DARK SHADOWS [Chapter 3]

Title         : DARK SHADOWS   [Chapter 3]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Lee Young Yoo (OC)
  • Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)
  • Find other cast by urself

Genre       : Romance, Sad romance, storylife.

Rate         : PG 15

Length     : Chapter (99.133 characters with spaces)

NB           : Kseluruhan cerita murni milik author. Dilarang keras untuk membalik nama atau menyebar luaskan fiksi ini tanpa izin dari author. Mohon cantumkan alamat blog ini dan izin kepada saya selaku author aslinya, jika anda berkeinginan untuk re-post fiksi ini. Saya sdh coba revisi typo di sini. Tapi kalo masih ada yang typo. Beritahu pada saya, nanti akan saya perbaiki, okay? Terima kasih sebelumnya. Enjoy reading guys..

cats

Bagaimana perasaanmu ketika orang yang kau percayai setengah mati menghkianatimu begitu saja? Bagaimana jika kepercayaanmu dihancurkan begitu saja? Apa kau masih kuasa mengeluarkan kata “Tak apa”? Sungguh, aku lebih takut pada orang yang berusaha berbuat baik padaku. Karena aku tidak tahu kapan orang baik itu akan menusukku diam – diam. Akan lebih menyakitkan ketika kau diserang 1 orang yang mengaku temanmu ketimbang diserang 1000 orang yang mengaku musuhmu. –Youngyoo Lee-

Previous Chapter

Atas usulan dari salah satu temannya, youngyo berjalan memasuki sebuah kantor pengacara di daerah Myeondang, seoul. Kantor dengan halaman depan penuh tanaman hias ini memukau penglihatannya. Cat dinding kantor itu berwarna peach dengan tiang-tiang penyangga berwarna coklat terang. Sebenarnya, ini adalah sebuah rumah. Namun fungsinya dialokasikan sebagai sebuah kantor. Kantor dengan gaya minimalis namun mempunyai kesan klasik dengan sebuah patung dewa yunani di tengah-tengah halaman depan kantor tersebut. Youngyoo tak henti-hentinya berdecak kagum pada tatanan kantor yang kini ia datangi. Youngyoo menekan bel yang berada tak jauh dari daun pintu. Tak lama, muncul seorang lelaki muda yang menggunakan celana bahan hitam panjang yang dipadukan dengan kemeja berwarna ungu gelap. Bagian siku kemeja tersebut digulung hingga siku. Rambut spikey berwarna kecoklatan milik lelaki itu terlihat bersinar di bawah sinar matahari. Harum tubuh lelaki tersebut begitu familiar di indera penciuman youngyoo. Youngyoo membulatkan mata ketika melihat wajah lelaki dengan tinggi semampai di hadapannya. “Woobin? Apa yang kau lakukan disini?” tanya youngyoo masih tak percaya dengan penglihatannya. Lelaki yang ada dihadapan youngyoo terlihat menghela nafas panjang. Benar, penglihatan youngyoo memang tidak salah. Lelaki yang kini berada dihadapan youngyoo memanglah woobin. Kim woobin. Seorang pengacara yang kemampuannya sedang diperbincangkan banyak orang karena berhasil memenangkan banyak kasus pengadilan. “Aku sedikit menyesal kenapa seoul begitu sempit,” gumam woobin pelan.

–DARK SHADOWS CHAPTER 3–

Youngyoo tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan woobin. “Kau? Apa kau berkerja disini?” sebuah pertanyaan kembali meluncur dari bibir youngyoo. Woobin hanya mengangguk menanggapinya. “Woah, kau benar-benar hebat woobin-ah.” Puji youngyoo sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. “Kau tidak mau masuk?” tanya woobin kali ini, berusaha menunjukkan kesopanan pada tamunya. “Oh maaf, aku terlalu banyak bicara ya? Haha.” Jawab youngyoo. Woobin mengajak youngyoo untuk melihat-lihat isi kantornya sebelum mereka membicarakan alasan kedatangan youngyoo kemari.

“Jadi, apa yang harus kubantu?” tanya woobin langsung pada intinya. “Tolong buka kembali kasus kematian kedua orang tuaku. Aku merasa ada hal lain yang menyebabkan kematian kedua orang tuaku woobin-ah. Mereka tidak mungkin mengakhiri hidup dengan cara kolosal seperti itu.” Jelas youngyoo. Kentara sekali raut berharap terpancar di wajah youngyoo. “Baik, aku akan mencoba semampuku. Aku akan meminta pihak kepolisian untuk membuka kembali kasusmu. Dan aku yang aku menyelidiki sendiri pelaku yang berkaitan dengan kematian kedua orang tuamu.” Ucap woobin menyanggupi permintaan youngyoo. Gadis dihadapan woobin terlihat mengulas senyum gembira. “Gamsahamnida Kim byeonhosa kkk..” ucap youngyoo berterima kasih. Woobin terlihat menaikkan sebelah alisnya, lalu dengan lantang ia berkata “Jangan seformal itu denganku. Panggil aku seperti biasa saja. Kau akan mati jika berlaku seformal itu lagi padaku.”

*****

Jongwoon menekan beberapa kombinasi angka untuk membuka pintu apartemennya. Dengan gerak santai, tangan lelaki itu meraih gagang pintu dan membukanya. Lampu di ruang tamu apartemennya terlihat masih menyala. Begitu juga dengan televisi yang masih menampilkan seorang presenter cantik tengah membawakan sebuah berita. “Apa youngyoo belum tidur?” gumam jongwoon. Dengan penasaran, lelaki itu berjalan menuju ruang tamu dan menggelengkan kepala ketika melihat youngyoo tertidur pulas di sofa ruang tamu. “Anak ini, masih saja bertekad menungguku. Gomawo..” gumam jongwoon –lagi- dengan tangan kanan mengusap lembut puncuk kepala youngyoo. Jongwoon menyampirkan anakan rambut yang berantakan ke belakang telinga youngyoo. Ia tidak mau ada sesuatu yang menjadi penghalang baginya untuk melihat wajah youngyoo seutuhnya dari jarak sedekat ini. “Kau tertidur pulas sekali, apa kau sangat kelelahan hari ini?” tanya jongwoon masih dengan menatap lekat youngyoo. Yang di tatap masih tertidur pulas. Jongwoon mengecup sekilas bibir youngyoo. Lalu dengan gerakan pelan jongwoon menggendong tubuh youngyoo untuk pindah ke kamarnya. Jongwoon tentu tidak tega membiarkan youngyoo tertidur di sofa sepanjang malam. Dengan sebelah tangannya, jongwoon membuka pintu kamar youngyoo dan menaruh tubuhnya youngyoo di ranjang dengan hati-hati, tak ingin membuat gadis di dekapannya ini terbangun. “Aku sangat bersyukur bertemu denganmu, yoo-ya. Apapun yang terjadi nanti, kumohon, jangan pernah tinggalkan aku. Jaljayo” Ucap jongwoon sekilas sebelum mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening youngyoo. Jongwoon berjalan menjauh dari youngyoo. Lelaki itu mematikan lampu kamar youngyoo dan sebagai gantinya, lelaki itu menyalakan lampu kecil yang berada di atas meja nakas youngyoo. Setelah melakukan rutinitas malamnya, jongwoon keluar dari kamar youngyoo dan berjalan ke arah kamarnya. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya tentu saja.

*****

“Apa kabar? Bagaimana tidurmu semalam?” sapa jongwoon ketika melihat youngyoo keluar dari kamarnya. Kini jongwoon tengah menyesap kopi hitamnya ditemani sepotong roti berlapis selai coklat ditengahnya. Jongwoon duduk di ruang tamu yang berhadapan langsung dengan kamar youngyoo. Youngyoo terlihat mengembangkan senyum manis di bibirnya. Sejurus kemudian, youngyoo berlari menghambur ke pelukan jongwoon. Jongwoon yang kaget, hanya bisa terdiam menikmati detak jantungnya yang seakan berpacu ketika tangan youngyoo melingkar dipinggangnya. “Kabarku sangat baik, oppa.” Jawab youngyoo atas pertanyaan jongwoon tadi. Youngyoo mendongak menatap wajah lelaki yang tengah ia peluk kini. Sebuah senyum manis lagi-lagi terhias di wajah youngyoo. “Ada kabar bahagia apa yang aku lewatkan?” tanya jongwoon merasa penasaran kenapa youngyoo terlihat begitu bahagia di pagi hari ini. “Kau tahu oppa? Kasus orang tuaku akan di buka lagi. Aku punya teman seorang pengacara. Dia bersedia membantuku untuk itu. Aku merasa senang bukan main sekarang.” Ungkap youngyoo jujur. Gadis itu kembali mengeratkan pelukannya setelah tadi sempat mengendur. Jongwoon hanya bisa menahan nafas karenanya. “Aku tahu, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap.” Ucap jongwoon. Youngyoo hanya menganggukkan kepala di dalam dekapan jongwoon. “Oh Tuhan, tolong beri aku hidup lebih panjang lagi untuk menikmati pelukan ini.” Batin jongwoon.

Baru saja hendak membalas pelukan sang gadis. Youngyoo keburu menarik tubuhnya dan membuat jarak di antara mereka. “Ah ya, oppa, siapa yang membawaku ke kamar? Kurasa aku tertidur di sofa semalam.” Tanya youngyoo ketika teringat ia terbangun di kamarnya. Jongwoon terlihat memutar bola matanya. Tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. Youngyoo bisa mogok bicara berhari-hari jika tau jongwoon menggendong tubuhnya dan mencium bibirnya tanpa seizinnya. “Tidak ada yang membawamu ke kamar. Kau berjalan sendiri kesana. Setelah kubangunkan tadi malam, kau langsung berjalan menuju kamarmu sendiri. Dan tertidur disana.” Ucap jongwoon berbohong. “Benarkah? Kenapa aku tidak ingat kejadian itu sama sekali. Maksudku kapan aku pindah ke kamar, hm aku..” Jongwoon membekap mulut youngyoo dengan sepotong roti yang tengah berada di genggaman tangan kanannya. “Berisik sekali kau ini, Lee youngyoo. Lebih baik kau mandi lalu buatkan aku sarapan. Aku lapar. Dan aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar ocehanmu terlebih dahulu. Aku harus berangkat ke kantor, yoo-ya.” Pinta jongwoon dengan eskpresi memelas yang dibuat-buat. Youngyoo mengerucutkan bibir mendengarnya. Dengan langkah gontai, youngyoo berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sebelum bergulat dengan dapur di apartemen jongwoon.

*****

“Woobin-ah, bagaimana perkembangan kasus kedua orangtuaku?” tanya youngyoo merasa penasaran dengan hasil kerja woobin selama satu minggu ini. Woobin terlihat menyeruput ice chocolat yang berada di genggaman tangan kanannya. Pemuda itu nampak memutar-mutar sedotan yang berada di dalam gelas ice chocolate miliknya. Woobin terlihat sedang menimbang-nimbang. “Tidak buruk menurutku. Walaupun sampai saat ini, kita masih belum menemukan titik terang dari kasus orang tuamu itu. Tapi setidaknya, polisi sedang melacak ulang tempat kejadian dan kita hanya bisa berharap ada seseorang yang bisa menjadi saksi mata atas kecelakaan yang menimpa kedua orang tuamu, youngyoo-ya.” Woobin tidak mengalihkan pandangannya. Tidak menatap youngyoo, tidak. Pemuda itu tetap menatap ice chocolate di tangan kanannya. Terdengar oleh telinga woobin, youngyoo menghembuskan nafas panjang. Woobin sedikit menoleh ke arah wajah youngyoo, dilihat dari ekor mata sang pemuda, bahu youngyoo mengendur. Gadis itu nampak mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar disisi kirinya. Menatap kosong ke arah orang-orang yang sedang berlalu lalang, sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.

“Kau tidak usah khawatir, youngyoo-ya. Aku akan terus membantumu menyelidiki kasus kedua orang tuamu.” Ucap woobin kemudian. Setelah beberapa menit mereka hanyut akan lamunan masing-masing. Youngyoo menoleh ke arah woobin. Kini pemuda itu tengah menatapnya sembari menyunggingkan senyum lembut untuknya. Youngyoo mau tak mau membalas senyum woobin, lalu berkata, “Gomawo, woobin-ah.”

“Ah iya, apa orang tuamu ada masalah sebelumnya? Maksudku, apa mereka mempunyai masalah dengan orang lain, masalah yang.. hm, berat mungkin.” Tanya woobin berusaha mendapatkan lebih banyak informasi untuk kasusnya kali ini. Yang ditanya –youngyoo- terlihat memutar bola matanya. Nampak sedang berfikir sebelum menjawab pertanyaan pemuda di depannya. “Kurasa tidak, woobin-ah.” Jawab youngyoo dengan kening berkerut. Ia sungguh tidak yakin dengan jawaban yang baru saja ia lontarkan. Ia sungguh tidak mengetahui kehidupan orang tuanya ketika di luar rumah tanpanya. Ia hanya tahu orang tuanya adalah orang yang baik dan mereka juga bukan tipikal orang yang suka mencari keributan dengan orang disekitarnya. Apa mungkin mereka mempunyai musuh? Youngyoo terdiam. “Youngyoo-ya, apa kau baik-baik saja?” tanya woobin ketika melihat youngyoo terdiam. “Ah aku, tidak, aku tidak apa-apa. Kedua orang tuaku adalah orang baik woobin-ah. Apa mungkin mereka mempunyai musuh?” kini giliran youngyoo yang meluncurkan pertanyaan kepada woobin. Woobin nampak mengelus dagunya pelan. Alisnya bertaut. “Mungkin saja, tidak semua orang baik bebas dari musuh. Terkadang karena kesuksesan seseorang, banyak orang yang membencinya. Bagaimana dengan masa lalu kedua orang tuamu? Apa kau tahu tentang hal itu?” ucap woobin lalu kembali menyeruput ice chocolate miliknya. Youngyoo terlihat memotong-motong cake strawberry di depannya tak karuan. Lalu gadis itu menggeleng pelan sambil berucap, “Tidak, aku tidak mengetahui masa lalu kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah menceritakan apa-apa kepadaku. Dan bodohnya, aku juga tidak pernah bertanya kepada mereka.” Youngyoo terlihat menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Kukira, aku anak berbakti yang mengerti tentang kedua orang tuaku. Ternyata, aku tidak mengetahui apapun tentang mereka. Betapa bodoh diriku ini, woobin-ah.” Sesal youngyoo kemudian. Youngyoo semakin menjadi mengacak-acak cake di hadapannya hingga mereka memiliki bentuk yang tak karuan. Woobin meraih tangan kiri youngyoo yang terletak di atas meja. Woobin menggenggam tangan itu lembut. Lalu meremasnya pelan. “Kau tidak perlu larut dalam penyesalanmu itu youngyoo-ya.” Ucap woobin berusaha memberi kekuatan untuk youngyoo. “Kau berkerja keras untuk membuka kembali kasus kedua orang tuamu demi membersihkan nama mereka berdua, itu sudah lebih dari cukup untuk dikatakan berbakti kepada orang tua, youngyoo-ya.” Hibur woobin sembari mengelus pelan tangan kiri youngyoo yang berada dalam genggaman tangan kanannya. “Kau selalu tahu bagaimana cara mengusir rasa gundahku, woobin-ah. Gomawo.” Ucap youngyoo tulus. Pemuda di hadapannya inilah yang selalu menjadi moodbooster baginya. Dulu maupun sekarang, pemuda di hadapannya ini tidak pernah berubah sedikitpun.

*****

Ponsel youngyoo terdengar berdering mengalunkan sebuah lagu milik Super Junior berjudul Swing. Dengan cekatan, gadis itu meraih ponsel yang ia letakan di atas meja nakasnya. Gadis itu memilih duduk di sisi ranjangnya, lalu menjawab panggilan di ponselnya. “Yeoboseyo?” sapa youngyoo pada orang yang menelponnya. “Youngyoo-ya, bisakah kau ke kedai tteoboki favorite kita dulu? Aku ingin membicarakan sesuatu mengenai kasus orang tuamu. Apa kau bisa?” tanya woobin di sebrang sana. Youngyoo terlihat membulatkan mata biru teduhnya. “Apa ada masalah?” ucap youngyoo. Woobin tidak menjawab. Pemuda itu dengan seenaknya memutus sambungan, meninggalkan youngyoo dengan kebingungannya.

*****

“Kau sudah lama menunggu?” sapa woobin ketika sampai di kedai tteoboki favorite mereka –youngyoo & woobin- semasa SMA dulu. Yang disapa terlihat menarik lengan woobin, membuat woobin jatuh tepat di kursi yang berada di depan youngyoo. “Kau membuatku penasaran tentang kabarmu itu, Woobin byeonhosa.” Ungkap youngyoo. Woobin terlihat menatap youngyoo garang. “Jangan berlagak formal denganku, youngyoo-ya.” Ucap woobin. “Okay, I’ll do it. What happen? Tell me now!” pinta youngyoo pada woobin. Woobin meletakan kedua tangannya di atas meja. Lalu dengan seenaknya menyeruput jus jeruk milik youngyoo. Youngyoo tak peduli dengan hal itu.

“Aku menemukan saksi mata di lokasi kejadian. Bang! Ini benar-benar keberuntungan youngyoo-ya.” Ucap woobin mulai membuka topik pembicaraan. “Bagaimana bisa?” tanya youngyoo heran. “Ceritanya panjang, dan kita hanya akan membuang-buang waktu jika membicarakannya.” Tolak woobin. “Intinya, ada sebuah truk yang melaju dengan cepat dari arah berlawanan. Saksi mata mengatakan truk itu tidak berada di jalur kiri. Melainkan seperti disengaja, truk itu berada di jalur kanan. Jalur yang seharusnya untuk kendaraan dari arah sebaliknya.” Youngyoo menaikkan sebelah alisnya, “Jadi ini adalah kecelakaan yang disengaja? Sudah kuduga.” ucapnya kemudian. “Belum tentu youngyoo-ya. Ini bisa saja diakibatkan karena sang supir mabuk, mungkin. Namun yang jelas kedua orang tuamu bukan sengaja untuk mengakhiri hidup mereka. Sekarang lebih baik kita kerumahmu.” Woobin terlihat menyeruput habis jus jeruk milik youngyoo. “Untuk apa?” tanya youngyoo bingung. Kembali ke rumahnya berarti kembali mengenang kenangan bersama kedua orang tuanya. Kembali ke rumahnya berarti menemui wajah sang bibi dan pamannya. Ia merasa belum siap. Ia merasa seperti ribuan duri menusuknya secara perlahan. Youngyoo terdiam, hal itu membuat woobin yakin ada sesuatu yang sedang berkecamuk dalam benak youngyoo.

“Kau baik-baik saja?” tanya woobin kemudian. Youngyoo terlihat sadar dari lamunannya. Tatapannya terlihat tidak fokus. “Ah aku baik-baik saja. Hanya saja aku merasa, hm, untuk kembali ke rumahku, kurasa aku,” ucap youngyoo bingung dengan kalimat yang akan ia keluarkan kali ini. Woobin merangkul bahu youngyoo. Sama. Hal yang sama yang ia lakukan dulu saat SMA. Disaat youngyoo tengah kebingungan untuk menentukan sebuah keputusan. Woobin selalu merangkul bahu youngyoo dan berkata, “Kau tidak perlu khawatir. Aku akan berada disamping, selalu seperti ini. Aku akan mendukungmu. Kau bisa mengandalkanku, youngyoo-ya.”

*****

“Youngyoo? Kau? Bagaimana bisa kau berada disini?” kaget sang bibi ketika melihat keponakannya yang –dulu- ia buang kini berada tepat dihadapannya. Youngyoo hanya menyunggingkan senyum miris. “Apa kau merindukanku, ahjumma?” tanya youngyoo datar. Gadis itu terus saja menatap benci ke arah sang bibi. Sang bibi yang mendapatkan tatapan –mengerikan- dari youngyoo hanya bisa menelan liurnya payah.

“Aku kesini untuk mengambil beberapa barang milik kedua orang tuaku.” Ungkap youngyoo. “Kalian belum mengacak-acak rumahku kan?” tanya youngyoo ketika melihat interior rumahnya mengalami perubahan di sana-sini. Sang bibi menggaruk tengkuknya bingung. Woobin yang ikut bersama youngyoo merasa aneh dengan gelagat sang bibi. Woobin merasa ada yang disembunyikan oleh youngyoo dan bibinya. “Ah, barang-barang milik orang tuamu? Ah itu ada beberapa yang aku pindahkan ke gudang belakang. Kukira kau tidak, ng, tidak akan membutuhkannya lagi. Jadi kusimpan di gudang saja.” Ucap sang bibi. Ia terlihat menggigit bibir bawahnya ragu.

Youngyoo berjalan ke arah kamar utama –kamar yang dulu di tempati oleh kedua mendingan orang tuanya- dengan woobin dan sang bibi yang mengekor di belakangnya. Youngyoo dengan kasar membuka pintu kamar tersebut dan menghela nafas berantakan. “Kamar ini kalian jadikan kamar kalian sekarang?” tanya youngyoo ketika melihat kamar tersebut benar-benar berubah. “Ya, kurasa kamar itu lebih baik kami gunakan daripada kamar itu kosong. Hm, apa kau mau kembali dan menempati kamar itu? Aku bisa pindah ke kamar tamu. Tenang saja.” Ucap sang bibi gelagapan. Woobin merasa seperti orang bodoh yang sedang menyaksikan adegan pertengahan dari sebuah film tanpa tahu adegan awalnya bagaimana. Woobin berkali-kali terlihat mengerutkan keningnya bingung. “Belum saatnya aku kembali ke sini, ahjumma. Aku masih ingin kau menjaga rumahku.” Ucap youngyoo lalu melenggang pergi menuju arah belakang rumahnya, menuju gudang.

Woobin menarik keras lengan kiri youngyoo sehingga gadis itu berbalik dan menatapnya sengit. “Apa yang sedang kalian sembunyikan dariku?” tanya woobin dengan tatapan mematikan. Tak ada nada santai di dalam kalimatnya barusan. Youngyoo menoleh kesamping, mencoba menolak untuk bertatapan dengan woobin. “Lee youngyoo! Tatap aku dan jawab pertanyaanku.” Bentak woobin akhirnya ketika youngyoo tak juga menjawab dan tetap mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Maaf karena aku tidak menceritakan kepadamu yang sebenarnya.” Ucap youngyoo dengan suara parau. Woobin semakin dibuat bingung dengan pernyataan youngyoo. “Kurasa kita tidak bisa membicarakan hal ini disini. Lebih baik kita mencari sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti untuk menangkap pelaku pembunuhan kedua orang tuaku.” Ujar youngyoo setelah sebelumnya menghembuskan nafas perlahan, mencoba menenangkan pikirannya yang sedang muram. “Oh baiklah, kau menang kali ini youngyoo-ya. Tapi kau harus berjanji padaku untuk menceritakan apa saja yang kau sembunyikan dariku.” Ucap woobin mengalah. Mencoba untuk memahami perasaan gadis yang kini tengah menginjakkan kakinya di lantai gudang yang penuh debu dan sarang laba-laba ini.

*****

“Buku diary eomma.” Gumam youngyoo pelan. Namun woobin masih bisa mendengarnya dengan jelas. Woobin segera menghampiri youngyoo dan melihat apa yang baru saja di temukan youngyoo. “Diary ibumu?” tanya woobin kembali memastikan bahwa pendengarannya barusan memang benar. Youngyoo hanya mengangguk. “Bagus, ini bisa kita jadikan sebagai petunjuk mengenai kehidupan masa lalu ibumu.” Ucap woobin.

Youngyoo mengelap debu di atas diary itu dengan tangannya. Gadis itu sempat terbatuk-batuk ketika debu kotor dari diary itu mengganggu pernafasannya. Jemari youngyoo mulai membuka lembar pertama dari diary sang ibu. Disana ada selembar foto utuh dan selembar foto tidak utuh. Youngyoo meraih foto itu dan melihat siapa yang menjadi model dalam foto tersebut. Didalam foto yang utuh tadi, youngyoo melihat potret sang ibu dan sang ayah sedang tertawa gembira bersama. Sedangkan di foto yang tidak utuh, youngyoo hanya melihat potret ibunya. Foto tidak utuh tersebut hanya ada setengah. Setengahnya seperti sudah dirobek paksa dan membuat foto itu tak karuan bentuknya. Youngyoo menoleh ke sampingnya, menatap woobin yang sama bingungnya ketika melihat foto tidak utuh tadi. “Lebih baik kita membaca diary itu di kantorku saja.”

*****

Youngyoo bersama woobin membaca satu per satu halaman diary usang milik Shin hyerin –ibu kandung youngyoo- tersebut. Dan sampai pada halaman terakhir, mata mereka berdua saling menatap.

Jongwook oppa, mianhae.

Sesungguhnya aku tidak ingin ini terjadi. Aku sungguh tidak ingin menjadi perusak persahabatan kalian. Namun, aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku sama sekali tidak mencintaimu sebagai seorang lelaki. Aku mencintaimu hanya sebatas kakak untukku. Seandainya saja dari awal aku tahu, jika aku akan jatuh cinta dengan temanmu, youngjae oppa, pasti aku tidak akan mau ketika kau mengenalkanku dengannya. Aku akan memilih untuk tidak mengenalnya. Aku akan memilih itu. Namun mau dibuat apalagi? Aku sudah terlanjur bertemu dengannya dan jatuh cinta padanya. Perasaanku dengannya berbeda dengan perasaan yang ku rasakan padamu. Aku mencintainya sebagai seorang lelaki. Aku merindukannya sebagai seorang lelaki. Aku sungguh tidak bisa berbohong mengenai perasaanku, oppa. Aku hanya ingin jujur terhadap perasaanku. Maaf karena diriku kalian menjadi musuh. Maaf, karena diriku kalian harus menjadi orang asing. Maaf, maaf, maaf, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan atau aku katakan kepadamu. Kuharap kelak, ketika kita bertemu lagi, hubungan kita bisa menjadi lebih baik. Kuharap, ketika kita bertemu dengan usia kita yang lebih dewasa, kita akan bisa memahami apa yang menimpa kita saat ini. Ya, semoga. Semoga saja.

Youngyoo dan woobin sama-sama mengerutkan keningnya bingung. Apa cerita dibalik halaman diary ini. Mereka hanya bisa menebak, shin hyerin jatuh cinta pada lee youngjae, namun lee youngjae bersahabat dengan kim jongwook. Lee youngjae dan kim jongwook yang sama-sama menyukai shin hyerin akhirnya mengibarkan bendera perang, hal itu membuat shin hyerin merasa bersalah karena telah merusak hubungan antara lee youngjae dan kim jongwook. Shin hyerin, ibunya. Lalu Lee youngjae, ayahnya. Dan siapa Kim jongwook? Youngyoo tak pernah mendengar nama itu terucap dari bibir kedua orang tuanya. Youngyoo kembali dibuat pening ketika memikirkan alur cerita dibalik halaman diary tersebut.

“Apa kau mengenal siapa kim jongwook?” tanya woobin. Yang ditanyai hanya menggeleng lemah. Woobin terlihat menerawang. Ia menatap ke arah jam pasir yang ada di atas meja kerjanya. “Ah iya, sekarang kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara kau dan bibimu itu. Gelagat kalian benar-benar membuatku bingung. Kalian seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Katakan padaku, jangan pernah berbohong lagi.”

“Tentang hal itu, hm, aku sebenarnya berbohong padamu bahwa aku bersekolah di Jepang karena bibiku.” Ucap youngyoo ragu untuk melanjutkan kisahnya. Woobin kembali dibuat bingung. Youngyoo mengurut keningnya ketika merasa kepalanya berdenyut tak karuan. “Bibiku, ia sebenarnya menjualku pada seseorang untuk dijadikan pelacur.” Youngyoo menghentikan kalimatnya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Woobin tak berniat untuk mengintrupsi penjelasan youngyoo. Pemuda itu lebih memilih diam dan mendengarkan. Tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Terkadang ia mengerutkan keningnya lalu menautkan alisnya. Namun tak satupun kata keluar dari bibirnya selagi youngyoo bercerita. Woobin mendengarkannya dengan baik.

*****

“Youngyoo-ya, kau datang lagi?” tanya sang bibi kaget ketika melihat youngyoo di depan pintu rumah. “Ini masih rumahku. Apa aku tidak boleh datang ke rumahku sendiri?” tanya youngyoo dengan nada retoris. Sang bibi hanya mengantup mulutnya rapat. Tak lagi ingin berkomentar tentang kedatangan youngyoo yang mendadak.

“Ada yang aku ingin bicarakan padamu, ahjumma.” Pinta youngyoo pada wanita di hadapannya. “Ah, apa itu?” tanya sang bibi. “Bisakah aku masuk dulu, baru setelah itu kita bicara.” Ucap youngyoo sedikit menyindir, karena sang bibi tidak menunjukkan gelagat akan mempersilakannya untuk masuk ke dalam rumah. Sang bibi hanya bisa bergaruk tengkuknya, merasa kikuk. “Tentu, memang sebaiknya kita membicarakannya di dalam.” Ajak sang bibi, mempersilakan youngyoo masuk ke dalam rumah.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku? Kelihatannya serius sekali.” Ucap sang bibi mencoba mencairkan suasana yang terlalu tegang. “Kau menjual perusahaan ayah kan? Kemana ahjumma menjualnya?” tanya youngyoo tanpa diawali basa-basi terlebih dahulu. Sang bibi terihat menelan liurnya, merasa tercekak dengan pertanyaan youngyoo barusan. Sang bibi terlihat diam sejenak, seperti menimbang-nimbang kalimat apa yang seharusnya ia ucapkan pada keponakannya kini.

“Hm, mengenai masalah itu. Sebenarnya, hm, aku menjualnya kepada salah satu pengusaha kaya raya. Namun aku tidak tahu siapa dan dari mana ia. Karena pada saat itu, aku hanya bertemu dengan anak buahnya. Tidak bertemu langsung dengan pengusaha itu. Dan yang ku tahu, sekarang perusahaan itu berdiri atas nama Ellite Group.” Jelas sang bibi pada youngyoo. “Ellite Group? Perusahaan pesaing ayah di bidang elektronik itu? Apa yang membeli perusahaan ayah itu dari Ellite Group?” tanya youngyoo. “Entahlah, apa memang mereka dari Ellite Group yang membelinya, atau seseorang yang bukan Ellite Group yang membelinya kemudian menjualnya kembali ke Ellite Group. Aku juga tidak mengeahuinya.” Jawab sang bibi.

“Maaf karena aku menjual perusahaan ayahmu, youngyoo-ya. Aku hanya merasa perusahaan itu sudah tidak terselamatkan lagi, jadi aku hanya ingin melakukan yang bisa kulakukan untukmu.” Tambah sang bibi. Youngyoo yang mendengarnya merasa sesuatu menonjok perutnya hingga ia merasa mual bukan main. “Tidak usah banyak berdrama di depanku. Aku sudah lama mengetahui bayangan hitammu.”

*****

“Woobin-ah temui aku di Choco Caffe sekarang.” Titah youngyoo pada woobin yang kini tengah berbicara dengannya di telepon. Belum sempat woobin melancarkan pertanyaannya, youngyoo keburu menutup sambungan telepon mereka. Gadis itu kemudian menyeruput cappucino late di atas mejanya. Duduk di sudut ruangan Choco Caffe merupakan kebiasaannya sejak dulu. Entah mengapa ia lebih nyaman berada di sudut ruangan ketimbang di tempat lain. Youngyoo tampak tanpa niat menyuapi mulutnya dengan sepotong cake strawchoco. Ia menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi. Menatap kosong ke arah langit-langit caffe. Menerang tanpa arah dan tujuan. Pagi hari yang tidak begitu baik, pikirnya.

Setelah cukup lama youngyoo bergulat dengan lamunannya, woobin tiba di Choco caffe. Dan dengan sekali lihat, woobin berhasil menemukan keberadaan youngyoo yang kini tengah menengadah menatap langit-langit caffe. “Sedang apa bocah itu?” gumam woobin heran. Dengan cepat woobin menghampiri youngyoo. Woobin berdehem pelan, sekedar memberitahu bahwa ia sudah datang. Youngyoo mengalihkan tatapannya dan menatap pemuda di depannya. “Kau baru datang rupanya.” Sapa youngyoo enggan. “Ada apa memintaku untuk menemuimu?”

“Bibiku menjual perusahaan ayah pada seseorang yang tidak ia kenal.” Ucap youngyoo lemah. “Jadi bibimu tidak tahu dengan siapa ia menjual perusahaan ayahmu?” tanya woobin lebih memastikan. Youngyoo terlihat mengangguk lalu tersenyum tipis. “Dan yang bibiku tahu, kini perusahaan ayah sudah berdiri atas nama Ellite Group.” Ucap youngyoo lagi. “Ellite Group yang membeli perusahaan ayahmu?” tanya woobin. Youngyoo terlihat memijat pelipis matanya pelan. “Aku tidak tahu akan hal itu. Kita masih belum bisa memastikan. Bibiku hanya bertransaksi dengan ajudan dari pengusaha itu. Jadi, bibiku tidak tahu siapa pengusaha itu dan bagaimana wajahnya. Bisa saja memang benar Ellite Group yang membelinya atau bisa juga orang lain membelinya, lalu menjualnya kembali kepada Ellite Group dengan harga yang lebih fantastis lagi. Hal itu sudah biasa dalam dunia bisnis, bukan?” ujar youngyoo. Woobin hanya mengangguk paham.

“Kalau begitu, aku akan mencoba untuk menyelidiki gedung Ellite Group yang dulu adalah perusahaan ayahmu. Semoga saja, ada hal penting yang bisa kutemukan disana.” Ucap woobin diikuti anggukan setuju dari youngyoo.

*****

Seorang pemuda berjalan dengan gagahnya melewati beberapa penjaga di pintu masuk gedung Ellite Group. Pemuda tampak memakai sebuah kemeja berwarna dark purple dengan lengan panjang yang di kancing rapih. Namun, dua kancing teratas dari kemeja itu di biarkan terbuka, sehingga kaos dalam berwarna putih yang di kenakan sang pemuda terlihat dengan jelas. Kulit leher putih milik sang pemuda itu pun nampak sangat menggoda pemandangan setiap gadis yang melihatnya. Beberapa gadis nampak menelan liur mereka ketika melihat sang pemuda berjalan. Sesekali pemuda itu menoleh ke kiri dan kanan. Seolah sedang menebar aura ketampanannya kepada setiap orang. Kacamata hitam bertengger apik di hidung tegasnya. Tangan kanan sang pemuda terulur untuk membetulkan posisi kacamatanya. Kemudia pemuda itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sekali lagi, pemuda itu mengedarkan pandangannya. Ia melihat di sudut kiri gedung terdapat segerombolan wanita-wanita kantor nan cantik sedang mengarahkan tatapan ke arahnya. Pemuda itu nampak mengedikkan bahunya tak peduli. Lalu dengan santainya, sang pemuda menghampiri gerombolan gadis tadi.

“Hai,” sapa pemuda itu pada gerombolan gadis ia kini tengah ia sambangi. Para gadis itu terlihat terkekeh sendiri dan merasa senang ketika seorang pemuda tampan menyapa mereka di pagi hari seperti ini. Dengan kompak para gadis itu membalas sapaan sang pemuda. Pemuda itu mendekati salah satu dari banyak gadis di sana. “Boleh kita bicara?” tanya sang pemuda lembut di telinga sang gadis. Sang gadis merasa dibuai akan perlakuan pemuda disampingnya. Sang gadis hanya menganggukan kepalanya cepat sambil mengulum bibir bawahnya sendiri. “Ikut aku kalau begitu.” Pinta sang pemuda sambil mengedikan sebelah matanya. Para gadis yang lain terlihat menggerutu melihat pemuda itu hanya mengajak salah satu di antara mereka. Sang gadis dengan enaknya bergelayut manja di lengan pemuda itu hingga mereka sampai di kantin Ellite Group.

“Kantin?” tanya sang gadis akhirnya, setelah lebih banyak diam dan mengikuti semua keinginan sang pemuda. “Kau mau kan menemaniku sarapan pagi kali ini? Aku tidak ingin sendirian baby..” kini sang pemuda malah balik bertanya. Lagi-lagi sang gadis hanya mengangguk, tak tahan dengan pesona yang terpancar kuat dari tubuh pemuda di sampingnya.

Mereka duduk di sudut kantin dengan dua porsi roti panggang beserta dua gelas jus jeruk di atas meja mereka. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya sang gadis nampak memasang wajah cantiknya. Sang pemuda terlihat tersenyum miring. “Kau sudah berapa lama bekerja di sini?” tanya pemuda itu tampak mau berbasa-basi sebelumnya. “Aku? Hm, sudah sekitar 5 tahun. Memangnya kenapa?” gadis itu balik bertanya dengan ekspresi bingung. Sang pemuda hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Kau pasti tahu dengan jelas, sudah berapa kali gedung ini berpindah kepemilikan kan?” tanya pemuda itu lagi, tanpa menghiraukan pertanyaan sang gadis tadi. “Masalah kepemilikan? Eum, gedung ini hanya berganti dua kali kepemilikan. Yang pertama saat gedung ini masih atas nama Sagwa corp dan sekarang atas nama Ellite Group. Hanya itu saja.” Papar sang gadis. “Hanya dua kali?” pemuda itu kembali memastikan. Sang gadis hanya mengangguk sambil menyeruput nikmat jus jeruk di tangan kirinya.

“Baiklah, terima kasih atas informasimu cantik.” Ucap sang pemuda sembari menyentil pelan dagu sang gadis. Gadis itu terlihat tersipu malu. Pemuda tadi terlihat bangkit dari kursinya. Berniat untuk pergi. “Aku pergi dulu. Kuharap lain kali kita bisa bertemu,” pamit sang pemuda sambil menggerlingkan matanya.

“Hey, namamu siapa?” teriak sang gadis ketika melihat pemuda itu makin jauh melangkah. Sang pemuda tidak menjawabnya, ia terus saja berjalan membelakangi sang gadis. Pemuda itu hanya mengangkat tangan kanannya lalu melambai tanpa membalik tubuhnya menghadap lawan bicaranya. “Aku Oh Ji young. Kau dengar itu Oh jiyoung!” teriak sang gadis lagi, berusaha agar sang pemuda mendengar namanya.

Pemuda tadi tetap saja berjalan, hingga dirinya melihat sebuah struktur organisasi Ellite group terpampang jelas di dinding gedung. Disana tertulis nama Kim Jongwook sebagai Presiden Direktur. Pemuda itu terlihat memicingkan matanya, berusaha mengingat nama yang sepertinya tak asing lagi ia dengar. Kim jongwook, tokoh yang di ceritakan ibu youngyoo dalam buku diary-nya. Mungkinkan ini adalah jongwook yang sama dengan jongwook yang ada dalam buku diary itu? Jadi semacam pelancaran balas dendam, mungkin.

*****

Youngyoo berjalan lesu ke arah dapur. Mungkin segelas air bisa membuatnya tertidur pulas. Malam ini, entah kenapa, ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia selalu terbangun dan susah untuk kembali tidur. Dengan gerak perlahan, youngyoo meraih gagang pintu kulkas dan mengeluarkan sebotol air dari dalamnya. Dengan tangan kirinya, youngyoo menggapai gelas. Dan menuangkan air yang tadi ia ambil ke dalam gelas tersebut. Hening. Hanya ada suara air yang mengalir melewati tenggorokan youngyoo. Youngyoo menenggak airnya hingga habis tak bersisa. Gadis itu menyenderkan tubuhnya di depan kulkas. Memejamkan matanya, lalu menarik nafas panjang. Gadis itu kembali membuka matanya dan terkesiap melihat jongwoon sudah berada di hadapannya dengan secangkir coklat hangat di tangan kanannya. Jongwoon meraih tangan kanan youngyoo lalu memindahkan coklat hangat tadi ke genggaman tangan sang gadis.

“Sejak kapan kau berada di sini, oppa?” tanya youngyoo yang merasa tak percaya dengan penglihatannya. “Sejak kau ada disini juga.” Jawab jongwoon membuat youngyoo menaikkan sebelah alisnya bingung. “Kenapa belum tidur? Apa kau mimpi buruk?” tanya jongwoon kemudian. Youngyoo hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Lalu?” tanyanya lagi. “Aku hanya merasa, hm, cemas.” Jawab youngyoo seadanya. “Apa yang kau cemaskan? Masalah kasus orang tuamu?” Jongwoon mengulurkan kedua tangannya, mengenggam bahu youngyoo dan menatap mata biru teduh milik gadis di depannya. “Cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap. Sehebat apapun bangkai di sembunyikan, bau busuknya pasti akan tercium juga. Kau tak perlu mengkhawatirkannya.” Jongwoon meraih gadis di hadapannya ke dalam pelukannya. Menenangkan perasaan gadis dalam dekapannya kini. Mengelus lembut punggung sang gadis, sesekali jongwoon mengecup puncuk kepala gadis di dalam dekapannya.

*****

Desir angin pagi membelai wajah youngyoo ketika gadis itu menyibak gorden dan membuka jendela kamarnya. Sinar matahari masuk menerobos sela-sela ventilasi. Youngyoo menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Menghilangkan kepenatannya semalam. Ia baru bisa tertidur pukul 1 dini hari. Dengan langkah ringan youngyoo berjalan menuju kamar mandi, namun suatu getaran menghentikan langkahnya. Gadis itu mengalihkan tatapannya pada sebuah meja nakas di kamarnya. Benda kecil berbentuk persegi panjang di atasnya terdengar bergetar hingga menimbulkan bunyi genderum pelan. Youngyoo meraih benda berbentuk persegi panjang tersebut.

Message from : Woobin Kim

Youngyoo-ya, temui aku di Sky Dinning Cafe hari ini pukul 10 pagi. Kutunggu disana.

Youngyoo membaca pesan yang baru saja muncul di layar ponselnya. Jam dinding kamarnya masih menunjukkan pukul 6 pagi, namun woobin sangat rajin mengiriminya pesan di awal pagi ini. Youngyoo mengetik balasan untuk pemuda di seberang sana. Setelah selesai, ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Berendam dengan aroma mawar mungkin bisa melepaskan kepenatannya.

*****

“Apa kau menemukan informasi berharga di sana?” tanya youngyoo tanpa ingin berbasa-basi terlebih dahulu. Yang ditanya malah asik menyesap cairan hitam pekat bernama kopi di genggaman tangannya. “Woobin-ahh ppali marhaebwa!” ucap youngyoo lagi. Woobin terlihat melempar pandangan sengit ke arah youngyoo. “Kau ini benar-benar menganggu kopi pagiku.” Keluh woobin ketika harus rela melepas sebentar secangkir kopi dari genggaman tangannya.

“Hm, gedung itu hanya dua kali berpindah kepemilikan. Pertama bediri atas nama Sagwa Corp, lalu setelah Sagwa Crop dilanda musibah berkepanjangan, akhirnya Ellite Group membeli Sagwa Corp dan membalik nama kepemilikan gedung beserta semua asset milik Sagwa Corp.” Tutur woobin. “Dan yang membuatku terkejut adalah pemilik Ellite Group itu bernama Kim Jongwook.” Lanjut woobin ragu. Raut wajah youngyoo mengeras, terlihat setumpuk pikiran sedang menerjangnya dahsyat kali ini. “Kim Jongwook katamu?” tanya youngyoo kembali memastikan indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik. “Maksudku, ini semacam pelampisan sakit hati, ya, balas dendam?” gumam youngyoo dengan suara tertahan. Woobin masih bisa mendengarnya dari jarak sedekat ini.

“Aku juga belum berani menyimpulkan tentang hal itu. Namun satu hal yang kini sudah terjawab. Pembeli perusahaan Sagwa Corp adalah Ellite Group. Aku tidak berani memastikan jongwook pemilik Ellite Group adalah Jongwook yang sama dengan jongwook yang ada dalam buku diary ibumu. Kita masih harus menyelidikinya. Kita tidak boleh gegabah menentukan tindakan.” Ucap woobin berusaha menenangkan gadis di hadapannya.

“Lalu bagaimana menurutmu?” youngyoo meminta pendapat pemuda yang sedang menyesap kopi hitamnya. Woobin terlihat mengerutkan kening, pemuda itu nampak sedang berfikir. Sesekali ia memijit pelipis matanya. Tautan alisnya mengendur. Ia menatap youngyoo dan mulai mengemukakan sarannya. “Profile Jongwook.” Ucap pemuda itu singkat. Youngyoo merasa tak mengerti dengan maksud woobin. Gadis itu menunjukan ekspresi seolah meminta penjelasaan lebih dari pemuda di hadapannya. “Menyelidiki profile kim jongwook. Mungkin kita bisa menyelidiki tentang di mana ia bersekolah SMA dulu. Jika sekolah itu sama dengan sekolah ibumu, besar kemungkinan jongwook itu adalah jongwook yang dimaksud ibumu, dan kita bisa menargetkannya sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun jika tidak, kecil kemungkinan bahwa jongwook itu adalah jongwook yang di maksud ibumu.” Jelas woobin perlahan. Awalnya youngyoo masih menautkan kedua alisnya bingung, namun akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Darimana kita bisa mendapatkan info tentang Kim Jongwook itu?” tanya youngyoo yang disusul dengan getaran dari ponselnya. Youngyoo meraih ponselnya dan menjawab panggilan yang tertera disana. “Yeoboseyo, ne? Jigeum? Oh ne. Arraseo. Ne, annyeong.” Bicara youngyoo pada orang yang menelponnya. Youngyoo memutus sambungan telepon lalu menoleh ke arah woobin, gadis itu tersenyum tipis lalu berkata, “Mianhae woobin-ah. Tadi itu pengacara keluarga, ia memintaku untuk menandatangani pemindahaan kekayaan kembali ke tanganku. Aku harus segera kesana. Kita lanjutkan obrolan ini lain kali.” Pamit youngyoo pada woobin sebelum melangkahkan kakinya keluar Sky Dinning Cafe. Youngyoo terlihat membalik badannya dan berkata dengan senyum merekah di wajahnya. “Kau sudah berjuang keras untuk menyelesaikan kasus kedua orang tuaku. Kau yang terbaik!” ucap gadis itu lalu mengepalkan tangan kanannya memberikan simbol semangat pada pemuda yang kini tengah menjadi lawan bicaranya. Woobin hanya terkekeh pelan melihat tingkah youngyoo.

*****

Jari-jemari woobin terlihat lincah menekan keyboard laptopnya. Dengan mata terus menatap ke layar laptopnya, ia meneliti satu per satu kata yang ia dapatkan di profile Kim jongwook, pemilik Ellite Group. Sesekali alisnya terlihat bertaut lalu mengendur, bertaut lagi dan mengendur lagi. Ditemani secangkir kopi hitam hangat dan dua potong roti selai kacang, pemuda itu tengah giat menemukan informasi-informasi tentang pemilik Ellite Group tersebut. Malam semakin larut, woobin tak berniat untuk menyudahi kegiatannya. Sering kali pemuda itu terlihat menggeliat, merasa pegal karena harus duduk dan terus meneliti kata per kata yang terpajang di layar laptopnya.

“Jehwa High School?” gumamnya sendiri, ia menyesap perlahan cairan pekat yang kini berada di genggaman tangannya. Ia masih asik men-scroll mouse-nya. Membaca lebih dalam biografi tentang pemilik perusahaan yang namanya cukup mendapatkan tempat di dunia. Woobin meraih ponselnya, dengan lincah jemarinya mencari nomor kontak youngyoo. Bunyi nada tunggu yang menggangu pendengarannya mulai terdengar dari ponselnya. Woobin hanya berdecak sebal, menunggu youngyoo menjawab panggilannya.

*****

Tidur –yang tidak terlalu nyenyak- youngyoo terganggu akibat bunyi dering ponsel sang gadis. Masih dengan mata terpenjam gadis itu mengulurkan tangannya ke arah meja nakas kecil di samping ranjangnya, mencari-cari keberadaan benda yang sudah mengusik tidurnya itu. Dengan enggan youngyoo membaca nama sang penelpon yang dengan seenak perutnya sudah menganggu acara tidur malam sang gadis. Youngyoo memicingkan mata ketika melihat nama Woobin Kim terpampang jelas di layar ponselnya.

Youngyoo menggeser warna hijau –panggilan diterima- di layar ponselnya. “Yeoboseyo woobin-ah. Kenapa menelponku malam-malam begini?” tanya youngyoo heran. Terdengar suara desahan berat dari lawan bicaranya. “Apa aku menganggumu?” Tanya woobin. Youngyoo memutar bola matanya. “Sepenuhnya tidak. Aku tidak bisa tidur malam ini. Ada apa?” ucap youngyoo.

“Apa kau kenal Jehwa High School?” tanya woobin tanpa mau berbasa-basi terlebih dahulu. Youngyoo nampak berfikir, “Kurasa aku sering mendengarnya. Jehwa high school hm, Jehwa.. ah itu adalah sekolah kedua orang tuaku dulu. Ya mereka pernah menunjukan kepadaku album foto alumni angkatan mereka dulu. Kau tahu darimana nama Jehwa High School? Sekolah itu tidak berada di area Seoul bukan? Bagaimana kau tahu?” jelas youngyoo lalu merasa bingung kenapa woobin menanyakan sekolah itu malam-malam begini. “Kim jongwook pemilik Elliet Group juga bersekolah disana. Bang! Bisa jadi dia adalah jongwook yang di maksud ibumu. Besar kemungkinan jongwook lah yang telah dengan sengaja membunuh kedua orang tuamu. Karena masalah percintaan mereka dulu, seperti dendam belum terbalaskan bisa saja. Dan ia baru bisa merealisasikan dendam itu setelah dewasa. Besar dugaan seperti itu.” Tutur woobin. Youngyoo hanya melongo mendengarnya. Demi dendam cinta masa lalu, manusia bernama Kim Jongwook itu membunuh kedua orang tuanya? Ini gila! Kemana perginya otak pria itu? Youngyoo merasa kepalanya berdenyut tak karuan. Merasa tertohok dengan kemungkinan besar bahwa kedua orang tuanya memang sengaja di bunuh. Youngyoo tak kunjung merespon penuturan woobin. Gadis itu masih sibuk dengan pemikiran liarnya tentang kim jongwook tersebut.

“Youngyoo-ya, are you okay? Hey, why so silent? Still awake?” tanya woobin ketika tak kunjung mendengar suara youngyoo dari ponselnya. “Oh, I’m okay. Sorry. Kupikir aku butuh istirahat sekarang. Kita bicarakan ini besok, temui aku di cafe yang ada di ujung jalan Myeongdang. Kutunggu jam 9 pagi. I feel so tired, i need to take a rest now. Thanks for your infomation, woobin-ah. Nite.” Ucap youngyoo mengakhiri perbincangannya dengan woobin tengah malam ini di telepon. Youngyoo meletakan kembali ponselnya di atas meja nakas kecil tadi. Kini tangan kanannya tengah memijit-mijit kepalaya sendiri. Gadis itu terlihat memejamkan matanya. Nama Kim jongwook seakan tengah berkecamuk dalam setiap sudut benaknya. Membuatnya ingin mengeluarkan semua isi perutnya. Pria itu, youngyoo tak sanggup mendeskripsikan bagaimana biadabnya pria tersebut. Membunuh demi alasan kolosal, cinta. Love is blind, isn’t it? Ya, youngyoo tahu dengan pasti bahwa cinta memang buta dan tak mengenal apapun. Namun apa mungkin seorang manusia kehilangan hati nuraninya karena cinta? Apa lelaki bernama kim jongwook itu masih bisa di sebut seorang manusia, setelah pria itu membuatnya terpisah selamanya dengan kedua orang yang disayanginya? Apa masih pantas gelar manusia di sandangkan kepada pria itu?

*****

Woobin meletakan kembali ponselnya di samping laptopnya kini. Ia mengedikan bahunya tak mengerti. Ingin menebak apa yang ada di pikiran youngyoo, namun sepertinya hal yang di pikirkan youngyoo terlalu banyak dan bercabang hingga dirinya bingung akan menebak darimana. Pemuda itu kembali mengesap pelan kopi hitam yang sudah mendingin. Kini tangannya aktif lagi men-scroll mouse yang ada di genggaman tangan kanannya.

Pergerakan mouse-nya terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga milik pengusaha pemilik Ellite Group tersebut. Terdapat 3 orang di dalam foto itu. Dan woobin bisa menebaknya. Seorang wanita yang masih terlihat cantik itu adalah istri dari Kim Jongwook, lalu seorang pria muda yang berdiri di belakang wanita tadi adalah anak dari kim jongwook. Lalu pria tua yang tengah tersenyum tipis itu adalah kim jongwook sendiri. Woobin memicingkan mata ketika melihat kembali wajah anak dari kim jongwook. Ia merasa pernah melihat wajah pria muda itu. Tapi dimana dan kapan ia tidak begitu ingat. Dan iapun sebenaranya tidak begitu yakin bahwa ia memang pernah melihat wajah pria muda tersebut.

Woobin kembali men-scroll mouse-nya. Mungkin saja masih ada hal lain yang bisa ia jadikan petunjuk dimana dan kapan kiranya ia pernah melihat wajah mirip putra pemilik Ellite Group itu. Di dalam biografi itu ia menemukan nama Kim jongwoon yang dijelaskan sebagai anak tunggal dari Ellite Group.

“Kim Jongwoon, hm jongwoon. Kurasa aku pernah menemuinya. Tapi aku tidak ingat dimana itu, hm, mungkin saja di suatu pertemuan, atau suatu kasus atau ah aku bingung memikirkannya.” Gumam woobin pada dirinya sendiri. Kepalanya kini terasa berdenyut-denyut ringan ketika otaknya ia paksa untuk mengingat dimana ia pernah bertemu dengan wajah mirip jongwoon itu. “Mungkin aku terlalu lelah, lebih baik aku tidur sekarang. Mungkin saja besok aku bisa ingat dimana aku menemui pria itu.” Gumam woobin lagi. Woobin terlihat menggeliatkan badannya, mencoba menghilangkan rasa pegal yang kini menyerang badannya secara brutal.

*****

“Kau sudah bangun rupanya?” tanya jongwoon ketika ia melihat youngyoo tengah berdiri menghadap jendela besar di kamarya. Jongwoon melangkah hati-hati sambil membawa nampan berisi bubur. Pria itu meletakan nampan berisi bubur itu di meja nakasnya. Jongwoon kembali melanjutkan langkahnya ke arah youngyoo. Youngyoo tak bergeming, gadis itu masih saja menatap kosong ke arah jendela besar dikamarnya. Ia menatap kosong ke arah dedaunan yang basah karena embun pagi. Jongwoon melingkarkan tangannya memeluk youngyoo dari belakang. Pria itu meletakan dagunya di bahu youngyoo. Menghembuskan nafas perlahan di belakang daun telinga youngyoo. Youngyoo menoleh sekilas ke arah wajah jongwoon.

“Kau tidak pergi ke kantor, oppa?” tanya youngyoo kemudian setelah sekian lama terdiam. “Kau kira aku bisa pergi ke kantor sedangkan kau terus-terusan melamun seperti ini? Dan sepertinya kau tidak enak badan, kuperhatikan kantong matamu makin menghitam seperti panda. Seberapa sering kau tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini?” tanya jongwoon. Pria itu mengangkat dagunya dari bahu youngyoo. Pria itu kini makin mengeratkan pelukannya pada gadis di dekapannya. Pria itu menempelkan pipinya dengan pipi sang gadis. Menyalurkan kehangatan yang ia punya.

Youngyoo merasa jantungnya sedang berontak untuk tetap dalam sangkarnya. Bisakah jongwoon tidak melakukan kontak fisik dengannya di pagi hari seperti ini? Hal ini benar-benar membuatnya kehabisan oksigen untuk mengawali pagi. Youngyoo mengutuk tubuhnya sendiri yang tidak bisa bersikap normal ketika sudah berdekatan dengan jongwoon. “Hm, kau begitu memperhatikanku. Aku memang tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku juga tidak mengerti. Mungkin aku hanya terlalu banyak pikiran. Hanya itu.” Jawab youngyoo sekenannya. Gadis itu meletakan tangannya di atas tangan jongwoon yang tengah melingkar di pinggangnya. Gadis itu mengelus lembut tangan jongwoon dengan jemarinya. “Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Kau bisa pergi ke kantor.” Jongwoon hanya mengangguk sambil tersenyum.

Jongwoon melepaskan lingkaran tangannya di pinggang youngyoo. Pria itu meraih pundak youngyoo dan membalik posisi tubuh gadis di depannya agar menghadap ke arahnya. Youngyoo tak menolak, gadis itu seakan kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri. Setiap sentuhan jongwoon mebawa dampak mematikan bagi dirinya. Tubuh maupun otaknya.

“Pastikan untuk  menjadikanku orang pertama yang mendengar keluh kesahmu. Jangan biarkan orang lain menempati posisi itu. Arra?” pinta jongwoon kemudian. Youngyoo hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Gadis itu menghambur ke dalam pelukan jongwoon. Gadis itu merasa perlu menghirup aroma menenangkan dari tubuh pria bernama kim jongwoon ini. Pria yang berhasil meluluh lantakan tembok kepedihan di dalam hatinya.

Jongwoon membalas pelukan youngyoo. Tak ada kata yang terucap diantara mereka. Hening. Hanya ada hembusan angin pagi yang menerpa mereka berdua. Sunyi. Ketenangan yang memang di butuhkan youngyoo saat ini. Jongwoon melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi youngyoo dengan kedua tangannya. Dengan sedikit memiringkan kepalanya, jongwoon menyentuhkan bibirnya dengan bibir youngyoo. Memanggut bibir mereka berdua di ketenangan pagi.

*****

“Apa kau benar baik-baik saja semalam?” tanya woobin mengawali perbincangan mereka di dalam sebuah cafe yang berada di ujung jalan Myeondang. “Kukira begitu.” Jawab youngyoo singkat. “Ah iya, bagaimana kau tahu jika Kim jongwook bersekolah di sana juga?” tanya youngyoo kemudian. “Semalam aku membaca biografi tentang pemilik Ellite Group itu. Besar dugaan, memang beliau lah yang membunuh kedua orang tuamu dengan alasan penolakan cintanya dulu terhadap ibumu.” Jelas woobin. “Kalau begitu kita bisa melayangkan surat penangkapan untuk jongwook itu bukan?” tanya youngyoo berharap. Woobin terlihat menggelengkan kepala. “Dia orang berpengaruh di korea ini youngyoo-ya. Kita tidak bisa menangkapnya tanpa bukti yang kuat. Ini hanya berdasarkan penafsiran kita berdua. Belum ada bukti konkret untuk menangkapnya. Kita harus berhati-hati, bisa saja beliau malah melayangkan gugatan pencemaran nama baik kepada kita. Dan itu akan semakin menganggu kasus penyelidikan kedua orang tuamu youngyoo-ya.” Jelas woobin. Youngyoo hanya menganggukan kepala mengerti.

“Lalu bagaimana dengan saksi mata kecelakaan kedua orang tuaku?” youngyoo mengalihkan topik. Woobin terlihat menyeruput pelan guava juice-nya. “Mengenai hal itu, aku sudah menghubunginya. Dan dia bilang bersedia jika kita menemuinya sekarang. Aku akan mengantarmu kesana, kau bisa bertanya langsung dengannya. Kau mau? Atau aku saja yang kesana?” tawar woobin kemudian. Youngyoo mengggelengkan kepalanya cepat. “Jangan, kita pergi bersama saja. Aku ingin bicara langsung dengannya.” Jawab youngyoo. Woobin mengangguk paham. “Baiklah jika itu maumu. Ayo ikut aku.” Ajak woobin kemudian, pria itu meraih lengan youngyoo dan mengajak gadis itu berjalan keluar cafe tersebut.

*****

Kini woobin dan youngyoo sampai pada sebuah rumah sederhana. Rumah yang sebagian besar berbahan kayu ini nampak tidak terawat. “Kau yakin ini rumahnya?” tanya youngyoo ragu pada woobin. “Entahlah, alamatnya benar disini.” Jawab woobin tak kalah ragunya. “Kita coba saja,” ucap woobin lagi. Woobin mengulurkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu rumah itu. Terdengar sahutan dari dalam rumah. Woobin dan youngyoo saling tatap, keduanya menyunggingkan senyum senang.

Tak lama pintu kayu itu berderit dan memunculkan seorang pria tua dibaliknya. Woobin dan youngyoo tersenyum sopan ke arah kakek tua itu. “Kita bertemu lagi, ahjussi.” Sapa woobin pada pria tua itu. Pria itu terlihat mengulas senyum di wajah tuanya. “Kau ternyata, dan gadis ini?” tanya pria paruh baya itu ketika melihat youngyoo disamping woobin. “Ini adalah gadis yang kuceritakan tempo lalu, ahjussi.” Jelas woobin singkat. “Ah iya, aku masih mengingatnya. Kau adalah anak dari korban kecelakan lima tahun yang lalu bukan?” tanya pria tua itu pada youngyoo. Youngyoo hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis. “Mari masuk. Maaf rumahku memang seperti ini.” Ajak pria itu. Youngyoo dan woobin tersenyum lalu mengikuti sang pria masuk kedalam rumahnya.

*****

“Ya, mereka membayarku dengan uang. Saat itu kondisiku memang sedang membutuhkan uang. Istriku sedang sakit keras dan harus segera di operasi. Sedangkan aku tidak punya uang pada saat itu. Akhirnya aku menerima uang mereka dan bungkam perihal kecelakaan kedua orang tuamu. Tapi semenjak itu, aku memendam rasa sesal yang teramat sangat. Istriku sempat marah padaku saat aku menceritakan darimana aku mendapatkan uang untuk operasinya. Karena hal itu serangan jantung istriku kambuh. Dan ia akhirnya meninggal dunia 4 tahun yang lalu. Sebelum meninggal, istriku berpesan agar aku membuka semua kebenaran yang telah kusembunyikan. Tapi aku bingung bagaimana caranya, karena saat itu polisi sudah menutup kasus tersebut. Selama ini aku hidup dipenuhi dengan perasaan bersalah terhadapmu, youngyoo-ssi. Dulu aku sempat melihatmu menangis di depan jenazah ayah-ibumu, hal itu benar-benar menamparku keras. Dan saat aku bertemu dengan woobin. Saat aku tahu woobin menyelidiki tentang kecelakaan 5 tahun yang lalu. Aku menceritakan kejadian sebenarnya kepada woobin. Tidak ada yang kusembunyikan lagi dari kalian.” Jelas pria tua itu panjang lebar. Youngyoo dan woobin tak sekali pun mengintrupsi penjelasan sang pria. Mereka mendengarkan semua penuturan sang pria hingga selesai.

“Jadi benar ini bukanlah kecelakaan murni?” tanya youngyoo masih tak menyangka dengan kenyataan yang sedang ia hadapi saat ini. Woobin terlihat merangkul bahu youngyoo. Memberikan kekuatan pada gadis yang kini telah meneteskan air mata dari sudut matanya. Sang pria tua itu hanya mengangguk. “Ah iya, aku sempat mencatat nomor polisi truk yang menabrak kedua orang tuamu dulu. Sebentar aku akan mengambilkannya.” Ucap sang pria kemudian. Ia berjalan ke arah ranjang tuanya. Ia meraih secarik kertas dari meja nakasnya. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, pria itu kembali berjalan menuju ke arah youngyoo dan woobin yang kini tengah menatap ke arahnya.

“Ini. Mungkin akan membantu kalian nantinya.” Ucap pria tua itu sambil menyerahkan secarik kertas yang baru ia ambil tadi ketangan youngyoo. Youngyoo tersenyum menerimanya. “Terima kasih ahjussi, ini benar-benar akan membantu kami.” Ucap youngyoo terharu. “Sudah seharusnya aku melakukan hal ini. Seharusnya aku melakukan hal ini sejak dulu. Tapi maaf, aku baru bisa melakukannya sekarang. Aku minta maaf kepadamu youngyoo-ssi. Hiduplah dengan bahagia, kuyakin kedua orang tuamu sudah tenang disana.” Ucap pria tua tadi. “Gwenchana ahjussi. Aku mengerti posisimu saat itu. Aku sudah bisa mengikhlaskan kepergian kedua orang tuaku. Kau tidak perlu merasa terlalu bersalah karena hal ini. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu ahjussi.” Gadis itu meraih tangan pria tua itu dan menggengamnya, mengucapkan rasa terima kasihnya. Woobin ikut tersenyum melihat kedua orang yang tengah ia perhatikan ini. Woobin lebih banyak diam, ia ingin membiarkan youngyoo bertanya apapun yang tengah berkecamuk dalam benaknya kepada pria itu yang mengetahui kejadian sebenarnya tentang kecelakaan kedua orang tuanya itu. Woobin melongokan kepalanya untuk melihat kertas yang berada di tangan kanan youngyoo. “Kita bisa mengandalkan tim-ku untuk menyelidiki siapa pemilik kendaraan ini.” Ucap woobin kemudian. Youngyoo mengangguk sambil tersenyum tipis ke arah woobin.

*****

“Dimana orang itu woobin-ah??” tanya youngyoo dengan nada marah yang ia berusaha pendam. “Tenanglah, mereka sedang di-introgasi mengenai kejadian sebenarnya.” Ucap woobin berusaha menangkan youngyoo. Kini mereka sedang berada di kantor woobin. Pemilik kendaraan truk yang menabrak kedua orang tua youngyoo berhasil ditemukan setelah 1 minggu pencarian. Youngyoo berusaha keras untuk tidak menampar kedua pelaku yang kini tengah berada dalam jarak pandangnya. Terlihat kedua pelaku itu sedang berada dalam suatu ruangan kedap suara. Woobin dan youngyoo memperhatikan keduanya dari luar ruangan melalui jendela dengan kaca bening. Beberapa kali, kedua pelaku enggan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

“Woobin-ah, aku ingin masuk. Izinkan aku masuk kedalam sana. Kumohon woobin-ah.” Pinta youngyoo memelas kepada woobin yang kini tengah berdiri disampingnya. Woobin memegangi kedua bahu youngyoo. Menahan gadis itu untuk tetap berada di sampingnya. “Kumohon tenanglah youngyoo-ya. Jaga emosimu.” Ucap woobin pada gadis di hadapannya kini. Youngyoo menatap nanar ke arah woobin, “Bagaimana bisa aku tenang melihat pelaku pembunuhan kedua orang tuaku berada di hadapanku begini? Aku sudah cukup bersabar selama 5 tahun ini, woobin-ah. Aku tidak bisa menahannya lagi woobin-ah tidak bisa!” ucap youngyoo dengan suara lantang, gadis itu langsung menghambur masuk kedalam ruang introgasi dan memaki kedua orang yang tengah ia lihat ini.

“Apa mau kalian? Katakan apa mau kalian sehingga menabrak kedua orang tuaku hingga tewas? Katakan!” ucap youngyoo tak terkendali. “Kami hanya disuruh oleh seseorang.” Ucap salah satu pelaku, sedangkan pelaku yang satunya malah menatap tajam ke arah pelaku yang mengucapkan kalimat barusan. Youngyoo terlihat memicingkan mata. “Siapa yang menyuruh kalian? Kumohon katakan padaku! Katakan!!” ucap youngyoo diakhiri dengan jerit tangis pilu dari bibirnya. Kedua pelaku itu nampak saling menatap, merasa ragu apakah harus mengatakan yang sebenarnya atau malah tetap bungkam. “Sampai kapanpun kami tidak bisa mengatakannya.” Ucap pelaku yang tadi memberikan tatapan tajam ke arah rekan kerjanya itu. Youngyoo membulatkan matanya tak percaya dengan jawaban yang ia dapatkan.

“Kurang ajar! katakan atau aku akan membunuh kalian!!” ucap youngyoo sambil memukul kedua pelaku dengan tangannya sendiri. Melihat hal itu woobin melesat masuk kedalam ruangan dalam menarik youngyoo keluar dari sana. Youngyoo sempat menolak, namun sepertinya tenaga youngyoo habis untuk menangis tadi.

*****

“Woobin-ah biarkan aku membunuh mereka! Biarkan aku!” bentak youngyoo tak terima ketika woobin membawanya keluar kantor. “Hey, tenangkan dirimu. Aku tahu bagaimana rasanya ada di posisimu saat ini. Tapi kumohon, jangan melakukan apapun kepada mereka. Mereka adalah kunci kita saat ini. Mereka yang bisa membuka siapa dalang dari semua ini. Hanya mereka, tolong tenangkan dirimu youngyoo.” Ucap woobin. Pria itu meraih tubuh youngyoo ke dalam dekapannya. Woobin mengusap pelan punggung youngyoo. Youngyoo sendiri hanya bisa menangis dalam dekapan woobin. Woobin tak berniat menghentikan tangisan youngyoo. Pria itu tak bersuara setelahnya, pria itu lebih memilih diam dan tetap memeluk sang gadis. Menangkan pikiran sang gadis yang tengah kalut kini.

*****

“Kedua pelaku itu sudah kuserahkan ke kantor polisi kemarin. Kini polisi sudah memenjarakan mereka berdua.” Jelas singkat woobin pada youngyoo. Woobin membawa dua cangkir kopi dan menyerahkan satu untuk youngyoo. Youngyoo hanya tersenyum tipis menerimanya. “Lalu apa mereka sudah mengatakan siapa yang menyuruh mereka menabrak kedua orang tuaku?” tanya youngyoo kemudian. Woobin hanya menggeleng pelan. “Namun polisi masih terus mengintrogasi keduanya.” Jawab woobin. Tak lama setelah woobin mengatakan hal itu, masuk seseorang dengan nafas tersenggal seperti habis berlarian. Woobin dan youngyoo sama-sama mengerutkan kening menatap pria yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja woobin itu.

“Kim byeonhosa, mereka, mereka bunuh diri.” Ucap pria itu kemudian masih dengan nafas tersenggal. “Mereka? Maksudmu kedua pelaku itu?” tanya woobin memastikan objek yang sedang mereka bicarakan. Pria yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan. “Apa katamu?” kaget youngyoo mendengar pernyataan pria yang baru saja masuk itu. Seketika itu youngyoo merasa keseimbangan tubuhnya melayang. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha untuk mendapatkan lagi keseimbangannya. Kunci dari kecelakaan kedua orang tuanya kini tidak ada. Lalu siapa yang bisa memberikannya kunci untuk membuka kasus orang tuanya kali ini?

Woobin mengalihkan pandangan ke arah youngyoo. Sekedar ingin memastikan bahwa gadis disebelahnya itu masih dalam keadaan baik-baik saja. “Okay?” tanya woobin pada youngyoo yang terlihat sangat syok mendengar berita tadi. Youngyoo terlihat sedang memijit kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. “Oh, sepertinya aku sedikit merasa pusing.” Jawab youngyoo jujur. Kepalanya memang terasa sangat pusing dan berdenyut-denyut. “Kita ke kantor polisi sekarang?” tanya woobin kemudian. Youngyoo hanya mengangguk.

*****

“Bagaimana bisa ini terjadi? Apa kau tidak bisa menjaga tahanan disini dengan baik?” bentak youngyoo tak terima mendengar kenyataan kedua pelaku penabrakan orang tuanya tewas bunuh diri. “Kejadian ini berlangsung tengah malam. Kami juga tidak menyangka akan kebobolan seperti ini. CCTV diruangan ini dibuat buram oleh mereka berdua sebelumnya, besar kemungkinan mereka memang bunuh diri. Namun tak menutup kemungkinan ada hal lain dibalik ini semua.” Tutur kepala polisi disana. Youngyoo mendesah kesal. Woobin mengenggam tangan kanan youngyoo dengan tangan kirinya. Meremas tangan itu perlahan. Memberikan tanda agar youngyoo meredam amarahnya di tempat umum seperti ini.

“Lalu apa mereka sudah memberitahu siapa yang menyuruh mereka menabrak Lee youngjae dan istrinya?” kini woobin yang angkat bicara. Youngyoo terlihat mengatur nafasnya yang mulai berantakan. Kepala polisi yang ditanyai hanya menggelengkan kepala lemah. “Kami minta maaf, mereka belum mau memberikan keterangan apapun tentang hal itu.” Jawab pria dengan pakaian polisi lengkap itu.

“Han gyeongchal..” tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Semua yang berada disana menoleh dan menatap pria yang kini sedang melambaikan sebuah kertas kecil di hadapan ketua polisi itu. “Ini, aku menemukannya di sudut ruangan mereka saat membersihkan ruangan mereka. Aku tidak tahu itu kertas apa. Hanya saja kurasa ini ada hubungannya dengan kasus mereka.” Ucap pria tadi dengan nafas tersenggal karena habis berlari menghampiri ketua polisi.

Ketua polisi bernama Han Jungsik itu mengambil kertas tersebut dan membaca sesuatu yang tertulis disana. “Han gyeongchal, ada apa?” tanya woobin yang merasa penasaran dengan isi kertas kecil itu. “Apa kalian kenal nama ini?” tanya Han gyeongchal itu kemudian. Ia menyerahkan kertas tersebut ke tangan woobin. Dengan mata memicing woobin membaca tulisan yang tertera disana.

“Shin Hyejung?” gumam woobin ketika membaca tulisan di kertas itu. Youngyoo terpaku mendengar nama itu. Dengan mata membulat, youngyoo menoleh ke arah woobin dan ikut membaca tulisan di kertas tersebut. “Kenapa nama bibiku ada disini?” tanya youngyoo tanpa tahu siapa yang ia tanya. Youngyoo mengerutkan keningnya bingung. Woobin menaikkan sebelah alisnya, “Shin hyejung, bibimu?” kini woobin kembali memastikan apa yang baru saja telinganya dengar. Youngyoo hanya mengangguk pelan.

“Kau menemukan kertas ini di ruangan mereka?” tanya Han gyeongchal pada ajudannya. Sang ajudan mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. “Benar, bisa dipastikan sebelum mereka bunuh diri, mereka menulis nama ini. Mungkin saja wanita ini adalah orang yang menjadi dalang dari kecelakaan orang tuamu nona.” Ucap Han gyeongchal pada youngyoo kemudian. Youngyoo kembali merasakan oksigen berhembus menjauhi dirinya. Tubuhnya terasa limbung. Tenaga yang ia punya kini terasa tak cukup untuk menopang berat badannya. Youngyoo berpegangan erat pada lengan woobin. Berjaga-jaga agar tidak terjatuh dan pingsan di tempatnya kini. Woobin merangkul bahu youngyoo, merasa tahu bahwa gadis di sebelahnya merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang lagi-lagi dihadapkan padanya. Youngyoo kesulitan mengelola nafas dalam paru-parunya.

“Keluarkan surat penangkapan untuk wanita bernama Shin hyejung tersebut. Kita sudah menemukan orang yang selama ini kita cari. Jangan biarkan wanita itu lepas.” Tintah Han gyeongchal kemudian. “Maaf youngyoo-ssi, kami harus menangkap bibimu dan mengadakan introgasi dengannya.” Ucap Han gyeongchal pada youngyoo. Youngyoo hanya mengangguk, suara Han gyeongchal tadi terasa bagai hembusan angin untuknya. Otaknya kini sedang mempunyai fokus yang tidak baik.

*****

“Anda yang bernama Shin Hyejung?” tanya salah satu polis ketika tiba di kediaman youngyoo. Sang bibi yang bernama shin hyejung itu merasa terkejut akan kedatangan ‘tamu’-nya kini. “Ada apa kalian mencariku?” tanya wanita itu ragu-ragu. “Kami diperintahkan untuk menangkapmu dan membawamu ke kantor polisi sekarang. Kau diduga menjadi ketua dari kasus kecelakan tuan Lee youngjae dan istrinya.” Wanita itu membulatkan matanya dan melakukan pemberontakan ketika para polisi itu mulai menarik tubuhnya. “Kalian pasti salah orang! Kalian salah informasi, aku adik dari Shin hyerin, istri lee youngjae, bagaimana bisa aku membunuh kakak-ku sendiri? Kalian gila, lepaskan aku!” bela shin hyejung ketika polisi itu membawanya. “Berikan penjelasan anda di kantor nanti. “Yak! Lepaskan kubilang lepas! Hey!” ucap Shin hyejung terus saja memberontak.

*****

“Youngyoo percayalah padaku youngyoo-ya. Bukan aku yang melakukan semua ini padamu. Aku hanya difitnah. Semua ini salah paham. Mana sampai hati aku membunuh kakak-ku sendiri?” bela wanita paruh baya bernama Shin hyejung itu dihadapan youngyoo, woobin dan seorang polisi. “Youngyoo-ya, percayalah. Aku tidak mungkin melakukan itu. Cabut kembali gugatan hukummu itu. Aku tidak melakukannya youngyoo-ya. Ini salah paham, semua ini hanya salah paham.” Ucap sang bibi berusaha memberikan pengertian pada keponakannya. Woobin menoleh ke arah youngyoo. Pria itu kembali merangkul bahu youngyoo. Meremas bahu itu pelan. Mengusap lengan kanan youngyoo. Sedangkan youngyoo kini sedang menatap sangar ke arah bibinya. Masih dengan bibir terkantup rapat, nampak tak berselara untuk meladeni perkataan sang bibi.

“Kau saja tega menjualku demi mendapatkan hak waris perusahaan, apa kau pikir aku akan percaya ketika kau mengatakan tidak mungkin tega membunuh kakakmu sendiri, ahjumma?” tanya youngyoo miris mengenang perlakuan sang bibi padanya. “Ah mengenai itu, aku, aku bukan, aku,” sang bibi terdengar bingung dengan apa yang ingin ia katakan. Polisi yang berada disamping woobin terlihat menatap youngyoo penuh tanda tanya, seolah meminta penjelasan lebih tentang kalimat youngyoo barusan. “Ia juga menjualku dulu demi mendapatkan hak waris atas semua kekayaan orang tuaku. Tambahkan gugatan itu kedalam kasusnya nanti di pengadilan.” Jelas youngyoo singkat.

“Youngyoo aku memang bersalah mengenai hal itu, namun demi Tuhan youngyoo-ya, bukan aku yang membunuh kedua orangtua-mu. Aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang kecelakaan ayah dan ibumu. Aku benar-benar tak melakukan apa-apa youngyoo-ya. Ada seseorang yang sengaja memfitnahku youngyoo-ya. Kumohon dengarkan penjelasanku dulu youngyoo-ya.” Pinta sang bibi pada youngyoo namun youngyoo terlihat sudah lelah mendengarkan penuturan memuakan dari bibir busuk sang bibi. Woobin menarik youngyoo keluar kantor polisi, youngyoo hanya menurut dan melangkah mengikuti langkah woobin.

“Pulanglah, biar aku yang mengurus semuanya.” Titah woobin pada youngyoo. Youngyoo menatap woobin penuh harap. “Tenang saja, kau bisa mengandalkaku.” Ucap woobin kemudian. Youngyoo menatap woobin dan berkata, “Apa kau tidak akan mengkhianatiku seperti mereka?” tanya youngyoo dengan tangis yang ia berusaha tahan. Woobin meraih tubuh youngyoo kedalam pelukkannya. “Walaupun dunia mengkhianatimu, aku akan selalu bersamamu, jika kau memang berada di jalan yang benar. Aku akan selalu mendukungmu. Tidak ada yang perlu kau ragukan lagi.” Ucap woobin memberi keyakinan pada youngyoo.

*****

“Demi Tuhan woobin-ah bukan aku yang menyuruh mereka untuk membunuh kakakku. Aku tidak mungkin membunuh kakakku sendiri. Aku tidak mungkin melakukannya. Dan asal kalian tahu, aku sama sekali tidak mengenal muka kedua orang ini. Demi Tuhan aku sama sekali tidak berada di balik kecelakaan kakakku sendiri.” Jelas sang bibi pada woobin dan seorang polisi disana. “Lalu siapa yang merencakan pembunuhan ini?” tanya woobin frustasi karena dibuat berputar-putar dalam menangkap pelaku sebenarnya.

“Ah aku ingat, dulu aku memang berniat membunuh kakakku sendiri, tapi itu dulu saat perusahaannya masih dalam kesuksesan. Tapi aku tidak berani melakukannya, aku terus saja menahan keinginanku itu. Setelah mengetahui bahwa Sagwa Corp mengalami kemunduran aku benar-benar menghilangkan keinginanku untuk melakukan pembunuhan terhadap kakakku, karena kupikir untuk apa aku mendapatkan perusahaan yang hampir bangkrut? Tak berapa lama dari hari itu, Kim jongwook sajangnim datang padaku.” Jelas Shin hyejung. Ia terlihat berhenti mengatakan apa yang sedang berkeliaran di otaknya. Wanita itu terlihat menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Kim Jongwook? Pemilik Ellite Group?” tanya woobin ragu dengan kim jongwook yang sedang dibicarakan oleh bibi youngyoo. Sang bibi terlihat mengangguk. “Ya, dia. Kim sajangnim memintaku untuk membunuh kakakku sendiri. Entah bagaimana ia bisa mengetahui niatku dulu untuk membunuh kakakku sendiri. Bahkan ia menawarkanku bayaran yang mahal jika aku menerima tawaran itu. Namun sekali lagi, aku tidak berani melakukannya. Aku tidak sampai hati untuk melakukannya. Aku masih punya nurani untuk itu. Aku tidak bisa melakukannya. Namun kim sajangnim terus saja memaksaku hingga akhirnya ia berhenti melakukan hal itu. Dan satu minggu kemudian, aku mendengar kabar bahwa kakakku mengalami kecelakaan. Pada saat itu, aku tidak sempat berpikir kalau hal ini ada hubungannya dengan kim sajangnim, polisi mengatakan kecelakaan itu adalah kecelakaan murni, jadi kupikir itu benar.” Jelas sang bibi lagi. Woobin mendengarkan semua penjelasan wanita yang tak lagi muda itu. “Sebulan setelah kecelakaan itu, kim sajangnim kembali menghubungiku. Ia menawarkanku untuk menjual perusahaan milik suami kakakku itu. Dan tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan tawaran itu. Itulah yang terjadi sebenarnya. Aku tidak berbohong, ah aku punya rekaman percakapanku dengan kim sajangnim tempo lalu. Saat itu aku tengah menonton sebuah acara tv dan aku ingin merekam resep masakan dalam acara itu, namun kim sajangnim datang dan memintaku untuk membunuh kakakku sendiri. Tanpa kutahu aku sudah menekan tombol rekam diponselku. Dan percakapan antara diriku dan kim sajangnim-pun terekam didalam ponselku.” Tutur sang bibi kemudian. Ia menyerahkan ponselnya keatas meja polisi dihadapannya.

Polisi tersebut memutar rekaman yang dimaksud wanita tadi. Woobin ikut mendengarkan isi rekaman itu. Terdengar suara seorang pria dan wanita dari ponsel sang bibi. Woobin memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia merasa bingung dengan kasusnya kali ini. Ia benar-benar dibuat berputar-putar dalam menunjuk satu tersangka yang sebenarnya. Semua yang terjadi di dalam rekaman itu persis seperti apa yang diceritakan sang bibi. Woobin mengangguk pelan, “aku sebagai pengacara youngyoo dan ahli hukum youngyoo mencabut gugatan perencaan pembunuhan terhadap wanita ini. Ia tidak bersalah, namun tetap interogasi wanita ini mengenai kasus penjualan anak dibawah umur untuk dijadikan pekerja seks.” Ucap woobin kemudian. Sang bibi terlihat menunduk malu, menyesali perbuatannya dulu terhadap keponakannya sendiri.

Tiba – tiba seseorang dengan pakaian polisi lengkap menghampiri woobin, Shin hyejung dan juga Kepala Polisi Han. “Han gyeongchal-nim, dokter mengatakan ada luka lebam di kedua tubuh mayat tahanan yang baru saja bunuh diri itu.” Lapor salah satu polisi pada ketua polisi bernama Han Jungsik itu. Woobin ikut menatap polisi yang kini selesai melaporkan penemuannya tersebut. “Luka lebam? Bekas pukulan?” tanya woobin kini. Polisi itu mengangguk lalu berkata, “Ya, dokter memperkiraan luka itu akibat benturan benda keras yang disengaja. Dan luka itu seperti baru saja dibuat kemarin malam. Karena warna birunya masih sangat jelas.” Tutu polisi itu lagi. Han gyeongchal dan woobin saling berpandangan, merasa ada yang janggal dengan aksi bunuh diri kedua tahanan itu. “Periksa siapa saja yang keluar masuk kantor polisi ini. Pastikan untuk melihat setiap CCTV yang aktif disini. Ada dugaan kedua tahanan itu bukan bunuh diri tapi dibunuh dan dibuat seolah-olah memang mereka bunuh diri.” Titah woobin kepada Han gyeongchal. Kedua polisi dihadapan woobin hanya mengangguk paham. “Kami akan melakukannya, Kim byeonhosa, anda tidak perlu khawatir.” Ucap Han gyeongchal yakin. “Suruh tim penyidik menghadapku, kita akan menyelidiki kematian tahanan kita itu.” Titah Han gyeongchal pada polisi yang kini tengah menatapnya. Polisi itu mengerti dan pamit untuk melaksanakan tugasnya. Woobin berjalan menjauh. Sayup-sayup woobin mendengar bibi youngyoo memanggil-manggil namanya, namun tidak ia pedulikan. Ia tetap berjalan keluar kantor polisi. Berniat mengistirahatkan otak dan tubuhnya sebentar.

*****

Woobin tiba di ruang kerjanya. Woobin lebih memilih untuk kembali ke kantornya. Pemuda itu menjatuhkan dirinya di kursi meja kerjanya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kepalanya ia tengadahkan menatap langit-langit ruangan. Lalu pria itu menutup matanya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Kim Jongwook, mengapa ia senang membuatku berputa-putar kebingung seperti ini.” Gumam pria itu sendiri. Masih dengan posisinya yang belum berubah sedikitpun. “Pria itu bersahabat dengan Lee youngjae, ayah youngyoo, lalu mereka berdua jatuh cinta pada gadis yang sama. Sementara sang gadis, ibu youngyoo, lebih memilih lee youngjae untuk menjadi kekasihnya. Hal itu membuat kim jongwook menyimpan sakit hati atas penolakan cintanya. Akhirnya ia berjuang untuk merealisasikan dendamnya. Ia membuat bangkrut Sagwa Corp dengan tujuan mengambil alih Sagwa Corp. Dan karena belum merasa puas atas kebangkrutan Sagwa Corp, kim jongwook merencanakan sebuah pembunuhan terhadap kedua orang yang membuatnya patah hati. Kim jongwook menyewa orang lain untuk melakukan hal itu, dan membuat rencana pembunuhan itu terkesan benar-benar seperti kecelakaan. Ia menyogok orang yang sedang berada disana ditempat kejadian untuk bungkam. Lalu setelah aku menemukan pelaku penabrakan kedua orang tua youngyoo, kim jongwook ketakutan dan membunuh kedua pelaku itu. Ia melakukannya dengan rapih, ia membuat kematian kedua pelaku itu seperti bunuh diri yang disengaja. Karena takut ada yang mengetahui kelakuannya, kim jongwook menuliskan nama bibi youngyoo pada sebuah kertas. Karena ia tahu bibi youngyoo pernah mempunyai niatan seperti itu. Ia berusaha membuat bibi youngyoo menjadi otak dari perencanaan pembunuhan ini. Berusaha untuk mengecoh polisi dalam menangkap pelaku sebenarnya. Namun karena bibi youngyoo punya bukti yang kuat, tuduhan itu tidak dapat diproses. Ya, aku mengerti sekarang. Kena kau, kim sajangnim!” lagi-lagi woobin bergumam sendiri. Ia membuat sebuah jalan cerita dalam otaknya. Menebak dan menerka kejadian sebenarnya dalam kasus kedua orang tua youngyoo kali ini.

Woobin membuka kedua matanya, ia meraih ponselnya di atas meja kerjanya. Dengan cepat ia mencari nomor telepon youngyoo dalam kontak ponselnya. Tak perlu menunggu waktu lama terdengar suara parau youngyoo diujung ponsel woobin.

“Yeoboseyo…” sapa youngyoo di ujung sana. “Bisa kau datang ke kantorku sekarang? Aku butuh membicarakan sesuatu denganmu.” Pinta woobin kemudian, tanpa merasa perlu berbasa-basi terlebih dahulu. “Ng? Sekarang? Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Seru youngyoo sebelum memutus sambungan teleponnya.

*****

Youngyoo terlihat duduk di kursi tamu di dalam ruang kerja woobin. Gadis itu kini tengah memijit kepalanya yang terasa pusing memikirkan kasus kecelakaan orang tuanya. Youngyoo menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Ia menatap woobin dan berkata, “Selicik itu kah orang bernama Kim jongwook itu? Kurasa otaknya sedikit bergeser,” woobin yang mendengar ocehan youngyoo hanya mengedikan bahunya tak tahu. Woobin telah selesai menceritakan apa yang ada di pikirannya tadi tentang kasus kedua orang tua youngyoo. Dan kini giliran youngyoo yang menggelengkan kepala merasa kepalanya berdenyut-denyut keras.

“Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” tanya youngyoo kemudian, meminta saran karena ia terlalu penat untuk berfikir lagi. “Kita masih harus menunggu laporan dari pihak kepolisian tentang siapa saja yang keluar masuk ke kantor polisi kemarin malam. Jika ada orang yang berkaitan dengan Kim Jongwook kita baru bisa mengeluarkan surat penangkapan untuk kim jongwook. Dan kita bisa menjadikan orang itu sebagai saksi untuk membongkar kejahatan kim jongwook.” Ucap woobin.

“Lalu bagaimana jika orang itu tidak kita temukan? Bagaimana kita menangkap kim jongwook?” tanya youngyoo lagi. Kini woobin dibuat memijit kepalanya, bingung. “Kita tidak bisa melakukan apa-apa, kurasa. Karena kita tidak punya bukti yang cukup untuk menangkap kim jongwook. Polisi tidak akan memproses laporan kita, apalagi kim jongwook adalah orang dengan kantong yang tebal,” ucap woobin. Youngyoo lagi-lagi menghempaskan punggungnya keras ke sandaran kursi. Ia terdengar menghela nafas berantakan. “Kenapa uang harus selalu jadi penguasa, hah?!” tanya youngyoo dengan nada miris. Woobin menahan keinginannya untuk bangkit dan memeluk tubuh youngyoo yang kini terlihat begitu rapuh.

*****

Jongwoon melangkah dengan hati-hati menuju sebuah sofa di ruang tamu apartemennya. Berusaha untuk tidak menimbulkan derap langkah kaki. Berjaga-jaga agar seseorang yang sedang terlelap di atas sofa tersebut tak terbangun dari tidurnya. Jongwoon tersenyum lebar ketika melihat wajah seseorang kini tengah tertidur sambil memegang remote televisi di tangan kanannya. “Kau ini, masih saja belum berubah. Masih saja nekad menungguku hingga larut malam begini.” Gumam jongwoon ketika melihat wajah lelah milik youngyoo di hadapannya. Jongwoon mengambil posisi untuk duduk disebelah youngyoo. Matanya ia alihkan ke arah televisi yang masih menyala. Pria itu terlihat menggelengkan kepalanya sambil berdecak heran. Tak lama, dengan gerakan perlahan, pria itu mengambil remote yang kini berada di genggaman tangan kanan youngyoo. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan,  jongwoon menekan tombol on/off lalu layar televisi tersebut mulai menghitam dan tak lagi menampakan wajah seorang wanita cantik yang tengah membacakan berita tengah malam.

Jongwoon menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dibelakangnya. Ia menolehkan kepalanya kesamping, menatap dengan jelas youngyoo yang kini tengah menjelajahi mimpinya. Dengan tangan kanannya, jongwoon meraih tangan kiri youngyoo dan menggenggamnya pelan. Masih dengan gerakan perlahan, jongwoon mengecup sayang tangan kiri youngyoo, lalu tersenyum selepasnya. Sama perlahannya, jongwoon kini merapikan anakan rambut youngyoo yang terurai berantakan. Jongwoon menyingkirkan semua rambut-rambut liar yang menghalangi pandangannya. Ia ingin menatap wajah youngyoo dengan leluasa, tanpa gangguan apapun. Hanya menatap, tak ingin lebih –mungkin-.

“Apa kau begitu kelelahan mengurus kasus kedua orang tuamu?” tanya jongwoon sendiri. Ia tahu youngyoo tak akan menjawab semua ucapan yang ia keluarkan. “Mata pandamu sudah mulai terlihat yoo-ya.” Ucap jongwoon, mengelus pelan bagian mata youngyoo. Jongwoon terlihat mengecup lembut kedua mata gadisnya. Kecupan singkat itu terus turun ke hidung youngyoo, lalu berlanjut ke pipi sebelah kiri youngyoo. Jongwoon terhenti ketika melihat bibir merah muda milik youngyoo. Terlihat ragu untuk melanjutkan kecupannya. Merasa ragu kecupan di bibir youngyoo hanya akan menjadi sebuah kecupan singkat, dan bukan sebuah ciuman panjang yang melelahkan. Jongwoon terkekeh pelan. Ia terlihat menggigit bibir bawahnya, merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Mengapa ia begitu tidak berdaya ketika dihadapkan dengan seorang youngyoo. Seolah seluruh pertahanan dirinya runtuh ketika sudah berbicara tentang gadis satu ini.

Alih-alih mengecup bibir youngyoo, jongwoon malah menggendong youngyoo dan memindahkan gadis itu ke kamar youngyoo. Merasa tidak tega melihat sang gadis harus tertidur di sofa ruang tamu. Tidak ada kegiatan lebih dari meletakan youngyoo berbaring di ranjangnya. Setelah memastikan youngyoo masih terlelap dengan tenang. Jongwoon meraih saklar lampu dan mematikannya. Lalu pria itu melangkahkan kaki keluar dari kamar youngyoo.

Youngyoo membuka matanya perlahan. Gadis itu menatap kearah pintu kamarnya. Memastikan jongwoon memang sudah benar-benar keluar dari kamarnya. Youngyoo meraba kedua matanya yang tadi mendapatkan hadiah kecupan dari jongwoon. Kemudian tangannya beralih menuju hidungnya yang mendapatkan perlakuan sama dari bibir jongwoon. Tak lupa, youngyoo juga meraba pipi kirinya seolah mengenang ulang apa yang baru saja jongwoon lakukan. Dan yang terakhir youngyoo meraba bibirnya sendiri. Merasa –sangat- kecewa ketika jongwoon meredam keinginannya untuk mengecup bibir youngyoo. Youngyoo tersenyum geli memikirkan tingkah bodohnya. Bukan tanpa alasan youngyoo menunggu jongwoon setiap malam di depan televisi. Bukan tanpa alasan youngyoo harus rela tertidur disofa keras dan membuat punggungnya nyeri. Semua yang ia lakukan bukan tanpa alasan. Youngyoo sengaja menunggu jongwoon karena gadis itu tahu, jongwoon akan menggendongnya masuk ke kamar dan menemaninya –sepersekian menit- di dalam dinginnya angin malam. Youngyoo sengaja menunggu jongwoon  karena gadis itu tahu, jongwoon selalu mengecup bibirnya setiap malam. Dan ia tidak mau menjadi manusia sok suci yang berkata tak menginginkan hal itu terjadi setiap malam di hidupnya. Ia menginginkan hal itu, sungguh. Seperti cafeine. Membuatnya ketagihan. Youngyoo tidak benar-benar tidur. Demi tuhan, youngyoo sadar akan apa yang baru saja dilakukan jongwoon. Setiap malam youngyoo sadar. Namun matanya enggan untuk membuka. Enggan untuk menatap pria itu. Karena ketika ia membuka matanya, ia tahu kegiatan pria itu pasti akan terhenti, dan sungguh ia tidak menginginkan hal itu. Youngyoo tidak mau munafik, ia menyukai setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit jongwoon. Rasa hangat serasa mengalir membuat pipinya merah padam. Membuat jantungnya berdebar tak karuan. Nafasnya serasa berlomba dengan debar jantungnya. Jatuh cinta membuat youngyoo menggelengkan kepalanya heran. Ia sama sekali tak pernah berfikir bahwa dampak dari seseorang yang jatuh cinta akan sedahsyat ini. Tak pernah terlintas dalam benaknya, sekalipun.

*****

Sore ini woobin melajukan mobilnya ke arah kantor polisi. Berniat memantau sejauh mana kerja para polisi itu. “Kami sudah menemukan pelakunya. Pelakunya adalah oknum polisi juga. Maaf atas kelalaian kami. Kini pelaku sudah kami amankan dan sedang kami interogasi.” Ucap Han gyeongchal –ketua polisi- pada woobin. Kini woobin sedang berada di kantor polisi untuk mengetahui perkembangan kasus yang sedang ia tangani. “Biarkan aku masuk ke ruangan interogasi.” Pinta woobin dengan nada bicara yang tak bisa dibantah lagi. Han gyeongchal hanya mengangguk lalu menunjukkan jalannya.

“Saya hanya disuruh oleh seseorang. Saya dibayar oleh orang itu.” Ucap pelaku di dalam ruang interogasi. Terlihat seorang polisi berada di dalam ruangan yang sama dengan pelaku. Woobin hanya diperbolehkan melihat pelaku dari luar ruang interogasi. Dengan seksama, woobin mendengarkan setiap percakapan yang keluar dari bibir kedua orang di dalam ruang interogasi itu.

“Siapa yang menyuruhmu?” ucap polisi dengan tubuh kekar itu. Pelaku hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk, menolak untuk menatap lawan bicaranya. “Lebih baik kau katakan siapa orang itu, daripada kau mendapatkan hukuman yang lebih berat karena menyembunyikan seorang pelaku kejahatan. Jika kau memberitahu padaku, maka hukumanmu akan berkurang.” Rayu polisi itu kini. Sang pelaku terlihat berpikir, lama tak terdengar suara dari kedua orang itu. Sampai akhirnya sang pelaku berani membuka mulutnya, “Kim jongwook, ya, dia yang menyuruhku untuk membunuh kedua tahanan tempo lalu.” Aku sang pelaku masih dengan wajah menunduk. “Dengan apa dia membayarmu?” tanya polisi itu lagi. “Dia membayarku dengan uang sebanyak 7juta dollar amerika. Dia mentransfer uang itu ke rekeningku.” Ungkap pelaku. Polisi di dalam ruangan itu terlihat lega, karena akhirnya targetnya berhasil membuka mulut. “Oke, kurasa sampai disini obrolan kita.” Ucap sang polisi lalu keluar dari ruang interogasi.

Woobin yang mendengar hal itu merasa mendapatkan lampu hijau untuk menangkap Kim Jongwook yang sudah menjadi incarannya sejak lama. “Keluarkan surat penangkapan untuk Kim jongwook. Bawa kasus ini ke tingkat pengadilan.” Titah woobin kepada beberap pria berseragam polisi disana.

Woobin mencoba untuk menghubungi youngyoo beberapa kali. Namun tak satupun dari sekian banyak teleponnya yang di jawab oleh gadis itu. Woobin mengerang kesal. “Kemana perginya gadis itu?” gumam woobin kemudian. Pria itu mengetik sebuah pesan singkat untuk youngyoo.

To : Youngyoo Lee

Ini penting. Temui aku di toko kue yang berada di pertigaan jalan Byuncha. Ini mengenai masalah kasus kedua orang tuamu. Kita bisa menangkap Kim jongwook sekarang. Cepat temui aku dan kita pergi ke kantor polisi bersama.

*****

“Yoo-ya, bagaimana kalau malam ini kita pergi ke rumah orang tuaku? Ibuku ingin bertemu denganmu.” Ucap jongwoon ditengah acara sarapan paginya dengan youngyoo. Hanya menatap jongwoon ragu, “Ibumu ingin bertemu denganku?” tanya youngyoo pelan. Jongwoon hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Kau tidak ada acara kan malam ini?” tanya jongwoon kemudian. “Tidak, aku tidak ada acara malam ini. Tapi, apa tidak begitu cepat untukku mengenal keluargamu? Maksudku, aku belum siap. Dan aku belum bisa menjawab lamaranmu tempo lalu maksudku hm,” Jawab youngyoo terlihat ragu. Gadis itu terlihat menggigit bibir bawahnya. “Aku mengerti maksudmu. Kau tidak usah khawatir. Ini hanya pertemuan biasa. Ya, tidak ada hubungan dengan lamaranku tempo lalu. Terlepas nantinya kita memang menikah atau tidak. Ibuku hanya ingin bertemu dan berbicara denganmu, itu saja.” Tutur jongwoon. Youngyoo nampak tersenyum tipis sebelum mengangguk mengiyakan ajakan jongwoon untuk menemui ibu sang pria.

“Selesai makan nanti, kutunggu kau di lobi bawah. Aku akan memanaskan mobil terlebih dahulu. Berdandanlah yang cantik.” Ucap jongwoon sambil menggerlingkan matanya. Youngyoo hanya tertawa melihatnya. “Tanpa berdandanpun aku sudah terlihat cantik, oppa.” Ucap youngyoo membanggakan diri. Youngyoo terdengar terkekeh pelan. “Aigo, Kim Youngyoo kau ini percaya diri sekali. Darimana kau belajar semua itu? Haha..” ungkap jongwoon sambil mengulurkan tangannya mengacak-acak pelan rambut gadis di hadapannya. “Yak, kim youngyoo? Aku lee youngyoo bukan kim youngyoo.” Bentak youngyoo berpura-pura marah. “Kurasa, kau harus segera menganti margamu. Kim Youngyoo terdengar lebih cocok. Benarkan?” ledek jongwoon lagi-lagi menggerlingkan sebelah matanya. Youngyoo tergelak melihatnya.

*****

“Oppa, nanti kita berhenti dulu di toko roti setelah pertigaan ini ya. Aku ingin membeli beberapa roti untuk kita. Kita tak mungkin datang kesana dengan tangan kosong, kan?” pinta youngyoo pada jongwoon. Kini mereka berdua tengah menuju ke rumah orang tua jongwoon. Youngyoo merasa akan lebih baik jika ia membawakan buah tangan kesana. Jongwoon hanya mengangguk menyetujui usul youngyoo. Tak jauh setelah pertigaan yang mereka lalui, jongwoon memarkirkan mobilnya di depan toko roti disana. Keduanya turun dari mobil dan berjalan ke dalam toko tersebut.

Youngyoo menoleh kesekeliling toko sambil menunggu pesanannya dibungkus. Matanya tak sengaja menangkap sosok woobin yang tengah mengesap capucino dipojokan toko. Seulas senyum menghiasi wajah youngyoo kala itu. Setelah mendapatkan pesanannya, youngyoo menarik jongwoon menghampiri woobin.

“Yak! Kau mengagetkanku, kau tahu?” seru woobin tak terima ketika youngyoo tiba-tiba menyentuh pundaknya dan mengagetkan siang harinya. Youngyoo hanya menunjukkan cengiran tak bersalah miliknya. Baru saja woobin akan membuka mulutnya untuk mengatakan perihal kasus kedua orang tua youngyoo. Youngyoo terlebih dahulu membuka mulutnya dan menyampaikan sebuah kalimat yang sebenarnya tidak ingin woobin dengar. “Ah iya, woobin-ah, kenalkan ini Kim jongwoon. Dan jongwoon oppa, ini woobin. Dia temanku sejak kami kelas 2 SMP dulu.” Ucap youngyoo memperkenalkan dua orang pria di dekatnya. Jongwoon dan woobin saling bersalaman dan mengubar senyum. “Dia.. pacarmu?” tanya woobin kemudian. Youngyoo hanya mengangguk menahan semburat merah yang kini terasa menghiasi pipinya. Woobin mengerti reaksi youngyoo. Ini pertama kalinya ia melihat youngyoo tersipu malu karena seorang pria. Dan ini –sangat amat- membuatnya sakit hati. Woobin mengepalkan tangannya melihat jongwoon dan youngyoo saling melempar senyum mereka. Seketika itu woobin lupa untuk memberitahu mengenai kasus orang tua youngyoo.

Selepas pamit pada woobin, youngyoo dan jongwoon kembali melanjutkan perjalanannya ke arah rumah orang tua jongwoon. Woobin merasa familiar dengan wajah dan nama pria yang diaku youngyoo sebagai kekasihnya tadi. Woobin berusaha mengingatnya, dan membulatkan mata ketika mengingat sesuatu tentang kekasih youngyoo tadi. “Kim jongwoon, putra tunggal dari Ellite Group. Ya, tidak salah lagi. Aku pernah melihatnya saat dia mencium youngyoo di balkon tempo lalu. Aku mengingatnya. Apa youngyoo tahu akan hal ini? Apa bocah itu sudah tidak waras ingin pergi ke kediaman orang tua jongwoon? Itu berarti dia pergi ke rumah kim jongwook. Bodoh, kenapa aku bisa  lupa untuk mengatakan perihal kasus kedua orang tuanya. Gila, cemburu benar – benar membuatku tidak waras. Aku membenci kenyataan ini.” Gumam woobin, lalu dengan cepat menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam tas. Ia menyesap capucino-nya sebentar lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Ia meletakan uang itu di atas bill dan langsung menghambur memasuki mobilnya. Tanpa peduli apapun lagi, woobin menyusul youngyoo ke kediaman keluarga Pemilik Ellite Group tersebut.

*****

“Ah, jadi ini yang namanya youngyoo? Aigo yeppeo.” Seru seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik karena ia terlampau sering menyambangi salon kecantikan. Youngyoo yang dipuji seperti itu hanya bisa tersipu malu. Jongwoon terlihat iseng menyiku youngyoo dengan lengannya. Refleks youngyoo mengaduh dan menatap kesal ke arah jongwoon, yang di tatap malah tergelak. Wanita paruh baya tadi ikut tertawa melihat tingkah dua orang anak muda di hadapannya.

“Ah iya, aku belum membuatkan kalian berdua minuman. Sebentar ya, aku akan kebelakang dulu untuk membuatkan minuman. Kau ingin minum apa youngyoo-ya?” tanya wanita paruh baya tadi. Youngyoo hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Tak perlu repot-repot ahjumma.” Wanita paruh baya itu terlihat memukul pelan lengan youngyoo. “Jangan sungkan-sungkan, aku tidak merasa direpotkan. Malahan aku senang melihat jongwoon akhirnya membawa teman perempuan ke rumah. Asal kau tahu youngyoo-ya, jongwoon ini tidak pernah membawa teman ke rumahnya. Aku sampai khawatir, ia tidak bersosialisasi dengan baik sampai tak ada yang mau menjadi temannya. Dan yang lebih aku khawatirkan lagi, kukira jongwoon tidak lagi menyukai wanita. Aigo, memikirkannya membuat perutku mual.” Ungkap wanita paruh baya tadi. Youngyoo terlihat mengulum tawa mendengarnya, sedangkan jongwoon mendelikan mata mendengarnya. “Eomma, kau ini apa-apaan?!” bentak jongwoon tak terima dengan pemikiran sang ibu. Namun sang ibu –wanita paruh baya tadi- hanya tertawa ringan.

“Baik, aku kebelakang dulu ya. Kalian ngobrol saja dulu disini,” pamit ibu jongwoon. Youngyoo terlihat menahannya lalu berkata, “Ahjumma biarkan aku membantumu, bolehkan?” Ibu jongwoon terlihat mengubar senyum dan mengangguk mengiyakan permintaan youngyoo.

*****

“Jongwoon itu anak satu-satunya. Makanya aku khawatir jika anak satu itu tidak kunjung membawakanku calon menantu.” Ucap ibu jongwoon sambil mengaduk teh di genggaman tangannya. Youngyoo yang mendengarnya hampir tersendak liurnya sendiri. Ibu Jongwoon terlihat menghela nafas panjang, lalu tersenyum menatap youngyoo. “Tapi sekarang aku merasa lega, karena jongwoon sudah membawamu ke sini. Itu artinya, jongwoon benar-benar serius dengan hubungan kalian.” Lanjut wanita itu kini sambil mencampurkan cream susu ke dalam teh buatannya. Youngyoo hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“Hm ahjumma, boleh aku bertanya?” tanya youngyoo berusaha mengalihkan topik yang kini tengah dibuka oleh ibu jongwoon. Wanita itu terlihat mengangguk. “Kenapa tidak ada satupun foto keluarga yang terpasang disini?” tanya youngyoo kemudian, merasa begitu penasaran kenapa keluarga dengan rumah sebesar ini tidak mempunyai satupun foto keluarga. Ibu jongwoon terlihat diam, nampak sedang menimbang-nimbang apa yang sebaiknya ia katakan. Youngyoo yang merasa salah bertanya menjadi tak enak hati, “Maaf ahjumma, jika pertanyaanku tadi terlalu menyinggung.” Ucap youngyoo tulus. Ibu jongwoon hanya menggeleng pelan lalu tersenyum. “Jongwoon tidak begitu menyukai foto keluarga. Lebih tepatnya, hm, jongwoon tidak begitu menyukai ayahnya sejak ia kecil. Ia dengan ayahnya kerap kali bertengkar. Makanya setelah ia besar, ia tidak mau tinggal dengan kami. Ia ingin tinggal sendiri. Ia mencari pekerjaan sendiri, mencari tempat tinggal sendiri. Ia tidak mau menempati apartemen yang sudah kuberikan padanya. Dan ia juga tidak mau bekerja di perusahaan milik ayahnya. Ya, kau tahu kan alasannya? Jongwoon tidak menyukai ayahnya.” Tutur wanita itu masih dengan senyum –yang dipaksakan- menghiasi wajahnya. “Sebenarnya ada foto keluarga, namun jongwoon melarangku untuk memasangnya. Menggangu, begitu katanya. Itu satu-satunya foto keluarga yang kami punya. Itupun diambil saat jongwoon kelas 1 SMA.” Lanjut ibu jongwoon lalu menghela nafas panjang mengakhiri ucapannya barusan.

“Mianhae ahjumma, karena aku, kau harus memikirkan hal ini. Hm, aku jadi tidak enak sudah bertanya seperti itu denganmu.” Ucap youngyoo kemudian. “Tidak apa, ayo kita bawa minuman ini ke ruang tamu. Jongwoon pasti sudah menunggu.” Ajak wanita itu disertai anggukan kepala youngyoo. Langkah kaki kedua wanita itu belum sampai di ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang terdengar sedang mengamuk dari arah ruang tamu. “Suamiku pasti sudah pulang, aku lelah melihat mereka seperti ini terus,” gumam pelan wanita disebelah youngyoo, namun dalam jarak sedekat ini, youngyoo masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan wanita itu. Wanita itu terlihat mempercepat langkahnya menuju ruang tamu. Diikuti dengan youngyoo yang mengekor di belakang.

“Bisakah kau sedikit menjaga perasaan istrimu, Kim sajangnim?” ucap jongwoon kepada pria di hadapannya. Youngyoo melihat amarah sangat kentara di wajah putih pucat jongwoon. Youngyoo tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang sedang beradu mlut dengan jongwoon kali ini, dikarenakan pria itu berdiri membelakanginya. Tak jauh dari pria itu, youngyoo melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang –sangat- terbuka sedang bergelayut manja di lengan pria tua yang kini tengah balik membentak jongwoon. Youngyoo menoleh menatap wanita disebelahnya, mata wanita itu sudah terlihat basah karena air mata. Sedangkan tatapan wanita itu menatap nanar ke arah dua orang pria di depannya.

“Tahu apa kau tentang diriku? Untuk apa kau mengurusi hidupku? Apa hidupmu sudah benar sehingga kau berani menceramahiku, hah?” bentak pria tua itu dengan suara keras. Tangan jongwoon terlihat mengepal. Menahan amarah yang kini sudah ingin memuncratkan laharnya. “Seburuk apapun diriku, tentu lebih buruk lagi dirimu, Kim sajangnim!” ucap jongwoon dengan penuh penekanan disetiap kata yang ia ucapkan. “Untuk apa kau kembali menginjakan kaki ke rumah ini? Oh biar kutebak, kau kehabisan uang dan ingin meminta uangku, iya kan? Sudah kuduga, bocah ingusan sepertimu mana mungkin hidup diluar sendiri tanpa bantuan uangku.” Seru pria itu dengan nada merendahkan jongwoon. Youngyoo terlihat tak nyaman berada menyaksikan pertengkaran keluarga seperti ini. “Bisakah kalian tidak bertengkar? Sehari saja, aku lelah melihat kalian bertengkar setiap kali bertemu. Aku lelah!” kini wanita disamping youngyoo ikut bicara, dengan suara gemetar karena menangis. Pria yang berdiri membelakangi youngyoo menoleh ke arah istrinya dan dengan suara beratnya ia berkata, “Tutup mulutmu. Aku tidak butuh komentarmu, wanita sial. Mengapa aku harus menikahimu hanya karena perjodohan gila. Kau benar-benar tidak berguna, apalagi setelah melahirkan anak pembangkang seperti bocah itu.” Ungkap pria tua itu lalu mengalihkan tatapannya ke arah youngyoo yang sedang merangkul bahu ibu jongwoon, berusaha menenangkan wanita paruh baya itu. “Kau siapa? Sejak kapan kau ada disitu?” tanya pria itu kemudian, dengan menatap sinis youngyoo. Youngyoo yang tadinya tidak berani melihat rupa pria itu, akhirnya memberanikan diri mengalihkan pandangannya menatap pria didepannya itu.

Youngyoo tersentak kaget, bibirnya serasa kelu. Jantungnya serasa ditusuk sebilah samurai yang baru saja diasah. Oksigen terasa tak lagi berada disekitarnya. Tenggorokannya terasa mengering, membuatnya merasa sakit bahkan untuk mengeluarkan satu kata. Mata youngyoo masih menatap pria itu, dengan suara serak youngyoo berkata, “Kim jongwook sajangnim.” Youngyoo merasa pandangannya mengabur seiringan dengan air mata yang mulai mendesak keluar dari matanya. Youngyoo merasa kekuatan otot-otot kakinya untuk menopang dirinya sudah melemah. Tubuhnya terasa limbung, membuatnya hampir saja jatuh jika ibu jongwoon tidak dengan cepat menangkap tubuhnya. Jongwoon yang panik langsung berlari ke arah gadisnya. Alih-alih ingin mendekap tubuh sang gadis, jongwoon justru mendapatkan tamparan youngyoo. Jongwoon yang kaget hanya bisa menatap bingung ke arah gadisnya itu.

“Kau? Menamparku? Kenapa?” tanya jongwoon masih tak percaya. Begitu juga orang-orang yang menyaksikan hal itu. “Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau adalah putra dari Ellite Group? Kenapa?? Kenapa aku harus mengetahuinya disaat aku sudah mulai mempercayakan hidupku padamu? Kenapa???! Jawab aku, oppa!” bentak youngyoo diakhiri dengan jerit tangis miris dari bibirnya. Jongwoon masih tak mengerti dengan tingkah youngyoo. “Kim jongwook sajangnim, aku Lee youngyoo. Putri tunggal dari pemilik Sagwa Corp yang kau buat bangkrut. Aku lee youngyoo, putri tunggal dari pasangan Lee youngjae dan Shin hyerin yang telah kau bunuh itu. Aku lee youngyoo, dan aku berjanji akan membuatmu menyesali semuanya dibalik bui penjara.” Ucap youngyoo yang ditujukan untuk pria yang menjadi ayah jongwoon tersebut. Jongwoon masih menatap youngyoo tak percaya. “Jadi, kau adalah putri dari Sagwa Corp?” tanya jongwoon dengan nada melemah. Youngyoo menatap sengit ke arah jongwoon dan juga ayahnya. “Ya, itu aku.” ucap youngyoo kemudian.

“Yak, jongwoon. Bisakah kau ajarkan temanmu ini sopan santun? Apa dia tidak tahu aku ini siapa? Berani-berani bicara yang tidak-tidak tentangku.” Ucap pria tua bernama kim jongwook itu. “Aku tahu kau siapa, tuan Kim yang terhormat. Dan aku juga tidak bicara sembarangan. Nikmati saja detik-detik terakhirmu menghirup udara bebas. Sebelum akhirnya kau harus mendekam dibalik jeruji besi dingin itu –penjara-.” Seru youngyoo masih dengan tatapan sengitnya. Tangan jongwook terlihat terangkat untuk menampar youngyoo, namun hal itu ditahan oleh jongwoon. Ia tidak mungkin membiarkan orang lain menyakiti gadisnya, walaupun tanpa sadar ia juga telah melakukannya. “Jadi, putri dari Sagwa Corp adalah kau? Kim sajangnim, selamat, kau membuat hidupku semakin semerawut. Kau membunuh orang tua dari gadis yang kuncintai! Kau tidak berguna!” bentak jongwoon pada ayahnya sendiri. Youngyoo mengerutkan kening mendengarnya. “Kalian gila? apa yang kalian bicarakan? Siapa yang membunuh siapa?” tanya pria tua bernama kim jongwook itu. Berusaha berlagak seperti orang yang tak mengetahui apa-apa. “Berhenti berakting, kim sajangnim. Aku sudah tahu hal ini dari awal. Kau memang merencanakan pembunuhan terhadap pemilik Sagwa Corp karena dendam masa lalumu. Aku pernah tak sengaja mendengarnya dari mulut mu sendiri, kim sajangnim. Saat kau menyuruh orang lain untuk membunuh pemilik Sagwa Corp.” Ucap jongwoon dengan penekanan disetiap katanya.

“Yeobo, kau, apa benar yang dikatakan youngyoo?” tanya istri dari kim jongwook yang tak lain adalah ibu dari jongwoon. Wanita itu terlihat mengurut kepalanya sakit sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kaget dengan berita yang baru saja ia dengar. Jongwoon kini beralih ke ibunya. Ia terlihat mendekap sang ibu, sambil terus menatap gadisnya yang kini sedang berperang tatapan dengan sang ayah. “Kupastikan kau akan menderita, kim jongwook! Dan kau, kim jongwoon-ssi, lupakan mengenai acara pernikahan kita. Karena aku sudah mendapatkan jawaban atas lamaranmu tempo lalu. Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau bersanding dengan keturunan pembunuh sepertimu!” ucap youngyoo sebelum akhirnya berlari keluar kediaman Kim dengan air mata terurai berantakan di wajah cantiknya.

-TBC-

Well, aku menepati janjiku akan untuk tetap mempublish fanfict ini? Gimana? Ada sesuatu yang bikin kalian penasaran? Apa harus aku lanjutkan chapter berikutnya? Leave ur comment if you respect this fiction and me J

4 thoughts on “DARK SHADOWS [Chapter 3]

  1. ASTAGANAGAULARSANCA !!!! Gilaaaa makin seru ceritanya saeng !! HEOL !! Neo jinjja neomu neumo daebak !! Jjang !!
    Aku bersyukur is woobin jd pengacara. Haha dia bner2 daebak! Terimakasih telah membantuku oppa/?

    Kasian liat youngyoo sama woobin yang pusingg ggara ni kasus. Yaelah eon jg sama pusingnya baca ni kasus gak slesai2 ngalor ngidul greget kapan ni kasus slesai? Toh jelas2 is kim jong wook alaium gambreng lah pelakunya!! Yg tidak lain tidak bukan adalah ayah dari kim..jongwoon!! *mewek* pas is woobin lagi ngebayangin kasus sebenarnya itu rasanya eon pengen teriak “IYA 100% Bener ceritanya!!! Udah tangkep kimjongwook buruu!!” Wkwkwk

    Njrr sumpah nyesek pas youngyoo dateng kerumah dan ketemu sama is kim jong wook alaium gambreng itu/? Kebongkarlah semuanya kebongkar!! Mati lu mati jongwook!! *emosi*
    Btw eon gak kepikiran tuh kalo hubungan jongwoon ama bapaknya kek gitu. Ternyata emang jongwook busuk dari awal yah iuwhh -_-

    Ah! Dan chap ini banyak youngyoo sama woobinnya ya kkk tapi gak ada romantisnya/? Kan eon jg pengen romantis2an sama woobin *plak* ah iya ngomong2 soal woobin, eon yakin tu orang lg nungguin youngyoo diluarkan? Haha kan td dia nyusul😄

    Okeyy puncak cerita sudah ditebas/? Sekarang tnggal bgaimana persaan jongwoon dan youngyoo yg pastinya galau stengah mampuskan? *evil laugh* kalo woobin mah eon yakin dia seneng😄
    Okeyy 5 chap yah? Berarti tnggal 2chap lg. Sipp ditunggu kelanjutannya saengg {} lope lope lope bintang terbang untuk kamu :**
    HWAITING !! GOMAWOYO mumumumumumu~

    • Ini komen atau curhatan–”
      Okesip. malam ini rencananya aku mau publish chapter 4 tapi punya tapi aku lagi buat cover ff buat chapter 4 ini. Jadi publishnya mungkin ngaret dari jadwal wks

  2. saeng publish ff nya tengah malem yak!? haha duh mana gak ada paketan tiap saat T_T
    Oh ya btw aku belum comment yg chap 2 nya lagi -_- sebetulnya aku udah comment tapi di word /? Lol jadi belum aku copas wkwkwk
    Chap 4 nya udah publish tuh okeyy tapi aku lg gak ada mood baca T_T lagi gak enak badan ah cuma bisa comment doang ini/?
    Btw akhirnya cover ff nya ada woobin nya wkwk😄

    • haha.. emang paling enak tuh publish fanfict tengah malam eonni. gak keganggu sinyal wk. tenang kok untuk chapter ke 5 dan 6 aku publish di hari libur antara hari jumat – minggu di minggu depan. tapi gak tengah malam kok walau tetep aja malam wks. Itu kan aku buat covernya dulu jadi baru publish tengah malam T^T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s