Sebaris Perasaan

Sayup- sayup terdengar cicit burung menyambut dunia. Kokok ayam jantan mengawali pagi. Bau embun menyergap indera penciumanku. Kulangkahkan kaki menemui ‘pangeran dunia’-ku.

Segurat senyum manis terpampang saat menyapamu. Sejumput kebahagiaan terpancar tatkala kau membalasku dengan senyum hangatmu. Sinar matahari seolah adalah dirimu. Matahari hidupku.

Kebersamaan yang terjalin. Jalan cerita yang terkisah. Canda tawa yang menghias. Kau dan aku –kini-, tampak bagai seorang Raja dan Ratunya. Menghabiskan detik waktu tanpa mau meninggalkan satu sama lain. Merasa enggan untuk sekedar menggeser posisi. Tersenyum malu dan bertingkah layaknya orang bodoh, dimabuk arena yang dinamakan manusia dengan “cinta”. Lembaran demi lembaran ku tulis dengan pena tinta emas. Mengalunkan sebuah harmoni yang menghipnotis.

Ada yang berdebar tak karuan disini. Di dalam tubuhku. Jantungku. Mereka berdebar tatkala kau meraih kedua tanganku. Mengenggam erat jemari tanganku dengan jemari tanganmu yang menenangkan. Dengan keberanianmu, dengan bibir pucatmu itu. Kau mengatakannya. “Aku mencintaimu.”

Ada yang kesulitan mengelola nafas disini. Aku. Diriku. Saat kata magis itu terucap dari bibirmu. Paru-paruku seakan mengecil, bertolak belakang dengan nafas yang kubutuhkan saat kau mengecup keningku.

Janji untuk saling memberi kasih dan mengalirkan sayang terucap. Janji untuk saling mnejaga. Janji untuk saling melindungi. Janji untuk saling menemani. Janji untuk senantiasa berjalan beriringan. Kau, aku, kini menjadi tokoh dari cerita romance memabukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s