DARK SHADOWS [Chapter 4]

Title         : DARK SHADOWS [Chapter 4]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Lee Young Yoo (OC)
  • Kim Woo Bin (Actor)
  • Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)
  • Find other cast by urself

Genre       : Romance, Sad romance, storylife.

Rate         : PG 15

Length     : Chapter (95. 573 characters with spaces)

NB           : Keseluruhan cerita murni milik author. Dilarang keras untuk membalik nama atau menyebar luaskan fiksi ini tanpa izin dari author. Mohon cantumkan alamat blog ini dan izin kepada saya selaku author aslinya, jika anda berkeinginan untuk re-post fiksi ini. Saya sdh coba revisi typo di sini. Tapi kalo masih ada yang typo. Beritahu pada saya, nanti akan saya perbaiki, okay? Terima kasih sebelumnya. Enjoy reading guys..

Aku tahu satu hal yang pasti dalam hidup ini. Ketika dirimu berani untuk mencintai seseorang, itu berarti kau harus berani tersakiti oleh orang yang sama. Bagai mawar yang dijaga ketat oleh pasukan duri. Ketika kau ingin memiliki cantiknya setangkai mawar, kau harus berani tertancap perihnya duri yang terasa merobek pori – pori kulit. Tak ingin menjauh namun tak ingin kembali. Aku tak ingin melupakanmu namun aku harus melupakanmu. Cinta tak selamanya bahagia, aku tahu akan hal itu. Tapi, haruskan secepat ini? Haruskah secepat ini kebahagian hilang –lagi- dari hidupku? –Youngyoo Lee-

chapter 4

–Perv Chapter—

“Yeobo, kau, apa benar yang dikatakan youngyoo?” tanya istri dari kim jongwook yang tak lain adalah ibu dari jongwoon. Wanita itu terlihat mengurut kepalanya sakit sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kaget dengan berita yang baru saja ia dengar. Jongwoon kini beralih ke ibunya. Ia terlihat mendekap sang ibu, sambil terus menatap gadisnya yang kini sedang berperang tatapan dengan sang ayah. “Kupastikan kau akan menderita, kim jongwook! Dan kau, kim jongwoon-ssi, lupakan mengenai acara pernikahan kita. Karena aku sudah mendapatkan jawaban atas lamaranmu tempo lalu. Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau bersanding dengan keturunan pembunuh sepertimu!” ucap youngyoo sebelum akhirnya berlari keluar kediaman Kim dengan air mata terurai berantakan di wajah cantiknya.

–DARK SHADOWS CHAPTER 4–

Sepanjang perjalanan woobin tak henti-hentinya menoleh ke kiri dan kanan jalan. Berusaha menemukan gadis yang kini sedang menyita perhatiannya. Berkeliaran di otaknya. Woobin menepikan mobilnya secara serampangan di pinggir jalan ketika melihat sosok gadis yang ia cari. Gadis yang ia cari sedang terduduk sambil menangis di tepian jalan. Dengan terburu-buru woobin keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobilnya hingga menimbulkan bunyi genderam yang cukup memekakan telinga.

“Apa yang kau lakukan disini, youngyoo-ya?” tanya woobin yang lebih tepat disebut sebuah bentakan. Youngyoo yang kaget, refleks mendongak untuk melihat siapa yang tengah berdiri didepannya kini. Mata biru teduh youngyoo membulat tatkala melihat woobin berdiri dengan tangan dimasukan kedalam saku di depannya. Youngyoo buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangannya. Berusaha agar pria di depannya tak tahu bahwa ia baru saja menangis. “Ah, aku, aku benci mereka woobin-ah,” ucap youngyoo akhirnya. Gadis itu merasa tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia tidak bisa berbohong di hadapan woobin. Ia tidak bisa, semakin ingin ia menahan air matanya semakin kuat juga dorongan air mata itu untuk keluar. Youngyoo menghambur kedalam pelukan woobin. Meremas kuat jaket bagian punggung yang dipakai woobin, hingga jaket itu terlihat –amat- kusut sekarang. Gadis itu menangis sejadinya. Woobin yang mengerti kenapa youngyoo menangis, hanya membiarkan gadis itu menangis hingga puas. Tak ada niat mengintrupsi atau apapun kini.

Perlahan kedua tangan woobin merambat naik ke punggung youngyoo. Ragu, namun woobin merasa ingin melakukannya. Woobin membalas pelukan gadis didekapannya. Menyalurkan semua kehangatan yang ia punya. Menyalurkan semua kasih sayang yang ia punya untuk gadis di dalam dekapannya, walau gadis itu tak pernah membalas rasa itu. Woobin tetap ingin melakukannya. Sangat amat ingin melakukannya. Perlahan woobin mengelus lembut puncuk kepala dan punggung youngyoo. Pandangan orang-orang dijalan tak lagi menjadi fokus mereka –woobin dan youngyoo-. Tak peduli apa yang ada di dalam pikiran orang-orang itu. Yang woobin pedulikan kali ini adalah, gadis di dalam dekapannya ini perlu perlindungan, perlu sandaran. Dan ia siap menjadi sandaran sang gadis, walaupun tak mendapatkan balasan yang sama dari gadis tersebut. Woobin tetap rela melakukannya.

Satu menit.. dua menit.. tiga menit.. perlu beberapa menit bagi youngyoo untuk menemukan kembali kesadarannya. Butuh beberapa menit bagi youngyoo untuk mengontrol emosinya lagi. Butuh beberapa menit bagi youngyoo untuk menghentikan isak tangisnya. Perlahan, setelah tak terdengar lagi isak tangis dari bibir youngyoo, woobin mulai melepaskan pelukannya. Menatap gadis bernama youngyoo di depannya. Mengunci tatapan gadis yang kini telah meruntuhkan segala impiannya untuk memiliki sang gadis seutuhnya. Kedua tangan woobin beralih menggengam pundak youngyoo.

Woobin terlihat menghela nafas panjang sebelum mulai membuka pembicaraan. “Kau sudah bertemu dengan ayah dari kekasihmu? Maaf, aku tidak memberitahumu dari awal.” Ucap woobin akhirnya. Youngyoo terlihat mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan woobin. “Kau? Kau tahu jika jongwoon oppa adalah putra dari Ellite Group?” tanya youngyoo tak percaya dengan hasil otaknya dalam menangkap ucapan woobin tadi. Woobin mengangguk lemah, youngyoo dibuat terperangah karenanya. “Demi tuhan youngyoo-ya. Aku tidak tahu jika jongwoon yang dimaksud adalah kekasihmu. Aku baru ingat wajah kekasihmu itu ketika kita bertemu di toko roti tadi sore. Sebelumnya aku memang pernah melihat wajah kekasihmu, namun itu hanya sekilas, saat kalian berciuman di balkon apartemen tempo lalu,” woobin berhenti berucap, ia terlihat menarik nafas panjang lagi sebelum melanjutkan ucapannya. Youngyoo merasa tak enak hati mengetahui woobin pernah melihatnya dengan jongwoon berciuman tempo lalu. Youngyoo merasa sudah terlalu banyak menyakiti woobin. Ia merasa tak kuasa untuk menjaga perasaan woobin. “Aku melihat wajah kekasihmu saat itu. Namun tidak terlalu jelas. Sampai suatu hari, aku sedang mencari info tentang keluarga kim jongwook. Disana, aku melihat foto kim jongwoon yang disebut-sebut sebagai putra tunggal dari Ellite Group. Pada saat itu, aku tidak sadar jika foto yang kulihat itu adalah wajah kekasihmu. Sungguh youngyoo, demi Tuhan, aku tidak mengingatnya.” Jelas woobin, mencoba memberikan pengertian pada youngyoo. Berjaga-jaga agar gadis didepannya tak merasa dibohongi.

Dengan senyum –yang dipaksakan- youngyoo berkata, “Sudahlah, aku tidak ingin membahas mereka lagi. Bisakah kau bawa aku kerumahmu saja? Aku tidak mau pulang ke rumahku apalagi ke apartemen jongwoon.” Pinta youngyoo dengan suara parau. Woobin hanya menggangguk lagi menggenggam jemari youngyoo agar sang gadis ikut masuk ke dalam mobil dengannya.

*****

“Ini,” ucap woobin sembari memberikan youngyoo segelas coklat hangat. Woobin menempatkan dirinya untuk duduk di sofa bersama youngyoo. Gadis itu kini tengah menyesap pelan coklat hangat yang baru saja berada di genggaman tangannya. Tatapan gadis itu terlihat kosong, entah apa saja yang sedang bersarang di otaknya kini. Woobin terlalu pusing untuk menebaknya.

“Aku sudah melayangkan surat tuntutan untuk Kim Jongwook. Kasus ini akan segera di proses pengadilan. Kau tidak usah mengkhawatirkan apapun. Mungkin sekarang, ia sudah diseret polisi ke kantor polisi. Aku sudah mempunyai cukup bukti untuk meringkus bajingan itu,” ucap woobin berusaha membuka obrolan. Namun youngyoo hanya berdehem meresponnya. “Kumohon, jangan bersikap seperti orang depresi seperti ini. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, youngyoo-ya.” Ujar woobin ketika melihat youngyoo tak jua mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Youngyoo menatap woobin sendu. Tak ingin membuat pria itu khawatir, namun dirinya sendiri tidak bisa berakting bahwa ia memang sedang baik-baik saja.

“Mianhae,” kata itu yang terucap pertama kali dari bibir pucat youngyoo. Woobin menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Pria itu terlihat memejamkan mata, merasa lelah dalam beberapa hari ini. “Aku hanya butuh waktu sendiri. Aku butuh ketenanganku. Ini semua terlalu mendadak bagiku. Aku terlalu kaget menerima semua kenyataan ini.” Ungkap youngyoo ketika tercipta suasana hening disekitarnya. Woobin membuka matanya dan menatap youngyoo. “Kau mau jika tinggal dengan bibiku? Ah begini, bibiku tinggal didesa yang bisa dibilang terpencil. Disana kau benar-benar bisa menenangkan dirimu, sementara aku disini akan mengurus semua tentang kasus orang tuamu. Bagaimana? Kau mau?” tawar woobin kali ini. Youngyoo terlihat diam beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Baiklah lusa kita berangkat. Sekarang tidurlah, mungkin setelah bangun nanti pikiranmu bisa lebih jernih.” Seru woobin kemudian. Youngyoo terlihat mengulum senyum tipis lalu berjalan ke arah kamar yang sudah disediakan woobin untuknya.

*****

Setelah memastikan bahwa sang ibu dalam keadaan baik-baik saja. Jongwoon kembali ke apartemennya dengan harapan menemui sosok youngyoo disana. Namun harapannya pupus, ketika tak melihat tanda-tanda wanita yang ia cari di dalam apartemennya. Jongwoon menghempaskan tubuhnya ke sofa. Pria itu terdengar mengerang kesal. Menumpahkan semua kekesalan yang ia rasakan hari ini lewat suara kerasnya tadi. Dengan frustasi, pria itu mengacak rambutnya sembarangan. Pria itu terlihat membuka kancing lengan kemejanya kasar hingga kancing lengan sebelah kanannya putus dan kini entah bersembunyi dimana. Tak kalah kasarnya, pria itu membuka dua kancing teratas kemejanya. Lalu menarik dasinya dan melempar benda itu entah kemana.

Pria itu lagi-lagi terdengar mengerang. Dengan kaki kirinya ia menendang apa saja yang ia lihat. Vas pemberian dari ibu-nya kini menjadi korban dari kelakuan bringasnya. Kini vas itu sudah tak berbentuk layaknya vas-vas cantik dengan bentuk menawan lagi. Vas itu sudah hancur, patah, berserakan dimana-mana. Tak lagi bisa ia satukan, sekeras apapun usaha yang ia lakukan. Sama layaknya vas itu, hatinya pun memiliki nasib yang sama. Hatinya kini terasa sudah tak berbentuk lagi. Sudah hancur, patah dan berserakan entah dimana. Hatinya terasa tak lagi bersama dengan tubuhnya. Hatinya pergi meninggalkannya sendiri dengan keterpurukannya. Hatinya pergi dan bukan untuk kembali. Sekeras apapun ia berusaha untuk mencari hatinya, hati itu tidak akan pernah kembali. Hati itu adalah youngyoo. Hatinya adalah youngyoo. Gadis itu sudah menjadi asupan wajib baginya. Tanpa gadis itu, jongwoon merasa hanyalah serpihan tak berguna yang sudah harus dibuang. Tanpa gadis itu, jongwoon tak tahu bagaimana ia harus menghirup oksigen lagi.

Tak peduli dengan image lelaki yang menangis, air mata dipelupuk matanya sudah tak dapat lagi ia tampung. Mereka sudah terlampau banyak. Apa peduli orang dengannya? Memangnya lelaki tidak boleh menangis? Memangnya mereka pikir lelaki adalah dewa yang tahan banting dan tidak mempunyai perasaan? Tidak, sekuat apapun seorang lelaki. Setampan apapun seorang lelaki. Sepintar apapun seorang lelaki. Mereka pasti mempunyai satu alasan untuk menangis. Pasti. Dan alasan satu-satunya yang bisa membuat jongwoon mengeluarkan bulir bening dari kedua sudut matanya adalah youngyoo. Hanya gadis itu alasan baginya untuk tetap bertahan hidup. Jika alasan untuk bertahan hidupnya sudah pergi, bagaimana caranya ia hidup tanpa alasan?

Setiap manusia hidup, pasti mempunyai sebuah alasan. Kini jongwoon menyadarinya. Untuk apa ia kebal dan bertahan dengan semua pemberitaan miring tentang keluarganya? Ia bisa saja bunuh diri saat itu seperti yang banyak orang lain lakukan. Namun mengapa ia masih ingin bertahan, merasa enggan untuk mengakhiri perjalanan hidupnya. Kini jongwoon tahu, Tuhan sudah menentukan jalur-Nya. Jongwoon bertahan untuk bertemu dengan youngyoo. Jongwoon bertahan untuk jatuh cinta dengan youngyoo. Jongwoon bertahan untuk hidup bersama youngyoo. Dan apa kini jongwoon masih sanggup bertahan tanpa youngyoo?

*****

Dengan tampang semerawut, jongwoon melangkah keluar kamarnya. Berjalan dengan gontai ke arah dapur apartemennya di pagi hari ini. Sekedar ingin membasuh tenggorokannnya dengan air. Tenggorokannya terasa amat kering karena tak henti-hentinya berteriak dan menangis semalam suntuk.

Indera penciuman jongwoon beraksi, mereka –hidung jongwoon- menghirup aroma nikmat dari semangkuk bubur di atas meja makan. Seketika itu mata jongwoon membulat. Dengan langkah terburu-buru, pria itu mendobrak kasar pintu kamar youngyoo. Dan disana, di dalam kamar gadisnya, jongwoon menemukan oksigennya lagi. Youngyoo kembali? Benarkah itu? Jantungnya kembali lagi? Bisakah ia melanjutkan hidupnya lagi dengan benar?

Perlahan jongwoon melangkah mendekati youngyoo. Sedangkan youngyoo hanya diam tanpa melakukan gerakan apapun. Gadis itu hanya menatap datar ke arah jongwoon. Terselip rasa rindu di hati youngyoo. Ingin rasanya menghambur ke dalam pelukan jongwoon seperti dulu. Namun apa daya, ia tidak bisa dan tidak akan mungkin melakukannya lagi. Pantaskah ia jatuh cinta pada keturunan pembunuh orang tuanya sendiri? Apa orang tuanya di Surga sana bisa memaklumi perasaannya?

Tak ada kata yang keluar dari bibir mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada niat untuk memulai obrolan dengan kata-kata. Mereka hanya saling menatap. Berusaha berkomunikasi tanpa mengeluarkan kalimat. Keduanya bagai dua patung, tak bergerak bahkan mungkin tak bernafas. Youngyoo merasa miris melihat penampilan pria di hadapannya. Rambut yang semerawut, pakaian yang kusut, wajah yang lesuh. Namun entah mengapa youngyoo tetap saja menganggap pria yang kini tengah berdiri di hadapannya adalah ciptaan Tuhan paling menarik baginya.

Tatapan jongwoon beralih pada sebuah koper besar yang ada di atas ranjang youngyoo. Pemuda itu terlihat memicingkan mata. Menatap bingung koper itu sekaligus beberapa pakaian youngyoo yang tergeletak tak jauh dari koper itu. Dengan suara paraunya, jongwoon berusaha membuka mulutnya. “Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu,” jawab youngyoo singkat. Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda. Jongwoon melangkah lebih dekat. Pria itu mencengkram erat pergelangan tangan youngyoo, membuat gadis itu menghentikan kegiatannya lagi dan sedikit meringis menahan sakit. “Lepaskan!” bentak youngyoo namun tak berpengaruh pada cengkraman jongwoon. “Aku sedang bertanya padamu, lee youngyoo, kau mau kemana? Ini rumahmu! Jangan pernah berpikir untuk keluar dari sini!” ucap jongwoon tak kalah kerasnya dengan youngyoo. Youngyoo melemparkan tatapan sengit ke arah jongwoon. “Kau pikir aku rela jika harus tinggal dengan seorang pembohong dari keturunan pembunuh?” tanya youngyoo miris. Cengkraman tangan jongwoon terlihat mengendur. “Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat untuk membohongimu, yoo-ya.” Ucap jongwoon berusaha merubah pemikiran youngyoo tentangnya kini. “Kupikir menceritakan masalah kedua orang tuaku bukanlah perkara penting. Dan aku juga tidak pernah tahu jika kau adalah putri dari Sagwa Corp. Aku benar-benar tidak tahu, yoo-ya. Aku tidak pernah sekalipun membohongimu.” Tutur jongwoon kemudian. Youngyoo hanya tersenyum miring, merendahkan pernyataan jongwoon barusan. “Seharusnya kau jujur dari awal. Jika saja kau melakukannya, aku tidak perlu merasa jijik dengan diriku sendiri karena jatuh cinta pada keturunan pembunuh sepertimu!” bentak youngyoo lagi-lagi meluapkan semua kekesalnnya. “Sudah kubilang dari awal, jangan pernah masuk ke hidupku jika kau berniat meninggalkan luka disana. Jangan pernah peduli padaku jika itu hanya bualan semata. Kau tahu? Aku muak dengan semuanya. Aku benci dirimu, kim jongwoon! Aku benci!!” lanjut youngyoo diakhiri dengan jerit tangis memilukan dari bibirnya. Jongwoon hanya bisa berdiri terpaku, tak berani untuk bergerak maju meraih youngyoo, namun tak ingin melangkah mundur meninggalkan youngyoo. Apa ia benar-benar terlihat idiot sekarang? Tak berani untuk meraih namun tak mau untuk melepas. Egois kah?

Dengan sembarangan, youngyoo memasukan pakaiannya ke dalam koper besar tadi. Menutup retsleting koper itu. Lalu menyeret koper itu dengan tangan kirinya. Tangan kanannya kini tengah sibuk menghapus jejak-jejak air mata yang mengotori wajahnya. Bahu youngyoo tanpa sengaja bertabrakan dengan bahu jongwoon. Namun hal itu tidak menghentikan langkah youngyoo. Gadis itu tetap berjalan menjauh dari apartemen jongwoon. Gadis itu tetap berjalan keluar dari kehidupan jongwoon. Jongwoon masih tetap terdiam, tak berniat untuk meraih gadis itu kembali padanya. Ia tahu, perasaan gadis itu sekarang sedang sangat amat tidak baik. Hanya akan memperkeruh suasana jika ia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.

Tidak, jongwoon tidak ingin berdiam diri dan berlagak layaknya patung tak berharga. Jongwoon melangkahkan kakinya mengejar youngyoo. Baru saja gadis itu hendak meraih handle pintu untuk keluar dari apartemen jongwoon, sebuah lengan melingkar di bahunya. Mendekapnya dan menahannya untuk tetap berada dalam posisinya kini. Jongwoon meghentikan langkahnya. Pria itu kini tengah memeluk youngyoo. Pria itu tak melakukan hal lebih. Hanya menyampirkan lengannya di bahu youngyoo. Menghirup aroma manis gadis itu.

Youngyoo merasa sesuatu yang basah sudah menimpa bahunya. Air mata. Jongwoon menangis. Pria itu menangis sambil memeluk youngyoo. Deru nafas berantakan milik jongwoon serasa menabrak daun telinga youngyoo. Hati gadis itu bagai teriris mendengarkan isak tangis pelan dari bibir jongwoon. Pria itu menangis untuknya? Benarkah?

“Kumohon yoo-ya. Jangan pernah meninggalkanku. Jangan pernah menghilang dari pandanganku. Jangan pernah berada di tempat yang tidak bisa kulihat. Jangan pernah bersembunyi dariku. Jangan pernah melupakanku. Jangan pernah membenciku. Aku menyayangimu, teramat. Dan kumohon, tetaplah disisiku.” Ucap jongwoon dengan suara seraknya. Youngyoo merasa air mata mulai bergerombol menyerbu pelupuk matanya. Tak bisa lagi ia tahan, bulir bening itu akhirnya mengalir juga, menetes membasahi lengan jongwoon yang kini masih melingkar disekeliling leher jenjang youngyoo.

Jongwoon yang mengetahui youngyoo menangis, membalik badan gadis itu. Tak ada penolakan. Youngyoo menuruti jongwoon. Gadis itu terdengar meredam isak tangisnya. Gadis itu lebih memilih lantai sebagai pemandangannya kini. Jongwoon meraih dagu gadis itu, dan menyatukan bibir mereka. Youngyoo tak menolak. Entah mengapa ia merasa ingin melakukannya juga. Ia memerlukan jongwoon dalam hidupnya. Bukan hanya kemarin dan hari ini, tapi untuk selanjutnya. Untuk beberapa hari kedepan. Untuk beberapa bulan kedepan. Untuk beberapa tahun kedepan. Untuk selamanya. Air mata tetap mengalir dari kedua mata youngyoo dan jongwoon. Tautan bibir mereka tak saling memaksa. Tak ada desakan. Lembut namun menyayat hati. Youngyoo tak bisa merelakan jika ini akan menjadi ciuman terakhirnya dengan jongwoon. Begitupun sebaliknya. Mereka, keduanya, masih merasa membutuhkan satu sama lain. Namun harga diri youngyoo tidaklah bisa ditawar lagi. Youngyoo tidak mungkin menikah dan hidup dengan seorang anak pembunuh orang tuanya sendiri. Lama. Tak ada yang berniat untuk melepaskan tautan bibir mereka. Mereka menikmatinya. Menikmati saat-saat terakhir mereka. Menikmati ciuman perpisahan mereka –mungkin-.

Sampai youngyoo kembali ke otak sadarnya. Youngyoo mendorong tubuh jongwoon sekuat yang ia bisa. Membuat pria itu hampir saja terjatuh. “Lupakan apapun tentangku. Lupakan bahwa kita pernah saling mencintai. Lupakan bahwa kita pernah saling membutuhkan.” Ucap youngyoo kemudian. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan jongwoon, meninggalkan cintanya, meninggalkan pusat tata surya-nya.

*****

“Anda dibebaskan. Tuntutan anda ditarik kembali. Silakan keluar dan nikmati hidup bebas anda lagi. Jangan sampai kembali kesini lagi, nyonya.” Ucap seorang petugas kepolisian pada Shin Hye jung –bibi youngyoo-. Wanita itu terlihat bingung dengan perkataan petugas polisi tadi. Alis wanita itu terlihat bertaut. “Aku bebas?” tanya bibi youngyoo masih tidak yakin dengan penalarannya sendiri. Petugas polisi itu hanya mengangguk. Secercah senyum lebar menghiasi wajah sang bibi tak lama kemudian.

“Siapa yang membebaskanku? Apa suami-ku juga dibebaskan?” tanya wanita itu lagi. Merasa penasaran dengan wajah orang yang sudah membiarkannya menghirup udara kebebasan. Petugas itu terlihat mengangguk. “Suami anda juga sudah dibebaskan. Ia kini sedang menunggu di ruang tunggu. Tempo hari ada seorang gadis cantik datang kesini, ia menarik kembali tuntutannya terhadap kalian. Jelasnya, aku tidak begitu tahu, tapi yang jelas, gadis itu tidak ingin membuat orang yang dicintainya terpenjara dalam jeruji besi dan ia terpenjara dalam jeruji dendam. Ia ingin menyelesaikan kasus ini dengan jalan kekeluargaan, begitu kata gadis cantik itu.” Ungkap petugas polisi tadi. Berusaha mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana datang seorang gadis yang terlihat –amat- cantik dengan dress selutut berwarna pink teduh miliknya. Dimana gadis itu berkata tanpa pernah menghilangkan senyum dari wajahnya. “Mungkinkah itu youngyoo? Keponakanku?” tanya sang bibi kemudian. Petugas polisi itu hanya mengedikan bahu tak tahu. Wanita paruh baya itu terlihat diam. Air mata mulai terlihat di pelupuk matanya. “Gadis itu, bagaimana bisa ia melepaskanku begitu saja? Ia benar-benar mewarisi sifatmu eonni. Youngyoo, aku merasa dirinya benar-benar pencitraanmu, eonni. Hatinya benar-benar lembut sepertimu eonni. Aku benar-benar menyesal pernah melakukan hal buruk padanya.” Gumam wanita paruh baya itu pelan. Sebulir air mata berhasil lolos membasahi pipinya. Buru-buru wanita itu menghapusnya dengan punggung tangannya.

*****

Sudah dua hari ini, jongwoon tak menghirup oksigennya dengan benar –harum tubuh youngyoo-. Sudah dua hari ini, jongwoon tak mendapatkan asupan wajibnya dengan benar –wajah youngyoo-. Sudah dua hari ini pula, jongwoon terus mengurung dirinya di apartemen. Club malam –yang katanya- bisa membuat orang disana melupakan stress mereka pun tak mempan bagi jongwoon. Ia tetap saja merasa depresi di sana. Duduk terdiam di depan meja bar lalu menenggak berbotol-botol minuman –yang katanya- penghilang depresi itu. Namun semua itu tak memberikan efek apa-apa. Ia tetap saja merasa seperti orang gila karena merindukan gadisnya. Kopi paginya kini tak lagi bisa menyelamatkan awal harinya. Rasa kopi itu terasa begitu hambar. Seperti hidupnya kini. Tak ada keinginan untuk melanjutkannya lagi. Merasa ingin menekan tombol off dalam hidupnya.

Jongwoon melangkah menuju sofa di apartemennya. Ia menjatuhkan dirinya disana. Perlahan tangan jongwoon meraba kulit sofa itu. Meraba kembali kenangannya tentang youngyoo. Di sana, di sofa itu biasanya youngyoo tertidur karena kelelahan menunggu dirinya. Di sana, di sofa itu biasanya jongwoon memperhatikan setiap lekuk wajah youngyoo. Di sana, di sofa itu biasanya mereka berdua bersenda gurau sambil menonton acara tv favorite mereka. Di sana, di sofa itu terlalu banyak bayang-bayang kehadiran youngyoo. Jongwoon mengerang frustasi.

Desakan bulir bening di pelupuk matanya tak bisa lagi ia tahan. Beberapa kali pria itu terdengar menjerit pilu. Mengharapkan youngyoo bisa mendengar jerit tangisnya. Mengharapkan semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Mengharapkan ia segera terjaga dari tidur lelapnya. Jelas, semua itu hanyalah harapan tanpa bisa diwujudkan. Pada kenyataannya youngyoo tak lagi berada di sampingnya, gadis itu tidak akan bisa mendengar jerit tangisnya sekeras apa pun ia melakukannya. Pada kenyataannya jongwoon memang tidak sedang bermimpi buruk , youngyoo telah pergi dan meninggalkan segerombolan kerinduan yang serasa menusuk tepat di jantungnya. Pada kenyataannya jongwoon tak akan pernah terjaga dari tidur lelapnya, karena jongwoon memang sedang tidak tertidur. Semua kenyataan itu serasa menampar dirinya keras. Semua kenyataan itu serasa membenturkan kepalanya ke dinding kekar. Semua kenyataan itu serasa menyiksanya.

Jongwoon kini beralih menuju dapurnya. Pria itu berniat menenggak sebotol air untuk mengobati tenggorokannya yang kini terasa amat perih. Pria itu melangkah gontai. Setiap sudut di apartemennya menyimpan cerita tersendiri tentang gadisnya. Setiap sudut apartemennya mengingatkan jongwoon pada youngyoo. Bahkan kini ketika ia berada di dapur, tempat youngyoo biasa memasak untuk meredam amukan cacing kelaparan di perut jongwoon. Lagi-lagi air mata berhasil lolos dari kedua mata jongwoon. Jongwoon membuka pintu kulkas yang berada disampingnya. Mengambil sebotol air dari dalam sana lalu menenggaknya sembarangan. Membuat kerah kemeja lusuhnya basah karena air tadi. Jongwoon tak menenggak air itu habis, dengan frustasi ia melempar botol yang masih berisi air itu ke lantai dapurnya. Membuat lantai dapurnya basah. Jongwoon memerosotkan dirinya ke lantai. Pria itu terduduk dengan posisi kaki kiri ditekuk, sedangkan kaki kanannya ia biarkan memanjang. Pria itu lagi-lagi mengacak rambutnya sembarang, semakin membuat tatanan rambutnya tak bertema lagi. Jerit tangis kembali lolos dari bibir pria itu.

Setelah puas menikmati lantai dapurnya yang basah karena ulahnya, pria itu bangkit dan berjalan ke arah kursi bar yang ada di pantry-nya. Jongwoon duduk di salah satu kursi di sana, tempatnya biasa memperhatikan youngyoo ketika gadis itu tengah memasak untuk mereka. Bayangan youngyoo yang tersenyum riang setelah selesai memasak kembali hadir di depan matanya. Jongwoon memukul meja pantry di dekatnya sadis, menimbulkan bunyi yang membuat buluk kuduk serasa meremang. Jongwoon terlihat mengurut keningnya yang terasa pening dengan semua bayang-bayang youngyoo yang senantiasa berseliweran di setiap sudut apartemennya.

Kini pria itu kembali melanjutkan langkah gontainya. Pria itu melangkah memasuki kamar gadisnya. Indera penciuman jongwoon samar-samar menangkap harum tubuh gadisnya. Jongwoon kembali menjerit, merasa sesak tak tertahan di dadanya. Jongwoon membaringkan dirinya diatas ranjang youngyoo. Menghirup aroma youngyoo yang tertinggal disana. “Kembali lah! Kumohon yoo-ya! Kembaliii..” teriak jongwoon tanpa tahu siapa yang akan mendengarnya.

Mencintai youngyoo bagaikan sebuah narkoba untuknya. Semakin lama akan semakin membuatnya ketagihan. Membuatnya terus ingin menikmatinya. Tak perduli dengan dosis cintanya yang melebihi ambang batas. Tak peduli ketika ia harus mati karena overdosis. Jika ada dokter yang bisa menangani dirinya saat ini, ia rela membayar mahal untuk itu. Jongwoon memejamkan matanya. Mungkin karena kelelahan berkutat dengan kerinduannya, ia akhirnya tertidur di ranjang youngyoo.

*****

Sinar matahari menembus masuk melalui celah-celah ventilasi kamar youngyoo. Jongwoon mengerjapkan matanya ketika sinar itu menerobos masuk retina matanya. Jongwoon terjaga dari tidurnya. Jongwoon terlihat bangkit berdiri. Pria itu menatap kesekeliling kamar youngyoo. Kosong. Tak ada satupun barang milik gadis itu yang tertangkap oleh matanya. Jongwoon berjalan menuju lemari pakaian youngyoo. Mungkinkah gadis itu masih meninggalkan pakaiannya disini? Mungkinkah gadis itu masih berniat untuk kembali kesini? Menemuinya atau setidaknya mengambil barang miliknya yang masih tertinggal. Mungkinkah?

Tangan jongwoon terulur untuk membuka lemari itu dan hanya ada sebuah handycam disana. Tak ada satupun pakaian disana. Jongwoon meraih handycam itu. Handycam pemberiannya sebagai hadiah atas kelulusan youngyoo tempo lalu. Kini handycam itu tergeletak sendirian di dalam lemari gadis itu. Jongwoon menyalakan tombol on disana. Jongwoon berniat melihat rekaman-rekaman di dalam benda itu. Sebuah rekaman dengan title ‘Good’ bye menyita pandangannya. Ia menekan tombol play lalu menonton rekaman tersebut.

“Jongwoon oppa, apa kau menemukan handycam ini? Ini adalah handycam yang kau berikan ketika aku lulus tempo hari. Apa kau mengingatnya?” ucap youngyoo dalam rekaman yang kini sedang diputar jongwoon. Gadis itu terlihat tersenyum, namun bukan senyum itu yang disenangi jongwoon. Senyum yang kini disunggingkan youngyoo adalah senyum kesedihan, senyum yang dipaksakan. Youngyoo terdiam beberapa saat sebelum kembali membuka mulutnya.”Apa kau baik-baik saja sekarang?” tanya youngyoo berusaha menahan desakan air matanya. “aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih karena selama ini kau dengan sabar meladeni semua sikapku, ya aku tau terkadang aku bisa menjadi sangat menyebalkan,haha.” Youngyoo terdengar tertawa hambar. Air mata berhasil menemukan jalan keluar. Kini mereka tengah membasahi pipi youngyoo. Buru-buru youngyoo menghapus jejak kesedihan itu. “Terima kasih atas kenanganmu selama ini. Jalani hidupmu dengan baik. Maaf, aku harus meninggalkanmu. Aku tahu kau tidak bermaksud untuk berbohong dariku mengenai keluargamu. Mengenai statusmu sebagai putra tunggal Ellite Group. Aku bisa memaklumi posisimu. Aku bahagia pernah menjalani kisah bersamamu dulu. Aku bahagia pernah berbagi manisnya secangkir teh bersamamu dulu. Aku bahagia berjalan berdampingan denganmu dulu. Sekarang, aku hanya ingin melanjutkan hidupku tanpa bayang-bayang dirimu lagi. Mari kita belajar untuk melupakan satu sama lain. Mari kita belajar untuk hidup seperti dulu sebelum kita bersama, hidupku tanpa kehadiranmu dan hidupmu tanpa kehadiranku. Aku tidak bisa lagi mencintaimu. Aku tidak bisa lagi bahagia bersamamu. Aku akan pergi jauh dari dirimu.  Jangan pernah mencariku. Jika takdir mengkehendaki, biarkan ia yang mempertemukan kita. Aku butuh waktu untuk memahami perasaanku sendiri. Apa mungkin aku jatuh cinta pada anak seorang pembunuh orang tuaku sendiri? Menurutmu bagaimana?” isak tangis mulai terdengar. Suara youngyoo kini mulai gemetar. Tak kuasa menahan sesak didadanya.” Jika suatu saat takdir mempertemukan kita lagi. Dan jika pada saat itu perasaan kita masih sama seperti dulu. Jika kita masih mempunyai rasa sayang satu sama lain. Aku akan percaya bahwa kau memang ditakdirkan untukku. Dan kedua orang tuaku tidak keberatan jika Tuhan menuliskan takdirku bersamamu. Aku akan kembali bersamamu lagi. Namun jika kita bertemu dan perasaan salah satu diantara kita menghilang. Aku tidak akan kembali padamu. Kupikir, itu adalah cara Tuhan untuk menyadarkanku bahwa aku harus mencari seseorang yang lebih baik dairmu nanti. Mari kita mengenang semua ini sebagai kenangan indah. Kenangan yang membuat kita tertawa bukan membuat kita menangis. Mari kita lihat, takdir apa yang sudah dituliskan Tuhan untuk kita berdua.” Youngyoo terlihat berusaha tersenyum mengakhiri ucapannya. Gadis itu terlihat melambaikan tangan ke kamera sebelum akhirnya mematikan tombol ‘rekam’ yang ada di handycam itu.

Layar handycam itu tak lagi menampakan wajah cantik youngyoo disana. Jongwoon membekap mulutnya sendiri, berusaha meredam suara isak tangisnya yang kini serasa menohoknya secara membabi buta. Jongwoon merengkuh handycam itu kedalam pelukannya. Memeluk benda kenangan satu-satunya yang youngyoo sisakan untuknya. Oksigen, oksigen, pria itu butuh okigen. Kemana perginya semua oksigen? Paru-paru pria itu terasa amat sesak. “Baiklah, jika itu yang kau mau yoo-ya. Aku akan berusaha untuk tidak mencarimu. Aku akan berusaha untuk hidup tanpa kehadiranmu. Dan jika takdir mempertemukan kita, aku akan menagih janjimu itu.” Ucap jongwoon masih memeluk handycam itu di depan dadanya. Air mata itu lagi-lagi mengalir membasahi wajah lesu milik kim jongwoon.

*****

“Pemilik Ellite Group, kim jongwook kini tengah meringkung dibalik jeruji besi. Kali ini ia tersandung kasus pembunuhan. Diketahui bahwa dirinya menjadi otak dari pembunuhan Pemilik Sagwa Corp, lee youngjae. Pengadilan sudah memutuskan hukuman…” belum selesai pembawa acara itu membacakan beritanya, jongwoon keburu meraih remote televisi dan mematikan benda itu. Membuat wajah cantik pembawa berita itu menghilang. Jongwoon menghempaskan tubuhnya pada sofa di ruang tamu apartemennya. Merasa lelah dengan semua pemberitaan tentang ayahnya.

Jongwoon dipecat dari tempatnya bekerja. Pihak perusahaan merasa ragu untuk kembali memperkerjakan jongwoon dengan alasan keturunan pembunuh bisa saja membunuh juga suatu saat nanti. Dan pihak perusahaan terlalu takut jika kenyataan itu memang benar terjadi. Perlahan Ellite Group mengalami kemunduruan, disebabkan oleh konsumen yang sudah tak percaya dengan produk-produk Ellite Group. Konsumen merasa tidak sudi menggunakan barang yang diproduksi di sebuah perusahaan yang dikelola oleh seorang pembunuh. Belum lagi, pemberitaan tentang ayahnya yang menyuap seorang petugas pajak agar mendapatkan pajak yang kecil. Dan setumpuk desas-desus lain yang berseliweran dihadapan jongwoon.

Pria itu menghela nafas berat. Jongwoon merasa tak ingin untuk membangun kembali Ellite Group, hal itu hanyalah sia-sia. Kini rumah megah bak istana milik keluarga Kim sudah disita oleh bank. Bank menuding kim jongwook sudah meminjam uang dalam jumlah yang besar namun tak kunjung membayar cicilan pelunasan. Ellite Group kini sudah tak terselamatkan lagi. Membangun Ellite Group lagi, sama saja mencari jarum dalam tumpukan jemari, menurut jongwoon.

Jongwoon melirik jam dinding di ruang tamunya kini. Pukul 9 pagi. Waktunya untuk berangkat ke tempatnya melamar pekerjaan. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menahan jongwoon. Wanita itu terlihat membawa sebuah nampan yang berisi segelas susu dan seporsi roti untuk jongwoon. Jongwoon tersenyum meraih sarapan paginya, “Gomawo eomma.” Ucap jongwoon lalu berpamitan kepada ibunya. Mengecup hangat kening sang ibu, lalu melangkah menjauh.

*****

“Kau putra dari Ellite Group?” tanya seorang pewawancara ketika membaca profile jongwoon. Pria itu hanya mengangguk mengiyakan. Seseorang itu terlihat berbisik dengan beberapa orang disamping kiri kanannya. Jongwoon tak ingin menebak apa yang mereka bicarakan, karena pastilah tak jauh dari nama ayahnya, pemilik Ellite Group yang kini lenyap. “Kami menyesal mengatakan hal ini. Tapi, kami tidak bisa menerima anda disini. Melihat latar belakang keluarga anda, kami tidak bisa mengambil resiko untuk memperkerjakan anda. Ya, seperti pepatah yang kita kenal, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kami minta maaf. Anda boleh keluar sekarang.” Ungkap salah satu pewawancara yang wajahnya sudah tertutup oleh keriput kulitnya.

“Kalian bahkan belum melihat curriculum vitae-ku.” Ucap jongwoon, berharap masih ada harapan mengingat prestasi kerjanya selama ini cukup memuaskan. “Maaf, kami tetap tidak akan menerima anda disini.” Jawab pewawancara tadi. Jongwoon menghela nafas panjang. Merasa dunia sedang tak ingin bersahabat dengannya. Jongwoon merasa semua karma yang di lakukan sang ayah dilumpahkan kepadanya. Ini sungguh membuatnya penat.

Dengan enggan jongwoon menyunggingkan senyum tipis dan membungkukan badannya sebelum keluar dari ruang wawancara. Jongwoon melangkah gontai ke arah kursi tunggu yang ada di luar ruang wawancara. Pria itu mendudukan dirinya di salah satu kursi itu. Kedua tangan pria itu terlihat menopang kepalanya yang ia tundukan. Matanya terpejam. Kepalanya kini terasa berdenyut-denyut tak karuan. Ini adalah perusahaan kesekian yang menolaknya hanya karena alasan ia adalah anak dari Kim Jongwook, pemilik Ellite Group yang namanya sedang berada di level paling rendah saat ini.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya pada dirinya sendiri. Jongwoon menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu matanya menatap langit-langit ruang tunggu. Pikirannya menerawang. Pikirannya bercabang. Youngyoo dan pekerjaan. Mengapa mencari pekerjaan sama susahnya dengan menghilangkan bayang-bayang gadis itu dalam hidupnya? Jongwoon memejamkan matanya. Berusaha menghilangkan rasa penatnya akibat masalah yang akhir-akhir ini berlomba menimpanya.

Tubuhnya mulai terlihat kurus. Kantung matanya mulai terlihat. Gairah hidupnya semakin menipis, bahkan bisa dibilang sudah tidak ada. Semenjak kepergian youngyoo, jongwoon berusaha untuk tidak mencari gadis itu sesuai permintaan sang gadis. Berusaha untuk tidak menemui informasi tentang gadis itu. Namun semua yang ia lakukan hanya berbuah kelelahan tanpa memetik hasil yang ia inginkan. Ia tetap tak bisa hidup tanpa gadisnya.  Gadis itu, youngyoo, oksigennya, menghilang.

Bagai jasad tanpa ruh. Mungkin hal itu yang bisa menggambarkan keadaannya kini. Terlihat baik-baik saja dari luar, namun di dalamnya sama sekali tak ada kata baik-baik saja. Ruhnya sudah hancur bersamaan dengan kepergian youngyoo seminggu yang lalu. Tak akan ada kata baik-baik saja jika youngyoo belum muncul dihadapannya, begitu pikir jongwoon. Sudah seminggu youngyoo meninggalkannya. Menimbulkan segudang rindu yang bergejolak dalam hatinya. Pria itu terkadang menangis di dalam gelapnya malam. Merasa gila karena merindukan wanita yang kini sudah membencinya. Nama gadis itu pun tak luput dari baris doa jongwoon setiap harinya.

Youngyoo, dimana keberadaan gadis itu kini? Apa dia juga merindukan pria yang kini sedang setengah mati merindukannya? Jongwoon mengacak rambutnya frustasi. Bukan, bukan karena ia ditolak untuk kesekian kali oleh perusahaan. Namun lebih tepatnya, ia merasa frustasi karena tak menghirup oksigen dengan benar. Oksigennya sudah lenyap bersamaan dengan menghilang youngyoo yang tidak bisa ia deteksi. Jongwoon bangkit dari posisinya, melanjutkan langkahnya meninggalkan kantor itu.

*****

“Eomma,” panggil jongwoon pelan pada ibunya. Kini mereka tengah menikmati makan malam sederhana mereka. Tak ada pelayan yang berseliweran seperti dulu. Semua dikerjakan sendiri oleh jongwoon dan ibunya. Hidup mereka tak lagi semakmur dulu. Sang ibu terlihat tersenyum menanggapi anak lelakinya. “Mianhae eomma, tapi kurasa kita harus segera pindah dari sini. Seperti yang eomma tau, aku sudah tidak bekerja lagi. Dan aku tidak mungkin bisa meneruskan sewa apartemen ini. Aku sudah mencoba melamar kebanyak perusahaan. Namun tak ada satu pun dari mereka yang bisa menerimaku dengan alasan yang sama. Karena aku adalah anak dari Ellite Group yang kini sudah hancur namanya.” Ucap jongwoon kemudian. Sang ibu terlihat memaksakan senyumnya. Merasa sedih ketika memikirkan nasib anaknya. Karena suaminya, jongwoon harus menerima semua cacian dan penolakan dari banyak pihak. Kini mereka bagaikan seonggok sampah masyarakat yang harus segera dimusnahkan.

“Tidak apa. Kita bisa menyewa tempat tinggal lain yang lebih murah dari ini. Eomma akan mencari pekerjaan untuk membantumu. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Eomma akan baik-baik saja walaupun tidak menjadi ratu di dalam istana megah.” Ucap sang ibu dengan tangan kanan terulur mengelus lembut tangan anaknya. Menyalurkan kehangatan seorang ibu yang ia punya. “Mianhae eomma, aku belum bisa membuatmu bahagia.” Sesal jongwoon. Sang ibu terlihat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sebulir air mata haru menetes dari matanya. “Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang perlu kau sesali, jongwoon-ah. Eomma bahagia jika melihatmu hidup dengan baik. Itu sudah cukup, demi Tuhan, eomma tidak menuntut apapun darimu.” Ucap sang ibu. Jongwoon terlihat mengangguk lemah.

“Jongwoon-ah, bagaimana dengan youngyoo? Dimana gadis itu sekarang?” tanya sang ibu kemudian. Jongwoon terasa tercekat mendengarnya. “Youngyoo, gadis itu, ia membenciku eomma. Ia meninggalkanku. Ia pergi menjauh.” Jawab jongwoon dengan suara parau. “Gadis itu, benar-benar membencimu? Apa kau sudah mencari gadis itu?” tanya sang ibu lagi. Jongwoon terlihat menggelengkan kepalanya pelan. “Awalnya memang aku berniat mencarinya sampai aku berhasil mendapatkannya lagi. Sampai saat itu, aku menemukan sebuah handycam di lemari pakaian youngyoo. Disana aku memutar sebuah rekaman yang berisi pesan youngyoo untukku. Gadis itu, youngyoo menyuruhku untuk tidak mencarinya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta padaku, yang statusnya adalah anak dari pembunuh kedua orang tuanya. Ia ingin takdir yang mempertemukan kami nantinya. Jika memang kami dipertemukan dan perasaan kami masih sama seperti saat ini, masih saling mencintai satu sama lain. Youngyoo bersedia untuk menerimaku kembali. Dan saat itu, aku tidak akan pernah menyakitinya sekecil apapun lagi. Walaupun berat, aku akan menerima permintaannya. Aku tidak akan mencarinya. Walaupun hal itu membuatku serasa tak bisa tidur dengan nyenyak.” Jawab jongwoon lemah. Pria itu mencoba untuk mengeluarkan senyumnya.

“Eomma mengerti bagaimana perasaan youngyoo saat ini. Gadis itu pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini. Gadis itu benar, ia butuh waktu untuk membuktikan bahwa cintanya dan cintamu bukanlah cinta yang akan tergerus oleh waktu dan terurai karena jarak. Gadis itu benar, jika suatu saat takdir mempertemukan kalian, maka youngyoo akan merasa yakin bahwa takdir mengizinkan kalian untuk hidup bersama lebih lama. Gadis itu, perlu bukti tentang perasaannya kepadamu. Gadis itu butuh waktu untuk menenangkan dirinya.” Tutur sang ibu membenarkan apa yang tengah youngyoo lakukan. Walaupun hal itu menyakitkan, gadis itu perlu pembuktian bahwa cinta mereka adalah cinta yang sebenarnya. Bukan hanya cinta karena sebuah obsesi yang lama kelamaan akan hilang dan lenyap terbawa angin.

*****

[ 2 months ago ]

Semilir angin serasa membelai pipi seorang wanita dan seorang pria. Hamparan padang bunga menghiasi indera penglihatan mereka. Hening. Sunyi. Tenang. Suasana desa yang menyenangkan. Jauh dari hirup pikuk para penggila kerja di kota. Jauh dari hirup pikuk kendaraan penyumbang polusi. Pria tadi terlihat mengalihkan pandangannya ke arah sang wanita. Sedangkan wanita itu tetap menatap hamparan padang bunga dalam jarak pandangnya. “Bagaimana? Apa kau betah tinggal disini?” tanya pria itu kemudian, mulai membuka suaranya. “Hm, sangat. Bibi dan pamanmu sangat baik padaku. Dan suasana disini bisa membuatku tenang, sedikit melupakan masalahku selama ini.” Ungkap seorag gadis yang tadi ditanya.

“Baguslah kalau begitu, youngie-ya. Aku senang mendengarnya. Ah iya, soal kasus orang tuamu itu. Aku sudah membereskan semuanya. Aku berhasil memenangkan sidang itu dan membuat Kim jongwook menikmati sisa hidupnya di penjara.” Ucap pria bernama woobin terlihat sangat puas. Youngyoo –gadis yang berada disampingnya- terlihat ikut tersenyum puas mendengar kabar gembira ini. “Kau benar-benar bisa kuandalkan woobin-ah.” Seru youngyoo merasa bangga memiliki teman seperti pria disampingnya kini.

“Ah, apa kau membebaskan bibi dan pamanmu? Aku baru saja tau beberapa hari yang lalu kalau mereka sudah bebas dari penjara.” Tanya woobin dengan alis bertaut. Youngyoo hanya menatap padang bunga di depannya. Sebuah senyum tersungging di wajah manisnya. “Hm, aku mencabut tuntutanku.” Jawab youngyoo singkat. Woobin terlihat bingung dengan jalan pikiran youngyoo. Apa gadis itu tengah kehilangan kewarasannya sehingga membebaskan orang yang sudah menjual dirinya untuk dijadikan pelacur?

“Aku hanya ingin melihat bagian dari keluargaku hidup bahagia. Aku tidak tega melihat bibi dan pamanku di penjara. Bagaimana pun juga mereka adalah keluargaku satu-satunya. Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi. Lagipula, tidak terjadi apapun denganku. Tuhan menyelamatkanku. Jadi untuk apa aku masih menyimpan dendam kepada mereka? Toh aku sama sekali tidak kekurangan apapun.” Tutur youngyoo. Woobin terlihat mengulas senyum tipis diwajahnya. “Hati manusia sangat sulit untuk ditebak. Namun aku senang mendengar bahwa kau tidak lagi hidup dalam dendam yang hanya menimbulkan sakit hati nantinya.” Ucap woobin dengan tangan terulur mengelus lembut rambut youngyoo. “Biar bagaimana pun, aku juga ingin membahagiakan keluargaku satu-satunya.” Ungkap youngyoo kemudian. Gadis itu terlihat menoleh ke arah woobin lalu tersenyum.

“woobin-ah, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya youngyoo kini. Gadis itu terlihat ragu untuk mengutarakan apa yang sedang berkeliaran di kepalanya. Woobin hanya menanggapinya dengan seulas senyum tipis, seolah mempersilakan youngyoo untuk mengajukan pertanyaan. “Mengenai jongwoon oppa,” ucap youngyoo ragu. Woobin terlihat memberikan tatapan tidak suka ke arah youngyoo. Pria itu terlihat mengerutkan keningnya. “Apa kau tahu bagaimana kabarnya sekarang?” lanjut youngyoo. Woobin tersenyum miris. Pria itu mengalihkan tatapannya menuju hamparan bunga di depannya. “Kau merindukannya?” tanya woobin dengan nada tak rela. Pria itu menghela nafas panjang. “Apa kau berharap ia datang mencarimu?” Matanya kini terasa perih. Gadis itu, youngyoo, masih merindukan kekasihnya.

“Seharusnya dari awal aku sudah melupakan perasaan ini. Seharusnya aku tidak terlalu banyak berharap kau akan membalas perasaanku. Namun entah kenapa, aku sangat sulit melakukan hal itu. Aku tetap saja mengharapkanmu yang jelas-jelas tak akan pernah menjadi milikku. Aku bodoh ya?” ungkap woobin merasa prihatin dengan dirinya sendiri. Dengan hatinya sendiri. Youngyoo merasa gelagapan. Seharusnya ia tidak menanyakan hal itu, ya harusnya. Woobin terlalu banyak menelan kepahitan karena dirinya selama ini. Kenapa untuk menjaga perasaan woobin saja ia tidak bisa?

“Woobin-ah, kau tahu, manusia itu makhluk pelupa. Manusia sering melupakan sesuatu yang harusnya ia ingat. Namun ketika manusia ingin sekali melupakan sesuatu yang ia ingin lupakan, justru hal itu selalu melekat dalam benaknya. Selalu mengikutinya kemana pun manusia itu pergi. Begitu lah ingatan manusia.” Ucap youngyoo pelan. Woobin hanya menjadi pendengar kali ini. Mulut pria itu terlihat terkantup rapat, tak ada tanda-tanda bahwa ia akan mengatakan sesuatu. “Kau pasti tahu, melupakan seseorang yang sudah biasa ada di kehidupanmu itu tidaklah mudah. Ini baru dua bulan setelah aku memutuskan untuk menjalani hidup tanpa jongwoon. Aku yang biasanya melihat wajah jongwoon setiap hari. Aku yang biasanya mendengar suara jongwoon setiap hari. Aku yang biasanya menghirup aroma tubuh jongwoon setiap hari. Kini, aku harus terbiasa untuk tidak melihat wajahnya. Aku harus terbiasa tidak mendengar suaranya. Aku harus terbiasa tidak menghirup aroma tubuhnya. Kau pikir aku bisa melakukan hal itu dengan cepat? Aku butuh waktu, aku masih berada dalam bayang-bayang jongwoon oppa. Sekerasa apa pun aku berkata bahwa aku tidak mencintainya, hati kecilku serasa berteriak mengatakan bahwa aku masih mencintainya. Masih sangat mencintainya. Aku tidak ingin berbohong. Aku dan jongwoon sudah hidup bersama selama 4 tahun ini. Kau pikir aku bisa melupakan semua tentangnya dalam waktu dua bulan? Kau pastinya tahu, melupakan seseorang yang pernah mengisi ruang hatimu tidaklah semudah ketika kau mencoba membalikkan telapak tanganmu. Walaupun orang itu sudah menorehkan luka menganga di hatimu. Tetap saja, kau pasti akan luluh dengan kenangan manis bersamanya.” Tutur youngyoo panjang lebar. Sebulir air mata terlihat di sudut mata sebelah kiri woobin. Dengan cepat pria itu menghapusnya. Ya, yang dikatakan youngyoo memanglah benar. Tak ada yang bisa melupakan kebiasaanya secepat itu. Semua butuh waktu, butuh penyesuaian. Seharusnya ia bisa lebih bersabar. Seharusnya ia bisa lebih mengerti apa yang sedang dialami youngyoo. Bukan malah menutut youngyoo untuk melupakan jongwoon dengan segera dan mulai menulis cerita baru dengannya. Mungkin ia harus kursus bersabar sekarang.

*****

“Hai,” sapa woobin sumringah ketika youngyoo berada tepat di hadapannya. “Woobin-ah, kau disini?” tanya youngyoo kaget. Woobin seharusnya sedang berada di seoul untuk mengurus kasus barunya. Baru saja semalam, pria itu berkata sangat pusing meladeni kasusnya saat ini. “Kenapa? Apa aku tidak boleh berada disini?” woobin malah balik bertanya dengan nada kecewa yang dibuat – buat. Menggemaskan, pikir youngyoo. “Aish, bukan begitu. Maksudku, bukannya semalam kau menelponku dan mengeluh mengenai kasus barumu itu, yang kau bilang membuat otakmu serasa mau pecah. Dan sekarang kau malah berada di hadapanku. Kau tidak mengurus kasusmu itu hah? Nappeun.” Ujar youngyoo memukul pelan lengan kiri woobin. Woobin meringis lalu tertawa ringan.

“Naega neol bogoshipo.” Ucap woobin singkat, namun berhasil membuat youngyoo terdiam. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibir youngyoo maupun woobin. Keduanya bungkam dan asik menyelami pikiran mereka masing – masing. Mereka hanya saling menatap dalam diam. Semilir angin yang berhembus membuat dedaunan pohon disekitar mereka bergerak melambai – lambai. Setelah beberapa lama, akhirnya woobin berhasil menemukan kesadarannnya lebih dulu. Pria itu terlihat menghela nafas panjang. “Aku, benar – benar merindukanmu. Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Namun, otak dan hatiku serasa tak bisa lagi seimbang. Mereka kacau setiap kali berhubungan denganmu. Jadi, aku hanya mengikuti keinginan hatiku untuk datang kesini menemuimu.” Ungkap woobin berusaha untuk jujur pada youngyoo. Ia tidak ingin lagi menyembunyikan apa yang ia rasakan tentang gadis satu ini. Woobin benar – benar ingin terbuka tentang perasaannya. Tak peduli tentang respon youngyoo nantinya. Woobin tidak ingin berbohong lagi tentang perasaannya di hadapan youngyoo. Persetan dengan imagenya kini. Ia tidak memerlukan imagenya lagi di depan gadis itu. Tidak, yang ia butuhkan hanya melihat wajah gadis itu. Mendengar suara gadis itu. Dan jika bisa, ia juga membutuhkan hati gadis itu untuk menjadi miliknya. Jika bisa, dan ia akan mengusahakannya.

“Aku tahu kau masih belum bisa melupakan jongwoon. Tapi, bisakah kau belajar untuk menerimaku? Melupakan jongwoon dan memulai cerita baru bersamaku. Maukah kau menjadi kekasihku youngyoo-ya? Aku tahu ini masih terlalu cepat bagimu. Namun, mari kita coba. Jika nantinya perasaanmu terhadapku masih tidak berubah ketika jongwoon datang kepadamu. Kau boleh memutuskan hubungan kita. Kumohon, izinkan aku untuk membuktikan padamu bahwa aku bisa membuatmu mencintaiku dan melupakan jongwoon. Beri aku sedikit ruang di hatimu, youngie-ya.” Pinta woobin akhirnya. Pria itu terlihat menangkup kedua tangan youngyoo. Mengelusnya perlahan. Tersenyum hangat. Dan mencoba menghapus jarak antara mereka berdua. Entah bagaimana, youngyoo bisa refleks menghindari woobin yang hendak menautkan bibir mereka berdua. Youngyoo merasa dirinya sudah ada yang memiliki. Ia tidak rela berbagi dengan orang lain. Youngyoo terlihat menunduk sedangkan woobin mendesah berat. Pria itu terlihat tertawa miris. “Maaf, aku lancang.” Ucap woobin tulus. Pria itu juga tak mengerti mengapa ia ingin melakukan hal itu. Semua benar- benar di luar kendalinya. “Woobin-ah, kumohon jangan seperti ini. Aku takut aku malah menyakitimu nantinya” ujar youngyoo masih dengan kepala menunduk. Tak berani untuk sekedar menatap woobin.

“Saranghae.” Ucap woobin singkat lalu menghambur masuk kedalam rumah bibinya, meninggalkan youngyoo yang masih terpaku di depan pintu rumah.

*****

“Kau sudah bangun rupanya.” Seru woobin ketika melihat youngyoo keluar dari kamarnya. Woobin kini tengah menyesap kopi paginya sembari menonton berita pagi di televisi. Woobin mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Pria itu menepuk – nepuk sofa disebelahnya. Berusaha memberi tanda agar youngyoo duduk disana. Youngyoo mengulas senyum, lalu berjalan ke arah sofa yang ditepuk oleh woobin tadi.

“Sepi sekali, kemana paman dan bibi?” tanya youngyoo ketika menyadari suasana rumah begitu hening. “Ah mereka, aku lupa bilang padamu semalam. Hari ini paman dan bibi pergi ke rumah sanak saudara di Busan, ada semacam acara keluarga. Dan itu untuk seminggu kedepan, jadi selama paman dan bibi pergi aku akan tinggal disini menemanimu.” Ujar woobin sembali menunjukan cengiran khasnya. Youngyoo menaikan sebelah alisnya. “Kasusmu?” tanya youngyoo teringat akan pekerjaan woobin sebagai seorang pengacara.

“Sidang kasus yang kutangani sedang ditunda. Hakim mengatakan bukti yang dibawa penuntut tidak bisa menunjukan bahwa tersangka, klien-ku, memang bersalah. Jadi hakim menunda sidang ini sampai penuntut bisa mengumpulkan bukti-bukti yang lengkap. Dan waktu itu tidak bisa dipastikan kapan. Jadi aku ingin menikmati waktu senggangku, hah, aku jarang mendapatkan waktu luang seperti ini.” Tutur woobin. Pria itu terlihat menyandarkan punggungnya ke sofa. Sedangkan youngyoo hanya mengangguk merasa mengerti dengan penuturan woobin sebelumnya.

“Ah, kau bilang ada pertemuan keluarga? Apa kau tidak ikut bersama paman dan bibimu? Apa orang tuamu tidak pergi?” ucap youngyoo menatap woobin penasaran. “Itu, aku tidak mau ikut. Pasti akan sangat membosankan disana. Dan kau pikir, aku bisa tenang membiarkanmu tinggal sendirian disini? Jadi aku lebih memilih tinggal disini menemanimu yang jelas – jelas tidak akan menjadi kegiatan membosankan untukku.” Ungkap woobin. Pria itu terlihat tersipu malu setelah mengucapkan kalimatnya barusan. Youngyoo hanya bisa menelan liurnya payah. Tak berani berkomentar tentang ucapan woobin tadi. Hanya tawa hambar yang terdengar dari bibirnya.

“Ah, hm, apa kau tidak lapar? Biar aku buatkan sarapan, kau mau makan apa?” tanya youngyoo berusaha mengalihkan pembicaraan woobin. Dirinya merasa bingung jika woobin sudah menyinggung perihal perasaan sang pria terhadapnya. Sungguh youngyoo tidak ingin membuat woobin menunggu perasaannya yang entah kapan baru bisa pulih dari sakitnya. “Bagaimana dengan nasi goreng kimchi? Aku sudah lama tidak memakannya. Bibi masih punya stok kimchi untuk musim ini kan?” usul woobin kemudian. “Eoh, bibimu masih menyimpan banyak sekali kimchi disini. Kurasa ia tidak akan marah jika kita menghabiskan satu box kimchi berdua, haha..” ucap youngyoo diikuti dengan gelak tawa ringan dari bibirnya. Woobin memandangi youngyoo yang sedang tertawa lepas. Ada rasa bahagia yang terselip di hati woobin. Bahagia yang tak terkira melihat wajah gadis yang ia cintai sedang tertawa. Ia terlalu sakit melihat gadis itu dengan wajah sedihnya. Akan lebih bahagia jika alasan youngyoo tertawa adalah dirinya. Dan akan sangat lebih bahagia lagi jika hanya dirinya yang bisa menikmati wajah riang youngyoo setiap harinya. Woobin terlalu enggan untuk berbagi dengan orang lain.

*****

Sudah satu bulan ini, woobin selalu terang – terangan menunjukan perasaannya pada youngyoo. Pria itu selalu menunjukan bahwa ia memang benar – benar tergila – gila pada gadis itu. Youngyoo, hanya gadis itu yang setia hadir dalam setiap episode di mimpinya. Sudah beberapa kali pula, woobin meminta youngyoo untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih serius daripada yang mereka jalani sekarang. Dan sudah beberapa kali pula, youngyoo selalu menghindar jika woobin sudah menyinggung masalah ini.

Youngyoo tahu apa yang sekarang tengah dirasakan oleh woobin. Cinta pria itu. Tak terbalaskan. Ia mengerti bagaimana lelahnya memiliki perasaan yang tak berbalas. Namun sungguh, untuk saat ini ia masih belum bisa menerima kehadiran pria manapun dalam hidupnya. Tentu saja dengan alasan klasik yang memuakan. Ia masih belum bisa melupakan jongwoon. Ia takut nantinya hanya akan menyakiti perasaan woobin lebih dalam lagi. Ia tidak tega membiarkan woobin hanya memiliki raganya sedang hati dan pikirannya melambung tinggi mencari keberadaan jongwoon. Youngyoo rasa, woobin hanya akan sakit hati jika menerima kenyataan itu. Dan ia, tidak mau menyakiti woobin lagi. Cukup.

Youngyoo kini tengah berada di balkon rumah. Menghirup aroma embun pagi yang menyenangkan. Dengan secangkir teh hangat di tangan kanannya. Pikirannya menerawang tatkala mengingat kejadian pagi itu saat wangi embun pagi masih sangat terasa. Kala itu, dimana jongwoon menyatukan bibir mereka berdua. Hening, sunyi, damai. Youngyoo meruntuki dirinya sendiri yang lagi – lagi selalu mengingat hal – hal manis yang dulu ia pernah lakukan bersama jongwoon. Gadis itu paham dan tahu dengan pasti, jika ia terus saja mengingat semua hal manis tentang pria bernama Jongwoon itu, ia pasti akan lebih lama untuk bisa melupakan pria itu. Karena ia akan selalu ingin untuk kembali ke masa lalu jika mengingat hal manis yang dulu pernah ia lukis bersama jongwoon.

Tak lama terdengar derap langkah menghampiri gadis itu. Sebuah tangan menutupi pandangan youngyoo. Tangan kekar itu perlahan turun dan melingkari bahu youngyoo. Pemilik tangan itu menempatkan dagunya di bahu youngyoo. Dengan suara berbisik, pemilik tangan itu berkata, “Pagi.”

Youngyoo yang hafal dengan suara itu sontak menoleh dan menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. “Pagi.” Balas youngyoo kemudian. Woobin, pemilik tangan itu langsung menempatkan dirinya untuk duduk di kursi yang berada bersebelahan dengan youngyoo. “Apa yang kau lakukan sendirian disini?” tanya woobin. Youngyoo hanya menggeleng pelan seraya berkata, “Tidak, aku hanya menikmati suasana pagi saja.” Jawab youngyoo. Woobin hanya mengangguk paham.

Woobin menatap youngyoo lekat. Youngyoo yang merasa diperhatikan menjadi risih dengan tatapan woobin. “Ada apa menatapku seperti itu?” tanya youngyoo tanpa menoleh ke arah lawan biacaranya. “Tidak apa. Aku hanya sedang berpikir, pasti akan sangat bahagia jika hanya aku yang akan menemanimu menikmati embun pagi seperti ini selamanya.” Youngyoo merasa terpojokan setiap kali woobin melakukan hal – hal seperti ini. Hal – hal yang menunjukan bahwa ia memang benar – benar tergila – gila pada youngyoo. Youngyoo hanya menatap kosong ke arah cangkir tehnya yang kini tinggal setengah.

*****

Seminggu ini, youngyoo selalu memikirkan pasal woobin yang tak jenuh menunjukan perasaannya kepada youngyoo. Gadis itu mulai merasa luluh dan terbiasa dengan segala tingkah woobin terhadapnya. Terkadang youngyoo berpikir untuk menerima woobin sebagai kekasihnya. Youngyoo ingin belajar untuk membuka hatinya lagi untuk pria lain. Dan juga, youngyoo sekedar ingin balas budi kepada woobin karena selama ini selalu membantunya. Mungkin dengan ia menerima woobin, hal itu bisa membayar semua budi baik yang telah woobin berikan padanya. Lagipula, dari beberapa orang yang ia dengar, ketika kita ingin melupakan seseorang, kita harus menghadirkan orang lain sebagai pengalih. Bisakah woobin menjadi pengalih perhatiannya terhadap jongwoon? Ketika berpikir tentang hal itu, youngyoo yakin untuk menerima woobin sebagai kekasihnya. Dengan alasan kebutuhan. Ia butuh kehadiran woobin sebagai pengalih. Toh, tidak buruk baginya.

Namun disisi lain, terkadang youngyoo berpikir tentang perasaan woobin ketika mengetahui bahwa dirinya hanya dijadikan pengalih. Apa woobin akan marah padanya? Apa woobin bersedia menerima peran itu? Apa pria itu keberatan? Kepala youngyoo serasa berdenyut – denyut tak karuan ketika muncul banyak pemikiran tentang woobin dalam otaknya.

Tak lama terdengar ponsel youngyoo berdering diatas meja nakas gadis itu. Dengan cepat, gadis itu mengulurkan tangannya dan meraih ponsel tersebut. Gadis itu menggeser warna hijau dilayar ponselnya, setelah itu terdengar suara seorang pria yang tak asing lagi di telinganya. “Youngie-ya, apa kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu? Aku mendapat jatah libur selama semingggu. Bagaimana jika kita pergi jalan – jalan bersama? Kau ingin kemana?” ucap suara di seberang sana. Youngyoo terlihat menghela nafas panjang. Apa lagi yang kini dilakukan woobin.

*****

Woobin tak juga berniat mengalihkan pandangannya dari youngyoo. Pria itu merasa menatap wajah gadis di sampingnya lebih menakjubkan ketimbang menatap keindahan apa pun di dunia ini. “Berhenti menatapku seperti itu woobin-ah.” Protes youngyoo merasa risih ditatap terus menerus oleh woobin. Pria itu hanya terkekeh pelan. “Salah sendiri, wajahmu itu terlalu menarik perhatianku, kau tahu?” ungkap woobin kemudian. Youngyoo hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum heran melihat tingkah woobin.

“Youngie-ya, apa kau sudah memikirkan dengan baik tentang perasaanku padamu?” ucap woobin membuka obrolan. Kini mereka berdua tengah duduk diatas pasir putih pantai, menantikan moment yang dinamakan ‘sunset’ tiba. Youngyoo terlihat kikuk dengan pertanyaan tadi. Gadis itu memutar bola matanya, nampak sedang berpikir dan menyusun kalimat apa yang seharusnya ia katakan pada pria disampingnya.

“Tentang itu, hm, aku sudah memikirnya.” Ucap youngyoo jujur. Ia memang sudah memikirkannya, terlampau memikirnya hingga kepalanya terasa berdenyut – denyut. “Lalu? Apa jawabanmu?” tanya woobin lagi dengan wajah penuh harap. Youngyoo menoleh menatap woobin. Tak lama, gadis itu mengalihkan padangannya lalu menghela nafas panjang sebelum memutuskan untuk membuka mulutnya lagi. “Aku, bisa saja menerimamu. Tapi, seperti yang kau tahu, aku masih belum bisa melupakan jongwoon hingga saat ini. Dan mungkin, nanti, saat kita menjalin hubungan, kau akan merasa seperti pelarianku. Apa kau merasa baik – baik saja dengan hal itu? Jika iya, aku bersedia menjalin hubungan denganmu. Namun jika kau tidak bisa baik – baik saja dengan hal itu, lebih baik, kita tidak pernah memulai hubungan yang lebih dari pertemanan seperti yang kau minta selama ini.” Jelas youngyoo kemudian. Woobin terlihat diam. Pria itu mengantup mulutnya rapat – rapat. Pria itu nampak sedang berpikir tentang situasi yang digambarkan youngyoo. Akankah ia baik – baik saja? Akankah ia bisa menerima hal itu?

Cukup lama terjadi keheningan diantara mereka. Hingga akhirnya woobin berhasil menemukan pita suaranya terlebih dahulu. “Bukankah cinta butuh perjuangan? Mungkin itu adalah perjuanganku untuk mendapatkan cintamu seutuhnya. Aku tidak keberatan jika aku harus berbagi hati dengan jongwoon. Dan cepat atau lambat, aku akan menggeser posisi pria itu dan menempatkan diriku seutuhnya dalam hatimu. Aku baik – baik saja dengan hal itu.” Youngyoo membulatkan mata mendengar pernyataan woobin barusan.

*****

“Berhenti sebentar.” Titah woobin ketika dirinya dan youngyoo tengah berjalan – jalan menikmati kesejukan sore hari. Youngyoo menghentikan langkahnya dan menatap woobin bingung. Pria itu terlihat berjongkok dan meraih tali sepatu youngyoo yang ternyata terlepas. Youngyoo bahkan tak menyadari hal itu. Namun woobin terlalu memperhatikan apa – apa saja yang ada dalam dirinya. Baik fisik maupun hatinya. Woobin teramat memperhatikan semua itu. Seolah pria itu tak ingin melewatkan satupun tentang youngyoo. Woobin mengikat tali sepatu youngyoo yang terlepas. Lalu mendongakan kepala sambil tersenyum lebar ketika ia telah menyelesaikan kegiatannya barusan.

“Lain kali kau harus berhati – hati. Hal kecil dan sepele seperti tali sepatu bisa menimbulkan efek yang lebih dari apa yang kau bayangkan. Andai saja kau tanpa sengaja menginjak tali sepatumu sendiri, kau bisa terjatuh. Dan jika kau sedang sial, bisa saja kau jatuh dengan posisi yang tidak mengenakan. Bisa saja tulangmu patah atau bergeser akibat terjatuh. Atau kau jatuh tepat ke arah jurang. Siapa yang tahu tentang musibah yang akan dialami dari sebuah masalah kecil seperti tali sepatu?” tutur woobin kemudian. Youngyoo hanya mengulum senyum mendengarnya. “Arraseo. Lain kali aku akan lebih memperhatikan hal – hal kecil dalam hidupku. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap youngyoo.

“Gadis pintar!” seru woobin. Pria itu bangkit dari posisi jongkoknya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah youngyoo. Tak lama, sebuah kecupan singkat mendarat di pipi sebelah kanan youngyoo. Gadis itu sempat terdiam karenanya. “Yak! Siapa yang mengizinkanmu menciumku?” ucap youngyoo nampak kaget dengan apa yang dilakukan woobin. “Apa ada yang bisa melarangku mencium kekasihku sendiri sekarang? Dan, kau terlihat lebih manis jika sedang marah.” Ungkap woobin yang langsung disambut semburat merah padam di pipi youngyoo. “Ya, lihat, pipimu memerah Nyonya Kim.” Ledek woobin ketika melihat ekspresi youngyoo. Pria itu menjitak pelan kening youngyoo. Youngyoo sontak mendelikan mata ke arah woobin. Tak lama pria itu berlari menjauh, tak ingin jika youngyoo membalas perlakuannya. “Yak! Jangan lari kau kim woobin. Dan aku bukan Nyonya Kim. Aku Lee youngyoo. Bukan Kim Youngyoo.” Ucap youngyoo melayangkan protesnya. Woobin terlihat menjulurkan lidahnya. “Seharusnya kau sudah bersiap untuk menganti margamu youngie-ya.”

*****

“Kau percaya reinkarnasi?” tanya woobin ditengah keheningan malam. Youngyoo mengalihkan pandangannya menatap lawan bicaranya. Dengan alis bertaut ia berkata, “Aku? Entahlah.” Jawab youngyoo seadanya. Ia juga tak mengerti dengan teori reinkarnasi yang sering diperbincangkan orang – orang. “Terkadang aku sangat menginginkan sebuah reinkarnasi. Aku berharap reinkarnasi itu memanglah ada.” Ucap woobin lagi. Youngyoo semakin mengerutkan keningnya. Merasa bingung dengan tema obrolan yang kini tengah dipilih woobin.

“Kenapa kau berharap reinkarnasi itu memang benar?” tanya youngyoo penasaran. Woobin mengalihkan padangannya menengadah ke langit. Menatap kerlip jutaan bintang di atas sana. “Aku merasa gagal pada hidupku sekarang.” Jawab woobin. Youngyoo semakin menatap woobin dengan sebelah alis dinaikan. “ Seandainya saja reinkarnasi itu memang benar ada. Aku selalu berharap saat reinkarnasi nanti aku dipertemukan denganmu lagi. Dan saat itu, aku akan mencoba berani untuk mengatakan perasaanku lebih awal sehingga kau tidak jatuh ke tangan orang lain. Sehingga aku tak perlu berbagi tempat di hatimu dengan orang lain.” Ungkap woobin diiringi dengan helaan nafas panjang.

Youngyoo membuang pandangannya ke arah lain. Suara jangkrik ditengah kesunyian desa terdengar bagai alunan melodi indah yang mengisi kesunyian yang kini tercipta antara woobin dan youngyoo.

*****

Hujan mengguyur langit Desa Maehwa yang terletak tak jauh dari Kota Gwangyang, Provinsi Jeollanam-Do. Kini langit desa itu berwarna abu – abu gelap. Beberapa orang terlihat berdiam diri di rumahnya masing – masing. Memilih untuk berteduh dan menghentikan pekerjaan mereka hari ini. Youngyoo mengerucutkan bibirnya menatap guyuran hujan dari jendela rumah. Gadis itu merasa kecewa kenapa hujan harus turun hari ini. Rencananya, hari ini, dirinya dan woobin akan pergi mendaki. Ia sudah lama menunggu hal ini. Namun ketika hari yang ia tunggu tiba. Hujan justru mengguyur sedari pagi menjelang. Dan hingga kini hujan belum juga berhenti.

Woobin terlihat menghampiri gadisnya. Ia menepuk bahu sang gadis dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk membawa nampan berisikan dua cangkir teh hangat. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya woobin penasaran. “Aku bosan, harusnya hari ini kita berdua pergi mendaki. Tapi karena hujan, aku harus merelakan hal itu. Menyebalkan.” Seru youngyoo dengan nada kesal. Woobin tertawa melihat tingkah gadis disampingnya.

“Aku merasa heran terhadap manusia.” Ucap woobin tiba – tiba. Youngyoo yang mendengarnya terlihat mengerutkan keningnya. “Manusia selalu tidak puas dengan apa yang ada padanya. Ia selalu menginginkan semua yang ada pada dirinya seperti apa yang ia inginkan. Tak peduli apa pun itu. Tak peduli bagaimana pun itu. Naluri manusia, selalu menginginkan apa yang lebih dari apa yang ia punya. Tidak pernah merasa cukup. Ketika di dera kemarau, manusia menggerutu panas hingga mereka takut untuk keluar karena sinar matahari begitu menyengat. Tapi ketika hujan turun, mereka juga menggerutu karena mereka tidak bisa keluar dari rumah dengan genangan air di jalan. Apa yang sebenarnya bisa membuat manusia puas, terkadang aku memikirkannya.” Tutur woobin. “Sama. Aku juga manusia. Dan aku juga mempunyai perasaan tidak puas. Aku tidak puas dengan semua cinta, kasih sayang dan perhatian yang kuberikan padamu hari ini. Karena itu aku ingin bersamamu keesokan hari sehingga aku bisa memberikan lebih banyak cinta, kasih sayang dan perhatian padamu. Walaupun aku yakin esokpun tak akan cukup membuatku puas. Karena apa yang ingin aku berikan padamu senantiasa bertambah setiap detiknya.” Sambung woobin kemudian.

*****

Woobin mengalihkan tatapannya ke arah youngyoo. “Wae?” tanya youngyoo. Woobin tersenyum sembari mengulas senyum tipis di wajahnya. “Terkadang aku merasa lelah.” Ujar woobin. “Maksudmu?” tanya youngyoo lagi. Merasa belum mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh woobin. “Terkadang aku berpikir untuk berhenti sebagai pengacara. Aku ingin menetap disini bersamamu.” Ungkap woobin yang disambut tatapan tajam youngyoo. “Kau tahu? Bagaimana rasanya menahan rinduku padamu? Bahkan ketika kau berada di hadapanku. Aku masih saja merindukanmu.” Aku woobin kemudian. Youngyoo terlihat tersenyum miring. “Apa kau sedang menggodaku kim woobin? Darimana kau belajar menggombal?” tanggap youngyoo.

Kedua tangan woobin terulur meraih bahu youngyoo. Pria itu memegangi bahu youngyoo agar gadis itu menatapnya. “Apa kata – kataku terdengar seperti gombalan untukmu?” kini woobin malah balik bertanya. Ia menatap serius ke arah youngyoo. “Aku tidak bercanda, aku selalu merindukanmu. Bahkan ketika kau berada dipelukanku sekalipun. Aku, terlalu takut kehilanganmu.” Lanjut woobin.

*****

“Apa kau mulai bisa mencintaiku dan melupakan jongwoon?” tanya woobin tiba – tiba. Kini mereka sedang duduk di ayunan di taman bermain. Youngyoo yang menjadi lawan bicara woobin terlihat menoleh dan menatap woobin lekat. “Untuk saat ini, aku sudah mulai bisa menerima kehadiranmu sebagai kekasihku. Namun untuk melupakan jongwoon, aku minta maaf, aku belum bisa melupakan jongwoon seutuhnya dan menggantikan posisimu dengannya.” Aku youngyoo akhirnya. Woobin terlihat menghela nafas panjang. Menetralkan deru nafasnya. Gadisnya, masih memikirkan pria lain. Sampai kapan ia harus menerima hal ini? Woobin tersenyum tipis. “Tak apa, aku mengerti tidak mudah bagimu untuk melupakan jongwoon. Terlebih dia adalah cinta pertamamu, pasti sangat membekas dalam benakmu.” Ucap woobin berusaha untuk memahami perasaan youngyoo.

“Youngie-ya, apa kau tidak punya niatan untuk mengikat hubungan kita? Maksudku menjalin hubungan yang lebih dari sekedar berpacaran. Hm, menikah maksudnya. Kurasa kita sudah mengenal satu sama lain. Kita sudah lama berteman dan kurasa kita sudah mengenal satu sama lain lebih dari cukup. Apa kau tidak pernah memikirkan hal itu?” tanya woobin kini dengan topik pembicaraan yang berbeda. Youngyoo hampir saja tersendak liurnya sendiri ketika mendengar pertanyaan woobin tadi. “Apa tidak terlalu terburu – buru? Maksudku, kita baru berpacaran 8 bulan kebelakang ini. Apa tidak terlalu cepat jika kita ingin menikah?” kini youngyoo malah balik bertanya pada pria disampingnya. Woobin terlihat menghembuskan nafas perlahan. “Sebelumnya, kita kan sudah saling kenal. Kita sudah berteman lebih dari 9 tahun. Dan usia kita juga sudah cukup untuk menikah. Jadi kurasa, ini waktu yang tepat bagiku menyatakannya. Kau tidak marah kan?” ungkap woobin.

Youngyoo terlihat menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan begitu. Aku tidak marah. Hanya saja, aku merasa ini terlalu mendadak. Beri aku waktu untuk berpikir mengenai ucapanmu itu.” Pinta youngyoo kemudian.

*****

Kim Jungah, bibi woobin terlihat membulatkan mata mendengar pernyataan youngyoo barusan. Kini mereka berdua tengah duduk di balkon rumah menikmati langit sore yang berwarna kekuningan. “Benarkah woobin melamarmu?” tanya jungah masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan youngyoo tentang keponakannya bernama Kim woobin itu. Beberapa jam yang lalu, woobin sudah pergi menuju Seoul untuk menjalani rutinitas biasanya setelah menikmati liburannya. Youngyoo terlihat mengangguk mengiyakan. “Ommo, bocah itu benar – benar haha. Aku tidak menyangka ia bisa seberani itu melamarmu. Lalu apa jawabanmu?” tanya jungah lagi, merasa penasaran dengan kisah kedua anak muda yang kini sedang dilanda cinta itu.

“Aku bingung, bi.” Aku youngyoo. “Aku belum menjawab lamarannya. Aku merasa butuh waktu untuk memikirkan semua ini.” Lanjut youngyoo. Sang bibi terlihat mengangguk paham. Wanita paruh baya itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya mengenggam tangan youngyoo. Mengusapnya perlahan. “Aku disini berbicara bukan sebagai bibi woobin. Anggap aku berbicara sebagai ibumu. Aku hanya ingin mengingatkanmu. Ini masalah pernikahan. Sesuatu yang sakral di mata masyarakat maupun di mata Tuhan. Jangan permainkan pernikahan. Jika kau merasa tidak yakin untuk menikah dengan woobin. Jangan kau lakukan. Itu hanya akan menyengsarakan perasaanmu saja. Jangan memulai sesuatu yang kau ragukan. Jika kau ragu untuk menjalani hidup dengan woobin. Lebih baik kau katakan. Jangan sampai melangkah terlalu jauh, lalu kau menyesalinya di tengah jalan. Ikuti kata hatimu.” Tutur Kim Jungah. Wanita itu meletakan telapak tangannya di dada youngyoo. “Jawaban paling membahagiakan ada di dalam hati kecilmu. Jangan pernah kau berbohong pada perasaanmu sendiri. Jika ya, katakan iya. Dan jika tidak, katakan tidak pula.” Sambung kim jungah masih dengan mengelus punggung tangan youngyoo lembut.

*****

“Youngyoo-ssi, kau cantik sekali. Sangat berbeda dengan kau yang dulu. Haha, aku sampai tak mengenalinya. Pantas saja woobin tergila – gila padamu.” Ucap seorang wanita paruh baya pada youngyoo. Youngyoo tersipu malu akan pujian itu. Sedangkan woobin menatap tak suka ke arah wanita paruh baya tadi karena sudah membongkar rahasia -umum-nya di depan youngyoo. “Eomma,” tegur woobin sebelum ibunya itu bicara yang macam – macam pada youngyoo.

Youngyoo tertawa ringan melihat tingkah woobin. “Ah iya, dimana ahjussi?” tanya youngyooo ketika tak melihat kehadiran ayah woobin di tengah – tengah mereka. Wanita paruh baya disampingnya terlihat menghela nafas panjang. “Suamiku sedang istirahat di kamarnya. Sudah satu tahun terakhir ini ia sering sakit – sakitan. Sebenarnya dokter menyarankan agar ia dirawat di Rumah Sakit. Tapi suamiku itu keras kepala. Ia bilang tidak mau jika harus berada di Rumah Sakit.” Jelas ibu woobin. Youngyoo terdiam mendengarnya. “Ah ne, ahjussi sakit apa, kalau aku boleh tahu.” Tanya youngyoo kemudian dengan suara pelan hampir terdengar seperti berbisik. “Jantung. Suamiku itu pernah beberapa kali mengalami serangan jantung. Dan ia mulai frustasi dengan hidupnya. Aku merasa ingin menangis jika mengingatnya.” Ungkap wanita paruh baya itu. Youngyoo terlihat mengusap bahu wanita paruh baya itu. “Mianhae, aku membuatmu mengingat hal itu.” Ucap youngyoo. Wanita paruh baya itu terlihat menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Tak apa. Seharusnya aku bisa lebih tabah menerima semua kenyataan ini.” Balas wanita paruh baya itu.

“Ah ahjumma, boleh aku melihat ahjussi? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.” Pinta youngyoo. Wanita paruh baya yang kini sedang menjadi lawan bicaranya terlihat mengangguk lalu mengandeng youngyoo untuk berjalan mengikutinya. Wanita itu membawa youngyoo ke depan sebuah kamar. Wanita itu tersenyum sesaat ke arah youngyoo. “Ini kamar suamiku.” Ucapnya sembari menoleh ke arah pintu kamar di depannya. Wanita itu mengetuk pelan pintu kamar tersebut. Terdengar sahutan seorang pria dengan suara parau. Dengan perlahan wanita itu memutar knop pintu dan melangkah masuk menemui suaminya yang ternyata sudah terjaga.

Wanita itu memberi isyarat agar youngyoo masuk mengikutinya. “Yeobo, kau sudah bangun rupanya. Apa kau ingin aku membuatkanmu teh?” ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah istrinya itu. Pria tua yang kini sedang terbaring di ranjangnya hanya mengangguk seraya tersenyum. “Baiklah, aku akan membuatkannya. Ah iya, yeobo, ini youngyoo. Apa kau masih mengingatnya?” ucap wanita itu lagi pada suaminya. Pria tua di ranjang itu terlihat menunjukan wajah sedang berpikir. Mencoba mengingat nama yang baru saja istrinya ucapkan tadi. Youngyoo terlihat menunduk memberi hormat pada pria tua itu. “Ah kau youngyoo? Gadis yang sering diceritakan woobin itu bukan?” ucap pria itu memastikan. Youngyoo tersenyum tipis mendengarnya. “Benar yeobo, ia adalah yeojachingu woobin. Cantik bukan? Dan ia juga teman sekolah woobin dulu.” Tutur istrinya. Pria tua itu terlihat mengangguk lalu mengulas sebuah senyum diwajahnya. “Sujin-ah, bisakah kau tinggalkan kami berdua? Ada yang ingin aku bicarakan dengan gadis ini.” Pinta sang suami pada istrinya. Wanita paruh baya yang menjadi istrinya terlihat mengangguk lalu tersenyum. “Baiklah, aku akan keluar dan membuatkan kalian minuman. Silakan kalian bicarakan apa yang ingin kalian bicarakan.” Ucap wanita paruh baya itu lalu melangkah keluar kamar suaminya.

“Mendekatlah. Duduk di kursi sebelahku ini. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu.” pinta pria tua itu pada youngyoo. Gadis itu menunduk hormat lalu tersenyum. Perlahan ia melangkah menuju kursi yang ditunjuk pria tersebut. Kemudian mendudukan dirinya di sana.

“Apa kau masih mengingat namaku, lee youngyoo?” tanya pria itu diiringi gelak tawa ringan dari bibirnya. Youngyoo tersenyum lalu mengangguk. “Tentu saja, Kim Woohae ahjussi. Kurasa, aku terlalu sering ke sini saat sekolah dulu. Jadi, aku merasa sudah menjadi bagian dari keluarga ini haha..” ujar youngyoo. Pria tua yang bernama Kim woohae itu ikut tertawa.

Sesaat kemudian, air wajah woohae berubah menjadi serius. Youngyoo menghentikan tawanya dan menatap lawan bicaranya itu. “Youngyoo-ya, apa aku bisa mempercayaimu?” tanya woohae kemudian. Youngyoo mengerutkan kening mendengarnya. “Maksud ahjussi?” ucap youngyoo tak mengerti. “Apa aku boleh meminta tolong padamu?” tanya woohae lagi tanpa menjawab pertanyaan youngyoo sebelumnya. Youngyoo terlihat mengangguk walau ekspresi wajahnya masih menampakan wajah bingung. “Tolong bahagiakan wooobin untukku.” Pinta woohae. Youngyoo membulatkan mata mendengarnya. Woohae terlihat menghela nafas perlahan.

“Selama ini, aku merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik bagi woobin. Selama ini aku hanya memenuhi kebutuhan materialnya saja. Aku tidak pernah membahagiakannya secara batin. Ia selalu saja mengeluh karena aku yang tak pernah punya waktu untuk bermain bersamanya seperti layaknya orang tua lain. Aku terlalu sibuk mengurus pekerjaanku. Dulu aku berpikir, bahwa harta adalah kebutuhan pertama yang bisa membuat anak dan istriku bahagia. Namun ternyata aku salah. Harta hanya sebagai pelengkap. Kebahagian yang sesungguhnya adalah saat dimana kami berkumpul bersama. Melepaskan penat. Saling bercerita. Saling tertawa. Itu adalah kebahagian yang sesungguhnya. Kebahagian yang selama ini woobin inginkan.” Tutur woohae. Sebulir air mata berhasil lolos dari sudut mata kirinya. “Namun hingga kini, aku belum bisa memenuhinya. Aku dan woobin, seperti yang kau tahu, kami tidak begitu dekat. Ya, karena aku jarang bersamanya sedari ia kecil. Dia menjadi canggung bersamaku hingga saat ini. Dan aku merasa bersalah karena hal itu. Jadi, aku memohon padamu untuk memberikan kebahagian pada woobin. Aku merasa hanya kau yang bisa membuatnya tertawa setiap hari. Ia terlalu menyayangimu. Dan aku juga sangat mendukung jika kalian bisa menikah. Aku sungguh mengharapkan hal itu. Dengan begitu, aku bisa mati dengan tenang. Karena aku rasa woobin sudah berada di tangan yang tepat.” Sambung woohae. Youngyoo merasa kesulitan untuk mengelola oksigennya. “Ahjussi, apa yang ahjussi katakan. Ahjussi akan baik – baik saja. Dan ahjussi bisa memperbaiki hubungan kalian.” Ucap youngyoo yang disambut oleh gelengan lemah woohae. “Aku sadar diri youngyoo-ya. Aku sudah sakit – sakitan seperti ini. Dan aku juga tahu bahwa penyakit jantungku ini sudah kronis. Aku rela jika Tuhan mencabut nyawaku sekarang. Jika kau bersedia untuk membahagiakan woobin dan selalu bersamanya nanti.” Ungkap woohae. Youngyoo merasa bingung dengan apa yang ingin ia ucapkan. Ia merasa dibebani. Namun jika melihat kebelakang, mengenai perjuangan woobin selama ini untuk menolongnya. Ia merasa beban itu tak sebanding dengan semua kerja keras woobin untuk menyelesaikan kasus kedua orang tuanya dan membersihkan nama kedua orang tuanya di depan publik. Permintaan kim woohae bukanlah apa – apa jika dibandingkan dengan hal itu. Youngyoo merasakan sakit menusuk kepalanya.

“Aku, sebagai ayah dari kim woobin. Melamarmu untuk menjadi istri dari anak laki – lakiku. Apa kau bersedia menikah dengan anakku kim woobin?” tanya woohae kemudian. Youngyoo terdiam beberapa saat. Nampak berpikir. Keluarga woobin memang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri. Namun untuk menjadi istri dari woobin. Jujur, youngyoo masih meragukannya. Karena dalam hati kecilnya masih terselip harapan jongwoon akan hadir dan menemaninya lagi. Namun, apakah jongwoon memang akan hadir seperti harapannya? Atau mungkin kini jongwoon tengah tertawa bersama orang lain sedangkan dirinya tengah terkurung dalam bayag – bayang manis masa lalu.

Woobin selama ini selalu menuruti keinginannya. Ia selalu bersamanya. Sesering apapun youngyoo menyakiti perasaan pria itu. Woobin selalu kembali lagi padanya. Woobin seolah tak pernah jenuh untuk terus bersamanya. Apakah ia terlihat seperti orang tak tahu diri sekarang? Yang tidak bersedia berkorban demi orang lain, bahkan disaat orang itu sudah terlampau banyak berkorban deminya. Youngyoo menghela nafas perlahan lalu memutuskan untuk membuka mulutnya. Sebaris kalimat yang youngyoo katakan berhasil membuat woohae mengubah wajah seriusnya menjadi tersenyum lega, “Aku, bersedia menjadi istri woobin. Dan aku bersedia untuk selalu bersamanya seperti apa yang ahjussi minta.”

“Benarkah? Aku benar – benar lega mendengarnya. Aku tidak tahu harus bagaimana sehingga bisa membalas kebaikanmu itu.” Ungkap woohae terharu karena youngyoo bersedia menikah dengan anaknya. “Woobin terlalu banyak membantuku. Dan kurasa jika dihitung balas budi. Aku lebih banyak berhutang pada keluarga kalian, ahjussi.” Ucap youngyoo sembari tersenyum lebar. Woohae yang kini sedang menjadi lawan bicaranya pun ikut tersenyum.

*****

“Sampai kapan kau akan murung terus menerus seperti ini? Ini sudah seminggu semenjak kepergian ayahmu. Apa kau tidak kasihan melihat ibumu? Beliau sudah berusaha keras untuk terlihat tegar dan merelakan kepergian ayahmu. Apa kau pikir ia tidak akan sedih melihatmu murung seperti ini terus?” ucap youngyoo sembari mengelus punggung tangan woobin lembut. Kini youngyoo tinggal di rumah woobin di Seoul untuk sementara. Menemani woobin dan keluarganya yang kini tengah berkabung atas meninggalnya Kim woohae, ayah woobin. “Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tertawa lagi?” gumam youngyoo bingung pada dirinya sendiri.

Woobin terlihat mengantup mulutnya rapat. Tak terlihat tanda – tanda bahwa ia akan membuka mulutnya dan berbicara sepatah dua patah kata. Woobin hanya menatap datar ke arah youngyoo lalu membuang pandangannya sedetik kemudian. Ia menghela nafas panjang. Youngyoo menatap prihatin ke arah woobin. Ia tahu apa yang kini sedang berkecamuk dalam pikiran woobin. Ditinggalkan oleh orang yang disayang bukanlah sebuah perkara mudah. Terlebih dalam hal ini ditinggalkan untuk selama – lamanya. Tak akan ada kesempatan bertemu walaupun ia pergi mencari hingga ke ujung dunia sekalipun. Karena orang yang ia cari sudah berada di dunia yang berbeda dengannya.

Hal yang kini tengah dirasakan woobin sudah terlebih dulu ia rasakan. Sakitnya menerima kenyataan bahwa orang tuanya kini sudah tak ada. Memang perih. Menusuk hingga ke tulang rusuk.

“Woobin-ah, aku juga pernah merasakan apa yang kau rasakan. Aku juga pernah merasakan bagaimana terpuruk karena ditinggalkan. Tapi, hidup terus berjalan woobin-ah. Kau tidak bisa begini terus menerus. Kau tetap harus melanjutkan sisa hidupmu. Dengan atau tanpa ayahmu.” Ucap youngyoo lagi. Woobin kembali menatap youngyoo. Tak lama, pria itu menghambur ke dalam pelukan sang gadis. Menjadikan bahu sang gadis sebagai sandaran baginya. Tak butuh waktu lama untuk youngyoo menyadari bahwa kini bahunya sudah basah karena air mata woobin. Youngyoo mengusap punggung woobin beraturan. Mencoba untuk meredakan tangis pria yang kini berada dalam dekapannya. “Aku berjanji aku selalu bersamamu. Aku akan mendukungmu untuk kembali menemukan semangat hidupmu lagi. Kau tidak perlu khawatir. Aku ada dibelakangmu.” Ujar youngyoo.

Woobin menangis karena menyayangi ayahnya teramat sangat. Woobin merasa sangat kehilangan. Youngyoo tersenyum tatkala memikirkan hal itu. Kim woohae, ayah woobin pasti merasa bahagia mengetahui bahwa anak laki – lakinya kini rela menitihkan air mata untuknya. Air mata kehilangan. Youngyoo memegang kedua lengan woobin. Mengarahkan pria itu untuk duduk menghadapnya. Youngyoo tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau tidak. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku bersedia menikah denganmu. Aku ingin selalu berada bersamamu, berdampingan denganmu. Dan kurasa dengan menikah denganmu, aku bisa mewujudkan keinginanku itu. Benarkan?” ucap youngyoo yang disambut dengan mata membulat milik woobin. “Kau sedang bercanda?” tanya woobin heran. Pria itu tidak menyangka youngyoo akan menerima permintaannya untuk menikah. Youngyoo tersenyum manis. “Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” youngyoo malah balik bertanya. Gadis itu terlihat memajukan wajahnya ke arah woobin. “Saranghae.” Ucap youngyoo kemudian. Terpaan deru nafas youngyoo terasa di wajah woobin. Tak butuh waktu lama, youngyoo terlebih dahulu menyatukan bibirnya dengan bibir woobin.

*****

“Youngie-ya, apa kau tidak ada niatan untuk kembali tinggal di Seoul? Maksudku, akan lebih baik jika kau tinggal disini sembari mengurus acara pertunangan kita.” tanya woobin di ujung sambungan teleponnya dengan youngyoo. Youngyoo terdengar menghela nafas. “Tidak woobin-ah. Aku belum bisa kembali ke Seoul. Aku masih belum bisa menerima kenyataan jika saja nanti aku bertemu jongwoon oppa di Seoul. Kau pernah bilang, bahwa Seoul itu terlalu sempit. Dan aku merasa hal itu memang benar. Bisa saja aku bertemu dengan jongwoon oppa jika aku kembali tinggal di Seoul.” Jelas youngyoo. “Baiklah, aku tidak bisa memaksa jika memang kau tidak menginginkannya.” Ucap woobin mengalah. Memutuskan untuk tidak meminta youngyoo untuk kembali tinggal di Seoul.

“Hm, woobin-ah.” Panggil youngyoo kemudian. Woobin terdengar berdehem menyahutinya. “Aku menginginkan acara pertunangan yang sederhana saja. Aku lebih memilih untuk merayakannya disini. Di tempat bibi dan pamanmu ini. aku tidak perlu acara yang besar – besaran. Cukup undang keluarga besar dan teman – teman terdekat. Aku hanya menginginkan seperti itu. Tidak usah bermewah – mewah.” Pinta youngyoo pada calon suaminya itu.

“Begitukah? Baik, aku akan memikirkannya.” Respon woobin. Youngyoo tersenyum mendengarnya. “Hm, kurasa acara pertunangan seperti itu akan terlihat lebih khidmat dan terasa nuansanya.” Tambah youngyoo. Woobin mengangguk mengerti, karena tersadar mereka kini sedang berada disambungan telepon, woobin berdehem menandakan bahwa ia mendengar perkataan youngyoo barusan. “Eoh, aku mengerti. Ah iya, besok adalah akhir pekan. Bagaimana jika kita pergi mencari cincin tunangan untuk acara kita? Eomma sudah mengingatkanku beberapa kali tentang hal ini. ia sungguh semangat mengetahui rencana petunangan kita.” Ujar woobin. Youngyoo terdengar tertawa ringan. “Baiklah, aku akan menunggumu disini. Sudah terlalu larut woobin-ah. Jaljayo chagi-ya.” Ucap youngyoo mengakhiri pembicaraannya. Woobin membulatkan mata mendengar kata terakhir yang diucapkan gadisnya. “Yak, apa yang kau ucapkan tadi? Kau memanggilku apa tadi? Coba ulangi.” Pinta woobin dengan suara tergesa – gesa. Merasa sangat bersemangat ketika youngyoo memanggilnya dengan panggilan ‘Chagi-ya’. Youngyoo terdengar tertawa. “Aniyo. Aku tidak memanggilmu apa – apa. Aku mengantuk. Bye,” ucap youngyoo lalu memutuskan sambungan teleponnya. Gadis itu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sebatas leher. Sedangkan di tempat lain, woobin berusaha untuk tidak melompat kegirangan karena youngyoo memanggilnya dengan sebutan ‘Chagi-ya’.

*****

[ 6 months ago]

“Sebaiknya kalian menerima tawaranku. Tidak ada maksud menyinggung perasaanmu atau apapun, eonni. Kami hanya tidak tega melihat kalian hidup banting tulang seperti ini untuk membayar sewa rumah dan keperluan lain kalian.” Ucap Oh Miran pada kakak kandungnya. “Apa ini tidak terlalu berlebihan, miran-ah? Aku tidak ingin merepotkan kalian.” Ucap wanita yang kini tengah menjadi lawan bicara Oh miran. “Aku tidak ingin membebanimu. Aku rasa jongwoon juga sependapat denganku.” Sambung wanita paruh baya itu lagi. Wanita itu tak lain adalah ibu kandung dari kim jongwoon. Selepas masa sewa apartemen jongwoon habis, mereka –jongwoon dan ibunya- mencari tempat tinggal yang lebih sederhana dan hidup dalam keadaan –sangat- sederhana. Tak ada lagi kilau emas yang bisa berkeliaran di sekujur tubuh wanita itu. “Eomma benar, ahjumma. Aku tidak mau jika harus merepotkan kalian.” Jongwoon kini mulai bersuara.

Sang bibi –Oh miran- terlihat menghela nafas berat. “Jongwoon-ah, pamanmu sudah mencarikan pekerjaan untukmu didesa. Disana ada kantor cabang dari Design Ent, salah satu cabang dari  kantor tempat pamanmu bekerja. Kau bisa bekerja disana. Dan kami sudah menyiapkan rumah untuk kalian. Walau tidak terlalu besar, namun nyaman untuk ditempati. Kurasa, eonni butuh ketenangan seperti di desa untuk memulihkan kepenatan pikiranmu. Kudengar, akhir-akhir ini eonni sering jatuh sakit karena terlalu sering bekerja, aku mengkhawatirkanmu eonni.” Tutur Oh Miran, berusaha meyakinkan kakak kandungnya agar menerima tawaran yang ia berikan. “Iya, lagi pula kami sama sekali tidak merasa di repotkan. Toh, yang membantuku hingga aku bisa bekerja di design ent adalah kim jongwook hyung. Anggap saja ini sebagai balasan rasa terima kasih kami karena kalian sudah menolong kami sewaktu kami susah dulu, nuna.” Suami Miran ikut memberikan dukungan agar jongwoon dan ibunya menerima bantuan yang mereka tawarkan. “Kudengar, nuna suka sekali berkebun. Disana, nuna bisa membantu kami mengurus kebun kecil milik kami. Bagaimana?” tanya suami Miran. Jongwoon dan ibunya terlihat saling melempar pandangan. Merasa bingung dengan apa yang akan mereka katakan. Disatu sisi mereka ingin sekali terlepas dari beban hidup di perkotaan dan ingin mencoba menenangkan diri mereka di desa. Namun, mereka tidak mau juga harus merepotkan orang lain. Walaupun keluarga sendiri. Jongwoon dan ibunya nampak sedang berpikir, keduanya nampak larut dalam lamunan masing – masing.

Jongwoon menatap ibunya yang kini sedang menatapnya juga. Jongwoon terlihat mengangguk pelan sembari mengulas senyum tipis. Sang ibu yang mengerti maksud jongwoon hanya ikut tersenyum membalas senyum tipis jongwoon. “Baiklah, kami akan menerima tawaran kalian. Sekali lagi, kami benar-benar berterima kasih karena kalian memperdulikan kami. Untuk hasil kebun kalian nanti, aku akan menjualnya lalu uangnya akan aku transfer setiap bulan ke rekeningmu. Dan sebagian gaji jongwoon nanti juga akan aku transfer ke rekeningmu, anggap saja sebagai sewa rumah kalian. Mungkin jumlahnya tak seberapa, tapi kumohon kau menerimanya, miran-ah.” Ucap ibu jongwoon menerima tawaran dari adiknya tersebut. “Eonni-ya, tidak usah. Aku akan marah jika kau melakukannya. Kita ini kan keluarga, kau tidak perlu melakukannya. Aku ikhlas menolongmu. Bukan mengharapkan imbalan atau apa pun. Aku tidak sejahat itu eonni. Lebih baik, eonni simpan semua uang itu untuk kebutuhan kalian nantinya. Aku dan suamiku sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun, eonni. Aku akan membencimu jika kau melakukan hal itu, eonni.” Tolak Miran dengan usul kakaknya tadi. Ibu jongwoon hanya menghela nafas berat lalu menghambur ke dalam pelukan adiknya. “Aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikan kalian.” Ungkap ibu jongwoon. Wanita itu terlihat mengusap air mata yang berhasil lolos membasahi pipinya yang kian hari makin terlihat tirus. “Cukup hidup dengan baik disana. Dan jangan hiraukan masalah apa pun disini. Tenangkan diri dan pikiranmu disana eonni. Hiduplah lebih baik. Itu sudah cukup untuk membalasnya.” Ucap miran sembari mengulas senyum. Tangannya teratur mengelus punggung sang kakak. Mencoba memberikan pengertian bahwa sang kakak tidak perlu menangis. Ia benar-benar hanya ingin melihat keluarganya sendiri hidup bahagia. Hanya itu.

“Kalian bisa pindah kapan saja kalian mau. Aku akan mengantarmu kesana eonni. Jadi, jika kalian sudah mempunyai rencana kapan kalian akan pindah, hubungi aku segera. Kalian mengerti?” ujar miran kemudian. Sang kakak hanya mengangguk dalam pelukannya. “Sudah eonni. Jangan menangis lagi. Aku sedih melihatmu menangis. Ah jongwoon-ah, aku menitipkan kakakku padamu. Jaga ibumu baik – baik, aku sangat menyayangi kakakku ini. Jangan biarkan ia menangis dengan alasan apa pun seperti ini lagi.” Seru sang bibi kemudian. Jongwoon mengangguk sambil tersenyum seraya berkata, “Aku tidak mungkin menyakiti bagian dari tubuhku sendiri. Aku pasti sudah gila jika melakukannya.”

*****

“Apa yang kau lakukan malam – malam begini diluar rumah?” tanya seorang wanita paruh baya bernama Kim Jungah, yang tak lain adalah bibi dari Kim woobin. Youngyoo tersadar dari lamunannya. Kini gadis itu tengah duduk disalah satu ayunan yang berada ditaman belakang rumah dengan kepala menengah menatap kim jungah. “Bibi, kau menganggetkanku saja.” Seru youngyoo. “Salah sendiri kau melamun. Sebenarnya apa yang sedang kau lamunkan, hm? Boleh bibi tahu? Apa ini ada hubungannya dengan hubunganmu dan woobin?” tebak jungah asal. Youngyoo sontak menggelengkan kepalannya. “Lalu?” tanya jungah lagi.

“Entahlah bi, akhir – akhir ini aku sering merasa gelisah. Aku benar – benar bingung.” Jawab youngyoo seadanya. “Apa ada masalah yang serius?” tanya Jungah. Youngyoo lagi – lagi menggeleng. “Aku sama sekali tidak memiliki masalah saat ini. Tapi, entah kenapa aku tidak pernah bisa tenang akhir – akhir ini. Seperti merasa sesuatu akan hadir ke hadapanku. Tapi, sungguh aku tidak mengerti dengan perasaanku saat ini.” Ucap youngyoo. Kim Jungah, wanita paruh baya itu terlihat mengelus pelan punggung youngyoo teratur. “Sudahlah, mungkin kau masih merasa kelelahan akibat mengurus acara pertunanganmu dengan woobin minggu lalu. Bisa saja karena hal itu kau merasa gelisah. Jangan berpikir macam – macam.” Komentar jungah kemudian. Youngyoo hanya mengangguk diiringi oleh senyum tipis yang terlukis di wajah manisnya.

*****

“Youngyoo-ya, boleh bibi minta tolong padamu?” ucap seorang wanita paruh baya pada youngyoo. “Tentu,” jawab youngyoo mantap. Gadis itu menyunggingkan sebaris senyum di wajah manisnya. “Tolong antarkan makanan ini ke tetangga sebelah rumah kita,” ucap Jungah kemudian. “Tetangga sebelah? Bukankah rumah itu kosong bibi?” tanya youngyoo bingung. Selama setahun ini, yang ia tahu rumah di sebelah tidak berpenghuni, penghuni rumah itu menetap di seoul karena urusan pekerjaan. “Sekarang rumah itu dihuni oleh kakak perempuan dari pemilik rumah dan anaknya. Tolong kau ke sana, dan antarkan ini. Katakan juga pada mereka, bahwa aku meminta maaf tidak bisa membantu mereka untuk membereskan rumah. Kau tahu sendiri pamanmu itu, ia sedang sakit, dan manja sekali jika sakit. Jadi aku terlalu repot untuk membantu mereka.” Ujar Jungah pada youngyoo. Youngyoo mengangguk lalu meraih rantang yang diulurkan sang bibi.

“Baiklah, aku akan menyampaikan pesan bibi. Aku pergi dulu,” pamit youngyoo kemudian. Gadis itu melangkah pelan menuju pintu rumah. Ada secercah perasaan yang menggelayuti hatinya. Entah itu apa, youngyoo juga tak mengerti. Seperti merasa sesuatu miliknya akan kembali kepadanya. Namun apa itu, youngyoo juga tidak bisa menebaknya.

Dengan langkah ragu, youngyoo berjalan masuk melewati pagar depan rumah tetangga barunya itu. Ada segerombolan perasaan yang menerjangnya hebat sejak tadi pagi. Youngyoo benar – benar di buat pusing karenanya. Ketika sampai di depan pintu rumah tetangga barunya, youngyoo mengulurkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu tersebut. Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membawa rantang titipan bibi woobin tadi.

Tak lama terdengar sahutan dari dalam rumah. Suara seorang perempuan, youngyoo merasa tidak asing dengan suara yang ia dengar barusan. Namun youngyoo tidak ingat suara siapa ini. Perlahan daun pintu rumah mulai bergerak, youngyoo melongokan kepalanya penasaran akan sosok yang tadi menjawab salamnya. Youngyoo tercekak ketika melihat wajah wanita yang membukakan pintu untuknya.

-TBC-

Well, bagaimana chapter ini? Menyebalkan krn woobin jadi dekat sama youngyoo? Atau romantis krn woobin dekat sama youngyoo? Haha.. untuk chapter selanjutnya udh ketebak dong pasti. Tapi ada yang bisa nebak akhirnya gak? :p

Malam ini, aku kerja keras (?) buat bikin cover ff ini. Krn awalnya aku gak kepikiran bakalan ada kim woobin di fanfict ini. Jadi covernya aku buat ulang tapi hanya untuk chapter 4 – 6 ya. 1 – 3 masih pakai cover yang lalu. Huft, dengan sedikit kebingungan di sana – sini habis pakai photoshop akhirnya jadi juga haha. Tadinya aku mau publish fanfict ini pukul 9 malam. Hanya saja, aku belum siapin cover ff-nya. Jadilah aku buat dulu covernya pukul 9 malam dan baru selesai pukul 00.00 ‘-‘)b

Krn itu aku baru publish fanfictnya tengah malam gini. Haha..

2 thoughts on “DARK SHADOWS [Chapter 4]

  1. Buset ini chapter panjang amat ya? Berasa nonton drama aku saeng wkwk
    Dramatis bgt ngeliat jongwoon se-frustasi itu kehilangan youngyoo. Ngebayanginnya bikin aku gak tega saeng wkwk tapi ada rasa seneng jg sih *parah* kapan lg kan ngeliat bias frustasi ditinggal pacar !?? Biasanyakan is cewek yg ditinggal bias?? Hahaha😄
    Oh iya gilaa woobin perjuangan banget ya buat dapetin youngyoo xD aku suka sifat dia yg frontal ngakuin prasaanya xD bikin aku senyum2 gaje getoo :3
    Aku dukung youngyoo sama woobin !! Lupain aja jongwoon lupain😄
    Tapi saeng,, kenapa jongwoon harus pindah ke desa sii?!! Terus harus jd tetangganya youngyoo!?? Udh seneng youngyoo bisa sama woobin, eh malah dateng jongwoon hahaha. Kok aku seneng bgt sii jongwoon sengsara? Lmao parah nih bisa2 aku clbk sama woobin😄

    Wait daa saeng. Chapter 4-6 !?? Jadi 2 chapter lagi nh? -_,- wkwk gappa dh. Paiting uyeee mumumumu thalangeyoo *sarap/?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s