DARK SHADOWS [Chapter 6 – END]

Title         : DARK SHADOWS   [Chapter 6 – END]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Lee Young Yoo (OC)
  • Kim Woo Bin (Actor)
  • Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)
  • Find other cast by urself

Genre       : Romance, Sad romance, storylife.

Rate         : PG 15

Length     : Chapter (85. 786 characters with spaces)

NB      : Keseluruhan cerita murni milik author. Dilarang keras untuk membalik nama atau menyebar luaskan fiksi ini tanpa izin dari author. Mohon cantumkan alamat blog ini dan izin kepada saya selaku author aslinya, jika anda berkeinginan untuk re-post fiksi ini. Saya sdh coba revisi typo di sini. Tapi kalo masih ada yang typo. Beritahu pada saya, nanti akan saya perbaiki, okay? Terima kasih sebelumnya. Enjoy reading guys..

Kau tahu, ketika kau telah jatuh hati pada seseorang. Sesungguhnya perasaan itu akan selamanya melekat di hatimu. Bahkan ketika kau berpikir kau tidak lagi mencintainya. Kau akan tetap peduli dan menaruh perhatian padanya. Perhatian yang melebihi perhatianmu pada orang lain di sekitarmu. Cinta itu ibaratkan sebuah puzzle. Awalnya kau akan dibuat bingung dan jengah untuk menentukan tempat yang cocok bagi setiap potongan puzzle tersebut. Namun, ketika semua potongan itu telah berhasil kau susun dengan baik. Puzzle itu akan terlihat indah dan menawan. Aku bahagia melihatmu bersamanya. Dan aku akan bahagia bersamanya. Siapa yang tahu misteri di hari esok? Aku? Atau dirimu? Kita sama – sama tidak akan bisa menebak apa yang sudah Tuhan siapkan untuk kita di hari esok. Hidup ini penuh kejutan, bukan? –Youngyoo Lee-

“People cry, not because they’re weak. It’s because they’ve been strong for too long.”

“Never say goodbye, because goodbye means going away. And going away means forgetting.” Peterpan

chapter 6 END

PREV CHAPTER

Youngyoo berjalan menghampiri woobin. Menarik lengan pria itu untuk ikut dengannya. Pergi meninggalkan jongwoon yang kini terpaku di balkon depan rumahnya. Jongwoon menatap punggung youngyoo yang semakin menjauh dari pandangannya. “Yoo-ya,” panggil jongwoon serak. “Yoo-ya,” panggil jongwoon lagi masih dengan suara pelan selembut tiupan angin. “Yoo-ya!!” panggil jongwoon dengan berteriak. Melepaskan segala beban kerinduannya kepada gadis itu. Youngyoo tak menoleh sedikitpun ke arah jongwoon. Gadis itu tetap saja berjalan menjauhi posisi jongwoon sekarang. Jongwoon terdengar mengerang frustasi.

Woobin menoleh ke arah youngyoo yang kini berada di sampingnya. Gadis itu nampak sedang berusaha menahan isak tangisnya. Hati woobin terasa teriris mengetahui kenyataan bahwa youngyoo masih rela menangis demi jongwoon. Miris. Apa woobin terlalu egois mempertahankan keinginannya untuk tetap menikahi youngyoo dan menjadikan youngyoo orang pertama dan juga terakhir dalam setiap harinya? Woobin mendesah berat. Pria itu mengulurkan tangannya. Merangkul bahu youngyoo. Meremas bahu itu sesekali. Memberi kekuatan pada youngyoo untuk tetap dalam keadaan baik – baik saja.

–DARK SHADOWS [CHAPTER 6 – END]–

“Kurasa ini bagus. Bagaimana menurutmu, youngie-ya?” tanya woobin pada gadis di sebelahnya. Gadis itu nampak bingung menjawabnya. Sedari tadi youngyoo tidak benar – benar mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir jongwoon. Youngyoo sedari tadi melamunkan jongwoon. Merasa menyesal karena harus merelakan jongwoon untuk kembali menghilang dari hidupnya. Kini woobin dan youngyoo tengah berada di sebuah percetakan undangan pernikahan. Pernikahan mereka yang tinggal sebulan lagi, memaksa mereka untuk bekerja ekstra guna mempersiapkan hari istimewa itu.

Woobin terdengar mendesah pasrah. Youngyoo menundukan kepalanya merasa bersalah karena mengacuhkan woobin sedari tadi. “Apa lebih baik kita pulang saja? Kita bisa meneruskan ini besok. Kurasa mood-mu hari ini tidak begitu bagus. Bagaimana?” tawar woobin yang dibalas dengan tatapan bingung dari youngyoo. “Aniyo. Aku baik – baik saja. Percayalah.” Jawab youngyoo berbohong. Woobin lagi – lagi terdengar mendesah berat. “Bibirmu memang berkata kau baik – baik saja. Namun sikap tubuhmu tidak. Ayo kita pulang.” Ajak woobin kemudian. Youngyoo hanya pasrah ketika woobin membawanya keluar percetakan itu dan kembali ke rumah.

*****

“Kudengar, akhir – akhir ini kau sering melewatkan waktu makanmu, youngie-ya. Aku juga sering melihatmu melamun sendirian.” Ucap seseorang dari arah belakang youngyoo. Gadis itu sontak menoleh ketika mendengar suara berat yang berhasil mengagetkannya tadi. Youngyoo membulatkan matanya ketika matanya menangkap sosok woobin disana. Pria itu tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Kedua tangan pria itu dimasukan ke dalam saku celananya. Mata pria itu nampak menatap intens ke arah youngyoo. Perlahan woobin berjalan mendekati youngyoo. Terpaan nafas woobin dapat dengan jelas youngyoo rasakan, ketika pria itu berada tepat di depan sang gadis. Youngyoo sedikit mendongakan kepalanya untuk menatap woobin, dikarenakan tinggi badannya yang tak setinggi pria di depannya.

“Apa yang terjadi sebenarnya? Apa ada masalah yang serius?” tanya woobin kemudian. Youngyoo menundukan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya lemah. Youngyoo mengulum bibir bawahnya sendiri. Nampak bingung dengan apa dan bagaimana ia harus menghadapi pria di depannya kini. Tak lama youngyoo kembali mendongakkan kepalanya dan menatap pria di depannya. “Apa kau tidak pergi bekerja? Bukankah ini masih jam kerja?” tanya youngyoo tanpa menjawab pertanyaan woobin sebelumnya. Youngyoo berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“Tidak usah mengalihkan perhatianku, youngie-ya.” Seru woobin tak bisa dibantah. Youngyoo terdengar mendesah pasrah. “Sungguh. Tidak terjadi apa – apa. Aku baik – baik saja.” Ungkap youngyoo ragu. Woobin mengulurkan tangannya merengkuh pundak youngyoo. Woobin berusaha membuat sang gadis yang sedang menundukan kepalanya kini menatapnya. Dengan enggan youngyoo kembali menatap woobin.

“Aku paling tidak suka dibohongi, youngie-ya. Dengan alasan apapun.” Ucap woobin. Youngyoo lagi – lagi terdengar menghembuskan nafas panjang. Gadis itu mengalihkan tatapannya ke samping. Menatap bunga – bunga di tamannya yang kini sedang bermekaran. “Youngie-ya.” Panggil woobin yang merasa tidak suka youngyoo mengalihkan tatapannya. “Apa ini ada hubungannya dengan jongwoon?” tebak woobin asal. Sontak youngyoo terbelalak ketika woobin menanyakan hal itu.

“Benar kan? Ini semua pasti ada hubungannya dengan jongwoon. Sampai kapan kau akan terus menyimpan pria itu dalam hatimu? Apa kau tidak bisa mengenyahkannya? Aku tahu ini tidak mudah. Tapi apa kau tahu bagaimana perasaanku saat mengetahui kau masih memikirkan pria lain? Bagaimana perasaanku saat kau menangis demi pria lain? Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana keadaanku saat hanya ada nama jongwoon yang berkeliaran di otakmu? Aku sakit, sungguh. Ini menyiksaku. Jika dari awal kau tidak yakin ingin menikah denganku. Kenapa kau menerima lamaranku? Lebih baik dari awal kau tidak pernah menerimanya!” jelas woobin dengan suara setengah berteriak. Youngyoo merasa bulu kuduknya meremang ketika melihat mata woobin yang biasanya teduh kini berkilat amarah. Woobin menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Lebih baik kita hentikan ini sekarang. Kita batalkan saja pernikahan kita.” Sambung woobin yang langsung disambut tautan kedua alis youngyoo. Youngyoo menatap tak menyangka ke arah woobin.

“Pernikahan kita tinggal 3 minggu lagi, woobin-ah. Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk membatalkan pernikahan kita?” tanya youngyoo tak percaya. “Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin mengatakan ini. Namun aku selalu menahannya dengan harapan kau memang menikahiku karena perasaanmu padaku mulai tumbuh. Tapi ternyata perasaanmu padaku tetap saja sama. Kau tidak pernah melihatku lebih dari seorang sahabat untukmu. Kau tidak pernah melihatku sebagai seorang pria yang benar – benar hampir gila karena menyukaimu. Kau tidak pernah menganggapku bahkan hingga kini, ketika pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari saja. Jadi, sebelum kita melangkah lebih jauh lagi. Kuberi kau satu kesempatan. Batalkan pernikahan kita dan pergilah bersama jongwoon. Jangan pernah hadir lagi di hadapanku. Karena itu hanya akan menyiksaku. Ketika kau terus hadir tanpa bisa kumiliki.” Ujar woobin dengan mata mulai memerah. Tangan woobin terlihat mengepal. Nampak sedang menahan isak tangis yang seakan mendesak untuk keluar dari bibirnya. Dan setumpuk genangan air mata yang terasa membuat matanya pedih.

Youngyoo terdiam sejenak. Tak ada kata yang terucap dari keduanya. Keduanya sama – sama membeku dan sibuk mengotak – atik pikiran mereka sendiri. Tentang apa yang mereka inginkan. Apa yang mereka butuhkan. Tentang hidup mereka selanjutnya. Tentang takdir mereka.

Tak lama, youngyoo menjinjitkan kakinya. Ia terlihat mendekatkan wajahnya dengan wajah woobin. Gadis itu meraih kedua pipi woobin dengan tangannya dan membuat pria itu menatapnya. Seketika itu youngyoo menghapus jarak di antara mereka. Youngyoo menautkan bibirnya dengan bibir pria di hadapannya kini. Woobin yang kaget sontak memberontak dan ingin melepaskan tautan bibir mereka. Namun youngyoo menahannya. Jemari tangan youngyoo justru menyelip di antara helaian rambutnya dan mendorong kepala pria itu agar tidak mengakhiri kegiatan mereka kali ini. Youngyoo memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencari posisi yang pas untuk mereka menikmati tautannya.

Woobin tidak ingin menjadi manusia sok suci yang tidak punya nafsu. Persetan mengenai alasan apa yang membuat youngyoo menciumnya kini. Yang ia tahu kali ini, youngyoo sudah menggodanya. Lelaki mana yang bisa menolak berciuman dengan wanita yang ia cintai? Sungguh hanya lelaki dengan kelainan seksual yang bisa melakukannya.

Woobin yang tadinya memberontak justru kini mengambil alih permainan. Tangan pria itu terulur untuk memeluk tubuh gadis di depannya. Woobin mendorong tubuh youngyoo agar lebih dekat dengannya. Youngyoo hanya menurut. Tanpa penolakan. Youngyoo berusaha menikmati alur yang dibuat woobin. Youngyoo berusaha menikmati setiap sentuhan yang di berikan woobin. Youngyoo berusaha terbiasa dengan itu. Namun seakan masih mengingat jongwoon. Tubuhnya selalu menolak dan kini ia memaksakan tubuhnya sendiri untuk tetap pada posisinya kini. Berciuman dengan woobin di dalam dekapan pria itu. Youngyoo berusaha menikmati posisinya kini. Namun bayang – bayang jongwoon terus saja muncul dalam benaknya setiap kali gadis itu memejamkan matanya. Ia selalu berpikir pria yang kini menciumnya bukanlah woobin, tapi jongwoon. Pria yang –jujur- ia rindukan setengah mati.

Cukup lama woobin mengerjai bibir youngyoo hingga terdengar erangan kecil dari bibir sang gadis. Youngyoo kehabisan nafas. Woobin terlalu bersemangat hingga tidak memberinya celah untuk sekedar mengisi paru – parunya yang mulai memberontak. Perlahan woobin mengendurkan tautan bibirnya. Ia kembali menciptakan jarak antara dirinya dan youngyoo. Pria itu menghela nafas pelan setelahnya. Youngyoo terlihat menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu dengan ragu, gadis itu menatap woobin.

“Jangan pernah bicara seperti itu lagi!” titah youngyoo. Woobin hanya mengerutkan keningnya. “Apa?” tanya woobin bingung. “Tentang membatalkan pernikahan kita. Aku sudah berjanji padamu akan selalu berada di sampingmu dan aku bersedia menikah denganmu. Aku akan menepati janjiku. Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku, sekarang, izinkan aku membuatmu bahagia dengan caraku sendiri. Jangan pernah berpikir aku akan membatalkan pernikahan kita. Aku sudah menghapus kata – kata tadi dengan ciumanku. Dan aku anggap kau tidak pernah mengatakannya. Jadi jangan pernah berani untuk mengatakannya lagi.” Ucap youngyoo kemudian. Woobin terlihat menaikan sebelah sudut bibirnya. “Jadi ini alasanmu menciumku tiba – tiba? Klasik, namun kenapa aku menyukainya?” tanya woobin diiringi tawa hambar dari bibirnya.

“Kalau begitu, aku akan lebih sering mengatakannya agar kau juga lebih sering menciumku, benar kan?” ledek woobin kemudian. Youngyoo sontak terbelalak karenanya. “Woobin-ah!” bentak youngyoo. Pria di depannya terlihat menyeringai. “Arra. Aku tidak akan pernah mengatakannya lagi. Karena kau sudah menolak satu – satunya kesempatan untuk bisa keluar dari hidupku. Aku tidak akan menawarkan hal yang sama untuk kedua kalinya. Jangan pernah menyesali keputusanmu kali ini. Karena aku tidak akan melepaskanmu, kecuali jika aku mati.” Ujar woobin hanya yang dibalas anggukan lemah oleh youngyoo.

*****

“Eomma, apa itu?” tanya jongwoon ketika melihat ibunya sedang berdiri di depan pintu rumah mereka dengan tangan kanan memegang sesuatu. Jongwoon melonggokan kepalanya untuk melihat lebih jelas apa yang kini berada dalam genggaman ibunya. Mata jongwoon terbelalak ketika melihat nama youngyoo disana. “Ini, undangan pernikahan youngyoo dengan kekasihnya tempo lalu.” Ucap ibunya lemah. Sang ibu tahu, ini pasti akan sangat menyakitkan hati anak satu – satunya yang ia miliki. Sang ibu terdengar menghela nafas perlahan. “Kita masuk ke dalam? Tidak baik berbicara di depan pintu rumah seperti ini.” ujar ibunya kemudian. Wanita itu menarik lengan jongwoon untuk berjalan mengikutinya menuju ruang tamu. Wanita itu mendudukan dirinya juga anaknya di sofa yang terdapat di ruang tamu. Wanita paruh baya itu menatap iba ke arah anaknya. Kini jongwoon terlihat menatap kosong ke arah undangan pernikahan youngyoo yang kini berada di dalam genggaman tangan kanannya.

Jongwoon mendongakan kepalanya menatap langit – langit ruang tamunya. Pria itu nampak sedang menerawang tanpa arah yang jelas. Sesekali pria itu terdengar menghela nafas panjang lalu menghembuskannya berantakan. Sang ibu yang melihatnya hanya menatap miris ke arah anaknya kini. Ia tahu, pasti tidak mudah mengetahui seseorang yang sudah sejak lama ditunggu ternyata jatuh ke tangan orang lain. Sungguh tidak mudah. Dan ini sungguh menyiksa.

“Eomma akan membuatkanmu coklat hangat dulu. Mungkin akan menenangkan pikiranmu.” Ucap sang ibu lalu perlahan melangkah menuju dapurnya. Jongwoon tak merespon suara apapun disekitarnya. Ia. Jiwa dan raganya bagai tak ada lagi ditempat yang sama. Raganya memang berada disana. Namun jiwa kini seolah sedang mencari sosok youngyoo yang kini membuatnya hancur berkeping – keping. Menjadi sebuah serpihan sampah tak berguna. Youngyoo sudah tidak bisa dijadikan alasan baginya untuk tetap hidup. Apa ada lagi alasannya untuk tetap menatap mekarnya bunga di musim semi ini?

*****

“Ini kopimu, oppa.” Ucap yoojin sembari mengulurkan segelas kopi hangat ke hadapan jongwoon. Yoojin yang jengah karena jongwoon tak juga menyambut uluran kopinya pun menaruh gelas kopi itu di atas meja kerja jongwoon. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal. Namun jongwoon tetap saja mengacuhkannya. “Ah, apa kau sudah mendapat undangan pernikahan youngyoo, oppa?” tanya yoojin kini. Jongwoon menatap sekilas ke arah wanita itu. Yoojin jelas – jelas menangkap kesan tak suka dari jongwoon ketika ia mulai berbicara tentang pernikahan youngyoo. Yoojin mendengus pelan.

“Demi Tuhan oppa, sampai kapan kau akan terus terkurung dalam keadaan seperti ini? Kau lihat sendiri, youngyoo memilih pria lain dan meninggalkanmu. Bahkan sebentar lagi mereka akan menikah. Apa kau sebodoh itu hingga masih mempercayai bahwa suatu saat youngyoo akan kembali padamu?” tanya yoojin dengan nada miris. Jongwoon nampak enggan meladeni wanita satu itu. “Buka matamu, Kim jongwoon-ssi. Tinggalkan youngyoo. Tidak ada jalan untuk kalian bersama lagi. Sadarlah. Ada aku disini yang selalu bersamamu, selalu disampingmu, kapan kau akan menganggapku ada??” seru yoojin setengah berteriak. Gadis itu tak tahan lagi dengan sikap jongwoon yang terus – terusan bertingkah dingin terhadapnya.

“Jika saja aku bisa mengatur takdirku sendiri. Aku akan meminta Tuhan untuk mempertemukan kita terlebih dahulu sebelum kau dipertemukan dengan youngyoo. Aku tersiksa karena mencintaimu seperti ini, kim jongwoon. Apa kau tidak bisa memahaminya sedikit saja, hah?” bentak yoojin tak tahan dengan kelakuan dingin pria di dalam jarak pandangannya kini.

Jongwoon terdengar menghela nafasnya berantakan lalu bangkit dari kursinya, berjalan meninggalkan yoojin yang mulai menatapnya dengan mata memerah.

*****

“Annyeong ahjumma.” Sapa yoojin pada seorang wanita paruh baya di depannya. Wanita paruh baya di depannya terlihat mengerutkan keningnya. Ia merasa tak pernah melihat wajah yoojin sebelumnya. “Kau siapa?” tanya wanita itu kemudian. Yoojin menyunggingkan senyum lebarnya. “Han Yoojin imnida. Eoh ahjumma, jongwoon-i eomma?” tanya yoojin pada wanita itu. Wanita di depannya terlihat mengangguk pelan. “Naeneun jongwoon-i yeojachingu.” Aku yoojin kemudian. Wanita di depannya semakin memperdalam kerutan di keningnya. Sejak kapan anaknya memiliki kekasih dan melupakan youngyoo. Bahkan sampai sekarang jongwoon masih sering mengigau tentang youngyoo dalam perjalanan mimpinya tengah malam.

Tiba – tiba sebuah suara serak dan berat mengagetkan kedua wanita ini. keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara. Dilihat oleh mereka, jongwoon sudah berdiri di belakang ibunya dengan alis bertaut dan kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana bahan. “Kata siapa kau adalah yeojachingu-ku? Kurasa kau demam.” Ujar jongwoon tak suka ketika yoojin mengaku menjadi kekasihnya sembarangan. Yoojin mengerucutkan bibirnya sebal. “Aku mencintaimu, oppa. Apa salahnya jika kita berpacaran?” ucap yoojin kemudian. Jongwoon menghela nafas perlahan. “Kau memang mencintaiku. Tapi aku? Aku tidak mencintaimu, yoojin-ah.” Ungkap jongwoon yang dibalas dengan decakan sebal dari bibir yoojin.

“Kau memang tidak mencintaiku sekarang. Tapi itu bukan alasan kau tidak akan jatuh cinta padaku nanti. Cinta bisa datang kapan saja. Cinta bisa pergi kapan saja. Cinta tidak perlu kau undang untuk datang. Cinta tak perlu kau usir untuk pergi. Tapi satu hal yang tidak bisa ditembus oleh cinta, hati seseorang yang mencoba menutup dirinya dari sinar masa depan dan malah terkurung dalam kegelapan masa lalu. Kau pikir cinta bisa menembusnya? Bukankah cinta berawal dari kebiasaan? Kebiasaan untuk saling bersama. Kebiasaan untuk saling melihat. Kebiasaan untuk saling mendengar. Jangan menjadi orang sok suci yang ingin menjaga cinta lamamu bersama youngyoo itu, oppa! Aku muak melihatnya. Aku lelah, kau tahu itu? Aku sudah berusaha sabar menghadapi sikapmu selama ini. kupikir kau akan berubah, namun ternyata aku salah. Kau tetap saja bersembunyi dibalik masa lalumu. Kapan kau akan melihat masa depanmu yang sebenarnya lebih indah daripada masa lalumu? Sampai kapan kau akan terus berdiri bak patung tak berdaya menahan terpaan masa lalu? Masa lalu bukan untuk kau sesali. Mereka hanya untuk kau kenang, kau kenang sebagai pelajaran hidupmu di masa mendatang. Bukan kau sesali terus menerus seperti ini. aku, jujur, kecewa terhadap sikapmu yang ternyata lebih kekanakan dariku.” Tutur yoojin panjang lebar. Gadis itu menghela nafas berantakan setelahnya. Gadis itu menekuk wajahnya. Pipinya terlihat memerah. Matanya pun kini memiliki warna yang hampir serupa.

Setetes bening dari sudut mata kanannya tak bisa tertahankan. Dengan cepat yoojin menghapusnya dengan punggung tangan kanannya. “Percuma saja aku menangisi seseorang yang terlalu enggan untuk menatap masa depan. Walau air mataku mengering, orang itu tidak akan bangkit dari keterpurukan masa lalunya. Dan sayangnya, orang itu adalah kau, kim jongwoon-ssi.” Ucap yoojin gemetar. Gadis itu mencoba menahan isak tangis yang kini serasa menyesakan dadanya. Yoojin menoleh ke arah wanita paruh baya yang tadi sempat terlibat percakapan dengannya. “Permisi ahjumma, kurasa aku harus pergi sekarang. Maaf menganggu sore hari kalian.” Pamit yoojin akhirnya. Dengan langkah berat yoojin akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

Wanita paruh baya disamping jongwoon terlihat menghadiahkan sebuah tamparan keras di lengan kiri jongwoon. Jongwoon sedikit meringis karenanya. “Cepat hentikan dia. Minta maaf padanya. Sudah berapa kali aku bilang padamu, jangan pernah menyakiti perasaan wanita.” Ucap wanita itu kemudian dengan mata mendelik ke arah jongwoon. Jongwoon hanya mengedikan bahunya tak peduli. Wanita itu kemudian menjitak kepala anaknya itu. Jongwoon lagi – lagi meringis karena hadiah bertubi – tubi dari ibunya itu. “Eomma..” bentak jongwoon tak terima. Sang ibu kembali mendelikan matanya. “Cepat minta maaf padanya.” Titah sang ibu terlihat tak ingin dibantah. “Aku bahkan tidak melakukan apa – apa padanya.” Bela jongwoon merasa enggan untuk meminta maaf pada yoojin karena merasa tak ada yang ia perbuat hingga gadis itu menangis.

“Ah, arra arra. Aku minta maaf padanya.” Ucap jongwoon akhirnya mengalah pada sang ibu. Dengan langkah enggan, jongwoon menyusul yoojin yang kini sudah keluar dari pagar rumahnya.

*****

Setelah dengan setengah berlari menyusul yoojin. Kini jongwoon sudah bisa berjalan berdampingan dengan gadis itu. Dilihat oleh ekor mata jongwoon, yoojin sedang berusaha untuk menahan isak tangisnya. Hidungnya memerah. Gadis itu terus saja mengigit bibir bawahnya. Kepala gadis itu tertunduk. Beberapa kali gadis itu menabrak pejalan kaki dengan arah berlawanan dengannya. Namun gadis itu nampak enggan untuk mengangkat kepalanya. Sudah beberapa kali juga jongwoon mencoba untuk mencairkan suasana. Namun ucapannya hanya dianggap angin oleh yoojin. Jongwoon menghela nafas melihatnya.

“Untuk apa kau mengikutiku?” bentak yoojin akhirnya. Gadis itu merasa jengah diikuti oleh jongwoon. Jongwoon menampakan wajah suka tak suka. “Eomma menyuruhku untuk meminta maaf padamu. Jadi, aku kesini untuk minta maaf padamu.” Ujar jongwoon santai. Pria itu terlihat mengedikan bahunya. “Jadi jika bukan karena eomma-mu, oppa tidak akan datang dan minta maaf padaku? Oh Tuhan, ternyata pria seperti ini yang selama ini aku sukai.” Eluh yoojin mendengar pernyataan jongwoon sebelumnya. Yoojin mendengus kesal ke arah jongwoon. “Sudahlah, aku malas berurusan denganmu lagi. Jangan mengikutiku lagi!” bentak yoojin kemudian. Jongwoon mengerutkan kening menerima bentakan gadis itu. Baru kali ini ia merasa yoojin seperti seekor serigala buas yang tengah kelaparan. Sorot mata kekanakan yang biasa hadir dari mata sipitnya kini tak lagi terlihat. Hanya ada sorot mata kebencian dan kelelahan disana. Jongwoon mengerti dengan sangat, arti sorotan mata yoojin padanya. Ia mengerti karena ia juga merasakan bagaimana tidak enaknya berada di posisi yoojin sekarang. Mencintai seseorang yang kini mencintai orang lain. Sakit, sungguh. Namun untuk sekedar berpaling ke pintu lainnya yang sedang terbuka, rasanya enggan dan berat. Tak berani untuk maju tak berani untuk mundur. Pengecut. Mungkin kata itu belum cukup untuk menggambarkan bagaimana keadaannya kini.

Jongwoon membiarkan yoojin kembali menyeret langkahnya. Mungkin gadis itu sedang emosi saat ini. Dan jongwoon yakin dengan sangat, besok ketika mereka bertemu di kantor. Yoojin sudah melupakan apa yang mereka alami hari ini. Ya, begitulah gadis bernama Yoojin itu. Sedikit banyak, jongwoon sudah belajar mengenai gadis itu. Periang. Namun kini ia tahu, gadis itu bisa menjadi sangat menakutkan jika sedang dikuasai emosi.

*****

Dengan santai jongwoon mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Pria itu baru saja tiba di kantornya. Ia menolehkan kepalanya ke arah meja kerja yoojin disampingnya. Namun tak dilihat olehnya sosok gadis itu disana. Tumben sekali jika sudah hampir jam kerja gadis itu belum datang. Dengan sedikit bangkit dari posisi duduknya, Jongwoon mengedarkan pandangannya kesekeliling. Berharap menemukan gadis itu tengah membuka obrolan di meja rekan kerjanya yang lain sehingga ia lupa untuk kembali ke kursinya sendiri. Namun nihil, tak juga ia temukan sosok yoojin disana. Jongwoon kembali pada posisi duduknya dan mengedikan bahunya tak peduli. Toh gadis itu bukan urusannya. Pikir jongwoon santai.

Tak lama yoojin datang dengan wajah tertunduk serta langkah lesu. Tidak seperti biasanya. Setiap pagi, biasanya jongwoon tak pernah absen mendengar lengkingan suara nyaring gadis itu. Namun kini, bibir yoojin terkantup rapat dan tak ada tanda – tanda bahwa gadis itu akan membuka mulutnya. Jongwoon berdehem pelan. Namun hal itu tidak berpengaruh apapun pada yoojin. Gadis itu tak menoleh sama sekali ke arah jongwoon. Gadis itu justru duduk di kursinya dan mulai sibuk dengan kegiatan kantornya.

Jongwoon menaikan sebelah alisnya menatap yoojin dari samping. “Apa kau masih marah karena kejadian kemarin?” tanya jongwoon pelan. Yoojin tak menggubrisnya sama sekali. Gadis itu seolah menganggap suara jongwoon hanyalah hembusan angin lalu. Jongwoon mendesah pasrah. Mungkin benar, yoojin masih marah padanya.

Dari ekor mata jongwoon, sesekali ia memperhatikan tingkah yoojin. Sesekali yoojin mengetuk – etukan pensil di kepalanya. Memiringkan kepalanya menatap layar monitor di depannya lalu mengerucutkan bibirnya. Gadis itu juga sesekali terdengar menghela nafas panjang. Tak jarang gadis itu bolak – balik ke arah loker untuk mengambil beberapa map disana. Jongwoon mengerutkan keningnya heran. Tak biasanya gadis itu terlihat begitu sibuk seperti saat ini. Biasanya gadis itu selalu mempunyai waktu luang untuk menganggunya. Dan gadis itu juga lebih senang mengobrol dengan teman – temannya di kantor ketimbang harus menatap layar monitor berlama – lama.

Sesibuk itukah gadis itu saat ini? Jongwoon kembali berdehem pelan. Mengusir rasa canggung yang kini tercipta antara mereka. Lagi – lagi yoojin tak menggubrisnya. Gadis itu masih saja menyibukan dirinya sendiri.

Jujur, yoojin tidak sedang sibuk saat ini. Gadis itu hanya ingin menghabiskan waktu dan pikirannya dengan hal lain selain jongwoon. Jika ia tidak sibuk dan punya banyak waktu, ia pasti akan memikirkan jongwoon. Ia pasti akan pergi ke kursi jongwoon dan jongwoon pasti akan menganggapnya sebagai gadis yang tergila – gila padanya. Oh memang benar, tapi yoojin juga punya harga diri. Dia sudah ditolak berkali – kali bahkan dengan terang – terangan. Apa kalian pikir tidakkah ia terlihat bodoh masih saja mengharapkan jongwoon. Dan hal yang paling membuat yoojin naik darah adalah perihal kemarin, tentang pertengkarannya dengan jongwoon. Ia masih belum bisa melupakannya.

Jongwoon terlihat menggaruk tengkuknya. Merasa asing dengan yoojin yang tiba – tiba menjadi dingin terhadapnya. Tak biasanya, sungguh. Dari kejadian yang lalu – lalu, ketika dirinya dan yoojin terlibat pertengkaran. Yoojin hanya marah padanya beberapa jam saja. Lalu setelahnya yoojin akan meghampirinya dan bersikap seolah – olah tak ada pertengkaran apapun yang terjadi diantara mereka. Ya, yoojin adalah gadis seperti itu. Namun kenapa sekarang gadis itu berubah? Apa kepalanya terbentur dinding?

“Semarah itu kah kau padaku, yoojin-ah?” tanya jongwoon kemudian. Mencoba membuka obrolan. Dilihat oleh jongwoon, yoojin bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah toilet. Menghindar? Jongwoon terdengar menghela nafas panjang.

*****

“Kau ingin makan siang bersama?” tawar jongwoon berusaha ramah pada yoojin. Gadis yang ditanyai tak merespon. Gadis itu bangkit dari posisinya dan menyunggingkan senyum manisnya ketika melihat sosok seorang pria melambai ke arahnya. Dengan alis bertaut jongwoon mengikuti arah pandangan yoojin. Siapa pria itu? Entah, jongwoon pun tak pernah melihat wajah sang pria.

“Kemana yang lain?” tanya yoojin ketika pria itu berdiri tepat di hadapannya. “Sudah di kantin. Mau istirahat sekarang?” tanya pria di depan yoojin. Yoojin hanya mengangguk seraya tersenyum menjawabnya. Tangan pria itu terulur untuk mengacak lebut poni depan yoojin. Yoojin melihat sekilas ke arah jongwoon. Tatapan mata yang tak biasa. Dingin. Tak sama dengan tatapan yoojin sebelumnya. Ceria. Jongwoon mendengus kesal setelah tak lagi melihat sosok yoojin di dekatnya. “Terserah!” erang jongwoon kemudian.

*****

“Bagaimana dengan yoojin? Apa gadis itu masih marah padamu?” tanya seorang wanita paruh baya ketika jongwoon baru saja menginjakan kakinya pulang dari kantor. Jongwoon menekuk wajahnya. Merasa kesal kenapa ibunya malah membahas yoojin ketika dirinya sedang tak ingin memikirkan gadis itu. “Dia, sepertinya marah besar padaku.” ungkap jongwoon. Sang ibu terlihat memukul lengan jongwoon kuat. Jongwoon meringis lalu melancarkan protesnya. “Apa eomma bilang? Jangan pernah menyia – yiakan seseorang yang sayang padamu.” Ucap sang ibu. Jongwoon hanya mengedikan bahunya tak peduli. “Biarkan saja dia.” Ujar jongwoon santai.

“Jongwoon-ah, sampai kapan kau akan seperti ini terus?” tanya sang ibu kemudian. Jongwoon hanya mengerutkan keningnya tak mengerti. “Maksud eomma?” tanya jongwoon bingung. “Sampai kapan kau akan terus berharap pada youngyoo? Gadis itu benar jongwoon-ah. Lupakan youngyoo. Sampai kapan kau akan sembunyi dibalik masa lalumu seperti ini?” tanya sang ibu lagi, menjelaskan secara detail tentang pertanyaan sebelumnya. Jongwoon menatap tak suka ke arah ibunya. Ia sungguh tak suka siapapun yang memaksanya untuk melupakan youngyoo. Termasuk ibunya sendiri.

“Harus berapa kali aku bilang? Aku tidak akan pernah melupakannya. Aku masih mencintainya, eomma. Tidakkah kau mengerti perasaanku?” tanya jongwoon dengan suara serak. Sang ibu menghela nafas panjang. “Eomma tahu ini akan sulit. Namun cobalah untuk membuka hatimu untuk gadis itu. Eomma rasa gadis itu gadis yang baik. Eomma yakin itu.” Ungkap sang ibu. “Ketika ada satu pintu tertutup cobalah menoleh pada pintu lain yang terbuka untukmu.” Lanjut sang ibu. Jongwoon bangkit dari posisi duduknya. “Jaljayo eomma. Aku mengantuk.” Ucap jongwoon sebelum melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

*****

“Apa kau tidak melihat jongwoon di depan kantor? Dia tidak ada di kursinya.” Tanya yoojin pada salah satu rekan kerjanya. Sedari tadi yoojin tak juga melihat sosok jongwoon di meja kerja pria itu. Padahal jam masuk kerja sudah lewat setengah jam yang lalu. “Kudengar ia mengambil cuti untuk tiga hari ke depan.” Ucap wanita yang ditanya oleh yoojin tadi. Yoojin mengerutkan keningnya mendengar jawaban wanita tadi. “Apa? Cuti?” tanya yoojin tak percaya. Wanita di depannya mengangguk.

“Kudengar ia akan pergi ke Seoul untuk tiga hari ini. Katanya sih, ada sesuatu hal yang harus ia selesaikan di Seoul.” Jawab wanita di depan yoojin. “Bohong!” gumam yoojin. Wanita di depannya tak mendengar dengan jelas gumaman tersebut. “Maaf?” tanya wanita itu. Meminta yoojin untuk mengulangi ucapannya barusan. Yoojin hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. “Aniyo. Tak ada apa – apa.” Ucap yoojin kemudian pamit dari hadapan wanita itu.

*****

Youngyoo menyeruput jus jeruk yang berada digenggaman tangan kanannya. Sesekali gadis itu terlihat menoleh ke luar jendela caffe. Menunggu kedatangan seseorang. Gadis itu memutar – mutar sedotan dan sesekali mengerucutkan bibirnya bosan. Sudah setengah jam menunggu, sosok yang ingin ia temui tak kunjung datang ke hadapannya. “Kemana woobin?” gumam gadis itu kemudian. Sudah beberapa kali pelayan datang kepadanya untuk sekedar bertanya apa menu makanan yang akan gadis itu pesan. Dan beberapa kali pula youngyoo hanya menggeleng dan berkata, “Orang yang kutunggu belum datang. Nanti setelah dia datang, saya baru pesan makanan.”

Youngyoo menghela nafas panjang. Dari kejauhan ia menangkap sosok seorang pria berjalan ke arahnya. Pria itu memakai kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Youngyoo yakin dengan sangat pria itu bukanlah woobin. Tubuh youngyoo menegang seketika, menyadari siapa yang kini berjalan ke arahnya. “Oppa,” seru gadis itu pelan ketika pria tersebut berada tepat di depannya. Pria itu memang belum membuka kacamata hitam besarnya. Namun youngyoo bisa mengenali siapa pria yang kini berada di depannya. Jongwoon. Ya, pria itu adalah jongwoon. Ia hafal dengan sangat seperti apa sosok jongwoon. Dan pria di depannya adalah jongwoon. Untuk apa pria itu –lagi – lagi- datang menemuinya?

“Aku merindukanmu.” Ucap pria itu dengan suara parau. Jongwoon terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari tahu siapa yang sedang bersama youngyoo kali ini. Setelah tak menemukan sosok yang ia cari, jongwoon mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan youngyoo. Perlahan jongwoon membuka kacamata hitamnya dan menampakan mata sembabnya di hadapan gadis itu. Youngyoo mengerutkan kening melihat wajah jongwoon yang kali ini nampak tak karuan. Apa seburuk itu keadaannya sekarang?

“Kenapa? Ada yang aneh denganku?” tanya jongwoon ketika youngyoo memperhatikannya dengan tatapan intens. Youngyoo membuang pandangannya ke arah luar jendela. Merasa terhimpit karena jongwoon terus saja hadir dalam jarak pandangannya. Apakah pria itu tidak tahu bagaimana sulitnya melupakan bayang – bayang dirinya? Apakah pria itu tidak pernah berpikir untuk enyah dari hadapannya? Sampai kapan jongwoon akan terus menguntitnya seperti ini?

“Untuk apa kau kesini?” tanya youngyoo datar. Pandangannya masih kosong menatap lalu lalang pejalan kaki diluar cafe tempatnya berada. Jongwoon terdengar menghela nafas panjang. Menghembuskannya perlahan lalu berdecak. “Apa aku harus mengatakannya lagi?” jongwoon balik bertanya. Youngyoo yang bingung sontak menoleh ke arah jongwoon dan menautkan kedua alisnya bingung. “Aku merindukanmu. Dan akan selalu merindukanmu. Berapa kali aku harus mengatakan ini?” ujar jongwoon yang dibalas oleh tawa hambar yang keluar dari bibir youngyoo.

“Apa ada yang lucu hingga membuatmu tertawa?” tanya jongwoon dengan nada serius. Youngyoo menenggak liurnya getir. Gadis itu menghentikan tawanya lalu mengantup mulutnya rapat – rapat. Menghentikan kegiatan tawa hambarnya barusan. Youngyoo kembali mengalihkan pandangannya menatap pejalan kaki yang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Youngyoo tidak benar – benar memperhatikan mereka. Pikirannya melayang dan menerawang.

“Tidak bisakah kau membatalkan rencana pernikahanmu? Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan padamu bahwa aku masih mencintaimu? Masih sangat mencintaimu yoo-ya!!” ucap jongwoon diakhiri dengan jerit pedih dari bibir sang pria. Youngyoo masih tak ingin menatap jongwoon. Gadis itu tetap menatap ke arah orang – orang diluar sana. Gadis itu mengigit bibirnya kencang saat terdengar deru nafas berantakan milik jongwoon.

Sakit. Sangat. Melihat orang yang kita cintai menangis dan merasakan kepedihan teramat, itu sangat sakit. Menusuk seluruh persendiaan. Membakar seluruh kulit. Youngyoo mulai merasa paru – parunya sesak. Gadis itu mulai merasa pandangannya buram. Mengapa ia masih saja mudah menangis jika menyangkut tentang jongwoon seperti ini? Apa semua wanita pasti akan menangis jika melihat pria yang mereka cintai menangis? Apa semua wanita akan menangis jika berada dalam kondisinya kali ini? Mencintai seserang yang tidak bisa ia cintai. Menginginkan seseorang yang tidak bisa ia miliki. Merindukan seseorang yang tidak bisa ia rindukan. Apa semua wanita akan menangis jika berada di posisinya kali ini?

Jongwoon menarik paksa kedua lengan youngyoo. Memaksa gadis itu untuk menatapnya. Youngyoo yang tidak suka dengan perlakuan untuk menepis tangan jongwoon. Dan berteriak kesal di depan pria itu. “Harus berapa kali aku bilang? Pergi menjauh dari hidupku. Jangan pernah mengharapkan aku akan kembali lagi padamu. Semua tentang kau, aku, kita, semua sudah selesai!” bentak youngyoo kemudian. Jongwoon mencengkram jemari youngyoo. “Aku mencintaimu, apa hal itu tidak cukup membuatmu membatalkan rencanamu itu?” bujuk jongwoon dengan wajah tanpa ekspresi.

“Jongwoon oppa, kumohon jangan seperti ini! Ini menyiksa dirimu. Kau hanya akan lelah mengejarku karena aku tidak akan pernah kembali padamu. Jangan membuatku menjadi orang yang paling bersalah disini, kumohon.” Pinta youngyoo diiringi dengan isak tangis yang kini berhasil lolos dari bibirnya. Bahu gadis itu mulai bergetar. “Aku membutuhkanmu, yoo-ya.” Ujar jongwoon dengan suara lemah. Youngyoo terlihat menggelengkan kepalanya pelan. Airmata terus saja mengalir tanpa bisa gadis itu hentikan. Jongwoon menatap lurus ke arahnya. “Aku tidak bisa, aku tidak bisa kembali. Aku sudah memilih jalan ini. Aku tidak mungkin melangkah mundur.” Seru youngyoo. Gadis itu berusaha meredam isak tangisnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Berusaha agar tidak terdengar isak tangis yang keluar dari bibirnya lagi.

Jongwoon menatap sendu ke arah youngyoo. “Kau akan menemukan seseorang yang lebih dariku. Sungguh. Kumohon berhenti disini. Jangan memaksaku untuk membatalkan rencana pernikahanku lagi. Jangan lagi muncul di depanku dengan mata sembab habis menangis. Jangan membuatku jatuh cinta lagi padamu. Kumohon oppa.” Pinta youngyoo dengan suara lemah. Beberapa orang di cafe itu terlihat mencuri pandang ke arah mereka berdua. Nampak penasaran mengapa jongwoon dan youngyoo terlibat “pertengkaran” di sana. Namun keduanya sama – sama tak memperdulikannya. Yang mereka pedulikan saat ini adalah perasaan mereka. Perasaan mereka yang kini sudah tak berbentuk lagi.

“Oppa hentikan!” teriak seorang gadis tiba – tiba. Jongwoon dan youngyoo sontak menoleh ke arah sumber suara. Dilihat oleh mereka yoojin tengah berdiri dengan muka memerah menahan desakan amarah yang seakan ingin meledak. “Sampai kapan kau akan seperti ini? Sampai kapan kau mau mengemis cinta di hadapan youngyoo seperti ini? Aku, aku sakit melihatmu seperti ini. Kau bisa mendapatkan gadis yang seribu kali lebih baik dari youngyoo. Lepaskan dia. Sampai kapan kau akan terus terkurung dalam kenangan masa lalumu hah?!” bentak yoojin kemudian.

“Dan kau youngyoo-ssi. Aku, aku benar – benar membencimu! Mengapa jongwoon bisa mencintaimu sampai seperti ini padahal sudah jelas – jelas kau akan menikah dan menolaknya? Bahkan dia tidak pernah menganggapku ada. Tolong beritahu dia bahwa dia harus keluar dari masa lalunya. Ia harus bangun dari kenangannya. Aku sudah lelah memberitahukan hal ini padanya. Dia tidak pernah mendengarkanku. Dia tidak pernah menginginkanku ada di dekatnya. Mungkin jika kau yang berbicara dia akan mendengarkannya.” Ucap yoojin terbawa emosi. Ia sungguh kalut saat melihat jongwoon mengemis cinta di hadapan youngyoo. Membuatnya sesak. Ingin menangis. Wanita mana yang tidak sakit hati melihat pria yang mereka cintai sedang mengemis cinta di hadapan wanita lain sedangkan cinta mereka tidak pernah digubris oleh sang lelaki? Apa kalian kuasa untuk tersenyum jika kalian berada di posisi yoojin?

“Kau mencintai jongwoon oppa?” tanya youngyoo kaget. Yoojin hanya mengangguk mengiyakan. “Wae? Apa aku begitu bodoh telah jatuh cinta padanya? Apa kau senang melihatku menangis karena menunggunya yang masih saja mengharapkanmu? Apa kau mau mengatakan bahwa aku wanita yang menyedihkan? Apa kau ingin merebut jongwoon oppa kembali? Apa kau tidak punya hati, hah?” bentak yoojin pada youngyoo. Youngyoo terlihat menautkan kedua alisnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah. “Bukan itu maksudku. Jangan salah paham, kumohon.” Bela youngyoo. “Kuharap dunia menelanmu saat ini juga!” seru yoojin diiringi dengan erangan frustasi dari bibirnya.

Tak disangka sebuah tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi yoojin. Jongwoon menampar gadis itu. Jongwoon menggunakan tangannya untuk menampar yoojin. Jongwoon merasa ucapan yoojin dapat menyakiti hati youngyoo. Dan ia sama sekali tidak suka ada seseorang yang menyakiti youngyoo dengan alasan apapun. Dengan tindakan apapun. Walaupun tanpa sadar dirinya juga yang menyakiti youngyoo. Youngyoo terbelalak kaget mengetahui jongwoon menampar yoojin. Yoojin sontak menoleh dan menatap tajam ke arah jongwoon. “Kau menamparku? Demi dia?” tanya yoojin tak percaya. Ia menggunakan telunjuk tangan kanannya untuk menunjuk youngyoo. “Kau tega menamparku?” tanya yoojin lagi. Pandangannya lurus mengarah ke jongwoon.

“Puas kau? Puas melihat bahwa jongwoon rela menamparku demi dirimu? Puas membuatku menjadi tokoh menyedihkan di kisah ini? Apa kau sudah cukup puas?!” ujar yoojin ke arah youngyoo. Yoojin menghapus air matanya sembarangan. “Dan kau jongwoon oppa, aku akan menjauh darimu seperti yang kau inginkan!” ucap yoojin pada jongwoon. Dengan langkah serampangan, gadis itu berjalan keluar cafe. Dengan wajah kusut berantakan ia berjalan menjauh dari youngyoo.

Youngyoo malah melayangkan tamparan keras di pipi jongwoon. Mata gadis itu berkilat marah. “Sejak kapan kau belajar menyakiti wanita? Sejak kapan kau berani melakukan kekerasan pada wanita? Aku tidak menyukainya. Walaupun alasan dibalik itu adalah aku. Walaupun mereka menyakitiku, jangan pernah menyakiti mereka demi aku. Sejak kapan kau berubah menjadi bajingan seperti ini, hah? Aku, sungguh, kecewa padamu!” ungkap youngyoo parau. “Kejar dia. Minta maaf padanya. Jangan biarkan dia pergi dari hidupmu. Kau membutuhkannya. Kau membutuhkannya, bukan diriku. Dia yang kau butuhkan, bukan diriku. Kejar dia, kumohon!” titah youngyoo kemudian. Air mata kembali lolos dari mata mereka. Youngyoo menghirup nafas berantakan. Tak lama gadis itu juga melangkah kaki meninggalkan jongwoon yang masih terpaku di kursi cafe. Dengan airmata berurai youngyoo berjalan gontai berusaha mengejar yoojin dan meminta maaf pada gadis itu.

Di depan pintu masuk cafe, youngyoo melihat sosok woobin disana. Woobin melihat wajah youngyoo yang kusut. Woobin yang kaget sontak membelalakan matanya. “Kau kenapa?” tanya woobin khawatir. Woobin mengedarkan pandangannya menelisik seisi cafe. Berusaha menebak apa yang membuat gadisnya menitihkan air matanya. Mata woobin berhasil menangkap sosok jongwoon di ujung cafe. Dengan langkah lebar, woobin menghampiri pria itu. Dengan paksa ia menarik kerah kemeja yang dipakai jongwoon dan membuat pria tersebut bangkit dari posisinya.

Tanpa aba – aba lagi, woobin melayangkan tinjunya ke arah perut jongwoon dan berhasil membuat jongwoon meringis menahan sakit tak tertahankan. “Harus aku bilang berapa kali? Jangan pernah menganggu calon istriku! Apa kau tuli hah?” tanya woobin retoris. “Woobin hentikan! Apa yang kau lakukan?!” bentak youngyoo ketika woobin hendak melayangkan tinjunya untuk kedua kali.

Jongwoon ingin memulai semuanya dari awal dengan youngyoo. Namun youngyoo tak bersedia karena ia sudah terikat janji untuk selalu bersama dengan woobin. Apa yang harus mereka lakukan disaat seperti ini? Apa mereka harus pergi diam – diam seperti apa yang ada di sinetron – sinetron menyedihkan itu? Apa semengenaskan itu cinta mereka? Ingin bersatu namun terhalang tembok raksasa yang panjang dan tinggi? Apa mereka masih mempunyai harapan untuk memeluk satu sama lain? Sekedar untuk menyalurkan rasa sayang yang mereka miliki? Siapa yang harus mengalah dan berjuang disini?

*****

Langkah kakinya membawa jongwoon ke salah satu kedai tteoboki. Kedai tteoboki itu adalah kedai favoritenya bersama youngyoo dulu. Mereka sering sekali kesana. Menghabiskan waktu bersama. Bersenda gurau dan tertawa terbahak – bahak di sana. Jongwoon masih mengingat dengan jelas setiap memorinya bersama youngyoo di sini. Jongwoon mengerut keningnya pelan. Merasa serbuan rasa sakit yang menghantam kepalanya.

Dengan langkah gontai, jongwoon memasuki kedai itu. Terdengar sapaan dari sang pemilik kedai. “Eoh jongwoon-ssi. Sudah lama sekali kau tidak kesini.” Ucap sang pemilik kedai sambil berjalan menghampiri jongwoon yang kini memilih duduk di salah satu pojok kedai. Tempatnya dulu bersama youngyoo.

Jongwoon mengulas senyum datar ketika pemilik kedai tersebut tiba di hadapannya. Pemilik kedai tersebut mengerutkan kening ketika melihat raut masam yang terpancar dari wajah jongwoon. “Kau datang sendiri? Dimana youngyoo?” tanya pemilik kedai itu kemudian. Jongwoon hanya menggelengkan kepalanya lemah. Pemilik kedai itu semakim memperdalam kerutan di keningnya. Merasa bingung dengan apa yang terjadi pada jongwoon dan kekasihnya itu. “Tolong bawakan aku dua botol soju!” pinta jongwoon kemudian. Sang pemilik kedai yang berniat mengintrogasi jongwoon mengurungkan niatnya. Mungkin lain kali akan lebih baik jika ia ingin bertanya tentang kenapa dan apa yang terjadi pada kedua anak muda itu. Pemilik kedai itu terlihat mengangguk lalu beranjak pergi untuk mengambilkan pesanan jongwoon.

Baru dua langkah, suara parau jongwoon terdengar di telinga sang pemilik kedai. “Youngyoo, dia, mungkin tak akan pernah datang kemari lagi. Bersamaku.” Ujar jongwoon pelan. Pemilik kedai itu sontak menoleh tak percaya ke arah jongwoon. Tak lama ia meneriaki seorang pelayannya untuk membawakan pesanan jongwoon. Pemilik kedai itu kembali duduk di depan jongwoon. Memperhatikan setiap kata yang akan terucap dari bibir jongwoon. “Sudah satu tahun ini kami berpisah. Akan menghabiskan banyak waktu jika aku menceritakan alasan kami berpisah. Yang jelas, youngyoo kini membenciku dan tidak ingin bersamaku lagi. Lebih parahnya lagi, kurang dari 2 minggu ini. Youngyoo akan menikah dengan pria lain. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tanpanya.” Ungkap jongwoon dengan tatapan kosong.

Pemilik kedai itu menuangkan segelas soju dan memberikannya kepada jongwoon. Dengan sekali tenggak, soju itu tak terlihat di dalam gelas. Kini jongwoon kembali menyodorkan gelasnya agar pemilik kedai itu menuangkannya segelas soju lagi. “Aku ikut bersedih mendengarnya. Padalah aku selalu merasa kalian adalah pasang paling serasi. Ternyata sekarang kalian harus berpisah. Aku sama sekali tak menyangkanya. Sungguh.” Ujar pemilik kedai itu ikut prihatin atas kehancuran hubungan youngyoo dan jongwoon.

Sang pemilik kedai masih ingat betul tentang tingkah mesra youngyoo dan jongwoon ketika bertandang ke kedainya. Pasangan manapun pasti akan iri melihat kedekatan mereka. Dan sungguh, pemilik kedai itu begitu menyayangkan kegagalan hubungan mereka. “Jangan terpuruk seperti ini. Hidup adalah misteri. Kau tidak akan tahu apa yang akan kau temukan esok hari. Selalu ada kejutan di sana.” Ucap pemilik kedai tersebut.

*****

“Hentikan! Kau sudah terlalu banyak minum malam ini. Kau mabuk berat. Tidak usah minum lagi!” titah sang pemilik kedai pada jongwoon. Jongwoon yang sedang mabuk tak memperdulikan perkataan pemilik kedai tersebut. Ia tetap saja menenggak botol – botol soju di depannya. Pria itu mengerang frustasi ketika mendapati semua botol soju di mejanya telah kosong. “Ahjussi, aku minta sebotol soju lagi. Kumohon!” pinta jongwoon kemudian. Sang pemilik kedai hanya menggelengkan kepalanya tak tahu harus berbuat apa. “Bocah ini, sudah mabuk seperti ini masih saja ingin minum. Kehilangan youngyoo benar – benar membuatnya frustasi.” Gumam pemilik kedai itu.

Sang pemili kedai menahan lengan jongwoon ketika melihat jongwoon bangkit dari posisinya. “Kau mau kemana? Aku khawatir jika kau mengemudi dalam keadaan mabuk seperti ini.” ucap sang pemilik kedai pada jongwoon. Yang diajak bicara hanya menunjukan cengiran tak bersalah. “Aku tidak mabuk.” Ucap jongwoon dibarengi dengan tawa hambar dari bibirnya. “Bocah ini!” pekik pemilik kedai ketika tubuh jongwoon hampir saja jatuh ke lantai karena limbung. Jongwoon lagi – lagi menunjukan cengiran tak bersalah. “Lebih baik kau tidur disini saja. Besok kau baru kembali.” Saran sang pemilik kedai. Namun jongwoon hanya menggelengkan kepalanya. “Aku baik – baik saja, kau tidak usah terlalu khawatir padaku, ahjussi.” Ujar jongwoon yang hanya direspon oleh gelengan pelan dari sang pemilik kedai.

Tiba – tiba ponsel jongwoon berbunyi. Sang pemilik kedai melihat ke arah layar ponsel tersebut dan menampakan nama Yoojin Han di sana. Dengan tangan sebelah kirinya, pemilik kedai itu meraih ponsel jongwoon yang tergeletak di atas meja. Lalu menjawab panggilan tersebut. Terdengar suara seorang gadis di ujung sana. “Jongwoon oppa, kau kah itu?” ucap gadis di seberang sana yang merasa asing dengan suara yang kini ia dengar dari ponselnya.

“Ah mianhae, aku bukan jongwoon. Bocah ini sedang mabuk berat di kedaiku. Kurasa ia tidak bisa pulang sendiri. Aku khawatir jika ia melakukannya. Kau ini siapa?” tanya sang pemilik kedai pada yoojin. Yoojin terbelalak mendengar bahwa jongwoon kini tengah mabuk di kedai seseorang. “Oh, aku, aku temannya ahjussi. Boleh aku tahu dimana alamat kedai ahjussi? Aku akan kesana untuk menjemput jongwoon oppa.” Ujar yoojin. Pemilik kedai itu berdehem sebagai tanda setuju, lalu berkata “Tentu saja.”

*****

Yoojin tak mengerti dengan dirinya sendiri. Jongwoon, seseorang yang selalu menganggapnya sebagai angin lalu. Jongwoon, seseorang yang tak pernah melihat ke arahnya sedetik saja. Jongwoon, seseorang yang tak pernah mengerti perasaannya. Mengapa ia masih begitu peduli pada orang seperti itu? Mengapa ia tetap saja merasa khawatir tentang pria itu? Mengapa ia masih saja mencintai orang sepeti itu?

Yoojin menyetop taksi di depan sebuah halte. Ia menyuruh sang sopir untuk mendatangi alamat yang baru saja diberikan oleh seseorang yang mengangkat telepon jongwoon tadi. Yoojin meminta sang supir untuk menyetir lebih cepat. Karena sungguh, ia merasa sangat tidak tenang ketika mendengar bahwa jongwoon kini sedang mabuk berat.

Yoojin lagi – lagi mengurut kepalanya yang terasa pening sedari tadi. Apakah ia akan tetap bertahan seperti ini? Mencintai jongwoon tanpa balasan. Kenapa ia tidak pernah bisa untuk mengenyahkan jongwoon dari hati dan otaknya. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar melupakan perasaannya pada jongwoon. Namun hatinya menolak perintah otaknya. Hatinya masih saja melukiskan nama jongwoon di sana. Yoojin menggigit bibir bawahnya getir. Menahan rasa sakit yang serasa bergeriliya di tubuhnya. Mungkin jika dirinya amnesia, itu akan lebih baik. Ketimbang ia harus hidup terkekang dalam perasaan mencintai tanpa pernah dicintai. Ini menyakitkan. Menyiksa. Sungguh.

Yoojin tak mengerti skenario apa yang sebenarnya ditulis Tuhan untuknya. Mengapa Tuhan tidak membiarkannya untuk melupakan jongwoon? Mengapa Tuhan tidak menghilangkan rasa pedulinya terhadap pria itu? Apa maksud Tuhan dibalik semua ini?

Jika saja ia bisa mengendalikan sesuatu di dunia ini. Ia ingin sekali mengendalikan perasaan. Mengendalikan perasaannya agar tidak mudah jatuh cinta pada pria seperti jongwoon. Atau mengendalikan perasaan jongwoon agar memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Yoojin menyeringai ketika pemikiran itu terlintas dalam benaknya.

*****

Yoojin menghempaskan tubuh jongwoon yang lumayan berat ke atas sebuah ranjang di kamar hotel yang baru saja ia sewa. Yoojin menghela nafas terengah – engah. Membopong tubuh jongwoon sendirian bukanlah hal yang mudah bagi gadis dengan perawakan kecil itu. Nafasnya tersenggal karenanya.

Dengan telaten yoojin melepaskan sepatu yang masih terpasang di kedua kaki jongwoon. Gadis itu juga mengendurkan dasi yang kini dipakai oleh jongwoon. Ia membuka dua kancing teratas kemeja pria itu. Membiarkan pria itu dalam posisi relaks. Jongwoon terdengar mengerang dalam tidurnya. Yoojin mendengus mendengarnya. “Kenapa aku tidak pernah bisa mengacuhkanmu? Sedangkan dirimu terlalu sering mengacuhkanku.” Cibir yoojin ke arah jongwoon. Yoojin mengembuskan nafas pelan. Setelah memastikan tidak ada sesuatu yang mengikat tubuh jongwoon. Yoojin menarik selimut diatas ranjang itu. Dan menutupi tubuh jongwoon sebatas dada.

Dengan langkah perlahan, agar jongwoon tak terbangun, yoojin berniat keluar dari kamar itu dan masuk kekamarnya disebelah. Tak sampai dua langkah, tiba – tiba jemari jongwoon mencengkram lengannya. Dengan lirih pria itu berkata, “Kajima..” Yoojin mengerutkan keningnya.

Dengan sekali hentakan, jongwoon menarik lengan yoojin hingga gadis itu kini terjatuh di tepi ranjang. Jongwoon melingkarkan tangannya disekeliling pinggang yoojin. Hal itu sontak membuat yoojin tersipu malu. Benarkah ini? Jongwoon memeluknya? Jongwoon tidak ingin dirinya pergi? Yoojin mengulum senyum gembiranya. “Oppa, aku harus ke kamarku. Jika kau butuh apa – apa kau bisa memanggilku disebelah.” Ujar yoojin. Dapat yoojin rasakan jongwoon menggelengkan kepalanya pelan. “Kajima..” ucap jongwoon lagi tepat di belakang telinga yoojin. Seketika itu yoojin merasa ada ribuan kupu – kupu yang terasa menggelitik isi perutnya. Yoojin bersusah payah menelan air liurnya sendiri. “Kajima youngyoo-ya..” ucap jongwoon yang berhasil membuat yoojin mendelikan matanya. Sontak gadis itu bangkit dan melepaskan pelukan jongwoon pada pinggangnya. Tanpa aba – aba lagi, yoojin mendaratkan tamparannya pada pipi kanan jongwoon. Jongwoon yang merasa kesakitan membuka matanya dan terbelalak melihat yoojin tengah berdiri di hadapannya sambil menatapnya sengit. “Aku yoojin! Han Yoojin. Tidak ada youngyoo di sini!” seru yoojin kesal.

Yoojin tahu, harusnya ia tidak mudah terbuai. Jongwoon tidak pernah menganggapnya. Dan sampai sekarang pun pria itu tidak pernah menganggapnya. Air mata itu kembali mengalir dari mata sipit milik yoojin. “Jangan panggil aku jika kau memerlukan apa pun!” bentak yoojin. Jongwoon kaget mendengarnya. Pria itu mencoba bangkit dan menahan lengan yoojin. “Maaf, kukira kau itu youngyoo.” Ucap jongwoon dengan sebelah tangan menahan lengan yoojin dan tangan lainnya memijit kepalanya yang terasa berdenyut – denyut tak karuan.

Yoojin menepis jemari jongwoon di lengannya. Dengan langkah tergesa – gesa, yoojin meninggalkan jongwoon sendiri di kamar hotel tersebut.

*****

“Jika kau berubah pikiran dan ingin pergi dari hidupku. Kau tidak akan bisa melakukannya.” Ucap woobin tiba – tiba. Youngyoo yang kini tengah berada di salah satu kursi ayunan di taman belakang rumahnya terbelalak kaget. Youngyoo tersadar dari lamunannya. Gadis itu sontak menoleh ke arah datangnya suara. Dilihat oleh youngyoo, woobin mulai melangkah mendekatinya. “Bukankah tempo lalu aku sudah memberimu kesempatan satu – satunya agar kau bisa keluar dari hidupku. Namun kau menolaknya. Tidak akan ada kesempatan kedua bagimu, youngie-ya. Kau harus mengingatnya.” Ujar woobin masih melangkah mendekati youngyoo.

Youngyoo menundukan kepalanya ketika mengetahui arah pembicaraan woobin malam ini. “Aku egois dan tidak suka berbagi dengan siapapun. Termasuk berbagi dirimu kepada pria lain. Aku tidak sudi dan tidak akan pernah sudi melakukannya. Jangan biarkan laki – laki manapun menyentuhmu. Apalagi menyakitimu. Karena kau milikku!” seru woobin ketika pria itu tengah berada tepat di hadapan youngyoo. Youngyoo bangkit dari posisi duduknya. Hembusan nafas segar woobin serasa menabrak pori – pori wajahnya. Youngyoo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku tahu itu. Aku juga tidak berniat untuk meminta kesempatan itu lagi. Pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari lagi. Lusa kita akan menikah. Kau pikir aku akan membatalkannya?” tanya youngyoo retoris. Woobin meraih kedua bahu youngyoo. Pria itu membalikkan tubuh youngyoo agar membelakanginya. Woobin melingkarkan tangannya di pinggang youngyoo. Membuat jarak diantara mereka berdua musnah. Tak lama woobin menempatkan dagunya di bahu sang gadis. Woobin menghembuskan nafas di belakang daun telinga youngyoo. Youngyoo meremang karenanya. “Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu padaku saat ini. Atau saat kita menikah nanti. Yang aku tahu, kau bersedia menikahiku. Dan kau tidak bisa menarik perkataanmu lagi.” Ucap woobin pelan namun menekankan setiap kata dalam kalimatnya barusan. Youngyoo terlihat menganggukkan mengiyakan.

“Boleh aku minta sesuatu padamu lagi?” pinta woobin lembut. Youngyoo kembali menganggukkan kepalanya. Woobin terlihat membalikkan tubuh youngyoo kembali menghadapnya. Woobin menatap lekat ke arah manik mata youngyoo. Mencoba mengunci tatapan sang gadis. Youngyoo mengulas segaris senyum tipis di wajahnya. “Katakanlah, apa yang kau pinta?” tanya youngyoo kemudian. “Sebisa mungkin, tolong jangan menangis lagi karena Jongwoon. Aku, tersiksa melihatnya.” Ujar woobin. Youngyoo sempat kaget mendengarnya. Namun gadis itu berusaha menunjukkan ekspresi yang wajar. Gadis itu kembali mengulas senyumnya yang tadi sempat pudar. “Tetaplah disampingku. Jaga aku agar tidak mudah menangis lagi. Bantu aku melupakan bayang – bayang, jongwoon. Aku, memasrahkan hidupku padamu.” Seru youngyoo kemudian. Woobin mengangguk sekilas lalu meraih tubuh youngyoo kedalam dekapannya.

*****

Semenjak kejadian di Seoul 2 hari yang lalu. Kejadian ketika jongwoon mengira yoojin adalah youngyoo. Jongwoon tak pernah melihat yoojin dikantor. Kursinya pun kosong. Jongwoon merasa bingung kemana perginya gadis itu. Ia sudah tak tahu menahu tentang kabar yoojin. Ia ingin bertanya namun terlalu gengsi untuk itu. Menanyakan kabar gadis yang ia sudah usir dari hidupnya? Apa itu tidak terdengar seperti bajingan?

Dengan ragu, jongwoon melangkah menuju meja kerja salah satu teman dekat yoojin. Mereka pasti tahu kabar gadis itu kan? Jongwoon terdengar berdehem pelan. Seseorang yang duduk disana mengalihkan pandangannya dari layar monitornya dan menatap jongwoon. “Eoh jongwoon-ssi, ada yang bisa ku bantu?” tanya gadis yang kini tengah duduk di meja kerjanya itu. “Ah, Mira-ssi, apa kau tahu kenapa 2 hari ini yoojin tidak masuk kantor?” tanya jongwoon kemudian. Wanita yang dipanggil Mira tadi mengangguk lalu menatap aneh ke arah jongwoon. “Sejak kapan kau peduli terhadap anak satu itu?” tanya mira merasa aneh. Jongwoon tersenyum tipis. “Apa aku tidak boleh bertanya tentang kabar rekan kerjaku sendiri?” ucap jongwoon dengan nada retoris.

“Sudah 3 hari ini yoojin sakit. Ia bilang padaku bahwa badannya benar – benar lemas. Kepalanya juga sering pusing. Makanya ia memilih untuk beristirahat di rumah. Terakhir kali ketika aku menjenguknya. Ia terlihat sangat pucat. Persis seperti mayat hidup.” Jelas Mira kemudian. Jongwoon menenggak liurnya getir. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?

“Ia sudah pergi ke dokter?” tanya jongwoon lagi. Mira hanya menggelengkan kepalanya lemah. “Gadis itu, ia memiliki trauma terhadap apapun yang berhubungan dengan medis. Apalagi rumah sakit. Ayahnya dulu meninggal karena sang dokter salah menyuntikan vitamin kedalam tubuh ayahnya. Saat itu, ia menjadi benci terhadap apapun yang berhubungan dengan dunia medis. Dan ia tidak pernah mau masuk kedalam rumah sakit. Makanya aku merasa khawatir kepadanya. Belum lagi ia hanya tinggal di rumah seorang diri.” Ungkap Mira prihatin.

Jongwoon menganggukan kepalanya paham. Terbesit rasa khawatir yang melanda batin jongwoon kini. Mira terdengar mendesah berat. “Yoojin, gadis itu. Terlihat tanpa beban di luar. Namun ketika kau sudah dekat dengannya. Kau akan mengetahui bagaimana kerasnya hidup yang sudah ia jalani.” Mira kembali membuka mulutnya. “Gadis itu tidak pernah bertemu dengan ibunya sedari kecil. Saat ia dilahirkan. Ibunya meninggalkannya dan ayahnya demi orang lain yang lebih kaya. Selama ini ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Namun, lima tahun terakhir, ayahnya divonis mengidap kanker otak. Hal itu membuat yoojin banting tulang demi membiaya hidupnya dan hidup ayahnya. Sampai akhirnya tiga tahun kemudian, ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Ini benar – benar membuatnya frustasi. Namun hebatnya, ia bisa bangkit lagi dan menjadi wanita seperti sekarang. Periang dan nampak tak pernah mengecap pahitnya hidup. Aku benar – benar salut pada gadis itu. Gadis itu, hanya ada 1 diantara 100 orang di dunia. Kuyakin kau akan menyesal jika menyia-yiakannya.” Tutur Mira.

“Dan aku baru melihatnya menangis lagi ketika ia menceritakan tentang dirimu dihadapanku. Yoojin tidak pernah menangis karena pria manapun kecuali ayahnya. Ia benar – benar gadis yang kuat. Namun ketika sudah berbicara tentang dirimu. Ia nampak rapuh dan lemah.” Ungkap Mira. “Bukankah cinta berasal dari kebiasaan? Kenapa kau tidak bisa menerimanya dan terbiasa dengan kehadirannya di hidupmu? Aku sudah banyak mendengar tentang kalian dari yoojin. Tentangmu, tentang youngyoo, tentang yoojin. Aku sudah mendengarnya. Kuyakin, kau bisa bangkit dari keterpurukan masa lalumu. Dan kurasa, kau butuh yoojin untuk itu.” Ucap Mira lagi. Mira terlihat bangkit dari posisi duduknya. Ia menepuk pelan bahu kanan jongwoon. “Aku haus. Kurasa aku akan ke pantry untuk membuat minuman. Apa kau ingin kubuatkan sesuatu juga?” tawar Mira sopan. Jongwoon tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Terima kasih. Hm, Mira-ssi bisakah kau mengantarku ke rumah yoojin sepulang kerja nanti?” tanya jongwoon. Mira terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk sebagai tanda setuju.

*****

Dengan langkah ragu. Jongwoon memasuki rumah yang memilik pagar berwarna merah marun itu. Jongwoon didera kebingungan tentang darimana ia harus memulai obrolan dengan yoojin nanti. Apakah yoojin sakit karena perlakuannya selama ini? Mungkinkah gadis itu tertekan selama ini? Jongwoon menekan bel rumah yoojin. Lalu menatap interkom yang terpasang disana.

Yoojin yang merasa kedatangan tamu, sontak keluar dari kamarnya. Dengan langkah gontai, gadis itu menggapai layar interkom rumahnya. Matanya terbelalak kaget  ketika menatap wajah jongwoon di layar interkom rumahnya. Mau apa pria itu datang kemari?

Yoojin membalik badannya hingga bersandar pada tembok rumahnya. Gadis itu membelakangi layar interkom rumahnya. Ia merasa tak ingin berhubungan dengan jongwoon sekarang ini. Dan mungkin untuk beberapa hari kedepan. Atau selamanya, entahlah. “Yoojin-ah, aku tahu kau ada didalam sana. Kumohon buka pintunya.” Pinta jongwoon terdengar seperti memelas.

Yoojin tetap membelakangi layar interkomnya. Gadis itu menghela nafas panjang. Menimbang – nimbang tentang apa yang sebaiknya ia lakukan disaat seperti ini. Bertemu dengan jongwoon? Sungguh ia merindukan pria itu. Atau mengabaikan jongwoon? Ia harus melupakan pria itu bukan? Yoojin merasa ada ribuan  jarum yang bekerja sama menusuk – nusuk kepalanya. Kepalanya kini berdenyut tak karuan lagi.

“Untuk apa kau datang kesini?” tanya yoojin akhirnya. Merasa penasaran dengan maksud dan tujuan jongwoon mendatangi rumahnya. Mungkin saja karena masalah pekerjaan atau mungkin karena keinginan pria itu untuk menjenguknya. Sepertinya option pertama lebih masuk akal. Yoojin mendesah pasrah. Akhirnya ia kalah, ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tetap mengabaikan jongwoon.

Jongwoon menghela nafas panjang lalu tersenyum senang karena yoojin akhirnya menjawab semua ucapannya. “Aku ingin menjengukmu, apa itu salah?” ujar jongwoon. Yoojin dibuat tercekat karenanya. Ia merasa tubuhnya limbung. Yoojin mencengkram knop pintu rumahnya. Mencoba menopang tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai. “Apa yang kau makan semalam? Atau kepalamu terbentur sehingga peduli padaku?” ejek yoojin pada jongwoon. Jongwoon terdengar mendesah pasrah mendengar ucapan yoojin.

“Aku tahu, kau masih marah padaku. Dan aku tahu, selama ini aku selalu berlaku dingin padamu. Aku minta maaf karena itu. Aku hanya ingin youngyoo kembali padaku. Jadi, aku tidak ingin seorang gadis pun mendekatiku kecuali youngyoo. Namuna sekarang, kurasa aku sudah salah. Youngyoo telah memilih jalannya sendiri. Kau benar, aku tidak bisa selamanya berharap padanya. Aku minta maaf karena telah melukai perasaanmu selama ini.” tutur jongwoon. “Kau masih tidak mau membukakan pintu untukku?” tanya jongwoon kemudian. “Tidak.” Balas yoojin ketus. “Oh baiklah, aku tahu aku memang keterlaluan padamu. Aku tahu selama ini aku tidak bisa disebut sebagai seorang laki – laki. Aku terlalu takut untuk bangkit dari mimpi masa laluku yang indah. Namun kini, mimpi itu sudah berakhir. Apa kau tidak berniat untuk menjadi tokoh utama dari mimpiku berikutnya?” tanya jongwoon dengan nada serius. Yoojin dibuat mengerutkan keningnya bingung. “Maksudmu apa??” tanya yoojin tak mengerti. “Apa kau masih mau menerimaku jika aku mengatakan akan belajar mencintaimu dan melupakan youngyoo? Apa kau mau memaafkanku dan membantuku melupakan youngyoo? Aku butuh bantuanmu untuk keluar dari masa laluku.” Jelas jongwoon.

Yoojin mendengus. “Geotjimal!” tukasnya kemudian. “Aku tidak sedang mempermainkanmu kali ini. aku serius. Apa tidak ada kesempatan kedua untukku? Bukankah cinta berawal dari kebiasaan? Aku ingin mengubah kebiasaanku. Aku ingin terbiasa hidup tanpa youngyoo dan terbiasa hidup denganmu. Maukah kau menerimaku sebagai orang yang kau cintai? Maukah kau untuk menjadi orang yang aku cintai?” tanya jongwoon lagi. Yoojin merasa tenggorokannya kering sekedar untuk berkata, “Ya” pada jongwoon. Dengan payah yoojin menelan liurnya. Ada rasa geli yang menggelitiknya kini. Bahagia meluap. Benarkah apa yang ia dengar dari mulut jongwoon malam ini? Apa pria itu tidak sedang mabuk seperti kemarin malam?

“Lusa adalah acara pernikahan youngyoo dan woobin. Bagaimana jika kita pergi bersama kesana?” tawar jongwoon. Tak terdengar sahutan dari dalam rumah yoojin. Yoojin masih kaget akibat pernyataan jongwoon sebelumnya. Yoojin masih belum menyadari apa yang kini telah mengelilingi hidupnya. Cintanya berbalas? Apa ini maksud Tuhan membuatnya tetap menunggu jongwoon? Karena pria itu akan mengubah pemikirannya tentang yoojin. Karena pria itu akan mengubah perasaannya terhadap yoojin. Terima kasih Tuhan!

“Pulanglah, hari sudah cukup malam. Kau tahu jalan pulang ke rumahmu kan?” ucap yoojin setelah menemukan kembali pita suaranya yang tadi sempat lenyap. Jongwoon mendesah berat. Merasa enggan untuk meninggalkan area rumah yoojin sebelum melihat wajah gadis itu. “Aku tidak akan pulang. Aku akan di sini sampai kau keluar dan berkata padaku bahwa kau memaafkanku.” Ucap jongwoon. Yoojin menghela nafas panjang. Merasa penasaran apakah jongwoon benar – benar akan melakukan hal itu demi mendapatkan kata maafnya?

“Kalau begitu, lakukanlah yang kau mau. Aku tidak melarangmu.” Ucap yoojin masih terdengar ketus. “Aku mengantuk.” Lanjut gadis itu. Sesaat sebelum melangkahkan kaki menuju kamarnya, ia kembali menatap layar interkomnya. Dilihat olehnya jongwoon merapatkan jaket yang ia kenankan. Menahan terpaan angin malam yang serasa menusuk tulang. Sampai kapan pria itu akan bertahan diluar sana? Yoojin penasaraan akan hal itu.

*****

Yoojin terbangun ketika mendengar bunyi petir yang cukup memekakan telinganya. Yoojin merapatkan selimutnya begitu merasakan udara disekitarnya terasa sangat dingin. Bunyi ribuan air hujan yang menabrak genting rumah yoojin terdengar bagaikan sebuah melodi. Yoojin termenung sesaat sebelum akhirnya sadar bahwa jongwoon berniat menunggunya di luar rumah. Apa pria itu masih disana? Malam ini hujan turun dengan deras. Petir juga saling menyambar. Bukankah tak mungkin jika jongwoon masih diluar sana? Pasti pria itu sudah pulang ke rumahnya.

Yoojin berniat kembali melanjutkan tidurnya sebelum petir itu menyambar lagi. Yoojin mencengkram selimutnya kuat – kuat menahan rasa takutnya akibat petir yang seakan tak ada hentinya menyambar. Yoojin turun dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela kamarnya. Perlahan ia membuka gorden jendelanya. Dengan mata menyipit tak percaya. Yoojin menangkap sosok jongwoon sedang menggigil dibawah sana. Yoojin mengerutkan keningnya. Apa pria itu gila tetap bertahan disaat hujan mengguyur seperti ini? Pria itu benar – benar!

Yoojin menyambar payung diguci kamarnya dengan tangan kanannya. Tak lupa ia mengambil mantel coklat yang tersampir di kamarnya. Dengan langkah terburu – buru gadis itu menuruni anak tangga rumahnya. Dengan gerakan cepat, yoojin membuka pintu rumahnya dan menghampiri jongwoon yang kini terlihat pucat dengan tubuh basah kuyup.

“Apa kau gila, hah?! Aku kan sudah bilang kau pulang saja. Tidak usah melakukan hal bodoh seperti ini.” bentak yoojin. Gadis itu menyerahkan sebuah payung untuk jongwoon. Jongwoon tersenyum menerimanya. “Akhirnya kau keluar juga. Aku sudah lelah menunggumu sedari tadi.” Ujar jongwoon dengan suara serak. “Siapa yang menyuruhmu menungguku, huh?” cecar yoojin. Lagi – lagi jongwoon hanya tersenyum dengan bibir pucatnya. Terlihat jelas badan pria itu menggigil hebat. Dengan kedua tangannya ia merapatkan jaket yang ia pakai.

Yoojin merasa kasihan melihat pria itu. Mengapa juga jongwoon harus menunggunya disaat hujan turun seperti ini? “Pulanglah.” Titah yoojin singkat. “Apa kau sudah memaafkanku? Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu.” Tanya jongwoon kemudian. Yoojin menghela nafas panjang. “Aku sudah memaafkanmu. Sial ya, aku tidak bisa marah denganmu lama – lama. Ini menyebalkan.” Ungkap yoojin. Jongwoon tersenyum lalu mengangguk.

Jongwoon membuka lebar payung yang diberikan yoojin. Pria itu tersenyum sesaat sebelum membalikan badannya untuk kembali ke rumahnya. Baru dua langkah, jongwoon berhenti. Pria itu merasakan sekitarnya berputar. Kepalanya terasa sangat berat. Badannya menggigil hebat. Yoojin mengerutkan keningnya begitu melihat jongwoon menghentikan langkahnya. Yoojin melangkah mendekati jongwoon yang tiba – tiba saja terdiam di tempatnya. “Kau kenapa?” tanya yoojin bingung. Ada nada khawatir yang tersalurkan dalam kalimatnya tadi.

Jongwoon tak menjawab. Pria itu nampak memijit kepalanya yang terasa berdenyut – denyut. Tak lama keseimbangan pria itu limbung. Jongwoon tak lagi mampu menopang berat badannya sendiri. Jongwoon ambruk dengan posisi kepala berada di bahu yoojin. Yoojin yang panik dan kewalahan menahan berat badan jongwoon sontak melepas payung yang sedari tadi ia genggam. Badannya kini ikut basah seperti jongwoon. Yoojin mendekap jongwoon dalam dekapannya. Gadis itu menyampirkan sebelah lengan jongwoon pada bahunya agar memudahkannya membopong jongwoon masuk kedalam rumahnya. Tangan yoojin melingkar di pinggang jongwoon. Cukup sulit untuk membopong tubuh jongwoon dalam keadaan hujan mengguyur seperti saat ini.

Yoojin menghempaskan tubuh jongwoon begitu saja disofa ruang tamunya. Ia kini harus merelakan sofanya basah karena tubuh jongwoon yang kuyup itu. Yoojin mendudukan dirinya disofa lain yang terletak tak jauh dari jongwoon. Gadis itu mencoba menormalkan deru nafasnya yang memburu akibat kelelahan membopong jongwoon ke dalam rumahnya sendirian. Walaupun jarak antara tempat jongwoon pingsan dan sofa ini tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja, ia itu perempuan. Sedangkan jongwoon laki – laki, tentu saja berat badan pria itu jauh melebihi dirinya yang memang memiliki perawakan kecil mungil.

“Kau itu, selalu saja menyusahkanku. Anehnya aku tidak pernah merasa terganggu karenanya.” Ujar yoojin diiringi helaan nafas panjang darinya. Yoojin mengguncangkan tubuh jongwoon perlahan. Berharap jongwoon akan terbangun dan dirinya tidak perlu memanggil seorang tenaga medis kerumahnya. Karena sungguh, ia membenci semua yang berhubungan dengan medis. Semacam trauma. Seperti itulah.

Yoojin menggigit kuku jarinya bingung. “Aigo, oppa, ireona! Ireonaseyo oppa.” Ucap yoojin sembari terus mengguncangkan tubuh jongwoon. Yoojin meraih ponselnya yang ia letakan di atas meja. Dengan cepat, ia menekan beberapa kombinasi nomor agar menghubungkannya dengan Mira. Temannya yang sangat ia percayai sedari dulu.

“Yeoboseyo..” terdengar suara Mira dari seberang sana. Suara itu terdengar serak. Sepertinya Mira harus merelakan waktu tidurnya diganggu oleh yoojin malam ini. “Mira-ya, jongwoon pingsan dirumahku. Apa yang harus aku lakukan?” tanya yoojin langsung tanpa mau berbasa – basi terlebih dahulu. “Mwoo?? Bagaimana bisa ia masih berada di rumahmu? Ini sudah malam Jinnie-ya.” Tanya mira kaget mengetahui jongwoon masih berada di rumah temannya itu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu malam.

“Panjang ceritanya. Besok akan aku ceritakan padamu. Yang jelas, aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang Mira-ya.” Ucap yoojin gelisah. “Kenapa ia bisa sampai pingsan?” tanya Mira kemudian. Yoojin menggigit bibir bawahnya. “Ia memaksa ingin bertemu denganku. Namun aku menolaknya. Dan ia bersikukuh untuk menunggu di depan rumahku hingga aku mau keluar dan menemuinya. Ternyata hujan turun, dan ia masih tetap berdiri di depan rumahku. Ia kehujanan. Badannya mengigil hebat tadi.” Jelas yoojin. Berusaha menggambarkan kondisi jongwoon sekarang.

“Coba saja kau kompres keningnya dengan air hangat. Gantikan pakaiannya juga. Kalau tidak ia akan masuk angin.” Ucap Mira dari ujung sana. Yoojin sontak membelalakkan matanya ketika Mira menyuruhnya untuk menggantikan pakaian jongwoon. “Kau pikir aku gila menggantikan pakaiannya? Kalau dia salah paham bagaimana?” protes yoojin. “Kalau begitu, tutupi saja tubuhnya dengan selimut. Pastikan penghangat ruanganmu terpasang dengan baik.” Ucap Mira akhirnya. “Beri dia teh hangat ketika ia sudah sadar.” Lanjut Mira. Yoojin mengangguk paham. “Eoh, baiklah. Terima kasih Mira-ya.” Ucap yoojin sesaat sebelum memutus sambungan teleponnya dengan Mira.

Yoojin bangkit dari posisinya. Ia mondar – mandir mencari barang – barang yang tadi disebutkan Mira di telepon. Ia sempat kebingungan. Namun semua itu bisa ia atasi sendiri. Yoojin kembali duduk disamping jongwoon dengan sebaskom air hangat ditangannya. Gadis itu memeras handuk yang tadi ia rendam di air hangat yang berada di baskom tersebut. Lalu meletakan handuk itu di kening jongwoon. Gadis itu melakukannya berulang – ulang. Hingga air di baskon itu berubah menjadi dingin. Gadis itu kemudian mengganti lagi air yang sudah dingin dibaskom itu dengan air hangat baru.

Terus saja seperti itu. Yoojin berjaga sepanjang malam. Bersiaga jika jongwoon sadar dan membutuhkan sesuatu. Namun yoojin juga manusia. Ia yang kondisinya masih mengantuk tertidur pulas begitu saja dengan kepala ia sandarkan pada sandaran sofa. Gadis itu duduk di ujung sofa tempat jongwoon tidur.

*****

Matahari serasa menembus retina mata jongwoon. Jongwoon mengerjapkan matanya beberapa kali menerima rangsangan cahaya matahari pagi itu. Perlahan jongwoon membuka matanya. Ia melihat kesekelilingnya. Tempat yang begitu asing baginya. Ia tidak mengetahui dimana ia sekarang ini. Yang ia ingat semalam ia menunggu yoojin di dalam derasnya hujan. Lalu setelah itu, ia tidak ingat lagi. Tiba – tiba kepalanya terasa pusing ketika ia mencoba mengingat apa yang ia lakukan semalam. Dan dimana ia sekarang. Jongwoon melihat sebuah handuk dan sepasang pakaian di atas meja. Pakaian itu terlihat sudah tua namun tetap nampak bagus. Hanya modelnya saja yang kuno.

“Karenamu aku harus ijin tidak masuk kerja lagi hari ini.” ucap seorang wanita yang sangat familiar di telinga jongwoon. Jongwoon sontak menoleh mendengarnya. Matanya membulat melihat yoojin sedang berjalan ke arahnya dengan sebuah nampan berisi mangkuk dan gelas. Entah apa yang ada di dalam mangkuk itu. Jongwoon juga tidak mengetahuinya.

“Semalam kau pingsan.” Jelas yoojin singkat. “Jadi aku membopongmu ke dalam rumahku.” Lanjutnya. Jongwoon bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk disofa tempatnya berbaring tadi. “Terima kasih karena masih peduli denganku.” Ucap jongwoon tulus. Yoojin hanya berdehem pelan membalasnya. “Ini, aku buatkan sup kentang untukmu. Sebaiknya kau mandi dulu dan ganti pakaianmu itu. Aku sudah menyiapkan air hangat jika kau ingin mandi sekarang. Dan itu, ada pakaian milik ayahku dulu dan handuk, pakai saja itu untuk sementara.” Tutur yoojin kemudian. Jongwoon menganggukan kepalanya sembari tersenyum.

Jongwoon menggigit bibir bawahnya nampak ragu ingin mengatakan sesuatu. Yoojin yang menangkap gelagat aneh  jongwoon lansung bertanya pada pria itu. “Ada apa?” tanya gadis itu. “Mengenai perkataanku semalam.” Ucap jongwoon ragu. “Perkataan yang mana?” tanya yoojin bingung. “Maukah kau menjadi orang yang kucintai? Tolong beri aku kesempatan untuk belajar mencintaimu. Beri aku kesempatan untuk membalas perasaanmu padaku karena aku telah membuatmu jatuh cinta padaku.” ungkap jongwoon kemudian. Yoojin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Semburat merah padam kini kentara menghiasi pipinya.

*****

Dentang lonceng gereja terus saja menggema. Para tamu undangan pun mulai banyak yang berdatangan. Dengan tangan gemetar, youngyoo memperhatikan pantulan dirinya di cermin besar yang ada di depannya. Acara pernikahannya akan berlangsung kurang dari satu jam lagi. Ia hanya tinggal menunggu pamannya datang dan membawanya ke altar. Dimana calon suaminya sudah menunggu disana.

Youngyoo menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Mengusir rasa gugup yang kini bertubi – tubi menyerangnya. Apakah setiap orang yang ingin menikah merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan kali ini? Youngyoo meraih ponselnya. Ia membuka galeri foto di sana. Ia memperhatikan setiap potret dirinya dan kedua orang tuanya. Andai saja kedua orang tuanya ada di sini. Pasti keduanya akan merasa senang karena akhirnya ia menikah dengan woobin. Pria yang sangat dibanggakan oleh ibunya semenjak dulu. Youngyoo tersenyum mengingat moment itu. Moment ketika ia merasa jengah karena ibunya selalu mengelu – elukan woobin di hadapannya.

“Eomma, appa, aku merindukan kalian.” Gumam youngyoo pelan. Youngyoo mengusap air matanya yang hampir meleleh dari mata kanannya. Ia tidak boleh menangis. Youngyoo berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak menangis. Ini hari bahagianya. Ia harus merasa bahagia hari ini. Bukan malah menangis.

Tak lama pintu ruang tunggu berderit membuka. Youngyoo sontak menoleh ke arah pintu itu. Dilihat olehnya seorang pria dengan pakain formal tersenyum kearahnya. Pria itu berjalan perlahan menghampirinya.

“Jongwoon oppa.” Seru youngyoo parau. Sekarang ini youngyoo berharap dirinya kehabisan stok air mata sehingga tidak akan menangis di hadapan jongwoon lagi. Kini jongwoon sudah berdiri tegak dihadapannya. Youngyoo bangkit dari posisi duduknya dan menatap jongwoon. Dilihat olehnya jongwoon tersenyum.

“Kau cantik sekali hari ini, sungguh.” Puji jongwoon kemudian. Youngyoo mengulas senyum tipis di wajahnya. “Semoga kau dan woobin akan selalu bahagia. Aku turut senang melihatmu akan menikah seperti ini. aku akan mencoba melupakanmu dan memulai hidupku dengan yoojin. Semoga nantinya anak – anak kita bisa berteman. Dan mungkin saja mereka akan menikah menggantikan kita yang tidak jadi menikah haha..” canda jongwoon diakhiri dengan tawa hambar yang keluar dari bibirnya. “Selamat menjalani hidupmu yang baru dengannya. Aku akan belajar untuk merelakanmu untuknya. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap jongwoon lagi. Youngyoo terlihat tersenyum mendengarnya.

“Kurasa aku terlalu lancang menemui terlebih dahulu daripada suamimu, ya kan? Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku akan menetap di Maehwa untuk waktu yang lama. Jadi mungkin kita akan jarang bertemu. Aku akan merindukanmu, yoo-ya.” Ucap jongwoon sebelum melesat keluar dari ruang tunggu. Youngyoo kembali menjatuhkan dirinya di atas kursi lagi. Air matanya tak tertahankan lagi. Mereka kembali mengalir mengotori make up tipis yang sudah sejak pagi ia siapkan. “Aku tidak boleh menangis, tidak boleh.” Gumam youngyoo menguatkan dirinya sendiri.

Tak lama pintu kembali berderit membuka. Youngyoo mematut dirinya di cermin besar itu. Ia mengoleskan sapuan tipis bedak diwajahnya. Berusaha agar air mata yang tadi membasahi pipinya tidak terlihat. Youngyoo menangkap sosok pamannya di sana. Dengan langkah tetap sang paman berjalan ke arahnya.

“Aku gugup ahjussi,” ungkap youngyoo jujur. Pamannya menghela nafas panjang. “Aku tahu itu, dulu, saat bibimu ingin menikah denganku. Ia juga merasakan hal yang sama. Dan aku pun tidak kalah gugupnya dari bibimu saat itu. Semua orang yang akan menikah, pasti merasakan hal itu apalagi saat mereka disandingkan diatas altar. Tapi sebisa mungkin, yakinlah pada dirimu sendiri. Yakinlah pada pria pilihanmu sendiri, calon suamimu.” Ucap sang paman bijak. Berusaha memberikan pengertian kepada keponakannya itu. “Kau sudah siap?” tanya sang paman kemudian. “Para tamu sudah berdatangan. Kita tidak mungkin membiarkan mereka menungggu terlalu lama.” Lanjutnya. Youngyoo mengangguk seraya mengapitkan tangannya di lengan sang paman. Dengan perlahan keduanya berjalan memasuki altar gereja.

*****

Woobin nampak tak berkedip menatap calon istrinya diujung sana. Gaun putih dengan ekor gaun yang panjang seolah menambah pesona youngyoo yang sudah bisa dibilang luar biasa oleh woobin. Dilihat oleh woobin paman youngyoo terus saja mengusap matanya. Sepertinya orang tua itu menangis. Namun tak ingin jika youngyoo melihat air matanya. Di depan calon istrinya terdapat sepasang anak kecil. Laki – laki dan perempuan yang sedang asyik menaburkan bunga disepanjang altar gereja.

Dengan langkah perlahan nan anggun. Youngyoo semakin berjalan mendekati woobin. Seketika woobin merasa jantungnya akan lari dari sarangnya. Kegembiraan meluap terasa membuncah didadanya. Wanita yang ia harapkan kini akan menjadi miliknya. Tak lama lagi. Hanya menunggu hitungan menit saja.

Paman youngyoo meraih jemari youngyoo perlahan, lalu menyerahkan jemari itu pada woobin yang sedari tadi sudah menunggu. Woobin tersenyum sekilas melihat youngyoo. “Jaga youngyoo baik – baik, kumohon.” Pinta sang paman sopan. Sang paman lagi – lagi mengusap air mata yang memenuhi pelupuk matanya. “Aku akan melakukannya dengan senang hati. Ahjussi tidak perlu khawatir.” Ucap woobin.

“Baik, apakah upacara janji suci sudah bisa kita laksanakan?” tanya sang pastor kepada kedua mempelai. Keduanya menganggukan kepalanya.

*****

Dikursi tamu, jongwoon terlihat mengepalkan tangannya keras. Menahan rasa sakit yang serasa menusuk tulang sendinya. Siapa yang bisa tahan melihat wanita yang –masih- mereka cintai menikah dengan laki – laki lain? Jongwoon bukanlah dewa yang bisa menahan air matanya dan menyembunyikan emosinya dengan rapih. Yoojin yang melihat perubahan raut wajah jongwoon saat youngyoo berada di atas altar mencoba mencairkan suasana. Yoojin meraih jemari jongwoon perlahan.

“Kau tidak apa? Haruskah kita keluar dari sini?” tawar yoojin yang hanya dijawab oleh gelengan kepala jongwoon. Yoojin merasa sesak yang luar biasa. Ia masih harus banyak bersabar hingga jongwoon benar – benar bisa melupakan youngyoo, cinta pertamanya yang membekas itu. “Biarkan aku merasakan ini untuk terakhir kalinya. Setelah ini, aku akan belajar untuk tidak tersakiti lagi karenanya. Dan aku akan belajar untuk mencintaimu seutuhnya.” Ucap jongwoon kemudian. Jongwoon terlihat mengulas senyum lalu kembali menatap sosok youngyoo dan woobin diatas altar sana.

Cinta tak harus selalu memiliki. Cinta tak harus selalu berbalas. Cinta adalah sebuah ketulusan. Keikhlasan. Bukan sebuah keegoisan. Cinta yang sesungguhnya adalah ketika kau bahagia melihat orang yang kau cinta bahagia meski bukan dengan dirimu ia merasa bahagia

-THE END-

EPILOG

4 years ago

“Anakku menghilang. Tolong cari dia ahjussi, kumohon.” Pinta seorang wanita pada seorang penjaga keamanan disebuah toko swalayan. Wanita itu kini tengah kebingung mencari keberadaan anak laki – lakinya. Anaknya baru saja berumur 4 tahun. Jelas saja jika ia begitu mengkhawatirkan kemana perginya anak itu. Wanita itu terlihat mengalirkan segerombolan airmata dari kedua matanya. Ia tidak mau kehilangan anaknya. Ia tidak mau merasakan kehilangan lagi. Cukup banyak kehilangan yang ia rasakan. Ia tidak ingin merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya.

“Lebih baik kita ke meja informasi. Kita informasikan anak ibu disana. Mari ikut saya.” Ajak penjaga itu kemudian. Wanita yang menjadi lawan bicaranya hanya mengangguk lalu mengikuti langkah sang penjaga itu. Tak lama setelah wanita dibalik meja informasi itu menginformasikan kehilangan anak. Dari kejauhan, wanita yang kehilangan anaknya tadi melihat sosok anaknya berjalan ke arahnya.

“Eoh itu anakku, woohyun. Kim woohyun.” Panggil wanita itu pada anaknya. Bocah laki – laki kecil itu tersenyum ketika ibunya memeluknya erat dan mencium keningnya. “Kau ini membuat eomma cemas, kau tahu? Kemana saja kau?” cecar sang ibu. Lagi – lagi bocah itu hanya menunjukan cengirannya. “Aku bermain bersama ahjussi itu,” ucap sang anak polos sambil menunjuk sosok seorang pria dengan tinggi semampai dibelakangnya. “Ia membelikanku lolipop ini saat aku menangis karena tidak menemukan eomma disampingku.” Aku bocah itu. Sang ibu sontak menoleh kearah sosok yang ditunjuk anaknya.

Mata sang ibu membulat tatkala melihat wajah orang yang telah mengantarkan anaknya itu. “Jongwoon oppa?” seru youngyoo tak percaya. Sosok di depannya ini benar – benar jongwoon? Apa ini hanyalah ilusinya? Tak berbeda dengan ibu dari bocah tadi. Pria yang menolong bocah itu pun sama terkejutnya. “Youngyoo-ya, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini. Hidup ini begitu mengejutkan.” Ungkap pria bernama jongwoon itu. “Dia, anakmu dengan woobin?” tanya jongwoon sembari menunjuk bocah kecil tadi dengan ujung dagunya. Youngyoo hanya mengangguk. “Dia tampan seperti ayahnya.” Puji jongwoon kemudian.

“Eomma, eomma,” panggil bocah bernama woohyun tadi. Sang ibu sontak menoleh ke arah anaknya. “Ada apa sayang?” tanya sang ibu kemudian. “Boleh kan jika aku mengajak ahjussi itu untuk merayakan ulang tahunku di rumah hari ini? Dia sangat baik padaku. aku ingin bermain dengannya lebih lama. Bolehkan eomma?” pinta anaknya. Sang ibu terlihat ragu untuk menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya. Bingung akan menjawab dengan apa. Hingga akhirnya sebuah anggukan berhasil membuat bocah itu melompat kegirangan.

Bocah laki – laki itu mengapit kedua tangannya diantara lengan jongwoon dan youngyoo –ibunya-. Tak lama ia menarik kedua orang besar itu untuk berjalan keluar swalayan itu dan pergi ke rumahnya. “Aku senang bisa berjalan ditengah orang yang kusayangi seperti ini. Seperti teman – temanku yang lain. Mereka sering sekali berjalan bersama ditengah kedua orang tuanya. Akhirnya aku merasakannya juga,” ungkap bocah laki – laki itu yang disambut oleh kerutan kening dalam oleh jongwoon. Youngyoo mengalihkan tatapannya ke arah lain. Menghindari jongwoon yang sepertinya menuntut penjelasan lebih tentang perkataan anaknya barusan. “Dia hanya anak kecil tidak usah terlalu dipikirkan.” Ucap youngyoo mencoba meyakinkan.

-FINISHED-

Ada yang mengkerut keningnya abis baca epilog ini? Aku mau tanya pendapat kalian kalau aku buat sequel gimana? Contekan (?) sequel udh aku kasih tuh diatas. Tapi klo gak ada yang respon ya aku gak jadi buat sequel hihi..

Akhirnya! Selesai sudah janjiku padamu widya eonni -3-

Aku sudah buatin fanfict ini untuk kamu. Dan endingnya juga sesuai yang kamu mau. Sad Ending kan ya? Haha.. Well, gimana pendapatan kalian tentang fanfict ini? Pasti masih banyak kekurangan disana  sini dong. Krn aku sendiri masih dalam tahap pembelajaran untuk menjadi penulis yang sesungguhnya. Kritik dan saran yang membangun sangat aku harapkan. Terima kasih atas perhatian kalian selama ini. Sampai bertemu di fanfict lainnya.

2 thoughts on “DARK SHADOWS [Chapter 6 – END]

  1. Endingnya baguuuuuuusss ! Ayo bikin sequelnya,aku bingung itu woobin nya kemana?kok anaknya ngomong gitu sih?kening aku bener-bener mengkerut haha tapi kalo bisa jangan ada cerita sedih buat Woobin ya😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s