HOLD MY HAND 내손을잡아 [Chapter 1]

Title         :  HOLD MY HAND  내손을잡아[Chapter 1]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Park Eunhyo (OC)
  • Kim Namjoon (Rap Monster BTS)
  • Find other cast by urself

Genre       : Romance, School life.

Rate         : PG 15

Length     : Twoshoot (90. 926 characters with spaces)

NB      : Hey, aku datang kembali membawa fanfict baru. Semoga kalian suka. Dan perhatian disini pasti banyak typo karena blm aku revisi jadi diharap maklum –v. Dilarang untuk menjiplak karya ini atau mem-publish ulang karya ini tanpa seijin dan sepengetahuan saya selaku author asli. Hargai para author fanfict dengan respon kalian yg baik. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan untuk membuat fanfict ini lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih dan selama membaca🙂

hold my hand

Aku butuh sandaran. Sekuat apapun aku bertahan jika aku terus di tempa tanpa memiliki sandaran, aku akan terjatuh juga. Aku bukanlah sebuah robot yang tak punya hati. Aku marah ketika mereka menghinaku. Aku sakit ketika mereka memandang rendah ke arahku. Namun apa yang bisa aku lakukan? Diam dan menahan amarah adalah satu – satunya hal yang bisa kulakukan. Aku senang kau hadir. Aku senang kau bisa menjadi sandaran bagiku. Tetap pegang tenganku seperti ini. Jangan pernah menghempaskanku ke lembah yang tidak ingin kumasuki. Kumohon. –Eunhyo Park-

“Boleh aku duduk disebelahmu?” tanya seorang pria tampan dengan nada sopan. Seorang gadis yang menjadi lawan bicaranya terlihat mendongakan kepalanya menatap wajah pria tersebut. Gadis itu melemparkan pandangan tak suka ke arah sang pria. “Apa tidak ada tempat lain?” tanya gadis itu balik. Sang pria terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kelas. Namun hanya kursi di sebelah gadis itu yang masih kosong. “Coba kau lihat sendiri, apa ada tempat kosong lagi?” sindir sang pria. Gadis yang menjadi lawan bicaranya terdengar menghela nafas panjang. Gadis itu berdecak sebal sebelum akhirnya ia mengambil tasnya di kursi yang berada di sebelahnya. Mempersilakan pria itu untuk duduk di sampingnya.

“Namjoon oppa, kau bisa duduk bersamaku! Jangan bersamanya, dia itu aneh!” celetuk salah satu murid perempuan di kelas tersebut. Pria bernama Kim namjoon itu terlihat menoleh ke arah gadis di sebelahnya. Gadis dengan rambut ikal berwarna agak kemerahan. Entah bagaimana, pria itu merasa manik mata milik sang gadis terlalu menarik baginya. Manik mata itu begitu teduh. Bahkan ketika gadis itu sempat mendelikan mata ke arahnya. Pria itu tetap merasa mata sang gadis membuatnya merasa kenyamanan yang luar biasa. Padahal ini adalah hari pertama mereka bertemu. Baru beberapa menit. Apakah itu logis untuk berkata bahwa, gadis disampingnya kini telah menarik hatinya?

Gadis di samping namjoon terlihat membuang pandangannya. Gadis itu terlihat membolak – balikan halaman bukunya. Nampak tak berniat untuk menanggapi celetukan murid perempuan tadi. Pria bernama Kim namjoon itu mengangkat sebelah alisnya. Nampak bingung dengan ekspresi datar yang dikeluarkan gadis di sampingnya. Mungkin gadis itu bukan tipe orang yang suka membesar-besarkan sebuah masalah. Jadi dia lebih memilih diam ketika ada yang menghinanya. Diam bukan selamanya berarti takut kan? Namjoon menengguk liurnya canggung.

Pria itu kemudian melebarkan kedua sudut bibirnya, mencoba tersenyum ramah ke arah murid perempuan tersebut. “Aniya, kursi disebelahmu kan tidak kosong. Lebih baik aku disini.” Ucap namjoon lalu menoleh ke arah gadis di sampingnya. “Aku bisa mengusir dia dari kursi ini jika perlu.” Ucap murid perempuan itu lagi. Sontak teman sebangkunya pun mendelikan matanya tajam. “Yak! Lalu aku mau duduk dimana?” protes temannya tersebut. “Duduk saja di samping gadis aneh itu!” “Sudah, aku baik – baik saja. Tidak usah diributkan.” Ucap namjoon berusaha memelankan suaranya agar tidak menganggu pelajaran yang kini tengah berlangsung. Kedua gadis yang tadi –hampir- bertengkar itu akhirnya mengantup mulut mereka rapat – rapat ketika guru mereka menoleh ke arah mereka.

*****

“Oh iya siapa namamu?” ucap seseorang tiba – tiba. Seorang gadis yang tengah duduk di taman belakang sekolah kala itu membelalakan matanya kaget. “Kau, untuk apa kau kesini?” tanya gadis itu kemudian. Pria yang mengagetkannya terlihat mengedikan bahunya santai. Tak lama ia sudah duduk di kursi panjang di taman belakang sekolah itu. Memperhatikan sebuah buku tebal yang kini tengah bertengger manis di tangan gadis yang duduk di sampingnya. Pria itu melebarkan senyumnya.

“Di kelas tadi kita belum berkenalan bukan?” tanya pria itu. Gadis disampingnya terlihat mengangkat sebelah alisnya. “Kim Namjoon imnida.” Ucap pria itu sembari mengulurkan tangan kanannya. Sekedar ingin berjabatan tangan dengan teman barunya. Gadis itu terdengar mendesah. Tak lama gadis itu merapikan buku – bukunya dan berniat bangkit dari posisinya kini. Namjoon mendongakkan kepalanya ketika gadis itu berdiri. “Kau mau pergi kemana?” tanya namjoon bingung. “Apa aku harus memberitahumu tentang apa yang ingin aku lakukan? Memangnya kau ini siapa?” sungut gadis itu. Namjoon hanya mengerutkan keningnya sembari menatap kepergian gadis itu dari jarak pandangnya.

Kim namjoon terlihat menggaruk tengkuknya bingung. “Ada apa dengan gadis itu? Tempramen sekali.” Gumamnya. Namjoon menyeringitkan dahu ketika melihat selembar foto tergeletak tepat di bawahnya. Pria itu menundukan badannya untuk menggapai foto tersebut. Dilihat olehnya potret tiga orang disana. Seorang pria yang masih terlihat gagah. Seorang wanita yang terlihat masih amat cantik dengan tatapan yang lembut. Dan seorang anak kecil yang berdiri diantara kedua orang tua ini. Gadis kecil itu tersenyum manis dan menunjukan deretan giginya. Rambut gadis itu ikal dikuncir kuda. Lucu dan menggemaskan, pikir namjoon.

Namjoon membalikan foto yang berada dalam genggaman tangannya. Tak sengaja pria itu melihat sebuah tulisan dibelakang foto itu. Dengan alis bertaut, pria itu membaca apa yang tertera disana.

“Eomma, Appa, aku merindukan kalian. Bisakah kita bersama seperti dulu lagi? Menjadi keluarga yang penuh senyuman seperti ini.” –Park Eunhyo.

“Jadi nama gadis itu Eunhyo? Park Eunhyo, hm.” Gumam namjoon kemudian. Tak lama, pria itu bangkit dari duduknya. Ia mulai melangkah menuju kelasnya. Waktu istirahat sudah berakhir.

*****

“Kau mencari ini?” tanya namjoon ketika teman sebangkunya terlihat sedang kebingung mencari sesuatu. Pria itu mengulurkan selembar foto yang tadi sempat ia temukan di taman belakang sekolah. Gadis di sampingnya terlihat membelalakan matanya kaget. Tak lama gadis itu langsung menyambar foto yang berada di tangan namjoon. “Dimana kau menemukannya?” tanya gadis itu dengan nada kasar. Namjoon terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali. Merasa syok dibentak seperti itu.

“Ah jangan salah paham dulu. Aku menemukannya di taman belakang sekolah tadi, eunhyo-ssi.” Jelas namjoon. Gadis yang dipanggil eunhyo itu lagi – lagi membelalakan matanya. “Darimana kau tau namaku? Jangan-jangan….” eunhyo mengantungkan kalimatnya. Gadis itu membalik foto yang ada di genggaman tangannya kini. “Kau membacanya?” kini tatapan gadis itu beralih ke arah namjoon. Pria itu terlihat menyeringis. “Aku tak sengaja melakukannya. Jangan marah ya..” ucap namjoon sambil menunjukan cengirannya. Gadis bernama Eunhyo itu terdengar menghela nafas panjang. “Sudahlah..” pasrahnya.

Eunhyo kembali menyelipkan foto keluarganya ke dalam buku tebal yang sebelumnya ia bawa ke taman belakang sekolah. Namjoon menatap ke arah eunhyo sekilas. Tatapannya beralih ketika eunhyo balik menatapnya dengan tatapan tajam. “Apa?” tanya gadis itu ketus. Namjoon hanya mengedikan bahunya.

“Kau sudah dengar kan dari mereka?” tanya eunhyo tiba – tiba. Namjoon kembali mengarahkan tatapannya ke arah gadis di sampingnya kini. “Tentang apa?” pria itu nampaknya masih bingung dengan arah pembicaraan eunhyo kali ini. “Mendengar bahwa aku ini aneh.” Jawab gadis itu singkat. Namjoon malah tergelak mendengarnya. “Kau? Aneh? Yang benar saja. Aku sama sekali tidak merasa kau itu aneh.” Ungkap namjoon jujur. Pria itu mencondongkan badannya ke arah eunhyo dan menatap lekat ke arah eunhyo. Eunhyo sedikit memundurkan badannya merasa risih di tatap seperti itu. “Yak! Kenapa menatapku seperti itu, huh?” protes eunhyo. Namjoon kembali memposisikan badannya seperti semula. “Aku sedang mencari keanehan yang mereka bilang itu. Dimana letak anehnya? Bisa kau beritahu aku?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo mendesah berat karenanya. “Sudahlah lupakan saja.” Ucap eunhyo akhirnya. Namjoon terlihat menaikan sebelah sudut bibirnya. Eunhyo yang melihatnya justru menaikan sebelah alisnya. “Kau itu lucu, bukan aneh.” Ucap namjoon kemudian. Seketika eunhyo memalingkan wajahnya. Mengapa pipiku terasa memanas? Batin eunhyo.

*****

Hujan turun sore ini. Halaman dan jalanan di area sekolah terlihat basah. Eunhyo menghela nafas panjang ketika lelah menunggu hujan berhenti. Sedari tadi ia belum juga melangkahkan kakinya kemana- mana. Bukan tanpa alasan. Ini adalah hujan musim dingin. Dan ia lupa untuk membawa payungnya. Secara otomatis, mau tidak mau ia harus menunggu hujan tersebut reda. Mati saja dia jika hujan – hujanan disaat seperti ini.

Eunhyo yang bosan terlihat mengetuk – ketukan ujung sepatunya ke lantai teras depan sekolah. Gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya sebal. “Kenapa hujannya belum reda juga?” gumamnya sendiri. “Belum pulang juga?” tanya suara seseorang mengagetkan eunhyo. Eunhyo refleks menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dilihat olehnya namjoon sudah berdiri dibelakangnya. Dengan tangan kiri dimasukan ke dalam saku celananya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam sebuah payung. Perlahan namjoon melangkah mendekati eunhyo. Tangan kanannya terulur begitu tiba di hadapan gadis itu. Eunhyo menautkan kedua alisnya bingung. “Ini. pakai saja payungku.” Ucapnya namjoon.

“Lalu kau?” tanya eunhyo. Namjoon terlihat menyunggingkan senyumnya. “Aku bisa menerobos hujan. Aku lebih kuat darimu dalam hal ini.” jelas namjoon lalu berniat melangkahkan kakinya menerobos hujan. Belum sempat hal itu terlaksana, eunhyo lebih dulu mencengkram lengannya dan menghentikan langkahnya. “Kau gila? Ini hujan musim dingin! Kau bisa mati beku jika nekat menerbos hujan.” Bentak eunhyo garang. Namjoon mengedikan matanya ke arah eunhyo. “Mwo?” sungut eunhyo. “Apa kau mengkhawatirkanku eunhyo-ssi?” tanya namjoon jahil. Pria itu mencondongkan badannya mendekat ke arah eunhyo. “Yak!” protes eunhyo. Gadis itu mendorong kasar tubuh namjoon dari hadapannya. Terdengar gelak tawa dari bibir pria itu. Eunhyo terlihat mencibir ke arah namjoon. “Kau cantik jika sedang marah seperti itu.” Puji namjoon tulus. “Oh Tuhan, kau mencoba menggombaliku atau apa?” ledek eunhyo. Namjoon membetulkan posisinya. Pria itu terdengar mendesah perlahan. “Kau cantik, apa wajahku terlihat seperti orang yang main – main?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo memalingkan wajahnya. Gadis itu merasa sesak di dadanya. Oh tidak mungkin, jantungnya berdetak terlampau cepat. Dengan gerakan terburu – buru, eunhyo membuka payung yang kini ada di tangannya dan berjalan menjauhi namjoon. “Yak! Kau meninggalkanku?” protes namjoon ketika eunhyo malah meninggalkannya sendiri. Eunhyo menghentikan langkahnya kemudian membalik badannya ke arah namjoon. “Tadi kau bilang kau bisa menerobos hujan seperti ini. Kalau begitu aku duluan, terima kasih pinjaman payungnya.” Ucap eunhyo lalu kembali melanjutkan langkahnya. “Yak! Yak! Eunhyo-ssi..”

*****

“Hey! Mau kutemani?” sapa namjoon pada eunhyo ketika gadis itu tengah asik menyantap bekal makan siangnya. Eunhyo hampir saja tersendak karena kaget. “Kau ini mau membuatku mati? Kenapa selalu mengagetkanku?” cecar eunhyo kesal. Namjoon hanya mengedikan bahunya sambil menunjukan cengiran lebarnya. “Kau tidak makan siang? Kenapa malah kesini?” tanya eunhyo kemudian. “Aku malas makan sendirian.” Aku namjoon. Eunhyo menatapnya dengan alis bertaut. “Bukankah mereka selalu mengejarmu? Ajak saja salah satu diantara mereka untuk menemani makan siang.” Usul eunhyo. “Mereka siapa maksudmu?” tanya namjoon tak mengerti tentang siapa yang sedang dibicarakan oleh eunhyo. “Mereka, para siswi perempuan yang tergila – gila padamu.” Jelas eunhyo singkat. Namjoon hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf o. “Omong-omong, kenapa kau makan disini sendirian?” tanya namjoon mengalihkan topik.

“Apa itu penting bagimu?” balas eunhyo ketus. Eunhyo menutup kotak bekalnya. Gadis itu merapihkan semua barang – barangnya disana. “Kenapa? Kau sudah selesai makan?” tanya namjoon heran. Eunhyo menatap tajam ke arahnya. “Seseorang telah membuat selera makanku hilang.” Ungkap eunhyo lalu melenggang pergi meninggalkan namjoon sendirian disana.

*****

“Hey!” sapa namjoon lagi – lagi mengagetkan eunhyo. Gadis itu berdesis sebal dan menutup seluruh wajahnya dengan sebuah buku tebal yang sedang ia baca. Tangan namjoon terulur untuk meraih buku itu. Tidak ingin jika moment untuk melihat wajah gadis di depannya lenyap. “Kau ini apa – apaan sih?” tanya eunhyo heran dengan tingkah namjoon yang terlampau sering muncul di hadapannya. “Jangan menutupi wajahmu seperti itu. Aku tidak bisa melihat wajahmu.” Tukas namjoon. “Apa yang kau inginkan?” bentak eunhyo dengan suara yang lumayan nyaring. Beberapa orang di perpustakan terlihat menoleh ke arah mereka. Eunhyo meringis sambil tersenyum tipis. Gadis itu berusaha mengucapkan kata maaf tanpa mengeluarkan suara.

Di depannya, namjoon sedang menahan tawanya. Terlihat pria itu memalingkan wajahnya. “Benar – benar menyebalkan.” Ucap eunhyo. “Sampai kapan kau akan terus mengangguku seperti ini namjoon-ssi?” sambung eunhyo kemudian. Namjoon terlihat menatap eunhyo lekat. Pria itu terlihat memutar bola matanya. Nampak sedang berpikir. “Sampai kau terbiasa dengan kehadiranku dan tidak merasa terganggu denganku.” Jawab namjoon akhirnya.

Eunhyo mendesah berat. Gadis itu terlihat mengendurkan bahunya. “Harus berapa kali aku katakan padamu? Aku tidak mau menjadi temanmu. Apa kau belum mengerti juga?” ucap eunhyo. Namjoon melipat kedua tangannya di atas meja. “Belum. Aku belum mengerti tentang hal itu. Bagaimana bisa kau melarangku untuk berteman denganmu? Apa ada yang salah dengan hal itu?” tanya namjoon dengan nada serius kali ini. Eunhyo lagi – lagi mendesah berat. Sulit baginya untuk menerima namjoon dalam hidupnya. Sungguh, ia hanya ingin lulus dari sekolah ini dengan tenang. Bisa mendapatkan beasiswa di sekolah ternama ini adalah sebuah pencapaian baginya. Dan ia tidak ingin seorangpun tahu tentang hidupnya yang sebenarnya. Kehidupannya maupun orang tuanya.

“Jelas salah namjoon-ssi. Aku tidak bisa menjadi temanmu. Kau kan tahu, kita ini berbeda. Aku hanya anak beasiswa disini. Sedangkan kau adalah anak dari salah satu kolega di sekolah ini. Apa kau tidak malu jika menjadi temanku?” tutur eunhyo perlahan. Mencoba memberi pengertian pada pria di hadapannya. “Apa kita bisa memilih takdir? Apa kita bisa mengatur takdir?” tanya namjoon kini. Eunhyo dibuat mengerutkan kening karenanya. “Maksudmu apa?” ucap eunhyo tak mengerti. “Bukan salahmu dilahirkan di keluargamu yang sekarang. Dan bukan salahku terlahir di keluargaku yang sekarang. Selagi kita bisa melindungi satu sama lain, bisa peduli satu sama lain, kenapa harus ada kata tidak bisa jika aku ingin menjadi temanmu?” jelas namjoon.

“Bukan seperti itu, maksudku..” eunhyo terlihat ragu mengeluarkan kata – kata. Merasa bingung dengan kata – kata yang hendak ingin keluarkan untuk namjoon. “Lalu apa?” tanya namjoon singkat. “Aku tidak mau melihatmu dijauhi oleh murid lainnya. Mereka semua tidak ada yang mau menjadi temanku. Ya, karena alasan aku hanya seorang murid beasiswa. Aku dikucilkan dan seolah tidak dianggap. Aku takut mereka juga melakukan hal yang sama jika kau terlalu dekat denganku.” Ucap eunhyo. “Lalu kau pikir aku peduli dengan semua itu?” tantang namjoon. “Kumohon.” Pinta eunhyo dengan suara melemah. “Aku tidak mau mendengarnya.” Ucap namjoon, sejurus kemudian pria itu telah memasang sebuah headphone besar di telinganya. Pria itu mengalihkan pandanganya pada lembaran buku yang tadi ia bawa. Eunhyo menghela nafas panjang melihat tingkah keras kepala pria di depannya kini.

*****

“Kau mau satu? Aku membeli dua.” Tawar namjoon pada eunhyo. Seperti biasa, keduanya sedang berada di halaman belakang sekolah. Eunhyo dengan sebuah buku tebal digenggamannya sedangkan namjoon dengan dua buah es krim di tangan kanan dan kirinya. Eunhyo melirik namjoon sekilas. Lalu kembali fokus pada bukunya. “Tidak. Terima kasih.” Tolak eunhyo.

Namjoon berdecak sebal. Pria itu menempelkan ujung es krim yang berada di tangan kanannya ke hidung eunhyo, hingga ujung es krim itu mengotori kulit hidung sang gadis. “Yak! Apa yang kau lakukan?” bentak eunhyo tak senang dengan perlakuan konyol yang baru saja ia dapatkan. “Siapa yang menyuruhmu mengacuhkanku, huh? Aku sudah jauh – jauh membawakan ini untukmu. Setidaknya kau menerimanya dan berkata dengan senyum manis, Oh namjoon-ssi terima kasih, begitu seharusnya.” Sungut namjoon.

Eunhyo menyambar es krim yang berada di tangan kanan namjoon kasar. Dengan senyum manis yang dibuat – buat, eunhyo berkata pada pria di sampingnya “Oh namjoon-ssi terima kasih.” Namjoon mendesah pasrah.

Tak lama, eunhyo mencolek es krim yang ada di tangannya dengan jari telunjuk kanannya. Ia mengoleskan es krim itu pada hidung namjoon. “Adil kan?” ucap eunhyo setelahnya. Gadis itu tergelak karena ulahnya sendiri sedangkan namjoon menatapnya seolah ingin menelan gadis itu hidup – hidup. Eunhyo mulai memasukan es krim itu ke dalam mulutnya. Sial, ide jahil namjoon belum berhenti sampai disitu. Namjoon mendorong tangan eunhyo yang sedang memegang es krim itu, sehingga es krim itu berantakan di sekitaran bibir eunhyo. Gadis itu memukul kasar lengan namjoon. “Kau gila, yak!” protes eunhyo. “Kau ini, makan es krim seperti itu saja belepotan seperti anak kecil.” Komentar namjoon diiringin tawa lebar dari bibirnya. Eunhyo mengerucutkan bibirnya sebal. Keningnya berkerut karena marah. “Bagaimana ini? Aku tidak membawa sapu tangan. Kau ini merepotkan!” ucap eunhyo sebal. Namjoon tersenyum dan menghentikan tawanya. “Biar aku yang membersihkannya.” Ucap namjoon kemudian.

Tak lama, namjoon sudah menjilat bibir eunhyo dan sekitarannya denga lidahnya sendiri. Eunhyo dibuat menegang seketika. Tubuhnya serasa membeku ketika lidah namjoon yang dingin menyentuh permukaan bibirnya. Ini gila. pekik gadis itu dalam hati. Namjoon kembali keposisinya. Tak ada gerakan lebih yang pria itu ciptakan. Hanya membersihkan bibir eunhyo dari es krim dengan mulutnya. Murni hanya itu.

Eunhyo terlihat menenggak liurnya beberapa kali. Matanya juga mengerjap. Tak percaya dengan apa yang baru saja pria itu lakukan. Namjoon terlihat menunjukan cengiran canggungnya. Ia benar – benar tak mengerti apa yang baru saja ia lakukan. Seolah semua itu bukanlah ia yang melakukan. Itu semua terjadi begitu saja. Tanpa ia pikir kembali. Pipi pria itu terasa memanas tak kala memikirkan kembali apa yang baru saja ia lakukan. Ketika lidahnya menyapu permukaan bibir eunhyo. Namjoon menggaruk tengkuknya gugup. Jantungnya berdegup hebat.

“Ah, hm, kita ke kelas? Jam istirahat sudah hampir selesai.” Ajak namjoon kemudian. Berusaha menormalkan kembali suasana canggung yang kini tercipta diantara keduanya.

*****

“Ajarkan aku soal matematika ini, bisa kan?” pinta namjoon memelas pada eunhyo. Eunhyo yang kala itu tengah asik menyelami buku fisikanya merasa terusik. Mereka berdua kini tengah berada di perpustakaan. Selain menghabiskan waktu di bawah pohon mapel di taman belakang sekolah, perpusakaan adalah tempat lain yang sering eunhyo kunjungi.

“Aku malas,” ujar eunhyo singkat lalu  mencoba kembali fokus pada bukunya. Namjoon meraih paksa buku tersebut dan menggantikan posisi buku itu dengan buku tulisnya. “Kau ini kan pintar, apa susahnya mengajariku satu soal saja?” tanya namjoon retoris. Eunhyo menghela nafas perlahan. Lalu meraih pensil yang berada di tangan kanan namjoon. “Baiklah, setidaknya kau tidak lagi mengangguku setelah aku menjelaskannya padamu, mengerti?” ucap eunhyo mengalah. Namjoon mengangguk semangat. Namjoon mencondongkan badannya untuk memperhatikan lebih jelas apa yang akan dijelaskan oleh eunhyo.

Namjoon mengalihkan pandangannya dari buku tulisnya  ke arah wajah eunhyo. Wajah gadis itu terlihat segar. Merona merah dibawah sorot sinar matahari yang menembus ventilasi perpustakaan kala itu. Rambut ikal panjang gadis itu dikuncir kuda dibelakang dengan poni depan yang menggembung. Beberapa anak rambut yang tak terikat terlihat jatuh mengenai wajahnya. Pemandangan yang lebih indah daripada apapun di dunia ini, pekik pria itu dalam hatinya. Tak sadar seulas senyum tersungging di wajah tampannya. Gadis di depannya, bagaimana bisa membuat jantungnya berdegup begitu cepat. Deru nafasnya serasa berantakan ketika aroma khas yang menguar dari tubuh gadis itu tercium oleh indera penciuamannya. Matanya serasa tak ingin berkedip jika sudah menatap wajahnya. Pipinya serasa memanas tak kala gadis itu berada dalam jarak pandangannya. Apa yang sebenarnya telah menimpanya?

Namjoon menyanggah wajahnya dengan tangan kanannya. Memperhatikan dengan seksama setiap detail wajah gadis di depannya, bukan memperhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu kali ini. eunhyo yang sedang menjelaskan panjang lebar tiba – tiba terhenti. Namjoon memandangnya dengan wajah penuh tanya. “Kenapa?” tanya pria itu kemudian. “Kau memperhatikanku atau tidak?” tanya eunhyo pada namjoon. Pria itu terlihat menunjukan cengiran menyebalkannya. Eunhyo lagi – lagi dibuat jengah dengan tingkah konyol pria di depannya kini. “Sudah kuduga, percuma saja aku bicara panjang lebar sedari tadi.” Protes eunhyo lalu mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu menutup buku tulis namjoon lalu mengambil paksa buku fisika yang tadi sempat di rebut namjoon dari tangannya.

“Yak mianhae, satu kali lagi. Jelaskan padaku sekali lagi. Aku akan memperhatikannya. Aku janji.” Pinta namjoon sembari mengangkat jari telunjuk kanannya dan jari tengah kanannya bersamaan. “Tidak.” Tolak eunhyo langsung. Gadis itu terlihat mengambil ponselnya di dalam saku. Gadis itu juga mengeluarkan sebuah earphone dari sana. Dengan cepat eunhyo memasang earphone itu kedalam ponselnya. Tak lama earphone itu sudah menghiasi kedua telinga dan mengalunkan sebuah music kesukaannya.

Namjoon tak tinggal diam, ia masih saja memohon pada gadis itu untuk menjelaskan ulang kepadanya. Namun gadis itu tetap bersikukuh untuk tidak melakukannya lagi. Namjoon mengguncangkan pelan lengan eunhyo. Tak ada respon dari gadis itu. Gadis itu tetap berusaha untuk fokus pada apa yang sedang ia baca kali ini. beberapa kali namjoon terdengar memanggil – manggil namanya dengan nada merayu, namun eunhyo tetap mengacuhkan pria satu itu. Merasa tidak ingin peduli dengan apapun yang akan terjadi disekitarnya.

“Eunyo-ya.. ayolah sekali lagi. Aku berjanji akan memperhatikannya, eoh? Besok kita akan ulangan matematika bukan? Dan aku tidak mengerti soal ini. bagaimana jika besok saat ulangan soal seperti keluar? Aku mau menjawab apa nantinya?” pinta namjoon menunjukan puppy eyesnya. Berlagak memelas di hadapan gadis itu.

Eunhyo tedengar berdecak pelan. “Kau ini, merepotkan sekali.” Komentar eunhyo. Gadis itu mengulurkan tangannya untuk meraih kembali buku tulis dan pensil milik namjoon. Namjoon tersenyum senang melihatnya. “Aku tahu kau tidak mungkin tega membiarkanku mendapatkan nilai jelek kan?” ucap namjoon merasa bangga karena eunhyo menaruh perhatian padanya. “Tidak usah banyak bicara. Aku  kan memintamu untuk memperhatikanku, bukan mengomentariku.” Balas eunhyo yang langsung membuat namjoon mengantup mulutnya rapat – rapat.

“Langkah terakhir, kau hanya perlu mengali’kan angka ini dengan yang ini lalu kau akar kuadrat’kan. Mengerti?” tanya eunhyo setelah selesai menjelaskan cara mengerjakan soal matematika yang ditanya namjoon. Namjoon yang sedang melamun kala itu dibuat terkejut dan membelalakan matanya. “Kau ini, benar kan kau tidak memperhatikanku lagi. Dasar menyebalkan!” ucap eunhyo lalu berdesis sebal. “Wajahmu lebih menarik dibanding angka matematika itu, aku harus bagaimana?” tanya namjoon polos lalu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.

*****

“Mau pulang bersama? Kuantar bagaimana?” tawar namjoon ketika menghentikan langkah eunhyo di koridor sekolah. Eunhyo berusaha mengacuhkan pria itu. Ia berjalan  kesisi lain, namun pria itu mengikutinya. “Yak!” teriak eunhyo merasa terganggu. “Aku bisa pulang sendiri, minggir!” sambung eunhyo. Dengan tenaga yang ia punya, gadis itu berusaha menyingkirkan namjoon dari jalannya.

Namjoon menarik lengan eunhyo. Membuat gadis itu lagi – lagi harus menghentikan langkahnya. “Apa lagi?” tanya eunhyo heran kenapa pria ini senang sekali membuntutinya. “Hari ini aku naik bus. Temani aku? Aku tidak tahu jalan, ayolah. Aku tidak membawa mobilku.” Ungkap namjoon kemudian. Eunhyo dibuat berdecak sebal karenanya. “Kenapa harus aku?” bentak eunhyo. “Karena kau temanku.” Balas pria itu singkat.

“Siapa suruh kau tidak membawa mobilmu?” tanya eunhyo retoris. “Aku hanya ingin pulang bersamamu. Salah sendiri kau tidak pernah mau pulang bersama dengan mobilku. Jadi kupikir, aku saja yang pulang bersamamu dengan bus. Bagaimana?” ucap namjoon merasa menang atas situasi ini. eunhyo menghela nafas panjang, sebelum akhirnya berkata dengan nada datar. “Terserah,”

Mereka berdua berjalan menuju gerbang sekolah. Sepanjang perjalanan namjoon tak henti – hentinya menimbulkan gerakan yang berlebihan. Berjalan sambil meloncat – loncat seperti anak kecil misalnya. Lalu berjalan mundur. Bergelayut manja di lengan eunhyo, membuat eunhyo harus memukul lengan pria itu agar berjalan menjauh darinya. Benar – benar autis, pikir eunhyo. Eunhyo mengulum senyum memperhatikan tingkah namjoon.

Dari kejauhan,  seorang gadis bernama yura dan beberapa teman sepergurunya sedang memandangi mereka –eunhyo dan namjoon- dengan lengan bersedekap di depan dada. Yura mengepalkan tangannya kesal melihat mereka. “Aish! Namjoon, kenapa juga dia jadi dekat dengan gadis aneh itu?” gumam yura. Kakinya menghentak – hentak tak karuan ke aspal yang tengah ia pijaki. Beberapa temannya melihat yura sambil menautkan alis mereka. “Kau bilang, namjoon itu adalah cinta masa lalumu. Kenapa kalian tidak dekat sama sekali? Dia malah dekat dengan bocah aneh itu. Apa kau berbohong tentang hal itu?” tanya salah satu temannya. Yura terlihat menatap tajam temannya itu. “Yak! Kau menuduhku sudah berbohong? Aku memang benar adalah cinta pertamanya. Aku juga tidak mengerti kenapa namjoon jadi dekat dengan gadis aneh itu. Benar – benar menyebalkan.” Bentak yura dengan tangan yang tak henti – hentinya mengacak rambutnya frustasi melihat kedekatan namjoon dan eunhyo.

“Yura-ya,” panggil salah satu temannya yang lain. “Eoh?” balas yura seadanya tanpa mengalihkan pandangannya dari namjoon dan eunhyo yang kini mulai menghilang dibalik gerbang sekolah dengan senyum mengembang di kedua wajah mereka. “Apa kau tidak berniat memberikan gadis itu sedikit pelajaran?” tanya temannya lagi. Yura terdiam sejenak, gadis itu memutar bola matanya nampak sedang berpikir. Ia mengalihkan tatapannya ke arah temannya itu. “Pelajaran?” gumam yura. Kedua temannya yang berada di dekatnya terlihat mengangguk. “Kau benar, gadis aneh itu harus kuberi peringatan agar bisa menjaga jarak dengan namjoon. Terkadang otak kalian bisa diandalkan juga,” ucap yura dengan senyum menyeringai di wajahnya.

*****

“Itu busnya. Ayo!” ajak eunhyo pada namjoon ketika bus yang mereka tunggu telah tiba. Namjoon yang sedang duduk di kursi halte kala itu pun beranjak. Ia mengekori eunhyo yang sudah lebih dulu naik ke dalam bus.

“Mana kartu anda anak muda?” tanya sang supir pada namjoon. Namjoon yang tak mengerti hanya menggelengkan kepalanya lalu menampakan wajah bingung. “Kartu? Kartu apa?” tanya pria itu kemudian. Sang supir terlihat menampakan wajah garangnya. “Kau harus membayar bus ini dengan debit kartumu sebelum naik bus ini.” jelas sang supir singkat. “Haruskah? Tidak bisakah aku membayar cash saja? Aku tidak punya kartu yang kau maksud.” Aku namjoon jujur.

Eunhyo yang sudah duduk terlebih dahulu menghela nafas melihatnya. Gadis itu kembali bangkit dan membungkukan badannya kepada sang supir. “Mianhae ahjussi, dia ini temanku. Biar aku membayar dengan kartuku saja, bagaimana?” tawar eunhyo. Sang supir mengangguk pelan.

“Duduk!” titah eunhyo singkat pada namjoon setelah menyelasaikan perkara kecil tadi. Namjoon terlihat mengedikan bahunya santai lalu duduk di kursi bus yang berada di pinggir. Sedangkan eunhyo duduk di kursi dekat jendela. Eunhyo menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Ingin rasanya ia mengamuk pada pria di sampingnya ini. Ia merasa lelah tiap kali namjoon mengikutinya kemanapun ia berada. Eunhyo menggeleng-gelengkan kepalanya kala mengingat semua tingkah konyol namjoon selama ini. entah bagaimana, setiap kali eunhyo ingin marah kepada pria itu. Hatinya langsung melemah ketika pria itu menampakan wajah memelas miliknya. Membuatnya eunhyo lagi – lagi luluh dan melupakan amarahnya.

“Eunhyo-ya!” panggil namjoon pelan. Gadis itu terdengar berdehem pelan. “Eoh?” tanya gadis itu kemudian. “Kau mengakui aku apa tadi di depan supir itu?” tanya namjoon dengan senyum yang ia berusaha sembunyikan. “Maksudmu?” tanya eunhyo tak mengerti. “Posisiku dalam hidupmu itu apa?” jelas namjoon lagi. Eunhyo terdengar menengguk liurnya pelan. “Ah itu, hm, kau ya kau temanku.” Balas eunhyo dengan nada ragu. Rasa senang terpampang jelas di raut wajah namjoon kala itu. Eunhyo kembali mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela bus. Pipinya terasa memanas. Tapi ia menyukainya, ini gila.

“Eunhyo-ya!” panggil namjoon lagi. “Ada apa kali ini?” tanya eunhyo datar. Merasa sudah lelah dengan tindak-tanduk pria di sampingnya. “Bagaimana kalau kita makan dulu? Perutku serasa kram karena belum menyentuh makanan dari pagi, eoh?” pinta namjoon kali ini. eunhyo berdecak kesal. Ingin rasanya ia melemparkan sepatunya ke arah wajah pria itu.

“Tidak. Aku lelah. Aku ingin pulang dan istirahat.” Tolak eunhyo mentah – mentah. Namjoon terlihat menekuk wajahnya sebal. “Ayolah, hanya menemaniku makan sebentar. Kau tega membiarkanku mati karena kelaparan. Dan kau pasti akan menjadi orang pertama yang dicurigai sebagai tersangka.” Ucap namjoon berlebihan. Eunhyo terdengar berdesis karenanya. Namjoon lagi-lagi memasang tampang memelas yang tidak bisa ditolak eunhyo. “Eoh baiklah. Hanya sebentar.” Ucap eunhyo mengalah akhirnya. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa ia tidak bisa menolak setiap permintaan yang diajukan oleh pria itu. Bagaikan sebuah sihir, ini gila.

*****

“Mau berjalan-jalan sebentar? Eoh lihat, bunga sakura itu sudah mulai mekar!” pekik namjoon lalu menarik paksa lengan eunhyo agar berjalan mengikutinya. Dengan enggan, eunhyo menyeret kakinya mengikuti pria itu.

Eunhyo tersentak ketika melihat permen kapas yang dijajakan seorang pedagang disana. Tanpa sadar eunhyo kembali ke memori masa lalunya, ia menyukai permen itu. Teramat menyukainya hingga sang ibu selalu mengomelinya karena terlalu sering memakan permen itu. Ia kerap kali merengek kepada ayahnya untuk membelikannya permen itu. Dan sang ayah tidak pernah bisa menolak permintaan putri kesayangannya itu. Ayahnya selalu membelikan permen kapas itu untuk dirinya, tanpa sepengetahuan sang ibu tentu saja. Namun, semenjak kehidupan keluarganya berantakan. Eunhyo menjadi benci akan semua hal yang ia suka saat kecil. Termasuk permen itu.

Eunhyo tersenyum miris tak kala mengingat memori itu. Namjoon mengikuti arah tatapan mata eunhyo. Berusaha menemukan apa yang tengah menyita perhatian gadis itu. Namjoon melihat seorang pedagang permen kapas disana. Apa eunhyo sedang memperhatikannya? Batin namjoon.

Tangan namjoon terulur untuk menyadarkan eunhyo dari lamunannya. Pria itu mengibas-ibaskan tangannya di depan muka gadis itu. Membuat eunhyo mengerjapkan matanya beberapa kali. Kaget karena namjoon membuyarkan lamunan masa lalunya. “Apa yang kau perhatikan? Kau ingin permen kapas itu?” tebak namjoon asal. Eunhyo membulatkan matanya. Memang, ia memang menginginkan permen itu. Namun tidak sekarang. Tidak saat memori pahit tentang permen kapas itu mengalir liar dalam benaknya. Tidak.

“Sebentar, akan kubelikan untukmu.” Ucap namjoon lalu berlari menghampiri pedagang itu. Terlihat mereka berbincang singkat lalu sang pedagang memberikan dua gumpalan permen kapas pada namjoon. Setelah mendapatkannya, namjoon mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Lalu berlari kecil kembali menghampiri eunhyo yang sedang tercengang tak percaya melihat pria itu.

“Ini, untukmu. Kau ingin ini kan?” ucap namjoon sembari mengulurkan satu gumpalan permen kapas ke hadapan eunhyo.  Eunhyo menelan liurnya menatap permen itu. Ingin namun tidak bisa. Nafas gadis itu mulai memburu. Merasakan sesak luar biasa akibat kenangan tentang permen itu. Dengan kasar eunhyo menepis uluran permen kapas itu. “Aku tidak butuh itu! Aku tidak mau!” bentaknya tiba – tiba. Namjoon hanya bisa tercengang kaget akibat bentakan eunhyo barusan. “Aku tidak mau! Aku ingin Appa dan Eomma! Bukan permen itu!” teriak eunhyo lagi. Gadis itu menampakan wajah ketakutan yang luar biasa. Kedua tangan gadis itu ia gunakan untuk menutup kedua telinganya rapat – rapat. Gadis itu terlihat berjongkok. Kepalanya tertunduk. Matanya tertutup. Namjoon panik bukan main melihat keadaan gadis di hadapannya. Terlihat bulir bening keluar dari sudut mata eunhyo.

Seketika namjoon ikut berjongkok mensejajarkan badannya dengan eunhyo. Dengan ragu, namjoon meraih kedua bahu gadis itu. Mengguncangkannya pelan sembari memanggil nama eunhyo lembut. Takut – takut kalau gadis itu menjadi makin meledak – ledak. Bahu eunhyo dirasakan oleh namjoon mulai bergetar. Rintihan isak tangis tertahan sempat menghampiri indera pendengaran namjoon. “Eunhyo, ada apa denganmu? Eunhyo..” panggil namjoon untuk kesekian kalinya. Namun tak ada sahutan yang keluar dari bibir eunhyo sama sekali.

Namjoon menarik eunhyo ke dalam dekapannya. Mungkin akan sedikit menangkan gadis itu. Gadis itu mencengkram erat rompi sekolah yang di pakai namjoon. Tangan gadis itu bergetar hebat. Namjoon merasa semakin bersalah melihat eunhyo seperti ini, sungguh ia tidak menyangka jika gadis itu takut pada sebuah permen kapas. Apa yang terjadi padanya dulu? Serbuan pertanyaan dan kekhawatirannya tentang eunhyo mulai menabrak otaknya keras. Dengan teratur, namjoon mengelus punggung eunhyo naik turun. Namjoon menggigit bibir bawahnya getir ketika rintihan tangis kembali lolos dari bibir eunhyo.

*****

Dengan terburu – buru, namjoon menyusul langkah eunhyo yang sudah mendahuluinya keluar dari kelas. Eunhyo menghentikan langkahnya ketika namjoon sudah berada tepat di hadapannya dengan nafas terengah – engah. “Apa?” tanya eunhyo datar. “Pulang bersama?” ajak namjoon. Eunhyo memutar bola matanya. Nampak sedang menimbang – nimbang ajakan namjoon. “Tidak.” Balasnya singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya. Namjoon kembali menyusul eunhyo dan berhenti lagi tepat di hadapan gadis itu. “Naik bus. Lihat, aku sudah punya kartu seperti yang dibilang supir bus kemarin. Bagaimana?” ucap namjoon bangga. Eunhyo hanya melempar pandangan sekilas pada kartu itu lalu kembali melanjutkan langkahnya. “Tidak,” balasnya lagi. Tak kalah ketus dari sebelumnya.

Namjoon memposisikan dirinya untuk berjalan berdampingan dengan eunhyo. “Aku tidak akan membawa mobilku lagi mulai sekarang.” Ucap namjoon mulai berceloteh. Eunhyo tak menanggapinya sama sekali. Namun tetap mendengarkan apa yang diucapkan oleh pria disampingnya kini. “Aku, ingin pulang bersamamu seperti ini. Lebih menyenangkan, menurutku.” Lanjut namjoon. “Ah bagaimana kalau kita berjalan – jalan seperti kemarin?” tawar namjoon. Eunhyo mendelikan matanya menatap namjoon. “Aku janji tidak akan membelikanmu permen itu lagi. Aku janji.” Ujar namjoon sembari mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. Tanda bahwa ia benar – benar berjanji tidak akan melakukan hal seperti kemarin.

“Tidak,” balas eunhyo lalu kembali memperhatikan jalan di depannya. Namjoon terdengar terkekeh pelan. Eunhyo menaikan sebelah alisnya bingung dengan maksud kekehan namjoon. “Ada apa? Ada yang lucu?” tanya eunhyo yang dijawab oleh gelengan kepala namjoon. “Tidak, tidak ada yang lucu. Hanya saja, aku merasa hm. Dulu, kukira kau itu gadis yang tak takut akan apapun. Lihat saja, kau begitu ketus dan jarang tersenyum. Kukira kau itu gadis yang kuat. Dan tidak memerlukan perlindungan dari siapapun.” Ungkap namjoon kemudian. “Ternyata aku salah. Kau itu lemah. Membuatku ingin selalu berada di sampingmu untuk melindungimu.” Sambung namjoon. “Jadi, jangan pernah jauh dariku, arra?” ucap namjoon lagi. Tangan pria itu terulur untuk merapikan helaian rambut eunhyo yang nampak berantakan karena tiupan angin.

*****

“Kau kerasukan atau apa? Tumben sekali pagi – pagi seperti ini kau sudah datang ke sekolah.” Seru eunhyo yang dibalas cengiran lebar oleh namjoon. “Tidak, aku hanya ingin datang lebih pagi saja. Dengan begitu, aku bisa lebih lama bersamamu. Benar kan?” ledek namjoon. Eunhyo hanya tertawa hambar menanggapinya.

Tak lama eunhyo terlihat berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. “Kau mau kemana?” tanya namjoon ketika gadis itu berada di ambang pintu kelas. “Perpustakan. Aku harus meminjam beberapa buku untuk persiapan ulangan besok. Kenapa? Kau ingin ikut?” balas eunhyo. Namjoon hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku mengantuk, jujur saja datang sepagi ini memotong waktu tidurku. Mungkin aku akan tidur sebentar.” Ucap namjoon yang disambut kekehan ringan dari bibir eunhyo.

“Sudah kuduga. Kalau begitu aku pergi dulu.” Pamit eunhyo dan melangkahkan kakinya kembali.

*****

“Eunhyo-ssi, kau bisa menolongku?” tanya seorang murid perempuan dengan nafas terengah – engah. Eunhyo yang bingung terlihat mengerutkan keningnya dalam. “Ada apa mira-ssi?” ucap eunhyo kemudian. Gadis bernama Mira itu terlihat mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengatakan apa yang terjadi pada eunhyo. “Kyungri, kyungri terkunci di dalam kamar mandi. Penjaga sekolah belum datang sepagi ini. Kau bisa membantunya?” pinta Mira dengan wajah memelas. Eunhyo terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan mengikuti Mira.

“Disini, kyungri terkunci di dalam sini.” Ucap Mira ketika mereka sampai di toilet perempuan sekolah Kirin. “Tidak ada suara di dalam.” Ucap eunhyo seolah meragukan apa yang dikatakan Mira. Bukan apa – apa, mira adalah teman dekat dari Yura. Gadis yang sering memusuhinya. Terlebih ketika tahu dirinya dan namjoon terlihat sangat dekat. “Eoh? Jinjja? Jangan – jangan gadis itu pingsan di dalam. Kyungri, eoh kamu mendengarku?” teriak Mira sembari menggedor-gedor pelan pintu toilet.

Eunhyo melangkah maju mendekati pintu tersebut. Tangannya terulur untuk meraih knop pintu tersebut. Perlahan gadis itu coba memutar knop pintu. Tidak terkunci, refleks eunhyo mencoba masuk ke dalam toilet tersebut. Baru satu gerakan membuka, dari atas pintu toilet ada sebuah ember berisi air penuh yang jatuh menimpanya dan membasahi seluruh tubuh eunhyo. Eunhyo yang kaget hanya bisa tercengang dan membeku di tempatnya. Eunhyo menoleh ke arah Mira yang ternyata sudah terdapat Kyungri dan Yura disana. Eunhyo mendengus pelan melihat kelakukan mereka.

“Sudah kuduga. Ini pasti rencana kalian.” Ujar eunhyo yang dibalas oleh tawa mengejek Yura. “Kalau kau sudah tahu ini adalah rencana kami. Untuk apa kau datang ke sini, bodoh?” ucap Yura dengan senyum menyeringai terhias di wajahnya. “Ini hanya ‘sedikit pelajaran’ bagimu, eunhyo-ssi. Jangan pernah mendekati namjoon. Karena ia sangat tidak pantas dengan orang sepertimu. Sangat tidak pantas.” Yura menarik paksa lengan eunhyo hingga gadis itu keluar dari toilet. Yura terlihat mencengkram kuat lengan eunhyo, hingga gadis itu merintih untuk dilepaskan. “Jangan pernah dekati namjoon lagi!” bentak Yura. Terbawa emosi, yura dengan kasar menjambak rambut panjang eunhyo dan berhasil membuat eunhyo mengaduh kesakitan. “Yura, ini sakit. Kumohon lepaskan.” Pinta eunhyo yang dijawab oleh gelengan kepala Yura. “Berjanjilah untuk menjauh dari Namjoon, anak manis.” Ucap Yura dengan nada pelan namun terasa membuat bulu kuduk eunhyo meremang. Yura semakin kuat menjambak rambut eunhyo ketika gadis itu tak kunjung menjawab permintaan yura. “Yura, sakit!” eunhyo kembali meringis merasakan perih yang menusuk kepalanya.

“Bukan aku yang mendekati namjoon, sungguh. Aku tidak bermaksud…” kata – kata eunhyo terhenti karena dengan sengaja yura mendorong tubuhnya hingga pipi sebelah kirinya membentur dinding toilet. Cukup keras dan sangat sakit. Eunhyo merasa kepalanya berdenyut – denyut tak karuan akibat benturan tadi. “Kau ingin bilang jika namjoon yang mendekatimu? Apa kau gila? Pria seperti namjoon mendekati gadis sepertimu? Gosh, mimpi saja tidak akan pernah menjadi kenyataan.” Ujar Yura kesal. Eunhyo tak membalas perkataan yura. Kepalanya kini terasa amat pusing. Bahkan untuk membalas perkataan yura saja ia merasa sangat enggan melakukannya. “Aku ingatkan padamu, jagan pernah bermimpi menjadi seorang cinderella. Kau, sungguh tidak pantas.” Lanjut yura lalu melenggang pergi meninggalkan eunhyo yang masih meringis menahan sakit di pipinya.

*****

“Kenapa kau memakai seragam olahraga?” selidik namjoon ketika gadis itu masuk ke dalam kelas dengan seragam yang berbeda. Namjoon berjalan menghampiri eunhyo yang kini mematung di depan kelas dengan badan sedikit menggigil karena kedinginan. Namjoon menatap eunhyo lekat, memperhatikan apa saja yang berubah dari gadis di hadapannya. “Rambutmu basah? Kau ini kenapa?” tanya namjoon lagi. Eunhyo hanya bisa menelan liurnya payah. Bingung apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Namun, jika ia mengatakan yang sebenarnya pasti akan ada perang di antara namjoon dan Yura. Dan lagi – lagi, yang akan dipojokan oleh Yura adalah dirinya. Apa sebaiknya ia berbohong saja?

“Kenapa diam? Apa yang terjadi padamu? Seragam olahraga lalu rambutmu basah.” Cecar namjoon. Pria itu tak sengaja melihat luka lebam di pipi kiri eunhyo. “Tunggu, pipimu kenapa? Kenapa membiru seperti ini?” tanya pria itu dengan tangan kanan terulur memegangi dagu eunhyo. Membuatnya leluasa melihat luka lebam di pipi kiri eunhyo. Eunhyo menepis tangan namjoon di dagunya. Gadis itu menundukan kepalanya.

“Aku, aku hanya terjatuh di toilet tadi. Sepertinya ada yang lupa menutup kran di wastafel sehingga airnya meluap hingga ke lantai. Dan aku tidak sengaja terjatuh saat melewati lantai itu. Alhasil, seragamku basah dan, hm, pipiku membentur dinding toilet.” Tutur eunhyo berusaha berbohong. “Kau tidak sedang membohongiku kan?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo menggelengkan kepalanya. “Lain kali kau harus lebih hati – hati. Jika kau butuh bantuan, jangan segan – segan memintanya padaku.” ucap namjoon lalu meraih dagu eunhyo lagi. “Luka lebamnya cukup parah. Sebaiknya kita ke ruang kesehatan untuk mencari salep agar luka lebammu tidak bertambah parah.” Ajak namjoon. Eunhyo hanya mengangguk dan pasrah ketika namjoon menariknya untuk berjalan menuju ruang kesehatan.

*****

“Aw perih,” pekik eunhyo ketika kulit pipinya serasa tersengat akibat namjoon mengolesi luka lebamnya dengan sebuah salep. Namjoon menghela nafas panjang. “Tahan sebentar, aku hanya tidak ingin luka lebammu ini semakin parah.” Ucap namjoon. Eunhyo terlihat mengerucutkan bibirnya. Sesekali gadis itu terlihat meringis ketika rasa sakit itu kembali datang.

“Sudah selesai.” Ujar namjoon setelah menempelkan sebuah plester di pipi kiri eunhyo. Eunhyo hanya tersenyum ketika namjoon tersenyum ke arahnya. “Ayo kita ke kelas,” ajak namjoon kemudian. Namjoon meraih tangan eunhyo untuk berjalan bersamanya. Namun eunhyo menahannya. Sontak namjoon menoleh ke belakang, mencoba menatap gadis itu yang kini tengah menundukan kepalanya. “Ada apa?”  tanya namjoon bingung.

“Sebaiknya kita tidak usah menjadi teman seperti ini.” ucap eunhyo singkat namun dampaknya seolah menampar keras namjoon. Namjoon mengerutkan keningnya mendengar pernyataan eunhyo barusan. “Apa maksudmu?” tanya namjoon meminta penjelasan lebih dari gadis di dekatnya ini. “Kupikir akan lebih baik jika kita bersikap seolah tidak saling kenal. Kupikir, gadis sepertiku tidak pantas untuk menjadi temanmu. Kau akan mendapatkan dampak buruk jika berteman denganku, namjoon-ah.” Tutur eunhyo perlahan, takut – takut jika pria di hadapannya kini akan mengamuk. “Kenapa tiba – tiba?” tanya namjoon. Eunhyo mendongakan kepalanya menatap namjoon bingung. “Ne?” tanya eunhyo yang tak mengerti dengan pertanyaan namjoon sebelumnya. “Kenapa kau tiba – tiba ingin aku untuk menjadi orang asing bagimu? Apa gadis itu yang telah membuatmu mengubah jalan pikiranmu?” tebak namjoon asal. Eunhyo membulatkan mata mendengarnya. “Aniyo, bukan. Ini sungguh tidak ada hubungannya dengan Yura. “Aku tidak bilang ini ada hubungannya dengan Yura, aku hanya berkata gadis itu. Tidak berkata Yura, jadi benar Yura yang melakukannya?” tanya namjoon yang membuat eunhyo serasa di hantam batu besar. “Sudahlah, ini tidak penting.” Ucap eunhyo. “Bagimu, tapi bagiku ini penting. Aku sebagai temanmu tidak akan diam saja melihatmu di perlakukan seperti ini oleh Yura.” Seru namjoon dengan tatapan berkilat amarah yang sangat kentara. Eunhyo menggigit bibir bawahnya merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Baru kali ini, ia merasa namjoon seperti seorang monster. Menyeramkan, sungguh.

“Aku tidak apa – apa, namjoon-ah.” Aku eunhyo berbohong. “Jangan pernah berbohong padaku, eunhyo-ya! Kau punya kedua tangan untuk membalasnya. Kenapa kau selalu diam saja, hah?!” bentak namjoon yang sontak membuat eunhyo kembali menundukan kepalanya. Merasakan takut yang luar biasa dari nada bicara namjoon kali ini. “Kumohon, jauhi aku. Aku hanya ingin bersekolah dengan tenang di sini. Aku tidak mau mencari masalah dengan siapapun. Kau tahu sendiri kan? Yura adalah pewaris tunggal dari sekolah Kirin ini. Apa mungkin aku membalasnya? Bagaimana jika aku dikeluarkan dari sekolah ini? Kumohon namjoon-ah, aku hanya ingin bersekolah disini dengan tenang. Setidaknya, jauhi aku hingga aku lulus dan mendapatkan ijazah dari sekolah ini. Kumohon..” pinta eunhyo memelas. Dilihat olehnya, namjoon membuang pandangan ke arah lain. Merasa muak dengan tema pembicaraan yang kini tengah mereka debatkan. “Namjoon-ah,” panggil eunhyo melemah ketika namjoon tak kunjung menatapnya dan membalas perkataanya. “Aku akan kembali ke kelas duluan. Cepat ke kelas. Bel masuk sebentar lagi akan berbunyi.” Ucap namjoon lalu perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kesehatan itu. Dan juga meninggalkan eunhyo yang tanpa sadar menitihkan bulir bening dari sudut mata kanannya. Kenapa aku menangis? Batin eunhyo.

*****

“Ayo pulang,” ajak namjoon ketika eunhyo tak kunjung bangkit dari kursinya, padahal bel pulang sekolah sudah berbunyi. “Kau duluan saja. Aku masih ada urusan lain.” Ucap eunhyo ragu. Gadis itu terlihat memasukan buku – bukunya ke dalam tas. “Ada urusan apa?” tanya namjoon datar. Eunhyo memberanikan diri menatap namjoon. “Eung, aku harus meminjam beberapa buku di perpustakan dulu.” Ucap eunhyo. “Baik, aku akan menunggumu. Ayo kita ke perpustakan.” Ujar namjoon lalu meraih lengan kanan eunhyo. Menarik gadis itu untuk melangkah keluar kelas.

Eunhyo terlihat berusaha melepaskan diri dari namjoon. “Ah namjoon-ah tidak usah.” Tolak eunhyo dan membuat namjoon menghentikan langkahnya. Eunhyo juga ikut menghentikan langkahnya. Dan bertingkah gugup ketika namjoon menatap tajam ke arahnya. “Kenapa?” tanya namjoon masih dengan nada datar namun sukses membuat eunhyo meremang. “Aku, hm, aku akan belajar di perpustakan. Ya, besok kan kita ada ulangan. Benar kan?” seru eunhyo yang diiringi oleh tawa hambar dari bibir gadis itu. “Aku akan menunggumu hingga kau selesai belajar. Bukankah kita bisa belajar bersama?” tanya namjoon lagi dan membuat eunhyo bingung harus menjawabnya dengan apa. Sungguh kali ini, eunhyo sedang berusaha menghindari namjoon. Bukannya ia takut dengan Yura dan menuruti apa kata gadis itu, hanya saja ia juga sadar diri. Memang benar, sungguh tidak pantas jika ia mendekati namjoon. Mengingat orang tua namjoon berperan penting juga sebagai penyumbang dana di sekolah ini. selain itu, eunhyo juga berjaga – jaga untuk tidak mendapatkan masalah yang lebih besar. Ia tahu dengan sangat, gadis yang bernama Yura itu tidak pernah main – main dengan perkataannya. Bagaimana jika gadis itu melakukan hal lain yang bahkan diluar dugaan eunhyo? Gadis itu hanya ingin bersekolah dengan tenang disini. Tidak ingin terlibat apapun, termasuk cinta.

“Kenapa diam? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya namjoon lagi ketika eunhyo tak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis itu justru terlihat melamun. Yang namjoon sendiri tahu persis apa yang sedang dilamunkan gadis itu. Mencari alasan untuk bisa menjauhinya. Namjoon tersenyum kecut tak kala memikirkan hal itu. “Ah, aku. Hm sebaiknya kau tidak usah menungguku. Aku akan belajar hingga larut malam. Banyak yang harus aku pelajari. Lebih baik kau pulang saja.” Tolak eunhyo lagi. Namjoon terlihat menarik sebelah sudut bibirnya, membuat senyum menyeringai di wajahnya.

“Sedang berusaha menjauhiku? Berusaha berbohong? Lain kali cari yang lebih kreatif lagi jika ingin membohongiku. Setiap malam bukannya kau harus bekerja paruh waktu? Jadi rasanya tidak mungkin jika kau belajar disini sampai malam. Baik, aku akan pulang lebih dulu. Jaga dirimu.” Ujar namjoon yang membuat eunhyo menggigit bibir bawahnya panik. Pria itu, bagaimana bisa memahami pikirannya terlampau jauh?

*****

Keesokan harinya, tak ada percakapan yang tercipta di antara namjoon dan eunhyo. Keduanya saling membungkam mulut mereka masing – masing. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibir keduanya. Tatapan datar dari namjoon selalu eunhyo dapatkan hari ini. Tidak seperti hari – hari kemarin, dimana namjoon menatapnya lembut. Tidak sedatar hari ini. eunhyo menggigit bibir bawahnya. Menahan jutaan gejolak yang menyesakan paru – parunya. Merasa sakit karena harus melihat namjoon mengacuhkannya. Ada apa dengan dirinya kali ini? Kenapa ia merasa kecewa karena namjoon mulai menjauhinya sesuai dengan keinginannya sendiri?

Bel pulang sekolah kembali berbunyi memenuhi seluruh penjuru sekolah. Eunhyo terlihat merapihkan buku – bukunya di atas meja. Begitupun dengan namjoon yang menunjukan aktivitas yang sama. Namjoon terlihat bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh dari eunhyo tanpa berkata apa – apa. Seperti tidak menganggap gadis itu ada. Eunhyo lagi – lagi merasa dadanya sesak. Apa sesakit ini rasanya di acuhkan?

Terlihat yura melangkahkan kakinya ke arah eunhyo. Ketika telah memastikan namjoon tak lagi berada di sekitaar mereka. Yura terlihat tersenyum manis di hadapan eunhyo. “Gadis pintar, aku tahu kau tidak bodoh. Kalian sudah tidak menjadi teman lagi bukan? Hah, leganya. Memang begitu seharunya dari dulu.” Ujar Yura yang hanya dibalas oleh senyum tipis dari eunhyo. “Aku pulang dulu,” pamit yura lalu menepuk pelan bahu kanan eunhyo sebelum melangkah pergi.

Eunhyo menghela nafas panjang setelah yura tak lagi terlihat olehnya. Gadis itu kembali mendudukan dirinya di kursinya. Kepalanya ia tundukan di meja. Bahu gadis itu bergetar. Sesak. Hal itu yang kini ia rasakan. Mengapa ia ingin menangis mendapatkan perlakuan dingin dari namjoon? Mengapa ia ingin menangis ketika namjoon menganggapnya tidak ada? Bukankah ia sudah sering mendapatkan perlakuan semacam itu sebelumnya? Dari siswa – siswi Kirin lain tentunya. Namun mengapa ketika namjoon yang melakukannya ia merasa ingin menangis? Mengapa ia terlihat seperti seorang gadis yang cengeng?

*****

“Maaf,” sergap suatu suara yang berhasil mengagetkan eunhyo kala itu di taman belakang sekolah. Tepat di bawah pohon mapel, seperti biasa. Eunhyo mendongakan kepalanya untuk melihat siapa orang yang menganggu kegiatannya di siang hari ini. Mata eunhyo membulat tak kala melihat namjoon sudah berdiri di hadapannya. Mengapa ia merasa bahagia namjoon kembali berbicara padanya?

“Maaf untuk apa?” tanya eunhyo ketika kembali menemukan pita suaranya. “Maaf karena aku tidak bisa menjauhimu seperti apa yang kau mau. Kau tahu, kemarin itu aku sangat tersiksa. Tidak berbicara denganmu. Tidak menatapmu. Tidak pulang bersamamu. Dan tidak melihat tawamu. Sungguh, aku tersiksa dengan semua itu.” Tutur namjoon yang berhasil membuat pipi eunhyo terasa memanas. Namjoon mengambil posisi untuk duduk di samping eunhyo. Eunhyo terlihat menundukan kepalanya. Entah bagaimana, ada rasa senang yang membuncah di dadanya ketika namjoon kembali menatapnya dengan tatapan lembut itu. “Apa kau tidak merasa seperti yang aku rasakan juga?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo dibuat bingung dengan pertanyaan namjoon. “Ne?” tanya gadis itu.

“Maksudku, apa kau betah menjauhiku seperti kemarin? Apa kau tidak merasa tersiksa?” namjoon berusaha menjabarkan pertanyaannya. Eunhyo terlihat memutar bola matanya. Nampak berpikir tentang apa yang akan ia katakan pada namjoon. “Aku, tersiksa ketika kau menjauhiku. Sungguh aneh, tapi aku tidak menyukainya.” Aku eunhyo jujur. Gadis itu semakin menundukan kepalanya. Merasa malu hanya untuk menatap pria yang kini menjadi lawan bicaranya. Namjoon tersenyum senang mendengarnya. Tangan kanan namjoon terulur untuk menarik dagu eunhyo, berusaha agar gadis itu tidak terus menunduk. Berusaha agar gadis itu menatapnya. “Boleh aku meminta satu hal padamu?” tanya namjoon masih tetap memegangi dagu eunhyo. Eunhyo hanya mengangguk pelan. “Jangan pernah memintaku untuk menjauhimu. Karena itu sama saja kau membunuhku secara perlahan.” Pinta namjoon.

*****

“Yura-ya! Lihat itu, bukankah itu eunhyo dan namjoon? Ommo ommo! Lihat mereka berciuman!” teriak heboh salah satu teman dekat Yura. Yura memandang benci ke arah namjoon dan eunhyo yang kini sedang memanggut bibir mereka berdua. “Gadis menjijikan! Berani – beraninya di berciuman dengan namjoon!! Arghhh..” geram Yura kesal. Yura menghentak – hentakan kakinya keras ke lantai yang tengah ia pijaki kali ini. kedua tangannya terlihat mengepal emosi. “Awas saja kau, eunhyo-ssi. Aku akan membuat perhitungan padamu! Lihat saja!” seru yura lalu melenggang pergi meninggalkan tempat itu. Matanya serasa perih melihat adegan yang kin tercipta antara eunhyo dan namjoon.

*****

“Hey, eunhyo-ssi, apa kau ada pelanggan malam ini? aku harus membayarmu berapa untuk bisa bermalam denganmu? Haha..” celetuk salah satu murid laki – laki yang ia temui ketika hendak berjalan menuju kelasnya. Eunhyo menautkan alisnya mendengar hal itu. Merasa bingung namun tidak ingin terlalu memusingkan hal itu. Mungkin pria itu hanya iseng.  Gadis itu menghela nafas panjang, seperti biasa. Ia hanya memendam amarahnya. Tidak mungkin seorang murid beasiswa sepertinya mencari masalah dengan anak – anak orang berdompet tebal disekitarnya.

“Busuk,” celetuk salah satu murid di koridor sekolah kala itu di hadapan eunhyo. Eunhyo yang tak tahu menahu mengerutkan keningnya bingung. Ada masalah apa lagi sekarang?

“Pembohong. Penipu.” Ucap murid yang lainnya. Eunhyo semakin memperdalam kerutan di keningnya. “Apa yang kau bicarakan sebenarnya?” tanya eunhyo akhirnya. Murid perempuan di depannya itu terlihat menarik sebelah sudut bibirnya. “Anak dari seorang pelacur dan pemabuk pasti mempunyai sifat yang sama dengan orang tuanya.” Balas murid perempuan itu. Eunhyo membelalakan mata mendengarnya. Nafas eunhyo seketika memburu ketika mendengar kalimat yang tidak mengenakan itu keluar dari bibir murid perempuan di depannya. “Yura-ssi, apa kau gila? kau demam? Kedua orang tuaku itu sudah meninggal. Dan mereka bukanlah seorang pelacur ataupun pemabuk.” Bela eunhyo. Murid perempuan yang di panggil yura tadi terdengar berdecak heran. “Kau? Masih ingin menyimpan kebohongan ini?” tanya yura dengan nada retoris. Tangan yura terulur begitu saja untuk menjambak rambut ikal milik eunhyo. Eunhyo dibuat meringis karenanya.

“Kau ini apa – apaan hah?! Hentikan omong kosongmu itu.” Bentak eunhyo lantang. “Kau bilang aku mengada-ada? Yang benar saja, kau yang merekayasa ceritamu sendiri eunhyo-ssi.” Balas yura. Yura terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rompinya. Yura sibuk menekan kombinasi angka untuk menghubungkannya dengan seseorang. Yura menatap lekat ke arah eunhyo ketika nada tunggu panggilan terdengar dari ponselnya.

“Micky, putar rekamannya sekarang.” Ucap yura pada seseorang yang tadi ia telepon dengan ponselnya. Eunhyo yang melihatnya semakin tak mengerti dengan apa yang ingin dilakukan oleh gadis itu. Yura terlihat mengeluarkan senyum mengejeknya ke arah eunhyo. Tak lama terdengar suara dua orang perempuan dari setiap speaker yang terpasang di beberapa penjuru sekolah. Yura menyuruh micky, salah satu temannya yang mempunyai kendali di ruang studio / audio untuk memutar rekaman pembicaraannya dengan seorang wanita yang mengaku ibu kandung eunhyo. “Kau kenal suara siapa itu, eunhyo-ssi?” tanya yura merendahkan. Seketika seluruh badan eunhyo serasa menegang.

Tentu saja ia hafal dengan suara tersebut. Suara wanita yang telah melahirkannya. Suara wanita yang selama 15 tahun ini bersamanya. Suara wanita yang kini telah ia tinggalkan. Suara wanita itu, suara yang –sejujurnya- ia rindukan. Eunhyo menelan liurnya getir. Merasa lemas luar biasa di sekujur persendiannya. Eunhyo meremas ujung rok seragamnya. Keringat dingin karena panik mulai mengaliri tengkuknya. Eunhyo menatap nanar ke arah salah satu speaker yang berada tak jauh dari tempatnya kini.

“Eunhyo? Park Eunhyo maksudmu? Dia, dia itu anakku. Dia meninggalkanku ketika menginjak umur 16 tahun. Kami, bukanlah keluarga yang bahagia. Aku sering merasa kasihan padanya. Ia memiliki ayah seorang pemabuk dan aku? Aku sendiri adalah seorang pelacur. Eunhyo, aku yakin ia sangat menderita menerima kenyataan bahwa kami adalah orang tuanya. Makanya gadis itu kabur dari rumah dan tidak pernah kembali ke rumah. Aku lega mendengarnya jika eunhyo memang menerima beasiswa di Kirin Art School. Ia sudah lama sekali mendambakannya. Tolong jaga eunhyo untukku. Kau teman baiknya kan? Katakan padanya, bahwa aku merindukannya. Kumohon.”

Eunhyo memerosotkan dirinya ke lantai koridor. Tubuhnya terasa limbung. Lututnya terasa lemas bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri. Dadanya mulai terasa sesak yang luar biasa. Tangannya mulai gemetar. Semua murid yang berada di dekat eunhyo terlihat memandang jijik ke arahnya. Sedangkan yura melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum menyeringai kembali menghiasi wajahnya. Gadis itu terlihat berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan eunhyo. Perlahan yura mendekatkan wajahnya dengan wajah eunhyo. Pelan, yura berbisik tepat di telingan eunhyo. “Sudah aku bilang kan? Jangan pernah mendekati namjoon. Tanggung sendiri akibatnya karena mengacuhkan peringatanku, anak manis.” Bisik yura. Gadis itu terlihat bangkit dari posisinya. Ia merapihkan pakaiannya lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan eunhyo yang kini sedang terisak sendiri.

*****

Dari kejauhan, namjoon melihat gerombolan murid Kirin sedang berkumpul di koridor. Dengan langkah tergesa – gesa, pria itu menghampiri apa yang baru saja ia lihat. Ketika melewati mading, namjoon membelalakan matanya melihat foto seorang perempuan dengan pakaian minim bahan sedang berciuman dengan seorang laki – laki tua. Lebih mengejutkannya lagi ketika terdapat tulisan “Eunhyo’s mother. What do you think about this?”. Beberapa orang disekitarnya terlihat berbisik satu sama lain setelah melihat foto tersebut.

Dengan cepat, namjoon meraih foto – foto tersebut dan merobeknya kasar. “Apa yang kalian lihat? Bubar semua!” bentak namjoon seketika. Namjoon membuang semua sobekan foto itu ke dalam tong sampah. Tak jauh dari mading, namjoon melihat seorang yang ia yakini adalah eunhyo sedang menundukan kepalanya. Bahu gadis itu terlihat bergetar. Terburu – buru, namjoon menghampiri gadis itu. Namjoon mensejajarkan posisi tubuhnya dengan eunhyo lalu meraih kedua bahu eunhyo dengan kedua tangannya. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya namjoon tak mengerti. Eunhyo tak menjawab. Gadis itu masih saja terisak, kepalanya masih saja tertunduk.

Kini tangan kanan namjoon berpindah ke dagu eunhyo. Menarik dagu itu agar ia bisa melihat wajah eunhyo dengan jelas. Mata gadis itu sembab. Hidung dan pipi gadis itu memerah. Wajahnya lusuh karena air mata. Apa yang terjadi dengannya? Batin namjoon. Namjoon menoleh ke sekitarnya. Yang ia temukan hanya pandangan tak mengenakan dari seluruh murid yang ada disana. “Kumohon bicaralah, apa yang terjadi?” namjoon terlihat mengguncangkan tubuh eunhyo. Gadis itu melempar tatapan nanar ke arah namjoon. Tak lama tatapan itu berubah menjadi buncahan amarah yang tak bisa lagi gadis itu tahan. Dengan sekuat yang ia bisa, eunhyo mendorong tubuh kekar namjoon hingga pria itu tersungkur ke belakang. “Ini semua karena dirimu! Harus berapa kali aku katakan untuk jangan mendekatiku hah?! Aku hanya ingin bersekolah dengan tenang disini! Sekarang semuanya sudah hancur! Kau puas hah???” maki eunhyo kalap. Namjoon yang tak tahu menahu tentang apa yang baru saja terjadi menautkan kedua alisnya bingung. Bingung dengan tatapan orang di sekitarnya. Bingung dengan eunhyo yang tiba – tiba mengamuk kepadanya. Ia butuh penjelasan lebih tentang apa yang terjadi kini.

*****

“Kim Yura!” bentak namjoon ketika dirinya sampai di kelas. Dengan langkah lebar, pria itu mendekati gadis bernama yura itu. “Oh namjoon-ssi, ada apa mencariku? Kau merindukanku?” tanya yura terlalu percaya diri. Namjoon mendorong kasar bahu yura. Gadis itu berdecak heran. “Ada apa ini?” tanya yura berlagak tak mengerti dengan tingkah kasar namjoon padanya. Padahal sudah jelas, alasan dibalik ini pasti tak lain adalah karena eunhyo. Gadis menjijikan itu, pikir yura.

“Kumohon jangan berlagak seperti orang bodoh, Kim Yura!” sungut namjoon kemudian. Yura memasang tampang meremehkan. “Oh baiklah, aku tahu apa yang menjadi alasanmu datang kepadaku.” Aku yura akhirnya. “Benar, memang aku yang mengungkap semua kebusukan gadis itu. Memang benar aku yang menyebarkan foto – foto mengejutkan itu di mading. Kau seharusnya berterima kasih padaku karena telah menyelamatkanmu dari seorang anak pelacur. Kau bisa hancur jika berdekatan dengannya.” Tutur yura kemudian. “Aku hanya merasa kasihan jika pria tampan dan berkelas sepertimu harus kenal dengan seorang anak pelacur dan pemabuk. Kau tahu sendiri kan? Bahwa seorang anak pasti lah mengikuti jejak orang tuanya. Jika orang tuanya pelacur dan pemabuk, anaknya juga pasti sudah sering menjual tubuhnya kepada orang lain.” Lanjut yura dengan suara yang makin lama semakin terdengar berbisik.

Namjoon menatap tajam ke arah yura. “Kau memang gadis yang cantik dan berkelas. Namun sayangnya, otak dan mulutmu itu lebih rendah daripada seorang pelacur dan pemabuk!” komentar namjoon sebelum melenggang pergi meninggalkan yura yang terkaget karena penghinaan yang baru saja ia terima.

*****

Dengan langkah gontai eunhyo berjalan menuju lokernya. Matanya membulat tak kala melihat lokernya dalam keadaan yang mengenaskan. Eunhyo mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hanya ada tatapan jijik dari pada siswa yang berada di sekitarnya. Mereka menatap eunhyo dengan tatapan merendahkan. Eunhyo berusaha menahan sesak di dadanya yang semakin menjadi. Ketenangannya di sekolah ini sudah berakhir. Semuanya kini sudah tahu siapa dia dan siapa orang tuanya. Eunhyo berusaha sekuat yang ia bisa agar tidak menangis. Gadis itu terlihat mengigit bibir bawahnya getir. Nafasnya terdengar memburu. Seluruh persendiannya lagi – lagi melemas ketika melihat lokernya penuh darah, dan itu sangat membuatnya mual.

Semua barang – barangnya di loker itu penuh dengan darah. Yang eunhyo sendiri tidak tahu darah apa itu. Baunya sangat amis dan membuatnya ingin memuntahkan semua yang ada di perutnya kini. Eunhyo menatap miris ke arah lokernya. Disana, terdapat banyak foto ibunya dengan banyak lelaki yang sengaja di tempel di sekitaran lokernya.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, eunhyo meraih kasar foto – foto itu. Merobeknya hingga tak berbentuk lagi. Air mata itu tak dapat lagi ia bendung. Bahunya mulai bergetar. Air mata itu lolos dari kedua matanya. Eunhyo menyesali kedekatannya dengan namjoon akhir – akhir ini. seharusnya ia bisa mengendalikan dirinya. Seharusnya ia bisa menghindar. Seharusnya ya seharusnya seperti itu jika ia ingin bersekolah dengan tenang sebagai anak beasiswa yang miskin. Eunhyo menahan isak tangisnya yang serasa menusuk jantungnya. Menahan air matanya yang serasa membakar kulit.

Eunhyo menundukan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya yang terlalu malu untuk bertemu dengan setiap siswa di Kirin Art School. Sekarang ini, ia sedang menjadi bulan – bulanan seluruh siswa disini. Baik laki – laki maupun perempuan, semua menandang rendah kepadanya. Eunhyo menggigit bibir bawahnya keras, menahan desakan sesak yang terasa menamparnya.

Eunhyo merasa keseimbangannya limbung ketika ada seseorang yang menarik lengannya. Seseorang itu menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukannya. Wangi parfum yang sangat familiar di indera penciuman eunhyo. Eunhyo mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah siapa yang sedang mendekapnya kini.

Namjoon, Kim namjoon yang kini tengah memeluknya. Membuat beberapa siswa perempuan yang melihat mereka menjerit – jerit tak karuan. Sekuat tenaga eunhyo berusaha melepaskan pelukan pria itu. Namun sial, bagaimanapun juga tenaga namjoon lebih kuat darinya. “Lepaskan aku!” bentak eunhyo untuk kesekian kalinya. Namun namjoon tetap tak memperdulikannya. Pria itu tetap saja pada posisinya kini, memeluk eunhyo. Mendekap gadis yang kini tengah terlihat sangat rapuh dan perlu perlindungan.

“Kim Namjoon! Kubilang, lepaskan aku!” bentak eunhyo lagi. Namjoon akhirnya mengalah. Pria itu mengendurkan pelukannya. Menatap nanar ke arah eunhyo. “Jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Aku membencimu! Aku benci kalian! Aku benci berada disini!” jerit eunhyo tak tertahankan. Tangan gadis itu terulur untuk menampar keras pipi kiri namjoon. Eunhyo menatap benci ke arah namjoon. Nafasnya memburu seiring air mata yang terus mengaliri pipinya.

“Bagaimana bisa aku menjauhi gadis yang kucintai? Bagaimana bisa aku tahan untuk tidak melihatmu sehari saja? Bagaimana bisa aku melupakan gadis yang selalu muncul dalam mimpiku akhir – akhir ini? Bagaimana bisa?!” tanya namjoon dengan nada retoris. Eunhyo tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tentang perasaan pria di hadapannya. Eunhyo dibuat tercengang akan pernyataan namjoon barusan. Namjoon meraih bahu eunhyo. Membuat gadis itu agar menatapnya. Berusaha menyakinkan gadis itu akan apa yang ia ingin katakan. “Aku mencintaimu, eunhyo-ah. Lebih dari sekedar teman untukmu. Aku tertarik padamu sejak pertama kali aku melihatmu kala itu. Kau berbeda, dan aku menyukainya. Kumohon, jangan memintaku untuk meninggalkanmu karena aku tidak akan pernah sudi melakukannya.” Lanjut namjoon serius.

Eunhyo tak mengerti dengan apa yang ia rasakan ketika namjoon menyatakan perasaannya. Senang, entah ia merasa pipinya memanas tak kala mengetahui bahwa namjoon mempunyai perasaan lebih padanya. Mengapa ia merasa sesenang ini? Namun rasa takut kembali menghantuinya. Takut jika ia harus merasakan sakit jika ia bersama namjoon nantinya.

Eunhyo menepis tangan namjoon di bahunya dengan kasar. “Aku tidak perduli! Aku tidak membutuhkanmu! Aku membencimu!” bentak eunhyo. Gadis itu mendorong tubuh namjoon agar menyingkir dari jalannya. Dengan serampang gadis itu berjalan tanpa tahu arah yang sedang ia tuju kali ini.

Perlahan yura berjalan mendekati namjoon yang tengah kesulitan mengatur nafasnya. Yura melipat kedua tangannya di depan dada. Memperhatikan mimik wajah namjoon yang seperti orang kesetanan. Yura menyeringai pelan. Gadis itu berdecak heran. “Aku tidak menyangka seleramu sungguh murahan.” Komentar yura pada namjoon. Dilihat olehnya namjoon mengepalkan kedua tangannya. Menatap sengit ke arah yura. Tangan yura terulur untuk membelai lembut pipi namjoon. Gadis itu mendekat ke telinga namjoon. Membisikan sesuatu kepada pria itu. “Apa kau pernah tidur dengannya sehingga tergila – gila padanya, kim namjoon?”

“Tutup mulutmu itu, Kim yura!”

*****

“Eoh annyeong ahjumma..” sapa yura pada seorang wanita paruh baya. Wanita itu terlihat tersenyum hangat pada yura. “Yura-ya, ada apa datang kemari? Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihatmu. Apa kau kesini mencari namjoon?” balas wanita paruh baya itu. Yura hanya menggelengkan kepalanya. “Aku kesini mencari ahjumma, ada yang ingin aku bicarakan pada ahjumma. Bisa kan?” tanya Yura lembut. Wanita paruh baya di depannya terlihat tersenyum lalu merangkul bahu yura untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Kau ingin minum apa?” tanya wanita itu ketika mereka tengah duduk di sofa ruang tamu. “Aniyo, ahjumma. Tidak usah repot – repot.” Tolak yura sopan. Wanita di depannya terlihat menggelengkan kepalanya. “Tentu tidak merepotkan, manis. Bagaimana dengan jus jeruk?” tanya wanita itu kemudian. Yura hanya mengangguk kepalanya seraya berkata, “Baiklah.”

“Ada keperluan apa sehingga kau datang kemari?” tanya wanita itu kemudian. Membuka topik pembicaraan. “Ah begini ahjumma, ini mengenai namjoon di sekolah.” Ucap yura terlihat menampakan wajah sedih yang dibuat – buat. Wanita di sampingnya, yang tak lain adalah ibu dari namjoon mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan anakku? Apa dia membuat masalah?” tanya wanita itu semakin penasaran.

“Aniyo, ahjumma. Hanya saja, namjoon oppa, aku bingung bagaimana harus mengatakannya ahjumma. Aku merasa lancang jika mencampuri urusan namjoon oppa.” Ucap Yura berpura – pura. “Tak apa, katakan saja padaku. aku percaya kau tidak akan membuat namjoon terluka, benar kan?” balas wanita itu. Yura terlihat tersenyum lebar mendapatkan kepercayaan seperti itu. “Sebenarnya, namjoon dekat dengan salah satu siswa beasiswa di Kirin, ahjumma. Yang aku khawatirkan, ternyata anak beasiswa itu berbohong pada kita semua. Dia berkata bahwa orang tuanya sudah meninggal. Nyatanya, kedua orang tuanya masih hidup. Namun, mungkin ia malu mengakui kedua orang tuanya. Karena, hm..” yura mengantung penjelasannya. Dan itu membuat wanita di sampingnya mengerutkan kening. “Karena apa? Siapa nama siswi itu?” tanya wanita itu semakin penasaran. “Karena ibunya adalah seorang pelacur sedang ayahnya adalah seorang pemabuk, ahjumma. Nama siswi itu adalah Eunhyo, park eunhyo.” Sambung yura. Dapat dilihat dengan jelas. Raut wajah kaget tergambar di wajah wanita di sampingnya. “Aku memberitahu ahjumma tentang ini, karena aku tidak mau namjoon oppa dekat dengan orang yang salah. Bagaimana jika kedekatan namjoon oppa dengan eunhyo itu bisa berdampak buruk pada namjoon oppa, ahjumma? Aku tidak ingin namjoon oppa menyesal nantinya karena hal itu.” Ucap yura melemah.

“Yang benar saja, namjoon berhubungan dengan gadis seperti itu? Astaga..” pekik wanita itu sembari memijit kepalanya tak terasa berdenyut – denyut. “Maka dari itu ahjumma, aku sangat khawatir. Ya, seperti yang kita tahu. Seorang anak pasti akan mengikuti jejak orang tuanya. Dia adalah anak dari seorang pelacur dan pemabuk. Ahjumma pasti tahu maksudku..” ucap yura lagi. Wanita di sampingnya terlihat menganggukan kepalanya. Ia tidak mungkin diam saja melihat anaknya dekat dengan seseorang yang salah, pikir wanita itu. “Ah, yura-ya, apa kau tahu dimana alamat rumah gadis itu?” tanya wanita disamping yura. Yura hanya mengangguk mengiyakan. “Bisa kau beritahu aku dimana itu?” tanya wanita itu lagi. Yura terlihat tersenyum menang. Tak sulit untuk mempengaruhi wanita di sampingnya kini. “Baiklah.” Ucap yura singkat dengan senyum yang seakan tak mau hilang dari bibirnya.

*****

Eunhyo menatap sengit ke arah wanita yang kini tengah menjadi tamunya. Wanita itu dengan santainya melemparkan sebuah amplop berisi uang ke arahnya. Sungguh tidak sopan, pikir eunhyo. Eunhyo menggigit bibir bawahnya menahan ngilu yang seras menjuluri setiap persendiannya. Sakit, hal itu yang kini ada di dalam benak eunhyo.

“Sekarang, pergi dari sini. Dan mulai hidupmu yang baru dengan uang itu.” Ucap wanita paruh baya itu pada eunhyo. “Jangan pernah menampakan dirimu lagi di depan anakku, kim namjoon, karena aku tidak suka anakku bergaul dengan anak dari keluarga yang berantakan seperti dirimu. Aku menyayangi anakku. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya.” Lanjut wanita paruh baya itu kemudian. Wanita itu terlihat mengenakan kembali kacamata hitamnya dan berniat melangkahkan kakinya keluar dari rumah eunhyo. Belum sempat wanita itu meninggalkan rumah eunhyo, gadis itu terlebih dahulu mencengkram lengan wanita paruh baya itu dan menatap sedatar mungkin ke arahnya. Eunhyo meraih amplop berisi uang tersebut dari atas mejanya dan meletakan amplop itu di tangan wanita paruh baya tadi. “Bawa saja kembali uangmu itu. Karena aku tidak akan pergi ke manapun sebelum aku lulus dari Kirin. Dan perihal anakmu, kau tidak usah khawatir. Aku dengan senang hati akan menjauhi anakmu, ahjumma. Terima kasih kau sudah sudi berkunjung ke rumahmu. Kau tahu jalan keluar kan? Perlu kuantar?” sindir eunhyo yang dibalas dengan tatapan sengit dari wanita paruh baya itu. “Baik, aku akan pegang janji. Dan jangan berharap aku akan melepaskanmu jika kau melanggar janjimu itu.” Ucap wanita itu sebelum kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda. Eunhyo menjatuhkan dirinya ke lantai ketika wanita paruh baya itu mulai menghilang di balik pintu rumahnya.

Sulit baginya untuk menjauhi namjoon di kala dirinya kini sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Eunhyo menghela nafas panjang. Ada rasa tidak rela yang terselip di hatinya ketika ia harus memutuskan untuk menjauhi namjoon. Bahkan kini ada satu alasan lain yang membuatnya harus menjauhi pria itu. Sedangkan alasan agar ia tetap berada di sisi namjoon? Tidak ada alasan untuk itu. Tidak ada yang membuatnya harus bertahan bersama namjoon. Hal yang ia harus lakukan adalah menjauhi namjoon, dan lulus dengan tenang dari Kirin. Itu saja.

Namun mengapa hatinya kini susah untuk dikendalikan. Hatinya terasa sesak tak kala memikirkan bahwa dirinya akan menjadi orang asing lagi untuk namjoon. Hatinya terasa sesak tak kala memikirkan bahwa dirinya akan menjadi seseorang yang tak berarti untuk namjoon. Hatinya terasa sesak tak kala memikirkan bahwa dirinya akan menjadi seseorang yang tak lagi dianggap oleh namjoon. Mengapa ia tidak menginginkan hal ini terjadi? Mengapa ia menyesali ketika dirinya dan namjoon harus berpisah dan menjauhi satu sama lain? Mengapa ada rasa tak rela disini?

Eunhyo memegang kepalanya erat – erat. Merasakan kepalanya berdenyut – denyut tak karuan. Kesalahan terbesar yang mungkin belum ia sadari adalah ia telah jatuh cinta dan terbiasa bersama namjoon. Hingga membuatnya menangis ketika harus menjauh dari pria itu. Melupakan cintanya. Melupakan kebiasaannya.

*****

“Kemana saja kau tadi? Aku mencarimu di taman belakang sekolah kau tidak ada disana. Aku mencarimu di perpustakan, kau juga tidak ada. Di kantin, di laboraturium, di ruang IT, di ruang olahraga, kau juga tidak ada disana. Dimana kau tadi?” cecar namjoon kesal. Eunhyo hanya menatap datar ke arah buku yang kini tengah ia baca. Tak sekalipun ia menatap lawan biacaranya yang kini sedang kesulitan mengatur nafasnya sendiri. “Eunhyo! Park Eunhyo! Jawab aku!” bentak pria itu lagi.

Eunhyo tetap berusaha fokus pada buku bacaannya dan mengabaikan semua perkataan namjoon. Dengan kasar namjoon merebut buku itu dan melemparnya entah kemana. Eunhyo terlihat tetap tenang. Gadis itu bangkit dari kursinya dan berjalan mengambil bukunya kembali. Setelah menemukannya, eunhyo kembali duduk dan tetap tak menoleh sedikitpun ke arah namjoon. “Arghh.. sampai kapan kau akan mendiamiku seperti ini?!” bentak namjoon yang sukses membuat seisi kelas kini menjadikan mereka berdua sebagai objek pemandangan siang itu.

Eunhyo masih enggan untuk menjawab semua perkataan namjoon. Gadis itu masih memilih untuk bungkam. Diam, mungkin akan lebih baik kali ini. terlalu banyak orang yang akan mengancamnya jika ia terlalu sering berbicara pada namjoon. Sungguh, ia merasa tersiksa menjalani ini semua. Berpura – pura menjauhi namjoon, yang kini mulai ia sadari telah masuk ke dalam daftar orang yang ia butuhkan di hidupnya. Namjoon yang kesal menarik lengan eunhyo kasar sehingga gadis itu bangkit berdiri dari kursinya. Ia mencengkram erat lengan eunhyo membuat gadis itu sedikit meringis menahan sakit tak tertahankan di pergelangan tangan kanannya. “Tatap aku Park Eunhyo!” bentak pria itu lagi. Eunhyo berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengalirkan bulir bening itu dari kedua matanya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa dengan tingkah namjoon kali ini. sebisa mungkin, sebisa mungkin ia tidak mau jika namjoon menyadari bahwa ia juga telah jatuh cinta pada pesona pria itu.

“Lepaskan aku.” Pinta eunhyo datar. “Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku!” balas namjoon masih dengan nada bicara yang membuat bulu kuduk meremang. “Han seonsaengnim sudah datang, tidak pantas jika kita membuat keributan disini.” Ucap eunhyo pelan. Namjoon menoleh ke depan kelas dan menangkap sosok gurunya disana sedang memandanginya dengan alis bertaut. Perlahan namjoon mengendurkan cengkaramannya hingga kini eunhyo berhasil duduk dan lepas dari cengkraman namjoon. Namjoon menundukan badannya sebagai permintaan maaf telah membuat keributan di kelasnya. “Apa ada masalah serius disini?” tanya Han seonsaengnim merasa penasaran. Namjoon tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. “Tidak, han seonsaengnim.” Balas namjoon kemudian. Han seonsaengnim hanya mengedikan bahunya lalu memulai kelasnya.

*****

Sebuah tangan dengan kasarnya menarik lengan eunhyo hingga gadis itu menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya untuk segera pulang ke rumah. “Ada apa dengan dirimu sebenarnya, hah?!” bentak seseorang yang tadi menarik lengan eunhyo. Gadis itu terlihat memejamkan matanya sekilas sambil mengatur nafasnya yang mulai memburu. “Aku hanya berusaha menyadari posisiku disini. Sangatlah tidak pantas jika aku mendapatkan teman seperti kalian. Aku ingin pulang, lepaskan tanganku.” Ujar eunhyo sedatar mungkin. Namjoon mengerang tertahan.

“Aku kan sudah pernah bilang. Jika kau menyuruhku untuk menjauhimu itu sama saja kau ingin membunuhku secara perlahan!” seru namjoon. Eunhyo menelan liurnya payah. “Aku tidak berarti apa – apa untukmu, namjoon-ah. Jadi, sebaiknya lupakan saja apa yang kita sudah lakukan selama ini. anggap saja kita tidak pernah kenal. Itu akan lebih baik untukku dan untuk dirimu juga.” Ucap eunhyo. Namjoon terlihat mengacak rambutnya sembarangan. “Apanya yang baik untukku? Aku bisa gila karena merindukanmu, eunhyo-ya.” Balas namjoon. “Namjoon-ah, kumohon dengarkan aku!” ucap eunhyo yang mulai terbawa emosi. “Kau yang harusnya mendengarkan aku!”

Eunhyo memalingkan wajahnya sesaat. “Aku tidak mau mereka melakukan hal lain yang lebih padaku juga padamu. Ini akan lebih baik, kumohon mengertilah posisiku disini.” Pinta eunhyo memelas. Namjoon lagi – lagi terdengar mengerang. “Persetan dengan mereka semua. Aku yang akan melindungimu dari mereka.” Ucap namjoon merasa percaya diri ia bisa melakukannya. Eunhyo mendesah berat. “Kau, tidak selalu bisa berada di sampingku. Tidak akan ada yang bisa melindungi diriku kecuali aku sendiri. Dan caraku untuk melindungi diriku adalah menjauh darimu.” Ucap eunhyo lalu dengan kasar menyentakan lengannya yang berada di genggaman namjoon hingga terlepas.

Namjoon masih bediri terpaku disana. Memandangi punggung eunhyo yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya. Detik kemudian, namjoon dengan setengah berlari menghampiri eunhyo. Pria itu kembali menarik kasar lengan eunhyo hingga gadis itu menatapnya dengan mata membulat. Detik berikutnya, namjoon sudah memanggut bibir mereka berdua dengan paksa. Eunhyo berusaha untuk memberontak. Namun sial, tenaganya tidaklah lebih cukup untuk itu. Berkali – kali eunhyo terlihat memukul – mukul dada bidang pria di depannya. Berusaha agar panggutan bibir mereka terlepas. Namun nihil, nafas pria di depannya sangatlah panjang. Eunhyo merasa kewalahan disini.

Namjoon kini lebih mirip seperti seseorang yang kesetanan. Matanya berkilat tajam. Tenaganya berlipat dari biasanya. Namjoon tidak lagi peduli tentang dirinya yang kini sedang menjadi pemandangan mengasika oleh para murid Kirin Art School. Perduli apa mereka tentang dirinya? Tanpa mengacuhkan pemberontakan yang dilancarkan oleh eunhyo, namjoon terus saja menyatukan bibir mereka berdua. Merasa tak rela jika harus melepas bibir manis eunhyo. Tidak sekarang. Beberapa kali namjoon menggigit bibir eunhyo agar gadis itu membuka rongga mulutnya. Dan untuk kesekian kalinya eunhyo baru membuka rongga mulutnya karena merasa perih di sekeliling bibirnya. Ciuman pemaksaan. Sakit, sungguh. Eunhyo merasa dadanya sesak. Nafasnya memburu. Ia sungguh tidak menyangka seorang Kim Namjoon yang ia kenal bisa berbuat seperti ini. eunhyo tidak lagi bisa menahan desakan air mata yang terasa memberatkan matanya. Ia butuh oksigen. Ciuman mereka sungguh menyita oksigennya habis – habisan.

Namjoon mengendurkan ciumannya ketika merasakan ada rasa asin yang menyambangi lidahnya. Perlahan namjoon melepaskan ciumannya dengan eunhyo. Dilihat olehnya, sudut kiri bibir eunhyo mengeluarkan darah. Apa separah itu ciumannya tadi?

Dada eunhyo terlihat naik turun, merasa kesulitan untuk menyesuaikan oksigen di paru – parunya. Dengan sekali gerakan, eunhyo menampar keras pipi namjoon. Sebagai pernyataan kecewanya akan kelakukan namjoon barusan. Namjoon menundukan kepalanya tak kala pipinya merasakan nyeri akibat tamparan itu. Wajahnya berubah menjadi lesu dan panik menatap wajah eunhyo yang kini bisa dibilang semerawut. Ada darah yang mengalir di sudut bibir gadis itu. Air mata yang membuat wajah gadis itu kusut. Dan rambut yang berantakan akiba ciuman tadi.

“Maaf,” kata itu yang terlontar pertama kali ketika namjoon sudah menemukan kembali pita suaranya yang tadi sempat terasa hilang. Eunhyo menatap benci ke arah namjoon. “Jangan pernah mendekatiku lagi! Aku membencimu!” bentak eunhyo lalu berlari sekuat yang ia bisa menjauh dari pandangan namjoon. Kali ini namjoon tidak berniat untuk menyusul gadis itu. Ia kini diam bak patung tak berdaya. Menatap nanar ke arah eunhyo yang makin lama makin menghilang dari pandangannya.

*****

“Hiks ahjumma.. aku benar – benar sakit hati karena gadis itu ahjumma.” Ujar Yura di pelukan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Kim Namjoon. “Gadis itu benar – benar! Menjijikan sekali ia berani mencium anakku! Memangnya dia pikir dia siapa??” gumam wanita itu dengan raut wajah kesal yang sangat kentara. “Benar ahjumma, aku juga tidak habis pikir dengan gadis itu. Sudah berulang kali aku ingatkan untuk tidak mendekati namjoon oppa. Dan sekarang gadis itu malah berciuman dengan namjoon oppa. Gadis itu pasti menggoda namjoon oppa, ahjumma.” Seru Yura dengan air mata bohong yang terus mengalir. Akting yang pintar, pikir yura.

“Kau tidak usah khawatir. Aku yang akan membereskan gadis itu. Gadis yang pantas dengan namjoon hanya dirimu. Dan ahjumma, hanya menginginkan dirimu untuk menjadi menantu ahjumma nantinya.” Ucap wanita paruh baya itu berusaha menghibur Yura. Yura terlihat mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Ia mengangguk pelan menjawab pernyataan wanita paruh baya tadi.

“Sekarang kau pulang saja, orang tuamu pasti khawatir. Urusan gadis itu, serahkan saja padaku.” ujar wanita paruh baya itu yang berhasil membuat Yura tersenyum penuh kemenangan. “Arraseo ahjumma. Ah ne, ahjumma jangan memberitahu jika aku yang memberitahu ahjumma tentang ini pada namjoon oppa. Semenjak ia kenal dengan gadis itu, namjoon oppa jadi sering memarahiku. Dan aku takut sekali ahjumma.” Pinta yura lagi. Wanita paruh baya yang menjadi lawan bicaranya hanya mengangguk mengiyakan.

*****

“Kau ini siapa? Mau apa eummhhmm.. lepas…ahh..” berontak eunhyo ketika ada sebuah tangan kekar yang memegangi tubuhnya. Dan tangan lain yang membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan yang sepertinya sudah di beri obat bius. Eunhyo yang tadinya memberontak menjadi melemah dan akhirnya pingsan di tangan pria itu.

Dengan cepat pria itu membawa eunhyo ke mobilnya dan mengendarai mobil tersebut.

Pria itu terlihat meraih ponselnya yang ia letakan di saku celananya. Setelah menekan tombol panggilan cepat, terdengar suara perempuan dewasa disana. “Bagaimana? Sudah kau dapatkan gadis itu?” tanya perempuan itu. “Bukan perkara yang sulit bagiku. Jadi, kemana aku harus membawa gadis ini?” kini pria yang tengah menyetir yang bertanya. Terdengar deheman dari lawan bicaranya. Sepertinya perempuan itu sedang berpikir. “Buang saja ia ke dalam hutan. Terserah kau mau apakan gadis itu. Bunuh dia jika perlu. Bukan urusanku. Yang terpenting, gadis itu tidak akan pernah muncul di hadapan anakku lagi.” Ucap perempuan itu kemudian. Pria kekar itu berdehem sebagai tanda mengerti.

*****

Seorang pria yang sudah berumur terlihat menggendong eunhyo masuk ke dalam sebuah hutan. Sunyi. Tidak ada siapa – siapa disana. Terlihat seperti tidak ada kehidupan di sana. Pria itu terlihat meletakan eunhyo yang masih dibawah obat bius begitu saja di tanah hutan. Pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaketnya. Berniat untuk menghabisi eunhyo. Pria itu terlihat memposisikan pistolnya tepat ke arah eunhyo setelah sebelumnya memeriksa keadaan pistolnya benar – benar bisa digunakan. Pria itu terlihat menimbang – nimbang. Wajah eunhyo yang sedang tertidur dengan nyaman. Sungguh, ia merasa tidak tega jika harus menarik pelatuk pistolnya dan menghabisi nyawa gadis itu.

Pria itu menurunkan pistolnya dan menyelipkannya lagi di balik jaketnya. Pria itu terlihat merogoh saku celana bahannya. Dan mengambil ponselnya dari dalam sana. “Aku sudah membunuhnya dan membuangnya ke dalam hutan. Tugasku selesai.” Bohongnya pada seseorang disebrang sana. Pria berumur itu terlihat mengangguk sesekali. Tak jarang pria itu menoleh ke arah eunhyo yang masih saja tidur terlelap di tanah hutan itu. Pria itu terlihat memasukan kembali ponselnya setelah mengakhiri perbincangannya dengan seseorang di sebrang sana.

Pria itu terlihat berjongkok dengan lutut kiri sebagai tumpuan agar badannya tidak limbung. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut pipi eunhyo. Gadis yang cantik namun malang, pikirnya. Bagaimanapun juga, ia punya hati nurani. Ia tidak tega membunuh seseorang yang sudah bernasib malang selama hidupnya. Ia hanya akan tega membunuh orang – orang berduit dengan tangannya sendiri. Tidak dengan orang miskin yang ditindas seperti ini.

Eunhyo perlahan mulai menggeliat. Wajahnya menampakan wajah seseorang yang kesakitan. Perlahan eunhyo mengerjapkan matanya dan mata itu membulat tak kala melihat seorang pria berumur dengan jarak wajah yang begitu dekat dengannya. “Mau apa kau?” tanya eunhyo seraya berangsur mundur dan menjauh dari pria itu. “Tidak ada yang kuinginkan darimu. Tenanglah.” Ucap pria itu dan kembali mendekati eunhyo. “Jangan mendekatiku! Kumohon!” rintih eunhyo sambil menggeleng – gelengkan kepalanya. Merasa takut yang amat sangat. “Bawa aku pulang!” pinta eunhyo dengan suara lengkingan yang memekakan telinga. Pria itu terlihat menahan eunhyo ketika gadis itu berdiri dan berlari menjauhinya.

“Dengarkan aku dulu!” bentak pria itu. Eunhyo tetap saja memberontak dalam genggaman tangan pria itu. Pria itu tidak menyukai perlawanan yang diberikan eunhyo. Ia hanya ingin memberitahu pada gadis itu untuk tidak kembali ke seoul karena ia sudah mengatakan bahwa gadis itu meninggal, namun eunhyo tidak mau mendengarkan penjelasannya sedikitpun. Tanpa sengaja, pria itu melempar badan eunhyo hingga kepala belakang gadis itu terbentur kerasnya kayu pohon yang berada tepat di belakang gadis itu. Cukup keras, mungkin bisa dikatakan terlalu keras benturan itu. Detik berikutnya, eunhyo merasakan kepalanya pusing tak terkira. Pandangannya memburam seraya bau anyir darah yang tercium olehnya. Matanya mulai memberontak untuk tetap terjaga.

Pria di hadapan eunhyo terlihat mendesah berat. “Memang takdirmu harus mati hari ini.” ucap pria itu lalu meninggal eunhyo sendirian disana.

*****

Eunhyo mengerjapkan matanya perlahan. Sinar matahari yang menembus celah – celah ventilasi kala itu terasa menyilaukan baginya. Perlahan eunhyo mulai membuka penuh kedua matanya. Matanya mengedar ke sekeliling tempatnya berada sekarang. Asing. Hal itu yang pertama di rasakan oleh eunhyo. Gadis itu mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya. Ia menyandarkan punggung ke sandaran ranjang di belakangnya. Kepalanya kini terasa sangat berdenyut – denyut. Perih sekali.

Gadis itu mengulurkan tangannya untuk memegang kepalanya yang serasa tertusuk itu. Ia merasa ada benda aneh yang menggulung kepalanya. Eunhyo terus saja meraba benda itu dan mencoba menebaknya. Dengan penasaran, eunhyo perlahan bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju meja rias yang ada di kamar itu. ia mematut bayangannya di cermin itu. kepalanya kini berbalut perban putih. Ada bercak noda darah disana. Eunhyo memutuskan kembali ke ranjangnya ketika kepalanya lagi – lagi berdenyut tak karuan.

“Kau sudah sadar rupanya.” Sergap sebuah suara laki – laki yang berhasil mengagetkannya. Pria itu mempunyai postur tubuh yang tinggi tegap. Rambutnya terlihat bersinar terkena sinar matahari. Wajahnya lumayan bisa dikatakan di atas rata – rata. Lesung pipi yang begitu terlihat ketika ia tersenyum. Hidung mancung yang tegap. Rahang kekar yang tegas. Benar – benar komposisi yang sempurna, pikir eunhyo. Namun eunhyo tidak tahu dengan pasti siapa pria itu.

Pria itu terlihat duduk di pinggir ranjang yang dekat dengan eunhyo. Pria itu tersenyum simpul dan menampakan lesung pipinya yang begitu manis. Eunhyo mau tak mau membalas senyuman itu. “Siapa namamu?” tanya pria itu lembut. “Eunhyo, park eunhyo.” Balas eunhyo terlihat sedikit ragu. Pria itu mengulurkan tangannya untuk meraih jemari eunhyo dan menggenggamnya. “Apa yang terjadi padamu sebenarnya?” tanya pria itu lagi. Eunhyo hanya bisa menyeringitkan dahinya tak mengerti. “Apa maksudmu?” eunhyo malah balik bertanya. Pria di depannya terlihat menyeringitkan dahinya. “Kau tidak ingat? Dua hari yang lalu, aku menemukanmu di Hutan sendirian. Kepalamu berdarah seperti sehabis terbentur sesuatu.” Jelas pria itu. Namun eunhyo hanya bisa menautkan kedua alisnya bingung.

“Aku? Di hutan sendirian? Aku tidak mengingatnya, sungguh.” Ucap eunhyo. Pria di depannya semakin mengerutkan keningnya. “Siapa namamu, kau ingat?” tanya pria itu lagi. Eunhyo mengangguk. “Eunhyo, park eunhyo.” Balasnya. “Ini aneh. Kau mengingat namamu tapi kau tidak mengingat kejadian kemarin. Sudah dua hari kau pingsan seperti ini. apa kau ingat dimana tempat tinggalmu? Sekolahmu mungkin?” tanya pria itu lagi. Eunhyo hanya menganggukan kepalanya santai.

“Kurasa kita harus ke dokter sekarang. Ada yang salah dengan otakmu.” Ujar pria itu kemudian. Eunhyo membulatkan mata mendengarnya. “Aku baik – baik saja, kurasa. Hanya kadang kepalaku terasa pusing.” Seru eunhyo pelan. “Nah itu yang aku kahwatirkan. Aku takut terjadi apa – apa padamu karena benturan itu di kepalamu.” Ucap pria itu lagi. Eunhyo hanya mengangguk pasrah.

“Oh tunggu, aku bahkan tidak tahu siapa namamu.” Ucap eunhyo kemudian. Pria di hadapannya itu terlihat menepuk keningnya. “Benar, sedari tadi aku belum mengenalkan siapa aku. Aku Park Jungsoo.” Balas pria itu sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan. Eunhyo meraih jemari itu dengan jemarinya. Senyum mengembang di wajah keduanya. “Eum, apa ini rumahmu?” tanya eunhyo dengan pandangan mengedar ke sekeliling. Pria bernama Jungsoo di depannya terlihat menggelengkan kepalanya. “Ini rumah kakek dan nenekku. Mereka sudah meninggal. Aku hanya main ke sini beberapa kali saja, jika sedang merindukan mereka.” Jawab Jungsoo jujur. Eunhyo terlihat mengangguk mengerti.

“Sekarang lebih baik kau mandi. Dan setelahnya, kita akan pergi ke kota untuk memeriksakan keadaanmu. Setelah itu baru aku akan mengantarmu ke rumahmu di Seoul. Kebetulan aku juga tinggal di seoul.” Ucap jungsoo yang hanya dijawab oleh anggukan kepala eunhyo.

-TBC-

Well, aku gak mau banyak omong. Gimana? Penasaran dengan kelanjutannya? Komen juseyo :”

Haha.. doa kan semoga aku bisa dengan cepat menyelesaikan ff ini’-‘)9 setelah itu aku akan fokus pada ff full story of when im yours kyaaaa >.< sequel dark shadows habis when im yours ya haha.. harap sabar menunggu :p aku juga punya kesibukan lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s