HOLD MY HAND 내손을잡아 [Chapter 2]

Title         :  HOLD MY HAND  내손을잡아 [Chapter 2]

Author     : Mega Silfiani –Ashley Park- (@MegaSilfiani / @Guixianteam)

Cast         :

  • Park Eunhyo (OC)
  • Kim Namjoon (Rap Monster BTS)
  • Find other cast by urself

Genre       : Romance, School life.

Rate         : PG 15

Length     : Twoshoot (106. 678 characters with spaces)

NB      : Hey, aku datang kembali membawa fanfict baru. Semoga kalian suka. Dan perhatian disini pasti banyak typo karena blm aku revisi jadi diharap maklum –v. Dilarang untuk menjiplak karya ini atau mem-publish ulang karya ini tanpa seizin dan sepengetahuan saya selaku author asli. Hargai para author fanfict dengan respon kalian yg baik. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan untuk membuat fanfict ini lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih dan selamat membaca🙂

hold my hand

Bukankah Tuhan sudah menjanjikan kepada umatnya? Setiap ada masalah pasti ada penyelesaian. Setiap ada kekeliruan. Pasti ada penyesalan. Hidup bukan tentang, bagaimana caramu mengeluh ketika mendapatkan masalah. Namun, hidup tentang bagaimana caramu bersabar dan memikirkan penyelesaian dari masalah yang kau alami. Hidup bukan tentang dendam yang harus terbalaskan. Namun, hidup adalah tentang bagaimana caramu tersenyum meski merasa pernah tersakiti. Bagaimana caramu menerima semua ujian Yang Maha Kuasa. Bukankah ada pelangi selepas hujan mengguyur? Lalu apa yang kalian eluhkan? –Eunhyo Park-

-PREV CHAPTER-

“Eum, apa ini rumahmu?” tanya eunhyo dengan pandangan mengedar ke sekeliling. Pria bernama Jungsoo di depannya terlihat menggelengkan kepalanya. “Ini rumah kakek dan nenekku. Mereka sudah meninggal. Aku hanya main ke sini beberapa kali saja, jika sedang merindukan mereka.” Jawab Jungsoo jujur. Eunhyo terlihat mengangguk mengerti.

“Sekarang lebih baik kau mandi. Dan setelahnya, kita akan pergi ke kota untuk memeriksakan keadaanmu. Setelah itu baru aku akan mengantarmu ke rumahmu di Seoul. Kebetulan aku juga tinggal di seoul.” Ucap jungsoo yang hanya dijawab oleh anggukan kepala eunhyo.

-HOLD MY HAND-

 “Nona eunhyo mengalami amnesia ringan. Mungkin efek terbentur di belakang kepalanya. Kemungkinan besar, ia melupakan beberapa kejadian dalam hidupnya. Terutama kejadian yang sebelumnya sempat menjadi beban baginya dan ia selalu memikirkan hal itu.” jelas seorang perempuan paruh baya dengan jas dokter berwarna putih. “Amnesia ringan?” tanya jungsoo kembali memastikan apa yang ia dengar. Wanita di depannya hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum simpul. “Tapi jangan risau, amnesia itu mungkin akan bertahan beberapa waktu saja. Ia bisa mendapatkan ingatannya kembali. Asalkan orang – orang terdekatnya bisa membantunya mengingat hal apa saja yang ia lupakan. Namun jangan terlalu di paksakan jika ia memang tidak bisa mengingat hal itu.” ucap wanita dengan jas dokter kebesarannya itu.

Wanita itu terlihat tersenyum ketika jungsoo bermaksud pamit dari ruangannya untuk menemui eunhyo. Gadis itu kini sedang menunggunya di ruang pemeriksaan. “Hey,” sapa jungsoo ketika melihat gadis yang ia cari. Eunhyo terlihat mengumbar senyum ke arah pria itu. “Apa yang dokter katakan?” tanya eunhyo penasaran dengan keadaan kesehatannya sendiri. Jungsoo memilih duduk di kursi yang ada di dekat ranjang pemeriksaan, sedang eunhyo duduk di tepi ranjang pemeriksaan. Gadis itu mengamati setiap ekspresi yang keluar dari pria di hadapannya. “Hm?” tanya eunhyo lagi ketika jungsoo tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Kau mengalami amnesia ringan, begitu katanya. Kemungkinan besar kau melupakan sebagian ingatanmu.” Jelas jungsoo singkat. Eunhyo sempat menunjukan wajah kaget kala itu. Gadis itu meraba perban yang membalut kepalanya. “Karena ini?” tanya eunhyo sembari meraba perbannya lagi. Jungsoo hanya mengangguk lemah. “Lalu berapa lama ingatanku akan hilang? Apa ingatanku bisa kembali?” tanya gadis itu lagi. Jungsoo menghela nafas panjang. “Bisa, kau tidak perlu merasa khawatir akan hal itu. Ini hanya amnesia ringan. Kau bisa mendapatkan ingatanmu kembali, cepat atau lambat.” Tutur jungsoo. Eunhyo berusaha untuk mengulas senyum di wajahnya. Kemudian gadis itu berkata seolah tanpa beban, “Arraseo. Nan gwenchana.” Jungsoo menatap gadis itu dengan alis bertaut. Merasa heran kenapa gadis di depannya terlihat seperti tidak terjadi apa – apa.

Eunhyo tersenyum tak kala memikirkan kembali bahwa sebagian ingatannya telah hilang. Ingatan apa saja yang hilang? Entahlah ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Bukankah selama ini tidak ada yang perlu diingat dari hidupnya yang begitu menyedihkan? Hidup sebatang kara karena kabur dari keluarganya yang berantakan, oh sial ia masih mengingat hal itu. Lalu apa yang ia lupakan? Eunhyo hanya mengedikan bahunya tak perduli. Tak ada yang spesial yang harus ia ingat dalam hidupnya. Tidak ada yang perlu ia sedihkan.

*****

“Ini rumahmu?” tanya jungsoo ketika mereka tiba di suatu rumah susun yang tidak begitu luas. Eunhyo hanya mengangguk mengiyakan. “Kau tinggal bersama orang tuamu?” tanya jungsoo lagi. Eunhyo terlihat menggelengkan kepalanya. “Orang tuaku.. mereka..” ucap eunhyo merasa ragu untuk mengatakannya. “Ada apa?” tanya jungsoo yang kini merasa penasaran. “Mereka, sudah berpisah. Dan aku tidak ingin memilih untuk tinggal bersama salah satu di antara mereka.” Ungkap eunhyo jujur. Entah mengapa eunhyo hanya ingin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada pria di hadapannya. “Oppa, kau mau masuk dulu?” tawar eunhyo kemudian. Berusaha mengubah arah pembicaraan mereka.

Jungsoo terlihat menggelengkan kepalanya lalu tersenyum ringan. “Tidak, terima kasih. Mungkin lain kali. Lagi pula sudah malam. Lebih baik aku pulang.” Ujar jungsoo yang ditanggapi oleh anggukan kepala eunhyo. Gadis itu tersenyum. “Baiklah, hati – hati di jalan. Terima kasih telah merawatku, oppa.” Ucap eunhyo kemudian. Jungsoo tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah eunhyo. Perlahan pria itu meraih handle pintu mobilnya dan masuk ke dalamnya. “Masuklah ke dalam.” Titah jungsoo pada eunhyo. Menyuruh eunhyo untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu sebelum ia melajukan kendaraannya pergi dari sana. Eunhyo terkikik pelan. “Arraseoyo oppa.” Balas eunhyo lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sesekali eunhyo menolehkan kepalanya ke belakang. Memastikan jika jungsoo dalam keadaan baik – baik saja disana. Eunhyo melambaikan tangannya sekilas sebelum menghilang di balik pintu rumah susunnya. Jungsoo mulai menyalakan mesin mobilnya dan melesat di antara mobil – mobil di jalan sana.

*****

Eunhyo membulatkan matanya tak kala melihat jungsoo sudah berdiri di depan rumah susunnya. Eunhyo menautkan kedua alisnya bingung. “Oppa, kenapa sepagi ini ada di rumahku?” tanya eunhyo heran. Jungsoo terlihat menggaruk tengkuknya kikuk. Merasa bingung apa yang harus ia katakan pada gadis di depannya. “Kau tidak pulang ke rumah?” tanya eunhyo lagi ketika menyadari baju yang di pakai jungsoo masih sama seperti baju yang pria itu kenakan kemarin. Jungsoo lagi – lagi menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. Pria itu menunjukan cengiran kekanak – kanakan miliknya. “Hm, iya. Aku tidak pulang ke rumah. Sebenarnya semalam aku memang ingin pulang ke rumah. Namun, aku mengkhawatirkan keadaanmu. Jadi aku bermalam disini semalam. Aku tidur di mobilku.” Ujar jungsoo. Eunhyo memukul pelan lengan kiri jungsoo. “Yak! Kau ini. Tadi malam itu udara begitu dingin. Kau bisa sakit, oppa.” Bentak eunhyo. “Sepertinya.” Balas jungsoo sembari merapatkan jaket yang tengah ia kenakan. “Kurasa pagi ini aku terserang flu ringan.” Aku jungsoo sembari mengelus hidungnya yang terlihat memerah.

Eunhyo terlihat menghela nafas panjang. Merasa heran dengan kelakuan jungsoo. Ia melepaskan syal miliknya dan mengalungkan syal tersebut ke sekeliling leher jungsoo. Pria itu sempat kaget dan menghindar, namun eunhyo menahan tubuh jungsoo agar tetap di posisi semula. Mempermudahkannya untuk memakaikan syal tersebut. “Cha! Selesai. Aku baik – baik saja semalam. Dan mungkin untuk malam – malam berikutnya. Oppa tidak perlu khawatir. Sebaiknya, oppa pulang sekarang. Sebelum flumu itu bertambah parah.” Saran eunhyo. Jungsoo menampakan wajah kecewa. “Waeyo?” tanya eunhyo kemudian. “Aku belum ingin pulang, aku masih ingin bersamamu. Sejujurnya, itu juga menjadi alasanku masih berada di sini.” Aku jungsoo malu – malu. Eunhyo hanya tertawa hambar menanggapinya. “Ah, apa kau ingin berangkat ke sekolah hari ini?” tanya jungsoo ketika melihat eunhyo mengenakan seragam sekolahnya. “Eoh.” Balas eunhyo singkat. “Aku antar bagaimana?” tawar jungsoo. Eunhyo terlihat memutar bola matanya. Nampak berpikir tentang ajakan jungoo barusan. Sebelum akhirnya mengangguk lalu melepas senyum manisnya.

*****

“Yura! Yura! Lihat! Gadis itu kembali! Gadis itu kembali!” riuh salah satu teman Yura bernama Kyungri. Yura terlihat menautkan alisnya menatap temannya itu. “Kau ini kenapa? Siapa yang kembali?” tanya yura yang masih tak mengerti dengan arah pembicaraan temannya itu. Yura kembali dengan cueknya berjalan menuju kelasnya. Kyungri menahan lengan Yura lalu memberi kode agar Yura menoleh ke arah parkiran mobil.

“Eunhyo? Gadis itu Park Eunhyo? Bagaimana bisa??” gumam Yura tak percaya dengan penglihatannya. “Bukankah gadis itu sudah mati? Ya, gadis itu sudah mati! Kim ahjumma, Kim ahjumma harus tahu tentang hal ini.” gumamnya lagi sembari merogoh saku seragamnya. Mencari ponsel miliknya. Dengan gemetaran Yura menekan panggilan cepat kepada Ibu Namjoon. “Ahjumma, ada berita mengejutkan. Eunhyo, gadis itu kini ada di sekolah, ahjumma. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah dia sudah meninggal??” bentak Yura kepada orang disebrang sana.

*****

Eunhyo berjalan dengan santainya menyusuri area koridor sekolah dengan jungsoo yang berjalan tepat di sampingnya. Jungsoo menatap ke sekitarnya. Ia sungguh mendapati pandangan terkejut dari para siswa di sana ke arah eunhyo. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Jungsoo tidak mengerti tentang hal ini.

“Biar aku temani. Aku yang akan berbicara langsung pada kepala sekolahmu tentang keadaanmu.” Ujar jungsoo yang dibalas oleh senyum tipis milik eunhyo. Mereka berdua kini berada di depan ruang kepala sekolah. Perlahan eunhyo mengetuk pintu tersebut dan memutar knop pintu itu hingga pintu berderit membuka. Eunhyo mendorong daun pintu itu hingga terbuka sepenuhnya. Dilihat olehnya, sang kepala sekolah menampakan wajah terkejut yang luar biasa. Sama seperti tatapan para siswa sebelumnya.

Eunhyo dan jungsoo terlihat membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada sang kepala sekolah. Dengan heran, sang kepala sekolah akhirnya mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi tamu. Kepala sekolah itu terlihat bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri eunhyo dan jungsoo yang sudah duduk terlebih dahulu.

“Annyeong kim seonsaengnim.” Sapa eunhyo pada kepala sekolahnya itu. dengan segaris senyum tipis terlukis di wajahnya. “Kau baik – baik saja?” tanya kepala sekolah heran dengan alis bertaut. Eunhyo mengerutkan keningnya tak mengerti. “Maksud anda?” tanyanya kemudian. Kepala sekolah terlebih memutar bola matanya. Nampak bingung dengan bagaimana ia harus menjelaskan perihal kejadian akhir – akhir ini. Kepala sekolah itu terlihat menautkan jari – jarinya.

“Dua hari yang lalu, kami menerima kabar bahwa kau sudah meninggal di jurang. Menurut kabar, kau sengaja terjun ke jurang karena ingin bunuh diri. Kami sudah berusaha mencarimu, namun kau tidak kunjung kami temukan. Dan tiba – tiba kau berada disini, sungguh kami sangat terkejut ternyata kau baik – baik saja.” Jelas sang kepala sekolah. Jungsoo yang sedari tadi diam terlihat mengerutkan keningnya dalam.

“Siapa yang memberitahu pada kalian bahwa aku sudah meninggal?” tanya eunhyo merasa penasaran. “Kim Yura. Gadis itu berkata dua hari yang lalu, kau sudah meninggal akibat terjun ke jurang. Dan kamipun percaya padanya.” Jungsoo terdengar berdehem pelan namun sukses membuat dua orang di sekitarnya ini menoleh ke arahnya. “Bukannya aku bermaksud lancang. Namun aku menemukan dia di hutan saat itu. Kepalanya penuh darah sepertinya terbentur kayu pohon yang keras. Dan disekitaran pergelangan tangannya pun aku temukan luka lebam seperti cengkraman seseorang.” Tutur jungsoo berhati – hati dalam menyampaikan pemikirannya. “Jadi kupikir, eunhyo bukanlah sengaja ingin bunuh diri. Dan lagipula, ia tidak mengingat beberapa kejadian dalam hidupnya. Ia mengalami amnesia ringan yang menyebabkannya melupakan beberapa kejadian dalam hidupnya. Terutama kejadian yang baru – baru saja ia alami.” Sambung jungsoo. “Percuma saja, jika anda bertanya padanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Karena eunhyo tidak mengingat apapun.” Ucap jungsoo yang disambut oleh anggukan kepala dari sang kepala sekolah.

Kepala sekolah itu terlihat menghela nafas panjang. “Kami sungguh bersyukur begitu tahu kalau kau baik – baik saja, eunhyo-ah. Kami sungguh takut kehilangan murid pintar sepertimu.” Aku sang kepala sekolah yang ditanggapi eunhyo melalui senyum lebarnya. “Lalu bagaimana dengan ingatan pelajaranmu? Apa ada yang kau lupakan?” tanya kepala sekolah itu. Jungsoo terlihat menoleh ke arah eunhyo. Eunhyo mengulum bibir bawahnya. “Sepertinya ada. Tapi aku tidak tahu apa itu. aku akan berusaha mempelajarinya lagi.” Ucap eunhyo. “Tak apa, jangan terlalu memaksakan dirimu seperti itu.” sanggah kepala sekolah. “Ah iya, mengenai beasiswa. Aku akan mengajukannya lagi. Karena sebelumnya pihak yayasan sudah mencabut beasiswamu di karenakan kau yang menghilang begitu saja. Tapi sekarang kau sudah kembali. Dan beasiswa itu akan kami salurkan kembali.” Ucap kepala sekolah yang dibalas oleh anggukan semangat oleh eunhyo.

*****

“Aku tidak percaya bahwa aku masih diterima disini oppa.” Ungkap eunhyo senang. Dengan langkah ringan ia menyusuri lorong koridor yang saat itu cukup sunyi menuju kelasnya. “Bukankah itu bagus?” tanya jungsoo yang masih berjalan berdampingan dengannya. Eunhyo hanya mengangguk mengiyakan.

Sekilas, eunhyo melihat seseorang berjalan ke arahnya dengan langkah terburu – buru bahkan setengah berlari. Eunhyo mengerutkan keningnya ketika orang itu berada tepat di hadapannya. “Kau kembali?” tanya pria di hadapan eunhyo tak percaya. Eunhyo terlihat menautkan kedua alisnya menatap pria itu. Belum sempat pria itu menarik eunhyo ke dalam pelukannya. Eunhyo sudah terlebih dahulu menghindar dan bersembunyi di balik lengan kekar jungsoo. Pria di hadapannya menatap tak percaya ke arah eunhyo. Lalu menatap bengis ke arah pria yang kini berada di samping eunhyo.

Jungsoo terlihat menempatkan telapak tangannya di punggung tangan eunhyo. Membelainya sayang. Seolah berkata pada gadis itu semua akan baik – baik saja. “eunhyo-ya, apa yang sebenarnya terjadi? Kemana saja kau selama ini?” tanya pria itu dengan suara bergetar. “Kau tahu? Aku hampir gila mencarimu! Aku merindukanmu eunhyo-ya, sangat merindukanmu.” Ujar pria itu. eunhyo semakin merapatkan dirinya pada lengan jungsoo.

Eunhyo melemparkan panndangan ketakutan ke arah pria di depannya. Pria yang berada di depan eunhyo terlihat mendengus tak percaya dengan sikap eunhyo kali ini. Bingung, panik dan kerindukan kini serasa menghantam kepala pria itu keras. Jungsoo terlihat menahan lengan pria itu, ketika sang pria hendak menarik paksa lengan eunhyo. “Bisa kita bicara sebentar? Ini mengenai eunhyo. Aku akan menjelaskan kepadamu apa yang terjadi padanya.” Ujar jungsoo. Pria di depannya terlihat mengangguk mengiyakan setelah sebelumnya terlihat memicingkan matanya ke arah jungsoo.

*****

“Eunhyo, dia aku temukan di dalam hutan kala itu.” ucap jungsoo mengawali perbincangannya dengan pria yang mengenalkan dirinya sebagai Kim Namjoon. “Hutan? Bagaimana bisa? Bukankah ia hilang di jurang?” tanya namjoon tak percaya dengan kebenaran yang diutarakan oleh pria yang menjadi lawan bicaranya kali ini. “Sungguh, aku tidak berbohong mengenai hal ini. aku juga tidak mengerti mengapa orang – orang disini menyebutnya sudah meninggal karena terjun ke jurang. Padahal sudah jelas jika aku menemukannya di hutan dalam keadaan kepalanya mengeluarkan darah kala itu. aku yang panik langsung saja membawanya ke rumahku di dekat sana.” Tutur jungsoo. Namjoon terlihat memicingkan matanya ke arah jungsoo. Menatap tajam pria itu, seolah berkata bahwa jika pria itu berbohong padanya pria itu akan mati. Jungsoo yang mendapatkan tatapan seperti itu menghela nafas berat. “Aku tidak berbohong padamu, percayalah.” Aku jungsoo berusaha memberi pengertian pada namjoon.

“Dan perihal eunhyo yang tidak mengenalimu. Eunhyo mengalami amnesia ringan akibat benturan benda keras di belakang kepalanya. Ia tidak mengingat beberapa kejadian dalam hidupnya. Terutama kejadian yang baru – baru ini ia alami.” Jungsoo terlihat menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya. Namjoon tercengang mendengar penjelasan pria di hadapannya. “Jadi kumohon, jangan membentaknya jika ia tidak mengingat siapa dirimu. Jangan juga memaksanya untuk mengingat semuanya. Ia butuh waktu untuk itu, mengertilah.” Pinta jungsoo kemudian.

Namjoon terlihat menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya. Matanya menatap nanar ke arah eunhyo yang masih terdiam di posisi sebelumnya. Jungsoo terlihat menoleh dan ikut menatap eunhyo yang kini tengah menatap mereka berdua dengan alis bertaut dan kening mengkerut. Namjoon memerosotkan dirinya hingga kini ia duduk di lantai sekolah dengan punggung menyandar ke tembok. Dengan sembarangan namjoon mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu terlihat memijit kepalanya yang kini terasa seakan berputar.

“Jadi, dia tidak mengingatku?” tanya namjoon miris. “Apa dia masih bisa mengingatku?” lanjutnya. Jungsoo terlihat memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya. Jungsoo terdengar berdehem. “Aku tidak bisa menjamin dia bisa mengingatmu kembali. Mengingat apa yang sudah kalian lakukan lebih tepatnya.” Seru jungsoo yang hanya dibalas anggukan lemah oleh namjoon. “Apa tidak ada yang bisa aku lakukan agar ingatannya kembali?” tanya namjoon kemudian. Dilihatnya jungsoo mengedikan bahunya.

Namjoon terlihat mengusap air mata di wajahnya sembarangan. Pria itu bangkit berdiri dan menepuk bahu jungsoo. “Baiklah, aku mengerti. Terima kasih kau sudah merawatnya selama ini.” ucap namjoon lesu. Jungsoo terlihat menoleh ke samping dan membuntuti langkah namjoon melalui ekor matanya. Dilihat olehnya, namjoon kini berjalan mendekati eunhyo. Eunhyo terlihat memundurkan dirinya selangkah. Merasa ragu ketika namjoon mulai berada di dekatnya. Ada apa dengan reaksi tubuhnya? Mengapa ia merasa seperti ingin menghindari pria itu terus menerus? Apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka dulu? Eunhyo merasa kepalanya berdenyut ketika memaksakan dirinya untuk mengingat hal itu.

“Tubuhmu masih mengingatku ternyata.” Komentar namjoon ketika eunhyo menepis tangannya yang berniat mengelus lembut pipi eunhyo. “Sikap tubuhmu masih sama seperti terakhir kali kita bertemu.” Sambung namjoon. Eunhyo terlihat meremas ujung roknya. Merasa bingung dengan dirinya dan juga pria di hadapannya.

*****

“Ku antar pulang?” tanya seorang pria pada eunhyo. Eunhyo sempat terkaget mendengar suara itu. eunhyo menoleh menatap pria itu. “Kau lagi?” tanya eunhyo tak percaya ketika melihat pria yang tadi pagi sempat membentaknya di koridor sekolah. Pria itu terlihat tersenyum tipis. Tangan pria itu terulur ke arah eunhyo. “Kim Namjoon imida.” Seru pria itu memperkenalkan dirinya. Dengan alis bertaut, eunhyo menatap uluran tangan namjoon. “Tidak usah takut. Aku tidak akan berbuat macam – macam padamu.” Lanjut namjoon.

Eunhyo terlihat melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. Gadis itu mengacuhkan tawaran namjoon begitu saja. “Pulang dengan bus?” tanya namjoon setelah berhasil meraih lengan eunhyo dan menghentikan langkah gadis itu lagi. Eunhyo menatap namjoon dengan kening mengkerut. Nampak sedang berpikir. Kepalanya terasa berdenyut sedetik kemudian. Gadis itu merasa ada kilatan kejadian yang kini berputar di otaknya. Namun wajah orang yang kini berada di dalam bayang – bayang otaknya tidaklah jelas.

“Hari ini aku naik bus.”

 “Karena kau temanku.”

“Siapa suruh kau tidak membawa mobilmu?”

Eunhyo mengerjapkan matanya ketika kilatan kejadian itu serasa menabrak otaknya. Namjoon terlihat mengibas – ibaskan tangannya di depan wajah eunhyo. “Bagaimana?” tanya pria itu lagi. Eunhyo terlihat menggelengkan kepalanya lalu menghempaskan tangannya yang berada di dalam genggaman namjoon begitu saja.

Baru dua langkah eunhyo meninggalkan namjoon di belakang. Eunhyo melihat sebuah mobil dengan warna dan model yang tak lagi asing baginya. “Jungsoo oppa?” seru eunhyo ketika pemilik mobil itu keluar dari mobilnya dan dengan setengah berlari mendekati dirinya. “Untung saja kau belum pulang. Biar aku antar ke rumahmu.” Ucap jungsoo cepat. Eunhyo terlihat menolehkan kepalanya ke belakang, ketempat dimana namjoon berada. Dilihat olehnya, namjoon kini tengah menatap beringas ke arahnya dan juga jungsoo. Nampak tak suka dengan kehadiran jungsoo yang tiba – tiba mengusik kegiatannya tadi. Jungsoo mengikuti arah pandangan eunhyo dan mendapati namjoon tengah berdiri disana dengan mata menatap intens ke arah mereka berdua.

“Apa kau berniat pulang bersamanya?” tanya jungsoo yang dibalas cepat oleh gelengan kepala eunhyo. “Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak merasa bersalah kepada kalian. Ayo masuk ke mobil. Kita pulang sekarang.” Ujar jungsoo sembari menarik lengan eunhyo untuk berjalan mengikutinya. Eunhyo hanya mengikutinya pasrah. Tak berniat untuk menolak namun tidak ingin untuk mengikuti pria yang kini tengah menggengam telapak tangannya ini.

Namjoon menatap miris ke arah eunhyo yang makin lama makin menjauh dari pandangannya. Dan akhirnya menghilang di dalam mobil jungsoo yang mulai melaju.

*****

“Tadi pagi, setelah mengantarmu ke sekolah. Aku sempat berkunjung ke rumah sakit tempatmu kemarin memeriksakan diri. Dan aku sempat berkonsultasi dengan doktermu waktu itu. Katanya kau akan sering mengalami sakit kepala dan kadang kau akan merasa sekitarmu berputar. Apa kau memang merasa seperti itu?” tanya jungsoo khawatir. Kini mereka berdua tengah berada di rumah susun eunhyo. Keduanya terlihat tengah duduk di sofa sempit rumah eunhyo dengan dua cangkir teh hangat di atas meja. Eunhyo terlihat menganggukan kepalanya sambil berdehem. “Memang, akhir – akhir ini aku sering merasa pusing dan semuanya terasa berputar. Bahkan tadi saat di toilet sekolah. Aku hampir saja terjatuh jika tidak refleks berpegangan pada wastafel di sana.” Ungkap eunhyo yang dibalas oleh tatapan khawatir jungsoo. “Tapi kau baik – baik saja kan selama di sekolah tadi?” tanya pria itu lagi. Eunhyo menyunggingkan senyum tipis lalu mengangguk.

Jungsoo terlihat memutar bola matanya. Bibirnya nampak ragu untuk mengutarakan apa yang kini berkelana di benaknya. “Ah, eunhyo-ya.” Panggil jungsoo. Eunhyo yang kala itu tengah menyesap teh hangatnya terlihat mengalihkan pandangannya dari cangkir tehnya kini ke arah wajah jungsoo. Gadis itu hanya berdehem meresponnya dikarenakan mulutnya yang penuh dengan teh hangat yang baru saja ia minum tadi. “Kupikir, akan lebih baik jika aku menemanimu disini.”

Eunhyo membulakan mata mendengar pernyataan jungsoo. “Maksud oppa?” tanyanya tak mengerti. Jungsoo menghela nafas panjang sebelum mulai menjelaskan alasannya. “Aku takut terjadi apa – apa denganmu.” Ucap jungsoo. “Aku tidak apa – apa, sungguh.” Potong eunhyo. “Kau tahu sendiri kan? Dokter saja mengatakan bahwa kau akan sering mengalami sakit kepala bahkan vertigo, aku hanya khawatir terjadi sesuatu denganmu. Sungguh, aku tidak akan berbuat macam – macam.” Seru jungsoo yang dibalas oleh raut wajah berpikir milik eunhyo. Gadis itu terlihat mengalihkan kembali pandangannya ke arah cangkir teh. Mengaduk pelan cairan di dalam gelas itu. Gadis itu mengulum bibir bawahnya ragu. “Bukan, aku percaya kau tidak akan melakukan hal macam – macam padaku. Hanya saja, kupikir, hm…” eunhyo meotong ucapannya sendiri. Nampak ragu dengan keputusan yang tadi sudah ia ambil. Bagaimana pun juga apa yang dikatakan jungsoo memang masuk akal. Kepalanya memang sering berdenyut – denyut tak karuan akhir – akhir ini. tepatnya setelah ia siuman dari tidur panjangnya selama tiga hari kemarin. “Baiklah, tapi aku hanya punya satu kamar tidur dengan satu ranjang. Bagaimana denganmu nanti?” ujar eunhyo yang langsung disambut senyum sumringah dari bibir jungsoo. “Tak apa, aku bisa tidur di sofa ini. Ini cukup nyaman bagiku. Tidak usah terlalu dipusingkan.” Seru jungsoo sambil menepuk – nepuk kursi yang kini tengah ia duduki bersama eunhyo. Eunhyo hanya tertawa ringan melihatnya.

*****

Senyum eunhyo memudar tak kala melihat namjoon kini sudah berdiri di depan pintu rumahnya lengkap dengan setelan seragam sekolah. Rompi dengan lengan panjang yang dilekuk hingga siku. Satu kancing teratas yang tidak dikaitkan. Dasi yang tidak terkait dengan benar, mereka hanya menyampir di kerah baju pria itu saja. Sepatu sport dengan desain manly berwarna abu – abu dengan sedikit garis putih di bagian belakang. Rambut yang nampak keemasan di terpa sinar matahari pagi. Wajah dengan ekspresi datar. Tatapan mata yang seolah mengikat eunhyo. Namjoon menatap lurus ke arah eunhyo, hal itu membuat eunhyo menghentikan langkahnya dan terpaku di sana. Di depan pintu rumahnya bersama jungsoo yang juga keluar bersamanya.

Namjoon terlihat menghela nafas panjang lalu mengalihkan tatapannya ke samping. Pria itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Lalu dengan perlahan pria itu berjalan menghampiri eunhyo yang masih terdiam tak menunjukan pergerakan sama sekali.

Namjoon menatap sengit ke arah jungsoo. “Berangkat bersama?” tawar namjoon setelah sebelumnya mendesah berat. Eunhyo terlihat mengalihkan tatapannya menuju jungsoo. Dilihat olehnya, jungsoo hanya menaikan sebelah alisnya dan juga mengedikan kedua bahunya. “Ada apa?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, hanya saja hari ini dan mungkin untuk beberapa hari ke depan. Aku akan berangkat ke sekolah bersama jungsoo oppa, jadi kurasa kau tidak perlu repot – repot menjemputku seperti ini.” ujar eunhyo terlihat ragu. Gadis itu mengulum bibir bawahnya sendiri. Namjoon terdengar berdesis kesal. “Bukankah kau harus menemukan kembali ingatanmu yang hilang itu?” tanya namjoon lagi. Eunhyo terlihat memicingkan matanya. “Maksudmu?” tanya gadis itu memang tak mengerti dengan arah pembicaraannya kali ini. “Kau seharusnya lebih banyak bersama orang yang memang mengenalmu dan bisa membantumu menemukan kembali ingatanmu itu. Bukan bersama orang asing yang baru saja mengenalmu kemarin.” Tegas namjoon yang sontak membuat jungsoo merasa dipojokan.

Baru saja namjoon hendak meraih paksa pergelangan tangan eunhyo, jungsoo sudah terlebih dahulu menepis tangan itu. namjoon menatap bengis ke arah jungsoo, seolah ingin menelan hidup – hidup pria di depannya kini. “Tidak baik jika memaksakan kehendakmu kepada orang lain.” Ucap jungsoo setenang mungkin. Pria itu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah eunhyo. “Kita berangkat sekarang?” tanya pria itu kemudian. Eunhyo menatap kedua pria di hadapannya ini secara bergantian. Mimik wajah bingung jelas tergambar di wajah eunhyo kala itu.

“Ah aku, aku naik bus saja. Oppa kau berangkat ke kantor saja. Tidak perlu mengantarku ke sekolah. Dan kau, namjoon-ssi, kau naik mobilmu saja sendiri. Aku tidak mau ikut bersamamu juga.” Ujar eunhyo lalu mengambil langkah lebih dulu untuk meninggalkan mereka berdua.

*****

“Mau kuajari?” sergap sebuah suara yang berhasil membuat eunhyo memalingkan wajahnya dari buku matematika tebal di depannya. Dilihat olehnya, namjoon sudah duduk di depannya dengan wajah sumringah seraya memeluk sebuah buku tulis dan mengacungkan sebuah pensil. Eunhyo memicingkan matanya menatap pria di depannya.

Namjoon menarik paksa buku matematika tebal yang kini berada di genggaman eunhyo dan mengganti buku tersebut dengan buku tulis miliknya. Pria itu membuka lembar halaman buku tulisnya. Dengan pensilnya, pria itu menunjukan sesuatu yang ada di halaman buku tulisnya pada eunhyo. “Lihat ini!” titah pria itu kemudian. Meski bingung, eunhyo akhirnya menurut juga. “Kau ingat? Waktu itu, kau pernah mengajariku soal ini. dan sekarang, biarkan aku yang balik mengajarimu tentang soal ini bagaimana?” tawar namjoon hanya hanya dibalas oleh anggukan singkat eunhyo.

Eunhyo menelan liurnya payah ketika ada gemuruh menyesakan dadanya kala itu. seperti aliran darahnya memanas. Pipinya menjadi hangat tak kala mendengar suara namjoon yang sangat tenang kini tengah mengajarinya tentang pelajaran yang ia lupakan akibat amnesia ringannya itu. sesekali eunhyo mencuri pandang ke arah namjoon. Wajah pria itu nampak menatap lurus ke arah buku tulisnya. Dengan bibir yang tak henti – hentinya berucap. Rambutnya terlihat kecoklatan ketika sinar matahari yang menerobos ventilasi perpustakaan menerpanya. Eunhyo lagi – lagi merasa jantungnya berdetak tidak normal.

Siapa pria ini? apa hubungannya dengan dirinya dulu? Apa saja yang ia lupakan tentang pria ini? kepala eunhyo seketika terasa berputar ketika dirinnya memaksakan untuk mengingat tentang pria bernama Kim Namjoon ini. eunhyo terdengar meringis pelan karenanya. Sontak namjoon yang tadinya tengah berkonsetrasi penuh ke arah buku tulisnya kini mengalihkan pandangannya ke arah eunhyo. Merasa khawatir karena rintihan eunhyo barusan.

“Kau baik – baik saja?” tanya namjoon dengan raut wajah cemas yang tidak dapat ia sembunyikan sama sekali. Eunhyo hanya mengulas sebuah senyum tipis di wajah cantiknya. “Maaf membuatmu khawatir. Aku baik – baik saja. Aku hanya merasa sedikit pusing tadi, hal ini sudah biasa terjadi semenjak aku mengalami amnesia ini.” jelas eunhyo singkat. Namjoon hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.

“Bisa kita lanjutkan?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo hanya mengangguk lalu tersenyum tipis dengan tangan yang masih memijit kepalanya yang terasa berputar.

*****

“Kena!” pekik namjoon ketika dirinya berhasil membuat kulit hidung eunhyo belepotan es krim yang ia bawa. Namjoon tertawa terbahak – bahak setelahnya. “Kau ini menyebalkan!” bentak eunhyo. Namun namjoon tak juga menghentikan tawanya yang membuat eunhyo hampir naik darah. Eunhyo yang kesal sedari tadi tak henti – hentinya mencibir ke arah namjoon. Dengan sapu tangan yang ia bawa, eunhyo membersihkan wajah dari es krim itu.

“Kau mau satu?” tanya namjoon sembari mengulurkan es krimnya. Eunhyo masih dengan mulut mencibir meraih paksa es krim itu dari tangan namjoon. Dengan kesal, eunhyo memasukan es krim itu ke dalam mulutnya seccara sembarangan. Tak peduli dengan sudut bibirnya yang belepotan  es krim tersebut.

Eunhyo yang sadar bibirnya kini tengah belepotan es krim mengambil sapu tangan di sakunya. Belum sempat ia menggunakan sapu tangan itu, namjoon sudah meraih sapu tangan itu dan mengunci tangan eunhyo sehingga tidak bisa gadis itu gerakan. Perlahan namjoon memajukan wajahnya ke arah eunhyo. Dengan gerakan yang sama perlahannya, namjoon menjilati bibir eunhyo dengan lidahnya sendiri. Membersihkan es krim yang mengotori sudut bibir eunhyo dengan mulutnya. Eunhyo hanya bisa menegang dan tak memberikan respon apa – apa. Ia terlalu kaget kala itu. tubuhnya serasa tak bisa di gerakan. Lidah namjoon yang hangat terasa menyapu permukaan bibirnya. Ini gila!

Eunhyo kembali merasakan kepalanya mulai berdenyut – denyut tak karuan lagi. Ia merasa seperti berada di dalam dejavu. Hal ini, ia merasa pernah merasakannya juga. Namun entah dengan siapa. Ia tidak bisa mengingatnya. Satu hal yang jelas, ia merasa pernah mengalami situasi seperti ini. Mungkinkah pria di depannya yang melakukannya dulu? Ataukah orang lain?

*****

“Bagaimana sekolahmu hari ini?” tanya jungsoo mengawali obrolannya dengan eunhyo. Mereka tengah berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang. Eunhyo yang sedari tadi hanya diam saja dan menatap kosong ke arah luar jendela mobil terdengar berdehem pelan. “Seperti biasa. Tidak ada yang istimewa.” Ungkap gadis itu singkat. Lalu kembali menatap ke arah luar jendela mobil.

Kejadian saat namjoon mengecup bibirnya dengan dalih ingin membersihkan es krim yang belepotan di bibirnya kini kembali muncul dalam benak eunhyo. Entah kenapa ada rasa senang yang membuncah dalam dadanya. Seperti ada ribuan kupu – kupu yang berterbangan di perutnya, membuatnya merasakan geli yang tak tertahan. Tanpa sadar, seulas senyum terhias tak kala dirinya mengingat tentang namjoon. Ada apa ini? siapa pria itu sebenarnya?

Jungsoo terdengar berdehem pelan ketika hening cukup lama tercipta di antara mereka. “Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya?” tanya jungsoo merasa penasaran. “Ah aku, tidak ada. Tidak ada apa – apa.” Ujar eunhyo berbohong. Jungsoo mendesah berat lalu kembali fokus pada jalan di depannya. Apa mungkin eunhyo mulai mengingat tentang pria itu? Mengapa aku merasa tidak rela? Batin jungsoo.

*****

“Kau ingin minum?” tawar dua pria bersamaan pada eunhyo. Eunhyo kaget dan membelalakan matanya. Gadis itu menoleh ke arah kedua pria itu secara bergantian. Dari masing – masing tangan pria itu terulur sebuah botol minum yang membuat eunhyo harus menenggak liurnya payah. Bagaimana ini? ada dua orang yang menawarinya minuman dalam waktu yang bersamaan. Kedua pria itu, Namjoon dan jungsoo saling menoleh dan menatap datar satu sama lain. Nampak tak suka dengan kehadiran satu sama lain. Eunhyo merasakan suasana tidak baik disini.

Dengan ragu, eunhyo meraih sebuah botol minum yang diulurkan oleh jungsoo. Jungsoo tersenyum  mengetahuinya. Sedangkan namjoon menarik kembali uluran tangannya dan membuka tutup botol yang ia genggam lalu menenggak habis air di dalam botol itu dengan sembarangan. “Kau sungguh hebat tadi eunhyo-ssi. Tarianmu benar – benar menganggumkan! Tidak heran jika kau bisa masuk sekolah ini dengan berbekal beasiswa.” Puji jungsoo tulus. Namjoon hanya melirik sekilas ke arah jungsoo. “Benarkah?” tanya eunhyo tak percaya akan pujian yang baru saja jungsoo katakan. Jungsoo hanya mengangguk lalu tersenyum.

“Kau memang hebat, eunhyo-ya. Kurasa aku harus kembali ke kelas.” Seru namjoon dengan wajah tanpa ekspresi. Dengan langkah tetap, namjoon meninggalkan aula tempat berlangsungnya pentas tari sekolah Kirin. Eunhyo menatap datar punggung namjoon yang makin lama makin menjauh dan akhirnya menghilang dibalik pintu aula.

*****

“Harus aku katakan berapa kali? Aku tidak akan mungkin menjauhi gadis itu, sekalipun aku harus keluar dari rumah ini!” ujar namjoon menantang. Sang ibu yang berada di depannya terlihat membelalakan matanya menatap anak laki – lakinya itu. “Mau ditaruh dimana nama baik keluarga kita jika kau, anakku, berteman dengan seorang anak dari pelacur? Kau ingin menghancurkan nama baik keluargamu sendiri?” bentak sang ibu tak kalah keras.

“Aku hanya berteman dengan anak seorang pelacur. Bukan dengan pelacur. Lagipula, eunhyo bukanlah gadis yang seperti eomma tuduhkan. Dia baik, cerdas dan jauh dari image pelacur yang sering eomma elu – elukan itu. aku nyaman bersamanya. Jadi, jangan pernah menyuruhku untuk menjauhinya!” seru namjoon dengan mata berkilat. Pria itu terlihat menggeretakan gigi gerahamnya kesal.

“Kenapa kau ini susah sekali diatur? Anak dari seorang pelacur pasti akan menjadi pelacur juga nantinya!”

“Tutup mulutmu, eomma! Jangan berbicara sembarangan tentangnya.” Potong namjoon kesal. “Jika kalian memang malu mempunyai anak yang berteman dengan seorang anak pelacur. Kalian bisa menghapus namaku dari daftar keluarga. Aku tidak keberatan sama sekali.” Lanjutnya mantab. Sang ibu hanya bisa tercengang karenanya. “Kau ini gila atau apa hah? Karena gadis itu kau berani melawanku, namjoon-ah?” tanya sang ibu retoris. “Bukan aku yang gila, tapi eomma yang gila! eomma memandang semuanya berdasarkan harta. Memang, di dunia ini apapun bisa dibeli dengan uang. Namun kebahagian sesungguhnya tidaklah bisa dibeli dengan uang. Meskipun uang yang kau punya bisa membeli seluruh negara di dunia ini. Tapi kebahagian yang sesungguhnya tidak akan pernah bisa kau beli.”

Sebuah tamparan keras berhasil mendarat dengan sempurna di pipi kanan namjoon. Dengan tawa miris namjoon mengelus pelan pipinya yang terasa nyeri. “Lancang sekali kau padaku namjoon-ah.” Bentak sang ibu. “Maaf eomma, aku hanya berusaha berada di pihak yang benar. Entah itu dirinya ataupun dirimu. Aku tidak ingin eomma menganggap rendah dirinya. Dia bahkan lebih baik dari Kim Yura, gadis yang selalu kau puji itu. eunhyo bisa membuatku tertawa sedangkan Yura hanya bisa membuatku naik darah.” Ungkap namjoon lalu dengan langkah cepat meninggalkan ibunya yang kini sedang mencibir tak jelas ke arahnya.

*****

“Kau cantik sekali malam ini.” puji jungsoo saat melihat eunhyo keluar dari kamarnya dengan dress selutut berwarna pink pudar. Make up tipis dengan rambut yang dijalin longgar. Gadis itu tersenyum malu mendapatkan pujian dari pria di depannya. “Kita berangkat sekarang?” tanya jungsoo yang hanya direspon oleh anggukan eunhyo.

Jungsoo terlihat mengapitkan lengannya di tengah lengan eunhyo. Eunhyo hanya tersenyum dan mengikuti langkah kaki jungsoo. Malam ini mereka akan menghadiri pameran di sekolah Kirin. Pameran itu digelar oleh eskul lukis Kirin. Jungsoo yang kebetulan tidak ada acara malam itu bersedia menemani eunhyo untuk menghadiri pameran tersebut.

Dan kini disinilah mereka. Di dalam aula pameran lukisan. Dari awal mereka masuk ke dalam aula. Berbagai macam lukisan sudah terpajang rapih dengan lukisan yang benar – benar menakjubkan. Eunhyo hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya tak kala melihat deretan lukisan mengangumkan itu.

Eunhyo mengalihkan pandangannya ke arah jungsoo ketika melihat pria itu terdiam di satu lukisan. Dengan penasaran eunhyo mengikuti arah pandangan jungsoo dan mendapati sebuah lukisan yang membuatnya tercengang. Dalam lukisan itu, terdapat satu wanita cantik yang wajahnya hampir mirip dengannya. Ah bahkan bukan hampir mirip, tapi memang mirip dengannya. Eunhyo menautkan kedua alisnya bingung dengan siapa yang melukiskan wajahnya disini. Jungsoo menoleh ke arah eunhyo dengan wajah sama bingungnya.

“Siapa yang melukismu?” tanya jungsoo penasaran. Namun hanya gelengan kepala yang ia dapatkan dari eunhyo. Eunhyo juga tak kalah bingung kali ini. eunhyo memperhatikan lukisan itu dengan seksama. Berharap bisa menemukan petunjuk siapa yang melukis wajahnya disini. Mungkin salah satu anggota club lukis, mungkin juga tidak. Karena semua siswa/i Kirin juga bisa ikut berpartisipasi memamerkan lukisan mereka. Tidak terbatas hanya pada club lukis saja.

Eunhyo melihat sebuah kata dipojok kiri bawah lukisan itu. “Cotton Candy” gumam eunhyo ketika membaca tulisan itu. eunhyo kembali dibuat mengerutkan keningnya dalam. “Siapa cotton candy?” tanya jungsoo lagi. Eunhyo lagi – lagi menggelengkan kepalanya tak tahu. “Aku tidak tahu, atau mungkin aku tidak ingat. Entahlah.” Ucap eunhyo pasrah. Kepala eunhyo terasa berdenyut – denyut ketika sebuah bayangan kembali berputar dalam benaknya.

Seorang gadis kecil berlarian ke arah seorang pria paruh baya yang membawa sebuah permen kapas di genggaman tangannya. Gadis kecil itu tersenyum menunjukan deretan gigi rapihnya saat permen kapas itu berpindah ke tangannya.

Seorang wanita dan pria tengah bertengkar di depan seorang gadis kecil yang sedang meremas permen kapasnya sambil menangis sesenggukan.

Seorang gadis dengan seragam sekolah sedang berjongkok di sebuah taman. Wajahnya tidak begitu jelas. Gadis itu menutupi telingannya dengan kedua tangannya. Gadis itu berteriak – teriak tak karuan. Gadis itu menangis sejadinya.Pria di hadapannya terlihat mendekap tubuh gadis itu erat. Menenangkan gadis itu dalam pelukannya.

Eunhyo memijit kepalanya kala mengingat bayangan itu muncul dalam otaknya. Siapa gadis yang tengah menangis itu. dan siapa pria yang memeluk gadis itu? apa mungkin gadis itu adalah dirinya? Lalu siapa pria yang memeluknya? Kenapa ia menangis?

*****

Yura dengan kasar melempar foto seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang berciuman dengan seorang pria tua. Eunhyo membelalakan mata melihatnya. Jelas saja ia tahu siapa wanita paruh baya yang menjadi objek dalam foto itu. wanita itu adalah ibunya. Eunhyo melayangkan pandangan tak percaya ke arah Yura. Jadi gadis itu sudah tahu tentang keluarganya.

“Apa kau benar – benar tidak ingat apa yang sudah aku lakukan padamu dengan foto ini?” bentak yura. Eunhyo terlihat memegangi kepalanya yang terasa kembali berdenyut perih. Nafas gadis itu memburu ketika berbagai macam adegan yang sempat ia lupakan kembali berputar dalam otaknya.

Seorang pria dengan tinggi semampai menghampirinya dan duduk di kursi sampingnya. Pria itu mengulurkan tangannya. “Kim Namjoon.” Ucap pria itu.

Namjoon mengulurkan sebuah foto keluarga miliknya. Dan dengan kasar ia merebut foto tersebut.

Namjoon membuat kulit hidungnya belepotan es krim. Ia merebut es krim tersebut. Namjoon memajukan wajahnya ke arahnya lalu mencium bibirnya lembut.

Dirinya yang sedang mengajari namjoon soal matematika di perpustakaan.

Dirinya dan namjoon yang sedang berjalan – jalan di sebuah taman kota.

Namjoon mengulurkan sebuah permen kapas ke arahnya, hal itu membuatnya menangis karena memang ia membenci permen kapas. Namjoon terlihat panik lalu menarik tubuhnya ke dalam dekapan pria itu.

Dirinya yang tertimpa sebuah ember berisi air di toilet wanita. Disana terdapat Yura, Kyungri dan juga Mira yang sedang bersedekap dada sambil tersenyum mengejek ke arahnya.

Namjon yang mengacuhkannya lalu keluar kelas untuk pulang tanpanya.

Dirinya dan namjoon yang berciuman di bawah phon mapel di taman belakang sekolah.

Mading sekolah yang berisi foto – foto ibunya sedang berciuman dengan seorang pria tua.

Sebuah rekaman suara ibunya yang terdengar di seluruh penjuru sekolah.

Dirinya yang terduduk di lantai sambil menangis dan menundukan wajahnya.

Namjoon yang menghampirinya saat ia sedang menangis sesenggukan. “Menjauh dariku!” bentaknya pada namjoon.

Sebuah tangan membekap mulutnya lalu menariknya paksa.

Wajah seorang pria tua berada begitu dekat dengan wajahnya. Dirinya yang takut sontak memundurkan badannya ke belakang.

Pria itu mendorong tubuhnya hingga membentur batang pohon di belakangnya. Kepalanya yang terbentur kerasnya kayu pohon mengalirkan darah segar yang berbau anyir.

Eunhyo mengerang keras tak kala kepalanya terasa begitu sakit. Seperti ada sebuah palu besar yang menghantam kepalanya keras. Adegan – adegan yang sempat ia lupakan selama ini kembali berputar di otaknya.

Eunhyo menghela nafas panjang. Jari – jarinya tak henti memijit kepalanya yang terasa amat berdenyut – denyut. Nafas gadis itu memburu. Yura yang melihat perubahan sikap eunhyo menyeringitkan dahinya. Merasa bingung dengan apa yang terjadi pada eunhyo.

Dengan penasaran, yura memberanikan diri untuk bertanya, “Kau kenapa?” tanya gadis itu ragu – ragu. Eunhyo hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arah yura. Gadis itu nampak sangat gelisah. Eunhyo terlihat memutar bola matanya. Keningnya berkerut. Alisnya bertaut. Eunhyo terlihat nampak berpikir keras. Namun Yura tak mengetahui apa yang tengah ia pikirkan. Wajah eunhyo terlihat memerah. Keringat dingin mulai mengucuri wajah manis gadis itu.

Yura menelan liurnya payah. “Hm, sepertinya aku harus pulang. Kuharap kau baik – baik saja.” Pamit yura lalu terburu – buru meninggalkan eunhyo yang masuk terpaku di dalam kelas.

*****

Eunhyo terlihat bergerak gelisah di ruang tamu rumahnya. Gerakannya terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu di pintu rumahnya. Eunhyo perlahan menghampiri pintu rumahnya. “Siapa?” tanya euhyo pada orang diluar sana. “Ini aku, jungsoo.” Balas orang di luar sana. “Eoh oppa, kau sudah pulang rupanya.” Seru eunhyo lalu memutar knop pintu hingga pintu tersebut terbuka dan menampakan wajah jungsoo disana.

Jungsoo terlihat mengumbar senyum ketika melihat eunhyo berada di depannya. “Kau sudah makan malam?” tanya jungsoo kemudian. Eunhyo hanya menggelengkan kepalanya. Jungsoo menangkap gelagat aneh yang ditunjukan oleh eunhyo. “Apa sesuatu telah terjadi?” tanya jungsoo penasaran. Eunhyo menggigit bibir bawahnya ragu. Gadis itu menundukkan kepalanya.

Jungsoo terdengar berdehem pelan. “Aku sudah mengingat semuanya.” Ucap eunhyo pelan. Jungsoo membelalakan matanya menatap eunhyo. “Kau.. mengingat tentang pria itu?” tanya jungsoo tak percaya. Eunhyo memejamkan matanya sekilas lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan jungsoo. “Aku sudah mengingatnya.. bahkan mengingat perasaanku terhadapnya.” Aku eunhyo jujur. Pengakuan yang serasa menampar keras hati jungsoo.

Pria itu tersenyum miris dengan mata mengarah ke eunhyo. “Seharusnya aku sadar, cepat atau lambat kau akan mengingat semuanya. Semua tentang hidupmu yang kau lupakan. Juga tentang perasaanmu terhadap seseorang. Seharusnya aku sadar hal itu.” gumam jungsoo yang membuat eunhyo menengadahkan kepalanya menatap wajah pria itu yang tinggi badannya melebihi dirinya. “Maksud oppa?” tanya eunhyo tak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh jungsoo.

Jungsoo menatap lekat ke arah eunhyo. Berusaha memberitahu eunhyo bahwa apa yang akan ia katakan bukanlah sebuah candaan konyol yang menggelikan. “Kurasa, aku menyukaimu sejak pertama kali aku menemukanmu di hutan. Wajah dan sikapmu hampir mirip dengan mantan kekasihku. Dia meninggal satu tahun yang lalu.” Ucap jungsoo diakhiri oleh desahan berat dan raut wajah kecewa.

Jungsoo mencoba kembali menatap eunhyo. Mencoba kembali tersenyum setelah sebelumnya senyum itu sempat pudar tak kala dirinya mengingat tentang mantan kekasihnya dulu. Eunhyo terlihat menggigit bibir bawahnya bingung. Benar dugaannya selama ini, jungsoo pasti menyukainya. Dan ia tidak mungkin bisa membalas perasan pria itu.

“Oppa, mianhae. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku..” ucapan eunhyo terhenti ketika jungsoo menempatkan jari telunjuknya di depan bibir eunhyo. “Sstt..” desis jungsoo membuat eunhyo memperhatikan wajah pria di hadapannya.

“Kau tidak perlu meminta maaf padaku. aku sudah sadar sejak awal. Aku sudah mengantisipasi hal ini. Kau tidak usah khawatir.” Tutur jungsoo. “Memang menyedihkan mengetahui dirimu ternyata memiliki perasaan terhadap pria bernama namjoon itu, karena kurasa namjoon  juga memilik perasaan yang sama terhadapmu.” Ucap jungsoo lalu menghela nafas panjang. Berusaha menetralkan deru nafasnya yang kini memburu. “Kupikir, jika kau lebih sering bersamaku dan tidak mengingat tentang namjoon. Lama kelamaan kau juga akan jatuh cinta padaku dan melupakannya. Namun ternyata aku salah. Hati memang tidak perlu mengalami amnesia ya? Haha..” sambung jungsoo diakhiri oleh tawa getir miliknya.

“Oppa..” panggil eunhyo sembari menatap nanar ke arah jungsoo. Jungsoo mengulas senyum tipis di wajahnya. Memang tak ada keikhlasan di senyumnya kali ini. “Aku benar – benar mita maaf. Aku hanya menganggapmu sebagai kakakku selama ini. Tidak lebih dari itu.” ucap eunhyo dengan nada ragu. Jungsoo meraih kedua bahu eunhyo. Membuat badan gadis itu menghadap lurus ke arahnya. Jungsoo menundukan sedikit badannya untuk mensejajarkan diri dengan tinggi badan eunhyo. “Aku tahu itu, sudahlah. Ini bukan salahmu juga. Ini salahku karena aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri untuk tidak jatuh cinta padamu. Aku sudah menebak jika aku akan merasakan hal ini. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu.” tangan kanan jungsoo terulur untuk mengacak rambut eunhyo.

“Ubah raut wajahmu itu. Kau terlihat jelek jika sedang cemberut seperti itu.” komentar jungsoo lalu menyentil pelan hidung eunhyo. Jungsoo menunjukan cengiran lebarnya. Eunhyo mencubit kesal pinggang jungsoo yang membuat pria itu meringis pelan. “Benar kau baik – baik saja oppa?” tanya eunhyo ragu. Jungsoo hanya mengangguk mengiyakan.

“Ah, apa namjoon sudah mengetahui hal ini?” tanya jungsoo penasaran. “Tentang apa?” tanya eunhyo balik. “Tentang ingatanmu yang sudah kembali.” Jelas jungsoo lagi. “Belum. Namjoon belum mengetahui hal ini. Dan sebaiknya dia tidak usah mengetahui jika ingatanku memang sudah kembali.” Balas eunhyo yang sontak membuat jungsoo menautkan kedua alisnya. “Memangnya kenapa?” tanya jungsoo bingung. Eunhyo terlihat menundukan kepalanya.

******

 “Oh astaga, kau mengagetkanku saja!” bentak eunhyo ketika dirinya melihat namjoon tiba – tiba saja duduk di kursi yang berada di sebelahnya. “Kau ini bisa atau tidak sih, sekali saja. Jangan mengagetkanku terus.” Celoteh eunhyo tak terima karena namjoon selalu mengagetkannya dimanapun dan kapanpun. Namjoon hanya menunjukkan cengiran yang dirasa eunhyo begitu menyebalkan.

Namjoon melongokkan kepalanya untuk melihat isi kotak bekal yang sedang berada di pangkuan eunhyo. “Sepertinya enak, kau tidak berniat menyuapiku?” ledek namjoon sembari mengedipkan sebelah matanya. Eunhyo mendesah heran dan hal itu justru membuat namjoon tergelak. “Apa yang lucu? Berhenti tertawa atau aku akan…” eunhyo menghentikan ucapannya sendiri. Nampak bingung dengan kelanjutan kalimatnya. “Atau apa?” tantang namjoon. Pria itu terlihat memajukan wajahnya, sontak eunhyo membelalakan wajahnya sembari memundurkan badannya ke belakang. Berusaha membentangkan jarak lagi antara dirinya dan namjoon.

“Hm? Apa yang akan kau lakukan, hm? Aku penasaran.” Ucap namjoon pelan. Jarak minim antara wajah eunhyo dan dirinya membuat namjoon seakan ingin mati karena jantungnya berdegup tak karuan. Darahnya serasa berdesir dan memanas. Eunhyo mennelan liurnya payah ketika hembusan nafas hangat milik namjoon menabrak permukaan kulit wajahnya. Sensasi geli yang menyenangkan bagi eunhyo. Nafasnya tak karuan, seperti seseorang yang baru saja lari marathon. Benar – benar memburu. Eunhyo menggigit bibir bawahnya tak kala merasakan pipinya memanas. Oh Tuhan, apa yang terjadi padaku? batin eunhyo.

Dari jarak sedekat ini, namjoon berusaha keras untuk tidak memajukan wajahnya lagi dan melenyapkan jarak di antara mereka. Namjoon berusaha keras untuk mengekang nafsunya agar tidak menyatukan bibir mereka berdua dari jarak sedekat ini. Namjoon berusaha untuk menjernihkan otaknya kembali. Dilihat olehnya, eunhyo hanya terdiam menatapnya. Matanya membulat kaget. Seakan gadis itu tak berkedip melihatnya.

“Kau yakin masih belum mengingatku?” tanya namjoon tiba – tiba menyadarkan eunhyo dari lamunannya. Eunhyo menaikan alisnya bingung. “Well, mungkin otakmu memang belum mengingatku. Namun sepertinya, respon tubuhmu masih mengingatku.” Ujar namjoon yang disambut oleh tawa hambar eunhyo. “Kau sedang memupuk kepercayaan diri, eoh?” ledek eunhyo. “Tidak. Tapi pipimu memerah. Aku bisa melihatnya dari jarak sedekat ini.” ungkap namjoon yang sontak membuat eunhyo mendorong kasar tubuh namjoon hingga pria itu hampir terjungkal ke belakang. “Tidak. Mukaku tidak memerah, sungguh.” Elak eunhyo sambil menundukan kepalanya. Malu karena memang yang dikatakan namjoon itu benar adanya.

*****

Namjoon mengambil posisi untuk duduk di depan eunhyo. Eunhyo yang kala itu tengah asik dengan buku sejarahnya pun mengalihkan tatapannya sekilas ke arah namjoon. “Ada apa?” tanya gadis itu singkat. Nampak sedang enggan untuk meladeni pria di hadapannya. Namjoon hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Aku hanya ingin berada di dekatmu, apaa itu salah?” sunggut namjoon. Eunhyo terdengar menghela nafas lalu mencoba kembali fokus pada bukunya.

“Eunhyo-ya..” panggil namjoon. Eunhyo nampak enggan untuk meladeni pria itu, eunhyo hanya berdehem membalasnya. “Eunhyo-ya..” panggil namjoon lagi namun dengan volume suara yang lebih besar. Beberapa orang di perpustakaan kala itu nampak menatap namjoon sengit. Namjoon hanya menunjukan cengirannya. “Kau tahu peraturan perpustakaan kan? Dilarang membuat gaduh disini. Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku akan mendengarkannya, mungkin.” Ujar eunhyo yang membuat namjoon mencibir ke arah gadis itu.

“Hm, apa dokter bisa memastikan kapan ingatanmu akan pulih?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo membelalakan mata mendengar pertanyaan namjoon barusan. “Dokter tidak bisa memastikan hal itu. Mungkin bisa cepat atau malah lambat. Aku juga tidak tahu.” Ungkap eunhyo seadanya. “Jika kau belum bisa mengingat tentangku, bagaimana jika kita lakukan kembali apa yang pernah kita lakukan? Kita lakukan kembali kenangan itu. aku akan membantumu dengan senang hati.” Seru namjoon menggebu – gebu. Eunhyo hanya tersenyum hambar. “Hal apa yang kau ingin ingatkan padaku?” tanya eunhyo penasaran. “Tentang kita. Dan mungkin tentang perasaanmu padaku.” balas namjoon dengan nada berbisik di akhir kalimatnya.

*****

“Boleh aku duduk di sini?” tanya namjoon sopan pada eunhyo. Mereka berdua kini tengah berada di dalam kelas. Pada saat itu keadaan kelas cukup lenggang. Beberapa siswa masih berada di kantin karena waktu istirahat memang belum habis.

Eunhyo yang mendapatkan pertanyaan seperti itu menaikan sebelah alisnya bingung. “Apa yang kau lakukan? Bukankah kau memang duduk di sebelahku selama ini?” tanya eunhyo balik tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan namjoon. Tangan kanan namjoon terulur begitu saja untuk menjitak kepala eunhyo, cukup untuk membuat gadis itu meringis kesakitan. “Yak!” bentak eunhyo tak terima atas ‘hadiah mengejutkan’ yang baru saja namjoon berikan padanya.

“Aku kan sudah bilang kalau aku akan mengulang lagi apa yang sudah kita alami selama ini. dan kuharap dengan begitu ingatanmu akan cepat pulih.” Ujar namjoon hanya dibalas oleh anggukan ringan kepala eunhyo. “Ah, aku lupa tentang itu. Ya, baik, kita mengulang kejadian masa lalu. Semoga saja harapanmu memang akan terjadi.” Balas eunhyo. Namjoon terlihat melukiskan senyum tipis.

“Pokoknya, mulai sekarang, kita akan mengulang semuanya lagi. Aku masih hafal dengan betul apa – apa saja yang kita lakukan selama ini.” ucap namjoon yakin. “Terserah padamu.” Pasrah eunhyo sembari mengedikan bahunya tak perduli. “Bagaimana kalau aku mengulang yang tadi? Kau tadi tidak mengerti yang aku lakukan.” Pinta namjoon sontak membuat eunhyo tergelak. Eunhyo hanya menganggukan kepalanya lalu tersenyum.

Namjoon melangkah keluar kelas kembali. Lalu pria itu masuk kembali ke dalam kelas dan berjalan menuju kursi eunhyo. Eunhyo hanya tersenyum melihat tingkah pria itu kini. “Boleh aku duduk disini?” tanya pria itu kemudian. Eunhyo terlihat memutar bola matanya sebelum berkata, “Apa tidak ada tempat lain untukmu?”

Namjoon menautkan kedua alisnya. Dan hal itu membuat eunhyo bertanya, “Ada apa?” tanya gadis itu singkat. Namjoon menatap lurus ke arah eunhyo. “Kau mengingatnya?” tanya namjoon penasaran. “Mengingat apa?” eunhyo justru balik bertanya. “Kata – katamu tadi, persis seperti apa yang kau katakan tempo lalu.” Ujar namjoon yang hanya dibalas oleh anggukan kepala eunhyo. “Benarkah? Tapi aku masih belum mengingat apapun. Aku hanya mengikuti instingku, kau itu begitu merepotkan. Seharusnya memang kau tidak duduk di sebelahku. Hm, kenapa juga dulu aku menyetujuimu untuk duduk denganku?” gumam eunhyo.

*****

“Hey! Eunhyo-ya!” panggil jungsoo sembari melambaikan tangannya ke arah eunhyo yang kini tengah tersenyum ke arahnya. Dengan setengah berlari, eunhyo menghampiri jungsoo yang kini tengah bersandar pada badan mobilnya. “Kau sudah datang rupanya,” sahut eunhyo ketika gadis itu sudah tiba tepat di depan jungsoo. Pria itu hanya tersenyum menanggapinya.

Jungsoo membuka pintu mobilnya berniat mempersilahkan eunhyo untuk masuk ke dalam sana. Namun niat eunhyo untuk segera masuk ke dalam sana nampaknya harus ia urungkan, karena tiba – tiba saja sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tangannya. Cukup sakit memang. Eunhyo sontak menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut. Dan matanya membulat tak kala melihat namjoon tengah berdiri di dekatnya dengan pandangan menatapnya dingin. Eunhyo bergidik ngeri mendapatkan tatapan seperti itu. seolah pria itu berniat menelannya hidup – hidup.

“Mulai hari ini dan seterusnya, kau hanya boleh pulang da berangkat sekolah bersamaku!” bentak namjoon yang ditanggapi eunhyo dengan kening berkerut. “Ada apa ini?” tanya eunhyo tak mengerti dengan sikap namjoon terhadapnya. “Aku kan sudah bilang padamu. Aku akan mengingatkanmu tentang apa – apa saja yang selama ini kita lakukan. Kita berdua selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Jadi, ini adalah caraku untuk mengingatkanmu kembali tentang kenangan kita. Kebiasaan kita dulu.” Jelas namjoon datar namun penuh penekanan. Seolah  apa yang ia perintahkan tidak bisa satu orangpun menolaknya. Namjoon menatap sekilas ke arah jungsoo. Jungsoo dapat merasakan tatapan tak suka yang diberikan namjoon padanya. Tak mau ambil pusing, jungsoo menolak beradu tatapan dengan namjoon. Pria itu mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Dengan sedikit kasar, namjoon menarik lengan eunhyo untuk berjalan bersamanya. Jungsoo menelan liurnya getir. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, mengingat ia bukan siapa – siapa bagi eunhyo. Tidak ada hak baginya untuk merasa cemburu atau menghentikan langkah eunhyo dan namjoon. Jungsoo berusaha mengulas sebuah senyum miris di bibirnya. Nafasnya memburu ketika melihat jemari eunhyo yang bertaut dengan jemari milik namjoon. Jungsoo menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya itu keluar dari area sekolah Kirin.

*****

Eunhyo dan namjoon kini berada di salah satu halte, menunggu kedatangan bus yang selama ini selalu mereka naiki untuk pulang sekolah. Eunhyo memilih untuk duduk di salah satu bagian kursi halte sedangkan namjoon berdiri dua langkah di depannya. Pria itu terlihat bersedekap dada. Nampak seperti seseorang yang menahan amarahnya. “Kau marah padaku?” tanya eunhyo akhirnya setelah sekian lama terjadi kesunyian di antara mereka berdua. Namjoon tak menjawab. Pria itu terdengar mendesah berat lalu membalik badannya hingga menghadap eunhyo. Eunhyo menaikan alisnya seolah bertanya, ‘ada apa?’

“Jangan bersamanya lagi, kumohon.” Pinta namjoon dengan suara memelas. “Dia siapa? Jungsoo oppa?” tanya eunhyo berusaha memastikan siapa yang kini tengah menjadi topik pembicaraan mereka. “Aku tahu kau cukup pintar untuk mengetahui maksudku.” Komentar namjoon. Nampak enggan menyebutkan nama pria yang kini menjadi musuhnya dalam mendapatkan gadis di hadapannya.

“Apa kau cemburu?” tanya eunhyo merasa penasaran dengan jawaban yang akan diberikan namjoon nantinya. “Apa perlu aku jelaskan lagi?” sunggut namjoon kesal. “Oh ayolah, kau tidak butuh IQ yang sempurna untuk mengetahui perasaanku padamu benar kan? Aku menyukaimu eunhyo-ya.” Aku namjoon terang – terangan. “Aku yakin kau menyadarinya, dari semua hal yang aku lakukan padamu. Well, kau mungkin sudah lupa bahwa aku pernah mengatakan hal ini padamu. Dan sekarang, aku sedang mengatakannya lagi padamu.” Sambung namjoon. “Berjanjilah padaku!” pinta namjoon pada eunhyo. “Tentang apa?” tanya eunhyo kini. Namjoon meraih kedua tangan eunhyo dan menggenggamnya erat. “Jangan biarkan pria manapun mendekatimu karena aku tersiksa melihatnya.” Ungkap namjoon jujur. Eunhyo hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Nampak enggan jika harus menatap pria di depannya.

“Jadi bagaimana?” tanya namjoon lagi. Eunhyo menatapnya dengan alis bertaut. “Apa?” sahut gadiss itu singkat. “Aku sedang menyatakan perasaamku padamu eunhyo-ya.” Balas namjoon. “Lalu?” tanya eunhyo yang kini membuat namjoon ingin memusnahkan gadis itu. “Kurasa setelah amnesia ini kau menjadi seseorang yang terlampaun bodoh. Pemikiranmu lamban sekali,” ungkap namjoon dan sukses membuat eunhyo dengan senang hati menginjak kaki pria di depannya hingga pria itu mengaduh kesakitan. “Bukankah kau seharusnya menjawab pernyataanku itu, apa kau tidak mempunyai perasaan yang sama sepertiku?” tutur namjoon. Eunhyo nampak mengulum bibirnya sendiri.

“Aku harus menjawabnya sekarang?” eunhyo kini justru balik bertanya. “Aku harus menjawabnya disaat aku tidak mengingat apapun tentangmu, disaat aku bahkan tidak tahu apa yang selama ini terjadi di antara kita, disaat ingatanku memang belum pulih. Aku harus menjawabnya sekarang? Oh baiklah, aku akan…”

“Jangan!” sanggah namjoon membuat eunhyo menghentikan kalimatnya dan menatap bingung ke arahnya. “Kenapa?” tanya eunhyo penasaran. “Kau menjawabnya ketika ingatanmu sudah kembali saja, aku sangsin jawaban yang aku inginkan akan keluar jika kau menjawabnya sekarang.” Ujar namjoon membuat eunhyo tertawa hambar. “Memangnya kau pikir ketika ingatanku sudah kembali, aku akan menjawabnya seperti jawaban yang kau inginkan?” ledek eunhyo. Namjoon terlihat menghela nafas lemah. Bahunya yang tadi sempat menegang kini mengendur. “Mungkin saja,” sahut namjoon seadanya.

Eunhyo sesekali melirik ke arah namjoon yang kini tengah berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu berdiri membelakangi dirinya. Eunhyo mengigit bibir bawahnya ragu dengan apa yang tengah ia pikirkan kali ini. beberapa kali eunhyo terlihat menggelengkan kepalanya. Menepis apa yang kini tengah berkeliaran di kepalanya tentang pria di depannya kini. Jika kalian bertanya apa yang sebenarnya gadis ini pikirkan, tidaklah lain adalah mengenai perasaannya terhadap namjoon. Ya, perasaannya yang sesungguhnya terhadap pria itu.

Eunhyo kini memang sudah kembali mengingat semuanya. Tentang namjoon, juga tentang perasaannya terhadap pria itu. eunhyo mengulum bibirnya sendiri ketika kemungkinan buruk akan terjadi padanya jika ia merealisasikan perasaannya terhadap pria itu.

Ya, eunhyo ingat bagaimana ibu namjoon membentaknya tempo lalu. Menyuruhnya untuk menjauhi namjoon. Dan eunhyo yakin dengan sangat, jika ibu namjoon adalah dalang dari penculikannya tempo lalu. Namun ia hanya berusaha diam dan tidak ingin memperpanjang masalah ini. Kau pikir apa seorang anak miskin seperti dirinya akan menang di pengadilan dengan seorang istri pengusaha kaya raya? Salah – salah, bisa saja gugatan hukum itu berbalik pada dirinya. Dan kini, eunhyo hanya ingin mengambil cara aman dengan tetap menyembunyikan apa yang ia tahu. Demi dirinya sendiri.

Eunhyo menghela nafas panjang. Apa yang sebaiknya ia lakukan terhadap perasaannya dengan namjoon? Karena sungguh, pria itu sudah berhasil menjadi candu baginya. Menjadi caffeine wajib yang harus ia dapatkan setiap hari. Eunhyo mengerang tertahan memikirkannya. Haruskah ia memendam perasaannya lagi? Seperti apa yang dulu ia lakukan saat tahu bahwa dirinya memang menyukai namjoon? Ataukah dia harus berjuang untuk cintanya itu? terdengar menggelikan, namun ia ingin melakukan hal itu. Bukan, bukan tentang menjauhi namjoon lagi, namun tentang memperjuangkan cintanya. Ia, sungguh, tidak ingin kehilangan namjoon. Dan ia yakin, pria itu akan dengan senang hati membantu perjuangannya.

Eunhyo berniat membuka pembicaraan namun terlambat karena namjoon lebih dulu membuka suaranya. “Bus sudah datang, ayo naik!” ajak namjoon kemudian.

*****

“Aku ingin turun disini ahjussi,” seru namjoon pada sang supir bus. Eunhyo menatap pria itu dengan alis bertaut. “apa yang kau lakukan?” tanya eunhyo bingung. Ini bukanlah halte tempat ia biasa pulang ataupun berangkat sekolah. Halte itu masih 2 kali pemberhentian lagi. “Yak! Apa yang kau lakukan?” pekik eunhyo ketika namjoon tiba – tiba menarik lengannya untuk ikut dengan pria itu. eunhyo sempat memberontak. Namun jelas, namjoon lebih kuat darinya. Ia tidak bisa melepaskan diri dari cengkaraman tangan pria itu.

Eunhyo berhasil menepis tangan namjoon yang mencengkram lengannya tadi saat mereka sudah turun dari bus. “Kenapa kita berhenti disini?” tanya eunhyo tak mengerti. “Aku ingin mengingatkanmu tentang apa yang kita lakukan dulu.” Ucap namjoon semangat. Pria itu mengalungkan lengannya di sekitaran leher eunhyo. Membuat eunhyo menatapnya dengan mata membulat. Dengan santainya pria itu melangkahkan kakinya yang eunhyo sendiri tak tahu akan kemana.

*****

Namjoon mengajaknya ke sebuah taman bermain. Disana banyak sekali permainan serta para pedagang yang seakan tak lelah menawarkan dagangan mereka. Eunhyo menatap namjoon dengan kening berkerut. “Kau ingin mengajakku kemana?” tanya eunhyo penasaran. Namjoon hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

Langkah namjoon terhenti ketika mereka berada tepat di sebuah stan permainan tembak boneka. Disana ada berbagai boneka yang digantung dengan berbagai ukuran dan juga model. Boneka itu diletakan semacam di sebuah hanger berputar. Boneka – boneka itu senantiasa berputar setiap detiknya. Tugas bagi orang yang bermain adalah membidik salah satu diantara sekian banyak boneka yang berada di sana dengan sebuah pistol mainan. Para pemain harus menembak salah satu boneka yang mereka inginkan dengan pistol tersebut. Boneka yang terkena peluru mainan dari pistol itu nantinya akan menjadi milik yang bermain.

Namjoon menunjuk salah satu boneka di hanger berputar tadi. Boneka beruang dengan ukuran kecil berwarna pink cerah. Dengan sebuah replika hati berwarna merah terang di genggaman boneka tersebut. Eunhyo menoleh menatap wajah namjoon. “Boneka itu ada di kamarmu bukan? Diatas meja belajarmu.” Tukas namjoon yang dibalas oleh anggukan kepala eunhyo. Eunhyo menatap namjoon dengan tatapan menyelidik. “Waktu itu, aku membuatmu menangis. Saat itu, aku tidak tahu jika kau takut pada permen kapas. Aku membelikan permen itu untukmu dan memberikannya padamu. Ternyata kau malah menangis.” Ujar namjoon. Eunhyo tak bersuara, hanya menatap lurus ke arah boneka – boneka di depannya. “Setelah kau berhenti menangis. Wajahmu itu begitu masam. Aku jadi merasa bersalah. Dan kau menantangku untuk bermain ini dan mendapatkan boneka yang kini ada di meja belajarmu itu.” sambung namjoon. Pria itu menoleh ke arah eunhyo yang kini sedang menatap luus ke depan. “Apa kau mengingatnya?” tanya namjoon kemudian. Eunhyo menghela nafas panjang. Tanpa balas menatap namjoon, eunhyo menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan namjoon barusan.

Namjoon terdengar menghela nafas panjang. “Tak apa, tidak usah terlalu dipaksakan untuk mengingat semua ini.” ujar namjoon. Eunhyo hanya tersenyum tipis masih tetap menatap lurus ke depan. “Ah, apa kau ingin aku melakukannya lagi? Menembak boneka yang sama untuk kedua kalinya?” tawar namjoon. Eunhyo tertawa menanggapinya. “Lakukan lah. Aku tidak melarangmu. Dan aku juga ingin tahu apa yang kau lakukan waktu itu untuk mendapatkan boneka itu.” tantang eunhyo.

Pria itu masih mengingatnya. Batin eunhyo

*****

“Duduk disini!” titah namjoon pada gadis di dekatnya itu. eunhyo menoleh dan menurut. Kini mereka tengah duduk di sebuah batu besar tak jauh dari sungai di taman kota itu. namjoon menunjuk langit di sebelah barat. Eunhyo mengikuti arah yang di tunjuk oleh namjoon. “Kau tahu? Di langit sebelah sana, biasanya akan terlihat pelangi selepas hujan. Dan dulu, kita berdua selalu merelakan waktu untuk datang ke tempat ini sehabis sekolah jika hujan turun. Berharap bisa melihat pelangi yang indah itu. Dan karena kau juga sangat menyukai benda langit penuh warna itu.” ungkap namjoon. Eunhyo hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Namjoon benar – benar mengingat semuanya dengan detail. Ia seperti membaca ulang sebuah skenario.  Komentar eunhyo dalam hatinya. Gadis itu menatap tepat ke arah langit yang di tunjuk oleh namjoon. Gadis itu menghela nafas berat. “Ada apa?” tanya namjoon merasa aneh dengan tingkah eunhyo tadi. Namun gadis itu hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Tak apa.”

Tak berapa lama mereka berada di tempat itu. Hujan turun membasahi tanah seoul. Eunhyo membuka telapak tangannya menengadah ke langit. “Hujan.” Pekiknya pelan. Namjoon membuka rompi sekolahnya dan melebarkan rompi itu agar eunhyo tidak kehujanan. Namjoon memberi isyarat agar eunhyo mengikutinya untuk menemukan tempat untuk berteduh. Eunhyo hanya mengikuti pria itu tanpa protes.

Yang dilakukan pria ini masih sama seperti dulu. Melindungiku. Pikir eunhyo merasa tersanjung dengan perlakuan namjoon terhadap dirinya.

*****

Eunhyo kini tengah duduk di sofa ruang tamunya. Dari arah dapur jungsoo berjalan perlahan menghampiri eunhyo di sana. Eunhyo tersenyum sekilas ke arah pria itu ketika jungsoo berada tepat di hadapannya dengan secangkir kopi hangat. Tak perlu melihatnya, eunhyo bisa mencium aroma kopi yang sangat kental dari cangkir itu, juga asap mengepul dari cangkir tersebut. Jadi bisa di pastikan di dalam cangkir itu terdapat kopi hangat kan?

Jungsoo mengambil posisi untuk duduk di sebelah eunhyo. Memperhatikan gadis itu yang kini tengah menikmati cemilan malamnya. “Biasanya gadis sepertimu itu selalu takut untuk memakan cemilan malam – malam. Tapi lihatlah dirimu, kau bahkan menghabiskan berbungkus – bungkus makanan ringan itu.” celoteh jungsoo yang hanya di tanggapi oleh cengiran dari bibir eunhyo. Eunhyo menjilati jarinya yang masih terdapat remah – remah snack yang ia makan. Membuat jungsoo hampir saja menoyor kepala gadis itu.

“Aku lapar, oppa.” Adu eunhyo. Jungsoo baru saja membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu. Namun keinginannya terurungkan ketika ponsel eunhyo berdering tiba – tiba. Eunhyo menoleh ke arah ponselnya. “Chankaman oppa.” Seru eunhyo lalu meraih ponselnya dengan tangan kanannya. Eunhyo menautkan kedua alisnya ketika melihat nama Namjoon di layar ponselnya. Mau apa bocah itu malam – malam begini? Tanya eunhyo dalam hatinya. Eunhyo terlihat mengedikan bahunya tak perduli. Gadis itu menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.

“Eunhyo-ya!” panggil namjoon di seberang sana. Suara pria itu terlampau melengking membuat eunhyo harus mengusap – usap telingannya yang terasa pengang. “Ada apa malam – malam begini menelponku?” tanya eunhyo tak perlu berbasa – basi lagi. “Temani aku makan malam!” titah namjoon seenaknya. Eunhyo membelalakan mata mendengarnya. “Kau gila hah? Makan saja sana sendiri. Aku tidak mau ke rumahmu untuk menemanimu makan malam.” Tolak eunhyo tanpa berpikir lagi. “Siapa bilang kau harus ke rumahku? Aku sudah terlebih dahulu berada di depan rumahmu.” Sanggah namjoon membuat eunhyo tercengang. “Tidak usah berlebihan menunjukan ekspresimu disana. Aku tahu kau pasti kaget.” Tebak namjoon sontak eunhyo mencibir tak jelas. “Cepat turun dan temui aku di bawah. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi.” Perintah pria itu lagi. “Yak! Siapa suruh kau.. yak! Kenapa teleponnya dimatikan???” bentak eunhyo kesal.

Jungsoo menatap eunhyo seolah meminta penjelasaan tentang siapa yang menelpon gadis itu tadi dan apa yang mereka bicarakan. Eunhyo menghela nafas panjang sebelum bekata, “Itu tadi namjoon. Dia memintaku untuk menemaninya makan malam. Kini pria itu sudah berada di bawah. Aku akan kesana. Aku pergi dulu.” Jelas eunhyo sekaligus pamit pada teman rumahnya itu. “Apa ada yang ingin kau pesan?” tanya eunhyo kemudian. Jungsoo hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.

Eunhyo bangkit dari posisi duduknya lalu mulai berjalan dengan malas ke arah kamarnya. Sekedar mengambil mantel hangatnya. Jungsoo hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga eunhyo menghilang di balik pintu kamarnya.

Jungsoo menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya. Merasa sesak yang kini sedang berlomba menghantam paru – parunya. Kepala pria itu terlihat menengadah ke langit – langit rumah. Matanya terpejam. Perlahan ia mencoba mengatur ritme nafasnya yang mulai terdengar berantakan. “Aku bahkan kalah cepat dari bocah itu.” gumam jungsoo masih dengan mata terpejam. “Hanya keduluan beberapa detik saja. Namun rasanya bisa sesesak ini.” gumamnya lagi.

Memang, sesaat sebelum ponsel eunhyo berdering. Jungsoo berniat mengajak gadis itu makan malam berdua. Namun, belum sempat ia mengutarakan hal itu. Namjoon sudah keburu menelpon gadis itu dan mengajak gadis itu untuk makan malam. Miris memang, hanya beda beberapa detik saja.

*****

“Kedai ramen?” gumam eunhyo sendiri. Namjoon terdengar berdehem lalu mengangguk. “Ini kedai ramen favoritemu kan?” tanya namjoon membuat eunhyo menganggukan kepalanya tanpa membenarkan pertanyaan pria itu. “Dulu kau sering mengajakku kesini.” Ungkap namjoon santai. Eunhyo menampakan wajah tak percaya miliknya. “Kau tidak percaya? Ayo kita masuk dan buktikan bahwa kita memang sering datang kemari berdua, dulu.” Ajak namjoon yang hanya dibalas oleh anggukan kepala eunhyo. Dengan langkah sedikit tergesa – gesa karena namjoon menarik lengannya. Eunhyo berjalan mengikuti namjoon di depannya.

“Eoseo waseyo..” sapa pelayan yang berada tak jauh dari pintu masuk kala itu. eunhyo dan namjoon terlihat tersenyum lalu menundukan separuh badannya seperti yang dilakukan pelayan tadi. Namjoon memberi isyarat agar eunhyo mengikuti langkahnya. Penasaran dengan apa yang hendak dilakukan namjoon, eunhyo berjaalan mengikuti namjoon tepat di belakang pria itu.

Kini namjoon tengah menarik sebuah kursi di sudut kedai. “Tempat favorite kita,” seru namjoon. Eunhyo hanya tersenyum simpul mendengarnya. “Lihat ini!” titah namjoon memberi isyarat agar eunhyo melihat apa yang tengah ingin ia tunjukan. Eunhyo menoleh ke samping dan menemukan beberapa deretan foto disana. Salah satu diantara sekian banyak foto adalah fotonya bersama namjoon. Foto mereka disaat sedang memenangkan perlombaan memakan ramen di kedai itu. Perlombaan itu harus diikuti oleh sepasang kekasih. Dengan hadiah sebuah boneka teddy bear yang besar berwarna coklat. Yang besarnya lebih besar dari badan eunhyo sendiri. Karena eunhyo tergila – gila dengan boneka itu. ia mengajak namjoon untuk mengikuti lomba itu dan berpura – pura menjadi sepasang kekasih. Menggelikan memang. Namun entah kenapa eunhyo menginginkan hal itu dan tidak pernah menyesalinya sampai sekarang.

“Kau ingat? Oh baiklah mungkin tidak. Ini adalah foto saat kita memenangkan lomba memakan ramen yang diadakan untuk pasangan kekasih pada hari valentine waktu itu. Kau memaksaku untuk ikut bersamamu karena kau tergila – gila pada teddy bear, ya teddy bear itu akan menjadi hadiah untuk pemenang. Dan kau memaksaku mengikutinya haha.. aku masih mengingat bagaimana ekspresimu kala itu. lucu sekali, mungkin kau juga akan tertawa sepertiku jika mengingatnya.” Celoteh namjoon. Eunhyo hanya menaikan sebelah alisnya. “Oh baik, kau memang belum mengingatnya. Kuharap segera kau ingat.” Lanjut namjoon. Eunhyo hanya mengangguk pelan.

“Eunhyo-ya, namjoon-ah!” panggil seseorang dari arah berlawanan dengan mereka. Eunhyo menautkan kedua alisnya menatap orang tersebut. “Ini pemilik kedai yang kuceritakan sebelumnya.” Jelas singkat namjoon. Eunhyo mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arah pria paruh baya di depannya. “Aku masih mengingatnya. Setidaknya ia bukan bagian dari ingatanku yang hilang.” Aku eunhyo. Namjoon hanya mengangguk seraya berdehem pelan. “Apa kabar, Kang Ahjussi?”tanya eunhyo sekedar beramah tamah.

“Jadi kau mengalami amnesia ringan?” tanya kang ahjussi kaget pada eunhyo. Gadis itu hanya tersenyum ringan. “Pantas saja, kurasa sudah lama sekali kalian tidak mengunjungi kedaiku berdua. Padahal biasanya kalian selalu kemari tiga kali seminggu. Benar – benar berita yang mengejutkan.” Pekik Kang Ahjussi. “Aku juga tidak pernah menyangkanya, kang ahjussi.” Ungkap eunhyo masih dengan senyum tipis yang mengembang di wajahnya. “Omong – omong, kenapa kau bisa sampai amnesia seperti ini? apa yang terjadi?” tanya kang ahjussi kemudian. Eunhyo terlihat memutar bola matanya nampak berpikir. Namjoon mengalihkan tatapannya ke arah gadis di sampingnya. Memperhatikan mimik wajah gadis itu dengan seksama. “Sayang sekali, aku tidak mengingat kejadian apa yang sebenarnya terjadi padaku sebelum aku mengalami hal ini. aku tidak bisa menceritakan apa – apa padamu, kang ahjussi.” Seru eunhyo. Namjoon terdengar mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

“Dulu, saat kalian datang kemari berdua. Aku merasa tatapan setiap pasangan selalu menatap kalian dengan tatapan iri. Seperti iri dengan kedekatan kalian mungkin. Haha..” ucap kang ahjussi berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan memperbaiki suasana yang sempat mendingin tadi. “Benarkah? Sayang sekali aku tidak mengingat hal itu, bukan? Kuharap ingatanku kembali lebih cepat haha..” sahut eunhyo yang membuat namjoon hanya mengukir senyum tipis di wajah tampannya.

“Jujur, aku dan istriku kadang memperhatikan kalian bersama. Dan kami berdua selalu merasa iri dengan kemesraan kalian. Benar – benar pasangan yang serasi.” Ungkap kang ahjussi yang disambut oleh tautan alis eunhyo. “Aku kan sebelumnya sudah mengatakannya. Kita pernah mengikuti lomba untuk sepasang kekasih. Dan sampai sekarang, kang ahjussi juga istrinya masih mengingat kita sebagai sepasang kekasih.” Jelas namjoon sebelum eunhyo bertambah bingung pikirnya. Kini giliran Kang ahjussi yang menampakan wajah tak mengerti. “Aku bisa menjelaskannya, kang ahjussi.” Bela namjoon dan mulai menceritakannya pada kang ahjussi juga istrinya.

“Ya ampun, jadi waktu itu kalian membohongiku? Di hari valentine? Aku tidak menyangkanya.. haha..” seru kang ahjussi diakhiri oleh tawa ringan dari bibirnya. “Tapi kurasa, kalian memang cocok menjadi kekasih.” Komentar kang ahjussi kemudian yang sontak membuat eunhyo membulatkan matanya menatap namjoon yang kini sedang memberikan cengiran tak jelas sambil mengusap tengkuknya yang tak terasa gatal atau apapun.

*****

“Dulu kau menolak uangku dan berkata akan menjauhi anakku kan? Dimana janjimu itu?” tanya seorang wanita paruh baya dengan mata terus saja menatap tajam ke arah eunhyo. Membuat gadis itu hampir saja bergidik karena ngeri. Eunhyo menghela nafas panjang lalu menelan liurnya yang kini terasa sangat perih sampai menusuk tenggorokannya. “Maafkan aku, Kim ahjumma.” Ucap eunhyo setelah sekian lama membungkam mulutnya rapat – rapat di hadapan wanita paruh baya ini yang tak lain adalah ibu dari lelaki yang berhasil menguasai hati juga pikirannya. “Benar dugaanku, kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu kan?” tebak wanita paruh baya itu dengan senyum menyeringai. Eunhyo menghela nafas sebelumnya lalu mengulas senyum tipis di wajahnya. “Ahjumma, terlalu pintar menebak semuanya.” Komentar eunhyo kemudian. “Kenapa kau tidak melaporkanku ke polisi? Aku tahu, kau pasti mengetahuinya, bahwa akulah yang menyebabkanmu berada di hutan kala itu dan kehilangan ingatanmu, iya kan?” tanya wanita itu lagi merasa penasaran kenapa eunhyo menutupi rahasia dirinya terlalu rapat. Seolah ia ingin melindungi dirinya.

Eunhyo nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan wanita di depannya. “Aku, hanya ingin melindungi apa yang berharga bagi orang yang kusayangi. Dan sayangnya, ahjumma adalah orang yang amat berharga bagi namjoon. Dan aku tidak mungkin membuat ahjumma mendekam di penjara, karena aku tidak ingin membuat namjoon sendirian dan merasa kehilanganmu.” Balas eunhyo kemudian setelah sebelumnya menghela nafas panjang. Wanita di depannya terlihat mengangkat sebelah sudut bibirnya. Eunhyo hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“Kau pikir, aku akan menaruh simpatik padamu karena kau melakukan hal ini? melindungiku? Tentu saja tidak. Apapun itu, aku tetap tidak suka jika dirimu bersama dengan anakku, kim namjoon, aku tidak menyukainya!” ungkap wanita itu lagi. Eunhyo terlihat lagi – lagi mengulas senyum simpulnya. Lalu menundukan kepalanya sekilas. Gadis itu kembali mencoba untuk menatap wanita di hadapannya. “Maaf ahjumma, aku tidak senaif itu.” bela eunhyo. Menolak pemikiran wanita di hadapannya.

“Ini! Sekarang juga, kumohon pergi dari hadapan anak laki – lakiku! Jangan pernah menampakan wajahmu lagi di keluarga kami. Karena kami tidak sudi jika anak laki – laki kami harus dekat dengan anak seorang pelacur sepertimu. Aku tidak mau jika kau meracuni anakku dengan hal – hal yang tidak benar.” Tegas wanita itu yang mengakui dirinya sebagai ibu dari Kim namjoon. Eunhyo terdengar menghela nafas panjang. Mencoba berpikir dingin ketika situasi panas tengah melingkupi dirinya kala itu.

“Maaf ahjumma, aku memang terlanjur melanggar janjiku padamu kala itu. sekarang ini, aku tidak akan meninggalkannya lagi. Aku mencintainya, ahjumma. Tolong jangan memaksaku untuk meninggalkannya.” Pinta eunhyo dengan suara melemah. Ibu namjoon terlihat mendelikan matanya kaget. “Kau?! Kenapa sangat susah diatur?!” bentak wanita tersebut. Eunhyo menggigit bibir bawahnya. Menahan ngilu yang serasa menggerogoti setiap jengkal persendiannya. Benar – benar membuatnya hampir tak kuat hanya sekedar untuk menopang tubuhnya. “Sekarang juga! Tinggalkan namjoon, dan bawa uang itu bersamamu. Itu kan yang kau mau dari anakku?” seru wanita itu membuat eunhyo melemparkan tatapan dingin yang mematikan.

“Ahjumma boleh menghinaku karena aku miskin, toh memang benar keadaannya. Ahjumma juga boleh mengataiku anak dari seorang pelacur dan pemabuk, karena itu juga adalah keadaan yang sebenarnya. Satu hal yang ahjumma harus tau, aku bukanlah gadis menjijikan yang menganggu anak ahjumma hanya karena hartanya saja!” tukas eunhyo penuh penekanan pada setiap kalimatnya. “Aku memilih bertahan bersamanya, karena memang aku mencintainya sama seperti dia mencintaiku. Dan aku akan selalu bersamanya. Itu yang aku akan lakukan.” Eunhyo terlihat menarik nafasnya panjang sebelum membuka kalimatnya lagi. “Sayangnya, itu akan aku lakukan dengan atau tanpa restu dari anda, nyonya Kim.” Lanjut eunhyo diiringi oleh senyum tipis dari bibir gadis itu.

Ibu namjoon terdengar mengerang frustasi, “Kau berani melakukannya???” tanya ibu namjoon tak percaya dengan apa yang ada dipikiran eunhyo. Tidak menyangka gadis di depannya bisa melakukan hal senekat itu. “Jangan pernah memperngaruhi anakku!” tegas ibu namjoon lalu mengulurkan tangan kanannya, bermaksud menampar gadis di depannya, namun niat itu terhentikan. Sebuah tangan kekar melingkari pergelangan tangan wanita paruh baya itu. mencoba mencegah apa yang akan dilakukan wanita paruh baya itu pada gadis belia di depannya.

“Jangan pernah menyakitinya, atau aku tidak segan – segan keluar dari rumah.” Seru pria yang menghentikan aksi wanita paruh baya tadi. Ibu namjoon sontak menoleh ke belakang dan mendapati namjoon tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan bringas. Seolah ingin menelan ibunya itu hidup – hidup. Sang ibu terlihat menghempaskan tangannya yang berada di dalam cengkraman anak laki – lakinya itu. “Bagus sekali, kalian sekarang bersekongkol, ya?” sindir sang ibu. “Kalau iya, memang kenapa? Apa ada masalah dengan hal itu?” tanya namjoon menantang. “Kumohon pada eomma, selama ini aku selalu menurut padamu. Aku selalu memenuhi apa yang kau inginkan, ketika aku bisa memenuhinya. Tapi kumohon, untuk hal satu ini, untuk hal tentang cintaku, kumohon, jangan ikut campur. Aku tahu, ini mungkin terdengar lancang, namun hanya aku yang bisa menentukan dengan siapa aku tidak bisa hidup.” Tutur namjoon perlahan. Mencoba memberi pengertian pada ibu kesayangannya itu. eunhyo hanya terdiam menonton adegan antara anak dan ibu di depannya. “Sayangnya, orang itu adalah eunhyo. Orang yang aku tidak bisa hidup tanpanya. Maafkan aku eomma.” Sambung namjoon dengan suara yang makin lama makin melemah.

Eunhyo mengigit bibir bawahnya ketika melihat namjoon berlutut di hadapan ibunya. “Biarkan aku bersamanya, kumohon. Kau bisa mengatur segalanya tentangku, namun untuk urusan cinta. Biarkan aku mengurusnya sendiri dengan caraku pula.” Pinta namjoon memelas.

Sang ibu terlihat berjalan menuju sofa rumah eunhyo dan menyabar tas miliknya sembarangan.

“Kau sudah mengingat semuanya? Sejak kapan?” tanya namjoon tak percaya ketika ibunya sudah menghilang di balik pintu rumah eunhyo. Eunhyo menghela nafas panjang sebelum mulai menjelaskan semuanya.

“Aku sudah mengingatnya, sejak satu bulan yang lalu. Sejak kau berencana mengingatkan aku tentang semuanya. Aku sudah mengingatnya terlebih dahulu.” Ungkap eunhyo membuat namjoon menampakan wajah kebingungan. “Maksudmu? Kau sudah tidak amnesia ketika aku mengingatkanmu tentang kita? Kau membohongiku?” ucap namjoon lagi. Eunhyo terdengar menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. “Aku minta maaf, aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini semua…”

“Lalu?” tanya namjoon tak sabaran dengan penjelasan namjoon. “Aku hanya.. hanya ingin tahu seberapa besarnya usahamu untuk mengingatkanku tentang kenangan kita. Dan ternyata kau cukup sabar menghadapiku yang berpura – pura amnesia selama ini.” jujur eunhyo sontak membuat namjoon membelalakan matanya tak percaya. “Setidaknya, aku juga ingin melihat, seperti apa orang yang telah membuatku jatuh hati ini.” aku eunhyo seperti berbisik di akhir kalimatnya. Refleks namjoon memegangi kedua bahu eunhyo dan menatap gadis itu lekat – lekat. “Aku tidak salah dengar kan?” tanya namjoon masih tak percaya dengan pendengarannya. “Tentang apa?” eunhyo balik bertanya. “Tentang perasaanmu padaku.” jelas namjoon. Eunhyo terlihat menggelengkan kepalanya. “Selama ini, aku sudah memikirkannya matang – matang. Dan mungkin ini terdengar sedikit ekstrim, tapi, aku akan bersamamu karena aku tidak ingin kehilanganmu. Apapun yang terjadi nantinya. Jadi kumohon, tetap disampingku dan jaga diriku agar tidak merasa kecewa karena mengambil keputusan ini.” tutur eunhyo diakhiri dengan senyum di bibirnya. Namjoon tidak bisa berkata apa – apa kali ini. Pria itu terlihat tercengang karena perkataan eunhyo sebelumnya.

“Jadi?” tanya namjoon ketika menemukan kembali pita suaranya. “Aha?” balas eunhyo berpura – pura tak mengerti dengan maksud namjoon. “Jadi, kau sekarang milikku. Jangan pernah mendekati pria manapun. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu, semampuku.” Seru namjoon meluap – lupa. Eunhyo hanya memperhatikan tingkah pria di depannya dan tergelak.

*****

“Ahjumma, selamat ulang tahun. Aku senang kau mengundangku kesini.” Seru Yura dengan wajah sumringah. Wanita yang disapa olehnya hanya tersenyum lalu mengajak yura ketengah pesta. “Nikmatilah pestanya. Biar aku panggilkan namjoon untuk menemanimu, bagaimana?” tawar wanita itu yang langsung disambut oleh anggukan kepala yura.

*****

“Kemana perginya yura..” gumam wanita paruh baya yang berstatus sebagai ibu namjoon itu. wanita itu terlihat mengedarkan kepalanya ke seluruh penjuru ruangan. Namun sosok yang ia cari tak kunjung ia temukan keberadaannya.

“Ahjumma, apa kau mencariku?” tanya sebuah suara di belakang wanita tadi. Sontak wanita itupun menoleh ke belakang dan mendapati yura tengah berdiri memegang sebuah gelas berisikan red wine di tangan kanannya. “Aigo, kukira kau pulang karena kau tidak suka dengan pestanya.” Komentar wanita itu. yura menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Tidak, aku hanya ke toilet tadi. Ah, namjoon mana, ahjumma? Aku belum bertemu dengannya.” Ungkap yura sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekelilingnya. “Namjoon tidak ada di kamarnya, entah aku juga tidak tahu kemana dia.” Ujar wanita itu yang hanya mendapatkan anggukan kepala oleh yura.

“Aku meminta perhatian dari kalian semua.” Ucap seseorang dengan pengeras suara di tengah pesta. Wanita paruh baya yang bersama Yura juga yura menoleh menatap sosok yang baru saja mengalihkan pandangan mereka ini. “Aku meminta maaf karena menganggu waktu kalian. Aku hanya ingin memberitahu kalian. Kalian lihat, sup kentang yang berada di baris ujung sana? Siapapun yang sedang mengambilnya atau berniat mengambilnya harap urungkan niat anda. Karena seorang gadis, tengah memasukan obat pencuci perut ke dalamnya.” Sambung pria itu lagi. Pria itu tak lain adalah namjoon. Tatapan mata namjoon seolah tertuju pada yura. Yura merasa bulu kuduknya meremang saat namjoon melemparkan tatapan menakutkan ke arahnya.

“Namjoon-ah, apa yang sedang kau lakukan? Sup itu dan semua makanan disini terjamin kesehatannya.” Bela sang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya sendiri. Namjoon terlihat tersenyum datar. “Memang, awalnya semua makanan disini memangnya terjamin kesehatannya. Sampai tangan seorang gadis mengotorinya dengan aksi konyolnya malam ini.” ucap namjoon masih tetap memperhatikan yura dengan seksama. Seolah memojokan gadis yang sedang ia tatap kini. Sontak, beberapa orang di sana mengikuti arah mata namjoon dan kini mereka tengah menatap yura dengan tatapan bingung.

“Kau ini ada – ada saja, namjoon-ah. Mana ada yang memasukan obat pencuci perut kesana? Aku sedaritadi berdiri di dekat sana. Tapi aku tidak melihat siapapun disana.” Tegas yura dengan sedikit gugup. Namjoon menyeringai ke arahnya. “Benarkah? Bukankah tadi kau bilang kau sedang berada di toilet? Sejak kapan toilet berpindah tempat? Jika ingin berbohong, tolong cari alasan yang lebih masuk akal.” Balas namjoon yang membuat yura berhasil berkeringat dingin disana. Yura menggenggam erat  kedua tangannya sendiri. Seolah sedang menetralisir rasa takut yang kini menyerangnya secara membabi buta. “Ah, apa yang kau katakan? Aku tidak berbohong. Ya, sebelum aku ke toilet. Aku berada di dekat sana.” Bela yura seadannya. “Kebetulan sekali, aku tidak meminta penjelasanmu kali ini. karena aku sudah menemukan buktinya.” Ungkap namjoon pasti. Yura terlihat menggigit bibir bawahnya takut.

“Eomma,” panggil namjoon pada ibunya. Sang ibu terlihat menoleh menatap anaknya. “Kumohon, batalkan rencanamu untuk menjodohkanku dengan gadis itu. Yura, maksudku. Karena dia nantinya hanya akan mempermalukan dirimu, aku dan juga keluarga kita dengan kelakuannya. Dan asal eomma tahu, malam ini, ia memasukan obat pencuci perut ke dalam hidangan supmu itu. entah apa yang dia inginkan atas kelakuannya itu.” jelas namjoon dengan mata terus menatap tajam ke arah yura. Wanita paruh baya di samping yura, yang tak lain adalah ibu dari namjoon terlihat tercengang menatap yura. Wanita itu menaikan kedua alisnya hingga bertaut. bingung dengan siapa ia harus percaya, dengan anaknya sendiri atau dengan gadis yang selama ini ia puja – puja itu?

“Namjoon-ah, jangan sembarangan berbicara! Aku tidak melakukan apapun seperti yang kau tuduhkan! Jika kau memang tidak menyukaiku, jangan memfitnahku seperti itu.” bentak yura dengan ekspresi panik yang tak dapat gadis itu sembunyikan dari wajah asianya. “Kemampuan aktingmu sungguh dibawah standard, yura. Jadi, jangan pernah mencoba berakting, apalagi di depanku.” Komentar namjoon kemudian. “Ahjumma, sungguh, aku tidak melakukan apa – apa. Anakmu itu berbohong.” Bela yura berusaha agar wanita paruh baya di sampingnya mempercayai apa yang ia katakan daripada apa yang anaknya sendiri katakan.

“Kau bilang aku berbohong? Baik, aku menantangmu untuk memakan semangkuk sup itu. Kau berani?” tanya namjoon yang membuat keringat dingin pada badan yura kembali menguar. Yura terlihat bergerak gelisah. Beberapa kali ia terlihat menghembuskan nafas tak teratur. Bahkan sekedar untuk menelan liurnya sendiri, ia merasakan sakit yang luar biasa. Perih hingga menyiksa.

“Bagaimana? Jika kau memang tidak melakukannya, kau harusnya berani melakukan hal tersebut.” Tantang namjoon lagi. Yura semakin terdesak. Deru nafasnya semakin tak karuan. Pandangannya terlihat tak fokus. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, nampak berpikir tentang apa yang ia akan lakukan. Namjoon memperhatikan yura masih dengan tatapan tajamnya. Sedangkan ibu namjoon memperhatikan yura dengan ekspresi berharap. Berharap bahwa bukan gadis itu yang dituduhkan namjoon.

Terjadi keheningan selama beberapa saat hingga akhirnya, yura membanting gelas wine yang ia pegang ke lantai. Hal itu sontak membuat seisi ruangan menatap ngeri ke arah gadis itu. “Oh baiklah, kau menang kali ini. Aku tidak mau memakan sup itu. dan memang benar, aku menaruh obat pencuci perut disana. Kau puas?” ungkap yura diakhiri dengan lengkingan keras dari bibirnya.

Wanita di sampingnya yura terlihat mengulurkan tangannya, lalu dengan kerasnya mendaratkan tangan tersebut di pipi yura hingga meninggalkan rasa nyeri disana. Yura sontak menoleh dengan mata membulat. “Ahjumma!” bentaknya tak terima karena di tampar di depan umum seperti ini. Ini adalah semacam bentuk penghinaan untuknya. “Keluar!” titah wanita di sampingnya tak bisa terbantahkan lagi. “Kubilang keluar sekarang!” ucap wanita itu lagi ketika yura tak juga merespon ucapannya terdahulu. “Ahjumma, aku minta maaf, sungguh, aku tidak bermaksud…”

“Keluar sekarang atau aku akan memanggil security untuk mengeluarkanmu dari sini.” Tawar wanita itu kemudian. Yura terdengar mengerang kesal. “Ah, tentang rencana perjodohanmu dengan anakku. Batalkan saja keinginanmu itu. karena aku tidak akan mengizinkan keturunanku untuk berdekatan denganmu dan keluargamu mulai sekarang. Pergi dan jangan pernah kembali menampakan mukamu di depanku lagi.” Sambung wanita paruh baya tadi.

*****

“Annyeong ahjumma, namjoon ada di dalam?” tanya eunhyo ketika bertemu dengan Nyonya Kim di depan rumah kediamannya. Wanita itu terlihat menatap sekilas ke arah eunhyo lalu kembali sibuk membaca majalah fashionnya. Eunhyo menghembuskan nafas berat. Memang tak akan mudah jika ia memilih untuk bersama namjoon. Akan banyak tentangan dari berbagai pihak. Namun eunhyo sudah terlanjur memilih jalan ini bersama namjoon, setidaknya pria itu bisa diandalkan.

Tak lama menunggu di depan sana, sosok namjoon keluar dari dalam rumah dan menatap eunhyo dengan tatapan bingung. Pria itu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah ibunya yang masih sibuk dengan majalah kesayangannya itu. “Mengapa tidak menunggu di dalam?” tanya namjoon dengan alis bertaut kepada eunhyo. Gadis itu hanya mengulas senyum tipis dan menggelengkan kepala tanpa menjawab dengan kata – kata. Sadar kalau tatapan anaknya kini sedang mengarah kepadanya, Nyonya Kim lantas bersuara tanpa mengalihkan pandangannya. “Aku yang melarang eunhyo untuk masuk ke dalam rumah kita. Aku tidak mau ada jejak kotoran yang tidak bisa di bersihkan dirumah kita.” Tutur Nyonya Kim dengan lantang dan tanpa ragu.

Namjoon yang mendengarnya menatap jengah ke arah ibu kandungnya itu. Sampai kapan ibunya itu akan memperlakukan eunhyo seperti ini? eunhyo hanya tersenyum lalu mengusap lengan namjoon pelan. Seolah berkata bahwa gadis itu tidak apa. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Namjoon menghela nafas panjang berulang kali. Menetralkan kekesalan yang tadi hampir saja meledak jika eunhyo tidak segera menenangkannya. “Kalau begitu aku pergi dulu, eomma.” Pamit namjoon pada ibunya. Nyonya Kim hanya berdehem menjawabnya.

“Maaf atas kelakuan eomma tadi.” Pinta namjoon tulus. Tampang memelas kini tengah kentara mengisi wajah pria itu. “Tak apa. Aku baik – baik saja. Dan dari awal, aku sudah menebak jika semua ini akan terjadi, jika aku memilih bersamamu tentunya.” Balas eunhyo diakhiri oleh senyum manis yang melengkung sempurna di wajah cantiknya. Namjoon ikut mengulas senyum karenanya.

*****

Akhir pekan tiba, seluruh warga ibu kota seoul menyambut gembira hari istirahat mereka. Yang terbilang jarang mereka dapatkan. Eunhyo dan namjoon kini memilih untuk pergi ke salah satu pasar modern terkenal di korea. Keduanya sibuk dengan acara mencoba seluruh barang – barang atau pernak – pernik untuk sepasang kekasih. Senyuman riang seolah tak ingin pergi meninggalkan mereka. Situasi pasar saat itu cukup padat, ya, dikarenakan hari ini adalah akhir pekan.

“Namjoon, namjoon,” panggil eunhyo ketika melihat sosok seorang wanita yang ia kenali sebagai Nyonya Kim atau ibu dari pria yang ia cintai itu. eunhyo menoleh ke belakang ketika namjoon tak juga merespon panggilannya itu. Mata eunhyo terbelalak seketika, menerima kenyataan bahwa namjoon kini tidak sedang berjalan di belakangnya ataupun di depannya. Kemana menghilangnya pria itu? pekik eunhyo dalam hatinya. Eunhyo kembali memperhatikan sosok wanita yang tadi sempat menyita perhatiannya. Benar, tidak salah lagi, wanita itu adalah ibu dari namjoon. Apa yang beliau lakukan disini sendirian? Berbelanja?Tunggu.. pria tegap yang berdiri tak jauh dari ahjumma itu. aku seperti familiar dengan wajahnya. Tunggu.. kenapa ia mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya?Yak! gumam eunhyo sendiri dalam hatinya. Eunhyo terus saja memperhatikan dua sosok manusia yang kini benar – benar menyita pandangannya juga otaknya.

Tanpa sadar, eunhyo berlari ke arah Ibu Namjoon dan membentangkan tangannya di depan wanita itu. Tak berapa lama, sebuah peluru mendarat mulus di bahu kanannya. Wanita yang kini sedang berhadapan dengan eunhyo kaget bukan main mengetahui gadis di depannya kini mengeluarkan darah segar, dengan bau anyir yang menyengat indera penciuman. Wanita di hadapan eunhyo itu membelalakan matanya lalu dengan refleks menangkap tubuh eunhyo yang limbung dengan kedua tangannya.

Wanita paruh baya itu tak henti – hentinya memanggil nama gadis di pangkuannya kini. Berharap gadis itu membuka matanya dan berkata ‘Aku tak apa’ seperti yang biasa gadis itu katakan kepadanya. Namun kini, sepertinya gadis itu tidak akan berkata seperti apa yang ia harapkan. Wanita paruh baya itu terus saja berteriak – teriak tak karuan. Panik. Hal itu yang kini sedang menggelayuti hatinya. Bagaimana dengan gadis ini? Mengapa ia menyelamatkanku? Bagaimana jika namjoon mengetahui hal ini? Mengapa gadis ini rela mempertaruhkan tubuhnya demi menyelamatkanku? Apa yang selama ini aku lakukan terhadapnya? Batin wanita paruh baya itu.

Tak berapa lama, sebuah mobil ambulance datang ke lokasi kejadian. Beberapa orang terlihat turun dari mobil tersebut dengan membawa sebuah tandu. Mereka berjalan menghampiri eunhyo yang kini sedang tak sadarkan diri dengan darah merah yang seakan tak ingin berhenti mengalir keluar dari bahu kiri sang gadis. Wanita paruh baya yang tadi memeluk eunhyo terlihat bangkit dari posisinya bersamaan dengan tubuh eunhyo yang kini mulai diangkut masuk ke dalam mobil ambulance.

*****

Namjoon mengalihkan pandangannya ketika mendengar sirine mobil ambulance di dekatnya. Dengan alis berkerut namjoon memperhatikan mobil tersebut hingga kini hilang dari pandangannya. “Eunhyo-ya, apa mungkin ada yang mengalami kecelakaan disini? Mengapa tiba – tiba ada mobil ambulance disini?” gumam namjoon pada eunhyo. Pria itu sama sekali tidak mengetahui, jika eunhyo kita tidak sedang berjalan di belakangnya. Namjoon menautkan alisnya ketika tak juga mendengar sahutan dari eunhyo. Pria itu akhirnya menolehkan kepalanya kebelakang. Tempat dimana –ia kira- eunhyo ada disana. “Dimana gadis itu?” pekiknya ketika sadar gadis itu tidak sedang berjalan dibelakangnya.

Namjoon menolehkan kepalanya ke sekeliling. Berharap menemukan sosok yang kini tengah ia cari. Seonggok perasaan khawatir menghampirinya. Bagaimana jika di dalam mobil ambulance tadi adalah eunhyo? Gumam pria itu dalam hati.

Pria itu beberapa kali terlihat menggelengkan kepalanya keras. Seolah menolak semua kemungkinan negatif yang mungkin saja terjadi dengan eunhyo. Dengan cepat, namjoon meraih ponselnya dan menekan nomor ponsel eunhyo. Setelah mendengarkan nada tunggu yang menurutnya memuakan, namjoon kini mendengar suara seseorang yang ia kenal di seberang sana. Namun tunggu, bukan suara eunhyo yang kini menjawabnya. Melainkan suara orang lain. Suara yang sudah ia hafal. “Eomma??” tanyanya kaget.

Terdengar deheman dari lawan bicaranya. Tubuh namjoon bergetar. Rasa takut dan khawatir kembali mengelayuti perasaannya. Apa yang terjadi sebenarnya? Tanya namjoon dalam hatinya. Sayup – sayup, namjoon mendengar ibunya kini sedang menangis sambil memanggil – manggil nama gadisnya.

“Eomma?? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa eomma menangis? Dimana eunhyo? Mengapa ponselnya eunhyo berada di tangan eomma? Eomma jawab aku!” tanya namjoon beruntun. Sang ibu di seberang sana terdengar tak bisa meredam isak tangisnya barang sebentar saja. Hanya untuk menjelaskan dengan jelas apa yang terjadi dengan eunhyo kini. Namjoon semakin kalap, deru nafas pria itu kini tak lagi setenang sebelumnya. Jantungnya menggebu – gebu tak karuan. Keringat dingin kini mulai membanjiri tubuhnya

Diseberang sana, terdengar ibunya sedang berusaha mengelola nafasnya. “Eunhyo… tertembak. Eunhyo tertembak, namjoon-ah. Cepat ke rumah sakit xxxx sekarang!” balas ibunya masih dengan nafas tersenggal akibat menangis tersedu – sedu tadi.

Namjoon dengan panik berlari mencari taksi dan segera pergi menuju rumah sakit yang ibunya katakan tadi di ponsel.

*****

Sinar matahari pagi terlihat menerobos masuk melalui ventilasi sebuah ruangan di salah satu rumah sakit. Seseorang yang tadinya sedang tertidur lelap kini mencoba membuka matanya perlahan. Orang tersebut terlihat mengerjapkan matanya berkali – kali ketika sinar matahari pagi itu tepat menerpa wajahnya. Ya, seseorang itu adalah eunhyo. Gadis itu terlihat mengulurkan tangan kanannya. Sekedar ingin mengambil air di gelas yang terletak di meja tak jauh di sebelahnya. Tepat ketika gadis itu mengulurkan tangannya, gadis itu merasakan nyeri yang luar biasa di bahu kanannya.

Apa yang terjadi? Seingat gadis itu, ia berlari ke arah ibu namjoon karena ada seseorang yang terlihat ingin menembakan pistol ke arah wanita itu. selebihnya, eunhyo tidak begitu jelas mengingat. Yang ia ingat, ia mendengar suara tembakan yang cukup memekakan telinga dan bau anyir darah yang menghampiri indera penciumannya kemudian.

Gadis itu meringis, cukup keras, sehingga seorang pria yang tadinya juga tengah tertidur, bangun karena kaget. Pria itu menatap kaget ke arah eunhyo. “Kau sudah sadar?” pekik pria itu. eunhyo hanya menganggukan kepalanya pelan. Pria itu bangkit dari posisi duduknya, kini ia berdiri dan berniat memeluk gadis itu. eunhyo terlihat memundurkan dirinya kebelakang. “Kenapa? Jangan bilang kau amnesia lagi,” tebak pria itu asal. Eunhyo hampir saja melempar sebuah bantal ke arah wajah pria itu, sebelum teringat akan bahunya yang kini terasa berdenyut – denyut tak karuan.

“Bahu kananku sakit sekali rasanya. Jadi, urungkan saja niatmu itu untuk memelukku!” ujar eunhyo kemudian. Namjoon hanya menganggukkan kepalanya lemah. “Ah, apa bahumu begitu sakit? Perlu aku panggilkan dokter?” tanya namjoon lagi. Eunhyo terlihat menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku baik – baik saja. Lebih baik kau ambilkan aku minum. Aku haus sekali.” Pinta eunhyo dengan wajah memelas yang ia buat – buat. “Tidak usah memasang tampang seperti itu. Aku pasti juga akan melakukannya untukmu.” Komentar namjoon membuat eunhyo menunjukan cengiran lebarnya.

*****

“Makanan untukmu!” seru namjoon ketika membuka pintu ruang rawat eunhyo. Gadis itu terlihat tersenyum simpul dan bertepuk tangan riang. “Aku tahu, kau sangat membenci makanan rumah sakit, yang ya, menurutmu tidak ada rasanya itu.” ujar namjoon yang hanya dijawab oleh anggukan semangat eunhyo. “Ini aku bawakan bulgogi dan kimchi untukmu. Kau harus menghabiskan semua ini, ara?” titah namjoon kemudian. Eunhyo lagi – lagi terlihat mengangguk tanpa memudarkan senyum lebar di wajahnya.

Gadis itu berniat meraih sumpit dan sendoknya yang berada di tangan namjoon. Dengan cepat, namjoon menarik tangannya itu dan mencegah eunhyo mendapatkan apa yang sedang ia incar kini. “Oh ayolah, jangan bermain – main. Aku sedang lapar sekarang.” Pinta eunhyo memelas. Gadis itu menggembungkan pipinya dengan sedikit meniup poninya.

“Siapa yang sedang bermain – main?” tanya namjoon balik. “Bahumu itu sedang sakit, jadi biarkan aku yang menyuapimu.” Ujar namjoon yang jelas membuat mata eunhyo terbelalak. “Aku bisa makan sendiri, sungguh.” Ucap gadis itu. menolak secara harus rencana namjoon barusan. Pria di hadapannya menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak!” tegasnya. “Selama bahumu itu sakit, aku yang akan menjadi tangan kananmu. Jadi, jangan pernah berniat jauh dari tangan kananmu, eunhyo-yaa.” Ucap namjoon lalu mengedikan sebelah matanya. Berniat meledek eunhyo karena sudah pasti gadis itu tidak bisa menolak rencananya lagi.

“Baiklah, aku sedang lapar, dan aku tidak ingin bermain – main sekarang.” Tegas eunhyo. Namjoon memajukan wajahnya sedikir ke arah gadis itu. “Ehm, lalu?” ledeknya. “Aaaaa….” ucap eunhyo sambil membuka mulutnya. Seolah memberi isyarat agar namjoon segera menyuapi mulutnya dengan makanan yang baru saja pria itu bawa. Namjoon tertawa terbahak melihat tingkah gadis itu.

Tak lama, namjoon meraih sepotong bulgogi dengan sumpitnya. Lalu menyodorkan daging tersebut ke arah mulut seorang gadis yang kini berhasil memenjarakan hatinya. Eunhyo melahap potongan daging itu. Mulutnya tertutup rapat. Matanya terlihat berputar. Nampak sedang merasakan dengan saksama daging bulgogi yang kini sedang menggila di mulutnya. “Bagaimana?” tanya namjoon semangat melihat ekspresi eunhyo, yang terlihat sangat menikamti. “Eoh, mashita!” seru eunhyo kemudian. Namjoon terkekeh pelan, lalu kembali menyuapi gadisnya.

Pintu ruangan berderit membuka, sontak eunhyo dan namjoon menoleh ke arah tersebut. Terlihat sosok ibu namjoon dibalik pintu ruangan tersebut. Wanita itu tersenyum canggung ke arah kedua remaja itu. “Boleh aku masuk?” tanya wanita itu kepada eunhyo dan namjoon. Keduanya nampak mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Perlahan heels sepatu wanita itu yang membentur lantai terdengar memenuhi seisi ruangan, yang memang kala itu menjadi sunyi. Ketukan heels sepatu itu terdengar teratur. Wanita itu terlihat berdiri di samping anak laki – lakinya. “Apa kabar?” sapa wanita itu kemudian. Memecah keheningan yang tadi sempat melanda.

Eunhyo yang disapa terdengar berdehem lalu dengan kikuk gadis itu terlihat tersenyum. “Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu, eunhyo-ssi.” Ucap wanita itu. “Kau bahkan rela menggantikan posisiku, seharusnya aku yang tertembak dan merasakan nyeri di rumah sakit ini.” ujar wanita itu lagi. Namjoon terlihat bangkit dari kursinya, seolah mempersilahkan ibunya itu untuk duduk disana. Sang ibu menurut dan duduk di kursi itu. eunhyo menggenggam tangan wanita paruh baya tersebut. “Ahjumma, tidak perlu berterima kasih ataupun merasa mempunyai hutang budi padaku. aku ikhlas melakukan ini semua. Dan yang ahjumma perlu tahu, ahjumma adalah orang yang paling berarti untuk namjoon. Namjoon sendiri yang pernah mengatakan hal itu padaku. Jadi, aku tidak mungkin membiarkan seseorang menyakiti orang yang berarti bagi namjoon. Apalagi sampai membuat nyawa orang tersebut terancam. Maka dari itu, aku rela memasang badanku untuk melindungimu. Karena aku tidak ingin melihat namjoon kehilangan orang yang berarti baginya.” Tutur eunhyo tulus.

“Benarkah namjoon mengatakan hal itu?” tanya wanita paruh baya itu tak percaya. Ia mengalihkan tatapannya ke arah anak lelakinya yang kini sedang berdiri dengan mata menatap keluar jendela ruangan. “Ehm, namjoon sangat menyayangi ahjumma, hanya saja, ia bingung bagaimana caranya untuk mengatakan hal itu.” seru eunhyo menahan kekehannya. Wanita paruh baya di depannya terdengar terkekeh pelan.

“Sungguh, aku merasa menyesal pernah berbuat kasar padamu, eunhyo-ssi.” Seru wanita itu kemudian. Eunhyo menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku sama sekali tidak menyimpan dendam pada ahjumma. Aku sudah memaafkan semuanya. Ahjumma tidak usah merasa bersalah seperti itu.” bantah eunhyo masih dengan menggenggam erat jemari wanita paruh baya di depannya.

Wanita itu tersenyum lebar. “Kalau begitu, aku akan melakukan hal yang sama denganmu.” Seru wanita itu kemudian. Eunhyo dan juga namjoon yang berada di sana terlihat mengerutkan keningnya bingung. “Karena kau adalah salah satu orang yang berarti untuk namjoon. Aku tidak mau membuat namjoon kehilangan orang yang berarti baginya. Aku mengizinkan kalian berdua untuk menjalin hubungan kekasih. Aku akan mendoakan hubungan kalian.” Ucap wanita itu tulus.

Eunhyo dan namjoon yang mendengarnya sontak tersenyum dan saling menatap penuh arti.

Setelah hujan lebat turun dengan hebatnya, selalu ada pelangi sesudahnya kan?

-FIN-

Hiyaaaa… sorry lama publishya wkwk.. sebenernya ini ff udh jadi lama banget. abis lebaran juga udh kelar. cuma malas buat publishnya. Lagi sibuk bener deh :v dan karena tak ada yg komen jadi aku pikir gak ada yg baca ff ini. So, aku males2an buat publishnya :p Gak salah dong ya? Dan aku mau ngasih tau klo aku udh kelas 12 SMK dan udh sibuk pake bgt dgn setumpuk tugas dan blablabla -___- So, aku gak bisa pastiin bakal publish ff. Mungkin akan publish tapi jarang hehe ^^~ maaf tuntutan kehidupan sebagai pelajar :” aku juga harus lebih mentingin sekolah dong daripada ini ^^~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s