Dark Shadows [Chapter 2]

Title         : DARK SHADOWS   [Chapter 2]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Lee Young Yoo (OC)
  • Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)
  • Find other cast by urself

Genre       : Sad romance, storylife.

Rate         : PG 15

Length     : Chapter (71. 787 characters with spaces)

NB           : Hope you like this fiction. Sorry for all. Keseluruhan cerita murni milik author. Dilarang keras untuk membalik nama atau menyebar luaskan fiksi ini tanpa izin dari author. Mohon cantumkan alamat blog ini dan izin kepada saya selaku author aslinya, jika anda berkeinginan untuk re-post fiksi ini. Terima kasih sebelumnya. Enjoy reading guys..

cats

Cinta, satu kata dengan berjuta penafsirannya. Tak ada yang bisa menerka kapan cinta akan membahagiakannya atau kapan cinta akan membuatnya menangis. Tak ada yang bisa menolak ketika cinta mulai melambai ke arahnya. Membuat lumpuh seluruh kerja otaknya. Siapa makhluk di dunia ini yang bisa kebal dengan gelombang cinta? Tak ada. Dan tak akan pernah ada. Cinta. Sederhana sekaligus rumit. Menyenangkan sekaligus menyedihkan. Cinta. Ketika bersama terlihat begitu berbeda namun terlihat begitu serasi. Cinta. Ketika memutuskan untuk saling mengerti. Saling memahami. Saling melindungi. Cinta. Tak perlu kata – kata munafik untuk menunjukannya. Hanya biarkan hati yang berbicara. Dengan perwakilan rindu yang bergejolak. Cinta bukanlah rumus matematika yang menemukan nilai akhir, karena tak akan ada habisnya jika seseorang menjelaskan apa itu cinta dan bagaimana itu cinta. Perasaan yang bergemuruh. Pipi yang memanas. Darah yang berdesir. Jantung yang berpacu. Lisan yang senantiasa mengucap namamu dalam setiap baris keinginan hidupku. –Youngyoo Lee-

-Previous Chapter-

Youngyoo berjalan tanpa arah yang jelas. Sudah beberapa kali ia menabrak pejalan kaki disekitarnya. Tatapannya kosong. Wajahnya yang pucat pasi persis seperti mayat hidup. Membuat beberapa orang menatap youngyoo dengan alis bertaut. Namun hal itu sama sekali tidak dipedulikan oleh gadis ini. ia masih saja berjalan walaupun tak tahu akan kemana langkah kaki membawanya. Ia belum sanggup untuk kembali ke rumah ibu angkatnya. Disana terlalu banyak kenangan yang membuatnya mengalirkan bulir bening dari matanya. Ia butuh teman untuk berbagi cerita. Semua ini membuatnya tertekan. ia berjalan menghampiri jembatan besar dimana terdapat sungai dengan arus deras dibawahnya. Pikiran itu mulai menghantuinya. Bagaimana jika ia bunuh diri saja? Toh, tak akan ada yang peduli dengannya. semua yang ia sayangi telah pergi. Meninggalkannya berjuang hidup sendirian. Ia merasa dirinya tak akan kuat menghadapi ini semua. Lebih baik ia menyusul mereka semua –orang-orang yang ia sayangi- di surga. Mungkin hal itu lebih baik daripada bertahan hidup di dunia yang penuh kemunafikan ini.Youngyoo merambat naik ke salah satu sisi jembatan itu. Ia terlihat menarik nafas sejenak. Menarik nafas untuk mengucapkan perpisahaan pada dunia –mungkin-. Youngyoo memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berhembus ke arahnya. Sudah saatnya ia meninggalkan dunia yang penuh dengan kata – kata kebohongan dan kemunafikan ini.

–DARKEN SHADOW CHAPTER 2–

Tepat sebelum youngyoo menjatuhkan dirinya dari jembatan tinggi itu, tangan kekar seorang pemuda mencengkram lengannya kasar. Membuat youngyoo meringis pelan. “Apa yang kau lakukan, hah?” tanya pemuda itu kemudian. Youngyoo menaikan sebelah alisnya menatap pemuda yang dengan lancangnya mengusik rencana bunuh dirinya itu. Youngyoo menatap tajam ke arah pemuda itu, seraya berkata “Siapa kau?”

“Tidak penting siapa aku. Yang jelas aku mengenalmu, Youngyoo-ssi! Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalahmu.” Ucap sang pemuda lantang.

“Tau apa kau tentang diriku, hah?” tanya youngyoo retoris. Sang pemuda terdiam sejenak. “Jangan pernah mencoba berbuat baik kepadaku. Karena aku sudah muak dengan tingkah kalian. Kalian semua munafik. Tidak ada yang bisa kupercayai! Aku benci berada didunia ini!” lanjut youngyoo menumpahkan segala kekesalannya.

“Lebih baik kau pulang dan tenangkan dirimu, nona..” ucap pemuda itu masih mencengkram lengan youngyoo. Bahkan kini pemuda itu terlihat menarik youngyoo agar berjalan menuju mobilnya. Youngyoo berontak sekuat tenaga. Ia mencoba melepaskan cengkraman pemuda tersebut. Terlontar makian dari bibir youngyoo. Namun pemuda itu tak memperdulikannya. Ia tetap menarik youngyoo hingga gadis itu berada di mobilnya.

“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan, hah?” bentak youngyoo saat pemuda itu ingin memasangkan seatbell untuk youngyoo. “Kau pikir kau siapa? Kau mau membawaku kemana? Lepaskan aku!” cecar youngyoo tanpa henti. Dengan cueknya, pemuda itu tetap memasangkan seatbell youngyoo. Walaupun ia harus rela mendapatkan luka cakaran di sekitar lengannya, akibat pemberontakan youngyoo.

*****

Seorang pemuda terlihat masuk ke kamar youngyoo. Dengan menggunakan tangan kirinya, ia menutup pintu kamar gadis itu. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk membawa nampan berisi makanan untuk sang gadis. Youngyoo tidak berniat merubah posisi tidurnya. Ia tetap tidur dengan posisi menyamping dan menolak menatap pemuda yang kini ada di kamarnya. Pemuda itu terlihat menghela nafas panjang. Gadis ini cukup keras kepala rupanya, pikir pemuda itu.

“Aku tahu kau tidak tidur. Jadi, bangun dan makanlah makanan ini. Aku sudah membuatkanmu sup rumput laut.” Ucap pemuda itu mencoba ramah. Tak terdengar jawaban dari bibir gadis di depannya. “Maaf. Aku tahu kau kesal denganku karena aku menggagalkan rencana bunuh dirimu itu. Aku hanya tidak mau kau akan menyesal nantinya. Kau tahu kan, jika kematian itu adalah rahasia Tuhan?  Bagaimana jika setelah kau melompat dari jembatan itu, kau tidak mati. Melainkan menderita luka parah? Atau bisa jadi malah cacat. Hm, aku bukan bermaksud menakut-nakutimu. Tapi itulah kenyataan yang sering terjadi. Ohya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Kim Jongwoon. Aku kenal baik dengan ibumu. Ibumu pasti tidak ingin melihatmu bersedih terus menerus seperti ini. Kau harus bangkit, youngyoo-ssi. Aku tahu kau bisa melakukannya. Aku akan membantumu. Kau tak usah khawatir. Aku…” belum sempat pemuda bernama jongwoon itu menyelesaikan kata-katanya. Youngyoo bangkit dari posisi tidurnya. Ia menatap sengit kearah jongwoon. “Tahu apa kau tentang diriku? Tahu apa kau tentang hidupku?Tahu apa kau tentang perasaanku? Aku menderita! Teramat sangat. Aku tidak mau lagi berada di dunia penuh kebohongan ini. Aku muak. Aku lelah, kau tahu itu, hah?”. Jongwoon tak bersuara, ia terlihat mengantup mulutnya rapat-rapat. Seolah sedang berpikir apa yang sebaiknya ia katakan pada gadis didepannya. Youngyoo terlihat mendengus. “Jangan pernah bertindak seolah-olah kau perduli padaku, lalu kau akan pergi meninggalkanku sama seperti mereka. Aku muak dengan semua ini.” sambung youngyoo dengan penekanan di setiap katanya. Jongwoon terlihat menghela nafas berat.

“Pikiranmu sedang kacau. Lebih baik kau tidur dan tenangkan dirimu. Jangan pernah menyalahkan mereka. Tuhan yang telah mentakdirkan mereka untuk pergi. Jika kau menyalahkan mereka karena meninggalkanmu, itu sama saja kau menyalahkan Tuhan nona..” ucap jongwoon tegas. Ia menaruh nampan yang sedari tadi ia pegang di meja nakas di kamar gadis itu. Setelahnya ia berjalan santai meninggalkan youngyoo sendiri di kamarnya.

*****

Sinar matahari pagi menyambut Youngyoo yang kini telah terjaga dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba membiasakan matanya untuk menatap cahaya matahari pagi ini. tak sengaja ia menatap meja nakas di sampingnya. Sup rumput laut yang dibuatkan jongwoon semalam sama sekali tak ia sentuh. Sup itu masih sama seperti semalam, hanya saja pagi ini sup itu tak sehangat semalam. Youngyoo merasa ada yang melilit di dalam perutnya. Oh sial! Ia kini kelaparan. Sudah seharian ia tak menyentuh makanan. Lambungnya terasa perih. Haruskah ia memakan sup dingin itu? Youngyoo mendesah berat. Saat ia hendak menggapai nampan berisi sup itu, pintu kamarnya terbuka lebar. Jongwoon berdiri dibalik pintu itu. Dengan perlahan ia masuk kedalam kamar youngyoo. Youngyoo melihat ada nampan yang entah berisi apa kali ini. youngyoo mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Kau semalam tidak makan rupanya. Kau ingin menyiksa dirimu sendiri?” ucap jongwoon ketika melihat nampan berisi sup rumput lautnya semalam tak terjamah oleh tangan youngyoo. “Oh ayolah.. sampai kapan kau akan terus bersikap dingin padaku. dan sampai kapan kau akan mogok makan seperti ini.” sambung jongwoon ketika youngyoo tak juga merespon ucapannya. Jongwoon terlihat menggelengkan kepalanya heran. “Aku bawakan bubur untukmu. Makanlah, aku tahu kau lapar.” Tebak jongwoon asal. Youngyoo terlihat mendelikkan matanya kearah jongwoon. “Aku hanya asal menebak.” Aku jongwoon jujur. “Baiklah kalau kau memang tidak mau berbicara denganku. Aku keluar sekarang. dan pastikan saat aku kembali kekamarmu, mangkuk bubur itu sudah kosong.” Ucap jongwoon dengan nada mengancam. Youngyoo hanya menampakkan wajah tak peduli miliknya.

*****

“Sampai kapan kau akan terus berada disini, jongwoon-ssi?” tanya youngyoo dengan nada retoris. Youngyoo mengucapkannya tanpa menatap jongwoon. Kini mereka tengah berada di kamar youngyoo. Seperti biasa, jongwoon membawakan makanan untuk youngyoo dan youngyoo tidak mau menatap jongwoon. Setidaknya ada kemajuan setelah seminggu berlalu, Youngyoo sudah mulai berbicara dengannya. Walaupun tak ada kesan ramah dalam setiap kalimat yang ia ucapkan. Dan youngyoo juga tak menolak makanan yang diberikan jongwoon. Jongwoon selalu membawa piring atau mangkuk kosong dari kamar sang gadis. Itu semua sudah cukup baik, menurut jongwoon.

“Aku akan berada disini sampai kau bisa tersenyum kembali.” Jawab jongwoon kemudian. Youngyoo menghela nafas berat.

“Siapa yang bilang aku akan tersenyum? Apa ada alasan yang membuatku tersenyum?” tanya youngyoo dengan nada miris.

“Aku akan membawakan alasan itu padamu. Jika perlu aku sendiri yang akan menjadi alasanmu untuk tersenyum.”

“Kau terlalu percaya diri jongwoon-ssi.”

*****

Youngyoo berjalan kearah dapur. Pagi ini ia berniat untuk memasak makanan. Ia pikir, ia tidak bisa terus menerus membiarkan jongwoon melakukan semua pekerjaannya dirumah ini. Ibu angkatnya pasti akan sangat marah jika mengetahui bahwa dirinya selalu terpuruk dalam kesedihan akibat kepergiaan sang ibu. Youngyoo menangkap sosok jongwoon tengah berdiri membelakangainya. Jongwoon terlihat sedang asyik dengan kegiatannya sehingga tak menyadari ada youngyoo yang tengah berdiri dibelakangnya. Youngyoo terlihat berdehem pelan. Hal itu sukses membuat jongwoon menoleh kebelakang dan terkejut ketika mendapati youngyoo sedang berdiri di belakangnya.

“Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?” tanya jongwoon ragu. Youngyoo menggeleng pelan lalu berkata “Kali ini, biarkan aku yang memasak.”

“Eoh? Apa? Kau.. tunggu.. kau ini kenapa?” tanya jongwoon heran. Ia terlihat menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Youngyoo terlihat menelan liurnya, mencoba menghilangkan rasa gugup yang kini menyerangnya.

“Biarkan aku yang memasak. Kurasa, aku tak mungkin berdiam diri di kamar terus.. aku.. bosan.” Ungkap youngyoo jujur. Jongwoon terlihat mengulum tawanya. Ia tak mungkin menertawakan youngyoo sekarang. Ia takut youngyoo akan tersinggung dan marah padanya.

“Eoh baiklah kalau begitu.” Ucap jongwoon akhirnya. “Ada yang perlu kubantu?” tawar jongwoon. Youngyoo terlihat menggelengkan kepalanya.

“Aku bisa menyelesaikan ini sendiri.” Tolak youngyoo. Jongwoon hanya mengangguk paham. “Sebaiknya kau tunggu saja di ruang tamu. Ohya, apa kau berniat membuat sup daging?” lanjut youngyoo menatap jongwoon. Jongwoon merasa ada gejolak aneh yang ia rasakan saat youngyoo menatapnya dengan tatapannya yang lembut itu. Demi tuhan, ia baru kali ini melihat tatapan youngyoo seteduh itu. Biasanya mata itu selalu berkilat emosi ketika menatapnya.

“Eoh, itu, iya, aku berencana memasak sup daging.” Ucap jongwoon gelagapan. Bodoh, mengapa kau gugup kim jongwoon batin jongwoon. Jongwoon terlihat mengulas senyum tipis di wajahnya.

“Eoh baiklah. Aku akan membuatkannya untukmu, ah maksudku untuk kita berdua haha..” ucap youngyoo diakhiri dengan tawa hambar dari bibirnya. Aneh, mengapa aku merasa jantungku berdebar sangat kencang saat ia tersenyum pikir youngyoo. Youngyoo terlihat mengulas senyum tipis untuk mengusir rasa gugup yang kini menjalari setiap bagian tubuhnya.

“Oh lihat! Lee Young Yoo, kau tersenyum lagi. Apa itu senyum untukku?” celetuk jongwoon ketika melihat sebuah senyum manis terlukis diwajah youngyoo. Youngyoo merasa rasa hangat mengalir di pipinya. Oh tidak, ada apa ini? Batin youngyoo gelisah.

*****

“Apa kau ingin berjalan-jalan keluar hari ini?” tawar jongwoon pada youngyoo. Kini mereka tengah berada di ruang makan, sedang menikmati sup daging buatan youngyoo sendiri. “Ah, tadi kau bilang, kau merasa bosan berada di rumah. Jadi kurasa tidak ada salahnya aku mengajakmu jalan-jalan hari ini.” Lanjut jongwoon ketika melihat kedua alis youngyoo bertaut. Youngyoo terlihat kikuk dengan tawaran yang diberikan jongwoon. Gadis itu menenggak air minum didepannya panik, lalu berkata “Kurasa itu bukan ide yang buruk.”

“Kau ingin kita pergi kemana?” tanya jongwoon terdengar antusias. Bagaimana tidak? Youngyoo sudah mau diajak bicara dengannya. Dan sekarang youngyoo mau diajak ‘kencan’ dengannya. Ini kemajuan yang ia harapkan.

“Aku tidak terlalu mengenal tempat wisata di Jepang. Jadi semua itu terserah padamu saja.” Jawab youngyoo, ia terlihat mengulum senyumnya sendiri. Mungkin takut jika jongwoon tahu hal itu. Jongwoon mengangguk paham seraya berkata, “Baiklah, aku mengerti.”

*****

“Jongwoon-ssi..” panggil youngyoo pelan ketika berniat untuk memberikan bekal makanan jongwoon. Jongwoon menoleh, lalu berdehem pelan. “Ah, ini aku buatkan sandwich untukmu. Aku tahu, kau sedang sibuk akhir-akhir ini. Kau bahkan melupakan waktu sarapanmu. Ambillah..” ucap youngyoo sembari mengulurkan kotak bekal untuk jongwoon. Jongwoon terlihat tersenyum lebar. Ia meraih kotak bekal itu seraya berkata, “Terima kasih telah memperhatikanku.” Ia terlihat mengangkat kotak bekalnya seolah memberitahu youngyoo bahwa ia sudah menerima kotak bekal itu dengan benar. “Ohya, bisakah kau rubah panggilanmu itu terhadapku, yoo-ya?” lanjut jongwoon. Youngyoo hanya menatapnya tak mengerti. “Maksudku panggilan ‘Jongwoon-ssi’ itu terlalu.. hm, seolah-olah aku ini orang asing untukmu. Bagaimana kalau kau memanggilku oppa? Eotte?” tanya jongwoon sumringah.

“Ne?” youngyoo terlihat agak kaget dengan permintaan jongwoon.

“Oh ayolah.. kita bukan orang asing lagi kan?”

“Arraseo jongwoon-ssi.. ah maksudku Oppa..”

“Itu dia yang aku harapkan! Aku berangkat ke kantor dulu.” Pamit jongwoon pada youngyoo. Entah sengaja atau tidak, jongwoon mengecup kening youngyoo sekilas. Memang hanya beberapa detik, namun hal itu menimbulkan efek yang dahsyat bagi youngyoo. Ia terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya menyadari dengan sepenuhnya apa yang baru saja terjadi. Gadis itu berteriak dengan suara nyaring, “Kim Jong Woon, apa yang kau lakukan??”. Yang diteriaki hanya mengedikan bahunya santai

*****

Jongwoon terlihat sedang melangkah santai, mendekati youngyoo yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Jongwoon duduk di sebelah youngyoo, ia mengamati apa yang tengah di kerjakan gadis ini dengan setumpuk kertas yang berserakan di sekitarnya. Dengan alis bertaut, jongwoon berkata dengan nada penasaran, “Apa yang sedang kau kerjakan?”. Youngyoo terlihat mendongakkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu ke wajah pemuda di sampingnya. Youngyoo terlihat tersenyum tipis.

“Ah ini, ada beberapa tugas yang harus aku kerjakan. Deadlinenya satu minggu lagi.” Jelas youngyoo. Jongwoon hanya mengangguk paham.

“Jika kau perlu bantuan, aku siap membantumu. Ya, kau tahu sendirikan, aku ini sudah menduduki posisi sebagai seorang manager. Aku pasti lebih memahami tentang bisnis.” Ucap jongwoon dengan nada menyombongkan diri yang dibuat-buat. Youngyoo terlihat tertawa ringan lalu memukul pelan lengan kiri jongwoon.

“Kau sedang membanggakan dirimu, tuan Kim Jongwoon? Haha..” ledek youngyoo, ia terlihat menjulurkan lidahnya ke arah jongwoon. Jongwoon yang gemas hanya mencubit pelan hidung youngyoo.

“Aku memang patut di banggakan..” bela jongwoon. “Kau terlihat menikmati kegiataan kuliahmu.. aku senang melihatnya. Gong ahjumma pasti akan senang juga melihatmu kembali ceria seperti ini. Ah, senangnya..” lanjut jongwoon sembari menunjukkan cengiran lebar kepada youngyoo. Youngyoo hanya mengangguk lalu tersenyum lebar. Ia berkata, “Ini semua berkat dirimu, oppa.. kau yang sudah dengan sabar menemaniku selama 2 bulan ini.” Youngyoo terlihat menganggaruk tengkuknya kikuk “Padahal, saat pertama kali kita bertemu, sikapku sangat buruk padamu.” Sesal youngyoo. Jongwoon hanya tersenyum menanggapinya. Ia terlihat mengacak-acak rambut youngyoo gemas.

“Omong-omong, bagaimana kalau kita makan malam di luar malam ini?” tawar jongwoon kemudian. Youngyoo terlihat berpikir sejenak. “Kita kan tidak pernah makan malam di luar. Ayolah.. kau mau kan?” tanya jongwoon lagi.

“Baiklah, bukan ide yang buruk kurasa..” jawab youngyoo akhirnya.

*****
Youngyoo berjalan dengan hati-hati menuruni tangga rumahnya. Kali ini, ia terlihat mengenakan dress berwarna peach yang panjangnya selutut dengan cardigan berwarna senada. Kakinya kini telah berhias sepasang wedges berwarna abu-abu pudar. Sapuan make up tipis terlihat di wajahnya. Rambutnya, ia sanggul longgar. Hari ini ia sangat cantik. Teramat mempesona. Jongwoon terlihat keluar dari kamarnya. Baru saja ia ingin meneriaki nama youngyoo. Matanya menangkap sosok youngyoo tengah berdiri di anakan tangga di depannya. Jongwoon terlihat membeku melihat sosok yang kini berada dalam jarak pandangnya. Ia merasa darahnya berdesir. Pipinya terasa memanas. Detak jantungnya seakan memberontak keluar dari sangkarnya. Oh tuhan, apa yang sedang terjadi kali ini padanya. Beberapa kali jongwoon terlihat menelan liurnya payah. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap sosok didepannya itu bukanlah mimpi. Youngyoo yang merasa dipehatikan oleh jongwoon, merasa sedikit risih. Dengan ragu ia menyapa jongwoon, “Hm, Oppa..” mendengar suara youngyoo memanggilnya, membuat jongwoon tersadar dari lamunannya. Ia terlihat salah tingkah.

“Egh, ia, apa, ng, kita berangkat sekarang?” tanya jongwoon gelagapan. Youngyoo hanya mengangguk lalu tersenyum sekilas. Jongwoon terlihat menghela nafas panjang. Mengusir rasa gugup yang kini menggelayutinya. Jongwoon terlihat berjalan kearah youngyoo, ia meraih tangan youngyoo lalu menggenggamnya. Seketika itu youngyoo merasa tangannya berubah menjadi hangat. Ia merasa tautan tangan mereka sangat pas. Ia merasa sangat nyaman. Seperti merasa bahwa mereka telah sering bergandengan tangan seperti ini. Oh jantungku, kumohon jangan berdetak terlalu cepat batin youngyoo. Ia terlihat beberapa kali menelan liurnya. Ia merasa gugup sekarang. Tidak biasanya hal ini terjadi. Jongwoon tahu dengan mengenggam tangan youngyoo, itu berarti ia membahayakan jantungnya sendiri. Dengan perlahan, jongwoon menarik youngyoo untuk berjalan bersamanya menuju restaurant, tempat mereka akan menggelar makan malam.

*****

“Ada yang ingin aku katakan padamu, yoo-ya..” ucap jongwoon di tengah acara makan malam mereka. Youngyoo terlihat menatap jongwoon.

“Katakan saja, oppa..”

“Hm, aku, jadi selama ini, hm, begini.. aduh aku bingung bagaimana mengatakannya yoo-ya..” eluh jongwoon. Youngyoo terlihat menautkan kedua alisnya.

“Oppa, kau ini kenapa? Katakan saja. Kau sudah sering kan berbicara denganku?”

“Hm, baiklah. Mungkin kau merasa hal ini terlalu cepat. Tapi aku tidak mau menundanya lagi yoo-ya.. Ah, sebenarnya.. dari dulu aku, hm, tertarik padamu. Maksudku, aku menyukaimu, yoo-ya..” jongwoon terlihat menghela nafas lega setelah mengatakan isi hatinya. Youngyoo terlihat mengerjapkan mata beberapa kali. Ia masih tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Youngyoo mengantup mulutnya, bingung apa yang akan ia katakan pada pemuda yang kini berada di hadapannya. Jongwoon menatap youngyoo, sedangkan youngyoo terlihat gugup ditatap jongwoon seperti itu. Tatapan itu terlalu mempesona baginya. Oh tidak, ini gila batinnya. “Hm, yoo-ya, apa kau mempunyai perasaan yang sama denganku? Kuharap kau mau menjadi kekasihku yoo-ya” tanya jongwoon kemudian. Youngyoo yang ditanyai seperti itu terlihat salah tingkah.

“Egh, bisakah kau memberiku sedikit waktu untuk berpikir, oppa?” pinta youngyoo akhirnya. Jongwoon terlihat mengulas senyum tipis, lalu mengangguk. Benar, youngyoo butuh waktu untuk berpikir. Semoga saja jawaban youngyoo adalah jawaban yang ia harapkan.

“Baiklah.. kau tidak usah memusingkan semua ini. Aku, hm, aku sudah senang bisa mengutarakan perasaanku padamu. Ayo kita lanjutkan makan malam ini.” Ucap jongwoon mencoba memperbaiki suasana yang mulai tegang.

*****
Jongwoon terlihat menggeliat ketika tiba di rumah youngyoo. Pekerjaannya hari ini sungguh menyita tenaga dan pikirannya. Ia merasa badannya remuk. Beberapa kali ia terlihat menghela nafas panjang. Sekedar berharap bisa membuatnya rileks. Dengan langkah perlahan, ia menggapai saklar lampu di rumah itu. Tepat saat lampu menyala, sosok youngyoo terlihat di hadapannya. Gadis itu tengah bersorak ramai dengan tangan membawa sebuah kue ulang tahun yang tidak terlalu besar. Gadis itu menunjukkan cengiran lebarnya, seraya berkata, “Saengil Chukkaeyo, Kim Jongwoon..”. Jongwoon terlihat kaget dengan apa yang dilakukan youngyoo. Ia tak menyangka akan mendapatkan surprise malam ini. Ia bahkan lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jongwoon terlihat tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau membuatku terkejut, yoo-yaa..” ungkap jongwoon. Satu tangannya terulur untuk mengelus pelan puncuk kepala youngyoo.

“Memang itu tujuanku, oppa..” youngyoo terlihat terkikik pelan. “Ahya.. ayo buat permintaanmu, lalu tiup lilinnya.” Seru youngyoo semangat.

“Baiklah.” Ucap jongwoon. Pemuda itu terlihat memejamkan matanya. Menghayati tradisi ‘make a wish’ yang selalu hadir sebelum acara meniup lilin. Ia membuka matanya lagi, ketika tengah selesai memanjatkan doa dan harapannya kepada Sang Pencipta. “Omong-omong, dimana hadiahku?” tanya jongwoon ketika youngyoo tak kunjung memberikan hadiah ulang tahun untuknya.

“Ah? Hadiah? Hm, aku tidak punya..” aku youngyoo malu.

“Aigo yoo-ya, bagaimana bisa kau lupa memberikan hadiah ulang tahun untukku?” ucap jongwoon heran.

“Hm, begini saja. Apa yang saat ini kau inginkan?” tanya youngyoo kemudian.

“Apa kau akan memberikannya padaku?”

“Mungkin. Jika keinginanmu itu masuk akal.”

“Bagaimana jika yang aku inginkan adalah dirimu? Masuk akal bukan?” ucap jongwoon asal. Youngyoo terlihat mendekat kearah jongwoon. Youngyoo menempatkan dagunya di bahu jongwoon. Ia membisikan sesuatu yang membuat jongwoon hampir saja melompat kegirangan. “Apa kau masih menunggu jawabanku? Aku.. aku juga menyukaimu, oppa.. aku.. mau menjadi kekasihmu. Ini hadiah ulang tahun untukmu. Apa kau senang dengan hadiah ini?”

*****
Harum kopi menyeruak dari dapur rumah youngyoo. Kini gadis itu –youngyoo- tengah membuatkan secangkir kopi dan sepiring roti bakar untuk jongwoon. Gadis itu terlihat melepas celemeknya ketika sarapan untuk jongwoon telah selesai ia buat. Bermaksud untuk membangunkan jongwoon, youngyoo berjalan kearah kamar pemuda itu. Ini memang hari libur, namun tak seharusnya pria itu bermalas-malasan di ranjangnya. Youngyoo hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar derap langkah dari arah berlawanan dengan dirinya. Youngyoo-pun mendongakkan kepala untuk melihat siapa pemilik derap langkah kaki itu. Senyum terukir di wajah sang gadis, ketika mendapati kenyataan bahwa jongwoon-lah pemilik derap langkah kaki itu.

“Pagi oppa.. bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?” Tanya youngyoo sekedar berbasa-basi untuk mengawali obrolan pagi ini. jongwoon terlihat tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan mengelus puncuk kepala youngyoo.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, gadisku..” ucap jongwoon masih dengan senyum lebar di wajahnya. Youngyoo hanya terkikik pelan, seraya berkata, “Tidurku nyenyak sekali. Seperti biasanya. Bagaimana denganmu?”

“Hm, karena ini hari libur aku tak harus bangun terlalu pagi. Tidurku sangat nyenyak yoo-ya. Ah, mungkin ini karena kau membacakan dongeng untukku semalam.” Ungkap jongwoon. Youngyoo terlihat tertawa pelan. “Jadi, aku membutuhkan dongengmu setiap hari agar aku bisa tidur dengan nyenyak.” Lanjut jongwoon.

“Tapi aku bukan pendongeng yang hebat, oppa..”

“Aku tidak perduli dengan hal itu. Hebat ataupun tidak, aku tetap membutuhkanmu setiap hari di hidupku. Aku ingin melihatmu disampingku saat aku terlelap. Aku ingin menjadikanmu orang pertama yang akan aku temui ketika pagi menjelang.” Ucap jongwoon. Youngyoo terlihat menyeringitkan dahinya. Bingung dengan arah pembicaraan pemuda di depannya. “Aku membutuhkanmu. Jadi, jangan pernah menghilang dari kehidupanku.”

*****
Setelah mengenakan mantel tebal berwarna coklat terang. Youngyoo melangkahkan kakinya menuju taman bermain di dekat tempat tinggalnya. Dengan rasa enggan, ia nekat menerobos udara dingin yang terasa menusuk tulang. Sepanjang jalan, youngyoo terdengar menggerutu pelan. Ia heran kenapa jongwoon menyuruhnya untuk keluar saat udara sedang tak bersahabat. Apa ia ingin mereka berdua mati karena menggigil kedinginan? Youngyoo benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan pemuda itu. Taman itu memang tak begitu jauh. Namun berkat cuaca ekstrem seperti ini. Youngyoo harus mengeluarkan tenaga lebih banyak untuk sampai disana.

Youngyoo melihat sosok pemuda yang tengah duduk di ayunan saat ia menginjakan kaki di taman itu. Youngyoo yakin pemuda itu adalah sosok yang tengah ia cari kini. Ia mengenal baik tentang jongwoon selama 1 tahun ini. Ia tak mungkin salah tebak. Youngyoo-pun dengan berani berjalan perlahan menghampiri sosok yang ia lihat tadi. Pemuda di ayunan itu terlihat menoleh, sehingga youngyoo dapat melihat wajah sang pemuda lebih jelas. Seulas senyum mengembang di wajah pemuda itu, dengan cepat ia berkata, “Kau sudah datang?”. Youngyoo hanya mengangguk cepat seraya tersenyum riang. Mengapa ia selalu ingin tersenyum setiap kali melihat Jongwoon di dekatnya?

“Apa yang ingin oppa katakan? Ini sudah malam.. lagipula cuaca juga sedang tidak bersahabat, apa tidak sebaiknya kita pulang?” cecar youngyoo beruntun. Jongwoon terlihat menghela nafas panjang. Youngyoo terlihat menyeringitkan dahi melihat reaksi Jongwoon. “Apa ada masalah? Sesuatu yang buruk terjadi?” tanya youngyoo lagi. Jongwoon hanya menggeleng lemah. “Lalu?” Youngyoo terlihat penasaran dengan maksud Jongwoon.

“Yoo-ya..” panggil Jongwoon pelan. Bahkan lebih tepat disebut berbisik.

“Ne?” sahut youngyoo seadanya. Youngyoo terlihat duduk di ayunan yang berada tepat disebelah Jongwoon. Jongwoon menatap gadis di sampingnya dengan tatapan intens. Youngyoo harus rela menahan nafas, ketika mata jongwoon mengarah kepadanya. Sungguh, saat itu jantungnya serasa berdegup amat kencang. Hingga ia takut jongwoon dapat mendengar suara degupan jantungnya itu. Jongwoon terlihat bangkit dari posisinya. Jongwoon menghampiri youngyoo. Ia terlihat berlutut di depan sang gadis. Entah apalagi yang akan ia lakukan kini. Youngyoo sama sekali tak dapat menyimpulkan apapun. Jongwoon terlihat merogoh saku mantelnya. Mencari sesuatu, youngyoo juga tak tahu apa itu. Pergerakan tangan jongwoon di saku mantelnya terhenti. Youngyoo mengerutkan dahinya, mencoba berpikir. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh namja didepannya kini? Lagi-lagi jongwoon terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Jongwoon mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun dari sakunya. Ia mengulurkan kotak itu kehadapan youngyoo. Youngyoo baru tersadar apa yang ada di kotak itu ketika jari-jari jongwoon membuka kotak tersebut. Pengelihatan youngyoo menangkap sebuah cincin manis tengah bertandang di dalam kotak itu. Mungkinkah jongwoon tengah melamar dirinya? Mereka baru saja berkenalan selama satu tahun. Apa itu cukup membuktikan bahwa youngyoo dapat mempercayakan seluruh hidupnya pada pemuda itu? Youngyoo terlihat menelan air liurnya gelisah. Mencoba berpikir bagaimana jika pemikirannya itu benar? Apa yang harus ia katakan pada jongwoon? Ia terlihat bergerak gusar.

“Yoo-ya, aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku takut jika ada orang lain yang akan merebutmu dariku. Hm, aku ingin kau menjadi istriku yoo-ya.. aku tau kau pasti terkejut dengan ini. aku selalu melakukan hal seperti ini mendadak. Hm, sejujurnya aku tidak mengerti bagaimana cara melamar seorang gadis. Kau adalah gadis pertama yang aku cintai yoo-ya. Jadi, maklum saja jika aku terlihat hm bingung bagaimana mengutarakan perasaanku pada orang yang aku cintai.” Jongwoon menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. Ia tidak tahu apakah yang ia lakukan benar atau salah. Ia hanya mengikuti feelingnya saja. Tidak lebih dari itu. Youngyoo terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba untuk memahami apa yng tengah tercipta dihadapannya. Jongwoon yang berlutut di depannya. Sebuah cincin indah yang disediakan pemuda itu untuknya. Jongwoon melakukan semua ini padanya? Benarkah pemuda itu sedang melamarnya kali ini? Apa ini hanya mimpi? Bagaimana bisa ia berpikir bahwa ia tidak akan mau terjaga jika benar ini semua hanyalah sebuah mimpi? Ini gila. Youngyoo masih saja bertengkar dengan pemikirannya. Sedangkan jongwoon sedang duduk berlutut dengan keringat dingin yang keluar dari sekujur tubuhnya. Tidak perlu otak yang pintar untuk menebak bahawa pemuda itu sedang dalam keadaan gugup. Pemuda itu sama sekali tidak pandai menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan.

“Aku tidak akan menagih jawabanmu sekarang. aku tahu hal ini pasti membuatmu terkejut..” ucap jongwoon akhirnya. Youngyoo masih saja membeku ditempatnya. Mulutnya terkantup rapat, tak ada tanda bahwa gadis itu akan menjawab lamaran jongwoon saat itu juga. “Sebaiknya kita pulang, udara tidak terlalu baik saat ini. kau bisa sakit.” Lanjut jongwoon. Ia terlihat bangkit dari posisinya. Jemari youngyoo menahan lengan jongwoon, ketika pemuda itu hendak melangkah pergi. Jongwoon menoleh kearah youngyoo dengan alis berkerut bingung. “Ayo kita pulang..” ajak jongwoon lagi. Kali ini ia menggenggam jemari youngyoo hangat. Ia sudah membahayakan dirinya sendiri. Memilih untuk menggenggam jemari youngyoo sama saja memilih jantungnya berdetak tidak normal. Detakan yang terlalu cepat untuk orang-orang dalam keadaan sehat. Youngyoo tak juga melangkahkan kakinya. Gadis itu tetap duduk di ayunan dengan pandangan menatap tanah berlapis salju tipis di bawahnya. “Yoo-ya..” panggil jongwoon. Gadis itu terlihat mendongakkan kepalanya. Menatap jongwoon dengan tatapan penuh harap. Entah, apa jongwoon salah mengartikan tatapan itu atau bagaimana. Tapi yang dirasakan oleh pemuda itu ketika youngyoo menatapnya kini adalah gadis itu tengah mengharapkan sesuatu yang ingin ia dapatkan. Dengan suara seraknya youngyoo berkata, “Apa aku bisa mempercayaimu? Terlalu banyak pengkhianatan di sekelilingku. Kepercayaanku semakin menipis.” Jongwoon mendelikan mata mendengarnya.

*****

“Kau ada dimana sekarang?” Tanya jongwoon dengan nada khawatir. Kini pemuda itu tengah menelpon youngyoo –yeojachingu-nya-. Gadis itu belum juga sampai di rumah saat ini. padahal cuaca di luar sedang hujan lebat. Ia takut jika sang gadis akan sakit karena kedinginan. “Kau pasti tidak membawa payung atau jas hujan kan?” tebak jongwoon. Gadis itu tak terdengar suaranya. “Benar dugaanku, kau pasti menerobos hujan kan? Aigo yoo-ya, bagaimana jika nanti kau sakit? Kau kan bisa memintaku untuk menjemputmu. Lagipula ini sudah malam. Dunia luar terlalu bahaya ketika malam seperti ini. Sekarang beritahu aku kau ada dimana? Aku akan menjemputmu.” Sambung jongwoon panjang lebar. Gadis diseberang sana menjawab dimana ia berada kali ini. Jongwoon mengangguk paham. “Aku akan segera kesana sekarang! Jangan berani melangkahkan kakimu kemanapun. Walaupun hanya satu langkah. Tunggu aku.” Belum sempat youngyoo mengajukan keberatannya. Jongwoon keburu menutup sambungan telepon mereka.

*****

Youngyoo terus-menerus mendesah kesal. Saat ini ia terserang flu ringan. Mungkin efek dari kehujanan kemarin. Jongwoon tak henti-hentinya menceramahi gadis yang kini tengah berbaring di ranjangnya. Youngyoo kali ini memilih untuk istirahat di kamarnya. Ia tak mungkin berangkat ke kampus dengan keadaan hidung tersumbat dan kepala berat seperti ini. Jongwoon harus merelakan waktu kerjanya dipakai untuk mengurus youngyoo hari ini. Ia tentu tidak tega meninggalkan gadisnya yang sedang sakit seorang diri. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadisnya? Ia tak bisa membayangkan hal itu. Terlalu mengerikan menurutnya. Jongwoon kali ini sedang menyuapi youngyoo semangkuk bubur hangat yang baru saja ia buat. Sedangkan mulutnya tak henti-hentinya berceloteh. Membuat youngyoo merasa bersalah karena nekat menerobos hujan kemarin malam.

“Benarkan yang aku bilang? Kau akan sakit jika nekat menerobos hujan, yoo-ya..” ceramah jongwoon kesal. Pemuda itu masih dengan telaten menyuapi youngyoo semangkuk bubur di tangannya. Youngyoo terlihat mengerucutkan bibirnya sebal. Pipinya mengenggembung, sedangkan hidungnya merah. Jongwoon harus menahan tawa geli akibat melihat wajah gadis di depannya. Menggemaskan sekali, pikirnya.

“Iya.. iya.. aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tapi, tidak seharusnya kau menyalahkanku terus seperti ini, oppa..” bela youngyoo sebal. “Aku hanya takut menganggumu jika aku memintamu menjemputku. Lagipula, aku tahu kau ini pasti lelah sehabis pulang dari kantor. Bagaimana aku tega memintamu menjemputku?”

“Tapi jika sudah seperti ini bagaimana? Jika saja kau memintaku untuk menjemputmu, kau hanya perlu menganggu waktuku sekitar satu jam. Dan aku tak perlu repot-repot izin dari pekerjaanku untuk merawatmu, yoo-ya..” cecar jongwoon. Youngyoo terlihat mnghela nafas panjang. Tadinya ia bermaksud ingin membela diri, namun niatnya ia urungkan. Mungkin memang lebih baik ia diam saja. Toh, ia memang salah menerobos hujan. Padahal hujan kemarin bukanlah gerimis biasa. “Kumohon, percayalah padaku. walaupun dunia mengkhianatimu, aku akan selalu bersamamu. Percayalah padaku, walaupun tak ada yang bisa kau percayai lagi didunia ini.” Youngyoo mendelikan mata mendengarnya.

*****

Youngyoo mengerjapkan matanya ketika ia terjaga dari tidurnya. Youngyoo melirik jam weker kecil yang berada di meja nakasnya. Jarum-jarum jam tersebut membentuk formasi 30° -pukul 1 dini hari-. Masih terlalu malam untuk bangun, pikir youngyoo. Tidurnya malam ini tidak terlalu nyenyak. Mungkin efek badannya yang sedang tak sehat. Ia menoleh ke samping ranjangnya. Kini jongwoon tengah tertidur pulas disana. Dengan kepala di ranjang youngyoo sedangkan badannya duduk di sofa di samping ranjang youngyoo. Wajahnya begitu tenang. Youngyoo tersenyum melihat kenyataan itu. Pasti namja ini sangat lelah mengurusnya seharian. Ia harus merelakan waktu kerjanya diganggu karena youngyoo yang sakit. Youngyoo menggerakan bibirnya, berusaha berbicara tanpa mngeluarkan suara yang bisa membangunkan namja disampingnya. “Gomawo oppa. Saranghae.” Ucapnya, lebih tepat disebut berbisik. Youngyoo mengulurkan tangannya kearah jongwoon, bermaksud ingin mengelus lembut puncuk kepala jongwoon. Namun hal itu tidak terealisasikan, jongwoon keburu membuka matanya dan hal itu membuat youngyoo salah tingkah. Suara serak jongwoon terdengar di telinga youngyoo “Kau sudah bangun? Apa tidurmu tidak nyenyak? Apa kau butuh sesuatu? Apa kau merasa ada yang sakit? Katakanlah..” Tanya jongwoon khawatir. Ia mengulurkan tangannya, dan menaruh punggung tangannya di kening youngyoo. “Syukurlah, suhu tubuhmu sudah tak sepanas tadi. Kenapa kau sudah bangun? Ini masih malam yoo-ya,” Tanya jongwoon lagi.

“Ah, itu, aku tidak bisa tidur oppa.” Jawab youngyoo jujur.

“Apa badanmu terasa sakit?” Tanya jongwoon, dengan tangannya yang menggenggam tangan youngyoo erat. Youngyoo sempat terperanjat kaget karena ulah namja itu. Namun sebisa mungkin, ia tetap terlihat tenang di hadapan jongwoon.

“Ah bukan seperti itu. Aku sudah lebih baik daripada tadi siang.”

“Lalu?” Tanya jongwoon penasaran. Youngyoo hanya mengedikan bahunya tak tahu. “Bagaimana jika aku membuatkanmu secangkir susu coklat hangat? Mungkin akan membantumu untuk tidur lebih nyenyak.” Tawar jongwoon kali ini. Youngyoo tersenyum seraya berkata, “Terserah kau saja, oppa.”

*****

Youngyoo berdiri di balkon kamarnya. Menghirup udara pagi memang menyenangkan. Embun pagi begitu menyegarkan. Ketenangannya datang. Dengan secangkir teh hangat di tangan kanannya. Ia memejamkan mata menikmati paginya kali ini. Menyelami setiap hembusan angin yang bertiup lembut, membelainya. Ia membuka matanya ketika mendengar derap langkah menuju tempatnya kini. Ia menoleh ke belakang, dan disana terdapat sosok pemuda yang menghias hari-harinya di negeri sakura. Youngyoo mengulas senyum tipis di wajahnya. Jongwoon berjalan dengan sebuah nampan di kedua tangannya. Youngyoo menaikkan sebelah alisnya melihat nampan itu. Seolah mengerti maksud youngyoo, jongwoon mengangkat sedikit nampannya seraya berkata, “Roti panggang untuk kita.” Youngyoo akhirnya mengangguk paham.

Setelah menaruh nampan tersebut di meja kecil di balkon itu. Jongwoon berdiri disamping youngyoo. Menyesap kopi paginya. “Apa yang kau lakukan sendirian disini?” tanya jongwoon mencoba membuka pembicaraan.

“Hanya menikmati udara pagi hari,” aku youngyoo. Tatapannya masih tersita pada daun-daun hijau yang basah karena embun.

“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya jongwoon lagi.

“Nyenyak. Terima kasih untuk lagu yang kau nyanyikan untukku semalam. Suaramu lumayan juga haha..” ucap youngyoo jujur. Jongwoon hanya tersenyum senang mendengarnya. “Ah, sebagai imbalan karena kau telah bernyanyi untukku. Hm, aku akan memasakan makanan apa saja yang kau inginkan. Bagaimana? Kau mau makan apa untuk sarapan kali ini?” tanya youngyoo antusias. Jongwoon terlihat sedang berpikir. Lalu dengan santainya ia berkata, “Aku tidak merasa lapar. Jadi kau tidak perlu memasakan apa-apa untukku.”

Youngyoo terlihat mengerucutkan bibirnya sebal. “Lalu apa yang kau inginkan oppa?” tanya youngyoo kesal. “Yang aku ingikan? Hm,” jongwoon terlihat berfikir –lagi- “Aku mengininkan kau jadi istriku. Bagaimana? Kau setuju?” ledek jongwoon sembari menjentikan sebelah matanya. Youngyoo memukul keras lengan jongwoon. Jongwoon terlihat meringis pelan, lalu tertawa keras. Membuat youngyoo makin kesal dibuatnya.

Dengan gerak cepat, jongwoon mengunci kedua lengan youngyoo dengan cengkraman tangannya. “Kau tahu yoo-ya, terkadang ada banyak hal yang kita inginkan tidak terwujud. Malah ada beberapa hal yang tidak kita inginkan justru terwujud. Itu yang dinamakan takdir. Kita tak akan bisa mengaturnya sesuai keinginan kita. Tuhanlah yang menentukan semuanya. Kita hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan. Kau harus yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagimu dan juga bagi semua makhluk-Nya. Tidak semua yang kita anggap baik itu memang baik untuk kita. Dan sebaliknya, tidak semua yang kita anggap buruk itu memang buruk bagi kita. Aku tidak memaksamu untuk menerima lamaranku tempo hari. Karena aku yakin, jika kau memang ditakdirkan untukku. Kau akan menjadi milikku. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Cepat atau lambat, jika kita memang berjodoh. Kita akan bersatu. Biar waktu yang menjawab semuanya. Jika kau menolak lamaranku. Aku akan berusaha menerimanya. Kau tahu pepatah yang mengatakan ‘Jika jodoh tidak akan lari kemana’ kan? Aku percaya akan itu. Lagipula, bukankah cinta tidak harus memiliki? Walaupun memang selalu ada ambisi untuk memilikinya. Namun, hakikat cinta yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Cinta bukanlah sebuah paksaan untuk mendapatkan balasan. Cinta yang sebenarnya adalah ketika kau bahagia melihat orang yang kau cintai bahagia. Cinta yang sebenarnya adalah ketika kau terluka melihat orang yang kau cintai terluka. Aku akan bahagia melihatmu bahagia, walaupun bukan dengan diriku. Dan aku akan terluka ketika melihatmu terluka juga. Jangan jadikan lamaranku tempo hari sebagai beban bagimu. Jika ‘iya’ katakan ‘iya’ dan jika ‘tidak’ katakan ‘tidak’. Jangan pernah berbohong pada perasaanmu sendiri yoo-ya. Karena hal itu akan menyakitimu. Percayalah..”

Youngyoo terlihat mematung mendengarkan semua penuturan jongwoon. Namja didepannya begitu memperhatikan perasaannya. Namja didepannya begitu tidak ingin dirinya terluka. Namja didepannya begitu ingin agar dirinya percaya akan takdir yang telah ditulis Tuhan untuknya. Dan yang sangat terlihat adalah namja didepannya begitu mencintainya. Itu yang ia bisa rasakan. Aliran darahnya serasa berdesir hebat. Apa ia sudah bisa mempercayakan hidupnya kepada namja didepannya?

*****

“ Yoo-ya..” panggil jongwoon ragu. Youngyoo yang merasa terpanggil menoleh kearah jongwoon. Kini mereka berdua tengah berada di ruang makan, menikmati makan siang bersama mereka di hari libur. “Ah, bagaimana kalau kita kembali ke seoul? Maksudku apa tidak sebaiknya kita kembali ke seoul?” Tanya jongwoon dengan nada ragu. Youngyoo nampak bingung dengan tingkah pemuda didepannya kali ini.

“Mengapa begitu tiba-tiba?” youngyoo balik bertanya. Jongwoon nampak berfikir sesaat. Sebelum akhirnya mengutarakan alasannya.

“Aku dipindah tugaskan ke seoul. Aku tidak mugkin meninggalkanmu disini sendirian kan?” jelas jongwoon singkat. youngyoo terlihat terdiam. Nampak berfikir.

“Terkadang aku juga memikirkan hal tersebut. Kukira kau tidak berkeinginan untuk kembali kesana.” Youngyoo terdengar mendesah berat. “Tapi terkadang, ketika aku memikirkan hal itu. Aku kembali mengingat mereka. aku terlalu takut untuk kembali kesana.” Jongwoon menatap prihatin ke arah gadis di depannya. Youngyoo lagi-lagi terlihat menarik nafas panjang dan menghelanya berat. Entah apa yang kini berkeliaran di pikiran sang gadis. Jongwoon tak berani menebaknya.

“Ketika aku memikirkan seoul. Ada dua kenangan yang berkeliaran di otakku. Aku ingin kembali ke sana. Ke tempat kelahiranku. Ketempat dimana aku dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Tempat dimana sejuta kenangan tentangku dan juga tentang orang tuaku ada disana.” Youngyoo terlihat menahan desakan airmatanya. Pandangannya memburam seiring banyaknya airmata yang bersarang di mata sipitnya. Jongwoon menelan liurnya payah. Tak rela membuat gadis di depannya mengingat masa kelamnya lagi.

“Maaf. Bukan maksudku mengingatkanmu pada.. hm..” ucap jongwoon ragu. Saat dia melihat sebulir airmata mengalir membasahi pipi youngyoo.  Jongwoon terlihat mengulum bibir bawahnya. Dilihat olehnya youngyoo berusaha untuk tersenyum didepannya. “Jangan berpura-pura tegar, yoo-ya.. kau tidak sekuat itu. Menangislah jika kau ingin menangis. Tertawalah ketika kau ingin tertawa. Jangan pernah berakting di depanku yoo-ya.” Ucap jongwoon tegas. Ragu-ragu jongwoon  mengulurkan tangannya menyentuh jemari youngyoo. Menggenggamnya erat. Berharap bisa menenangkan gadisnya.

“Apa aktingku begitu buruk?” tanya youngyoo dengan senyum miris. Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya mengalir juga. Suara tangisannya terdengar juga di telinga jongwoon. Membuat jongwoon merasa ada yang menusuk ulu hatinya. Namun, ia tak akan menghentikan tangisan itu. Tidak, sampai gadis itu puas mengeluarkan semua bebannya lewat aliran airmatanya tersebut. “Aku benci mereka!” teriak youngyoo keras. Seiringan dengan airmata yang meluap dari mata sipitnya. “Mengapa mereka begitu tega, hah? Aku benci mereka.” Ucap youngyoo.

“Kau tidak bisa terkekang dalam masa kelammu seperti ini yoo-ya. Aku tahu tidak mudah melupakanya. Tapi, kumohon, lupakan apa yang telah mereka lakukan. Tuhan yang akan membalaskan perbuatan mereka terhadapmu.” Ucap jongwoon berusaha untuk berfikir kritis. Jongwoon bangkit dari posisinya. Berjalan perlahan kearah youngyoo. Jongwoon meremas pundak youngyoo perlahan, berusaha memberi kekuatan pada gadisnya kini. “Lupakan orang yang menyakitimu. Masih banyak orang yang menyayangimu. Percayalah padaku.”

“Kau tahu kan, melupakan orang seperti mereka tidaklah mudah. Apalagi untuk melupakan apa yang telah mereka lakukan padaku. Itu sangat tidak mudah, oppa.” Keluh youngyoo. “Aku butuh waktu untuk itu. Walau aku sendiri tidak tahu berapa banyak waktu yang aku butuhkan untuk itu.” Sambungnya lagi.

“Aku percaya kau mampu melakukannya yoo-ya. Kau bisa memaafkan mereka. Hidup dengan penuh rasa dendam hanya akan membuatmu tertekan.” Jongwoon melingkarkan tangannya memeluk youngyoo dari belakang.

“Semoga saja.” Sahut youngyoo seadanya.

“Ahiya, bagaimana dengan keinginanmu?” Tanya jongwoon pelan. Youngyoo terlihat mengerutkan keningnya tak mengerti. “Maksudku, keinginanmu untuk membuka kembali kasus kecelakaan kedua orang tuamu. Dan tentang keinginanmu untuk membangun kembali perusahaan ayahmu. Apa kau mengurungkan hal itu?”

“Ah tentang hal itu. Aku masih berniat untuk membuka kasus ayahku lagi. Tapi kurasa untuk membangun perusahaan ayah kembali itu tidak mudah. Dan yang kudengar, bibi dan pamanku sudah menjual seluruh perusahaan ayah kepada seorang pebisnis kaya raya. Entah siapa namanya, aku tidak tahu akan hal itu. Harapanku untuk membangun perusahaan ayah kini sudah pupus.” Terang youngyoo pada jongwoon.

“Jadi, kau setuju untuk kembali ke korea?” tanya jongwoon lagi.

“Iya. Aku mau kembali kesana.” Ucap youngyoo akhirnya setelah lama berfikir.

“Kau tidak usah khawatir. Aku akan menjagamu. Tidak akan ada yang berani mengganggumu nanti.” Janji jongwoon didepan youngyoo. Sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Tidak usah menggombal, kim jongwoon.” Ucap youngyoo sembari mencubit kecil lengan kanan jongwoon.

“Aku tidak menggombal yoo-ya. Ini janji laki-laki, aku akan menepatinya.”

“Kalau begitu, buktikan saja nanti. Apa kau bisa menepati janjimu atau tidak. Ketika kau berhasil menepati janjimu. Aku mau menikah denganmu.” Ucap youngyoo pasti. Jongwoon terlihat mendelikan mata mendengarnya. Binar gembira terpancar jelas takkala mendengar janji yang diucapkan gadisnya itu “Namun, jika kau tidak menepati janjimu. aku yang akan meninggalkanmu.” Lanjutnya, kali ini dengan nada ragu tersirat jelas. Berfikir tentang dirinya yang akan meninggalkan jongwoon, apa ia sanggup melakukannya? Meninggalkan pria yang selalu terngiang dalam ingatannya? Ia meragukan hal itu. Jongwoon membantu youngyoo untuk bangkit dari posisinya. Kini jongwoon menghadapkan youngyoo untuk menatapnya. Ia menatap youngyoo lekat dengan tatapan lembut.

“Aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk melindungimu. Demi dirimu, demi Gong Ahjumma, demi kita. Aku akan melakukannya. Jadi, kau tidak usah berfikir akan meninggalkanku. Karena aku tidak akan membuatmu meninggalkanku. Aku menyayangimu yoo-ya..” ucap jongwoon diakhiri dengan mengecup lembut bibir mungil youngyoo. Tidak ada gerakan mendesak, hanya kecupan lembut yang menenangkan. Menyalurkan rasa sayang yang ia miliki terhadap gadis di depannya. Youngyoo tak bergerak. Ia hanya diam. Tak bereaksi apa-apa. Ini ciuman pertamanya.  Dan ia tidak menyesal jika pemuda di depannya inilah yang menjadi perebut ciuman pertamanya.

*****

Dengan langkah berdampingan, jongwoon dan youngyoo berjalan keluar dari pesawat yang baru saja melakukan penerbangan dari Jepang ke Korea Selatan. Youngyoo berhenti sejenak ketika ia telah menginjakan kakinya di tanah korea lagi. Ia menghela nafas perlahan, bayangan itu kembali menghantuinya. Kenangan buruk tentang tanah kelahirannya ini kembali berkecamuk dalam pikirannya. Jongwoon ikut berhenti dan memperhatikan setiap gerak-gerik gadis di sampingnya kini. Dengan ragu ia bertanya, “Apa kau baik-baik saja yoo-ya?” Youngyoo tersadar dari lamunannya.

“Ah, aku? Ah tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab youngyoo tidak fokus. Jongwoon mengenggem erat jemari tangan youngyoo yang terasa dingin. Mungkin karena cuaca musim gugur di seoul atau mungkin karena sebab lainnya.

“Sudah kubilang, jangan pernah berakting di depanku yoo-ya. Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu. Lupakan tentang bayangan masa lalumu yoo-ya. Jadikan mereka sebagai pelajaran untuk memajukan hidupmu bukan sebagai penghambat kelanjutan hidupmu.” Ucap jongwoon tegas. Ia meraih tubuh youngyoo dalam dekapannya. Tak ingin membiarkan gadis itu merasakan pahitnya kenangan masa lalu itu sendirian. “Aku disini yoo-ya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.” Lanjut jongwoon masih dalam posisi memeluk youngyoo. Youngyoo hanya bisa terdiam di pelukan jongwoon. Menikmati lengan kekar yang melingkari tubuhnya. Menghirup aroma menenangkan pemuda di depannya. Youngyoo memejamkan mata. Menikmati semilir angin yang berhembus menerpa wajahnya. Menikmati setiap detik yang ia lalui dalam pelukan menenangkan milik jongwoon. Hidupnya harus terus berjalan. Walau bayangan masa lalu kelamnya kerap menghantuinya dan membuatnya ketakutan. Hidupnya harus terus berjalan. Jongwoon melepaskan pelukannya. Youngyoo mendongak menatap jongwoon. Dengan tenang, jongwoon memberikan senyumannya kepada youngyoo.

“Jika kita ingin berpelukan lebih lama. Kita harus keluar dari lapangan terbang ini. Disini terlalu berbahaya dan banyak mata yang melihat kita.” Ucap jongwoon sedikit meledek. Youngyoo mendelikkan matanya menatap ke sekeliling. Benar saja, banyak orang yang mengalihkan tatapan mereka ke arahnya. Seketika itu wajah youngyoo memerah, menahan malu yang menyerangnya.

“Kim jongwoon, mengapa kau tidak bilang dari tadi hah?” tanya youngyoo sebal.

“Kukira kau sedang menikmati pelukanku tadi. Jadi aku tidak tega harus melepaskan pelukanku.” Ledek jongwoon semakin menjadi. Gurat merah di pipi youngyoo semakin kentara. Tawa jongwoon meledak juga. Ia tertawa terbahak-bahak sementara youngyoo menatapnya dengan tatapan sebal.

“Menyebalkan kau, kim jongwoon!” ucap youngyoo lalu berjalan meninggalkan jongwoon yang masih sibuk dengan tawanya.

“Ya! Lee Youngyoo, mau kemana kau? Tunggu aku..”

*****

“Masuklah.. Ini apartemenku. Anggap saja seperti rumahmu.” Ucap jongwoon mempersilakan youngyoo untuk masuk ke dalam apartemennya di seoul. Dengan langkah ringan youngyoo mengikuti langkah jongwoon memasuki apartemen pria itu. Matanya sibuk menelisik setiap sudut apartemen jongwoon. Jongwoon hanya tersenyum sesekali ketika matanya menatap gerak-gerik youngyoo.

“Eoh, apartemenmu sangat besar oppa. Aku tak menyangka di usiamu yang masih muda ini, kau sudah memiliki apartemen semewah ini.” Ucap youngyoo ketika selesai melihat-lihat apartemen jongwoon.

“Ini semua pemberian orang tuaku.” Sahut jongwoon datar.

“Ah, aku tidak jadi memujimu kalau begitu.” Ucap youngyoo santai. Jongwoon hanya tersenyum tipis. “Omong-omong, kenapa kau tidak tinggal bersama kedua orang tuamu?” tanya youngyoo tiba-tiba. Entah kenapa gadis itu menjadi penasaran dengan kehidupan jongwoon di korea. Jongwoon terlihat diam. “Oppa, kau baik-baik saja?” tanya youngyoo lagi. “Ah, maaf aku terlalu lancang menanyakan kehidupanmu. Lupakan saja pertanyaanku barusan. Haha..”

“Aku hanya ingin hidup mandiri tanpa orang tuaku.” Gumam jongwoon. Youngyoo yang mendengarnya hanya mengangguk pelan. “Ah iya, ayo aku antar kau ke kamarmu. Apa kau tidak lelah? Kau kan berceloteh terus selama di pesawat.” Ajak jongwoon. Youngyoo hanya mencibir ke arah jongwoon.

“Maaf yoo-ya, aku harus berbohong padamu kali ini. Aku hanya tidak ingin kau mengetahui keadaan keluargaku yang sebenarnya.” Keluh jongwoon dalam hatinya.

*****

Udara hari ini begitu segar. Youngyoo tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia memutuskan untuk pergi menikmati taman di salah satu pusat kota seoul. Tempat dulu ia biasa menghabiskan waktunya bersama ayah dan ibunya. Dengan langkah tetap, youngyoo berjalan kearah halte bus terdekat dari apartemen jongwoon. Angin musim semi serasa membelai rambutnya. Harum embun sejuk terasa merasuk indra penciumannya. Benar-benar hari yang menyenangkan. Burung camar terdengar bersiul bersahut-sahutan. Dahan-dahan pepohonan disekeliling taman melambai-lambai, seolah mengajak youngyoo untuk berjalan lebih jauh menelisik sekeliling taman ini. Dengan ringan hati, youngyoo melangkahkan kakinya hingga ia sampai pada salah satu bangku yang berada di dekat kolam ikan di taman itu. Youngyoo berjalan ke arah bangku taman itu, berniat sejenak merengangkan otot-otot kakinya yang terasa kaku karena tak henti-henti berjalan mengelilingi taman. Gemericik air di kolam kini menghiasi pendengarannya. Youngyoo memejamkan matanya perlahan. Membayangkan jika ada kedua orang tua yang menyayanginya berada di sebelahnya kini. Namun semua itu hanyalah khayalannya saja. Kedua orang tuanya tak akan pernah ada di sebelahnya lagi. Lamunan youngyoo terhenti ketika terdengar olehnya suara seseorang memanggil namanya. Youngyoo sontak menoleh ke arah datangnya suara. Dilihat olehnya, seorang pemuda tampan dengan tinggi semampai sedang berlari kecil menghampirinya. “Youngyoo-ya, kau ini kemana saja? Aku sudah lama tidak melihatmu..” ucap pemuda tersebut ketika ia berada tepat di hadapan youngyoo. “Woobin-ah, aigo aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini.” Balas youngyoo yang senang melihat pemuda di hadapannya kali ini. Youngyoo terlihat bangkit dari posisi duduknya. Pemuda itu –woobin- yang kegirangan bertemu teman lamanya refleks memeluk youngyoo. Youngyoo terlihat terpaku sesaat sebelum akhirnya membalas pelukan woobin –sahabatnya saat SMA-. “Kau tidak ingin bercerita kepadaku?” tanya woobin setelah melepaskan pelukannya. “Tentang apa?” kini youngyoo malah balik bertanya dengan ekspresi bingung. “Ya tentang kemana saja kau selama ini, bibimu bilang kau melarikan diri dari rumah. Kau tahu aku sangat khawatir ketika mendengar hal itu.” Ucap woobin jujur. Youngyoo terlihat mengulum senyum masam. Melarikan diri? Bukankah bibi yang membuatku “lari dari rumahku sendiri”, benak youngyoo. Gadis itu mencoba mengumbar senyum ke arah woobin. Berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja sangat tidak pantas jika ia mengumbar masalah pribadinya kepada setiap orang. Walaupun woobin sudah 5 tahun menjadi teman, bahkan sahabat dekatnya. “Aku belajar ke Jepang selama ini. Aku tidak melarikan diri.” Jawab youngyoo berakting seolah semuanya baik-baik saja. “Jadi maksud perkataan bibimu tempo lalu itu apa?” tanya woobin bingung. “Sudahlah, kita tidak usah membahasnya. Yang terpenting, sekarang aku sudah kembali  ke korea kan? Dan aku akan tinggal disini lagi.” Ucap youngyoo berusaha mengalihkan perhatian woobin. “Kau akan tinggal selamanya disini kan?” tanya woobin nampak memicingkan matanya. “Selama-lama-lama-lamanya hihi..” jawab youngyoo diakhiri dengan tawa ringan dari bibir merahnya.

“Apa kau sedang sibuk, woobin-ah?”. Woobin terlihat memutar bola matanya. Lalu menggeleng pelan sambil berkata, “Wae?”. Youngyoo yang melihat respon woobin terlihat menunjukkan deretan gigi rapihnya. “Temani aku jalan-jalan hari ini, ya?” Pinta youngyoo dengan wajah memelas yang ia buat-buat. “Jangan memasang tampang seperti itu, kau terlihat begitu menggemaskan. Aku tidak mungkin menolaknya. Kajja..” ucap woobin menarik pelan tangan youngyoo. “Mau kemana kita?” tanya youngyoo penasaran. “Kau akan tahu nanti. Tidak usah cerewet.” Jawab woobin sembari mencubit pelan hidung youngyoo. “Woobin-ah, appo!” bentak youngyoo, lalu mengerucutkan bibirnya sebal. “Kau masih belum berubah, youngyoo-ya. Masih tetap cantik dan menggemaskan seperti dulu.” Ucap woobin pelan, namun telinga youngyoo masih berfungsi dengan baik untuk mendengarnya. “Eh?” tanya youngyoo seolah meminta penjelasan lebih atas apa yang baru saja woobin katakan. Woobin terlihat mengulum senyumnya. Ia berjalan dengan santai meninggalkan youngyoo yang masih berdiri dan tak percaya dengan pendengarannya barusan. Woobin menghentikan langkahnya ketika menyadari youngyoo belum berjalan berdampingan dengannya. Ia menoleh ke belakang, lalu dengan keras ia berkata “Cepatlah. Sebelum aku berubah pikiran dan tidak mau menemanimu jalan-jalan hari ini.” Youngyoo tersadar dari lamunannya. Gadis itu terlihat membulatkan mata biru teduhnya. “Yak! Awas saja kalau kau berani mengubah keputusanmu, woobin-ah. Tunggu aku!”

***

Akhir pekan yang menyenangkan, begitu pikir youngyoo. Berjalan-jalan dengan woobin membuatnya tertawa seharian. Pemuda itu tak berubah, masih sama seperti dulu. Penuh lelucon yang bisa membuatnya tertawa hingga sakit perut. Seharian ini mereka berdua tak habis-habisnya bernostalgia. Tentang kenakalan mereka dulu saat SMA. Youngyoo sama sekali tak menyadari berapa banyak waktu yang ia habiskan bersama woobin seharian ini. Sampai akhirnya, arloji di tangan kirinya menunjukkan formasi pukul 11 malam. Ini sudah terlalu larut untuk kembali ke rumah.

Woobin mengantar youngyoo hingga ke depan apartemen jongwoon. Setelah sebelumnya mengucapkan selamat tinggal pada youngyoo, woobin berjalan menjauh menembus angin malam hari yang terasa menusuk seluruh persendiaannya. Youngyoo menekan beberapa kombinasi angka untuk membuka pintu apartemen jongwoon. Gelap. Hal itu yang pertama terlihat oleh matanya. Apa jongwoon belum pulang juga? Selarut ini? Youngyoo berjalan perlahan mencari saklar lampu di dalam apartemen itu. Tepat setelah lampu menyala, sebuah suara menyergap pendengarannya. Dingin. Hal itu yang pertama ada di pikiran youngyoo saat mendengar suara itu. “Darimana saja kau? Selarut ini? Kau lupa bahwa kau punya rumah? Kau pikir apa yang dikatakan orang lain ketika melihat seorang gadis berada di luar sana tengah malam begini?” tanya jongwoon retoris. Kini pemuda itu tengah berada tepat di depan youngyoo. Kemeja putih yang terlihat berantakan serupa dengan rambutnya kini. Dua kancing kemeja yang di biarkan terbuka. Dan lengan kemeja yang digulung hingga siku. Kedua tangan pemuda itu ia masukan kedalam saku celananya. Youngyoo menahan nafas melihat pemandangan di hadapannya kini. Pipinya serasa memanas melihat jongwoon dengan penampilan seperti ini. Setelah lama terdiam, akhirnya youngyoo menemukan kembali pita suaranya. “Mianhae oppa. Aku, aku tadi habis berjalan-jalan dengan woobin. Ia teman lamaku. Aku tidak tahu jika sudah selarut ini. Aku minta maaf.” Ucap youngyoo dengan wajah tertunduk. Gadis itu terlihat memainkan ujung sepatunya. Jongwoon menghela nafas pelan. “Masuk ke kamarmu dan istrirahatlah. Kau pasti lelah kan?” ucap jongwoon sembari mengelus rambut youngyoo. Youngyoo terlihat kaget, ia menatap jongwoon. “Berhenti menatapku seperti itu.” Titah jongwoon. “Kau, tidak marah denganku?” tanya youngyoo heran. “Aku tidak bisa marah denganmu yoo-ya. Kau beruntung.” Aku jongwoon. Youngyoo mengulum senyumnya. “Jangan tertawa!” bentak jongwoon merasa sangat bodoh karena melemah di hadapan gadis yang ia cintai. Youngyoo mengabaikan bentakan jongwoon, kini gadis itu sedang gencar tertawa. “Masuk kamarmu, yoo-ya.” Perintah jongwoon lagi. Youngyoo mengangguk. “Arraseo oppa. Aku akan masuk ke kamarku sekarang.” Jawab youngyoo masih dengan senyum tertahan di bibir merahnya. Youngyoo membalik badannya dan berjalan menuju kamarnya. Selangkah, dua langkah. Youngyoo membalik badannya lagi dan berjalan menghampiri jongwoon. Dengan sedikit berjinjit, gadis itu membisikan sesuatu ke telinga jongwoon. “Mianhae. Jeongmal saranghaeyo. Jaljayo oppa.” Bisik youngyoo lembut. Selembut angin malam yang kini berhembus membelai pipi mereka. Youngyoo mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir jongwoon. Lalu dengan cepat, gadis itu berlari masuk ke kamarnya, meninggalkan jongwoon yang kini terpaku tak sadar akan apa yang baru saja terjadi.

Jongwoon meraba bibirnya dengan ibu jari kanannya. Dengan susah payah, pemuda itu menarik nafas panjang. Tenggorokannya terasa sangat kering kali ini. Sedahsyat itukah kecupan singkat youngyoo? Atau memang respon tubuhnya yang begitu berlebihan menanggapi kecupan singkat dari bibir manis youngyoo?

***

“Jadi kau sudah menjadi seorang pengacara sekarang? Woa, daebak woobin-ah!” salut youngyoo pada woobin yang ternyata sudah menjadi seorang pengacara. Persis seperti apa yang selama ini pemuda itu inginkan. Woobin terlihat menaikkan kedua alisnya. Berlagak sombong dengan keberhasilan yang kini tengah menghampirinya. “Aku memang tidak sepintar dirimu saat sekolah. Tapi siapa yang menyangka kalau aku yang lebih dulu sukses ketimbang kau, haha.” Ucap woobin menyombongkan diri. “Woa, kau sedang meledekku, woobin-ah?” tanya youngyoo masih dengan senyum menghiasi wajahnya. “Menurutmu?” kini woobin balik bertanya pada youngyoo. “Kau ini, masih saja menyebalkan.” Ucap youngyoo menjitak pelan kepala woobin. Woobin terlihat mengusap kepalanya yang mendapat hadiah dari youngyoo. “Youngyoo-ya, malam ini kau ada acara atau tidak?” tanya woobin beralih topik. “Aniya, wae?”. Woobin terlihat mengulum bibirnya sebelum berkata, “Bagaimana jika kita pergi nonton bioskop? Kita sudah lama tidak melakukannya bukan?”. Youngyoo diam sesaat, nampak sedang berfikir. Apa jongwoon akan mengijinkannya pergi menikmati satnite bersama orang lain? Youngyoo tersenyum tipis ke arah woobin. “Apa kau berniat mengajakku berkencan Kim Woobin? Haha..” ledek youngyoo. “Youngyoo-ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Ucap woobin, air wajahnya berubah menjadi serius. Youngyoo berusaha menanggapinya dengan candaan ringan. “Kau kan memang sedang berbicara denganku. Bicara saja.” Woobin terlihat menghela nafas panjang. “Saranghae.” Ucap pemuda itu singkat, namun berhasil membuat youngyoo mendelikkan mata biru teduhnya. “Aku sudah lama menyukaimu, youngyoo-ya. Tapi aku baru berani mengatakannya sekarang. Neoreul nae yeojachingu-ga doeeojullae?” Belum sempat youngyoo menjawab pertanyaan woobin. Ponsel youngyoo, yang ia letakan di atas meja berdering dan memunculkan nama ‘jongwoon oppa’ disana. Woobin menaikkan sebelah alisnya. “Nuguya?” tanya pemuda itu kemudian. “Nae namjachingu. Mianhae woobin-ah.” Jawab youngyoo dengan nada melemas. Gadis itu kini takut menghancurkan perasaan pemuda yang sedang duduk di hadapannya. Woobin hanya tersenyum lalu mengangguk pelan. Entah, apa yang dimaksud woobin dengan respon tubuhnya itu. Youngyoo sama sekali tidak mengerti. Youngyoo meraih ponselnya dan menjawab panggilan dari jongwoon. “Yoo-ya, malam ini, ayo kita berkencan. Aku sudah membelikanmu tiket bioskop. Kau dimana?” youngyoo tercekak mendengar pertanyaan jongwoon. Kini youngyoo mengalihkan pandangnya pada woobin. Pemuda itu tengah menatap cake coklat yang kini sudah hancur karena ulahnya. “Woobin-ah apa kau baik-baik saja?” ingin sekali youngyoo mengatakan hal itu pada pemuda di hadapannya. Namun ia tak berani melakukannya.

***

Sudah seminggu, semenjak kejadian di cafe siang itu. Woobin menjadi jarang menghubungi youngyoo. Sudah berulang kali youngyoo mencoba untuk menghubungi woobin. Namun sial, pemuda itu tak menjawab satupun dari sekian banyak panggilan youngyoo. Pesan singkat yang youngyoo kirimkan juga tak satupun memiliki balasan dari woobin. Gadis itu –youngyoo- tahu pasti tak mudah menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai sejak lama sudah memiliki kekasih. Namun apa mau dikata? Youngyoo terlanjur bertemu dan jatuh cinta pada jongwoon. Ia tidak mungkin mengkhianati pemuda yang sudah membuatnya bangkit dari keterpurukannya. Kini di dalam benaknya, hanya ada jongwoon. Hanya ada satu nama pemuda yang senantiasa berkeliaran dalam hidupnya, jongwoon. Hanya nama itu, tak ada lagi.

Youngyoo berusaha merefleksikan dirinya. Ia kini berjalan menuju balkon apartemen dengan secangkir teh manis hangat di tangan kanannya. Mungkin embun pagi musim semi dapat sedikit membuatnya melupakan kepenatan hidupnya kini. Youngyoo memejamkan mata menikmati semilir angin yang serasa menggodanya. Begitu lembut. Begitu menyegarkan. Youngyoo termenung dan menikmati lamunannya. Hingga jongwoon datang dan membuyarkan lamunan sang gadis.

“Pagi,” sapa jongwoon pada youngyoo. Youngyoo membalik badannya dan tersenyum menyambut jongwoon. “Pagi” sahut youngyoo, tak lupa sebuah senyum melebar di wajah orientalnya. “Kau sedang apa di balkon ini sendirian?” tanya jongwoon merasa penasaran dengan apa yang dilakukan gadisnya sendirian di balkon apartemennya. “Hanya menikmati suasana pagi di musim semi. Harum, hangat, menenangkan. Embun musim semi, aku sangat menyukainya.” Jawab youngyoo dengan mata terpejam menikmati semilir angin yang selarasa membelai wajahnya. “Kenapa kau menyukai embum musim semi?” tanya jongwoon lagi, merasa cukup tertarik dengan topik embum musim semi. “Entahlah. Aku tidak tahu persis kenapa aku menyukainya. Aku menyukai embun musim semi karena mereka memiliki harum yang khas, bau basah yang menenangkan. Seperti sebuah sihir, harum khas mereka bisa menenangkan pikiranku jika sedang kalut. Mereka seperti charger yang bisa mengisi full baterai tubuhku. Mereka bisa membuatku bangun lebih pagi dari biasanya hanya untuk menghirup harum mereka, walau hanya bisa kuhirup beberapa jam saja. Setelah itu mereka menghilang, dan aku harus bersabar menunggu hari esok untuk mencium harum mereka lagi. Mereka begitu istimewa bagiku.”

“Apa kau sudah menemukan embum musim semi-mu?” tanya jongwoon masih tetap menatap dedaunan dari balkon apartemennya. Youngyoo terlihat memicingkan mata mendengar pertanyaan jongwoon. Gadis itu mengalihkan tatapannya menatap pemuda yang kini berdiri tegap di sampingnya. Gadis itu nampak berfikir sejenak. “Hm?” youngyoo terdengar berdehem pelan. Meminta penjelasan lebih tentang pertanyaan jongwoon tadi. “Apa kau sudah menemukan embum musim semi-mu? Embun yang selalu kau tunggu kehadirannya. Embun yang bisa membuatmu rela bangun lebih pagi dari biasanya. Embun yang selalu kau nikmati ketika ia datang padamu. Apa kau sudah menemukan embum musim semi-mu?” tanya jongwoon lagi. Kini dengan penjelasaan yang lebih. Youngyoo terlihat tersenyum mendengarnya. Jongwoon masih saja menatap kosong ke arah dedaunan basah di depannya. “Aku sudah menemukannya.” Jawab youngyoo terdengar tanpa ragu. Jongwoon yang merasa penasaran, memposisikan dirinya menghadap youngyoo. Mata sipit dengan bola mata coklat terang milik jongwoon menatap lekat ke arah youngyoo, seolah jongwoon ingin mengunci tatapan bola mata biru teduh milik youngyoo. “Dimana kau menemukannya?” tanya jongwoon. Youngyoo kembali menyunggingkan senyum manisnya. “Dia ada didepanku. Embum musim semi yang teramat istimewa untukku ada dihadapanku.” Jawab youngyoo lembut. “Benarkah?” ucap jongwoon di ikuti senyum mengembang hingga membuat mata sipitnya semakin tak terlihat. “Apa kau meragukan ucapanku, oppa?” tanya youngyoo kemudian. Tak ada balasan kata dari jongwoon. Dengan cepat jongwoon memajukan dirinya kearah youngyoo. Tanpa bisa dihindari oleh keduanya, bibir mereka kini telah menyatu. Pelan, lembut, tidak mendesak dan manis. Youngyoo selalu merasa nyaman dengan perlakukan jongwoon. Termasuk perlakukan jongwoon saat mencium bibirnya kini. Bibir jongwoon yang bermain di bibirnya membuat youngyoo tak bisa berfikir dengan baik. Yang ia tahu saat ini hanyalah menikmati tautan bibir mereka dan sama sekali tak mengharapkan apapun terjadi sehingga tautan bibir mereka terlepas. Berharap waktu menjauh dari mereka. Berharap tak ada detik yang berjalan. Biarlah seperti ini. Youngyoo ingin menikmati saat-saat seperti ini lebih lagi. Jongwoon merengkuh tubuh youngyoo dengan tangan kanannya, membuat tubuh mereka berdua semakin menempel. Jongwoon memcoba menikmati lebih dalam bibir youngyoo. Lebih menekan dan mendesak. Terkesan terburu-buru, namun tetap saja membuat keduanya tak ingin mengakhiri kegiatan mereka kali ini. Youngyoo hanya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan jongwoon di sekujur tubuhnya. Seperti kafeine dengan kadar mematikan, ini membuatnya ketagihan. Ciuman di depan balkon di pagi hari musim semi. Indah, memabukkan. Burung camar terdengar bersiul seolah menjadi backsound alami. Dedaunan pohon terlihat melambai mesra. Tautan bibir mereka terus berlanjut hingga terdengar erangan dari mulut youngyoo. Gadis itu kehabisan nafasnya. Jongwoon menciumnya tanpa memberinya kesempatan untuk sekedar mengisi kembali oksigen di paru-parunya. Perlahan jongwoon melepaskan bibirnya dari bibir youngyoo. Menciptakan kembali jarak di antara mereka berdua. Jongwoon terlihat menggaruk tengkuknya gugup. Sedangkan youngyoo terlihat mengulum bibir bawahnya. Kedua tak berani saling menatap. Merasa malu akan apa yang baru saja mereka lakukan. Keduanya menjadi salah tingkah, dan belum jua menemukan kata yang pas untuk mereka ucapkan. “Mianhae.” Ucap jongwoon akhirnya, masih dengan tatapan menatap lantai, tak berani menatap wajah gadis di hadapannya. “Aniya, gwenchana oppa.” Balas youngyoo. Youngyoo tidak merasa keberatan dengan kejadian barusan. Justru ia merasa kecewa ketika kegiatan indah itu akhirnya harus terhenti karena dirinya yang kehabisan nafas. “Ah, seandainya saja aku tidak kehabisan nafas. Ciuman tadi pasti masih berlanjut.” Sesal youngyoo dalam benaknya. Youngyoo mengerjapkan matanya ketika otaknya mulai berfikir yang tidak seharusnya.

Sepasang mata sedari tadi mengawasi youngyoo dan jongwoon dari bawah apartemen jongwoon. Mata itu memerah. Menahan perih akibat air mata yang tak ingin ia keluarkan. Sepasang mata itu menatap tajam ke arah jongwoon yang kini sedang tersenyum lebar ke arah youngyoo. Sepasang mata itu milik woobin. Ya, sepasang mata itu milik Kim Woobin. Pemuda itu berniat untuk meminta maaf karena menjauhi youngyoo selama beberapa hari ini. Woobin merasa perlu menenangkan hati dan pikirannya. Pasca penolakan halus youngyoo terhadap dirinya, woobin merasa separuh jiwanya terbang dan hancur. Ia seperti kehilangan nafsu untuk melanjutkan hidupnya. Dengan keberanian yang di paksakan, woobin nekat menghampiri apartemen tempat tinggal youngyoo. Dan kini ia disuguhkan sebuah adegan ciuman mesra antara gadis yang ia cintai dengan pria lain. Paru-parunya serasa tertohok. Perasaan kecewa karena penolakan cintanya saja belum usai, kini ditambah dengan perihnya melihat adegan ciuman youngyoo dengan seorang pemuda lain. Seberapa banyak dosanya hingga ia harus merasakan kepedihan berlipat seperti saat ini? Dengan langkah gontai, woobin meninggalkan apartemen tempat tinggal youngyoo. Ia berjalan kearah mobilnya dan melajukan kendaraan sporty miliknya itu seperti orang kesetanan. Tak peduli dengan rambu lalu lintas. Tak peduli dengan amukan polisi yang akan menangkapnya. Moodnya sedang tidak baik kali ini, teramat sangat tidak baik.

***

Atas usulan dari salah satu temannya, youngyo berjalan memasuki sebuah kantor pengacara di daerah Myeondang, seoul. Kantor dengan halaman depan penuh tanaman hias ini memukau penglihatannya. Cat dinding kantor itu berwarna peach dengan tiang-tiang penyangga berwarna coklat terang. Sebenarnya, ini adalah sebuah rumah. Namun fungsinya dialokasikan sebagai sebuah kantor. Kantor dengan gaya minimalis namun mempunyai kesan klasik dengan sebuah patung dewa yunani di tengah-tengah halaman depan kantor tersebut. Youngyoo tak henti-hentinya berdecak kagum pada tatanan kantor yang kini ia datangi. Youngyoo menekan bel yang berada tak jauh dari daun pintu. Tak lama, muncul seorang lelaki muda yang menggunakan celana bahan hitam panjang yang dipadukan dengan kemeja berwarna ungu gelap. Bagian siku kemeja tersebut digulung hingga siku. Rambut spikey berwarna kecoklatan milik lelaki itu terlihat bersinar di bawah sinar matahari. Harum tubuh lelaki tersebut begitu familiar di indera penciuman youngyoo. Youngyoo membulatkan mata ketika melihat wajah lelaki dengan tinggi semampai di hadapannya. “Woobin? Apa yang kau lakukan disini?” tanya youngyoo masih tak percaya dengan penglihatannya. Lelaki yang ada dihadapan youngyoo terlihat menghela nafas panjang. Benar, penglihatan youngyoo memang tidak salah. Lelaki yang kini berada dihadapan youngyoo memanglah woobin. Kim woobin. Seorang pengacara yang kemampuannya sedang diperbincangkan banyak orang karena berhasil memenangkan banyak kasus pengadilan. “Aku sedikit menyesal kenapa seoul begitu sempit,” gumam woobin pelan.

-TBC-

Okay, krn satu dan lain hal. Saya mempertimbangkan kembali mengenai minimal komen -_,- terlalu sulit untuk mengatur para siders disini. Dan saya juga tidak bisa menunda fanfict ini terlalu lama krn saya tdk enak hati sama yg request fanfict ini nunggu terus hih -_,-

Well, saya sudah menyelesaikan keseluruhan fanfict ini. dan akan saya post secepat mungkin. Tdk perlu menunggu minimal komen seperti yg saya syaratkan pada chapter sebelumnya. Terima kasih. Leave ur comment if u respect to me J

One thought on “Dark Shadows [Chapter 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s