DARK SHADOWS [Chapter 5]

Title         : DARK SHADOWS   [Chapter 5]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Lee Young Yoo (OC)
  • Kim Woo Bin (Actor)
  • Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)
  • Find other cast by urself

Genre       : Romance, Sad romance, storylife.

Rate         : PG 15

Length     : Chapter (51. 704 characters with spaces)

NB      : Keseluruhan cerita murni milik author. Dilarang keras untuk membalik nama atau menyebar luaskan fiksi ini tanpa izin dari author. Mohon cantumkan alamat blog ini dan izin kepada saya selaku author aslinya, jika anda berkeinginan untuk re-post fiksi ini. Saya sdh coba revisi typo di sini. Tapi kalo masih ada yang typo. Beritahu pada saya, nanti akan saya perbaiki, okay? Terima kasih sebelumnya. Enjoy reading guys..

Mungkin takdir memang mempertemukan kita. Namun takdir tidak menyatukan kita. Aku, kau, kini bukanlah kita. Aku dan kau, berada di jalan yang berbeda. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditangisi. Kau percaya akan Kebaikan Sang Pencipta? Kita dipertemukan untuk saling mengenal satu sama lain. Lalu kita dipisahkan untuk saling belajar satu sama lain. Belajar bahwa kejujuran adalah hal telak dalam menjalin sebuah hubungan. Meskipun kejujuran itu akan berbuah air mata nantinya. –Youngyoo Lee-

chapter 4

PREV CHAPTER

Dengan langkah ragu, youngyoo berjalan masuk melewati pagar depan rumah tetangga barunya itu. Ada segerombolan perasaan yang menerjangnya hebat sejak tadi pagi. Youngyoo benar – benar di buat pusing karenanya. Ketika sampai di depan pintu rumah tetangga barunya, youngyoo mengulurkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu tersebut. Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membawa rantang titipan bibi woobin tadi.

Tak lama terdengar sahutan dari dalam rumah. Suara seorang perempuan, youngyoo merasa tidak asing dengan suara yang ia dengar barusan. Namun youngyoo tidak ingat suara siapa ini. Perlahan daun pintu rumah mulai bergerak, youngyoo melongokan kepalanya penasaran akan sosok yang tadi menjawab salamnya. Youngyoo tercekak ketika melihat wajah wanita yang membukakan pintu untuknya.

–DARK SHADOWS [CHAPTER 5]–

“Jongwoon-i eomma..” ucap youngyoo ketika menemukan kembali pita suaranya yang tadi sempat menghilang. “Youngyoo-ya.” Wanita paruh baya yang berada di hadapan youngyoo pun tak kalah kagetnya. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa gadis yang ada di hadapannya adalah benar – benar youngyoo. Gadis yang dicintai setengah mati oleh putra tunggalnya. “Jadi ahjumma yang tinggal di sini?” tanya youngyoo masih tidak percaya melihat ibu dari pria yang setengah mati ia berusaha lupakan. Yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan. Tak lama terdengar suara seorang pria dari dalam rumah. Youngyoo terpaku mendengar suara itu, suara yang sampai sekarang belum bisa enyah dari pikirannya meskipun kini ia telah mengikat diri dengan woobin. Youngyoo mencoba menemukan kembali kesadarannya ketika sosok itu terdengar berjalan menghampiri dirinya dan wanita paruh baya di depannya. “Eomma, kenapa tamu kita tidak diajak masuk?” tanya pria itu lagi sambil terus melangkahkan kaki mendekati ibunya. “Jongwoon-ah, youngyoo, youngyoo ada disini.” Ucap wanita paruh baya itu pelan. Bahkan lebih bisa disebut berbisik. Jongwoon yang memang sudah berada tepat dibelakang ibunya jelas bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja ibunya katakan. Dengan penasaran, jongwoon melongokan kepalanya melewati tubuh sang ibu, berusaha melihat sosok yang kini tengah berbicara dengan ibunya. Seeketika itu jantungnya berpacu sangat cepat. Jongwoon melangkah pelan, lebih menampakan dirinya di hadapan youngyoo. Sang ibu yang mengerti memilih bergeser kesamping dan membiarkan kedua anak muda itu saling menatap satu sama lain tanpa ada penghalang.

Keduanya nampak diam. Bingung dengan apa yang ingin mereka katakan. Bingung dengan bagaimana harus memulai sapaan. Merasa canggung satu sama lain. Bibir keduanya nampak terkantup rapat. Hanya mata mereka yang saling menatap, saling menyalurkan kerinduan yang sudah terkepung lama. Jongwoon tak berkedip menatap gadis di hadapannya. Gadis dengan dress selutut berwarna pink pudar. Rambut sang gadis dijalin longgar dan dibiarkan berada di bahu kiri sang gadis. Mata bulat dengan bola mata berwarna biru teduh tak pernah ia lupakan sekalipun dari gadis di depannya. Gadis itu nampak bersinar diterpa hangatnya sinar matahari pagi. Wangi khas sang gadis terkuar dan menjamah indera pembau jongwoon. Jongwoon berusaha untuk menelan liurnya payah. Ini sungguh seperti sebuah keajaiban. Ia bisa dipertemukan lagi dengan gadis yang setengah mati ia rindukan. Jongwoon merasa jantungnya berpacu terlalu cepat, masih sama. Reaksi jantungnya ketika berhadapan dengan youngyoo masih sama. Ia masih merasakan getaran itu. Jongwoon merasakan kebahagian yang tak terkira. Ini lebih dari seorang milyader yang memenangkan sebuah lotre. Jongwoon mengontrol dirinya untuk tidak melompat kegirangan. Ada kerinduan yang menyerbu jongwoon, kerinduan itu merobek paru – parunya. Membuatnya kesusahan mengambil oksigennya dengan baik. Aliran darahnya serasa berlomba untuk menembus setiap lapisan kulitnya. Jongwoon berusaha untuk meredam air matanya yang mendesak keluar dari matanya, namun ia gagal. Air mata itu berhasil lolos. Air mata itu adalah air mata kerinduan jongwoon yang sudah ia pendam selama ini. Ia merasa begitu tersiksa ketika youngyoo menyuruhnya untuk tidak mencari gadis itu. Ia merasa seperti orang gila hanya karena merindukan gadisnya.

Tak berbeda dengan jongwoon. Youngyoo-pun merasakan sesuatu yang menyesakan di dalam dadanya. Jantungnya kini sedang berdetak melebihi detakan manusia normal lainnya. Darahnya serasa berdesir dan menimbulkan sensasi tersendiri dalam dirinya. Gadis itu merasa –sangat- kesulitan untuk menghirup oksigennya. Youngyoo menatap jongwoon lekat. Menatap bola mata kecoklatan milik jongwoon. Pria itu masih sama mempesonanya dengan dulu, bahkan ia rasa kadar ketampanan pria itu kini bertambah. Meski wajahnya kini terlihat lebih tirus dan badannya terlihat lebih kurus. Namun hal itu sama sekali tidak menghilangkan ketampanan pria dengan tinggi semampai dihadapannya kini. Jongwoon terlihat mengenakan kaos putih panjang dengan garis – garis berwarna dark blue. Bagian lengan kaos itu sengaja digulung hingga ke siku. Menambah kesan kharismatik yang terpancar dari pria itu. Aroma Aqua splash tercium oleh indera pembau youngyoo. Harum yang sedari dulu sangat sukar ia lupakan. Wangi khas sang pria. Wangi yang berhasil menenangkannya. Wangi pria itu. Ia merindukannya. Wajah yang ia rindukan kini hadir di hadapannya. Tanpa ia cari. Tanpa ia panggil. Takdir mempertemukan mereka kembali. Apa yang Tuhan rencanakan sebenarnya? Youngyoo merasa ingin menjerit. Secepat kilat, beribu pikiran kini menyerang kepala youngyoo. Apa jongwoon masih merasakan perasaan yang sama seperti dulu? Karena jujur, ia merasakan perasaannya masih sama seperti dulu saat pertama kali jatuh cinta pada jongwoon. Perasaannya belum berubah, bahkan ada keinginan untuk menghambur ke dalam pelukan hangat jongwoon. Pelukan yang selama ini menghangatkannya. Pelukan yang selama ini menenangkannya. Ia sungguh merindukan pelukan itu. Youngyoo berusaha untuk menyadarkan dirinya bahwa ia sekarang sudah terikat dengan woobin. Ia sudah memutuskan untuk belajar mencintai woobin dan melupakan jongwoon. Lalu kini, ketika ia sudah bertekad seperti itu, jongwoon malah datang dan menariknya lagi ke dalam perasaan masa lalu yang memang belum enyah dari hatinya. Mungkinkah Tuhan tidak setuju jika youngyoo bersama woobin. Mungkinkah Tuhan menghadirkan Jongwoon sebagai pria yang terbaik bagi youngyoo? Seperti sebuah kalimat yang sering kita dengar, Ada maksud Tuhan untuk setiap orang yang dikeluarkan atau dimasukan kedalam hidupmu. Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Youngyoo tidak bisa berbohong. Youngyoo tidak mau menjadi munafik. Ia memang belum bisa melupakan segala sesuatu tentang jongwoon. Pria itu telah menjadi candu baginya. Narkotika paling mematikan dalam hidupnya.

“Hei, apa kabar? Lama tidak bertemu.” Sapa jongwoon yang lebih dulu menemukan kembali pita suaranya yag tadi serasa menghilang dan membuatnya membisu dihadapan youngyoo. Youngyoo terlihat meremas jemarinya sendiri. Merasakan hal aneh bergejolak dalam perutnya. Seperti ada ribuan kupu – kupu yang menari di dalam perutnya ketika akhirnya ia mendengar suara pria itu lagi. “Apa kau tahu, apa maksud Tuhan mempertemukan kita lagi saat ini?” tanya jongwoon kemudian. Pria itu terlihat menyunggingkan sebuah senyum tipis. Youngyoo merasa keseimbangannya limbung ketika melihat senyum yang ia rindukan. Senyum pria itu. Asupan pokok untuk menjaga kestabilan moodnya setiap hari. Kini ia mendapatkan senyum itu lagi.

“Ah, aku, hm, baik. Aku juga tidak mengerti apa maksud Tuhan mempertemukan kita lagi. Aku, hm, sudahlah, aku ingin pulang ke rumah. Ah, ahjumma, ini makanan dari keluarga Kim, tetangga sebelah rumah kalian. Hm, beliau minta maaf karena tidak bisa membantu ahjumma untuk merapikan rumah ini. Paman sedang sakit, hm, jadi beliau menjaga suaminya itu. Hm, aku pamit. Ah iya, ahjumma ini, hm, makanannya, semoga kalian suka. Hm, annyeong.” Pamit youngyoo terburu – buru. Ia tidak yakin kalau tidak terjatuh pingsan beberapa saat lagi jika ia masih bersikukuh menatap wajah jongwoon. Youngyoo terlihat gelagapan. Sesekali ia mengusap tengkuknya. Menetralkan deru jantungnya yang seakan memberontak untuk meninggalkan jongwoon.

Tak sampai youngyoo melangkahkan kakinya keluar dari area rumah –bibi- jongwoon. Pria itu sudah menahan lengan youngyoo. Mencegah gadis itu pergi lagi dari hadapannya. Dengan enggan youngyoo pun menatap jongwoon –lagi-. Air mata yang sedari tadi berhasil youngyoo tahan akhirnya meleleh juga. “Perasaanku masih sama seperti dulu. Tidak berubah. Sedikitpun. Aku masih mencintaimu. Aku masih teramat menyayangimu. Aku merindukanmu. Perasaanku padamu sama sekali tidak berkurang, bahkan kini kurasa semakin bertambah. Apa kau tidak merasa Tuhan menuliskan sebuah takdir untuk kita jalani bersama?” tanya jongwoon dengan suara parau. Pria itu berusaha meredam isak tangis yang serasa bergejolak. “Maaf, perasaanku padamu sudah mati. Aku tidak lagi mencintaimu. Lebih baik kau cari seseorang yang lebih baik seribu kali dariku. Maaf.” Ucap youngyoo terbata – bata. “Harus kukatakan berapa kali padamu, yoo-ya? Aktingmu itu buruk. Jangan pernah berakting di depanku. Aku sudah mengetahui setiap gelagat yang kau keluarkan.” Ucap jongwoon pelan namun penuh penekanan disetiap katanya. Jongwoon paling membenci hal ketika youngyoo berusaha berbohong di hadapannya. Tentang apapun. Walaupun kejujuran yang gadis itu katakan akan menyakitinya, ia  merasa lebih baik jika gadis itu bicara jujur di hadapannya.

“Berhenti bersikap seolah – olah kau ini mengerti apapun tentang diriku, jongwoon-ssi. Aku tidak menyukainya!” seru youngyoo setengah berteriak di hadapan jongwoon. Air mata kini sukses membasahi seluruh pipi youngyoo. “Aku memang mengetahui tentang dirimu, lee youngyoo. Aku bukan hanya orang yang tinggal bersamamu dua atau tiga bulan saja. Tapi aku sudah bersamamu selama empat tahun, kau dengar itu? Empat tahun! Bukan waktu yang singkat bagiku untuk mengerti sikap dan sifatmu selama ini.” Tutur jongwoon berusaha meredam amarah yang kini kentara menghiasi kalimatnya barusan. “Aku sedang menagih janjimu, Nona. Aku bersedia untuk tidak mencarimu. Aku bersedia untuk terkurung dalam rasa rindu dan penasaran ketika berusaha untuk tidak mencarimu. Aku didera rasa khawatir yang teramat sangat. Tentang bagaimana hidupmu. Dengan siapa kau tinggal. Dimana kau tinggal. Semua pertanyaan itu selalu berkecamuk dalam benakku ketika aku merindukanmu. Aku tidak mencarimu kesini. Aku tidak mengetahui jika kau ada di sini sebelumnya. Aku tidak mencarimu dan kau tidak mencari. Takdir yang menghantarkan kita, Tuhan yang mempertemukan kita. Dan perasaan masing – masing dari kita masih sama seperti dulu. Jadi, aku akan menagih janjimu dalam video yang kau tinggalkan itu. Apa kau lupa dengan janjimu itu?” tanya jongwoon dengan nada retoris. Pria itu memegangi kedua bahu youngyoo. Berusaha agar youngyoo menatapnya.

Jongwoon kini beralih memegangi kedua pipi youngyoo. Isak tangis tak henti – hentinya terdengar dari bibir sang gadis. Begitu juga air mata yang tampak tak ingin berhenti mengalir dari mata keduanya, youngyoo maupun jongwoon. “Kembalilah padaku. Kumohon. Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Ujar jongwoon.

Tiba – tiba terdengar suara sapaan seorang pria dari arah luar pagar rumah jongwoon. Pria itu yang melihat pintu pagar tak terkunci, langsung saja masuk. Toh, ia tidak berniat jahat. Ia hanya ingin memanggil kekasihnya untuk pulang dan menikmati makan siang bersamanya. Terlihat pria itu setengah berlari menghampiri tuan rumah. Namun kedua alisnya bertaut ketika melihat sosok penghuni rumah disebelah rumahnya itu. “Kim Jongwoon.” Gumam pria itu pelan. Woobin kini mengalihkan tatapannya pada seorang gadis yang kini berhadapan dengan jongwoon. Ia yakin dengan pasti, wanita itu adalah kekasihnya, Lee youngyoo.

Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menarik youngyoo kedalam pelukannya. Tidak ingin jongwoon menyentuh lebih banyak youngyoo yang statusnya kini adalah miliknya. Youngyoo kembali terisak memeluk tubuh woobin. Woobin yang tak tahu menahu menatap garang ke arah jongwoon. “Untuk apa kau kemari?” tanya woobin tak suka melihat kehadiran jongwoon. “Lepaskan youngyoo dari pelukanmu, atau aku akan..” ancam jongwoon cemburu melihat youngyoo berada dalam pelukan orang lain. Woobin bukannya takut akan ancaman tersebut, justru menatap tajam jongwoon dan semakin menantang ancaman pria itu. “Apa hakmu menyuruhku melepaskan tunanganku sendiri?” tanya woobin dengan nada retoris. Pria itu menekankan kata ‘tunanganku’ pada kalimatnya tadi. Jongwoon yang kaget terlihat membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Tunangan? Maksudmu?” tanya jongwoon merasa belum percaya dengan indera pendengarannya. Woobin terlihat menyeringai. Pria itu mengangkat tangan kanan youngyoo dan menunjukan jari gadis itu yang kini tengah melingkari sebuah cincin disana. Woobin juga menunjukan sebuah cincin serupa yang kini juga sudah bersarang manis di jarinya. Jongwoon terlihat menatap youngyoo yang masih saja enggan untuk menatapnya. “Kami sudah bertunangan. Dan sebentar lagi, kami akan menikah. Jadi, dengan penuh hormat, aku minta kau tidak menganggu calon istriku lagi. Aku tidak suka berbagi dengan siapapun.” Tegas woobin kemudian menghambur pergi keluar area rumah jongwoon sambil terus merangkul gadisnya. Meredam tangis gadis yang kini dalam dekapannya.

*****

“Aku tidak lapar. Kau makan saja dengan bibi dan paman. Aku ingin istiahat.” Ucap youngyoo lemas sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu kamarnya. Woobin menatap khawatir ke arah pintu kamar gadisnya itu. Pasti saat ini youngyoo merasa syok yang tak terkira. Bagaimana tidak? Ia dipertemukan lagi dengan cinta lamanya tanpa ia kira sebelumnya. Ini benar – benar mendadak bagi gadis itu. Woobin akhirnya pasrah dan tak lagi membujuk youngyoo untuk ikut makan siang dengannya. Mungkin gadis itu butuh sedikit waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kemana youngyoo?” tanya bibi jongwoon ketika melihat keponakannya berjalan sendirian ke arah meja makan. Kini wanita paruh baya itu tengah menyiapkan makanan di atas meja makan. Woobin terlihat mendudukan dirinya di salah satu kursi meja makan. “Hyemi bilang ia sudah kenyang. Tetangga sebelah tadi mengajaknya makan siang bersama. Jadi sekarang ia ingin istirahat dan tidak mau diganggu, begitu katanya.” Ucap woobin berbohong pada bibinya. Ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Bisa dipastikan akan muncul berbagai pertanyaan dari sang bibi dan itu hanya akan menghabiskan waktu jika ia harus menjelaskan semuanya. Sang bibi terlihat mengguk pelan.

*****

Youngyoo membulatkan mata ketika melihat sosok pria yang kini berjalan bersama atasan kantornya. Gadis itu terlihat membuang pandangan ke arah lain. Tak ingin jika mata pria itu bertemu dengan matanya. Ia tidak ingin melakukan kontak dengan pria itu sekarang. Dan mungkin untuk beberapa waktu ke depan. “Aku mohon perhatian kalian sebentar. Kita kedatangan rekan kerja baru. Ia adalah Kim Jongwoon. Dan mulai hari ini ia akan bekerja di divisi produksi bersama kita. Kumohon kerja sama dari kalian semua. Jongwoon-ssi kursimu disana. Dan kau akan menjadi rekan kerja dari Lee Youngyoo.” Jongwoon menyipitkan matanya menatap ke arah yang ditunjuk oleh atasan barunya itu. Ia melihat sosok seorang gadis tengah membuang pandangannya. Terlihat tak ingin menatapnya. Gadis itu menepuk keningnya sendiri lalu menatap atasannya dengan senyum terpaksa. “Ne sajangnim. Algeseumnida.” Ucap gadis itu kemudian. Jongwoon tersenyum tipis melihat gadis itu yang akan menjadi partner kerjanya.

Dengan langkah ringan, jongwoon berjalan menuju kursinya. Youngyoo terlihat menyibukan dirinya dengan berbagai kegiatan yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Gadis itu hanya berusaha agar tidak mempunyai waktu untuk sekedar mengobrol dengan rekan barunya itu. “Apa ada yang bisa kubantu?” tawar jongwoon berusaha menunjukan sisi sopan santunnya. Youngyoo memicingkan mata menatap jongwoon. Dengan seulas senyum tak ikhlas youngyoo berkata, “Tidak. Terima kasih atas tawarannya.”

“Seharusnya kau berbaik hati dengan rekan kerja barumu ini. Bukan malah mengacuhkannya sendirian.” Ucap jongwoon merasa kesal dianggap bagai angin lalu oleh youngyoo. “Kau ini cerewet ya.” Seru youngyoo kemudian. Jongwoon hanya mengedikan bahu tak peduli. “Aku juga tidak tahu jika kau bekerja disini. Aku hanya mendapatkan tawaran untuk bekerja disini. Tidak ada maksud untuk mengikutimmu, aku hanya..”

“Aku hanya butuh ketenangan. Tolong diam, aku sedang menyelesaikan laporan penjualanku. Jangan membuat moodku berubah menjadi buruk. Dan aku sedang tidak bisa mendengarkan ceritamu itu. Jadi tutup saja mulutmu itu.” Ucap yooungyoo memotong pembicaraan jongwoon. Jongwoon terlihat mengantup mulutnya rapat.

*****

“Apa kau ingin makan siang bersama?” tawar jongwoon sopan pada rekan kerja barunya itu. Gadis yang menjadi rekan kerjanya itu menatap sinis ke arah jongwoon. Nampak tak suka dengan jongwoon yang sedari tadi terus saja berceloteh memenuhi setiap ruang telinganya. “Tidak, masih ada yang harus aku kerjakan. Kau duluan saja.” Tolak youngyoo ketus. Jongwoon terlihat mengangguk kepalanya. “Baiklah, jangan sampai kau melewatkan makan siangmu. Aku tidak ingin melihatmu sakit, yoo-ya.” Ucap jongwoon sebelum akhirnya menghilang dari jarak pandang youngyoo.

Gadis itu terlihat menghela nafas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya. Kepalanya menengadah ke langit – langit kantor. Menatap kosong ke atas. Pikirannya melayang. Memikirkan setumpuk pertanyaan yang menyerangnya secara membabi buta. “Kenapa kau harus datang di saat aku sudah mengikat diri dengan orang lain?” runtuk youngyoo menyesali kehadiran jongwoon disaat woobin dan dirinya baru saja bertunangan. Youngyoo memejamkan mata menahan denyut nyeri yang menghantam kepalanya.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku ingin kembali padamu. Namun aku tidak bisa. Aku sudah berjanji untuk bersama woobin. Aku, tidak mungkin meninggalkannya.” Ucap youngyoo pelan.

*****

“Jongwoon-ssi, apa kau ingin makan siang denganku? Hm, aku tidak punya teman untuk makan siang ini. Bagaimana jika kita ke kantin bersama?” tawar seorang gadis dengan paras cantik pada jongwoon. Dengan senyum tipis, jongwoon hanya mengangguk mengiyakan.

Jongwoon tidak tahu siapa yang kini sedang berjalan berdampingan dengannya. Ia merasa terlalu malas untuk sekedar menanyakan nama wanita disampingnya kini. Sepanjang perjalanan menuju kantin, gadis itu terus saja berceloteh. Jongwoon hampir dibuat muak karenanya. Jongwoon mengacuhkan ucapan gadis itu. Ia hanya tersenyum tipis beberapa kali ketika gadis itu menoleh ke arahnya dan tidak sama sekali mendengarkan apa yang keluar dari bibir gadis cantik itu.

Jongwoon sedikit menjinjitkan badannya untuk mencari tempat duduk kosong. Kondisi kantin hari ini cukup ramai bahkan bisa dibilang terlalu ramai. Cukup lama ia melihat kesana kemari hingga akhirnya ia menemukan sebuah kursi kosong disana. Jongwoon memberi isyarat agar gadis disampingnya kini berjalan mengikutinya. Gadis itu hanya tersenyum dan berjalan mengikuti jongwoon.

Ketika telah mendudukan dirinya di kursi, jongwoon mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari sosok youngyoo yang ia harap sudah berada di kantin. Berharap gadis itu tidak meninggalkan makan siangnya hanya karena tidak ingin bertemu dengan jongwoon. Jongwoon mendesah berat ketika tak juga menemukan apa yang ia cari. Gadis yang kini duduk di depan jongwoon terlihat bingung dengan tingkah jongwoon. “Jongwoon-ssi,” panggil gadis itu. Jongwoon hanya berdehem tanpa menatap lawan bicaranya. Pria itu kini tengah beralih mengotak – atik ponselnya. Entah apa yang ingin ia lakukan dengan ponselnya itu. Ia juga tidak tahu. Jongwoon hanya ingin menghindari gadis centil di depannya kini. “Jongwoon-ssi apa kau tidak mendengarku, huh?” panggil gadis itu lagi dengan suara manja yang dibuat – buat.

“Aku mendengarmu. Kenapa?” tanya jongwoon akhirnya. Gadis itu terlihat berdecak sebal dengan tingkah dingin jongwoon. “Apa yang kau cari tadi?” tanya gadis itu merasa penasaran dengan apa yang tadi mencuri perhatian jongwoon. Jongwoon hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada apa – apa. Ah iya, kau ingin makan apa?” ucap jongwoon berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Gadis di depannya terlihat mengerucutkan bibirnya sebal. “Terserah saja,” balasnya ketus.

Setelah memesan makan mereka, jongwoon menatap gadis di depannya. Ia jadi merasa tak enak karena tadi sempat mengacuhkan gadis itu. “Mianhae,” ucap jongwoon kemudian. Gadis di depannya terlihat menoleh menatap jongwoon. Gadis itu terlihat tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Tak apa.” Balas gadis itu. “Aku hanya tidak bisa cepat akrab dengan orang yang baru kukenal. Sekali lagi aku minta maaf,” ujar jongwoon. Gadis di depannya terlihat mengangguk mengiyakan.

Dari kejauhan, jongwoon melihat sosok youngyoo yang terlihat sedang kebingung mencari tempat duduk. Jongwoon memperhatikan gadis itu dari jauh. Jongwoon mengulum senyumnya. Gadis di depan jongwoon menoleh ke arah yang sama dengan jongwoon. Merasa penasaran dengan apa yang tengah diperhatikan oleh jongwoon. Gadis itu menangkap sosok gadis manis tengah menoleh kesana kemari. Nampak bingung mencari kursi kosong untuk menyantap makan siangnya. Gadis di depan jongwoon nampak memicingkan mata mengingat siapa nama gadis yang kini tengah diperhatikan oleh jongwoon. “Youngyoo-ssi,” seru gadis itu kemudian ketika mengingat nama gadis yang kini nampak bingung mencari kursi kosong.

Jongwoon yang mendengar gadis di depannya ini menyebut nama youngyoo, sontak menoleh. Ia menaikan sebelah alisnya menatap gadis di depannya. “Kau mengenal youngyoo?” tanya jongwoon penasaran. Gadis di depannya hanya mengangguk pelan. “Eoh, tapi tidak terlalu dekat. Kami hanya kenal karena urusan pekerjaan. Tak lebih.” Balas gadis itu. Jongwoon mengangguk sembari mengigit bibir bawahnya sendiri. “Sepertinya ia kebingungan mencari kursi kosong. Ajak saja dia ke sini. Makan bersama kita.” Ucap jongwoon pada gadis di depannya. Gadis itu mengerutkan keningnya mendengar pemintaan jongwoon. Bagaimana bisa dia memintanya untuk mengajak wanita lain makan bersama, padahal rencanannya ia hanya ingin makan berdua dengan jongwoon. Pasti akan terlihat sangat menyenangkan. Namun kini, harapan itu hanya akan benar – benar menjadi sebuah harapan. “Tapi jongwoon-ssi, dia makan bersama kita? Apa.. maksudku kita kan ingin makan bersama lalu jika ada dia kita,” gadis itu terdengar menghentikan ucapannya. Nampak bingung dengan kata – kata yang ia ingin keluarkan. Jongwoon memicingkan mata menatap gadis di depannya. “Oh baiklah, aku akan mengajaknya makan bersama kita.” Ucap gadis itu mengalah akhirnya. Gadis itu terlihat menoleh kebelakang dan menatap youngyoo.

“Youngyoo-ssi,” panggil gadis itu kemudian pada youngyoo. Youngyoo yang mendengar seseorang memanggil namanya sontak mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Di sana ia melihat seorang wanita cantik sedang melambaikan tangan ke arahnya. Youngyoo menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Nampak takut salah pengertian. Gadis yang melambaikan tangan itu terlihat mengangguk. Youngyoo nampak berpikir mengingat – ingat siapa yang kini memanggil namanya. “Yoojin-ssi,” seru youngyoo ketika mengingat nama gadis itu. Gadis yang melambaikan tangan ke arah youngyoo tadi memberi isyarat agar youngyoo berjalan mendekatinya.

Dengan langkah ragu, youngyoo menghampiri meja gadis itu dan tersentak kaget melihat sosok jongwoon juga ada disana. “Kau bisa duduk disini, bersama kami. Kulihat kau sedang kebingungan mencari kursi kosong.” Ucap yoojin ketika youngyoo berada dihadapannya. Youngyoo terlihat menelan liurnya payah. “Hm, tidak usah. Aku akan cari kursi lain saja. Aku tidak mungkin menganggu makan siang kalian.” Tolak youngyoo sopan. Jongwoon menoleh menatap youngyoo. Ada kilatan kesal yang dirasakan oleh youngyoo saat jongwoon menatapnya.

“Apa kau tidak lihat, tidak ada kursi kosong lagi disini. Kantin terlalu penuh sesak. Apa kau mau makan sambil berdiri?” tanya jongwoon retoris. Youngyoo mengalihkan pandangannya ke sekeliling kantin. Memang benar apa yang dikatakan pria itu. Sepanjang mata memandang, tak ada kursi kosong di sana kecuali kursi yang kini berada di dekat jongwoon. Youngyoo mendesah berat, tak ingin rasanya jika ia berada di dekat jongwoon. Ia takut hatinya menjadi bimbang. Ia tidak ingin rasa cintanya pada jongwoon kembali. Ia tidak bisa. Ia sudah memiliki woobin. Ia tidak mungkin bisa kembali ke jongwoon. Tak akan pernah bisa.

Dengan pasrah, youngyoo akhirnya menerima tawaran jongwoon untuk makan siang bersama. Seperti disuruh memilih rumah sakit atau pemakaman. Kursi di hadapan jongwoon atau kursi disebelah jongwoon. Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya youngyoo mendudukan dirinya di kursi yang berada di samping yoojin. Kursi itu tepat berhadapan dengan jongwoon. Youngyoo terlihat meniup poninya sebal. Kenapa juga kantin harus penuh disaat seperti ini.

Mereka bertiga makan dalam diam. Hanya sesekali yoojin berceloteh heboh. Youngyoo ataupun jongwoon nampak tak berniat menanggapi celotehan yoojin. Kadang gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal karena tak ada yang menanggapi omongannya. “Eoh, jongwoon-ssi.” Panggil yoojin. Jongwoon yang merasa dipanggil mengalihkan tatapannya ke arah yoojin. Youngyoo yang berada disana juga ikut menoleh menatap yoojin. Jongwoon terlihat berhenti untuk menyuapi mulutnya dengan makanan di hadapannya. Tangan yoojin yang tengah menggenggam tisue terulur mendekati wajah jongwoon. Gadis itu terlihat sedikit bangkit dari posisi duduknya dan mencondongkan badannya ke arah jongwoon. Yoojin menyapu remah makanan yang berada disisi bibir jongwoon. Jongwoon yang kaget sontak membulatkan matanya dan menepis tangan yoojin cepat. Yoojin terlihat menatap jongwoon bingung. “Ah maaf, aku hanya ingin membersihkan mulutmu yang belepotan. Aku tidak bermaksud lancang.” Aku yoojin akhirnya. Gadis itu terlihat memasang tampang memelas dengan kepala tertunduk. “Aku hanya kaget tadi. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu.” Ucap jongwoon. Youngyoo yang melihat adegan itu hanya terbengong tak percaya.

“Biar aku saja yang membersihkannya.” Lanjut jongwoon. Yoojin terlihat mengangguk lalu memberikan tisue yang tadi ia gunakan ke arah jongwoon. Pria itu terlihat tersenyum tipis. Youngyoo mengalihkan pandangannya ke arah lain. Perutnya merasa mulas melihat tingkah yoojin yang terlalu mencari perhatian jongwoon. Andai saja ia kanibal, gadis bernama yoojin itu pasti akan menjadi korban pertamanya. Youngyoo menampakan wajah tak suka melihat adegan memuakan tadi, “Apa mereka sedang bermesraan di depanku? Menjengkelkan!” batin youngyoo. Youngyoo tak bisa berbohong. Ia memang merasa cemburu. Ia tidak bisa berbohong. Ia tidak suka ada gadis lain yang menyentuh jongwoon. Namun apa haknya terhadap jongwoon. Toh ia bukan siapa – siapa jongwoon lagi. Ia hanyalah bayangan masa lalu jongwoon. Begitu juga jongwoon. Mereka kini bukanlah siapa – siapa. Tak memiliki ikatan khusus. Dan yang perlu ia titik beratkan, ia juga sudah memiliki laki – laki lain. Apa masih boleh ia jatuh cinta pada jongwoon ketika ia sudah hampir menjadi istri dari woobin? Apa ini memang cinta? Atau hanya sekedar obsesi masa lalu? Kerinduan masa lalu? Kepala youngyoo terasa berdenyut keras memikirkannya.

*****

“Youngie-ya.” Panggil woobin pada gadisnya yang kini sedang berada dalam sambungan telepon dengannya. Youngyoo yang menjadi lawan bicara woobin kali ini, terdengar berdehem menanggapinya. “Aku merindukanmu, sungguh.” Aku woobin kemudian. Di ujung sana terdengar youngyoo tertawa ringan. Menertawakan sikap kekanak – kanakan yang dimiliki woobin. “Aku lebih merindukanmu, sungguh.” Ucap youngyoo berusaha meredam tawanya. Woobin tersenyum mendengar pengakuan gadisnya.

“Aku khawatir tentangmu, youngie-ya.” Ungkap woobin berusaha memberitahu youngyoo apa – apa saja yang kini tengah berkeliaran dalam kepalanya. Youngyoo mengerutkan keningnya mendengar hal itu. “Khawatir tentangku?” tanya youngyoo bingung. Woobin terdengar berdehem. “Aku khawatir karena sekarang jongwoon berada dekat denganmu. Aku khawatir jika, hm, kau, ng, perasaanmu itu terhadap jongwoon. Hm, perasaan itu kembali. Aku tidak ingin kehilanganmu, youngie-ya.” Ucap woobin ragu. Youngyoo yang mendengar itu terpaku. Sepersekian detik, tak ada suara yang keluar dari keduanya. Woobin diam menunggu respon youngyoo. Sementara youngyoo bingung dengan apa yang akan ia katakan untuk woobin. Perasaannya memang kembali. Perasaan yang tak pernah hilang itu memang kembali dan hal itu membuat youngyoo terhimpit.

“Youngie-ya, apa kau masih disana?” tanya woobin akhirnya setelah tak mendengar respon dari youngyoo. Gadis itu nampak gelagapan. “Hm, aku, ya aku mendengarmu.” Seru youngyoo kemudian. Gadis itu nampak mengelus tengkuknya cemas. Gadis itu berdehem pelan. “Woobin-ah, aku sudah berjanji untuk bersamamu. Apa kau meragukan janjiku itu hingga kau takut aku akan kembali pada jongwoon?” tanya youngyoo kemudian. Woobin menggigit bibir bawahnya ragu. “Bukan begitu, aku hanya, merasa tak ingin kehilanganmu.” Ucap woobin. Pria itu memainkan kuku – kuku jarinya. Merasa asing dengan situasi seperti ini. Apa yang harus ia katakan dan apa yang harus ia lakukan disaat seperti ini? sungguh otaknya buntu.

“Woobin-ah.” Panggil youngyoo lagi. Woobin berdehem menanggapinya. “Percayalah padaku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sudah berjanji untuk bersamamu. Dan aku tidak akan melanggar janjiku sendiri. Bisakah kau mempercayaiku?” tanya youngyoo dengan suara paraunya.

*****

“Kau ingin cokelat panas pagi ini?” tawar jongwoon yang hanya dibalas oleh gelenggan kepala youngyoo. Gadis itu nampak enggan untuk menatap orang yang kini tengah mengajaknya membuka obrolan. Kini mereka berdua, jongwoon dan youngyoo tengah berada di taman kantor. Dengan sebuah laptop yang berada di pangkuannya, youngyoo berusaha untuk fokus pada apa yang kini tengah ia kerjakan. Tak ingin konsetrasinya buyar karena kedatangan jongwoon di awal paginya.

Jongwoon duduk di sebelah youngyoo. Kepalanya ia longgokan ke layar laptop youngyoo. Nampak perasaan dengan apa yang sedang dikerjakan gadis di sampingnya. “Ada yang bisa aku bantu?” tawar jongwoon lagi. Dan lagi – lagi youngyoo hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Youngyoo sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Jongwoon mengerang frustasi. Youngyoo yang melihatnya hanya menaikan sebelah alisnya menatap jongwoon.

“Bisakah kau tidak menganggapku sebagai angin lalu?” tanya jongwoon kesal. Youngyoo mengerutkan keningnya. “Aku merindukanmu, yoo-ya.” Ungkap jongwoon kemudian. Youngyoo tak menanggapinya. Gadis itu terlihat bangkit dan hendak berjalan pergi meninggalkan jongwoon. Namun cengkraman kuat jongwoon menahan langkahnya. Youngyoo memicingkan mata ke arah tangan jongwoon yang kini sedang memegang lengannya erat. Youngyoo berusaha untuk menepis cengkraman itu, namun sial, kekuatan jongwoon terlalu besar baginya. Gadis itu hanya mendesah pasrah, “Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya youngyoo setengah berteriak dihadapan jongwoon. Nafas gadis itu terdengar terengah – engah, menahan sesak di paru – parunya kini.

“Apa aku harus menjawab pertanyaan yang pasti kau sudah tahu jawabannya itu?” bukannya menjawab pertanyaan gadis di hadapannya, jongwoon justru membalikan pertanyaan itu kepada youngyoo. Gadis itu terlihat mengulum bibir bawahnya. Ia mengalihkan tatapannya menghindari kontak mata dengan jongwoon. Lagi – lagi gadis itu terdengar mendesah berat. “Aku tidak mungkin kembali padamu!” seru youngyoo kesal. Dilihat oleh youngyoo, mata jongwoon berkilat amarah. Cengkraman jongwoon di lengannya kini semakin menjadi. Youngyoo terdengar meringis menahan perih akibat perlakuan jongwoon di lengannya. “Oppa, lepaskan! Kumohon ini sakit!” erang youngyoo tak tahan dengan perlakuan kasar jongwoon padanya. “Apa kau sudah belajar untuk menjadi seorang pengingkar janji? Kau ingin mengingkari janjimu sendiri untuk kembali padaku?” tanya jongwoon retoris. “Mengertilah situasi ini. aku tidak sendiri lagi. Aku sudah berjanji akan mencintai woobin dan melupakanmu. Aku dan woobin sudah bertunangan. Dan mustahil bagiku untuk meninggalkan woobin demi kembali padamu. Kau pikir aku gila, hah?!” ujar youngyoo diujung kekesalannya.

Jongwoon terdengar menghela nafas berantakan. Pria itu nampak tersenyum miris. “Kau ingin bilang kalau aku terlambat menemukanmu? Iya?” tanya pria itu kemudian. Youngyoo terdengar mendecak. “Bukan, maksudku, ah sudahlah. Mungkin Tuhan memang mempertemukan kita kembali tapi tidak untuk menyatukan kita kembali. Tidakkah kau bisa menerima itu? Aku akan menjadi istri dari woobin dan itu hanya terhitung beberapa bulan lagi. Aku tidak mungkin mundur. Aku dan woobin sudah melangkah sejauh ini. Kumohon dengan sangat, jangan lagi mengangguku. Dan kumohon, hargai keputusanku.” Pinta youngyoo dengan suara serak. Gadis itu nampak membendung air mata yang hendak keluar membanjiri pipinya.

Gagal. Air mata yang sedari tadi youngyoo tahan di pelupuk matanya akhirnya mengalir juga. Membasahi pipinya. Youngyoo mengusap air mata itu sembarangan dengan menggunakan punggung tangannya. Youngyoo menghentakan lengannya yang berada di cengkraman jongwoon hingga lengannya terbebas dari cengkraman jongwoon. Dengan langkah terburu – buru youngyoo pergi menjauh dari jongwoon. Sementara jongwoon hanya berdiri terpaku. Nampak tak percaya dengan permintaan gadisnya –dulu-.

*****

Sudah 3 bulan ini jongwoon menjadi partner kerja youngyoo. Dan sudah 3 bulan ini pula, jongwoon menghindari youngyoo. Pria itu benar – benar melakukan apa yang diminta oleh youngyoo untuk tidak menganggu gadis itu lagi. Jongwoon tak lagi banyak bicara seperti sebelumnya saat ia baru pertama bertemu dengan youngyoo di kantor. Jongwoon lebih sering diam dan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Dan youngyoo pun tak berniat untuk menyapa jongwoon lebih dulu. Ingin tapi tak berani, mungkin hal itu yang bisa mengungkapkan perasaan youngyoo ketika berhadapan dengan jongwoon.

Jongwoon hanya berbicara kepada youngyoo sesekali saja. Dan itu juga karena masalah pekerjaan. Tak lebih. Dari nada bicara jongwoon padanya. Tak ada kesan ramah disana. Hanya ada nada dingin tak berperasaan. Youngyoo merasa ingin menangis meraung karennya. Ia merasa bagaikan orang bodoh sekarang. Ia yang meminta jongwoon untuk menjauhinya, namun ketika jongwoon memang benar – benar menjauhinya, youngyoo justru merasa kehilangan jongwoon untuk kedua kalinya. Youngyoo tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Seharusnya ia tidak boleh mempunyai perasaan seperti ini lagi. Jongwoon bukan lagi bagian dari hidupnya. Dan ia harus mulai terbiasa dengan woobin yang akan menjadi separuh dari tubuhnya nanti.

Hari pernikahannya dengan woobin kini hanya tinggal menghitung hari. Tinggal sebulan lagi marganya akan berganti menjadi Kim. Kim youngyoo istri dari Kim woobin. Bukan Kim youngyoo istri dari Kim Jongwoon. Youngyoo merasa paru – parunya sesak memikirkan hal itu.

Youngyoo mendesah berat melihat surat pengunduran diri yang ia buat semalam. Ia berniat untuk mengundurkan dirinya dari pekerjaannya sekarang. Seminggu sebelumnya, ia sudah membicarakan perihal ini kepada atasannya. Walau dengan berat hati, akhirnya atasannya memberikan izin kepada youngyoo untuk keluar dari kantor karena keinginannya sendiri. Youngyoo kini sedang disibukan dengan kegiatan merapikan barang – barangnya di meja kerjanya. Ia mengemasi semua barang – barangnya kedalam sebuah kardus besar. Perjalanan karirnya cukup sampai disini, ia rasa. Youngyoo ingin menjadi istri yang baik dan fokus untuk mengurus keluarga kecilnya nanti. Seperti yang dulu sering dibicarakan oleh ibunya. Sang ibu lebih senang jika youngyoo merelakan dirinya untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak – anaknya ketimbang mengurus pekerjaan. Dan youngyoo akan memenuhi keinginan ibunya itu. Youngyoo akan mengundurkan diri dari kantor dan untuk saat ini fokus mengurus persiapan pernikahannya.

“Eoh, youngyoo-ssi, kau jadi akan mengundurkan diri hari ini?” tanya seorang gadis cantik ketika tak sengaja melewati meja kerja youngyoo. Gadis cantik itu adalah Han Yoojin. Gadis yang belakangan ini terlihat sangat lengket dengan jongwoon. Dan hal itu sukses membuat youngyoo menghela nafas berantakan karena termakan cemburu. Youngyoo hanya tersenyum tipis lalu mengangguk menjawab pertanyaan yoojin barusan. “Oh iya, kurasa aku harus segera membereskan barang – barangku dan bersiap untuk menempati tempatmu ini. Aigo, jinjja neomu haengbokkae!” ujar yoojin lalu dengan setengah berlari gadis itu pergi menuju ruang kerjanya. Youngyoo hanya menggelengkan kepalanya heran.

Selepas matanya tak lagi menangkap sosok yoojin. Youngyoo melangkahkan kakinya menuju ruangan sang atasan. Bermaksud untuk memberikan surat pengunduran diri dan sekedar mengucapkan salam perpisahan.

Youngyoo mengetuk pelan pintu atasannya tersebut, terdengar suara sahutan seorang laki – laki dengan suara beratnya. Perlahan youngyoo membuka pintu tersebut dan tersenyum sembari membungkukkan badannya memberi hormat. “Kau rupanya.” Seru pria yang menjadi atasan youngyoo tersebut. “Apa kau serius dengan pengunduran dirimu? Sesungguhnya aku berat melepas karyawan sepertimu, youngyoo-ya.” Ungkap pria paruh baya itu. Youngyoo hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku tidak bisa bekerja lagi, sajangnim. Mianhamnida.” Ucap youngyoo lagi – lagi membungkukan setengah badannya.

*****

Jongwoon yang baru saja sampai di kantornya menatap bingung ke arah meja kerja youngyoo. Kini meja itu nampak seperti meja baru tak berpenghuni. Tak ada satupun barang – barang milik youngyoo disana. Jongwoon mengerutkan keningnya ketika melihat yoojin datang menghampiri meja kerja youngyoo dengan sebuah kardus besar di pelukannya. Yoojin terlihat menyunggingkan senyum manisnya. “Hei,” sapanya pada jongwoon. Yang disapa malah menaikan sebelah alisnya ketika melihat yoojin menata barang – barang miliknya di atas meja kerja youngyoo.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya jongwoon bingung. Yoojin memicingkan mata menatap jongwoon. “Apa kau tidak tahu? Hari ini youngyoo resmi mengundurkan diri dari kantor. Dan aku diminta untuk menempati posisinya. Tentu aku sama sekali tidak keberatan.” Ujar yoojin yang justru dibalas tatapan tajam jongwoon. Yoojin yang mendapatkan tatapan seperti itu kini membulatkan matanya kaget. “Wae?” tanya gadis cantik itu. “Kau serius? Youngyoo mengundurkan dirinya?” tanya jongwoon kembali memastikan apa yang baru saja yoojin katakan kepadanya. Gadis itu hanya mengangguk.

“Dan dari yang kudengar, ia ingin mempersiapkan pernikahannya yang sudah tinggal satu bulan ini.” ungkap yoojin dengan tampang tak bersalah. Gadis itu terdengar menghela nafas panjang. “Berhenti mengharapkan sesuatu yang bukan lagi milikmu. Youngyoo sudah menentukan pilihannya. Kenapa juga kau harus mati – mati mengejar youngyoo sementara disini ada aku yang setia menunggumu?” tanya yoojin dengan nada kesal. Gadis itu menekuk wajahnya. Merasa muak setiap kali jongwoon menaruh kepedulian kepada youngyoo. Gadis itu cemburu! Jelas, semenjak bertemu dengan jongwoon 3 bulan yang lalu. Yoojin memang sudah menaruh hati pada pria ini. namun jongwoon seolah membatasi jarak antara mereka. Jongwoon seolah tak ingin seorangpun menyentuh hatinya kecuali youngyoo. Dan hal itu membuat yoojin naik darah.

Jongwoon menatap yoojin yang kini tengah duduk dikursi youngyoo dengan bibir mengerucut. Jongwoon bagaikan bercermin ketika melihat yoojin. Gadis itu, mati – matian mengejarnya. Sama seperti dirinya yang mati – matian mengejar youngyoo. Yoojin, gadis itu mati – matian menunjukan padanya bahwa gadis itu mencintainya. Sama seperti dirinya yang mati – matian menunjukan pada youngyoo bahwa ia masih –teramat- mencintai gadis itu. Yoojin, gadis itu rela menunggunya dengan harapan perasaannya nanti akan berubah. Sama seperti dirinya yang rela menunggu youngyoo dengan harapan youngyoo akan merubah keputusannya yang pasti tidak akan mungkin terealisasikan sampai kapan pun. Jongwoon menatap miris ke arah yoojin. Beginikah cermin dirinya? Apakah yang dirasakan youngyoo sama seperti yang ia rasakan ketika dihadapkan dengan yoojin? Merasa ingin menghindar karena tak ingin menyakiti perasaan yoojin. Merasa ingin menghindar karena cintanya masih bertahan dengan youngyoo dan nampak enggan untuk berpindah tempat. Mungkinkah?

*****

“Permisi ahjumma, apa aku bisa bertemu dengan youngyoo?” tanya jongwoon pada seorang wanita paruh baya yang baru saja membukakan pintu untuknya. “Kau jongwoon kan? Tetangga sebelah rumahku?” seru wanita itu kemudian. Jongwoon terlihat mengangguk. “Kau mengenal youngyoo rupanya?” tanya wanita paruh baya itu lagi. Jongwoon –lagi-lagi- terlihat menganggukan kepalanya.

“Bisa aku bertemu dengan youngyoo, ahjumma?” kini jongwoon mengulang maksud tujuannya datang ke rumah itu. Wanita paruh baya di depannya terlihat menggeleng pelan. “Beberapa jam yang lalu ia baru saja pergi ke seoul. Dia ingin tinggal di seoul bersama paman dan bibinya. Ia tidak akan tinggal disini lagi.” Ujar wanita paruh baya itu. “Lagipula, youngyoo juga sedang sibuk mengurus persiapan pernikahannya. Jadi akan lebih baik jika ia tinggal di seoul yang dekat dengan rumah keluarga calon suaminya.” Sambung wanita itu. Jongwoon membeku. Yoojin bukan hanya sekedar membual soal youngyoo yang sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Bahkan wanita di depannya kini juga berkata tentang hal yang sama.

Jongwoon mengerjapkan matanya, lalu membungkuk ke arah wanita paruh baya di hadapannya. Bermaksud untuk pamit dari kediaman wanita itu. Wanita paruh baya di depan jongwoon melakukan hal yang sama sambil memamerkan segaris senyum manis.

*****

Seperti orang kesetanan. Jongwoon mengendalikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata – rata. Jalanan yang sedang padat kala itu tak menjadi penghalang baginya untuk menembus jalanan penuh sesak itu. Jongwoon beberapa kali terlihat bergerak gelisah. Merasa tak tenang membayangkan kalau youngyoo memang akan menjadi milik woobin seutuhnya. Pupus sudah semua harapan yang selama ini ia kumpulkan. Pupus sudah semua impiannya tentang menjadikan youngyoo sebagai orang yang pertama ia lihat dikala pagi menjelang dan orang terakhir yang ia lihat dikala malam menyelimuti.

Jongwoon mencengkram kemudi mobilnya erat. Seolah menyalurkan semua rasa tak karuan yang kini bercampur aduk mengelayuti perasaannya. Butuh waktu beberapa jam untuk jongwoon tiba di rumah peninggalan orang tua youngyoo. Dengan langkah tergesa – gesa, jongwoon memasuki area rumah itu.

Ketika hendak mengetuk pintu rumah tersebut. Pintu itu terbuka dan menampakan sosok youngyoo dibaliknya dengan dress selutut berwarna peach. Rambutnya ia sanggul longgar di belakang kepala. Riasan make up tipis semakin membuat wajahnya terlihat segar. Wangi tubuhnya mulai bergerilia di indera penciuman jongwoon. Jongwoon tak berkata apa – apa ketika melihat sosok yang ia cari sedari tadi. Sosok yang senantiasa bergelayut di otaknya. Sosok yang ingin ia cintai sekaligus ingin ia lupakan. Sosok itu, youngyoo.

Jongwoon berusaha mengatur nafasnya yang mulai memburu. Youngyoo yang kaget melihat jongwoon berada di hadapannya hanya menatap jongwoon dengan mulut terbuka. Beberapa kali gadis itu terlihat mengerjapkan matanya. Berusaha menghilangkan bius pesona yang seolah selalu terkuar dari sosok jongwoon. Jongwoon berada di hadapannya dengan kemeja putih polos dengan dua kancing teratas tak di kancing. Tatanan rambutnya terlihat berantakan. Sepertinya pria itu sudah beberapa kali mengacak rambutnya sembarangan. Namun sialnya, youngyoo tetap merasa tatanan rambut pria itu melebihi kata sempurna.

Youngyoo merasa seperti orang gila setiap kali bertemu dengan jongwoon. Ia ingin menatap laki – laki itu namun terlalu takut untuk melakukannya. Youngyoo mengalihkan pandangannya ke samping. Berusaha menghindari tatapan mata jongwoon yang kini tengah mengarah kepadanya. Jongwoon terdengar menggeretakan gigi gerahamnya. Nampaknya pria itu tengah dikuasai emosi kali ini.

“Kenapa kau tidak pernah bilang padaku jika kau akan mengundurkan diri dari pekerjaanmu, hah?” bentak jongwoon. Youngyoo kaget mendengarnya. Kilatan mata jongwoon kali ini terlalu mengerikan baginya. “Untuk apa juga aku harus memberi tahumu?” youngyoo tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu. Youngyoo malah balik bertanya. “Siapa kau hingga aku harus melaporkan apa yang ingin aku lakukan padamu?” lanjut youngyoo setengah berteriak. Jongwoon mencengkram lengan youngyoo kuat. Terdengar rintihan pelan dari bibir youngyoo. “Kau gila! Lepaskan aku!” ronta youngyoo namun tak digubris oleh jongwoon.

“Apa kau tidak bisa mempertimbangkan pernikahanmu dengan woobin lagi? Aku datang padamu yoo-ya. Kita dipertemukan lagi! Seharusnya kita bersama! Bukan kau bersama woobin. Kau bersamaku!” jerit jongwoon tertahan. Youngyoo mengigit bibir bawahnya sendiri. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan di situasi seperti ini.

“Aku tidak mungkin kembali bersamamu! Tolong hargai keputusanku. Aku tidak ingin bersamamu. Aku lebih nyaman bersama woobin. Terima kenyataan itu, oppa!” ucap youngyoo diiringi dengan helaan nafas berat. Paru – parunya serasa mengecil kali ini. Youngyoo membutuhkan oksigen. Kemana perginya semua oksigen disaat seperti ini? Youngyoo terlihat mengepalkan tangannya. Jongwoon makin mempererat cengkramannya di lengan youngyoo.

“Aku tidak bisa menerima semua ini yoo-ya.” Ucap jongwoon diakhiri dengan teriakan melengking darinya. “Apa kau tidak tahu bahwa aku hampir frustasi karena merindukanmu? Apa kau tidak tahu bahwa aku hampir mati karena mengikuti keinginanmu untuk tidak mencarimu? Apa kau tidak tahu itu, hah?!” bentak jongwoon kemudian. Youngyoo menundukan wajahnya. Bahu gadis itu mulai bergetar. Youngyoo mulai menitihkan air mata yang sedari tadi ia paksakan untuk diam di pelupuk matanya. Terlihat muka jongwoon memerah akibat menahan amarahnya yang seakan sedang memuncak.

Tak lama setelah tercipta keheningan diantara mereka. Terdengar derap langkah seseorang menghampiri mereka dari arah luar. Jongwoon merasa ada seseorang yang menarik lengannya dan menghempaskannya begitu saja. Woobin kini tengah menatapnya seakan ingin menelan pria itu hidup – hidup. “Aku harus bilang berapa kali? Jangan menganggu tunanganku! Jangan menganggu calon istriku! Kau tuli atau apa?” bentak woobin kemudian. Jongwoon tersenyum miris menatap woobin. Sebuah tinju keras berhasil mendarat di pipi kanan woobin. Woobin yang merasa harga dirinya dipermalukan justru balik meninju perut jongwoon hingga pria itu meringis sambil memegangi perutnya yang serasa perih.

“Berhenti kalian!” teriak youngyoo tak tahan melihat dua pria kini tengah berkelahi memperebutkan apa yang seharusnya mereka tidak perebutkan. Mereka memperebutkan dirinya. Dan hal ini membuat youngyoo merasa terhimpit. Tak tahu harus berada di belakang siapa. Kedua pria yang tadinya terlibat baku hantam itu sontak berhenti dan menoleh ke arah youngyoo. Dilihat oleh mereka youngyoo kini sedang menangis terisak. “Jangan bertingkah seperti anak kecil, kumohon! Kalian hanya akan menyiksa diri kalian sendiri.” sambung youngyoo.

“Jongwoon oppa, kumohon dengan sangat padamu. Tolong menghilang dari hidupku. Tolong beri aku kebebasan untuk menjalani hidupku. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku sudah menentukan pilihanku. Aku akan menikah dengan woobin. Tolong mengerti hal itu. Aku yakin kau akan mendapatkan gadis yang seribu kali lebih cantik dan lebih baik dariku. Jangan lagi mengharapkanku untuk kembali padamu. Karena sampai kapanpun aku tidak mungkin kembali padamu. Cerita kita sudah menutup buku dulu. Kini aku akan menulis cerita baru bersama woobin. Tolong, sekali ini lagi. Turuti keinginanku.” Tutur youngyoo dengan nafas sesenggukan akibat menangis. Woobin menatap tajam ke arah jongwoon yang kini tengah menatap tak percaya ke arah youngyoo.

“Kau dengar itu kan? Menjauh dari tunanganku!” bentak woobin kemudian yang berhasil mendapatkan bentakan balik dari youngyoo. “Woobin-ah, berhenti seperti anak kecil! Berhenti mencemburuiku dan jongwoon oppa. Kami tidak ada hubungan apa – apa.  Tidak bisakah kau mempercayaiku?” ucap youngyoo setengah berteriak. Woobin terlihat menundukan wajahnya. “Pulanglah, oppa. Jalani hidup kita masing – masing. Takdir kita sudah tak sejalan.” Lanjut youngyoo menatap jongwoon buram karena segerombolan air mata yang bersarang di kedua matanya.

Youngyoo berjalan menghampiri woobin. Menarik lengan pria itu untuk ikut dengannya. Pergi meninggalkan jongwoon yang kini terpaku di balkon depan rumahnya. Jongwoon menatap punggung youngyoo yang semakin menjauh dari pandangannya. “Yoo-ya,” panggil jongwoon serak. “Yoo-ya,” panggil jongwoon lagi masih dengan suara pelan selembut tiupan angin. “Yoo-ya!!” panggil jongwoon dengan berteriak. Melepaskan segala beban kerinduannya kepada gadis itu. Youngyoo tak menoleh sedikitpun ke arah jongwoon. Gadis itu tetap saja berjalan menjauhi posisi jongwoon sekarang. Jongwoon terdengar mengerang frustasi.

Woobin menoleh ke arah youngyoo yang kini berada di sampingnya. Gadis itu nampak sedang berusaha menahan isak tangisnya. Hati woobin terasa teriris mengetahui kenyataan bahwa youngyoo masih rela menangis demi jongwoon. Miris. Apa woobin terlalu egois mempertahankan keinginannya untuk tetap menikahi youngyoo dan menjadikan youngyoo orang pertama dan juga terakhir dalam setiap harinya? Woobin mendesah berat. Pria itu mengulurkan tangannya. Merangkul bahu youngyoo. Meremas bahu itu sesekali. Memberi kekuatan pada youngyoo untuk tetap dalam keadaan baik – baik saja.

-TBC-

Kyaaaaa >.<

Gak kerasa aku udh publish sampai chapter ke-5 haha. Dan setelah aku review stat pengunjung blog ini. Ternyata banyak yang baca tapi gak ninggalin repon mereka. Well, aku sedikit kecewa. Tapi mau bilang apa lagi? Nulis udh jadi hobi aku. Dan aku nulis ini jg krn hobi. Bukan krn ingin imbalan apa itu. Ya, klo dapat respon sih itu hadiahnya. Omong – omong, tinggal chapter terakhir yang akan aku publish nanti. Kira – kira kalian mau sad ending atau happy ending nih?

Chapter terakhir akan aku publish minggu depan, okay?😉 kenapa? Krn aku akan fokus untuk menyelesaikan (?) fanfict Hold My Hand yang sama sekali blm aku sentuh tapi ide untuk fanfict itu udah menjelajahi setiap jengkal otakku /helah. Jadi, takut kehilangan ide. Aku akan fokus ngerjain itu dulu. Baru publish chapter terakhir dari dark shadows ini. Selamat menunggu dan menebak endingnya~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s