Jepang.” Jelas sang supir. Ia sungguh tidak bisa membocorkan tugasnya saat ini.

“Ahjussi jangan main-main dengan semua ini. Beri tahu aku sekarang, kita akan kemana?” tanya youngyoo kini dengan nada khawatir yang kentara terlihat.

“Maaf nona aku tidak bisa.” Tolak supir tersebut.

“AHJUSSSIIII!!!!”

*****

‘Plak’ sebuah tamparan kasar berhasil mendarat dengan sempurna di wajah mulus young yoo. Seorang pria gagah tengah berdiri didepannya. Ia menatap pria itu takut. Pria tersebut memberikan young yoo sebuah kotak berwarna merah marun yang didalamnya terdapat sebuah gaun ‘minim bahan’ yang membuat young yoo menolak memakainya.

“Jangan banyak membantah! Aku sudah membayarmu mahal!” ucap pria itu garang. Young yoo menatapnya kaget.

“Maksudmu? Membayar mahal?”

“Iya. Aku sudah memberikan uang banyak kepada bibimu itu. Sekarang kau adalah milikku. Sudah ada pelanggan yang menunggumu! Cepat pakai pakaian itu, dan lekas keluar menemui pelangganmu itu. Jangan membuat mereka menunggu lama.” Ucap pria itu dengan mata berkilat kesal.

“Pelanggan? Apa maksudmu? Aku ke Jepang untuk bersekolah. Kau salah orang rupanya tuan.” Bantah young yoo. Hal itu membuat pria didepan sang gadis tak segan menjambak raambut gadis itu. Young yoo terlihat meringis menahan sakit akibat perlakuan sang pria didepannya.

“Namamu Lee Young Yoo. Bibimu sudah menjualmu untuk dijadikan pelancur! Kau puas?” ucap pria tadi tegas. Seketika young yoo membeku. Ia tak menyangka sang bibi akan setega ini padanya. Ia merasa pandangannya mengabur. Ia merasa nyawanya seakan terbang saat kata-kata tak terduga tadi meluncur dari pria didepannya. “Kuberi waktu 15 menit! Cepat kenakan pakaian itu dan keluar dari ruangan ini. Jangan membuatku merasa rugi karena membeli barang tak berguna sepertimu.” Ucap pria itu lagi. Masih dengan raut wajah menyeramkan miliknya. Young yoo menangis sejadi-jadinya saat pria itu pergi meninggalkannya. Ia terlihat mengacak rambutnya frustasi. Mengapa nasibnya semalang ini? isak tangis terdengar jelas dari bibir youngyoo.

“Aku bukan pelacur! Ahhhhkkkk….” Teriak youngyoo diikuti dengan air mata yang mengalir melewati pipi mulusnya. “Appaa.. eomma tolong aku. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut, kumohon tolong aku!” ucap young yoo dengan bibir bergetar. Ia takut jika nasibnya harus berubah menjadi seorang pelacur. Ini menjijikan! Memuakan! Tiba-tiba terdengar suara derap langkah seseorang. Youngyoo merapatkan dirinya ketembok dibelakangnya. Ia takut jika langkah kaki itu adalah milik pria garang tadi. Seorang wanita berparas cantik terlihat dibalik pintu tersebut. Untunglah bukan lelaki itu, pikir young yoo dalam hatinya. Wanita tersebut melangkah mendekati young yoo setelah menutup pintu ruangan yang tadi ia buka.

“Kau belum memakai pakaianmu?” Tanya wanita itu lembut. Ia menatap young yoo dengan tatapan kasihan.

“Aku tidak mau memakainya! Itu bukan pakaianku!” ucap young yoo dengan nada membentak. Wanita tadi hanya menghela nafas berat. Ia tahu bagaimana perasaan gadis di depannya kini. Young yoo pasti sangat tergoncang menerima kenyataan ini.

“Pakailah. Kalau tidak dia akan memukulimu lagi.” Ucap wanita itu lagi. Young yoo terlihat bergidik ngeri mendengar ucapannya. Namun, ia masih bersikukuh tidak akan mengenakan pakaian itu. “Ayolah, kita tidak mempunyai banyak waktu. Aku harus merias wajahmu itu. Terlalu banyak luka lebam disana, hm?”

*****

“Sebentar!” ucap youngyoo ketika ia dan wanita tadi hendak keluar dari ruangan. Wanita itu terlihat meremas tangan youngyoo sembari tersenyum lembut.

“Kenapa hm? Kau takut?” Tanya wanita itu ketika merasakan suhu tubuh young yoo yang dingin. Young yoo hanya mengangguk gugup. Wanita itu tersenyum lagi, memahami perasaan young yoo. Dulu saat pertama kali ia bergabung dengan dunia kelam ini. ia juga merasakan hal yang kini tengah dirasakan young yoo. “Jangan takut. Kau akan baik-baik saja. Ikuti aku, pasang wajah manismu. Jangan pasang tampang seperti itu.” Ucap wanita itu. Young yoo menatap wanita itu kesal.

“Untuk apa aku harus bermanis-manis dengan mereka? Aku tidak mau.” Tolak young yoo

“Lakukan saja. Ini demi keselamatanmu.” Ucap wanita itu lagi. Dilihat olehnya young yoo tersenyum miris. Young yoo merasa bulir bening itu mendesak untuk keluar dari matanya. “Tidak usah menangis.” Sambung wanita itu ketika melihat mata young yoo.  Young yoo berusaha untuk tidak mengeluarkan bulir bening itu. Langkah kakinya mulai mengikuti wanita yang kini berjalan didepannya. Ia tak tahu dan tak peduli kemana arah langkah kaki ini. ia sudah terlalu lelah untuk melakukan penolakan.

Mereka berdua sampai disebuah pintu. Young yoo tidak tahu itu ruangan apa, mungkinkah itu ‘ruang kerja’nya? Entahlah ia muak memikirkan hal itu. Wanita tadi terlihat meraih kunci di saku jaketnya. Kemudian dengan gerakan cepat wanita itu membuka pintu didepan mereka. Young yoo terbelalak kaget ketika tahu bahwa itu adalah pintu keluar dari tempat laknat yang kini ia pijaki. Ia menatap wanita tadi ragu. Wanita itu terlihat kembali tersenyum. “Pergilah. Kau tidak ingin menjadi pelacur kan?” ucap wanita itu. Tak sadar young yoo menangis terharu karenanya. Wanita ini tidak seburuk yang ada dipikirannya. Wanita itu memberikan jaket yang ia kenakan kepada young yoo. “Pakai ini. Cepat pergi sebelum dia menemukan kita. Cepat.” titah wanita itu. Young yoo terlihat mengangguk paham, ia mengenakan jaket itu dengan cepat.

“Aku sangat berterima kasih kepadamu. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa.” Ucap young yoo dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.

“Cukup hidup dengan baik. Dan jangan sia-siakan apa yang sudah aku korbankan untukmu. Cepat pergi.” Ucap wanita itu. Young yoo mulai melangkahkan kakinya. Ia tak tahu kali ini ia akan pergi kemana. Yang jelas ia akan pergi jauh meninggalkan tempat laknat ini. Wanita tadi menutup pintu keluar tersebut dan kembali masuk kedalam tempat laknat itu lagi.

*****

“Kemana perginya gadis itu, minri-ya? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk meriasnya? Sekarang kemana dia?” Tanya pria garang bertubuh besar itu pada istrinya. Wanita yang menjadi lawan bicaranya terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan sang suami.

“Gadis mana?” sang istri malah balik bertanya. Hal itu sontak membuat sang suami merasa curiga, karena sedari tadi hanya ada satu gadis yang masuk ke tempat ini. gadis itu adalah Young Yoo.

“Jangan berpura-pura bodoh, minri-ya!” bentak sang suami dengan suara yang membuat bulu kuduk meremang hebat.

“Oh young yoo maksudmu?” Tanya sang istri kemudian, tak lupa cengiran menghiasi wajah cantiknya. Sang suami hanya berdehem pelan. “Tadi ia meminta izin untuk ke toilet.” Ucap minri. Sang suami menatap lekat sang istri.

“Kau membiarkannya sendirian? Bagaimana jika ia kabur? Dasar bodoh!” bentak sang suami –lagi-lagi- pada istrinya. Tangan sang suami terlihat menjambak rambut sang istri. “Jangan pernah berbohong padaku, minri-ya! Aku sudah hafal gelagatmu jika sedang berbohong! Kemana dia? Jawab aku dengan jujur!” sang suami terlihat menampar sang istri hingga sudut bibir sebelah kirinya mengeluarkan darah.

“Cukup! Aku lelah dengan kelakuanmu! Jangan pernah paksa anak seperti dirinya untuk kau jadikan pelacur! Aku tidak tega melihatnya. Ia masih muda tak seharusnya kau menjadikannya sebagai wanita pemuas nafsu kalian!” ucap sang istri dengan suara lantang. Mata sang suami terlihat berkilat penuh amarah.

“Jang Woo Hae, dimana gadis yang kau janjikan itu, hah? Aku sudah menunggu lama disini. Cepatlah!” tiba-tiba terdengar suara seorang pria paruh baya. Keduanya menoleh dan mendapati seorang pria memakai setelan kantor lengkap tengah berdiri menatap mereka berdua. Minri terlihat maju menghampiri pria tersebut.

“Maaf tuan! Gadis itu sudah tidak ada disini. Dia sudah pergi jauh dari sini. Dan sebaiknya anda pulang. Dan perbaiki sikap anda yang sering meniduri gadis-gadis belia itu!” ucap minri tegas. Jelas tersirat kata-kata hinaan dikalimat tersebut. Pria itu tak segan menampar pipi minri. Ia merasa wanita di depannya sudah berlaku kurang ajar.

“Woo hae, bisakah kau ajarkan istrimu ini sopan santun? Beraninya ia berbicara seperti itu padaku.” ucap pria berjas itu kesal. Yang dipanggil woo hae terlihat mendelikkan matanya kearah sang istri. Saat itu juga tangannya menarik lengan sang istri dan membenturkan tubuh sang istri ke tembok dibelakangnya. Minri tersentak kaget, kepalanya tak sengaja terbentur kerasnya dinding tersebut. Pandangannya mulai mengabur seiringan dengan bau anyir darah yang menyengat indra pembaunya.

*****

Youngyoo masih saja berjalan menyusuri jalanan di negeri jepang ini. ia sungguh tak tahu harus kemana. Tak ada satupun orang ya ia kenal disini. Negara ini terlalu asing baginya. Ia merasa takut sendirian disini. Terdengar bunyi petir yang memekakkan telinga. Youngyoo tersentak kaget karenanya. Youngyoo mulai merasakan ada air yang membasahi dirinya. Langit sangat gelap, diikuti air yang terus turun dari langit. Malam ini kota Tokyo diguyur hujan. Youngyoo segera berlari, mencari tempat aman untuk sekedar berteduh dari hujan kali ini.

Youngyoo terlihat melipat kedua lututnya. Ia kini duduk didepan salah satu rumah warga. Entahlah apa sang pemilik sudi atau tidak jika gadis itu berteduh didepan rumahnya. Youngyoo merasa dadanya semakin sesak. Serasa ada seribu jarum yang menusuk paru-parunya secara membabi buta. Cobaan apalagi ini? ia sama sekali tak bisa berpikir untuk menjawab semua ini. youngyoo merasa kelelahan sehabis berjalan sejauh ini. tanpa sadar matanya tertutup. Mulai berontak untuk sekedar berjaga malam ini.

*****

“Kau sudah bangun?” sayup-sayup youngyoo mendengar suara seorang wanita. Ia mulai mengerjapkan matanya. Berusaha membiasakan diri terhadap cahaya matahari pagi ini. Ia terbelalak kaget ketika melihat kesekitarnya. ‘ini dimana?’ tanyanya dalam hati. Ia melihat seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya. “Makanlah. Sebelum bubur ini dingin.” Ucapnya lembut. Youngyoo menatap mangkuk bubur itu ragu. “Makanlah. Kau tidak usah khawatir.” Ucapnya lagi. Wanita paruh baya itu berbicara dengan bahasa Jepang. Namun youngyoo bisa memahaminya.

“Kau siapa? Aku dimana?” ucap youngyoo ketika menemukan pita suaranya kembali.

“Aku Gong Ah Na. Kau ada dirumahku. Oh ya, sepertinya kau orang korea. Benarkan?” tanya wanita bernama gong ah na itu pada youngyoo. Youngyoo terlihat mengangguk pelan.

“Ahjumma juga orang korea kan?” tanya youngyoo kali ini. Wanita itu terlihat mengangguk sembari tersenyum lebar.

“Kau darimana dan mau kemana? Hm, mengapa pakaianmu semalam begitu ‘terbuka’?” Ah Na mulai berbicara dengan bahasa korea. Youngyoo menatap dirinya sendiri. pakaian yang ia gunakan terlihat begitu menjijikan, pikirnya.

“Ceritanya panjang ahjumma.” Ucap youngyoo lemah.

“Baiklah, aku mengerti. Makan dulu bubur ini dan pergi mandi. Setelah pikiran dan badanmu tenang. Kau baru ceritakan padaku tentang hal itu.” Ucap ahna lembut. Ia terlihat mengelus pelan puncuk kepala youngyoo. “Aku harus pergi ke pasar. Kau disini saja ya, aku hanya sebentar.” Ucapnya lagi, lalu melangkahkan kakinya keluar rumah. Youngyoo hanya terlihat mengangguk pelan.

*****

“Malangnya nasibmu youngyoo-ya. Bagaimana bisa mereka tega melakukan ini pada gadis sepertimu?” Respon ahna ketika youngyoo menceritakan tentang masalah hidup yang akhir-akhir menerjang hidupnya dahsyat. Youngyoo hanya mengenggelengkan kepala. Tak dapat terelakan lagi, ia meneteskan air matanya lagi. Untuk kesekian kalinya. Ahna terihat memeluk gadis di depannya. Berusaha memberikan kekuatan agar gadis itu tak menangis.

“Aku juga tak mengerti ahjumma. Mengapa bibi-ku tega menjualku seperti barang murahan?!” ucap youngyoo kesal.

“Sudahlah. Aku yakin suatu saat Tuhan akan membalas semuanya. Kau tak usah menambah dosa hanya karena mereka. Kau mengerti maksudku kan?” ucap ahna disertai dengan senyuman manis yang melengkung di wajahnya yang kini mulai menua karena usia. Youngyoo terlihat berpikir sejenak, tak lama ia pun menganggukan kepalanya. Menandakan bahwa ia paham dengan maksud wanita yang kini tengah menjadi lawan bicaranya ini.

“Ne ahjumma. Arraseyo.” Ucap young yoo kemudian. Ia terlihat melengkungkan senyum tipis.

“Kau terlihat lebih cantik jika tersenyum seperti itu youngyoo-ya. Jangan bersedih lagi, mengerti?” ucap ahna lembut. Youngyoo terlihat mengangguk –lagi-. Ia memeluk tubuh wanita didepannya erat. Ia sudah lama tak mendapatkan pelukan sehangat ini, pikir youngyoo. “Ah youngyoo-ya..” panggil ahna tiba-tiba. youngyoo terlihat mendongakkan kepalanya. Berusaha untuk melihat lebih jelas wajah wanita yang kini sedang dipeluknya.

“Wae?” sahut youngyoo.

“Kau mau tidak menjadi anakku dan tinggal disini bersamaku?” Tanya ahna sukses membuat youngyoo terlonjak kaget. Ahna terlihat menghela nafas ketika melihat perubahan raut wajah youngyoo. Ia tahu ia terlalu mendadak bagi youngyoo, tapi ahna tidak ingin kehilangan gadis itu. Gadis itu terlalu baik, ia menyayanginya. Ia mendambakan gadis itu menjadi anaknya. “Suamiku sudah lama meninggal. Hm, mungkin sekitar lima tahun yang lalu. Sampai ia meninggal, kami belum jua dikarunia seorang anak. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Dan orang tua suamiku, mereka tidak mau mengakuiku sebagai menantu mereka karena aku tak menghasilkan keturunan untuk keluarga mereka. Aku hidup sebatang kara sampai sekarang. aku ingin ada yang menemaniku. Setidaknya menemaniku disaat ajal akan menjemputku nanti. Aku tidak ingin sendirian youngyoo-ya.” Jelas ahna. Youngyoo melihat dengan jelas airmata yang tertahan di wajah wanita tersebut.

“Apa ahjumma sudah memeriksakan kandungan ahjumma ke dokter?” Tanya youngyoo dengan nada pelan. Berjaga-jaga agar wanita itu tidak tersinggung dengan pertanyaannya. Ahna terlihat tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Dokter mengatakan kandunganku baik-baik saja. Suamiku juga tidak mengalami gangguan dalam system reproduksinya. Kami hanya belum dipercayai untuk mengurus seorang anak. Mungkin tuhan mempunyai rencana lain dibalik semua ini.” ucap ahna berusaha tegar menerima cobaan hidup yang menerpa dirinya. Air mata itu lolos keluar dari mata ahna. Youngyoo yang melihatnya segera memeluk wanita didepannya.

“Ahjumma, uljimayo-ah.. aku mau menjadi anak ahjumma dan tinggal disini bersama ahjumma. Kita sama-sama sebatang kara, bukankah sebaiknya kita saling mengisi satu sama lain?” ucap youngyoo sembari tersenyum. “Aku berjanji akan menemani ahjumma.” Lanjut youngyoo. Ahna membalas pelukan youngyoo.

“Youngyoo-ya jika kau memang menganggapku sebagai ibumu. Jangan panggil aku dengan sebutan ahjumma lagi.” Ucap ahna berpura-pura marah. Youngyoo tertawa melihatnya.

“Ne.. arraseoyo eomma haha..”

*****

“Youngyoo-ya kau pintar sekali memasak. Pelangganku disini memuji masakanmu.” Ucap ahna bangga sembari mengacungkan kedua ibu jarinya. Kini mereka tengah berada di sebuah kedai sederhana milik Ahna. Youngyoo setiap hari membantu ibu angkatnya itu memasak di kedai ini.

“Jeongmalyo eomma?” Tanya youngyoo. Ibunya hanya mengangguk senang. “Ah eomma, itu ada yang datang lagi.” Ucap youngyoo ketika melihat seorang pemuda masuk kedalam kedai ibunya.

“Ah ne, eomma kesana dulu ya.” Pamit ahna pada youngyoo. Ahna melangkahkan kakinya kearah meja yang diduduki pemuda tadi.

“Ah jongwoon-ah…” sapa ahna ketika sampai didepan meja pemuda tadi. Pemuda tersebut terlihat mengulas senyum di wajahnya.

“Gong ahjumma apa kabar? Sudah lama rasanya aku tidak main kemari lagi haha..” ucap pemuda bernama jongwoon tadi.

“Ne, kau kemana saja selama ini? ahjumma jarang melihatmu sebulan terakhir.”

“Aku kembali ke korea, ahjumma. Ada yang harus aku urus disana. Ah ahjumma, siapa gadis itu?” Tanya jongwoon ketika melihat seorang gadis tengah membersihkan salah satu meja di kedai tersebut. Ia merasa asing dengan wajah itu.

“Ah itu youngyoo. Ia anak angkatku.” Jawab Ahna dengan senyum mengembang.

“Anak angkat? Sejak kapan?”

“Ceritanya panjang jongwoon-ah..”

“Dia.. cantik.” Ungkap jongwoon dengan suara pelan. Hampir terdengar seperti berbisik.

*****

“Eomma kau kenapa?” ucap youngyoo panik ketika melihat ibu angkatnya kehilangan keseimbangannya dan jatuh. Youngyoo memeluk ibunya khawatir.

“Kepala eomma sakit youngyoo-ya..” ungkap sang ibu.

“Ayo kita ke dokter eomma!”

“Jangan. Tidak perlu youngyoo-ya. Eomma hanya perlu istirahat saja. Percayalah.”

“Eomma, kumohon menurut lah. Ayo kita ke dokter saja. Sudah sering kali aku melihat eomma hampir pingsan seperti ini.”

“Eomma baik-baik saja youngyoo-ya..” ucap ibunya dengan suara yang makin melemah. Tanpa sang ibu sadari hidungnya kini mengeluarkan darah. Youngyoo yang melihatnya tersentak kaget.

“Eomma hidungmu mengeluarkan darah! Kau tidak boleh membantah lagi. Kita kedokter sekarang!”

“Youngyoo-ya tidak usah. Ahhhhhhhh…” ahna berteriak ketika kepalanya terasa sangat sakit. Ahnapun pingsan dalam pelukan youngyoo.

*****

“Bagaimana keadaan eomma, uisa-nim?” Tanya youngyoo panic pada sang dokter.

“Kanker otak yang dialami ibumu sudah mencapai keadaan yang mengerikan. Kanker otak ibumu sudah mencapai stadium akhir. Aku ragu ia akan bertahan lebih lama lagi.” Sesal sang dokter. Seketika itu lutut youngyoo terasa melemas. Ia tak mampu untuk berkata apa-apa lagi saat ini.

“Aku tidak tahu jika ibu mengidap kanker otak.” Aku youngyoo. Sang dokter terlihat membulatkan mata menatap youngyoo.

“Apa ibumu tidak pernah memberitahumu?” Tanya dokter heran, bagaimana bisa ada rahasia segenting ini antara ibu dan anaknya sendiri.

“Aku hanya anak angkat Nyonya Gong. Aku baru bertemu dengan beliau sekitar sebulan yang lalu.” Jawab youngyoo dengan suara seraknya. Sang dokter terlihat menatap youngyoo iba.

“Maaf, aku tidak tahu jika kau…” dokter tersebut terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya tadi. Youngyoo mengulas senyum tipis, menandakan bahwa ia bisa memaklumi perkataan sang dokter sebelumnya.

“Tidak apa-apa.. Lalu apa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan ibuku?” Tanya youngyoo dengan wajah penuh harap.

“Aku akan memberikan beberapa resep obat untuk ibumu. Namun hal itu hanya bisa memperlambat penyebaran kankernya. Kita tidak bisa melakukan apapun untuk menyebuhkan ibumu seperti sediakala. Aku sangat menyesal mengatakan hal ini.” jelas sang dokter pada youngyoo. Youngyoo mencengkram erat kursi tunggu yang ada dibelakangnya. Ia takut akan terjatuh mendengar kenyataan ini. Mengapa ia –lagi-lagi- harus merelakan orang yang ia cintai pergi? Dadanya terasa penuh sesak. Terlalu banyak airmata yang ia keluarkan. Apa ia akan tetap bertahan untuk hidup sendiri lagi?

“Uisang-nim, bolehkan aku melihat ibuku sekarang?” Tanya youngyoo pelan.

“Ibumu akan kami pindahkan dulu ke ruang rawat inap. Baru setelah itu kau boleh menemani ibumu.” Jelas sang dokter sembari mengukir segaris senyum diwajahnya. Youngyooo hanya mengangguk paham.

*****

“Youngyoo-ya…” panggil wanita paruh baya itu. Youngyoo yang sedang disibukkan dengan aktivitas mengupas apel berhenti sesaat. Ia menoleh menatap ibunya.

“Ne?” Tanya youngyoo lembut, sembari memaksakan seulas senyum tergambar di wajah manisnya. Sungguh, dalam keadaan kali ini ia merasa enggan untuk tersenyum. Melihat sang ibu terbaring lemah dengan wajah pucat pasi membuat sekujur badannya ngilu. Ia merasa tak tega melihatnya. Jika saja ia bisa mengantikan posisi sang ibu saat ini, pasti hal itu sudah ia lakukan sejak kemarin.

“Maafkan eomma.. karena eomma kau harus bekerja untuk membayar biaya rumah sakit. Eomma tahu biaya pengobatan eomma tidaklah murah youngyoo-ya..” jelas sang ibu lirih. Terlihat jelas matanya berkaca-kaca. Menahan desakan airmata yang hendak turun mengalir melewati pipnya.

“Aniyo eomma…  aku tidak keberatan untuk melakukan semua itu. Aku bahagia bisa membantumu. Lagipula, selama ini eommalah yang merawatku. Jadi angggap saja ini sebagai balasan tanda terima kasihku. Eomma tidak usah sungkan.” Elak youngyoo diakhiri senyum tipis di wajahnya.

“Apa kau sudah menanyakan ke dokter kapan eomma diperbolehkan pulang?” Tanya sang ibu penasaran. Youngyoo hanya menggeleng pelan.

“Aku belum menanyakan perihal itu. Aku akan menanyakannya sekarang. Eomma tunggu disini ya..” pamit youngyoo lalu mengecup kening ibu angkatnya tersebut.

*****

“Senangnya bisa kembali ke rumah. Ah rasanya aku hampir mati karena bau obat di rumah sakit..” eluh Gong Ahna sesaat setelah menginjakkan kakinya di rumah. Youngyoo hanya tersenyum senang, karena ibunya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.

“Youngyoo-ya kau mau makan apa? Biar eomma siapkan..” tawar ahna pada anak angkatnya itu.

“Biar aku saja yang menyiapkan makanan. Eomma baru pulang dari rumah sakit, eomma harus istirahat. Ingat pesan dokter tadi..”

“Ish, kau ini. selalu saja membawa-bawa nama dokter untuk menghalangiku melakukan ini itu.”

“Bukan menghalangi eomma.. hanya melarang untuk sementara waktu. Toh, jika eomma sudah sembuh, eomma bisa melakukan apapun seperti dulu lagi. Sekarang istirahatlah..”

“Baiklah.” Ahna akhirnya mengalah dengan sang anak. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap youngyoo lalu mengukir senyum manis diwajahnya. “Eomma bahagia bisa bertemu denganmu youngyoo-ya.” Ucapnya dengan nada kelegaan.

“Aku juga eomma..” balas youngyoo, tak lupa membalas senyum ahna.

*****
Terdengar derap langkah yang beraturan milik seorang pemuda. Pemuda itu tengah berjalan kearah sebuah kedai kecil di ujung jalan. Kedai favoritenya sejak dulu. Dengan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya, membuat pemuda ini terlihat menyilaukan. Kemeja berwarna abu-abu dengan lengan yang digulung hingga siku membuatnya terlihat memabukkan. Satu kancing atas kemeja yang tidak dikaitkan semakin membuat aura karismatik pada pemuda itu terkuar. Para gadis yang berada di disekitar pemuda itu tak segan-segan untuk menghentikan langkah mereka demi menatap pemuda itu lebih lama. Senyum tergambar begitu saja ketika pemuda itu bertemu dengan sang pemilik kedai. Tak tanggung-tanggung, tangan kanannya terangkat untuk memeluk sosok yang ia temui tersebut. Pemilik kedai itu tertawa ringan, lalu berkata “Apa kau begitu merindukanku hingga memelukku seperti ini?”. Sang pemuda terlihat tertawa.

“Aku merindukan masakanmu, ahjumma..” bantah pemuda tersebut masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Eoh, kau merindukan masakanku berarti kau merindukanku juga,  jongwoon-ah..” balas pemilik kedai yang tak lain adalah Gong Ahna, orang tua angkat youngyoo.

“Kurasa percaya dirimu tinggi sekali, ahjumma..” ucap pemuda bernama kim jongwoon itu, lalu mengibaskan pelan tangan kirinya sambil tertawa ringan.

“Sudahlah.. kau pasti lapar kan? Kau mau makan apa kali ini?” Tanya Ahna ramah.

“Apa saja asal membuatku kenyang..” jawab jongwoon asal. “Aku tahu, semua masakan ahjumma pasti enak.” Sambungnya lagi.

“Kau ini bisa saja jongwoon-ah.. tunggu sebentar ya. Aku akan membuatkanmu menu special kali ini.” ucap ahna riang. Jongwoon hanya mengangguk seraya mengulas senyum. Gong Ahna terlihat berjalan menjauhi jongwoon, tiba-tiba ia membalik badannya menghadap jongwoon. Jongwoon terlihat menaikkan sebelah alisnya bingung. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu setelah kau selesai makan. Apa kau keberatan?” Tanya Ahna lembut. Jongwoon hanya menggeleng lalu berkata “Tentu aku tidak keberatan ahjumma..”

*****

Setetes airmata itu membasahi tanah. Terlihat seorang gadis cantik dengan pakaian serba hitam sedang menaburkan abu jenazah di laut Jepang –sesuai dengan keinginan sang ibu-. Wajahnya memerah karena terlalu banyak menangis. Matanya sembab. Tak bisa dipungkiri, ia merasa seluruh tubuhnya kaku. Ia –lagi – lagi- harus rela melepas kepergian orang yang ia sayang. Ibu angkatnya –Gong Ahna- kini telah meninggalkannya untuk selamanya. Ia tak menyangka harus secepat ini. Padahal ia baru saja bertemu dengan Ahna kurang dari 3 bulan lamanya. Ia teramat menyayangi ibu angkatnya tersebut. Gadis itu terlihat memerosotkan diri ke tanah. Ia melipat kakinya, lalu menangis sekeras yang ia bisa lakukan. Tidak ada yang akan melihatku begitu pikirnya. Rasa nyeri menjalari sekujur tubuhnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengenyahkan kenangan buruk di hidupnya. Tidak, hal itu tidak akan berhasil. Sekeras apapun ia ingin melupakan kenangan buruknya, sekeras itu pula kenangan tersebut berputar dalam memorinya. Mengalirkan rasa pedih yang menggerogoti seluruh persendiaannya. Tanpa ia sadari sepasang mata milik seorang pemuda memperhatikan setiap gerak-geriknya. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya. Menahan rasa sakit yang seolah menohoknya. Suara tangisan gadis itu membuatnya ikut merasakan kepedihan yang dirasakan sang gadis. Berkali-kali ia terlihat menelan liurnya dengan payah. Ia merasa iba dengan gadis yang tengah ia amati ini. Pemuda itu tak berani mendekati sang gadis. Ia takut hanya akan membuat sang gadis merasa lebih terpuruk. Gadis itu mungkin butuh waktu sendiri. Ya, mungkin seperti itu. Pemuda itu terlihat menghela nafas panjang sesaat sebelum melangkahkan kaki, pergi dari tempatnya melihat gadis itu. Gadis itu menatap kosong kearah lautan lepas didepannya. Teringat akan pesan sang ibu, agar ia hidup dengan baik. Namun apa ia sanggup? Hidup sendiri tanpa seorangpun yang akan menemaninya disaat ia ketakutan. Hidup sendiri tanpa seorangpun yang akan menenangkannya ketika ia menangis. Hidup sendiri tanpa seorangpun yang akan menghiburnya ketika ia dilanda kesedihan. Semua kenyataan tersebut berkecamuk dalam dadanya. Ia merasa paru-parunya kesulitan untuk mengelola oksigen. Seketika itu ia menjerit, mengalirkan semua rasa frustasi yang tak terbendung lagi. Apa salahnya sehingga hidupnya begitu malang? Gadis itu terlihat mengacak rambutnya sembarangan. Wajahnya sudah sangat kusut. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk hidupnya ke depan. Kenangan saat terakhir bersama ibunya masih tergambar dengan jelas dibenaknya. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Menahan suara tangisan yang serasa menusuk tulang.

Flashback

“Eomma.. kali ini aku memohon padamu. Ayo kita ke rumah sakit. Eomma jangan membuatku khawatir.” Ucap youngyoo dengan tangan memeluk ahna yang sedang terbaring tak berdaya di pangkuan youngyoo. Gong Ahna terlihat mengulas sebuah senyum simpul di bibir pucatnya. Ia menggeleng pelan.

“Tidak usah, youngyoo-ya.. eomma tidak mau kehilangan nyawa di rumah sakit.”

“Maksud eomma apa? Eomma akan sembuh! Eomma kumohon menurutlah..” pinta youngyoo dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipnya.

“Hapus airmatamu, sayang. Eomma tidak mau melihatmu bersedih. Kurasa nyawaku sudah tidak panjang lagi.” Ucap ahna lemah. “Eomma ingin menghabiskan waktu terakhir bersamamu disini. Dirumah kita.” Lanjutnya masih dengan seulas senyum diwajahnya. Ahna terlihat meringis pelan, ketika rasa nyeri tiba-tiba menyerang kepalanya. Seperti ada beban berton-ton yang sedang ditimpakan kepadanya. Youngyoo yang menyadari hal itu merasa gemetar. Ia sangat mengkhawatirkan kesehatan sang ibu. “Eomma, kau kesakitan? Ayo kita pergi ke rumah sakit, eoh?”pinta youngyoo untuk kesekian kalinya. Namun ahna tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau menghabiskan waktu terakhirnya di rumah sakit. Itu terlalu mengerikan baginya. Ahna meraih tangan youngyoo, mengelusnya perlahan. Berusaha menenangkan anak angkatnya itu. “Youngyoo-yaa..” panggilnya serak. Youngyoo menatap ibunya lalu berdehem pelan. “Di laci lemariku, ada buku tabungan. Gunakan uang yang ada di tabunganku untuk hidupmu selanjutnya. Kau tidak boleh bersedih terus. Kau harus kembali melanjutkan sekolahmu. Kau bilang sendiri kan padaku, bahwa kau ingin melanjutkan sekolahmu lalu kembali ke korea untuk mempertahankan perusahaan ayahmu? Aku tahu kau mampu melakukannya. Kau gadis pintar, youngyoo-ya.. kau pasti bisa mempertahankan perusahaan ayahmu lagi.” Ucap ahna lalu tersenyum. “Waktuku sudah tidak banyak lagi youngyoo. Aku ingin melihatmu tersenyum dari atas sana. Aku tahu, kau ini gadis yang kuat. Hapus airmatamu dan tersenyumlah..” sambung ahna lagi. Detik berikutnya ahna merasa kepalanya sakit bukan main. Ia merasa seperti ada palu besar yang menghantam kepalanya. Refleks, ahna berteriak sekeras yang ia bisa. Rasa sakit itu kini menjalari seluruh tubuhnya. Youngyoo tersentak kaget karena hal itu. Ia berusaha untuk tidak menangis. Namun, ia gagal. Teramat gagal. Youngyoo menjerit ketika melihat sang ibu memejamkan matanya. Dan tidak pernah membukanya lagi.

-Flasback end-

*****
Youngyoo berjalan tanpa arah yang jelas. Sudah beberapa kali ia menabrak pejalan kaki disekitarnya. Tatapannya kosong. Wajahnya yang pucat pasi persis seperti mayat hidup. Membuat beberapa orang menatap youngyoo dengan alis bertaut. Namun hal itu sama sekali tidak dipedulikan oleh gadis ini. ia masih saja berjalan walaupun tak tahu akan kemana langkah kaki membawanya. Ia belum sanggup untuk kembali ke rumah ibu angkatnya. Disana terlalu banyak kenangan yang membuatnya mengalirkan bulir bening dari matanya. Ia butuh teman untuk berbagi cerita. Semua ini membuatnya tertekan. ia berjalan menghampiri jembatan besar dimana terdapat sungai dengan arus deras dibawahnya. Pikiran itu mulai menghantuinya. Bagaimana jika ia bunuh diri saja? Toh, tak akan ada yang peduli dengannya. semua yang ia sayangi telah pergi. Meninggalkannya berjuang hidup sendirian. Ia merasa dirinya tak akan kuat menghadapi ini semua. Lebih baik ia menyusul mereka semua –orang-orang yang ia sayangi- di surga. Mungkin hal itu lebih baik daripada bertahan hidup di dunia yang penuh kemunafikan ini.Youngyoo merambat naik ke salah satu sisi jembatan itu. Ia terlihat menarik nafas sejenak. Menarik nafas untuk mengucapkan perpisahaan pada dunia –mungkin-. Youngyoo memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berhembus ke arahnya. Sudah saatnya ia meninggalkan dunia yang penuh dengan kata – kata kebohongan dan pengkhiantan ini.

-TBC-

Hey, hey, hey.. apa yang ada dipikiran kalian setelah melihat kata TBC? Haha.. Kira – kira gimana kelanjutannya? Apa ada yang penasaran? Jadi gak sih youngyoo bunuh diri? Kalau kalian penasaran, kasih tau ke aku. Gimana caranya? Tentu saja dengan komen tentang rasa penasaran kalian di tulisan ini.

Well, hows this fiction? Do you like it guys? If you want to read the next chapter, leave a comment please. Tolong tinggalkan komentar kalian di kolom komentar yang tersedia. Dan tuliskan komentar kalian, yang membangun tentunya. Saya baru akan mempublish chapter selanjutnya jika saya mendapatkan minimal 5 komentar dari orang yang berbeda.

Kenapa saya melakukan hal ini? Karena saya merasa jika tidak ada yang berkomentar tentang tulisan saya, itu berarti tidak ada yang respect / membaca tulisan ini. Jadi untuk apa saya lanjutkan tulisan ini jika tidak mendapatkan feedback / imbal balik yang baik? Tolong hargai kerja keras para author FF yang sudah meluangkan waktu untuk menulis FF. The next chapter sudah ada. Dan saya bisa publish kapanpun saya mau. Well, kalau saya belum mendapatkan min 5 komen untuk tulisan ini. Saya tidak akan mempublish lanjutannya. Jangan salahkan saya. Saya akan mengecek blog ini 3 hari sekali. Semakin cepat saya mendapatkan min 5 komentar, semakin cepat juga saya mempublish chapter selanjutnya. So, don’t forget to leave a comment. Thankyoooouuu babeee.

Jika ada diantara kalian yang kesulitan bagaimana cara komen di blog. Jangan sungkan untuk bertanya kepada saya. Saya akan memberitahu kalian. Hubungi saya di account social media saya. twitter : @MegaSilfiani / @Guixianteam or fb Mega Silfiani.

Paypay ^-~

3 thoughts on “DARK SHADOWS [CHAPTER 1]

  1. Omo omo.. Finnaly saeeeng!! Gomawoyo akhirnya dipublish juga fanfict nya xD
    Aaaa jinjja neomu haengbokae :”D
    Padahal janjinya oneshoot eh malah jdi chapter hahaha :p *gapapa yg penting dibuatin kkkk*
    Tapi tuh TBC nya kecepetan saeng -3- *apaan udh 5000words* *plak*
    Aku gak sabar nunggu next chap nya nih, ayo yg habis baca pada comment ya !! Jangan sampe enggak loh -3- *maksa*
    Fanfict keren gini harus dibaca trus dicomment -3- *maksa lg*
    Pokoknya DAE to the BAK KEREN/? Hahaha. Apalgi pas kata2 intro itu, ngebayangin itu aku yg ngomong sndiri omoo itu pasti dari hati bgt lah :”D
    Genrenya full of angst yess -3- *pdhal minta angstnya diakhir,ini diawal aja udh angst -3-*

    *sayangnya hrus nngu 5 coment dri orng yg brbeda -3- pdhal kalo nggak, aku commen terus loh/? XD*
    Pokonya harus kudu dipublish next chapnya ya! Aku setia nungguin kok cius :”D *yg ini aja nunggu hmpir setahun :”D* hahaha~

    • wkwkwk.. tau gak ini aku udh nulis 100 halaman ms.word tapi masa blm ending :’) pantes aja lah ya klo nunggu sampai satu tahun. pegel aing ngetik sampe 100 halaman tapi blm kelar juga. jadi aku minta syarat komen biar rada terobati pegelnya /?

  2. annyeong haseYo..
    Readr bru bngapta
    Prtama bca ff ni ku lngsng jtuh cinta ma crtanya.
    Smga jongwoon yg nyelmatin youngyoo klo bnr dya mau bnuh dri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s